Kita memiliki gedung-gedung yang tinggi, tetapi semakin rendah ketahanan kita akan amanah.
Kita membangun banyak jalan-jalan besar, tetapi wawasan kita semakin sempit.
Kita banyak menghabiskan uang, tetai semakin sedikit apa yang kita punya.
Banyak membeli tetapi makin sedikit yang bisa kita nikmati.
Rumah-rumah kita bertambah besar, akan tetapi keluarga kita semakin kecil.
Rumah-rumah yang semakin nyaman, tapi makin sedikit waktu yang kita miliki untuk menikmatinya.
Rumah-rumah yang semakin elok, tetapi keluarga yang berantakan.
Inilah masa pendapatan yang berganda, tetapi perceraian bertambah.
Kita memiliki semakin banyak gelar, tetapi semakin sempit akal.
Semakin banyak pengetahuan, tapi semakin sempit penilaian pada yang baik dan buruk.
Semakin banyak ahli, akan tetapi semakin banyak pula masalah.
Semakin banyak ditemukan obat, tetapi semakin berkurang kesehatan.
Kita terlalu banyak merokok, ceroboh, terlalu jarang tertawa, mengemudi terlalu cepat, semakin kerap marah, susah tidur, bangun dalam keadaan yang terlalu penat, terlalu sedikit membaca, terlalu banyak menonton televisi dan sangat jarang berdo'a.
Kita telah melipatgandakan keinginan, akan tetapi mengurangi nilai-nilai diri kita.
Terlalu banyak bicara dan kurang mendengar
Terlalu sedikit mencinta, terlalu banyak membenci
Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah, tapi tidak mencari hidup
Kita telah mampu menambahkan tahun-tahun dalam kehidupan kita, tapi gagal membawa kehidupan dalam tahun-tahun hidup kita.
Kita telah melakukan hal-hal yang lebih besar, tetapi gagal melakukan hal-hal yang lebih baik.
Kita telah membershihkan udara, tetapi jiwa kita penuh polusi
Kita telah menaklukkan atom, akan tetapi tidak mamapu menaklukkan prasangka buruk.
Kita banyak menulis, tetapi sedikit belajar
Kita banyak berencarana, tetapi sedikit menggapai
Kita belajar untuk mengejar, tetapi tidak belajar menunggu
Inilah zamannya makanan yang cepat saji dan pencernaan yang lambat.
Manusia-manusia lebih besar fisiknya, tetapi kerdil karakternya.
Inilah kalanya perjalanan yang semakin singkat, pakaian sekali pakai, moralitas yang terbuang, kelebihan berat badan, dan pil-pil yang dapat melakukan segalanya ; membuat gembira, menenangkan dan sekaligus Membunuh !
Inilah waktunya ketika banyak hal-hal yang dipamerkan dan semakin sedikit yang disimpan.
Ingatlah sesungguhnya hidup tidak diukur dengan berapa banyak hembusan napas yang kita ambil.
Tetapi hidup diukur dengan saat-saat terakhir hembusan napas kita.
Semoga hari-hari yang telah berlalu menjadi pelajaran, pengalaman dan introspeksi bagi kita, dan semoga Esok yang sesungguhnya menjadi lebih baik.
Jumat, 09 Januari 2009
Memohon Pertolongan Dengan Cara Sabar Dan Mendirikan Shalat
Oleh : Akhmad Asikin,S.Ag
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (QS. Al-Baqarah (2): 45)
Hakekatnya sabar itu terletak pada mengingat janji Allah yang akan memberi pahala kepada siapa saja yang sabar dan menahan diri dari kemauan hawa nafsu terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Juga mau mengamalkan berbagai bentuk taat yang dirasakan sangat berat bagi dirinya, dan mau mengingat bahwa setiap musibah yang menimpa dirinya atau orang lain adalah takdir Allah. Karenanya sikap sabar ini memerlukan taat dan patuh kepada perintah Allah. Kemudian memohon pertolongan di dalam menghadapi berbagai musibah melalui cara sabar, ialah dengan cara mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah, dengan mengekang hawa nafsu dari larangan-larangann tersebut. Bisa juga memohon pertolongan melaui shalat. Sebab, shalat mengandung hikmah yang besar, yakni dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Disamping itu orang yang mendirikan shalat akan merasa dekat di hadapan Allah dan selalu dalam pengawasan-Nya, baik lahir maupun batin. Lebih-lebih jika yang dilakukan adalah shalat fardhu (wajib) yang bisa dilakukan umat Islam sebanyak lima kali dalam sehari.
Dalam hal ini Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang menceritakan bahwa jika beliau tertimpa sesuatu yang mengejutkan, beliau akan melakukan shalat.
Juga diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas, bahwa beliau diberitahu tentang kematian putrinya, sedang ketika itu ia dalam perjalanan. Mendengar berita tersebut ia mengucapkan istirja (membaca Inna lil-laahi wa inna ilaihi Raji’uun). Kemudian ia berhenti sebentar, dan turun dari kendaraannya, lalu mendirikan shalat. Setelah itu ia meneruskan perjalanan sambil membaca ayat:
“…Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'” (QS. Al-Baqarah (2): 45)
Artinya sesungguhnya shalat itu terasa sangat berat kecuali bagi orang-orang yang takut kepada siksaan Allah. Shalat dirasakan tidak berat bagi mereka karena dilakukan penuh dengan mubnajat kepada Allah SWT. Sehingga shalat tidak dirasakan sebagai perbuatan yang melelahkan.
Karenanya Rasulullah SAW., bersabda, “Hatiku merasa tenteram bila sedang shalat.”
Hal ini ketika beliau sibuk dengan shalat, hatinya terasa tenteram. Dan kesibukan-kesibukan selain shalat, yakni kesibukan duniawi, dirasakan oleh beliau sebagai sangat berat.
Lebih-lebih, mereka selalu memperhatikan tabungan pahala yang akan diterima kelak di akhirat sebagai imbalan atas amal shalatnya. Sehingga tugas shalat itu sendiri semakin kelihatan ringan. Karenanya, pernah dikatakan kepada Ar-Rabi’ Ibnu Khaitsam yang melakukan shalat yang sangat lama, “Anda telah membuat capai diri Anda sendiri”. Ia menjawab, “Aku mengharap ketenangan dalam shalat”. Dikatakan lagi kepadanya, “Siapapun yang mengetahui apa kehendak dirinya, maka baginya akan mudah melaksanakan yang ia upayakan. Dan siapapun yang yakin balasan yang akan diterimanya, maka jelas ia akan semangat didalam melaksanakannya.”
Kemudian Allah menjelaskan sifat orang-orang yang khusyu’. Sifat-sifat itu sekaligus dapat mendekatkan diri kepada Allah, disamping akan melahirkan sikap taat dan tunduk kepada-Nya. Karenanya Allah berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah (2): 46)
Maksudnya shalat itu dirasakan tidak berat bagi oang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini akan bertemu dengan Tuhannya kelak dihari perhitungan. Mereka pun sadar akan kembali kepada Allah setelah dibangkitkan, kemudian diberi balasan setimapal sesuai dengan perbuatan selama didunia. Didalam ayat tersebut di pakai kata zhan (menyangka = menduga) sebagai sindiran bagi orang yang melakukan zhan (sangkaan) akan melihat pahala atas jerih payahnya di dalam shalat, maka ia akan merasa mudah didalam melaksanakannya.
Karenanya, maka ungkapan yang dipakai didalam ayat ini di gunakan kata-kata zhan, sehingga kecaman itu akan tampak lebih pedas. Jadi seakan-akan para rahib Yahudi yang memerintahkan orang-orang agar berbuat kebajikan, tetapi melupakan dirinya, berarti iman mereka terhadap kitab yangada padanya tidaklah sampai kepada derajat zhan yang bisa menuntun mereka agar lebih hati-hati dalam beramal.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” (QS. Al-Baqarah (2): 45)
Hakekatnya sabar itu terletak pada mengingat janji Allah yang akan memberi pahala kepada siapa saja yang sabar dan menahan diri dari kemauan hawa nafsu terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Juga mau mengamalkan berbagai bentuk taat yang dirasakan sangat berat bagi dirinya, dan mau mengingat bahwa setiap musibah yang menimpa dirinya atau orang lain adalah takdir Allah. Karenanya sikap sabar ini memerlukan taat dan patuh kepada perintah Allah. Kemudian memohon pertolongan di dalam menghadapi berbagai musibah melalui cara sabar, ialah dengan cara mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah, dengan mengekang hawa nafsu dari larangan-larangann tersebut. Bisa juga memohon pertolongan melaui shalat. Sebab, shalat mengandung hikmah yang besar, yakni dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Disamping itu orang yang mendirikan shalat akan merasa dekat di hadapan Allah dan selalu dalam pengawasan-Nya, baik lahir maupun batin. Lebih-lebih jika yang dilakukan adalah shalat fardhu (wajib) yang bisa dilakukan umat Islam sebanyak lima kali dalam sehari.
