Kamis, 08 Mei 2008

BUKTI KEBENARAN ISLAM

Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk seluruh ummat manusia. Karena untuk tegaknya kehidupan manusia di atas planet bumi ini diperlukan dua hal:
Pertama: Terpenuhinya kebutuhan pokok berikut sumber-sumbernya untuk menjamin kelangsungan hidup, dan kecukupan material yang dibutuhkan oleh perseorangan dan masyarakat.


Kedua: Mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang tata-cara hidup perseorangan dan masyarakat-masyarakat, agar terjamin berlakunya keadilan dan ketentraman dalam masyarakat dan kebudayaan.

Allah Rabbul-’alamin telah menyediakan kedua macam kebutuhan itu secukupnya untuk manusia. Untuk kebutuhan pertama, Allah s.w.t. telah menyediakan sumber-sumber alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk digali dan diolah. Dan untuk kebutuhan kedua, yakni kebutuhan kejiwaan/rohani, kemasyarakatan dan kebudayaan, Allah s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul. Semua Rasul itu telah mengajak manusia ke jalan Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah s.w.t. Semua Rasul telah menyampaikan risalah yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.
Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah s.w.t. Itulah pula sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.
Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah naungan ketaatan kepada Allah s.w.t., hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat.
Orang-orang yang beriman, yang berhati tenang dengan ingat kepada Allah. Ingatlah bahwa hati akan tenang dengan mengingat Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kebahagiaanlah untuk mereka dan tempat kembali (Surga) yang baik. (Ar-Ra’d, 28 - 29)
Itulah pokok seruan semua Rasul Allah untuk membawa alam kemanusiaan kepada jalan kehidupan yang lurus. Tetapi manusia tidak selalu berada dalam jalan yang benar. Mereka kadang-kadang menyimpang dari bimbingan yang diberikan oleh para Rasul itu. Itulah sebabnya, maka ada beberapa Rasul yang diutus guna memberikan kembali seruan/risalah yang asli dan membawa manusia ke jalan yang benar. Rasul yang terakhir ialah Muhammad s.a.w. yang telah memberikan bimbingan Allah s.w.t. dalam bentuknya yang final dan sempurna untuk segala zaman. Bimbingan inilah yang sekarang dikenal sebagai Islam, terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan contoh kehidupan Rasulullah s.a.w.
Dasar-dasar kepercayaan Islam
Konsep yang pokok dalam Islam ialah bahwasanya seluruh alam ini, Tuhanlah yang telah menjadikan, menguasai dan mengawasinya, bahwasanya Dia adalah Maha Tunggal, tidak ada yang menyertai dalam kesucian-Nya. Dia telah menciptakan manusia dan menentukan ajalnya, dan bahwasanya Allah s.w.t. telah menyediakan untuk seluruh alam jalan hidup yang lurus, sekaligus memberikan kebebasan mutlak kepada hamba-Nya untuk mengikuti atau mengingkarinya. Barang siapa yang mengikuti jalan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang Muslimin dan Mukminin, dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir yang mengingkari kebenaran.
Orang telah memeluk Islam, apabila ia telah menyaksikan dengan sepenuh keimanan atas ke-Esaan Allah dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah Rasulullah. Kedua kepercayaan ini tersimpul dalam kalimat:
Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.
Bagian pertama kalimat ini memberikan konsep Tauhid (ke-Esaan Tuhan), dan bagian kedua adalah kesaksian atas kerasulan Muhammad s.a.w.
Tauhid adalah akidah revolusioner yang menjiwai seluruh ajaran Islam; akidah yang meyakinkan bahwasanya seluruh alam ini kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan seluruhnya berada di bawah kekuasaan-Nya, Dzat yang Azaly, tiada permulaan dalam wujudnya, tidak dibatasi tempat dan waktu, mengatur seluruh dunia dengan segenap manusia yang ada di atasnya.
Sesungguhnya, adalah benar-benar merupakan keajaiban, apabila orang memperhatikan tentang penciptaan alam yang tidak ada henti-hentinya dengan pengaturan yang pasti, terarah dan serasi, serta kemampuannya untuk mempertahankan apa yang bermanfaat dan menghukum apa yang berbahaya bagi kemanusiaan. Semua itu memberikan kesimpulan bahwa dibalik alam ini ada satu Kekuatan yang terus menerus aktif menciptakan perkembangan alam tanpa pengumuman! Itu bintang-bintang yang memenuhi angkasa luas dan pemandangan alam yang memikat hati, perputaran matahari dan bulan yang menakjubkan, pergantian musim, pergantian siang dan malam, sumber-sumber air yang tak kunjung kering, bunga-bunga yang halus dan cahaya bintang-bintang yang gemerlapan. Bukankah semua itu menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Kuasa yang telah menjadikannya dan menguasai segala keadaan? Kalau kita perhatikan alam ini secara keseluruhan, ternyatalah kepada kita adanya tata-cara yang teratur. Apakah yang demikian itu tidak menunjukkan atas adanya Tuhan? Dapatkah semua itu terjadi secara kebetulan?
Sungguh benar firman Allah s.w.t.:
Hai sekalian manusia! Sembahlah Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu dapat menjaga diri. Tuhan yang telah menjadikan buat kamu bumi yang menghampar dan langit yang memayung, dan Dia telah menurunkan air dan langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rizqi buat kamu. Maka oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah 21-22)
Itulah akidah asasi (kepercayaan pokok) yang diserukan oleh Muhammad s.a.w. kepada seluruh ummat manusia, supaya menjadi pegangan hidupnya. Akidah ini logis dan menyeluruh, dapat memecahkan segala persoalan alam, dan menunjukkan bahwa alam ini tunduk di bawah satu hukum kekuasaan tertinggi. Akidah ini memberikan gambaran umum yang sesuai dengan kenyataan bahwa seluruh isi alam ini satu sama lain saling melengkapi; berbeda sepenuhnya dengan pandangan yang sepotong-potong dari ilmuwan dan para filsuf, dan dapat menyingkap tabir rahasia/hakikat yang sebenarnya.
Setelah berabad-abad lamanya manusianberada dalam kegelapan, mulailah sekarang manusia dapat menemukan hakikat itu sedikit demi sedikit berdasarkan konsep akidah ini, dan pikiran ilmiah modern pun terus bergerak kearah ini. Akidah ini bukan sekedar konsep metaphisic atau kumpulan kata-kata yang tidak berarti. Akidah ini adalah suatu kepercayaan yang dynamis dan doktrin yang revolusioner. Akidah ini mengandung pengertian bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah dan semua mereka adalah sama. Sikap-sikap diskriminatif berdasarkan warna kulit, kelas-kelas sosial, suku bangsa, bangsa atau daerah asal kelahiran itu tidak ada dasarnya, dan sikap atau pandangan seperti itu adalah warisan zaman jahiliyah yang telah mengikat manusia kepada perbudakan.
Manusia seluruhnya merupakan satu keluarga yang diurus Allah s.w.t., sehingga tidaklah sepatutnya ada dinding pemisah di antara sesama mereka. Manusia semuanya sama, tidak ada perbedaan golongan borjuis atau proletar, kulit putih atau kulit hitam, bangsa Aria atau bukan Aria, orang Barat atau orang Timur. Islam telah memberikan konsep revolusioner tentang kesatuan ummat manusia. Dan kebangkitan Rasulullah s.a.w. itu tidak lain hanya untuk mempersatukan seluruh alam di bawah kalimat Allah, dan untuk membangkitkan kehidupan baru di dunia yang sudah mati.
Firman Allah s.w.t.:
Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu, tatkala kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah melembutkan hati kamu semua sehingga atas karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ali Imran 103)
Akidah ini juga menjelaskan tentang hakikat kedudukan manusia dalam alam ini. Allah telah menciptakan alam serta memeliharanya, dan manusia adalah khalifah atau wakil-Nya di atas planet bumi ini. Dengan demikian, maka derajat manusia itu cukup tinggi, seharusnya mempunyai pimpinan dunia modern, pasti dia berhasil menyelesaikan segala persoalannya dengan cara yang dapat membawa dunia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Saya berani meramalkan, bahwa akidah yang dibawa oleh Muhammad akan diterima baik oleh Eropa di kemudian hari, sebagaimana sekarang sudah mulai.
Pertama: Mudah, Rasional dan Praktis
Islam adalah agama yang tidak dicampuri mitologi. Ajaran-ajarannya mudah dimengerti. Islam bebas dari takhayul dan setiap kepercayaan yang bertentangan dengan akal yang sehat. Ke-Esaan Tuhan, ke-Rasulan Muhammad s.a.w. dan konsep kehidupan sesudah mati adalah dasar pokok akidah Islam. Semua itu beralasan kuat dan logis. Dan seluruh ajaran Islam adalah lanjutan dari dasar-dasar kepercayaan ini, semuanya mudah difahami dan lurus. Dalam Islam tidak ada kekuasaan pendeta, tidak ada yang samar-samar dan tidak ada upacara-upacara atau peribadatan yang sulit. Semua orang dapat membaca langsung Kitabullah (Al-Qur’an) dan melaksanakannya dalam praktek. Islam selalu menganjurkan supaya orang berpikir, mempertimbangkan setiap urusan sebelum dilaksanakan, membahas keadaan yang sebenarnya dan berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Al-Qur’an menganjurkan supaya orang berdo’a:
Tuhanku! Tambahlah ilmu pengetahuanku! (Toha 114)
Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang berpengetahuan itu tidak sama dengan orang yang tidak berpengetahuan:
Katakanlah: Apakah orang-orang yang berpengetahuan sama dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan amalnya dalam keadaan terbuka. (Aku katakan): Bacalah buku amal kamu. Cukuplah kamu sendiri menghitungnya hari ini. (Al-Isra’ 13-14)
Barangsiapa yang datang dengan kebajikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat, dan barangsiapa yang datang dengan keburukan, maka dia hanya dibalas dengan hukuman yang seimbang. Mereka tidak dianiaya. (Al-An’am 160)
Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa pokok asasi akidah Islam itu ada tiga, yaitu:
Iman atau percaya atas ke-Esaan Allah.
Iman atau percaya bahwa Muhammad itu Utusan Allah.
Iman atau percaya akan adanya kehidupan akhirat dan adanya hisab pada hari kiamat.
Maka barang siapa yang beriman kepada tiga pokok tersebut, dia adalah orang Muslim, dan kesemuanya dituangkan dalam kalimat:
“LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR-RASULULLAAH”
Beberapa watak pokok Islam
Bernard Shaw berkata: “Saya selalu memandang tinggi agama Muhammad, karena vitalitasnya yang mengagumkan. Agama Muhammad adalah satu-satunya agama yang jelas bagi saya membuktikan kemampuannya yang besar dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang berubah-rubah dan menyebabkannya sesuai untuk segala masa. Saya telah mempelajari kehidupan orang ini, orang yang mengagumkan dan menurut pikiran saya jauh dari bersifat anti Kristus, dia mestinya mendapat gelar Juru Selamat Kemanusiaan. Saya yakin, jika seorang seperti dia diserahi tujuan hidup yang luhur, yakni melaksanakan kehendak Allah di muka bumi. Inilah satu-satunya penyelesaian atas segala persoalan sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya dan sekaligus membina tatanan baru, berupa persamaan, keadilan dan keamanan, sehingga berbahagialah dunia dengan keselamatan dan kemakmuran.
Titik tolak kepercayaan Islam ialah percaya atas ke-Esa-an Allah, yakni Tauhid, dan bahwa Allah swt. Tidak menjadikan manusia untuk dibiarkan begitu saja, tanpa petunjuk yang menerangi jalan hidup mereka. Untuk itu Allah swt. Telah mengutus para Rasul yang membawa agama Allah untuk keselamatan mereka, dan Muhammad saw. adalah Rasul-Nya yang terakhir. Dan Iman kepada Rasul itu menuntut supaya juga beriman terhadap risalahnya serta taat kepada ajaran-ajarannya, menerima ketentuan hukum yang telah ditetapkannya, mengenai perjalanan hidup yang harus ditempuh. Dengan demikian, maka landasan kedua dalam Islam adalah beriman kepada risalah yang disampaikan melalui Muhammad saw. dan memeluk agama yang dibawanya, berikut melaksanakan segala ajarannya. Dan ini akan membawa kita kepada pokok Islam yang ketiga yaitu percaya atas adanya kehidupan akhirat.
Adapun dunia ini, menurut pandangan Islam, adalah tempat ujian. Manusia akan dituntut pertanggungan jawab atas segala amal perbuatannya, dan pasti akan datang hari penghabisan hidupnya di dunia, untuk kemudian dibangkitkan kembali di alam yang baru, dimana manusia akan mendapat balasan atas segala perbuatannya yang baik maupun yang buruk. Maka orang-orang yang taat kepada Allah di dunia ini, akan mendapat kebahagiaan yang kekal di alam akhirat, dan sebaliknya orang-orang durhaka kepada Allah di dunia ini, kelak di akhirat akan mendapat balasan buruk, sesuai dengan firman Allah swt. Dalam al-Qur’anul-karim:
Dan setiap manusia Aku ikatkan amalnya di kuduknya, dan Aku keluarkan baginya pada hari kiamat buku catatan. Orang-orang yang mengambil pelajaran itu hanyalah mereka yang berakal sehat. (Az-Zumar 9)
Al-Qur’an juga mencela orang-orang yang tidak mau berpikir tentang makhluk Allah dan menganggapnya lebih sesat daripada hewan:
Dan sungguh telah Aku jadikan untuk isi Jahannam banyak jin dan manusia yang punya hati tidak digunakan untuk mengerti, punya mata tidak digunakan untuk melihat dan punya telinga tidak untuk mendengar. Mereka tida berbeda dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lupa. (Al-A’raf 179)
Sebaliknya, Al-Qur’an menilai orang-orang yang percaya atas ayat-ayat Allah sebagai orang-orang yang mengerti,
Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang mengerti. (Al-An’am 97).
Mereka juga dinilai sebagai orang yang berpikir:
Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang berpikir. (Al-An’am 98).
Dijelaskan pula bahwa orang-orang dikaruniai hikmah (ilmu kebijaksanaan) bahwa mereka itu telah dikaruniai kebaikan yang banyak dan berakal sehat:
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka dia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah menerima petunjuk selain orang yang berakal sehat. (Al-Baqarah 269)
Ilmu yang luas dan badan yang sehat adalah termasuk sifat orang-orang yang dipilih Allah untuk memimpin/memerintah sesama manusia. Hal itu diterangkan dalam hikayat Al-Qur’an tentang Thalut yang diangkat Raja atas kaumnya:
Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut sebagai Raja buat kamu.’ Mereka bertanya: “Bagamana dia mendapatkan kerajaan atas kami, pada hal kamu lebih berhak atas kerajaan dari pada dia dan juga dia tidak kaya?” Jawab Nabi: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih dia atas kamu dan telah menambah dia ilmu yang luas dan badan yang sehat/kuat. Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah itu Maha luas ilmunya dan Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah 247)
Al-Qur’an juga menyatakan bahwa manusia lebih mulia dari pada Malaikat karena ilmu, sehingga manusia diberi hak mengatur dunia sebagai Khalifah Allah:
Dan ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di bumi. Para Malaikat bertanya: “Apakah Engkau akan menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Pada hal kami ini bertasbih dengan selalu memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhanmu berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak tahu. Lalu Tuhanmu mengajari Adam tentang semua nama-nama. Kemudian ditunjukkan-Nya kepada para Malaikat dengan firman-Nya: Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu memang betul (dalam pengakuanmu)! Para Malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau. Kami tidak tahu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Firman Tuhanmu: Adam! Terangkanlah kepada mereka nama-nama semua itu! Maka sesudah Adam memberitahukan semua nama, Tuhanmu berfirman: Tidakkah Aku katakan kepada kamu bahwa Aku mengetahui kegaiban langit tujuh dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tunjukkan dan apa yang kamu sembunyikan? (Al-Baqarah 30-33)
Rasul Islam telah pula bersabda:
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam, pria dan wanita. - Riwayat Ibnu Abdil-Barr dari Anas.
Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia itu dalam jalan Allah, sampai waktunya dia kembali - Riwayat At-Turmudzy dari Anas.
Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah, menuntutnya merupakan ibadah, mengulang-ulangnya merupakan tasbih, pembahasannya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya merupakan sadakah dan menyerahkannya kepada ahlinya merupakan “pendekatan diri” kepada Allah - Riwayat Ibn ‘Abdil-Barr.
Demikianlah Islam telah mengeluarkan manusia dari alam khurafat dan kegelapan dan membawa mereka ke dunia ilmu yang terang benderang. Kemudian Islam adalah agama yang praktis, tidak hanya merupakan teori yang kosong, bukan hanya akidah yang harus diimani semata-mata, akan tetapi juga harus dijadikan sumber praktek hidup sehari-hari, sehingga jiwa yang berisi Iman itu mengalir dalam arus amal perbuatan, seperti mengalirnya air di atas bumi yang subur. Agama Islam tidak hanya berupa kata-kata yang berulang-ulang, berupa dzikir dan puji kepada Allah s.w.t. saja, tetapi harus menjiwai kehidupan manusia seluruhnya. Dalam hal ini Al-Qur’an menyatakan:
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik - Ar-Ra’d 29.
Dan sabda Rasulullah saw.:
Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas, karena Dia dan dimaksudkan untuk keridlaan-Nya - Riwayat An-Nasa’iy.
Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani
Islam tidak memberikan garis pemisah antara benda dan rohani. Islam memandang hidup ini sebagai satu kesatuan yang mencakup kedua-duanya, sehingga Islam tidak merupakan penghalang antara manusia dan kepentingan hidupnya, bahkan Islam mengatur seluruh urusan hidup. Islam tidak mengakui adanya larangan dan tidak menuntut supaya orang menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, tetapi dengan jalan taqwa kepada Allah dalam seluruh kebutuhan hidup yang beraneka-ragam, sebagaimana dihikayatkan dalam Al-Qur’an mengenai hamba-hamba Allah yang saleh:
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Tuhan-Ku! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang mendapat bagian (pahala) dari apa yang mereka lakukan, dan Allah itu cepat hisab-Nya — Al-Baqarah 201-202.
Malah Al-Qur’an mencela orang-orang yang tidak memanfaatkan ni’mat harta kurnia Allah:
Katakanlah, siapa yang melarang perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rizqi yang baik-baik. Katakanlah, itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khususnya pada hari kiamat. Begitulah Aku menjelaskan ayat-ayat-Ku untuk orang-orang yang mengetahui — Al-A’raf 32.
Akan tetapi dalam pada itu Islam menuntut supaya para penganutnya menjadi ummat yang sedang-sedang dalam kehidupan dunia:
Hai turunan Adam! Kenakanlah pakaian kamu pada setiap kali kamu bersembahyang di mesjid dan makan minumlah kamu dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang suka berlebih-lebihan. - Al-A’raf 31.
Dan sabda Rasulullah saw.:
Orang mukmin yang bergaul dalam masyarakat dan tabah atas segala rintangan adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dan tidak tabah/tidak sabar atas rintangan. - Riwayat Bukhari.
Rasulullah saw. pernah bersabda yang ditujukan kepada Abdullah bin Umar bin ‘Ash:
Aku mendapat kabar bahwa engkau berpuasa tanpa berbuka dan melakukan sembahyang sepanjang malam. Janganlah engkau berbuat begitu, sebab matamu juga harus dapat bagian, dirimu harus dapat bagian dan istrimu juga harus dapat bagian. Oleh karena itu, berpuasalah dan berbuka, bersembahyanglah dan tidur. - Riwayat Muslim.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw. bersabda:
Tiga perkara termasuk Iman, memberi nafkah tanpa terlalu beririt-irit, mengusahakan keselamatan untuk semua orang dan menginsafi dirimu sendiri. - Riwayat Muslim.
Jadi Islam itu tidak membuat garis pemisah antara kepentingan kebendaan dan kepentingan kerohanian dalam kehidupan manusia, bahkan Islam menjalin kedua-duanya, sehingga terbukalah jalan hidup yang sesuai dengan kemampuan orang atas dasar yang shah dan baik. Islam mengajarkan bahwa kebendaan dan kerohanian adalah dua hal yang selalu harus berdampingan dan bahwasanya kesucian rohani dapat terhindar dari keburukan, apabila sumber-sumber kebendaan dibaktikan untuk kepentingan kemanusiaan. Kesucian rohani tidak akan tercapai dengan jalan menyiksa diri, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan menekan naluri kemanusiaan. Dunia ini telah cukup menderita, akibat ajaran-ajaran yang berat sebelah dari agama dan ideologi lain. Ada agama yang menekankan ajarannya kepada segi kerohanian saja dalam hidup ini, dan bersikap masa bodoh terhadap benda dan kehidupan duniawi. Mereka memandang dunia ini sebagai khayalan penipuan dan perangkap. Di lain pihak, ada ideologi materialistis yang sepenuhnya bersikap masa bodoh terhadap segi kerohanian dan moral serta menganggapnya sebagai khayalan semata-mata. Kedua macam ajaran/pendirian ini telah menimbulkan kerusakan/kehancuran. Mereka telah merampas keamanan, kepuasan dan ketenangan manusia. Sampai sekarang tetap menimbulkan ketidak seimbangan.
Seorang sarjana Perancis Dr. De Brogbi dengan tepat menyatakan:
“Bahaya yang mengancam kebudayaan yang terlalu menitik-beratkan kebendaan ialah kehancuran kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan semacam itu kalau tidak disusul dengan perkembangan kehidupan rohani, pasti gagal membuat keseimbangan.”
Agama Kristen tersesat dengan terlalu menekankan ajarannya kepada salah satu extrimitas, yakni kerohanian, sedangkan kebudayaan modern tersesat pada extrimitas yang lain, yakni kebendaan. Seperti kata Lord Snell: “Kita telah mendirikan bangunan yang lahirnya memang mewah dan megah, tapi kita tidak memperhatikan tuntutan pokok yang harus menjadi isinya. Kita dengan sepenuh perhatian membuat rencana, dekorasi dan membersihkan semua bagian luar bangunan kita, akan tetapi bagian dalamnya penuh dengan pemerasan dan pelanggaran. Kita telah mempergunakan kemajuan pengetahuan dan kekuatan untuk mengatur kesenangan badan, tapi kita telah meninggalkan segala kepentingan rohani.”
Agama Islam telah membina keseimbangan antara kedua segi kehidupan: kebendaan dan kerohanian. Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini untuk manusia, akan tetapi manusia sendiri untuk mengabdi kepada Tuhan; tugas kehidupannya ialah melaksanakan kehendak Tuhan. Ajaran-ajaran Islam mendorong manusia ke arah kebersihan rohani, sama seperti dorongannya untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya di dunia yang bersifat sementara ini. Islam menyuruh manusia supaya membersihkan jiwanya, sekaligus membentuk atau membangun kehidupan dunianya, perseorangan maupun masyarakat, dan supaya membina hak/kebenaran atas kekuasaan dan kebajikan atas kejahatan. Jadi, Islam itu berdiri di atas jalan tengah.
Ketiga: Jalan Hidup yang Sempurna
Islam bukan satu agama yang hanya mempunyai ruang lingkup kehidupan pribadi manusia, seperti yang disalahartikan oleh banyak orang. Islam adalah satu jalan-hidup yang sempurna, meliputi semua lapangan hidup kemanusiaan. Islam memberikan bimbingan untuk setiap langkah kehidupan perorangan maupun masyarakat, material dan moral, ekonomi dan politik, hukum dan kebudayaan, nasional dan internasional. Al-Qur’an memerintahkan supaya manusia memeluk agama Islam secara keseluruhan, tanpa pilih-pilih, dan mengikuti semua bimbingan Tuhan dalam segala macam lapangan hidup. Kenyataan sekarang membuktikan bahwa ruang lingkup agama itu dibatasi hanya pada kehidupan perseorangan, sedangkan peranan sosial dan kebudayaannya ditinggalkan. Mungkin tidak ada faktor lain lagi yang lebih penting dari itu yang telah menyebabkan kemerosotan agama di abad modern sekarang ini. Salah seorang filosof modern berkata: “Agama memerintahkan supaya kita memisahkan apa yang untuk Tuhan dan apa yang untuk Kaisar. Pemisahan ini berarti niengurangi dua-duanya. Mengurangi peranan dunia dan agama. Agama sangat kecil, kalau jiwa para penganutnya tidak tergetar ketika awan gelap peperangan bergayutan di atas kepala kita semua dan persaingan industri telah mengancam keamanan masyarakat. Agama telah memperlemah naluri sosial kemanusiaan dan kepekaan moral dengan jalan pemisahan apa yang untuk Tuhan dari apa yang untuk Kaisar.” Islam menolak sepenuhnya konsep pemisahan agama seperti itu, dan jelas menyatakan bahwa tujuannya ialah menyempurnakan jiwa dan membentuk masyarakat.
Sungguh Aku telah mengutus Rasul-rasul-Ku dengan membawa penjelasan, dan Aku telah menurunkan bersama mereka Kitab dan keadilan,5 supaya manusia menegakkan keadilan, dan Aku telah menyediakan besi yang mengandung bahaya besar dan manfaat yang banyak bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-Nya, walaupun agama itu ghaib. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat dan Maha Perkasa. - Al-Hadid 25.
Dan
Apa yang kamu sembah selain Allah itu hanya sebutan-sebutan yang kamu berikan saja, kamu dan leluhur kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Kekuasaan itu hanya pada Allah. Dia memerintahkan bahwa hendaklah kamu tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. - Yusuf 40.
Mengenai orang-orang yang berhak mendapat pertolongan Allah swt., Al-Qur’an menyatakan:
Orang-orang yang kalau Aku tempatkan mereka di bumi, mereka melakukan sembahyang, membayar zakat, memerintahkan/menganjurkan kebaikan dan melarang/memperingatkan keburukan. Dan kepada Allah-lah kembalinya segala urusan. - Al-Haj 41.
Dan Rasulullah saw. bersabda:
Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.
Saya kira orang tidak perlu mempelajari secara mendalam tentang ajaran-ajaran Islam, kalau sekedar untuk mengetahui bahwa Islam itu adalah suatu agama yang menyeluruh, meliputi segala lapangan hidup manusia, dan tidak membiarkan satu lapanganpun untuk dimasuki oleh kekuatan buruk syaitan.
Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan
Ada satu keistimewaan yang bersifat unik bagi Islam, yaitu bahwa agama ini membina keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan kemasyarakatan. Islam percaya adanya kepribadian manusia dan menentukan bahwa setiap orang secara sendiri-sendiri bertanggung jawab terhadap Tuhan. Islam menjamin hak-hak azasi manusia dan tidak membenarkan siapapun juga untuk merobek-robek atau menguranginya. Islam juga menjamin perkembangan yang baik kepribadian manusia, sebagai salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan pendidikannya.
