Panduan Chatting Menurut Islam
Sesungguhnya chatting (ngobrol melalui internet), hukumnya sama dengan ngobrol/berbicara biasa. Allah dan RasulNya sudah memberikan panduan.
Dalam chatting, hendaknya kita menyadari, bahwa segala ucapan/tulisan kita, tetap diawasi oleh Allah SWT dan juga Malaikat Raqib dan Atid. ? Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir.? (QS. Qaaf: 18)
Hendaknya kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik.
Rasulullah saw. menganjurkan mukmin memilih diam daripada sekadar bicara. Dari Abi Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda, ?Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia selalu berkata baik atau hendaklah ia diam.? (HR. Bukhari dan Muslim)
Surah Fushshilat ayat 33. ?Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, ?Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.?
Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).
Janganlah kita mengucapkan kata-kata yang kotor/kasar, sehingga berdosa karenanya.
Rasulullah saw bersabda, ?Ada hamba yang mengucap satu kalimat tanpa ia pikir baik-buruknya kalimat itu, menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka, yang lebih jauh daripada antara timur dan barat.? (HR. Bukhari dan Muslim)
??Dan sesungguhnya ada orang yang mengucapkan satu kalimat yang membuat murka Allah, yang tanpa ia sangka akan sampai sedemikian rupa, kemudian Allah mencatat dalam kemurkaanNya sampai hari ia bertemu denganNya.? (HR. Malik)
Rasululah s.a.w. bersabda; “Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang kamu berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berkata kasar. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya maka hendaklah dia mengatakan. Aku ini puasa.” - Sahih Bukhari
Terkadang chatting/ngobrol membuat kita lupa waktu atau kecanduan. Ada istri yang sampai cerai dari suami karena chatting sampai berjam-jam setiap harinya. Ada pula pekerja yang akhirnya pekerjaannya jadi tidak beres karena kecanduan chatting. Sesuatu yang berlebihan, meski halal, tetap tidak baik.
Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, ?Janganlah kalian banyak bicara selain berdzikir kepada Allah Ta?ala, karena hal itu akan membuat hati menjadi keras. Dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah Ta?ala adalah orang yang berhati keras.? (HR. Turmudzi)
Jika pembicaraan chatting tersebut bukan untuk menuntut ilmu atau untuk memecahkan solusi pekerjaan yang bermanfaat, tapi hanya obrolan tidak berguna, sebaiknya kita tinggalkan hal itu.
Rasulullah menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Sebaiknya dalam chatting, kita meninggalkan perdebatan yang tidak berguna. Rasulullah bersabda:
“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Janganlah kita menggunjing, mengadu domba, atau mengolok-olok seseorang/kelompok ketika chatting.
Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah
berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12).
Allah berfirman yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang
diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).
Chatting antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya ada batasnya. Janganlah seorang pria dan wanita chatting hanya berdua saja. Sebaiknya di temani muhrimnya. Jika hanya berdua saja, maka hilanglah rasa malu, dan bisa
terjerumus ke dalam zina.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya : ?’Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan?.(Hr Tirmizi)
Selain haram mengucapkan kata-kata kotor, juga jangan mendekati zina dengan melontarkan kata-kata rayuan antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya.
FirmanNya, ?Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan yang buruk.? (QS 15:32)
Apa lagi jika chatting itu kemudian dilanjutkan dengan temu darat dan bersentuhan.
Rasul SAW bersabda yang artinya : ?Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya?. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi?qol bin yasaar)
Pada saat chatting dengan webcam dengan pria yang bukan muhrimnya, haruslah wanita tersebut mengenakan jilbab, karena dia bisa terlihat oleh lawan
chattingnya.
Firman Allah yang artinya : ?Katakanlah kepada wanita yang beriman : ?Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung?. (Qs 24 : 31).
Sabda Nabi :Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya… (dan beliau menyebutkan): Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan
kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim).