Dalam hal ini Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang menceritakan bahwa jika beliau tertimpa sesuatu yang mengejutkan, beliau akan melakukan shalat.
Juga diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas, bahwa beliau diberitahu tentang kematian putrinya, sedang ketika itu ia dalam perjalanan. Mendengar berita tersebut ia mengucapkan istirja (membaca Inna lil-laahi wa inna ilaihi Raji’uun). Kemudian ia berhenti sebentar, dan turun dari kendaraannya, lalu mendirikan shalat. Setelah itu ia meneruskan perjalanan sambil membaca ayat:
“…Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'” (QS. Al-Baqarah (2): 45)
Artinya sesungguhnya shalat itu terasa sangat berat kecuali bagi orang-orang yang takut kepada siksaan Allah. Shalat dirasakan tidak berat bagi mereka karena dilakukan penuh dengan mubnajat kepada Allah SWT. Sehingga shalat tidak dirasakan sebagai perbuatan yang melelahkan.
Karenanya Rasulullah SAW., bersabda, “Hatiku merasa tenteram bila sedang shalat.”
Hal ini ketika beliau sibuk dengan shalat, hatinya terasa tenteram. Dan kesibukan-kesibukan selain shalat, yakni kesibukan duniawi, dirasakan oleh beliau sebagai sangat berat.
Lebih-lebih, mereka selalu memperhatikan tabungan pahala yang akan diterima kelak di akhirat sebagai imbalan atas amal shalatnya. Sehingga tugas shalat itu sendiri semakin kelihatan ringan. Karenanya, pernah dikatakan kepada Ar-Rabi’ Ibnu Khaitsam yang melakukan shalat yang sangat lama, “Anda telah membuat capai diri Anda sendiri”. Ia menjawab, “Aku mengharap ketenangan dalam shalat”. Dikatakan lagi kepadanya, “Siapapun yang mengetahui apa kehendak dirinya, maka baginya akan mudah melaksanakan yang ia upayakan. Dan siapapun yang yakin balasan yang akan diterimanya, maka jelas ia akan semangat didalam melaksanakannya.”
Kemudian Allah menjelaskan sifat orang-orang yang khusyu’. Sifat-sifat itu sekaligus dapat mendekatkan diri kepada Allah, disamping akan melahirkan sikap taat dan tunduk kepada-Nya. Karenanya Allah berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah (2): 46)
Maksudnya shalat itu dirasakan tidak berat bagi oang-orang yang khusyu’. Yaitu orang-orang yang meyakini akan bertemu dengan Tuhannya kelak dihari perhitungan. Mereka pun sadar akan kembali kepada Allah setelah dibangkitkan, kemudian diberi balasan setimapal sesuai dengan perbuatan selama didunia. Didalam ayat tersebut di pakai kata zhan (menyangka = menduga) sebagai sindiran bagi orang yang melakukan zhan (sangkaan) akan melihat pahala atas jerih payahnya di dalam shalat, maka ia akan merasa mudah didalam melaksanakannya.
Karenanya, maka ungkapan yang dipakai didalam ayat ini di gunakan kata-kata zhan, sehingga kecaman itu akan tampak lebih pedas. Jadi seakan-akan para rahib Yahudi yang memerintahkan orang-orang agar berbuat kebajikan, tetapi melupakan dirinya, berarti iman mereka terhadap kitab yangada padanya tidaklah sampai kepada derajat zhan yang bisa menuntun mereka agar lebih hati-hati dalam beramal.
Lima Terapi Stres Dalam AlQuran
Oleh : Akhmad Asikin,S.Ag
Tidak kita pungkiri bahwa seiring berkembangnya kebutuhan, seiring cepatnya mobilitas kehidupan banyak kita jumpai orang-orang disekitar kita yang tidak sanggup bertahan menghadapi kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam kehidupannya, bahkan tak luput mereka yang berhasil pun terkadang hanyut, menjadi jumawa, arogan, dan akhirnya... paranoid, ketakutan hartanya hilang atau dimiliki orang lain. Imbasnya harta yang dia miliki bukan menjadi abdinya untuk lebih bersyukur dan meningkatkan mobilitas ibadah serta berbagi dengan sesama, namun sebaliknya dia menjadi hamba hartanya.
Orang-orang yg gagal, tertimpa musibah, tak mampu bersabar lantas keluh kesah pun menjadi semacam "obat" penawar kegelisahannya, walau itu tak membuatnya merubah keadaan menjadi lebih baik. Malah sebaliknya, membuat dia semakin tenggelam dalam kegagalan. Lalu timbulah penyakit dan masalah baru dalam dirinya, "stres".
Kegagalan tersebut kita sebut sebagai musibah/ujian. Disamping itu jika kita perhatikan ternyata musibah terbesar adalah musibah yang sebenarnya tidak kita sadari itu sebagai musibah. Keberhasilan dalam kehidupan berupa berlimpahnya harta dunia kadang tidak kita sadari bahwa hal tersebut merupakan musibah terbesar. Kenapa disebut musibah atau ujian terbesar? Karena orang yang mengalaminya kadang tidak merasakan bahwa dirinya tengah diuji oleh Allah. Kadang orang yg berhasil dalam kehidupannya menjadi lupa bahwa apa yang dia dapatkan kini merupakan anugerah dari Allah sebagai wasail untuk mencapai maqasid, sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Tujuan kita sebagai manusia yang diciptakan Allah tidak lain hanya untuk beribadah. Itulah maqosid kita "beribadah". Adapun hal-hal lain yang bersifat duniawi sebagi wasail/jalan agar maqasid menjadi mudah kita laksanakan.
QS. Al-Ma'arij [70] :19-35. Merupakan satu sub judul mengenai "Ajaran Islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelek pada manusia"
Para ahli mengatakan bahwa diantara penyebab stres adalah tidak menerima keadaan/takdir yang terjadi pada dirinya (sifat keluh-kesah) dan sifat paranoid/ketakutan hartanya dimiliki orang lain (kikir).
AlQuran menyebutkan hal itu merupakan sifat dasar manusia (Qs.70:19-21), namun walau begitu sifat tersebut dapat diatasi, dan AlQuran sendiri langsung menyebutkan terapi-terapi untuk mengatasi penyebab stres tersebut.
Terapi untuk mengatasi sifat keluh-kesah dan kikir tersebut (dalam ayat 22-34) jika kita rangkum menjadi 5 terapi stres, sbb:
1. Mengerjakan Shalat dan Istiqamah dalam Shalat.
Hal ini ditunjukan pada ayat 22,23, dan 34. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, [70:22]. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, [70:23]. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. [70:34]
Yang menjadi pertanyaan, shalat seperti apa yang dapat mencegah kita dari penyakit tersebut? Tentu saja shalat yang dilandasi dengan keimanan dan pengetahuan yang benar ttg shalat itu sendiri. Orang yang senantiasa mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan saja serta mengerti kandungan do'a di dalam shalat itu sendiri. Shalat tidak hanya sebagai rutinitas penggugur kewajiban, walau itu pun benar. Namun hendaknya kita pun tahu kebutuhan kita akan shalat. Cita-cita kita akan shalat. Adakah cita-cita kita dalam shalat? Tentu saja ada! Seperti hal umum lainnya, seperti kegiatan lainnya yang mempunyai cita-cita ke depan, tujuan yang hendak kita capai. Begitu pun dengan shalat, kita harus memiliki tujuan dan cita-cita ke depan. Kemudian dia menjaga, istiqamah dalam shalatnya tersebut.
2. Membiasakan bersikap peduli.
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, [70:24]. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), [70:25].
Hendaknya senantiasa kita rajin memperhatikan mereka yang berada dibawah kita. "Undur man huwa aspala minkum walaa tandzur man huwa fauqakum," Lihatlah mereka yang (keadaan dunianya) berada dibawah kita dan janganlah melihat mereka yang (keadaan dunianya) berada diatas kita. Begitulah Hadits menyarankan. Kenapa? Agar kita terhindar dari penyakit merasa selalu kekurangan dan agar kita tidak menyepelekan ni'mat yang telah diberikan Allah pada kita serta tentu saja kita terhindar dari penyakit keluh-kesah yang berimbas pada penyakit stres. Sekecil apapun harta yang kita miliki, jika kita membandingkannya dengan orang yg lebih rendah status sosialnya dengan kita, tentu kita akan merasa kaya, dan mendorong kita untuk senantiasa berbagi dengan mereka. Jika hal ini kita rasakan "merasa kaya" lalu menyisihkan bagian tertentu dari harta kita untuk mereka, Insya Allah kita terhindar dari penyakit ini.
3. Berdzikir dan mengingat-ingat hari pembalasan.
Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, [70:26]. dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. [70:27]. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). [70:28].
Walakhiratu kharul laka minal uula, akhirat lebih utama dari dunia. Sekecil dan sebesar apapun perbuatan kita, sekecil dan sebesar apapun yang kita lakukan, semuanya akan diperhitungkan dihari pembalasan nanti. Orang-orang yang senantiasa mengingat hari akhir, hari dimana segala perbuatan dipertanggungjawabkan tentu dia tidak akan merasa segala kegagalannya di dunia begitu berarti, karena yang dia harapkan adalah balasan disisi Allah dihari akhir nanti.
