Jumat, 25 April 2008

10 HAL MERAIH KETENANGAN JIWA

Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Namun, tak sedikit yang salah arah. Lihat saja orang rela menghabiskan berjam-jam nongkrong di tempat hiburan sembari minum minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan uang jutaan untuk mengkonsumsi pil-pil penenang. Sementara, ketenangan yang diproleh cuma sesaat. Itu pun sifatnya semu. Alih-alih ingin meraih ketenangan jiwa yang ada malah kehancuran.

Berbagai persoalan sehari-hari bisa menjadi pemicu stress. Apalagi di kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini. Banyak hal yang membuat seseorang merasa tertekan, kecewa dan tegang. Masalahnya tinggal pada intensitas. Bila stress itu terjadi terus menerus akan menjadi distress yang berujung pada depresi. Pada tingkat ini penderita kerap melakukan tindakan di luar akal sehat.

Faktanya, tak ada seorang pun terbebas dari persoalan hidup. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya.


Namun, Islam memberikan solusi terhadap tekanan hidup itu agar jiwa tetap tenang. Tak ada istilah stress hagi seorang mukmin. Soalnya, Islam telah memberikan solusi menghadapi tekanan hidup, Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meraih ketenangan jiwa:

1. Membaca dan mendengarkan al-Quran

Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah. Ia mengeluh, “Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah obat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan pikiranku kusut. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak," kata orang tersebut.

Ibnu Mas’ud menjawab, ”Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat. Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya. Kedua, engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hatimu kepada Allah. Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdi kepada Allah. Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sesampainya di rumah, segera ia berwudhu kemudian diambilnya Al-quran dan dibacanya dengan khusyuk. Selesai membaca, ia segera dapati hatinya memperoleh ketenteraman, dan jiwanya pun tenang. Pikirannya segar kembali, hidupnya terasa bergairah kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah saw tersebut.

2. Menyayangi orang miskin

Rasulullah memerintahkan kepada muslim yang punya kelebihan harta untuk memberikan perhatian kepada orang miskin. Ternyata, sikap dermawan itu bisa mendatangkan ketenangan jiwa. Mengapa? Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa para malaikat selalu mendoakan orang-orang dermawan:

“Setiap pagi hari dua malaikat senantiasa mendampingi setiap orang. Salah satunya mengucapkan doa: Ya Allah! Berikanlah balasan kepada orang yang berinfak. Dan malaikat yang kedua pun berdoa: Ya Allah! Berikanlah kepada orang yang kikir itu kebinasaan."

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang dermawan itu memperoleh dua balasan. Pertama, ia mendapatkan ganjaran atas apa yang diberikannya kepada orang lain. Kedua, mendapatkan limpahan ketenangan jiwa dan belas kasihan dari Allah.

3. Melihat orang yang di bawah, jangan lihat ke atas

Ketenangan jiwa akan diperoleh jika kita senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah, meskipun tampak sedikit. Rasa syukur itu akan muncul bila kita senantiasa melihat orang-orang yang kondisinya lebih rendah dari kita, baik dalam hal materi, kesehatan, rupa, pekerjaan dan pemikiran. Betapa banyak di dunia ini orang yang kurang beruntung. Rasa syukur itu selain mendatangkan ketenangan jiwa, juga ganjaran dari Allah.

4. Menjaga silaturahmi

Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan jalinan hubungan yang baik dengan manusia lain. Berbagai kebutuhan hidup takkan mungin bisa diraih tanpa adanya bantuan dari orang lain. Karenannya, di dalam hadits Rasulullah diperintahkan untuk tetap menjalin silaturahmi, sekalipun terhadap orang yang melakukan permusuhan, Rasulullah juga pernah bersabda bahwa silaturahmi dapat memanjangkan umur dan mendatangkan rejeki. Hubungan yang baik di dalam keluarga, maupun dengan tetangga akan menciptakan ketenangan, kedamaian dan kemesraan. Hubungan yang baik itu juga akan sangat efektif untuk menanggulangi berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

5. Banyak mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah.

Sumber ketenangan jiwa yang hakiki bersumber dari Allah SWT. Karena itu hendaklah kita selalu menghadirkan Allah SWT dalam segala situasi, baik dalam keadaan senang maupun susah. Keterikatan yang kuat dengan Allah SWT akan membuat jiwa seseorang menjadi kuat, tak mudah goncang dan diombang-ambingkan sesuatu. Sebab, bila kita lalai untuk mengingat Allah, maka membuka peluang bagi setan untuk mempengaruhi pikiran kita.