Ketika kita chatting, bisa jadi kita tidak tahu lawan bicara kita. Bisa saja seorang pria menyamar sebagai wanita atau sebaliknya, atau orang yang jahat berlagak seperti orang bijak. Di AS, ada pria yang membunuh wanita teman chatting-nya setelah melakukan temu darat. Oleh karena itu, kita harus lebih ekstra hati-hati.
Sebaliknya, ada seorang pria Texas yang masuk Islam, karena chatting berdiskusi tentang Islam. Dia bertanya, ketika pemboman WTC terjadi, apakah
ummat Islam yang melakukannya? Itu begitu sadis, karena banyak wanita dan anak-anak yang jadi korban. Ketika dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, melarang ummatnya memerangi ummat yang berdamai/bersahabat dengan ummat Islam, hanya berperang untuk bela diri, dan segera berdamai ketika musuh meminta damai, serta konsep Ketuhanan Islam, akhirnya dia masuk Islam.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Kamis, 27 November 2008
TOGHUT
haghut adalah ilah-ilah palsu, tuhan-tuhan bathil. Bentuk-bentuk thaghut itu bermacam-macam. Diantara thaghut-thaghut itu adalah:
Jin
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6)
Jin adalah makhluq ciptaan Allah yang jasmaninya dibuat dari api. Sebagian manusia meminta bantuan dan perlindungan kepada jin-jin yang mereka anggap dapat memberi perlindungan dan segala permintaan mereka. Jin sering dianggap sebagai penunggu atau pun penguasa suatu tempat. Dia dianggap memiliki kekuatan untuk melindungi atau mendatangkan rizqi. Padahal semestinya hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan dan memohon perlindungan.
Arca, Manusia, dan Dewa
(Yusuf berkata:) Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama (berhala) itu (untuk disembah). Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 39-40)
Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa arca berhala itu merupakan patung dari orang-orang terdahulu yang shalih, atau berpengaruh, atau pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemudian mereka mengangkat orang-orang tersebut sebagai tuhan atau pun dewa. Mereka beranggapan bahwa untuk menyembah Tuhan Pencipta haruslah melalui tuhan putera atau pun manusia titisan Tuhan seperti Yesus, Firaun, Horus, dsb. Padahal segala ibadah itu semestinya ditujukan kepada Allah secara langsung.
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka, (QS. An-Nisa`: 117)
Hawa Nafsu
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. 45:23)
Termasuk dalam golongan penyembah hawa nafsu adalah orang-orang atheis seperti Darwinis, Evolusionis, Buddhis, Komunis, Marxis, dsb.
Benda Alam
Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. Fushshilat:: 37)
Benda alam seperti batu, bintang, matahari, bulan, pohon, gunung, semua itu adalah ciptaan Allah. Walau matahari tampak begitu perkasa, tetapi keperkasaannya berasal dari Yang Mahaperkasa, yaitu Allah SWT. Maka hendaknya kita tidak menyembah benda alam tersebut, akan tetapi sembahlah Allah Yang Menciptakan itu semua.
Anehnya, ada orang-orang yang sudah melek tekhnologi, tetapi masih saja menyembah matahari. Mungkin merupakan tugas bagi saudara-saudara kita di Jepang untuk menyampaikan aqidah Islam kepada orang-orang yang belum terbebaskan dari ajaran-ajaran bathil tersebut.
Jin
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6)
Jin adalah makhluq ciptaan Allah yang jasmaninya dibuat dari api. Sebagian manusia meminta bantuan dan perlindungan kepada jin-jin yang mereka anggap dapat memberi perlindungan dan segala permintaan mereka. Jin sering dianggap sebagai penunggu atau pun penguasa suatu tempat. Dia dianggap memiliki kekuatan untuk melindungi atau mendatangkan rizqi. Padahal semestinya hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan dan memohon perlindungan.