Islam tidak setuju dengan pandangan bahwa manusia harus melenyapkan kepribadiannya, meleburkan diri dalam masyarakat atau negara.
Al-Qur’an menyatakan:
… dan bahwa manusia tidak akan mendapat selain apa yang dia usahakan. — An-Najm 39.
Dan musibah apa yang menimpa kamu itu disebabkan perbuatan kamu. — Asy-Syura 30.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka sendiri mau mengubah keadaannya. - Ar-Ra’d 11.
Bermanfaat bagi seseorang apa yang dia usahakan, dan berbahaya baginya apa yang dia lakukan. — Al-Baqarah 286.
Mengenai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ajakan kaum musyrikin, Tuhan mengajarkan:
Bagi kami bermanfaat amal perbuatan kami dan bagi kamu amal perbuatan kamu. — Al-Qashash 55.
Semua itu mengenai soal-soal perseorangan.
Di lain pihak, Islam selalu menanamkan dalam jiwa manusia rasa tanggung jawab sosial, mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dan negara, dan mengikutsertakan setiap orang dalam usaha menegakkan kemaslahatan umum.
Sembahyang dalam Islam dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah), salah satu cara untuk menanam rasa disiplin sosial di kalangan ummat Islam. Setiap orang diwajibkan nnembayar zakat, sekurang-kurangnya zakat fithrah.
Al-Qur’an menyatakan:
Dan dalam harta kekayaan mereka ada bagian hak yang dibutuhkan oleh yang meminta dan miskin. — Adz-Dzariyat 19.
Jadi zakat itu adalah sebagian harta yang menjadi hak masyarakat. Dan jihad (berjuang) dalam Islam itu wajib. Ini berarti bahwa setiap orang diharuskan berkorban, sampai dengan jiwanya sekalipun, untuk mempertahankan kejayaan Islam dan negaranya. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.
Sabdanya pula:
Kamu jangan berprasangka, sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling bohong. Dan janganlah kamu saling selidik menyelidik kesalahan, jangan saling bermegahan, jangan saling benci, jangan saling belakangi. Jadilah kamu –hamba Allah– bersaudara, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kamu. — Riwayat Bukhari dan Muslim.
Dan:
Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dengan perut kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, dan dia mengetahui hal itu. — Riwayat Al-Bazar.
Dan:
Orang Mukmin itu ialah orang yang boleh dipercaya atas harta dan diri/jiwa orang lain. — Riwayat Ibnu Majah.
Singkatnya, Islam tidak hanya menegakan hak-hak perseorangan atau hanya mengakui hak-hak masyarakat saja. Islam membina keserasian dan keseimbangan antara keduanya, dengan memberikan batas-batas yang teliti untuk kebaikan dua-duanya.
Kelima: Universal dan Kemanusiaan.
Risalah Islam adalah untuk seluruh ummat manusia. Tuhan, dalam ajaran Islam, adalah Tuhan seluruh alam. Firman Allah:
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengurus seluruh alam. — Al-Fatihah 2.
Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang Rasul untuk seluruh kemanusiaan. Al-Qur’an menyatakan:
Katakanlah: Hai sekalian manusia! Sesungguhnya aku ini adalah Utusan Allah kepada kamu sekalian. — Al-A’raf 158.
Dan firman-Nya:
Maha Tinggi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, supaya menjadi peringatan bagi seluruh alam. — Al-Furqan 1.
Dan firiman-Nya lagi:
Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam. — Al-Anbiya 107.
Menurut ajaran Islam, manusia itu semuanya sama, walaupun berlainan warna kulit, bahasa, keturunan dan kebangsaannya. Hal itu adalah bimbingan Allah kepada naluri kemanusiaan, dan Dia tidak mengakui adanya perbedaan keturunan/kebangsaan, kedudukan sosial atau kekayaan. Tidak bisa dibantah bahwa dalam kenyataan, semua perbedaan itu masih ada dalam zaman kita yang mengaku abad ilmu dan kemajuan ini. Akan tetapi Islam tidak mengakuinya. Malah Islam menetapkan/mengakui bahwa semua manusia itu satu keluarga, Tuhannya ialah Allah s.w.t. Dalam hal ini Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
Semua makhluk itu keluarga Allah, maka mereka yang paling disenangi Allah ialah yang paling bermanfaat untuk keluarga-Nya. — Riwayat Al-Bazar.
Dan do’a Rasulullah s.a.w.:
Ya Tuhanku! Tuhan yang mengurus segala sesuatu dan Yang Memilikinya! Aku bersaksi bahwa hamba-hamba itu semuanya bersaudara. — Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.
Jadi, Islam itu berpandangan internasional dan tidak mengakui adanya garis-garis pemisah dan perbedaan-perbedaan seperti pada zaman jahiliyah. Islam menginginkan adanya kesatuan seluruh kemanusiaan di bawah satu bendera, dan dalam dunia yang telah dirusak dengan persaingan-persaingan dan permusuhan-permusuhan kebangsaan ini Islam merupakan tuntunan hidup dan harapan kebahagiaan di hari yang akan datang.
Keenam: Stabil dan Berkembang
Justice Cardoza dengan tegas menyatakan: “Kebutuhan terbesar zaman kita sekarang adalah satu falsafah yang bisa menengahi antara tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan mengenai stabilitas dan kemajuan dan memenuhi prinsip perkembangan.” Islam memberikan satu ideologi yang memuaskan tuntutan-tuntutan stabilitas dan perkembangan/perubahan sekaligus.
Kenyataan membuktikan bahwa memang hidup itu tidak semata-mata stabil dalam arti tidak berkembang, tidak pula berkembang dan berubah secara keseluruhan. Sebab soal-soal pokok kehidupan itu tetap, akan tetapi cara-cara penyelesaian dan tehnik penanganannya berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menjamin kedua hal itu berjalan secara teratur. Al-Qur’an dan Sunnah mengandung petunjuk-petunjuk abadi dari Tuhan Rabul’alamin, Tuhan yang tidak dibatasi oleh zaman dan tempat memberi petunjuk-petunjuk yang bertalian dengan kepentingan perorangan maupun yang bertalian dengan masyarakat, sesuai sepenuhnya dengan alam yang diciptakan Allah s.w.t. Dengan demikian maka petunjuk-petunjuk itu bersifat azali dan abadi (kekal). Akan tetapi Tuhan hanya merumuskan dasar-dasar dan pokok-pokoknya, sedangkan manusia diberi kebebasan untuk melaksanakannya sesuai dengan perkembangan zaman yang berbeda-beda, jiwa dan kondisinya. Untuk itu manusia melakukan ijtihad yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ahli setiap zaman, untuk menerapkan petunjuk-petunjuk Tuhan dalam menghadapi segala bentuk kehidupan pada zamannya.
Jadi dasar dan pokok ajaran itu tetap tidak berubah, hanya cara-cara pelaksanaannya mungkin berubah, sesuai dengan kebutuhan hidup pada setiap zaman. Itulah rahasianya, mengapa Islam itu tetap segar dan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang mana dan kapanpun.
Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan.
Dan akhirnya, masih ada satu rahasia penting, ialah bahwa ajaran-ajaran Islam dalam Al-Qur’an tetap atas dasar dan nash-nya yang semula sebagaimana yang diturunkan Allah, Tuhan semesta alam.
Manusia tetap memperoleh petunjuk-petunjuk di dalamnya, sebagai yang dikehendaki Allah, tanpa perubahan atau pergantian sedikitpun. Al-Qur’an tetap sebagaimana yang diturunkan Allah dan tetap berada di tengah-tengah kita, hampir 14 abad lamanya. Kalimat Allah tetap kalimat Allah, dalam bentuknya yang semula. Dan keterangan terperinci tentang kehidupan Nabi Islam dan ajaran-ajarannya telah dikenal berabad-abad dalam bentuknya yang orisinal. Hal itu diakui oleh para kritikus non Muslim. Profesor Reynold A. Nicholson dalam bukunya “Literary History of the Arabs” menyatakan:
“Al-Qur’an adalah suatu dokumen kemanusiaan yang luar biasa, menerangkan setiap phase hubungan Muhammad dengan segala kejadian yang dihadapinya selama hidupnya, sehingga kita mendapat bahan yang unik dan tahan uji keasliannya, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan Islam sejak permulaannya sampai sekarang. Semua itu tidak ada bandingannya dalam agama-agama Buddha atau Kristen, maupun dalam agama-agama lainnya.” (hal. 413).
Semua itu hanyalah sebahagian saja dari tanda-tanda yang dengan jelas dan kuat menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna bagi kemanusiaan, dahulu, sekarang dan di kemudian hari. Segi-segi itulah yang telah menarik beratus-ratus juta ummat manusia ke dalamnya. Mereka semua yakin bahwa Islam adalah agama yang hak dan benar, jalan hidup yang lurus yang seharusnya dilalui oleh manusia. Hal itu akan tetap menarik mereka di waktu-waktu yang akan datang. Manusia dengan jiwanya yang bersih dan ikhlas mencari kebenaran, akan selalu mengucapkan:
AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH YANG SATU DAN TIDAK ADA YANG MENYEKUTUINYA DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH HAMBANYA DAN UTUSAN-NYA