4. Memelihara syahwat.
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, [70:29]. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [70:30]. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [70:31].
Nafsu adalah suatu hal yang normal ada pada setiap manusia. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh nafsu, namun Islam mengatur bagaimana agar nafsu tersebut termenej dengan baik, agar tidak keluar dari jalurnya, agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mampu memenej syahwat dan menyalurkannya pada jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya (pernikahan) dia akan merasa lebih aman, tenang dan tentram. Hidupnya tidak dibayangi ketakutan dan rasa bersalah telah melampiaskan syahwatnya ditempat yang bukan semestinya. Orang yang merasa aman, tenang, dan tentram tentu dia akan terhindar dari penyakit stres ini.
5. Menjaga Janji dan amanat.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. [70:32]. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. [70:33].
Orang yang dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan orang lain. Hidupnya akan lebih tentram dan damai. Dengan menjaga janji dan amanat yang diberikan pada kita, hidup akan tentram tanpa dibayangi perasaan bersalah telah mengkhianati amanat atau janji.
Demikian, lima terapi stres yang tercantum dalam Q.S Al-Ma'arij [70] :19-35. Jika stres mulai menjangkiti kita, hendaknya mengerjakan, menjaga, dan istiqamah dalam shalat, biasakan bersikap peduli terhadap sesama, perbanyak dzikir dan mengingat hari akhir, pelihara syahwat dalam jalan yang diridlai Allah, dan terakhir hendaknya menjaga janji serta amanat. Insya Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit stres yang melanda kota-kota metropolitan.
Penulis adalah Pendidik Pendidikan Agama Islam SMA 1 Kendal dan Fosen STIP Farming Semarang
Tidak kita pungkiri bahwa seiring berkembangnya kebutuhan, seiring cepatnya mobilitas kehidupan banyak kita jumpai orang-orang disekitar kita yang tidak sanggup bertahan menghadapi kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam kehidupannya, bahkan tak luput mereka yang berhasil pun terkadang hanyut, menjadi jumawa, arogan, dan akhirnya... paranoid, ketakutan hartanya hilang atau dimiliki orang lain. Imbasnya harta yang dia miliki bukan menjadi abdinya untuk lebih bersyukur dan meningkatkan mobilitas ibadah serta berbagi dengan sesama, namun sebaliknya dia menjadi hamba hartanya.
Orang-orang yg gagal, tertimpa musibah, tak mampu bersabar lantas keluh kesah pun menjadi semacam "obat" penawar kegelisahannya, walau itu tak membuatnya merubah keadaan menjadi lebih baik. Malah sebaliknya, membuat dia semakin tenggelam dalam kegagalan. Lalu timbulah penyakit dan masalah baru dalam dirinya, "stres".
Kegagalan tersebut kita sebut sebagai musibah/ujian. Disamping itu jika kita perhatikan ternyata musibah terbesar adalah musibah yang sebenarnya tidak kita sadari itu sebagai musibah. Keberhasilan dalam kehidupan berupa berlimpahnya harta dunia kadang tidak kita sadari bahwa hal tersebut merupakan musibah terbesar. Kenapa disebut musibah atau ujian terbesar? Karena orang yang mengalaminya kadang tidak merasakan bahwa dirinya tengah diuji oleh Allah. Kadang orang yg berhasil dalam kehidupannya menjadi lupa bahwa apa yang dia dapatkan kini merupakan anugerah dari Allah sebagai wasail untuk mencapai maqasid, sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Tujuan kita sebagai manusia yang diciptakan Allah tidak lain hanya untuk beribadah. Itulah maqosid kita "beribadah". Adapun hal-hal lain yang bersifat duniawi sebagi wasail/jalan agar maqasid menjadi mudah kita laksanakan.
QS. Al-Ma'arij [70] :19-35. Merupakan satu sub judul mengenai "Ajaran Islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelek pada manusia"
Para ahli mengatakan bahwa diantara penyebab stres adalah tidak menerima keadaan/takdir yang terjadi pada dirinya (sifat keluh-kesah) dan sifat paranoid/ketakutan hartanya dimiliki orang lain (kikir).
AlQuran menyebutkan hal itu merupakan sifat dasar manusia (Qs.70:19-21), namun walau begitu sifat tersebut dapat diatasi, dan AlQuran sendiri langsung menyebutkan terapi-terapi untuk mengatasi penyebab stres tersebut.
Terapi untuk mengatasi sifat keluh-kesah dan kikir tersebut (dalam ayat 22-34) jika kita rangkum menjadi 5 terapi stres, sbb:
1. Mengerjakan Shalat dan Istiqamah dalam Shalat.
Hal ini ditunjukan pada ayat 22,23, dan 34. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, [70:22]. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, [70:23]. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. [70:34]
Yang menjadi pertanyaan, shalat seperti apa yang dapat mencegah kita dari penyakit tersebut? Tentu saja shalat yang dilandasi dengan keimanan dan pengetahuan yang benar ttg shalat itu sendiri. Orang yang senantiasa mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan saja serta mengerti kandungan do'a di dalam shalat itu sendiri. Shalat tidak hanya sebagai rutinitas penggugur kewajiban, walau itu pun benar. Namun hendaknya kita pun tahu kebutuhan kita akan shalat. Cita-cita kita akan shalat. Adakah cita-cita kita dalam shalat? Tentu saja ada! Seperti hal umum lainnya, seperti kegiatan lainnya yang mempunyai cita-cita ke depan, tujuan yang hendak kita capai. Begitu pun dengan shalat, kita harus memiliki tujuan dan cita-cita ke depan. Kemudian dia menjaga, istiqamah dalam shalatnya tersebut.
2. Membiasakan bersikap peduli.
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, [70:24]. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), [70:25].
Hendaknya senantiasa kita rajin memperhatikan mereka yang berada dibawah kita. "Undur man huwa aspala minkum walaa tandzur man huwa fauqakum," Lihatlah mereka yang (keadaan dunianya) berada dibawah kita dan janganlah melihat mereka yang (keadaan dunianya) berada diatas kita. Begitulah Hadits menyarankan. Kenapa? Agar kita terhindar dari penyakit merasa selalu kekurangan dan agar kita tidak menyepelekan ni'mat yang telah diberikan Allah pada kita serta tentu saja kita terhindar dari penyakit keluh-kesah yang berimbas pada penyakit stres. Sekecil apapun harta yang kita miliki, jika kita membandingkannya dengan orang yg lebih rendah status sosialnya dengan kita, tentu kita akan merasa kaya, dan mendorong kita untuk senantiasa berbagi dengan mereka. Jika hal ini kita rasakan "merasa kaya" lalu menyisihkan bagian tertentu dari harta kita untuk mereka, Insya Allah kita terhindar dari penyakit ini.
3. Berdzikir dan mengingat-ingat hari pembalasan.
Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, [70:26]. dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. [70:27]. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). [70:28].
Walakhiratu kharul laka minal uula, akhirat lebih utama dari dunia. Sekecil dan sebesar apapun perbuatan kita, sekecil dan sebesar apapun yang kita lakukan, semuanya akan diperhitungkan dihari pembalasan nanti. Orang-orang yang senantiasa mengingat hari akhir, hari dimana segala perbuatan dipertanggungjawabkan tentu dia tidak akan merasa segala kegagalannya di dunia begitu berarti, karena yang dia harapkan adalah balasan disisi Allah dihari akhir nanti.
4. Memelihara syahwat.
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, [70:29]. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [70:30]. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [70:31].
Nafsu adalah suatu hal yang normal ada pada setiap manusia. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh nafsu, namun Islam mengatur bagaimana agar nafsu tersebut termenej dengan baik, agar tidak keluar dari jalurnya, agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mampu memenej syahwat dan menyalurkannya pada jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya (pernikahan) dia akan merasa lebih aman, tenang dan tentram. Hidupnya tidak dibayangi ketakutan dan rasa bersalah telah melampiaskan syahwatnya ditempat yang bukan semestinya. Orang yang merasa aman, tenang, dan tentram tentu dia akan terhindar dari penyakit stres ini.
5. Menjaga Janji dan amanat.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. [70:32]. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. [70:33].
Orang yang dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan orang lain. Hidupnya akan lebih tentram dan damai. Dengan menjaga janji dan amanat yang diberikan pada kita, hidup akan tentram tanpa dibayangi perasaan bersalah telah mengkhianati amanat atau janji.
Demikian, lima terapi stres yang tercantum dalam Q.S Al-Ma'arij [70] :19-35. Jika stres mulai menjangkiti kita, hendaknya mengerjakan, menjaga, dan istiqamah dalam shalat, biasakan bersikap peduli terhadap sesama, perbanyak dzikir dan mengingat hari akhir, pelihara syahwat dalam jalan yang diridlai Allah, dan terakhir hendaknya menjaga janji serta amanat. Insya Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit stres yang melanda kota-kota metropolitan.