Arca, Manusia, dan Dewa
(Yusuf berkata:) Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama (berhala) itu (untuk disembah). Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 39-40)
Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa arca berhala itu merupakan patung dari orang-orang terdahulu yang shalih, atau berpengaruh, atau pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemudian mereka mengangkat orang-orang tersebut sebagai tuhan atau pun dewa. Mereka beranggapan bahwa untuk menyembah Tuhan Pencipta haruslah melalui tuhan putera atau pun manusia titisan Tuhan seperti Yesus, Firaun, Horus, dsb. Padahal segala ibadah itu semestinya ditujukan kepada Allah secara langsung.
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka, (QS. An-Nisa`: 117)
Hawa Nafsu
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. 45:23)
Termasuk dalam golongan penyembah hawa nafsu adalah orang-orang atheis seperti Darwinis, Evolusionis, Buddhis, Komunis, Marxis, dsb.
Benda Alam
Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. Fushshilat:: 37)
Benda alam seperti batu, bintang, matahari, bulan, pohon, gunung, semua itu adalah ciptaan Allah. Walau matahari tampak begitu perkasa, tetapi keperkasaannya berasal dari Yang Mahaperkasa, yaitu Allah SWT. Maka hendaknya kita tidak menyembah benda alam tersebut, akan tetapi sembahlah Allah Yang Menciptakan itu semua.
Anehnya, ada orang-orang yang sudah melek tekhnologi, tetapi masih saja menyembah matahari. Mungkin merupakan tugas bagi saudara-saudara kita di Jepang untuk menyampaikan aqidah Islam kepada orang-orang yang belum terbebaskan dari ajaran-ajaran bathil tersebut.
MENCINTAI ISALAM
Sudahkah engkau mencintai Islam? Bermacam-macam jawaban bisa engkau berikan. Tapi yang jelas, ketika mencintai sesuatu engkau tentu rela untuk berkorban deminya dan begitulah yang akan terjadi jika engkau benar-benar menerima Islam. Tak cukup kata cinta itu diucapkan oleh bibirmu, tapi juga harus engkau yakini dalam hati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana engkau harus mencintai Islam? Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu meresa berat dan ingin tinggal ditempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (QS. At-Taubah (9): 38)
Wahai Saudaraku, jika engkau mengamati surat at-Taubah di atas, maka engkau akan menemukan bahwa hampir seluruh ayat-ayatnya berisi dorongan agar umat Islam memiliki andil bagi agamanya :
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya... Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat...” (QS. At-Taubah (9): 40-41)
Begitulah ayat-ayat ini mengobarkan semangat umat Muslim untuk berjihad di jalan Allah. Namun saat ini jihad tidak lagi hanya berarti “perang”. Masih ada cara lain untuk berjihad. Salah satunya adalah dengan mengajak orang-orang mengingat Allah SWT lewat jalan dakwah. Gandenglah tangan saudara-saudaranya menuju kebenaran.
Maka, Saudaraku, berangkatlah engkau yang bebannya masih ringan; para mahasiswa di perguruan tinggi. Berangkatlah, selagi tanggungjawabmu masih sedikit. Berangkatlah ke medan dakwah meski di pundakmu ada beban berat mengurus keluarga. Barangkatlah engkau meski di punggungmu terdapat beban hutang dan tanggungan.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.” (QS. At-Taubah (9): 41-42)
Begitulah, wahai Saudaraku, engkau dituntut untuk mengajak orang-orang menuju kebaikan. Mengajak manusia kepada agama yang benar. Dan, tentulah hal ini merupakan sebuah pekerjaan yang sulit. Sebuah amal yang menyisakan beban dihatimu. Di titik ini, bentuk komitmen dan cintamu terhadap Islam di pertanyakan kembali. Cintakah engkau pada Islam.