HUJAN ADALAH KARUNIA ALLAH

ujan adalah karunia Allah kepada hamba-Nya, sesuatu yang semestinya lebih disyukuri adalah Allah menurunkan hujan dengan rasa yang tawar. Dapat dibayangkan sulitnya bila hujan itu turun dengan rasa yang asin, apalagi yang dapat kita minum dengan segar dan nikmat.

”Maka, terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS Al-Waqiah [56]: 68-70) Adapun bila bersama hujan itu ada masalah lainnya, itu tentu terkait dengan kerusakan yang dibuat sendiri oleh manusia. Sebab, ketika pembangunan tidak mengindahkan aspek keharmonisan dengan alam, yang terjadi adalah kerusakan.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS Ar-Rum [30]: 41)”

Bagaimanapun, hujan tetaplah sebuah karunia dari Allah Sang Pemelihara alam semesta. Turunnya hujan harus tetap disyukuri sebagai karunia, tinggal kita yang senang membuat kerusakan di alam ini semestinya bertobat, lalu bergegas memperbaiki perbuatan kita

Misteri Sholat Subuh

Nabi pernah bersabda :
” Sesungguhnya sholat yg berat bagi orang munafiq adalah sholat shubuh dan sholat isya, sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”

ANTARA MARAH DAN MARAH

Tidaklah seseorang dikatakan pemberani dan kuat karena cepat meluapkan amarahnya, tetapi seseorang dikatakan pemberani dan kuat kalau mampu menguasai diri dan nafsunya ketika marah.”(Hadis)Marah tidak hanya ada pada manusia, tapi juga ada pada makhluk lain, ada pada alam. Marah pada diri manusia harus dibedakan antara marah wajar dan marah emosional.
Ketika sseorang marah, misalnya karena agamanya dihina, maka marahnya itu adalah marah yang wajar. Sebaliknya ketika seseorang marah, misalnya melemparkan gulai ke wajah istrinya hanya karena rasa gulai itu tak sesuai dengan seleranya, itu tergolong marah emosional.Dalam kehidupan sehari-hari, marah yang paling banyak ditemukan ialah marah emosional. Contohnya sangat bervariasi, Istri marah ketika uang yang dibawa suaminya tidak sebanyak yang diinginkannya. Remaja marah ketika ibunya tak memberinya uang untuk pesta di diskotik bersama teman-teman sebayanya. Penguasa marah ketika diingatkan akan kezalimannya. Ulama marah ketika hasil ijtihadnya dikritik. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa marah emosional berasal dari setan. Makanya marah emosional dinilai sebagai akhlak yang tercela. Sedangkan marah yang wajar bukanlah merupakan akhlak tercela. Sebab yang menciptakan perasaan marah pada hakikatnya adalah Allah Ta’ala. Tujuannya untuk menguji iman hamba-hambaNya. Maka marah yang wajar merupakan sesuatu yang normal. Jangankan manusia biasa, manusia yang telah diangkat Allah menjadi NabiNya pun juga bisa marah.Nabi Muhammad SAW juga pernah. marah. Seorang lelaki, Abu Mas’ud al-Anshari, pada suatu hari mengadukan keberatannya kepada Rasulullah tentang imam shalat di lingkungannya memanjangkan shalat misalnya rukuk dan sujud terlalu lama, atau ayat Al Quran yang dibaca seusai Fatihah panjang sekali). Mendengar pengaduan itu, Nabi marah, sampai lelaki itu berkata: “Aku belum pernah melihat Nabi marah melebihi marahnya ketika beliau memberi nasihat pada hari itu kepada orang banyak dengan sabdanya; Wahai umatku sekalian! Sesungguhnya ada di antara kalian yang menyebabkan orang jauh dari agama. Maka siapa di antara kalian menjadi imam (shalat), hendaklah mempercepat shalatnya karena di belakangnya terdapat orang-orang tua, orang-orang yang lemah dan orang-orang yang mempunyai keperluan lain.” (HR Bukhari dari Abu Mas’ud al-Anshari).Emosi marah yang negatif, yang ditunggangi setan, dapat menimbulkan masalah besar. Di antaranya pembunuhan, perkelahian mengerikan bahkan peperangan besar. Terhadap emosi marah yang negatif ini, Allah memberikan tuntunan: “Dan bersegeralah menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang mengendalikan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (OS Ali Imran [3]: 134)Firman Allah ini memang mudah dibacakan dan diclengarkan, belum tentu mudah diamalkan. Banyak orang pintar menasihati orang lain agar mengendalikan emosi marah, tetapi tak mampu melakukannya sendiri ketika emosi marahnya meledak-ledak.Begitu pentingnya mengendalikan emosi marah yang negatif ini, sehingga ketika seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah aku nasihat,” Rasulullah bersabda, “Janganlah marah. Janganlah marah.”Kiat Meredam MarahLanjutan hadis Nabi yang menyatakan marah emosional berasal dari setan, juga disebutkan bahwa salah satu cara untuk meredam marah emosional yang tengah menggelora adalah segera berwuduk. Mengapa harus berwuduk? Bagaimana berwuduk dianggap bisa mengatasi marah?Filosofinya adalah berwuduk berarti meng’gunakan air. Setan itu asal-muasalnya diciptakan dari api. Air sangat kontras dengan api. Air dapat memadamkan api. Maka dengan berwuduk hampir dapat dipastikan emosi marah akan berkurang atau bahkan tak mustahil lenyap sama sekali, Orang-orang yang kuat imannya dapat melakukan hal itu.Tetapi setan dalam hal ini licik dan jahat sekali. Ketika orang sedang dibakar emosi marah, setan membuatnya lupa berwuduk. Itulah sebabnya seringkali orang tak ingat lagi berwuduk ketika marah. Yang membebani dadanya ketika marah itu ialan melampiaskan emosi sepuas-puasnya. Dan setan akan terus berupaya maksimal membakar emosi itu agar berlanjut pada perbuatan atau tindakan yang dibenci Allah, tidak hanya sebatas kata-kata seperti mencaci-maki, tapi juga memukul, menendang dan seterusnya. Setan akan puas kalau manusia berhasil didforongnya untuk melampiaskan emosi marahnya secara negatif. Apalagi kalau akibatnya sangat buruk dan mengerikan, Misalnya pertumpahan darah, Itulah memang salah satu misi setan. Dan bagi pelaku ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan ketika berhasil melampiaskan emosi marahnya itu.Kekuasaan, pangkat, jabatan, kekayaan, kekuatan dan kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki seseorang terkadang dapat mendorong dirinya mudah marah, terutama terhadap orang-orang lemah dan kecil, khususnya yang berada di bawah kekuasaannya. Maka di sebuah rumah atau instansi atau perusahaan, yang biasanya marah adalah tuan/nyonya rumah terhadap pembantu, atasan terhadap bawahan, majikan terhadap karyawan.Apa artinya?Pada umumnya orang-orang pemarah itu hanya berani marah terhadap orang kecil dan lemah, termasuk orang miskin atau pembantu rumah tangganya. Terhadap orang kuat dan besar, mereka biasanya tak berani marah, termasuk terhadap orang kaya. Orang-orang kecil dan lemah hanya mungkin marah kalau sudah bersatu menjadi massa. Mereka bisa berdemo, atau mogok.Dalam hal ini, Rasulullah SAW menegaskan makna hakiki keberanian dan kekuatan pada diri manusia. “Tidaklah seseorang dikatakan pemberani dan kuat karena cepat meluapkan amarahnya, tetapi seseorang dikatakan pemberani dan kuat kalau mampu mengendalikan diri dan nafsunya ketika sedang marah.”Emosi marah hanya ada di dunia. Itu sebabnya, bagi orang-orang kecil yang sering dimarahi, ada semacam hiburan, bahwa di akhirat nanti, siapa yang memarahi orang yang sebenarnya tak bersalah akan diadili Allah seadil-adilnya. Dan salah satu beda hidup di dunia dengan di surga ialah bahwa di surga, emosi marah tak ada lagi. Di surga tak akan ada lagi yang memarahi dan dimarahi. Juga takkan ada lagi majikan dan pembantu, tak ada lagi atasan dan bawahan. Kedudukan manusia sama semua. Bahkan Allah pun tak pernah lagi murka kepada semua penghuni surga