Penulis adalah Pendidik Pendidikan Agama Islam SMA 1 Kendal dan Fosen STIP Farming Semarang
MEMBERI NAFKAH BAGI KELUARGA
Oleh : Akhmad Asikin,S.Ag
Sebagaimana diketahui bersama bahwa rezeki seseorang ini, meski dalam satu keluarga, belum tentu sama. Dalam satu keluarga dapat saja terjadi dimana rezeki / harta adik lebih banyak dari kakaknya, atau sebaliknya. Dia yang rezeki / hartanya lebih banyak adalah sangat wajar jika membantu keluarganya, atau orang lain, yang kurang dan layak dibantu. Bantuan tersebut dalam ajaran agama insya Allah akan dicatat sebagai sedekah, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dalam satu hadis riwayat Bukhari-Muslim yang artinya :
“Apabila seseorang menafkahkan hartanya utnuk keperluan keluarganya hanya dengan mengharapkan pahala, maka hal itu akan tercatat sebagai sedekah baginya.”
Sebaliknya jika seseorang yang mempunyai harta yang lebih tetapi tidak mempeduli kan keluarganya atau orang lain yang membutuhkan, maka dia dianggap telah berdosa, sebagaimana disabdakan Baginda Rasul dalam HR. Abu Dawud dan lainnya yang artinya, “Seseorang itu cukup berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja.”
Kita harus yakin bahwa Allah swt akan mengganti berlipat setiap rezeki yang disedekahkan, dan malaikat pun berdoa untuk dia , “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.”
Anak adalah “titipan” Allah kepada kedua orangtuanya, disamping itu anak juga, menurut Alquran, merupakan cobaan dari Allah swt untuk orangtuanya. Peranan orangtua sangat besar dalam menuju masa depan anaknya. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk mendidiknya sesuai dengan ajaran Islam. Kesalahan dalam mendidik, kekurangperhatian terhadap anak, akan dapat merugikan masa depan si anak itu sendiri, dan merugikan orang tuanya. Sebaliknya, perhatian yang sungguh-sungguh orangtua kepada anaknya, dengan berlandaskan ajaran Islam, menjadikannya sebagai anak yang saleh, akan memberikan kebahagiaan baik untuk si anak maupun untuk kedua orangtuanya. Bukankah doa anak yang saleh terhadap orangtuanya merupakan amal yang akan diterima orangtuanya ketika berada di alam barzah?
“Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka, dan apabila kalian berjanji kepada mereka penuhilah. Sesungguhnya mereka mempunyai pendapat bahwa engkau adalah yang memberi rezeki kepada mereka.”, demikian kita diingatkan dalam satu hadis riwayat Tohawi.
Sejumlah ayat dalam Kitab Suci Alquran mengingatkan kita bahwa musibah terjadi adalah karena ulah manusia. Kita diajarkan untuk berakhlak terpuji kapan pun dan dimanapun kita berada. Kita pun diingatkan juga untuk menjaga diri dari kejahatan setan dari golongan jin dan manusia; dengan selalu meminta perlindungan kepada Allah swt.
Beberapa cara menjaga diri diantaranya adalah: Bergaul sesama manusia dengan budi pekerti yang baik, dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati. (HR.Turmudzi). Cara lain ialah dengan meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw dalam HR. Turmudzi yang artinya :
Termasuk kesempurnaan Islam seseorang yaitu dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya Dengan kian bebasnya arus informasi dan komunikasi saat ini yang tanpa kenal waktu, maka jika ingin selamat hidup di dunia dan di akhirat kelak, kita perlu selalu menjaga diri sendiri dan keluarga dengan berpedomankan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul.
Dalam satu hadis juga diingatkan bahwa mereka yang mampu menjaga dirinya digolongkan kepada orang yang cerdik
Kelembutan yang dimaksudkan di sini adalah bersikap lembut dalam keluarga, bermasyarakat atau dalam pergaulan dengan sesama manusia meski berbeda agama / keyakinan. Kelembutan perlu dilakukan untuk saudara, sahabat, kaum mukmin, dan manusia yang bersikap baik. Bahkan terhadap hewan sekalipun kita diajarkan utnuk bersikap lembut dan kasih sayang.
Adapun kekerasan diperkenankan dalam Islam bila menghadapi para penguasa yang dengan jelas telah berlaku lalim / zalim, juga para penghina atau musuh agama.
Kelembutan adalah kebaikan. Makin banyak sikap kelembutan yang dilakukan, berarti makin banyak kebaikan yang dikerjakan, dan insya Allah akan memperoleh hikmah dari Allah swt.
“Barangsiapa tercegah dari kelembutan, maka dia telah tercegah dari seluruh kebaikan.”, dan , “Barangsiapa diberikan bagian dari kelembutan maka dia telah diberikan bagian dari kebaikan dunia dan akhirat.”, demikian sabda Rasulullah saw.
Malu adalah perasaan tidak enak hati ketika melakukan perbuatan, mengucap-kan perkataan yang melanggar norma-norma dalam masyarakat dan ajaran agama. Orang yang memiliki sifat malu berarti dia memahami bagaimana dia harus berbuat atau berkata yang tidak melanggar ajaran agama dan adat atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. “Malu itu termasuk bagian dari keimanan”, demikian sabda Rasulullah saw dalam HR. Bukhari.
Kita diajarkan untuk tidak hanya malu kepada manusia, tetapi juga tentunya malu yang paling bermanfaat, yaitu malu kepada Allah. Siapa yang malu kepada Allah, maka pengaruh nama Allah akan menguasai hatinya sehingga dia akan enggan melakukan dosa sekecil apapun, dan resah dengan dosa yang telah diperbuatnya. Dia pun akan selalu memohon ampunan, berzikir, dan bertobat.
Makanan dan minuman yang baik dan halal adalah rezeki yang diberikan Allah kepada kita, dan karenanya patut disyukuri apapun makanan adan minuman yang baik dan halal itu. Dengan mensyukurinya insya Allah rezeki kita akan ditambah-Nya, sebagaimana yang dijanjikan dalam satu firman-Nya.
Selanjutnya kita diajarkan untuk makan secara berjamaah atau bersama-sama. Diriwayatkan dari Abu Daud bahwa Wahsyi bin Harb berkata: “Sahabat Rasulullah saw mengadu, “Ya Rasulullah, kami makan dan merasa tidak kenyang.”
Jawab Nabi, “Mungkin kamu makan sendiri-sendiri.”
Jawab mereka, “Benar”. Bersabda Nabi saw, “Berkumpullah pada makananmu, dan bacalah bismillah, niscaya diberi berkat pada makanan itu.”
Dalam era kebebasan ini, disadari atau pun tidak, disengaja maupun tidak, sebagian orang terjebak melakukan kekejian dan perbuatan keji. Menghujat, merusak, memfitnah, menipu, mencuri, korupsi, merusak lingkungan, membunuh, adalah beberapa diantara kekejian dan perbuatan keji tersebut.
Islam tidak mengajarkan umatnya berperilaku keji, tetapi Islam justru mengajarkan kemulian akhlak.
Dalam satu hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Kekejian dan perbuatan keeji, sama sekali bukan dari ajaran Islam. Sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya.”
Sebagaimana diketahui bersama bahwa rezeki seseorang ini, meski dalam satu keluarga, belum tentu sama. Dalam satu keluarga dapat saja terjadi dimana rezeki / harta adik lebih banyak dari kakaknya, atau sebaliknya. Dia yang rezeki / hartanya lebih banyak adalah sangat wajar jika membantu keluarganya, atau orang lain, yang kurang dan layak dibantu. Bantuan tersebut dalam ajaran agama insya Allah akan dicatat sebagai sedekah, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dalam satu hadis riwayat Bukhari-Muslim yang artinya :
“Apabila seseorang menafkahkan hartanya utnuk keperluan keluarganya hanya dengan mengharapkan pahala, maka hal itu akan tercatat sebagai sedekah baginya.”
Sebaliknya jika seseorang yang mempunyai harta yang lebih tetapi tidak mempeduli kan keluarganya atau orang lain yang membutuhkan, maka dia dianggap telah berdosa, sebagaimana disabdakan Baginda Rasul dalam HR. Abu Dawud dan lainnya yang artinya, “Seseorang itu cukup berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja.”
Kita harus yakin bahwa Allah swt akan mengganti berlipat setiap rezeki yang disedekahkan, dan malaikat pun berdoa untuk dia , “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.”
Anak adalah “titipan” Allah kepada kedua orangtuanya, disamping itu anak juga, menurut Alquran, merupakan cobaan dari Allah swt untuk orangtuanya. Peranan orangtua sangat besar dalam menuju masa depan anaknya. Oleh karena itu kita diwajibkan untuk mendidiknya sesuai dengan ajaran Islam. Kesalahan dalam mendidik, kekurangperhatian terhadap anak, akan dapat merugikan masa depan si anak itu sendiri, dan merugikan orang tuanya. Sebaliknya, perhatian yang sungguh-sungguh orangtua kepada anaknya, dengan berlandaskan ajaran Islam, menjadikannya sebagai anak yang saleh, akan memberikan kebahagiaan baik untuk si anak maupun untuk kedua orangtuanya. Bukankah doa anak yang saleh terhadap orangtuanya merupakan amal yang akan diterima orangtuanya ketika berada di alam barzah?
“Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka, dan apabila kalian berjanji kepada mereka penuhilah. Sesungguhnya mereka mempunyai pendapat bahwa engkau adalah yang memberi rezeki kepada mereka.”, demikian kita diingatkan dalam satu hadis riwayat Tohawi.
Sejumlah ayat dalam Kitab Suci Alquran mengingatkan kita bahwa musibah terjadi adalah karena ulah manusia. Kita diajarkan untuk berakhlak terpuji kapan pun dan dimanapun kita berada. Kita pun diingatkan juga untuk menjaga diri dari kejahatan setan dari golongan jin dan manusia; dengan selalu meminta perlindungan kepada Allah swt.
Beberapa cara menjaga diri diantaranya adalah: Bergaul sesama manusia dengan budi pekerti yang baik, dan beramal untuk bekal nanti sesudah mati. (HR.Turmudzi). Cara lain ialah dengan meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw dalam HR. Turmudzi yang artinya :
Termasuk kesempurnaan Islam seseorang yaitu dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya Dengan kian bebasnya arus informasi dan komunikasi saat ini yang tanpa kenal waktu, maka jika ingin selamat hidup di dunia dan di akhirat kelak, kita perlu selalu menjaga diri sendiri dan keluarga dengan berpedomankan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul.
Dalam satu hadis juga diingatkan bahwa mereka yang mampu menjaga dirinya digolongkan kepada orang yang cerdik
Kelembutan yang dimaksudkan di sini adalah bersikap lembut dalam keluarga, bermasyarakat atau dalam pergaulan dengan sesama manusia meski berbeda agama / keyakinan. Kelembutan perlu dilakukan untuk saudara, sahabat, kaum mukmin, dan manusia yang bersikap baik. Bahkan terhadap hewan sekalipun kita diajarkan utnuk bersikap lembut dan kasih sayang.
Adapun kekerasan diperkenankan dalam Islam bila menghadapi para penguasa yang dengan jelas telah berlaku lalim / zalim, juga para penghina atau musuh agama.
Kelembutan adalah kebaikan. Makin banyak sikap kelembutan yang dilakukan, berarti makin banyak kebaikan yang dikerjakan, dan insya Allah akan memperoleh hikmah dari Allah swt.
“Barangsiapa tercegah dari kelembutan, maka dia telah tercegah dari seluruh kebaikan.”, dan , “Barangsiapa diberikan bagian dari kelembutan maka dia telah diberikan bagian dari kebaikan dunia dan akhirat.”, demikian sabda Rasulullah saw.
Malu adalah perasaan tidak enak hati ketika melakukan perbuatan, mengucap-kan perkataan yang melanggar norma-norma dalam masyarakat dan ajaran agama. Orang yang memiliki sifat malu berarti dia memahami bagaimana dia harus berbuat atau berkata yang tidak melanggar ajaran agama dan adat atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. “Malu itu termasuk bagian dari keimanan”, demikian sabda Rasulullah saw dalam HR. Bukhari.
Kita diajarkan untuk tidak hanya malu kepada manusia, tetapi juga tentunya malu yang paling bermanfaat, yaitu malu kepada Allah. Siapa yang malu kepada Allah, maka pengaruh nama Allah akan menguasai hatinya sehingga dia akan enggan melakukan dosa sekecil apapun, dan resah dengan dosa yang telah diperbuatnya. Dia pun akan selalu memohon ampunan, berzikir, dan bertobat.
Makanan dan minuman yang baik dan halal adalah rezeki yang diberikan Allah kepada kita, dan karenanya patut disyukuri apapun makanan adan minuman yang baik dan halal itu. Dengan mensyukurinya insya Allah rezeki kita akan ditambah-Nya, sebagaimana yang dijanjikan dalam satu firman-Nya.
Selanjutnya kita diajarkan untuk makan secara berjamaah atau bersama-sama. Diriwayatkan dari Abu Daud bahwa Wahsyi bin Harb berkata: “Sahabat Rasulullah saw mengadu, “Ya Rasulullah, kami makan dan merasa tidak kenyang.”
Jawab Nabi, “Mungkin kamu makan sendiri-sendiri.”
Jawab mereka, “Benar”. Bersabda Nabi saw, “Berkumpullah pada makananmu, dan bacalah bismillah, niscaya diberi berkat pada makanan itu.”
Dalam era kebebasan ini, disadari atau pun tidak, disengaja maupun tidak, sebagian orang terjebak melakukan kekejian dan perbuatan keji. Menghujat, merusak, memfitnah, menipu, mencuri, korupsi, merusak lingkungan, membunuh, adalah beberapa diantara kekejian dan perbuatan keji tersebut.
Islam tidak mengajarkan umatnya berperilaku keji, tetapi Islam justru mengajarkan kemulian akhlak.
Dalam satu hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Kekejian dan perbuatan keeji, sama sekali bukan dari ajaran Islam. Sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya.”
HUKUM DAN ETIKA MALAM PERTAMA
[Pertama]
Dianjurkan kepada sang suami bersikap lemah lembut pada malam pertama dengan mengajak bicara sehingga terjadi keakraban atau menyuguhkan segelas minuman sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
[Kedua]
Dianjurkan untuk meletakkan tangan kanan di atas ubun ubun sang istri kemudian membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
"Bismillah Allahumma bariklii fii zaujatii .." (lengkapnya bacalah buku tersebut)
[Ketiga]
Dianjurkan kepada sang suami shalat dua raka'at bersama istrinya dan sang istri berada di belakangnya. Sebab demikian itu lebih melanggengkan kasih sayang.
[Keempat]
Jika ingin melakukan hubungan sebadan hendaknya berdoa:
"Bismillah, allahumma jannibnasy syaithaan wa jannibisy syaithaan maa razaqtanaa"
[Kelima]
Tidak boleh sang suami menggauli istri kecuali di tempat jalan lahirnya bayi dan boleh melakukan cumbu rayu sesuka hati namun tidak boleh menggaulinya ketika masa haid atau nifas.
[Keenam]
Apabila sang suami memiliki lebih dari satu istri maka pada pagi hari dari malam pertama hendaknya sang suami mendatangi istri istri lain dengan tujuan saling mendoakan.
[Ketujuh]
Diharamkan bagi kedua mempelai menyebarkan rahasia hubungan seksual karena hal itu termasuk dosa besar.
[HAK HAK SUAMI DAN ISTRI]
Diantara hak hak yang harus ditegakkan bersama sama sebagai berikut:
[Pertama]
Kerja sama dalam rangka menegakkan ketaatan kepada Allah, satu dengan yang lain saling mengingatkan kepada nilai ketakwaan. Diantara contoh yang paling indah adalah kerjasama antara suami dengan istri dalam menghidupkan qiyamul lail sebagaimana sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam (yang artinya) :
"Semoga Allah merahmati seorang laki laki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan istrinya untuk shalat dan bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan suaminya untuk shalat, bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya." (HR. Ahmad, Ahlul Sunan kecuali At Tirmidzi dan hadits ini shahih).
[Kedua]
Menjalani kehidupan rumah tangga dengan tulus, ikhlas, setia dan penuh kasih sayang.
[Ketiga]
Hendaknya masing masing suami istri merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap tugas dan kewajiban yang ada di pundaknya. Masing masing harus tahu bahwa dia dituntut untuk menunaikan kewajiban secara baik dan sempurna sebagaimana sabda Nabi (yang artinya)
"Setiap kalian adalah pemimpiin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan imam adalah pemimpin, dan orang laki laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan wanita adalah penanggungjawab atas rumah suami dan anaknya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Al Bukhari)
[Keempat]
Antara suami dan istri harus kerjasama secara baik dalam rangka mewujudkan suasana tenang dan gembira serta berusaha semaksimal mungkin menjauhkan perkara perkara yang mendatangkan keburukan dan kesedihan. Betapa indahnya ucapan Abu Darda' ketika berkata kepada istrinya :
"Jika kamu sedang melihatku dalam keadaan marah maka carilah sesuatu yang bisa menyenangkanku dan jika aku melihatmu sedang marah maka aku akan mencari sesuatu yang bisa menyenangkanmu, dan bila tidak seperti itu maka kita tidak usah berkumpul saja".
[Kelima]
Tidak menyebarkan rahasia masing masing dan tidak menyebut nyebut keburukan pasangannya di depan orang lain karena demikian itu melecehkan harga diri pasangannya di depan orang lain. Ketika itu ia telah melakukan ghibah yang dibenci lagi berdosa.
[Keenam]
Hendaknya masing masing memperhatikan gaya dan penampilan, istri berdandan yang bagus untuk suami dan suami juga berdandan yang bagus untuk sang istri. Ibnu Abbas berkata :
"Saya sangat senang berdandan untuk istriku sebagaimana saya senang bila ia berdandan untukku, karena Allah berfirman :'Dan bagi istri istri hak yang sepadan dengan kewajiban kewajibannya dengan baik'."