Bagaimana engkau harus mencintai Islam? Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu meresa berat dan ingin tinggal ditempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (QS. At-Taubah (9): 38)
Wahai Saudaraku, jika engkau mengamati surat at-Taubah di atas, maka engkau akan menemukan bahwa hampir seluruh ayat-ayatnya berisi dorongan agar umat Islam memiliki andil bagi agamanya :
“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya... Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat...” (QS. At-Taubah (9): 40-41)
Begitulah ayat-ayat ini mengobarkan semangat umat Muslim untuk berjihad di jalan Allah. Namun saat ini jihad tidak lagi hanya berarti “perang”. Masih ada cara lain untuk berjihad. Salah satunya adalah dengan mengajak orang-orang mengingat Allah SWT lewat jalan dakwah. Gandenglah tangan saudara-saudaranya menuju kebenaran.
Maka, Saudaraku, berangkatlah engkau yang bebannya masih ringan; para mahasiswa di perguruan tinggi. Berangkatlah, selagi tanggungjawabmu masih sedikit. Berangkatlah ke medan dakwah meski di pundakmu ada beban berat mengurus keluarga. Barangkatlah engkau meski di punggungmu terdapat beban hutang dan tanggungan.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.” (QS. At-Taubah (9): 41-42)
Begitulah, wahai Saudaraku, engkau dituntut untuk mengajak orang-orang menuju kebaikan. Mengajak manusia kepada agama yang benar. Dan, tentulah hal ini merupakan sebuah pekerjaan yang sulit. Sebuah amal yang menyisakan beban dihatimu. Di titik ini, bentuk komitmen dan cintamu terhadap Islam di pertanyakan kembali. Cintakah engkau pada Islam.
Selasa, 28 Oktober 2008
RENUNGANKU
Oleh : Akhmad Asikin Musthofa,S.Ag
Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup di muka bumi ini ? ...pernahkah kita merasa punya arti dan berarti bagi orang lain, merasa dibutuhkan, setidak- tidaknya bagi orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita ?Pernahkah kita sadari, kita bisa bertahan hidup sampai detik ini tak lain karena Cinta, Cinta dari Allah Swt. Kita akan lebih sadar jika jauh dari orangtua. Manakala orang- orang yang kita cintai meninggalkan kita . Manakala kita sunyi tak berteman. Manakala kita merasa hampa dalam kehidupan. Tak satupun yang abadi kecuali Cinta Allah pada kita, hamba- hamba_Nya. Tidakkah kita rindu untuk selalu berada di dekat_Nya ?(Rasulullah Saw, beliau selalu rindu untuk bertemu Allah Swt, mendengar suara Azan yang di "Senandung'kan Bilal. "Shalat, adalah kesenangan hidup)………………………… Aku berdo'a untuk seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku, Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu Seseorang yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
MENCINTAI... BUKANlah bagaimana kamu melupakan.. melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN.. BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan.. melainkan bagaimana kamu MENGERTI.. BUKANlah apa yang kamu lihat.. melainkan apa yang kamu RASAKAN .. BUKANlah bagaimana kamu melepaskan.. melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.. Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati... dibandingkan menangis tersedu2... Air mata yang keluar dapat dihapus.. sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.. Akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia, apabila kita melepaskannya. Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.. jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar2 mencintai MELAINKAN...BERJUANGLAH demi cintamu Itulah CINTA SEJATI Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA b
Interests:
Engkau dibisiki bahawa hidup adalah kegelapan Dan dengan penuh ketakutan Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu penuh kebimbangan Kuwartakan padamu bahawa hidup adalah kegelapan jika tidak diselimuti oleh kehendak Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan Dan segala macam pengetahuan akan kosong bila tidak diiringi kerja Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta Maka bila engkau bekerja dengan cinta Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain Dan wujud Tuhan.
CINTA YANG AGUNG:
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya.. Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Aku turut berbahagia untukmu' Apabila cinta tidak berhasil ...BEBASKAN dirimu... Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI .. Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.. tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati bersamanya. .. Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
persahabatan:
sahabat ada untuk dijaga sahabat pergi bukan untuk ditangisi.