ILMU YANG BERMANFAAT

Di zaman ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang demikian pesat dan mengagumkan. Terutama dalam bidang telekomunikasi dan komputer yang setiap saat dalam hitungan hari selalu ada inovasi-inovasi baru, memudahkan dan memanjakan manusia dalam menikmati dan menjalani kehidupan sehari-hari. Saat ini kita bisa menonton kejadian di belahan dunia lain hanya dengan menekan tombol Handphone yang sudah memiliki feature 3G , dimana bisa digunakan untuk memutar siaran televisi ataupun video call. Juga iPhone yang sebentar lagi akan memberikan service browsing website dengan browser khusus yang lebih canggih, dan ‘kabarnya’ menyiapkan situs-situs porno. Banyaknya fasilitas ini disamping bisa memberikan manfaat buat manusia, juga ada sisi lain yang bisa menjerumuskan manusia ke perilaku negatif. Contohnya, berapa banyak perilaku seksual baik di kalangan awam, pelajar, pejabat yang direkam dalam camera video dalam perangkat handphone dan disebarkan ke khalayak ramai. Penyebarannya menggunakan teknologi internet sehingga dengan cepat merambah ke seluruh dunia dan dapat diacces oleh siapapun dan di manapun.

Banyak pendapat mengenai ilmu pengetahuan, bahwasanya ilmu itu bebas nilai. Apakah benar demikian ? Kalo kita menilik tujuan sebenarnya ilmu adalah untuk memudahkan manusia menjalani kehidupan di dunia, namun di sisi lain manusia adalah makhluk Tuhan yang diberikan wewenang sebagai khalifah / wakil di muka bumi. Tentu saja wewenang yang diberikan Tuhan di muka bumi adalah untuk kemaslahatan dan kebaikan seluruh makhluk. Jika ilmu dipergunakan untuk merusak ( fisik dan jiwa ) manusia maupun alam semesta, maka bagaimana pertanggungjawaban ilmu terhadap amanat dari Tuhan ? Masih bisakan dikatakan ilmu itu bebas nilai ? Mungkin bisa, tapi setelah itu mesti ada perangkat yang menjamin bahwa ilmu itu harus diarahkan menuju perbaikan manusia dan alam semesta. Jika tidak, itulah ilmu yang tidak membawa manfaat. Padahal dalam islam, ilmu yang bermanfaat itu akan bernilai abadi selain anak yang sholeh dan amal /sedekah yang masih dirasakan manfaatnya bagi generasi sesudahnya sampai akhir zaman.

Jika demikian, ilmu memang harus disandingkan dengan nilai-nilai kehidupan yang baik. Yang membimbing manusia untuk senantiasa meraih kehidupan yang diberkahi Tuhan ( dalam bahasa Islam, mendapat ridha dari Allah Swt dan membawa kepada ketaatan kepada-Nya). Jika tidak, kita sebenarnya telah mendhalimi diri sendiri.

Semoga kita bisa menjadi orang yang berilmu karena Tuhan menjanjikan derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya. Tentu saja ilmu yang bermanfaat. Wallahualam bishawab.

PENANGKAL PANAH PANAH SYAITAN

Apa yang akan dilakukan ketika kita akan pergi ke medan perang? Tentu, kita akan mempersiapkan diri sebaik mungkin, termasuk mempersiapkan fisik, mental, persenjataan, penguasaan medan, plus strategi jitu untuk memenangkan peperangan. Sangat konyol maju ke medan perang tanpa memiliki persiapan apa pun. Sesungguhnya, hidup dapat dianalogikan sebagai medan perang. Prinsip yang berlaku di sini adalah menang atau kalah, menjadi pemenang atau pecundang. Hadiah yang disediakan pun sangat fantastis. Surga yang abadi bagi pemenang, dan neraka yang kekal bagi pecundang. Namun berperang dengan siapa?

Tentu saja berperang dengan setan. Dialah musuh terbesar dan paling nyata bagi manusia. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah [2]: 208). Berperang melawan setan, tentunya tidak sama dengan berperang melawan manusia.

Setan itu lebih canggih tipu dayanya, lebih profesional pekerjaannya, lebih banyak jumlahnya, serta tidak tampak wujudnya. Tanpa kesungguhan untuk menghadapinya, kita akan menjadi bulan-bulanan mereka. Bagaimana tidak, di mana pun dan kapan pun, setan bebas menembakkan panah-panah beracun kepada kita, tanpa kita menyadarinya. Setan akan membidikkan panah asmara ke dalam hati dua orang yang bukan muhrim untuk berzina. Setan akan membidikkan panah ke mata manusia, sehingga ia merasa nikmah melihat hal-hal yang diharamkan. Membidikkan panah ke lidah manusia, sehingga ia bergibah, memfitnah, namimah, serta berdusta. Dsb.

Bagaimana memenangkan perang dengan musuh seperti ini? Perlindungan dari Allah menjadi kata kunci. Dalam QS Al A’raaf [7] ayat 200, Allah SWT memberikan jaminan, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Salah cara mendapatkan perlindungan Allah adalah dengan zikir, atau senantiasa mengingat dan bergantung kepada Allah Dzat Yang Mahakuasa.

Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan. Seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.

Zikir dapat kita ibaratkan sebagai tameng, pakaian perang atau baju anti peluru yang akan melindungi seluruh tubuh serta jiwa kita dari panah-panah beracun yang dibidikkan setan. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mencontohkan ibadah-ibadah wajib serta sunnat kepada kita. Mulai dari shalat lima waktu yang dilengkapi shalat rawwatib, tahajud, dhuha, dsb, sampai shaum Ramadhan yang dilengkapi dengan shaum-shaum sunnat lainnya.