6. Mengatakan yang haq (benar) sekalipun pahit

Hidup ini harus dijaga agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran. Kebenaran harus diperjuangan. Pelanggaran terhadap kebenaran akan mendatangkan kegelisahan. Ketenangan jiwa akan tergapai bila kita tidak melanggar nilai-nilai kebenaran. Sebaliknya, pelanggaran terhadap kebenaran akan berpengaruh terhadap ketenangan jiwa. Lihat saja orang-orang kerap berbuat maksiat, kehidupannya diliputi kegelisahan.

7. Tidak ambil peduli terhadap celaan orang lain asalkan yang kita lakukan benar-benar karena Allah

Salah satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah karena selalu mengikuti penilaian orang terhadap dirinya. Terombang ambing oleh sikap dan gaya hidup orang kebanyakan. Sedangkan seseorang akan memiliki pendirian yang kuat jika berpegang kepada prinsip-prinsip yang datang dari Allah (al-Islam). Betapa melelahkannya hidup ini bila segala hal yang ada di dunia ini kita ikuti.

8. Tidak mengemis kepada orang lain

"Tangan di atas (memberi) lebih mulia dari tangan di bawah" adalah hadits rasulullah yang memotivasi setiap mukmin untuk hidup mandiri. Tidak tergantung dan meminta-minta kepacla orang lain. Sebab, orang, yang mandiri, jiwanya akan kuat dan sikapnya lebih berani dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya, orang yang selalu meminta-minta menggambarkan jiwa yang lemah. Hal ini tentu membuat batin tak nyaman.

9. Menjauhi Utang

Dalam sebuah hadits Rasulullah dengan tegas mengatakan: “Janganlah engkau jadikan dirimu ketakutan setelah merasakan keamanan!” (Para sahabat) bertanya: Bagaimana bisa terjadi seperti itu! Sabdanya: Karena utang.”

Begitulah kenyataanya. Orang yang berutang akan senantiasa dihantui ketakutan, karena ia dikejar-kejar untuk segera melunasinya. Inilah salah satu faktor yang membuat banyak orang mengalami tekanan jiwa. Rasulullah juga mengatakan: “Hendaklah kamu jauhi utang, karena utang itu menjadi beban pikiran di malam hari dan rasa rendah diri di siang hari."

10. Selalu berpikir positf

Mengapa seseorang mudah stress? Salah satu faktornya karena ia selalu diliputi pikiran-pikiran negatif. Selalu mencela dan menyesali kekurangan diri. Padahal, setiap kita diberikan oleh Allah berbagai kelebihan. Ubahlah pikiran negatif itu menjadi positif. Ubahlah ungkapan keluh kesah yang membuat muka cemberut, badan lemas dan frustasi dengan ungkapan senang. Ungkapan senang akan membuat ekspresi senyum dan jiwa menjadi semangat kembali. Bukankah di balik kesulitan dan kegagalan ada hikmah yang bisa jadi pelajaran? Dan bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?

PUSARAN KEBAIKAN

ni memang hanya kisah tentang selembar baju besi. Yang hilang dari tangan pemiliknya. Lalu pindah ketangan orang lain. Pemilik baju besi itu Ali bin Abi Thalib, sang khalifah. Sedang pemilik baru, yang mengaku memiliki baju itu adalah seorang Yahudi. Baju itu sendiri hilang, ketika Ali terlibat dalam sebuah peperangan. Tetapi Ali tak pernah lupa dengan ciri-ciri bajunya. Maka ketika dilihatnya baju itu ada di tangan seorang Yahudi, ia segera memintanya.

"Ini bajuku, kembalikanlah," pinta Ali.

"Tidak ini adalah bajuku, ia ada di tanganku dan kekuasaanku," jawab Yahudi itu.

Ali sangat yakin itu bajunya. Tapi Yahudi itu tetap dengan pendiriannya. Ia tidak akan memberikan baju itu. Akhirnya orang Yahudi itu meminta untuk dihadapkan kepada hakim. Mereka sepakat untuk meminta diadili oleh seorang hakim Muslim.