LOVE IN UNSEEN:
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis? ketika kita membayangkan? Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT... Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan.. Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan... Tapi ingatlah. ..melepaskan BUKAN akhir dari dunia.. melainkan awal suatu kehidupan baru.. Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, Mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari... dan mereka yang telah mencoba.. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka...
Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup di muka bumi ini ? ...pernahkah kita merasa punya arti dan berarti bagi orang lain, merasa dibutuhkan, setidak- tidaknya bagi orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita ?Pernahkah kita sadari, kita bisa bertahan hidup sampai detik ini tak lain karena Cinta, Cinta dari Allah Swt. Kita akan lebih sadar jika jauh dari orangtua. Manakala orang- orang yang kita cintai meninggalkan kita . Manakala kita sunyi tak berteman. Manakala kita merasa hampa dalam kehidupan. Tak satupun yang abadi kecuali Cinta Allah pada kita, hamba- hamba_Nya. Tidakkah kita rindu untuk selalu berada di dekat_Nya ?(Rasulullah Saw, beliau selalu rindu untuk bertemu Allah Swt, mendengar suara Azan yang di "Senandung'kan Bilal. "Shalat, adalah kesenangan hidup)………………………… Aku berdo'a untuk seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku, Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu Seseorang yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
MENCINTAI... BUKANlah bagaimana kamu melupakan.. melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN.. BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan.. melainkan bagaimana kamu MENGERTI.. BUKANlah apa yang kamu lihat.. melainkan apa yang kamu RASAKAN .. BUKANlah bagaimana kamu melepaskan.. melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.. Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati... dibandingkan menangis tersedu2... Air mata yang keluar dapat dihapus.. sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.. Akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia, apabila kita melepaskannya. Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.. jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar2 mencintai MELAINKAN...BERJUANGLAH demi cintamu Itulah CINTA SEJATI Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA b
Interests:
Engkau dibisiki bahawa hidup adalah kegelapan Dan dengan penuh ketakutan Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu penuh kebimbangan Kuwartakan padamu bahawa hidup adalah kegelapan jika tidak diselimuti oleh kehendak Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan Dan segala macam pengetahuan akan kosong bila tidak diiringi kerja Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta Maka bila engkau bekerja dengan cinta Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain Dan wujud Tuhan.
CINTA YANG AGUNG:
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya.. Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Aku turut berbahagia untukmu' Apabila cinta tidak berhasil ...BEBASKAN dirimu... Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI .. Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.. tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati bersamanya. .. Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
persahabatan:
sahabat ada untuk dijaga sahabat pergi bukan untuk ditangisi.
LOVE IN UNSEEN:
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis? ketika kita membayangkan? Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT... Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan.. Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan... Tapi ingatlah. ..melepaskan BUKAN akhir dari dunia.. melainkan awal suatu kehidupan baru.. Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, Mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari... dan mereka yang telah mencoba.. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka...