Beliau pun memberi panduan berupa aneka zikir serta doa yang layak kita ucapkan dalam berbagai kesempatan. Setiap aktivitas ada doanya, minimal dengan membaca basmallah, serta mengakhirinya dengan hamdallah. Jika semua panduan ini diamalkan dengan ikhlas serta penuh kesungguhan, niscaya hari-hari kita akan menjadi hari-hari penuh kemenangan. Betapa tidak, seluruh anggota badan akan terlindung dari maksiat. Efeknya, hati akan tenang, pikiran akan jernih, doa ijabah, masalah menjadi mudah, energi kita pun akan optimal, karena hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif serta bernilai tambah. Maka, awalilah hari dengan zikir, isi hari dengan zikir, dan akhiri hari dengan zikir. Namun jangan salah, zikir tidak hanya di masjid. Zikir bisa hadir di kantor, di pasar, di terminal, dan di mana pun kita berada. Semoga kita bisa melakukannya dengan ikhlas.

SYUKUR PENGUNDANG NIKMAT

Adalah kenyataan yang kita saksikan sehari-hari ternyata kebahagiaan yang dirindukan bukanlah hal yang mudah didapat. Kita sering mendapatkan orang-orang pusing dan nelangsa karena tidak punya uang, namun bersamaan dengan itu kita sering melihat orang yang menderita stress dan was-was melekat pada orang-orang yang justru kelebihan uang. Dan adapula yang merasa sempit dan sengsara karena dia adalah orang yang banyak hutang. Begitupun berkaitan dengan rupa, harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas, gelas dan aksesoris duniawi lainnya ternyata sama sekali tidak menjamin akan ketentraman, kenikmatan dan kebahagiaan, apakah sebabnya ?
Andaikata diambil perumpamaan, bayangkan jika ada sebuah lemari kaca penuh dengan makanan lezat tapi terkunci rapat, manakah yang lebih dahulu dipikirkan? Isi lemari atau kunci lemari?
Siapapun yang normal cara berpikirnya akan berupaya mencari kuncinya lebih dahulu, karena mati-matian ingin menikmati isi lemari, tapi kalau tidak punya kuncinya sama dengan menyiksa diri membuat penderitaan tiada akhir didera keinginan yang tidak akan tercapai.
Ketahuilah bahwa kenyataan hidup pun tidak jauh berbeda dengan perumpamaan diatas. Sehebat apapun keinginan menikmati hidup bila tidak mengetahui kuncinya maka kebahagiaan hanya akan ada dalam angan-angan saja, kalaupun merasa mendapat kebahagiaan sesungguhnya hanyalah semu belaka atau bagai mengejar bayang-bayang tidak akan pernah terkejar.
Sayang, sebagian besar orang lebih sibuk memikirkan isi lemari daripada sibuk mengetahui dan menguasai kuncinya. Itulah sebabnya hidup ini menjadi sulit untuk bahagia , selalu menjadi perpindahan dari was-was, takut, cemas, gelisah, bingung, tegang, pening dan sebagainya.
Kunci pembuka lemari nikamt itu bernama syukur , artinya siapapun yang tidak tahu cara mensyukuri nikmat dengan benar, maka tipislah harapan dapat menikmati hidup ini dengan benar pula.
Memiliki kemampuan bersyukur berarti pula akan dapat mengikat nikmat yang ada dan mengundang nikmat yang lebih besar yang belum ada sesuai dengan janji Allah,
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan sesungguhnya jika kami bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim[14]:7)
Dengan demikian maka wajib bagi siapapun yang merindukan hidup bahagia ternikmati dengan baik dan benar harus mengenal kunci bersyukur.
Berikut ini adalah kunci rahasia syukur pengundang nikmat :
1. Tidak merasa memiliki kecuali meyakini segalanya milik Allah
Keyakinan bahwa segalanya hanyalah milik Allah atau tidak merasa dimiliki dan memiliki kecuali hanyalah milik Allah, adalah kunci yang sangat luar biasa dampaknya bagi kenyamanan dan kebahagiaan hidup. Bagi orang yang telah memasuki keyakinan ini, adanya kekayaan duniawi sebanyak apapun tidak membuatnya sombong dan takabur, tiadanya duniawi tidak akan membuat minder dan nelangsa, ikhtiarnya tidak mungkin tidak jujur, karena yakin bahwa jujur rizki dari Allah, dan tidak jujur pun tetap rizki dari Allah. Pendek kata kalaupun akan diumpamakan petugas parkir, walaupun segala kendaraan mewah ada di halaman parkirnya sama sekali tidak akan membuatnya sombong, begitupun ketika seluruh kendaraan diambil sampai habis tidak membuatnya kecewa dan merana. Mengapa demikian ? karena petugas tersebut sangat sadar bahwa segala yang ada hanya titipan saja, sama sekali bukan miliknya, nah begitupun diri kit asemua. Terjadinya hari sombong, sibuk pamer atau nelangsa karena kehilangan atau ketidakjujuran ketika ikhtiar semuanya berasa dari merasa memiliki. Padahal seharusnya mereka merasa tertitipi belaka. Segala-galanya hanyalah milik Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah,
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi, dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kami menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan perbuatanmu itu” (QS.Al-Baqarah[2]:284)
2. Selalu Memuji Allah dalam Segala Kondisi
Selalu berucap alhamdulillah, memuji ALlah dalam segala kondisi senang maupun susah karena nikmat yang harus disyukuri lebih banyak daripada musibah. Alkisah ada seseorang yang sangat kaya raya sedang mengamat-ngamati tanah yang telah dimilikinya yang terbentang sangat luas. Tetapi setiap melihat sebidang tanah kecil yang ada diantara tanah miliknya, mulailah hatinya merasa tidak nyaman dan semakin lama semakin mendidih karena begitu kesal dan geram disebabkan tanah petak kecil tersebut tidak mau dijual kepadanya. Memang sebetulnya tidak berpengaruh apapun terhadap kekayaannya, tetapi rasanya sungguh tidak puas andaikata masih ada pemilik lain disekitar tanahnya, sudah hampir dua tahun dirinya memendam dongkol dan pikirannya dibuat pusing oleh tanah mungil yang tidak mau dijual kepadanya itu, sehingga hampir tidak ada waktu untuk menikmati tanah yang begitu luas miliknya sendiri.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar lirih penuh kesyahduan bergetar penuh kekhusuan menyebut “Alhamdulillah yaa Allah, Alhamdulillah…..Alhamdulillah…” dan suara itu benar-benar menggugahnya menembus relung-relung kalbu yang selama ini selalu gersang resah gelisah, bagai air bening nan sejuk yang dirasakan bagi yang sangat dahaga kehausan. Semakin bersungguh-sungguh didengar, maka semakin bergetarlah hatinya turut menikmati orang yang tengah syahdu memuji Tuhannya, sehingga tanpa terasa berlinanglah air matanya, sungguh tetesan yang sangat langka, aie mata yang sudah lama sekali tidak menetes bahkan mungkin terasa sudah lupa bagai tidak memiliki air mata seperti ini.
Setelah berupaya mencari sumber suara tersebut, dan akhirnya ditemukannya sebuah rumah sederhana, berlantai tanah, beratap daun-daun kurma dan berdinding bilik. Dari jendela tua yang terbuka tampaklah seseorang tengah duduk bersimbuh diatas tikar menghadap kiblat. Nampak air mata becucuran sampai membasahi janggutnya.
“Assalamu’alaikum”, sapaan yang selera dijawabnya dengan penuh getaran keikhlasan dan tampak bertambah dijiwai pujaan kepada Allah ‘Alhamdulillah”. Dan sang tamu pun menyapa “Pak saya ini tamu, lihatlah saya”. Ketika tuan rumah itu menoleh serta merta bertambah deraslah cucuran air matanya sambil mengusap matanya dan tidak terputus lisannya bertahmid “Alhamdulilla yaa Allah…..”
Dengan penuh rasa heran dan haru, sang tamu agak memaksa untuk mendapatkan jawaban, “Katakan Pak, apa yang menyebabkan bapak begitu larut dan tampak nikmat memuji Allah seperti itu ? Saya pun yang mendengar dan memperhatikannya ikut hanyut merasakan nikmat bergetarnya kalbu ini “.