Maka dipilihlah Syuraih, sang hakim yang sangat terkenal. Kesepakatan menuju pengadilan, bagi orang Yahudi itu, adalah sebuah pengharapan. Siapa tahu ia bisa mendapatkan baju itu. Ia tahu, bahwa di jaman itu, keadilan adalah warna utama agama Islam, ruh dan nafas besar para pemeluknya.

Ali datang ke persidangan sebagaimana rakyat biasa. Tak ada pengawalan, tak ada perlakuan istimewa. Ia memang Amirul Mukminin. Tetapi pantang baginya melakukan kolusi dengan hakim yang menangani perkaranya.

Setelah Ali dan orang Yahudi itu duduk di depan persidangan, hakim Syuraih bertanya kepada Ali, "Apa yang saudara kehendaki, Wahai Amirul Mukminin?" Ali menjawab, "Itu soal baju besiku yang jatuh dari untaku, yang kemudian diambil oleh orang ini."

Lalu Syuraih bertanya kepada orang Yahudi itu, "Apa yang hendak engkau katakan?" Ia menjawab, "Ini benar-benar baju besiku dan sekarang berada di tanganku."

Untuk menguatkan tuntutan Ali, Syuraih meminta dihadirkan dua orang saksi. Dan dua saksi itu harus benar-benar pernah menyaksikan, bila baju besi itu benar-benar milik Ali. Maka, Ali pun mengajukan dua orang saksi, pembantunya, Qunbur, dan putranya sendiri Hasan bin Ali.

Syuraih menerima kesaksian Qunbur, tetapi ia tidak mau menerima kesaksian Hasan. "Kesaksian Qunbur saya benarkan, tetapi kesaksian Hasan bin Ali tidak dapat saya terima karena ia adalah putra saudara sendiri. Tidak diterima kesaksian putra untuk perkara ayahnya."

Ali bin Abi Thalib lalu berkata, "Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, Hasan dan Husein adalah pemimpin di surga?" Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa Syuraih menjawab, "Ya, memang benar." Kemudian Ali bertanya lagi dengan tanpa menunjukkan kejengkelan sedikit pun pada sang Hakim. "Masihkah tidak dapat diterima kesaksian pemimpin pemuda di surga ini?"

Syuraih tetap dengan pendiriannya. Ia tidak dapat menerima kesaksian Hasan bin Ali. Akhirnya Syuraih memutuskan, bahwa baju besi itu adalah milik orang Yahudi itu. Ia telah memenangkan orang itu atas Amirul Mukminin, sebab bukti-buktinya menunjukkan demikian.

Ali tidak angkat bicara lagi. Ia terima keputusan hakim dengan lapang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi yang mendukung tuntutannya. Sementara, orang Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimanaAli bisa menerima keputusan dengan lapang hati. Padahal ia tahu, baju besi itu milikAli. Melihat adegan yang mengharukan itu, orang Yahudi itu pun lalu berkata kepada majelis persidangan, "Sesungguhnya, baju besi ini benar-benar kepunyaan Amirul Mukminin. Aku memungutnya sewaktu dalam sebuah peperangan."

Ali sempat terkejut. Tapi orang itu meneruskan ucapannya dengan dua kalimat syahadat, "Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Dari peristiwa yang baru saja dialaminya itulah, secepat itu ia mendapatkan hidayah Allah swt. Lalu dengan kesadaran ia masuk Islam. Ia benar-benar menemukan sebuah pusaran pengharapan.

Tatkala Ali mendengar orang Yahudi itu telah membaca syahadat, dengan segera pula ia menyatakan, "Kalau begitu, baju besi itu kuhadiahkan kepadamu." Selain itu, Ali juga menghadiahi Yahudi itu uang sebanyak sembilan ratus dirham.

Alangkah indahnya Islam. Tapi alangkah indahnya orang-orang yang memeluknya, menjalankannya dengan baik. Seperti Ali yang tunduk pada hukum. Atau Syuraih yang tegas untuk dan demi hukum. Lalu alangkah bahagianya orang Yahudi itu, melihat keindahan Islam, keadilan Islam, melihat pula orang-orang mulia yang menjalankan Islam sepenuh hidupnya, lalu ia tertarik, dan akhirnya mendapatkan hidayah dan masuk Islam. Pada mulanya ia hanya mengharapkan selembar baju besi. Tapi di pusat-pusat pusaran Islam, seperti pada sosok Ali, atau Syuraih, atau pengadilan yang bersih dan berwibawa itu, ia telah menemukan kekayaan batin yang abadi: iman.