Dianjurkan kepada sang suami bersikap lemah lembut pada malam pertama dengan mengajak bicara sehingga terjadi keakraban atau menyuguhkan segelas minuman sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
[Kedua]
Dianjurkan untuk meletakkan tangan kanan di atas ubun ubun sang istri kemudian membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
"Bismillah Allahumma bariklii fii zaujatii .." (lengkapnya bacalah buku tersebut)
[Ketiga]
Dianjurkan kepada sang suami shalat dua raka'at bersama istrinya dan sang istri berada di belakangnya. Sebab demikian itu lebih melanggengkan kasih sayang.
[Keempat]
Jika ingin melakukan hubungan sebadan hendaknya berdoa:
"Bismillah, allahumma jannibnasy syaithaan wa jannibisy syaithaan maa razaqtanaa"
[Kelima]
Tidak boleh sang suami menggauli istri kecuali di tempat jalan lahirnya bayi dan boleh melakukan cumbu rayu sesuka hati namun tidak boleh menggaulinya ketika masa haid atau nifas.
[Keenam]
Apabila sang suami memiliki lebih dari satu istri maka pada pagi hari dari malam pertama hendaknya sang suami mendatangi istri istri lain dengan tujuan saling mendoakan.
[Ketujuh]
Diharamkan bagi kedua mempelai menyebarkan rahasia hubungan seksual karena hal itu termasuk dosa besar.
[HAK HAK SUAMI DAN ISTRI]
Diantara hak hak yang harus ditegakkan bersama sama sebagai berikut:
[Pertama]
Kerja sama dalam rangka menegakkan ketaatan kepada Allah, satu dengan yang lain saling mengingatkan kepada nilai ketakwaan. Diantara contoh yang paling indah adalah kerjasama antara suami dengan istri dalam menghidupkan qiyamul lail sebagaimana sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam (yang artinya) :
"Semoga Allah merahmati seorang laki laki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan istrinya untuk shalat dan bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan suaminya untuk shalat, bila tidak mau bangun maka ia memerciki dengan air di wajahnya." (HR. Ahmad, Ahlul Sunan kecuali At Tirmidzi dan hadits ini shahih).
[Kedua]
Menjalani kehidupan rumah tangga dengan tulus, ikhlas, setia dan penuh kasih sayang.
[Ketiga]
Hendaknya masing masing suami istri merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap tugas dan kewajiban yang ada di pundaknya. Masing masing harus tahu bahwa dia dituntut untuk menunaikan kewajiban secara baik dan sempurna sebagaimana sabda Nabi (yang artinya)
"Setiap kalian adalah pemimpiin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan imam adalah pemimpin, dan orang laki laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan wanita adalah penanggungjawab atas rumah suami dan anaknya. Dan setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Al Bukhari)
[Keempat]
Antara suami dan istri harus kerjasama secara baik dalam rangka mewujudkan suasana tenang dan gembira serta berusaha semaksimal mungkin menjauhkan perkara perkara yang mendatangkan keburukan dan kesedihan. Betapa indahnya ucapan Abu Darda' ketika berkata kepada istrinya :
"Jika kamu sedang melihatku dalam keadaan marah maka carilah sesuatu yang bisa menyenangkanku dan jika aku melihatmu sedang marah maka aku akan mencari sesuatu yang bisa menyenangkanmu, dan bila tidak seperti itu maka kita tidak usah berkumpul saja".
[Kelima]
Tidak menyebarkan rahasia masing masing dan tidak menyebut nyebut keburukan pasangannya di depan orang lain karena demikian itu melecehkan harga diri pasangannya di depan orang lain. Ketika itu ia telah melakukan ghibah yang dibenci lagi berdosa.
[Keenam]
Hendaknya masing masing memperhatikan gaya dan penampilan, istri berdandan yang bagus untuk suami dan suami juga berdandan yang bagus untuk sang istri. Ibnu Abbas berkata :
"Saya sangat senang berdandan untuk istriku sebagaimana saya senang bila ia berdandan untukku, karena Allah berfirman :'Dan bagi istri istri hak yang sepadan dengan kewajiban kewajibannya dengan baik'."
MENJAGA WAKTU
Oleh : Akhmad Asikin Musthofa,S.Ag
Kita melewati waktu yang mempunyai ruas-ruas. Ada batas pemisah setiap ruas waktu yang membedakan antara satu waktu dengan waktu lain yang berikutnya. Coba perhatikan, waktu fajar adalah pemisah antara malam dan siang. Maghrib adalah pemisah antara siang dan malam. Hari Jum’at adalah hari yang membatasi satu pekan dengan pekan berikutnya. Kemunculan hilal atau penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah ijtima’, adalah rentang pemisah antara satu bulan dengan bulan berikutnya. Muharam adalah batas yang memisahkan satu tahun dengan tahun berikutnya. Apa sebenarnya rahasia di balik batas-batas pemisah antara ruas waktu itu?
Saudaraku,
Perhatikanlah, ternyata banyak sekali hadist Rasululah SAW yang menyebut waktu-waktu pemisah itu. Ada sejumlah dzikir yang diajarkan Rasulullah, untuk kita baca di waktu fajar, saat pemisahan waktu malam dan siang itu. Ada banyak dzikir juga yang disebutkan oleh Rasulullah SAW pada waktu menjelang maghrib, pemisah siang dan malam. Bagi mereka yang mengetahui keutamaan hari Jum’at, biasanya akan menyambut kedatangan hari itu sejak hari Kamis sorenya. Kemudian di pagi hari Jum’at, dia mandi dan memakai wewangian, memotong kuku dan merapihkan rambut. Itulah diantara yang disabdakan Rasul tentang hari Jum’at, “Antara Jum’at dan Jum’at ada pengampunan dosa diantaranya, selama seseorang tidak melakukan dosa besar,” (Hadist Riwayat Ibnu Majah). Betapa berharganya hari Jum’at.
Tentang pergantian tahun, Rasulullah juga bersabda, “Jika engkau melihat hilal bulan Muharam, maka bersiaplah,” (Hadist riwayat Turmuzi). Rasulullah SAW bahkan jika melihat hilal tanda awal bulan mengatakan, “Hilal adalah kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada yang menciptakanmu”. Kalimat itu diucapkannya sebanyak 3 kali (Hadist riwayat Abu Daud). Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari keutamaan pemisah-pemisah waktu seperti itu.
Saudaraku,
Mari isi pemisah-pemisah waktu itu untuk melakukan refleksi dengan mengingat amal-amal, meminta ampunan Allah, memohon perlindungan kepada Allah, dan memperbarui iman untuk menyongsong masa selanjutnya. Mempersiapkan datangnya malam dan memohon perlindungan pada Allah dari bahaya kengerian malam, bahaya syaitan malam yang selalu mengganggu manusia, menghancurkan jiwa dengan berbagai bentuk. Kemudian, jika datang subuh, cahaya mulai terlihat, itulah saat kita kembali mengulangi dzikir, mengevaluasi dan memohon ampun kepada Allah. Itulah saatnya kita untuk kembali berdzikir dan beristighfar. Mempersiapkan diri menghadapi waktu siang. Begitu seterusnya.
Saudaraku,
Tugas malaikat Allah juga ada yang terkait dengan perpindahan antar ruas waktu itu. Seperti disebutkan dalam hadist, sebagian malaikat melakukan pergantian tugas pada waktu sholat shubuh dan waktu sholat Ashar. Maka dalam hadistnya, beliau bersabda, “Barang siapa yang memelihara sholat shubuh dan Ashar, ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan sholat shubuh dan Ashar, menurut Imam Nawawi adalah karena kekhususan waktu itu dengan persaksian 2 sholat itu oleh Malaikat malam dan siang. Dan juga karena memang kedua sholat itu berat dilakukan. Saat itulah waktu sibuk dan penat. Dan barang siapa yang memeliharanya, maka ia pasti dapat memelihara lebih baik lagi dalam sholat yang lain. “Bergantian atas kalian malaikat malam dan siang. Mereka berkumpul pada waktu sholat subuh dan Ashar. Kemudian mereka naik ke langit dan Rabb mereka bertanya – Allah Maha mengetahui atas hamba-hambanya, “Bagaimana engkau tinggalkan hamba-hambaKU?”. Mereka mengatakan, “Kami tinggalkan mereka sedang sholat dan kami datangi mereka sedang sholat”.
Betapa bahagianya orang-orang yang sungguh-sungguh memelihara sholat, mengorbankan kelelahan dan kenikmatan istirahat untuk menggapai ridho Allah, memperoleh pembebasan dari kemunafikan, dan agar menjadi salah seorang yang diberi berita gembira untuk masuk surga oleh Rasulullah SAW.
Itulah sebabnya, disebutkan dalam hadits, sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya dan Sholat Subuh. “Jika mereka mengetahui apa yang ada pada kedua sholat itu, niscaya mereka akan melakukan sholat itu meski harus dengan merangkak.” (Muttafaq alaih).