Selasa, 23 September 2008
ISLAM MEMBAWA KEDAMAIAN
Manusia adalah makhluq yang memiliki fitroh agama, sebagaimana manusia memiliki fitroh makan, tidur, nikah dan bersosial, namun dari sekian banyak fitroh yang terdapat dalam diri manusia fitroh agamalah yang terpenting untuk diprioritaskan sehingga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri damai dan tentram dengan fitroh keagamaanya, karena pada dasarnya semua jiwa yang ada dimuka bumi ini semua memiliki fitroh keislaman semenjak manusia dilahirkan dari rahim ibunya, sebagaimana yang telah disabdakan Rasululloh saw dalam hadistnya : “ semua yang terlahir dimuka bumi ini dalam kondisi fithroh maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka beragama yahudi, nashrani, dan majusi “ ( hadist ) “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu�(surat Adz-dzariyaaat) Manusia adalah makhluq yang memiliki fitroh agama, sebagaimana manusia memiliki fitroh makan, tidur, nikah dan bersosial, namun dari sekian banyak fitroh yang terdapat dalam diri manusia fitroh agamalah yang terpenting untuk diprioritaskan sehingga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri damai dan tentram dengan fitroh keagamaanya, karena pada dasarnya semua jiwa yang ada dimuka bumi ini semua memiliki fitroh keislaman semenjak manusia dilahirkan dari rahim ibunya, sebagaimana yang telah disabdakan Rasululloh saw dalam hadistnya : “ semua yang terlahir dimuka bumi ini dalam kondisi fithroh maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka beragama yahudi, nashrani, dan majusi “ ( hadist ) Berdasarkan hadist diatas kita sebagai umat Islam seharusnya bangga bahkan harus percaya diri sekaligus mampu mengimpelentasikannya dalam prilaku sehari-hari, dengan menampilkan identitas diri sebagai muslim kaffah sebagaimana salah satu visi Islam yaitu membawa kedamaian dimanapun muslim itu berada. Dalam kaitan kali ini sepertinya kita lazim sebagai orang yang dilahirkan dalam kondisi Islam untuk mengetahui lebih dalam tentang agama yang menempel dalam diri kita sehingga kita tidak hanya berpredikat orang Islam tapi lebih dari itu harus menjadi seorang yang muslim kaffah seorang yang tidak hanya berbicara Islam tapi tidak berprilaku islami, juga tidak hanya bermulut Islami tapi berhati durjani, sehingga marilah kita review kembali pemahaman kita tentang Islam yang begitu indah untuk disimak, enak didengar, ni`mat dirasa, serta nyaman dihati, namun karena luasnya pemabahasan tentang Islam, maka disini mungkin hanya diulas sebatas bahasa, itupun dengan tulisan penulis yang sangat terbatas kemampuannya. Islam dalam arti bahasa “ damai� “selamat� “tentram� dan orang yang memeluk agama Islam maka disebut muslim yaitu orang yang memeluk agama damai, selamat dan tentram, maka kewajiban seorang muslim harus memiliki bahasa, ucapan dan prilaku yang membawa kedamaian, menjaga keselamatan jauh dari sangkaan serta membawa ketentraman sehingga menyenangkan siapapun yang melihatnya, seorang muslim harus bersikap kritis, aktif, dinamis dan inovatif, jauh dari kejumudan, perhelatan dan persinggungan. Islam menurut ulama terdahulu yaitu “agama atau aturan yang harus dipatuhi yang memiliki nilai kebenaran tanpa kita meragukannya sedikitpun, juga agama yang kekal sepanjang masa sejarah umat manusia, syamil (universal), kaamil mutakaamil(sangat sempurna jauh dari kekurangan) yang meliputi segala macam aspek kehidupan manusia,diberikan aturan tersebut hanya kepada orang yang memiliki akal sehat dan luus, tidak lain untuk kebahagian manusia didunia maupun diakherat kelak. Dari definisi diatas kita sebenarnya sudah sering mendengarnya bahkan mampu menghapalnya dalam hitungan detik atau menit, namun dalam hal ini kita tidak hanya dituntut untuk tahu dan kemudian dilupakan begitu saja, namun Islam mengajarkan kita untuk mengimplementasikan semua yang kita ketahui berupa amalan yang memiliki nilai ibadah sekaligus menentramkan manusia dimanapun berada, disamping dari hal yang didefinisikan diatas Islam masih memerlukan bukti kemusliman seseorang yaitu menjadi rukun yang menempel secara otomatis ketika dia muslim dengan berupa pengamalan rukun Islam yang lima dengan dilandasi rukun iman yang enam yang telah tertanam jauh sebelum kita memahaminya. Akhirnya, marilah kita yang sejak kecil dididik dalam kondisi iman kepada Allah swt, Malaikat-malaikat Nya, Kitab-kita Nya, rsaul-rasul Nya, hari akhirat serta qodho dan qodar Nya, sekaligus sudah mengamalkan kewajiban rukun Islam yang lima dengan kemampuan sesuai yang kita miliki masing-masing dengan kondisi diatas kita bersyukur dengan memperbaiki semua prilaku kita dalam kehidupan ini, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang kufur ni`mat. Sebelum mengakhiri susunan kata-kata ini, marilah kita merenung sejenak betapa besarnya karunia Allah swt yang telah diberikan kepada kita, sehingga dari sekian besarnya karunia Allah swt, sudikah kita sisipi waktu