Pada mulanya ia hanya menginginkan baju besi. Tapi ia malah mendapat hidayah, mendapat baju besi itu juga, dan bahkan masih ditambah dengan uang sembilan ratus dirham.

Ini mungkin hanya kisah selembar baju besi. Tapi sesungguhnya adalah kisah tentang pengharapan. Tentang orang-orang yang dengan selapang perasaan mengharapkan penyelesaian hidupnya, di tangan orang-orang Muslim, yang bisa dipercaya.

Seperti itu pula semestinya kita menjalani kehidupan kemusliman kita. Menjadi seorang Muslim tak semata soal suka atau tidak suka. Ini memang pilihan, tapi sejujurnya, menjadi Muslim -dan seperti agama Islam itu sendiri- sama artinya dengan menjadi pusaran pengharapan.

Seorang Muslim harus bisa menjadi pusaran pengharapan, bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan dan alam semesta ini. Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baik manusia, yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Sementara dalam hadits yang lain, Rasulullah menegaskan, "Orang Muslim, ialah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya."

Dua hadits di atas menegaskan apa yang kita sebut dengan daya cipta manfaat. Artinya, kemusliman kita semestinya menjadi pusaran-pusaran manfaat, yang orang lain dan kehidupan sekitar menaruh harapan besar pada jati diri kemusliman kita. Hadits itu juga menegaskan, bagaimana seharusnya arus manfaat dari diri kita terus mengalir, sementara arus yang merugikan tertahan. Sehingga orang-orang mendapat manfaat dari diri kita, sekaligus terhindar dari kejahatan lisan dan tangan kita.

Daya cipta manfaat, adalah prinsip utama kehidupan seorang mukmin. Tetapi sumber inspirasi dari daya cipta manfaat adalah keimanan itu sendiri. Itu sebabnya, seorang mukmin harus bisa hidup dengan imannya itu. Keimanan itu sendiri harus berbuah, memberi manfaat bagi orang lain. Sebab tradisi keimanan sendiri, atau anatominya adalah seperti pohon yang memberi buah manfaat bagi kehidupan ini. Allah swt menjelaskan, "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap muslim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat."

"Dan perumpamaan kalimat yang buruk (kekufuran) seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permurkaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di duniia dan akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzolim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. " (QS. Ibrahim: 24-26).

Bila pengharapan itu tak bisa lagi ditautkan pada diri orang-orang Islam, maka tak akan ada lagi pengharapan yang layak diimpikan. Sesungguhnya di negeri ini, di tempat ini, kita ditakdirkan lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim.

Maka di sini, di dalam diri kita, di kebesaran umat Muslim di negeri ini, ada begitu banyak pusaran pengharapan, dari orang lain, dari sesama kita, juga dari kehidupan para penduduk bumi di mana saja.

Di setiap pilihan hidup kita, sebagai apa pun, kemusliman kita harus berdnya cipta, memberi manfaat, dan menjadi pusaran pengharapan bagi kehidupan. Hanya orang-orang Muslim yang punya daya cipta manfaat, yang akan memancarkan cahaya Islam dalam performa luhur, yang mampu menjadi ruh bagi kehidupan ini.

INISIATIF

Segala perilaku kita adalah format kehendak kita. Demikianlah kita menjalani hidup. Begitu pula dalam melakoni ajaran agama kita. Amal shalih perilakunya, sedang niat yang ikhlas adalah kehendaknya. Amal shalih tanpa ikhlasnya niat akan sia-sia. Sebagaimana niat baik tanpa wujud amal hanya omong kosong belaka. Karenanya, tuntutan beramal shalih menjadi sama besarnya dengan tuntutan berkehendak. Tapi kehendak dan niatan-niatan itu tak selamanya segar. Kadang layu, bahkan mati. Itu sebabnya, inisiatif yang berkesinambungan menjadi syarat mutlak bagi kesegaran niatan-niatan dan amal-amal shalih itu.