Adalah para sahabat menjadikan kehadiran seseorang saat sholat subuh di masjid sebagai timbangan penilaian. Orang yang hadir saat subuh di masjid, akan mereka percayai, dan orang yang tidak hadir di waktu itu tidak di percaya. Inilah Ibnu Umar RA yang mengatakan, “Kami jika kehilangan seseorang pada sholat subuh dan Isya di masjid, kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”
Ibnu Quddamah RA, menasihati kita untuk selalu menghargai waktu. “Ketahuilah, waktu hidupmu terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desah nafas akan mengurangi bagian dari dunia. Setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya, “. Demikian ucap Ibnu Quddamah. Dia melanjutkan bahwa satu desah nafas bila digunakan untuk kebaikan, bisa berharga ribuan tahun dalam kenikmatan. Tapi sebaliknya, satu desah nafas bisa menciptakan kesengsaraan ribuan tahun. “Jika engkau memiliki mutiara dunia, engkau pasti sangat terpukul saat mutiara itu hilang. Bagaimana engkau bisa menghilangkan mutiara akhirat dan kebahagiaanmu dengan menyia-nyiakan jam demi jam dan waktu- waktumu? Bagaimana engkau bisa bersedih bila kehilangan usiamu tanpa ada yang bisa menggantikannya?”.
Saudaraku,
Mari waspadai waktu saudaraku, seorang ahli hikmah mengatakan, bahwa menyia-nyiakan waktu itu lebih berbahaya ketimbang kematian. “Kematian hanya memisahkan kamu dari dunia dan penghuninya. Tapi menyia-nyiakan waktu akan memisahkanmu dari Allah dan akhirat…
Kita melewati waktu yang mempunyai ruas-ruas. Ada batas pemisah setiap ruas waktu yang membedakan antara satu waktu dengan waktu lain yang berikutnya. Coba perhatikan, waktu fajar adalah pemisah antara malam dan siang. Maghrib adalah pemisah antara siang dan malam. Hari Jum’at adalah hari yang membatasi satu pekan dengan pekan berikutnya. Kemunculan hilal atau penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah ijtima’, adalah rentang pemisah antara satu bulan dengan bulan berikutnya. Muharam adalah batas yang memisahkan satu tahun dengan tahun berikutnya. Apa sebenarnya rahasia di balik batas-batas pemisah antara ruas waktu itu?
Saudaraku,
Perhatikanlah, ternyata banyak sekali hadist Rasululah SAW yang menyebut waktu-waktu pemisah itu. Ada sejumlah dzikir yang diajarkan Rasulullah, untuk kita baca di waktu fajar, saat pemisahan waktu malam dan siang itu. Ada banyak dzikir juga yang disebutkan oleh Rasulullah SAW pada waktu menjelang maghrib, pemisah siang dan malam. Bagi mereka yang mengetahui keutamaan hari Jum’at, biasanya akan menyambut kedatangan hari itu sejak hari Kamis sorenya. Kemudian di pagi hari Jum’at, dia mandi dan memakai wewangian, memotong kuku dan merapihkan rambut. Itulah diantara yang disabdakan Rasul tentang hari Jum’at, “Antara Jum’at dan Jum’at ada pengampunan dosa diantaranya, selama seseorang tidak melakukan dosa besar,” (Hadist Riwayat Ibnu Majah). Betapa berharganya hari Jum’at.
Tentang pergantian tahun, Rasulullah juga bersabda, “Jika engkau melihat hilal bulan Muharam, maka bersiaplah,” (Hadist riwayat Turmuzi). Rasulullah SAW bahkan jika melihat hilal tanda awal bulan mengatakan, “Hilal adalah kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada yang menciptakanmu”. Kalimat itu diucapkannya sebanyak 3 kali (Hadist riwayat Abu Daud). Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari keutamaan pemisah-pemisah waktu seperti itu.
Saudaraku,
Mari isi pemisah-pemisah waktu itu untuk melakukan refleksi dengan mengingat amal-amal, meminta ampunan Allah, memohon perlindungan kepada Allah, dan memperbarui iman untuk menyongsong masa selanjutnya. Mempersiapkan datangnya malam dan memohon perlindungan pada Allah dari bahaya kengerian malam, bahaya syaitan malam yang selalu mengganggu manusia, menghancurkan jiwa dengan berbagai bentuk. Kemudian, jika datang subuh, cahaya mulai terlihat, itulah saat kita kembali mengulangi dzikir, mengevaluasi dan memohon ampun kepada Allah. Itulah saatnya kita untuk kembali berdzikir dan beristighfar. Mempersiapkan diri menghadapi waktu siang. Begitu seterusnya.
Saudaraku,
Tugas malaikat Allah juga ada yang terkait dengan perpindahan antar ruas waktu itu. Seperti disebutkan dalam hadist, sebagian malaikat melakukan pergantian tugas pada waktu sholat shubuh dan waktu sholat Ashar. Maka dalam hadistnya, beliau bersabda, “Barang siapa yang memelihara sholat shubuh dan Ashar, ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan sholat shubuh dan Ashar, menurut Imam Nawawi adalah karena kekhususan waktu itu dengan persaksian 2 sholat itu oleh Malaikat malam dan siang. Dan juga karena memang kedua sholat itu berat dilakukan. Saat itulah waktu sibuk dan penat. Dan barang siapa yang memeliharanya, maka ia pasti dapat memelihara lebih baik lagi dalam sholat yang lain. “Bergantian atas kalian malaikat malam dan siang. Mereka berkumpul pada waktu sholat subuh dan Ashar. Kemudian mereka naik ke langit dan Rabb mereka bertanya – Allah Maha mengetahui atas hamba-hambanya, “Bagaimana engkau tinggalkan hamba-hambaKU?”. Mereka mengatakan, “Kami tinggalkan mereka sedang sholat dan kami datangi mereka sedang sholat”.
Betapa bahagianya orang-orang yang sungguh-sungguh memelihara sholat, mengorbankan kelelahan dan kenikmatan istirahat untuk menggapai ridho Allah, memperoleh pembebasan dari kemunafikan, dan agar menjadi salah seorang yang diberi berita gembira untuk masuk surga oleh Rasulullah SAW.
Itulah sebabnya, disebutkan dalam hadits, sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya dan Sholat Subuh. “Jika mereka mengetahui apa yang ada pada kedua sholat itu, niscaya mereka akan melakukan sholat itu meski harus dengan merangkak.” (Muttafaq alaih).
Adalah para sahabat menjadikan kehadiran seseorang saat sholat subuh di masjid sebagai timbangan penilaian. Orang yang hadir saat subuh di masjid, akan mereka percayai, dan orang yang tidak hadir di waktu itu tidak di percaya. Inilah Ibnu Umar RA yang mengatakan, “Kami jika kehilangan seseorang pada sholat subuh dan Isya di masjid, kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”
Ibnu Quddamah RA, menasihati kita untuk selalu menghargai waktu. “Ketahuilah, waktu hidupmu terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desah nafas akan mengurangi bagian dari dunia. Setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya, “. Demikian ucap Ibnu Quddamah. Dia melanjutkan bahwa satu desah nafas bila digunakan untuk kebaikan, bisa berharga ribuan tahun dalam kenikmatan. Tapi sebaliknya, satu desah nafas bisa menciptakan kesengsaraan ribuan tahun. “Jika engkau memiliki mutiara dunia, engkau pasti sangat terpukul saat mutiara itu hilang. Bagaimana engkau bisa menghilangkan mutiara akhirat dan kebahagiaanmu dengan menyia-nyiakan jam demi jam dan waktu- waktumu? Bagaimana engkau bisa bersedih bila kehilangan usiamu tanpa ada yang bisa menggantikannya?”.
Saudaraku,
Mari waspadai waktu saudaraku, seorang ahli hikmah mengatakan, bahwa menyia-nyiakan waktu itu lebih berbahaya ketimbang kematian. “Kematian hanya memisahkan kamu dari dunia dan penghuninya. Tapi menyia-nyiakan waktu akan memisahkanmu dari Allah dan akhirat…
MENJADI MUSLIM IDEAL BISAKAH ?
Oleh : Akhmad Asikin,S.Ag
Inna ad-dina ‘inda Allahi al-Islam”. Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.. (Q.S. 3:19). “Wa man yabtaghi ghairal islami diinan, fa lan yuqbala minhu, wa hua fil-akhirati minal-khasirin”. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi (Q.S. 3:85). Karenanya, “… udkhulu fis silmi kaaffah, wa laa tattabi’u khuthuwaatisy syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubiin”. Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya (secara total) dan janganlah kamu turut langkah-langkah (mengikuti) syaitan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu (Q.S. 2:208).
Persoalannya, cukupkah bagi kita untuk menjadi muslim hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ? Kalaulah syahadat itu adalah kunci surga, cukupkah bagi kita hanya memiliki kuncinya saja, tanpa keinginan untuk mempergunakannya, membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam surga yang telah ada di hadapan kita ?