Lalu beliau menjawab betapa dirinya merasa dicelupkan dalam samudra nikmat yang tiada bertepi, yang seakan-akan tiada satupun yang tidak dapat disyukurinya.Syukur ditakdirkan jadi manusia normal tidak jadi hewan. Syukur ditakdirkan menjadi muslim tidak menjadi kafirin. Syukur diberi nikmatnya iman dan bisa beramal tidak menjadi munafikin atau fasikin. Syukur otak bisa berfikir normal sehingga dapat mencari dan menemukan keagungan dan kebesaran Allah yang dapat menuntunnya menemukan kebenaran dan arti hidup ini.
Syukur bahwa Allah tidak pernah lupa memberi makan dan minum setiap hari sehingga tubih bisa kuat untuk beribadah. Syukur Allah memberi tempat berteduh sehingga dapat beristirahat dengan layak. Syukur karena Allah selalu memberi sesuatu untuk menutup aurat, bahkan ketika mendengar suara tuan mengucapkan salam saya merasa harus semakin bersyukur karena masih memiliki telinga yang masih bisa mendengar dan teringatlah betapa dengan telinga ini dapat mendengar suara anaknya, dapat berbincang-bincang dan dapat mendengar ilmu dan yang terpenting dapat mendengar nasihat-nasihat, ayat-ayat Allah dan seruan kepada kebaikan.
Dan ketika menoleh melihat tuan, saya teringat akan karunia mata yang masih sehat yang harus disyukuri dan terkenanglah dengan mata ini saya menatap wajah orang tua, istri, anak, guru, sahabat dan yang utama sekali bisa membaca menuntut ilmu dan bisa membaca Al-Qur’an surat dari Allah tercinta. Syukur masih memiliki hati yang bisa merasakan kasih sayang dan nikmatnya iman. Setelah mendengar ungkapan tersebut sang orang kaya tercengang dalam dan lama sekali seakan telah menemukan sesuatu yang hilang.
Sesuai berpamitan dan melangkah menuju rumahnya, pikirannya tidak bisa lepas sedikitpun dari pengalaman yang dialaminya tersebut. Bahkan ketika sampai dirumahpun seluruh waktunya terkuras untuk mengenang peristiwa yang dilihatnya. Terpikir olehnya betapa beruntungnya orang sederhana tadi, walaupun memiliki harta hanya ala kadarnya tetapi begitu bahagia menikmati dan mensyukuri nikmat yang ada, sungguh berlainan dengan keadaan dirinya, walaupun hartanya berlimpah ruah tetapi begitu sulit hatinya untuk menikmati syukur, begitu langka menikmati ketentraman, ketenangan, dan kesejukan kalbu, selalu galau memikirkan yang tidak ada, selalu saja merasa ada yang kurang bagai minum air laut, semakin diminum semakin bertambah haus.
Akhirnya dia merasa telah mendapat pelajaran mahal yang tidak ternilai harganya dan memutuskan untuk berterima kasih kepada Pak Tua tersebut dengan memberinya sebuah rumah yang lengkap dengan segala fasilitas yang ada bahkan termasuk untuk kebutuhan sehari-haripun telah dijamin sepenuhnya. Namun jawaban dari sang miskin sungguh diluar dugaannya, “Hai manusia malang, dengan nikmat seperti ini saja saya sudah sangat repot untuk mensyukurinya, apalagi jika mendapatkan yang lebih banyak…..!!”. Maka semakin lunglailah sang saudagar merasakan kemiskinan, kerendahan dan kehinaan pribadinya.
Andaikata kita berani jujur kepada diri sendiri, betapa sering kitapun berprilaku mirip dengan kaya tersebut, selalu saja diperbudak oleh keinginan yang tidak ada habisnya, tidak pernah puas oleh apa yang telah ada, selalu membandingkan dengan yang lebih tinggi. lebih bagus, lebih kaya, akibatnya semua nikmat yang ada jadi terasa sangat kurang, sangat sedikit. Akibatnya apa yang telah dimili ki jangankan bisa dinikmati malah menjadi biang kesengsaraan, bukan karena tiada memiliki sesuatu, melainkan karena tiada memiliki rasa syukur.
Pendek kata siapapun yang lebih sibuk melihat dengan proporsional nikmat yang lebih banyak harus disyukuri dan dibandingkan dengan musibah yang pasti kecil dan lebih sedikit dibanding nikmat yang ada, niscaya kesulitan apapun yang dihadapi akan terasa jauh lebih ringan atau bahkan menjadi bagian yang dinikmati pula. Maka untuk urusan duniawi tengoklah selalu kebawah, niscaya kita akan merasa sudah mendapat banyak dan melimpah. Dan tidak perlu kita ingin selalu tampak lebih daripada keadaan sebenarnya, semua ini akan menyiksa hidup kita, hiduplah dengan menerima apa adanya, sambil secara bertahap kita berupaya mengingkatkan taraf hidup kita.
Oleh karena itu orang yang ingin dapat menikmati hidup ini dengan baik dan juga dijamin akan dicukupi nikmat lainnya oleh Allah. Hendaknya menyadari bahwa nikmat yang sesungguhnya bukan dari ada dan tiada, melainkan dari sikap terhadap ada dan tiada. Syukurilah apapun yang diberikan Allah tanpa harus kecewa dan keluh kesah, dan ikhtiarlah lebih sungguh-sungguh lagi dengan hati yang lapang, niscaya Allah tidak akan pernah mengecewakan hambanya yang ahli bersyukur.
Dan ingat baik-baik, bagus, cocok untuk orang lain belum tentu maslahat untuk setiap orang, yakinlah ada takdirnya masing-masing. Sesungguhnya kita sangat sering berlaku tidak adil kepada diri kita sendiri juga terhadap nikmat yang diberikan Allah, yaitu diantaranya dengan salah memandang nikmat dan musibah, akibatnya begitu banyak kejadian yang membahagiakan justru kita sikapi secara salah sehingga menjadi sesuatu yang menyedihkan.
3. Nikmat Adalah Kendaraan Menuju Allah
kita sepakat bahwa seseorang yang dengan kearifannya berusaha untuk memahami manfaat yang hakiki dari setiap pemberian Allah, dan kegembiraannya sudah bukan terletak pada pesona indah atau bagusnya dunia, tetapi dari manfaat dunia ini menjadi kendaraannya yang dapat membuatnya semakin dekat kepada Allah, maka inilah hakikat syukur yang paling tepat yaitu orang yang memili kesadaran bahwa semua titipan Allah harus menjadi kendaraan untuk membuatnya semakin dekat dan akrab dengan Allah.
4. Tahu Balas Budi dan Berterima Kasih
Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepada kalian, maka hendaklah kalian membalasnya, jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah buatnya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Sebab Allah yang Maha tahu berterima dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur (HR. Thabrani)
kita sekarang dapat membaca Al-Qur’an, lezat berfikir dan bermunajat, nikmat shalat maupun tahajud, ringan sedekah dan mensucikan harta dan mengenal dengan jelas makna hidup yang harus dijalani sehingga tidak menjadi mahluk dungu yang tidak mengerti hidup dan yang paling tidak ternilai adalah hidup ini menjadi mantap dan tentram karena telah mengenal serta memiliki keyakinan kepada Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Pernahkah kita dengan sengaja dan sungguh-sungguh mengenang lewat siapa saja semua itu sampai kepada diri kita?
Atau setidaknya pernahkah kita berdoa memohon dengan sungguh-sungguh dan tulus agar Allah membalas segala kebaikannya, menyelamatkan keluarga dan keturunannya dunia maupun akhirat. Andaikata tidak atau belum, maka kita semakin mengetahui jenis apa sesungguhnya kita ini, mungkin itulah sebabnya kita sering merasa susah mendapat dan memahami ilmu atau kalaupun telah memiliki ilmu tidak mudah mengamalkannya.
Menceritakan nikmat agar orang lain ingat dan berharap banyak kepada Allah adalah suatu kebaikan tapi waspadai bahaya riya. Banyaklah beristighfar atas segala nikmat yang ada jangan sampai membuat ujub, takabur dan riya.
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla, Dzat Maha Pembolak-balik hati hamba-hamba-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersungguh-sungguh berjuang untuk menjadi seorang hamba ahli syukur terhadap nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada-Nya.