Suatu hari, Allah menguji Bani Israil yang tinggal di tepian pantai. Mereka dilarang mencari ikan pada hari Sabtu. Tetapi justru pada hari Sabtu itu ikan banyak sekali. Apa yang tejadi? Penduduk desa itu terbagi menjadi tiga macam. Pertama, orang yang melanggar larangan itu, dengan cara memasang jala pada hari Jum’at lalu mengambilnya pada hari Ahad. Kedua, orang yang berinisiatif memperingatkan dan menasehati para pelanggar. Ketiga, orang yang diam saja, malah mencibir para pemberi nasehat itu.


Ketiga jenis orang itu semua mendapat balasan. Yang melanggar larangan oleh Allah dijadikan kera, sedang yang diam tidak berinisiatif menasehati diazab dengan azab pedih. Dan yang memberi peringatan saja yang diselamatkan Allah. (lihat QS,Al-A’raf: 163-166)

Kisah di atas adalah bukti bahwa hidupnya inisiatif sama artinya dengan ‘hidupnya kehi-dupan’. Sebaliknya, matinya inisiatif sama dengan ‘matinya kehidupan’. Banyak orang “hidup tapi mati" karena tak pandai mengambil inisatif. Saat banyak kesulitan menghadang, mereka hancur berkalang masalah. Sama juga ketika orang bergelimang nikmat, banyak yang jiwa inisiatifnya tumpul. Di awal krisis ekonomi yang menggoncang negeri ini, puluhan bahkan ratusan orang berantakan hidupnya.

Kegagalan orang-orang itu diawali dari kegagalan membangun jiwa mandiri. Sedang hilangnya kemandirian itu disebabkan oleh matinya daya inisiatif. Dalam Al-Qur’an, Surat Al-Maidah, 48, Allah SWT berfirman, “Maka berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kalian semua. Lalu diberitakan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan,” Ayat tersebut tidak saja bermakna perintah untuk beramal. Tapi juga menjelaskan bahwa setiap muslim harus punya semangat kemandirian yang tinggi. Sebab satu orang dengan orang lain adalah “kompetitor” dalam berama shalih. Artinya, jiwa kompetisi mestinya mendorong orang per orang untuk menguatkan semangat dan inisiatif beramalnya, agar lebih baik dari kompetitor yang lain, atau bahkan menjadi pemenangnya. Kemenangan itu adalah ketinggian takwa, yang menjadi “nilai kemuliaan” di mata Allah. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, adalah yang paling bertakwa di antara kamu.” Maka, penghargaan Islam terhadap inisiatif sangat tinggi. Sampai-sampai orang yang baru berniat berbuat baik pun sudah ditulis sebagai satu kebaikan.

Semangat inisiatif juga didasarkan pada kenyataan, bahwa orang tidak mungkin secara teknis selalu terikat dengan orang lain. Orang lain hanya bisa membantu, tapi bukan tempat menggantungkan diri. Kita tidak mungkin menyuruh orang lain bertanggung jawab atas baik-buruknya perilaku kita. Tetapi lebih dulu kita sendiri harus punya inisiatif yang baik serta punya kemandirian yang tinggi. Sebab, pada akhir-nya nanti, kita akan dikembalikan kepada Allah, lalu amal kita dihitung, setelah itu diberitahu tentang prestasi pribadi kita masing-masing, berikut balasannya: surga atau neraka.

Semangat kemandirian dalam beragama – yang dimotori inisiatif yang kuat – akan menjadi tameng handal dari godaan hidup. Seperti dijelaskan Allah Swt dalam firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”(Qs Al-Maidah: 105). Karenanva, seorang muslim yang sering meninggalkan perintah Islam, – seperti sholat wajib, puasa wajib, zakat wajib – harus segera berinisiatif mentaati perintah-perintah itu. Yang masih suka bermaksiat harus segera lari dari dosa-dosa. Sebab, setiap muslim nantinya akan dihisab sendiri-sendiri. Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah seseorang itu menanggung dosa orang lain."

Dalam surat Ali Imran, ayat 102, perintah untuk beramal secara pribadi mendahului perintah beramal secara kolektif. Kemandirian personal, mendahului kemandirian komunitas. “Hai orang-orang yang beriman, betaqwalah kepada Allah dengan, sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” Status kematian orang serta kadar nilai kematiannya, tidak sama antara satu dengan lainnya. Maka, larangan mati kecuali sebagai muslim, mengharuskan setiap pribadi muslim "merancang" status kematiannya sendiri-sendiri. Dan itu, membutuhkan kemauan keras dan inisatif berkesinambungan untuk merintis amal-amal baru, sampai ketika ia mati, matinya sebagai muslim.