untuk mengingat kekuasaan Allah swt dalam hari-hari kosong kita? Sudikah mata yang kita pakai seharian untuk melihat indahnya alam ini kita sisipkan untuk melihat Kalamullah( Al-Qur`an )? Sudikah telinga yang kita pakai sejak bangun hingga tidur kembali kita sisipi untuk mendengarkan perintah Allah serta nasehat-nasehat kebaikan untuk diri kita? Sudihkah kita sedikit mengerutkan kening untuk memikirkan kekuasaan Allah swt? Dan banyak lagi pertanyaan yang wajib dijawab dalam setiap diri pribadi muslim kaffah Sesungguhnya semua manusia sejak dari Nabi Adam hingga kiamat nanti dalam keadaan merugi, kecuali hanyalah orang-orang yang beriman (namun tidak hanya beriman ) sekaligus diaplikasikan dalam bentuk amalan-amalan yang sholih Sesuai dalam surat Al-ashr Wallahu `a`lam bishowaab
Saling memaafkan
“Prosesi” silaturrahmi dan “ritual” saling memaafkan dalam halal bi halal, sepintas bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang sangat artifisial (simbolis) yang sekadar menjadi tradisi tahunan. Padahal, dalam ajaran agama, setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah (habl min Allah) maupun kepada sesama manusia (habl min al-nass), hendaknya lah langsung meminta maaf.
Kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara kepada sesama, harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan.
Tidak akan ada yang menyangkal, tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang. Itu sebabnya, para sufi menyuruh kepada kita, agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus.
Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine). (Suliswiyadi, 2004).
Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran, idul fitri dalam halal bi halal, meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka, namun tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan.
Harapannya, ke depan, makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna, sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. Lebih dari itu, menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja. Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. ■
Rosidi
Kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, permintaan maaf itu dimanifestasikan dengan membaca istighfar disertai komitmen yang teguh untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara kepada sesama, harus diwujudkan dengan meminta maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan.
Tidak akan ada yang menyangkal, tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antarsesama adalah hal yang sangat indah. Sebuah proses pembelajaran untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Memaafkan kesalahan orang tidak lah gampang. Itu sebabnya, para sufi menyuruh kepada kita, agar melatih memaafkan kesalahan orang lain secara terus-menerus.
Sifat pemaaf harus tumbuh karena ”kedewasaan rohaniah”. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan ghadhab (marah) diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghias akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Dimana rohani mereka (para Nabi dan orang-orang saleh) itu telah dipenuhi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun (To err is human, but to forgive is divine). (Suliswiyadi, 2004).
Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran, idul fitri dalam halal bi halal, meski sampai sekarang kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik belaka, namun tidak ada salahnya untuk tetap dilanggengkan.
Harapannya, ke depan, makna artifisial dalam tradisi saling memaafkan dalam idul fitri ini akan sirna, sehingga ia tidak lagi sekadar menjadi tren saja. Lebih dari itu, menjadi tradisi (budaya) dan sarana untuk belajar mengakui kesalahan yang dilakukan dan belajar memaafkan kesalahan orang lain. Tentu tidak sebatas saat lebaran atau idul fitri saja. Tetapi juga dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. ■
Rosidi
SUDAHKAH CINTA DENGAN ALLAH?
Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.
Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : /Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."/
Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.
Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu." berikut:
1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".
2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.
6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.
10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.
Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : /Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."/
Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.
Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu." berikut:
1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".
2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.
6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.
10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.
Langganan:
Postingan (Atom)