Jika kita mencari jawabnya pada al-Qur’an surat al-An’am (6) ayat ke-79, “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathara as-samawati wal ardl hanifan, wa maa ana minal musyrikiin”. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku pada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Maka, syahadat telah menempatkan kita pada derajat kemusliman.
Hanya saja, karena kemusliman itu menuntut seseorang untuk membahasakan syahadat dalam bentuk pengabdian dan kepasrahan kepada Allah. “Qul, inna shalatii wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillahi rabbil ‘alamin”. Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Q.S. 6:162). Maka, untuk menjadi muslim, seseorang dituntut untuk selalu mendekatkan dan menggaransikan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga telah menjelaskan bahwa Islam itu, memiliki lima pilar utama, yakni : (i) syahadat, (ii) shalat, (iii) zakat, (iv) puasa ramadlan dan (v) haji. Karenanya, jika kita barulah bersyahadat saja. Kita barulah memenuhi satu unsur kemusliman. Masih ada empat unsur lagi yang harus kita penuhi untuk menjadi muslim yang standard. Selamat bagi saudara-saudara kita yang telah dan akan menunaikan ibadah haji ke baitullah guna memenuhi unsur kemusliman standard yang kelima.
Persoalan selanjutnya adalah, jika kita telah menjadi muslim yang standard. Apakah dengan sendirinya kita telah menjadi muslim yang baik ? Apakah kita telah dengan sendirinya menjadi muslim yang utama ?
Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “ayyul Islam khairun ?”. Islam yang baik itu bagaimana ? Rasullah menjawab: “an tuth’imuth tha’am wa taqra’as salam ‘ala man ‘arafta wa man lam ta’rif”. Engkau memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang engkau jumpai, baik yang telah maupun yang belum engkau kenal. Ketika salah seorang sahabat yang lain bertanya Rasulullah : “Ayyul Islam afdlal ?” Islam yang utama itu bagaimana ? Rasulullah menjawab : “Man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi”. Yaitu, orang-orang yang menjaga keselamatan orang-orang Islam dari perkataan dan perbuatannya.
Dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah di atas, nampak jelas bagi kita bahwa, menjadi muslim itu tidak cukup hanya dengan pembenaran kita terhadap kebenaran ajaran-ajaran agama Islam. Untuk menjadi muslim yang standard, di samping pengakuan kita terhadap ajaran agama Islam (syahadat), kita harus pula mewujudkan keyakinan kita tersebut dengan amal ibadah, menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah. Kalaulah kita telah menjadi bagian dari umat Islam yang standard, tentunya kita boleh berbangga sebagai bagian dari kelompok orang-orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Hanya saja, kemusliman standarf kita, ternyata tidak serta merta menjadikan kita sebagai muslim pilihan, muslim yang utama. Untuk mencapai derajat tersebut kita harus mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain, senantiasa ramah, tidak menjaga jarak dari dan dengan orang lain, serta menjaga dan memberi ketentraman bagi orang lain. Untuk mencapai derajat tersebut kita harus mampu membangun komunikasi yang intensif dan harmonis, baik dengan Allah (hablun min Allah) maupun dengan umat manusia (hablun min an-nas) dan alam semesta.
Bagaimana dengan kita, yang masih belum memenuhi kualifikasi muslim yang standard, karena belum menunaikan ibadah haji. Apakah kita juga bisa menjadi muslim pilihan, muslim yang utama ? Kalaulah kita belum menunaikan ibadah haji karena keterbatasan-keterbatasan yang ada pada diri kita, tentunya kita telah menjadi muslim yang standard, meskipun kita belum menunaikan rukun yang kelima. Karenanya kita pun harus dan mampu menjadi muslim pilihan, muslim yang utama pada kualitas tertinggi. Kalaulah kita belum menunaikan ibadah haji, bukan karena faktor keterbatasan yang ada pada diri kita, segeralah tunaikan rukun yang kelima tersebut, kemudian jadilah muslim yang utama. Mari kita pacu semangat kita untuk terus berproses menjadi ‘the best muslim’. Bi ‘aunillah. Wallahu A’lam bish-shawab.
Inna ad-dina ‘inda Allahi al-Islam”. Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.. (Q.S. 3:19). “Wa man yabtaghi ghairal islami diinan, fa lan yuqbala minhu, wa hua fil-akhirati minal-khasirin”. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi (Q.S. 3:85). Karenanya, “… udkhulu fis silmi kaaffah, wa laa tattabi’u khuthuwaatisy syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubiin”. Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya (secara total) dan janganlah kamu turut langkah-langkah (mengikuti) syaitan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu (Q.S. 2:208).
Persoalannya, cukupkah bagi kita untuk menjadi muslim hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat ? Kalaulah syahadat itu adalah kunci surga, cukupkah bagi kita hanya memiliki kuncinya saja, tanpa keinginan untuk mempergunakannya, membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam surga yang telah ada di hadapan kita ?
Jika kita mencari jawabnya pada al-Qur’an surat al-An’am (6) ayat ke-79, “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathara as-samawati wal ardl hanifan, wa maa ana minal musyrikiin”. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku pada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Maka, syahadat telah menempatkan kita pada derajat kemusliman.
Hanya saja, karena kemusliman itu menuntut seseorang untuk membahasakan syahadat dalam bentuk pengabdian dan kepasrahan kepada Allah. “Qul, inna shalatii wa nusukii wa mahyaayaa wa mamaatii lillahi rabbil ‘alamin”. Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Q.S. 6:162). Maka, untuk menjadi muslim, seseorang dituntut untuk selalu mendekatkan dan menggaransikan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga telah menjelaskan bahwa Islam itu, memiliki lima pilar utama, yakni : (i) syahadat, (ii) shalat, (iii) zakat, (iv) puasa ramadlan dan (v) haji. Karenanya, jika kita barulah bersyahadat saja. Kita barulah memenuhi satu unsur kemusliman. Masih ada empat unsur lagi yang harus kita penuhi untuk menjadi muslim yang standard. Selamat bagi saudara-saudara kita yang telah dan akan menunaikan ibadah haji ke baitullah guna memenuhi unsur kemusliman standard yang kelima.
Persoalan selanjutnya adalah, jika kita telah menjadi muslim yang standard. Apakah dengan sendirinya kita telah menjadi muslim yang baik ? Apakah kita telah dengan sendirinya menjadi muslim yang utama ?
Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “ayyul Islam khairun ?”. Islam yang baik itu bagaimana ? Rasullah menjawab: “an tuth’imuth tha’am wa taqra’as salam ‘ala man ‘arafta wa man lam ta’rif”. Engkau memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan dan mengucapkan salam kepada setiap orang yang engkau jumpai, baik yang telah maupun yang belum engkau kenal. Ketika salah seorang sahabat yang lain bertanya Rasulullah : “Ayyul Islam afdlal ?” Islam yang utama itu bagaimana ? Rasulullah menjawab : “Man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi”. Yaitu, orang-orang yang menjaga keselamatan orang-orang Islam dari perkataan dan perbuatannya.
Dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah di atas, nampak jelas bagi kita bahwa, menjadi muslim itu tidak cukup hanya dengan pembenaran kita terhadap kebenaran ajaran-ajaran agama Islam. Untuk menjadi muslim yang standard, di samping pengakuan kita terhadap ajaran agama Islam (syahadat), kita harus pula mewujudkan keyakinan kita tersebut dengan amal ibadah, menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah. Kalaulah kita telah menjadi bagian dari umat Islam yang standard, tentunya kita boleh berbangga sebagai bagian dari kelompok orang-orang yang selamat di dunia dan di akhirat. Hanya saja, kemusliman standarf kita, ternyata tidak serta merta menjadikan kita sebagai muslim pilihan, muslim yang utama. Untuk mencapai derajat tersebut kita harus mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain, senantiasa ramah, tidak menjaga jarak dari dan dengan orang lain, serta menjaga dan memberi ketentraman bagi orang lain. Untuk mencapai derajat tersebut kita harus mampu membangun komunikasi yang intensif dan harmonis, baik dengan Allah (hablun min Allah) maupun dengan umat manusia (hablun min an-nas) dan alam semesta.
Bagaimana dengan kita, yang masih belum memenuhi kualifikasi muslim yang standard, karena belum menunaikan ibadah haji. Apakah kita juga bisa menjadi muslim pilihan, muslim yang utama ? Kalaulah kita belum menunaikan ibadah haji karena keterbatasan-keterbatasan yang ada pada diri kita, tentunya kita telah menjadi muslim yang standard, meskipun kita belum menunaikan rukun yang kelima. Karenanya kita pun harus dan mampu menjadi muslim pilihan, muslim yang utama pada kualitas tertinggi. Kalaulah kita belum menunaikan ibadah haji, bukan karena faktor keterbatasan yang ada pada diri kita, segeralah tunaikan rukun yang kelima tersebut, kemudian jadilah muslim yang utama. Mari kita pacu semangat kita untuk terus berproses menjadi ‘the best muslim’. Bi ‘aunillah. Wallahu A’lam bish-shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)