Baru setelah itu, ayat selanjutnya berbicara tentang amal-amal kolektif. “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan, jangan bercerai-berai.’ (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan kolektif, untuk menunaikan tugas-tugas besar yang tak bisa diselesaikan kecuali secara kolektif. Tapi sedikitpun tak menyiratkan arti bahwa baik buruk pribadi kita adalah tanggung jawab teman-teman kita.

Budaya inisiatif akan melahirkan orang-orang yang memulai terlebih dulu dari dirinya sendiri dalam beramal. Mencetak orang-orang yang mampu menggagas amal baik, meski tidak disuruh, atau tidak punya iklim lingkungan yang baik. Bukankah Allah SWT sebelum menyuruh hamba-hamba-Nya membaca shalawat kepada Rosululah, terlebih dulu memulainva dari Diri-Nya sendiri? “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya "(QS. Al-Ahzab: 58).

Lalu, apakah berarti kita harus egois? Merasa cukup bila diri kita sendiri sudah baik? Tidak. Sama sekali tidak, Perhatikan ayat selanjutnya, “ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran; 104).

Orang tidak boleh cukup puas bila dirinya baik, tapi selanjutnya ia harus berinisiatif mengajak orang lain untuk baik. Keshalihan pribadi harus menghasilkan keshalihan umat. Dalam bahasa yang lain, seorang muslim yang shalih, mestinya juga seorang da’i yang aktif. Jangan sampai orang shalih secara pribadi, tapi tak memberi manfaat bagi tetangganya, teman kuliah-nya, rekan kerjanya, atau orang-orang dekatnya. Sebaliknya, jangan juga orang sibuk menyuruh orang, mengajak orang, tapi dirinya sendiri tidak terurus. Ibadahnya belang-belang, amalan pribadinya tipis.

Inisatif dan kemandirian akan menjaga da’wah dari kemandegan. Khususnya kemandegan sistem. Dengan inisiatif dan kemandirian yang prima, mesin da’wah tetap berproduksi, meski para pendirinya sudah mati, karena ada generasi penerusnya. Itulah yang diperankan para ulama kita. Dalam dunia fiqih, misalnya, kalaulah tak ada inisiatif dalam bentuk ijtihad-ijtihad, mungkin kita sulit mencari hukum atas masalah-masalah yang dulu tak ada pada masa Rasul. Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, telah berjasa besar melalui budaya inisiatif mereka. Hingga madzab-madzhab fiqih tidak saja menjadi disiplin ilmu yang luas, tapi juga pijakan hukum yang kokoh. Demikian juga dalam dunia da’wah, telah banyak tokoh-tokoh da’wah yang datang dan pergi. Mereka menjadi inisiator-inisiator yang berpengaruh. Allah sendiri menjanjikan bahwa pada setiap seratus tahun akan ada pembaharu bagi agama-Nya.

Seorang da’i yang sadar bahwa tugas dalam da’wahnya berat, harus terus mencari inisiatif bagaimana memilih prioritas yang jelas. Bagaimana terus memacu prestasi amalnya semaksimal mungkin. Apalagi pertumbuhan da’wah terus meningkat, baik dari segi populasi da’i dan obyek da’wahnya, maupun wilayah garapannya. Semua itu membutuhkan inisiatif dan kemandirian lebih. Sebab, daya jangkau organisasi-organisasi da’wah secara struktural bisa jadi sangat terbatas. Sementara permasalahan makin banyak dan kompleks.

Dalam mencari penghidupan di dunia pun, inisiatif dan kemandirian mutlak diperlukan. Karena hidup manusia itu dinamis, berubah, dan terus bergerak. Sementara dinamika, perubahan, dan pergerakan itu memerlukan peletup. Dan itulah fungsi inisiatif. Inisiatif adalah pemicu, sedang kreativitas menjadi pintu-pintu realisasinya. Sementara motivasi merupakan daya dorong dan penjaga staminanya. Maka, inisiatif bukan sekadar keperluan sesaat. Tapi kebutuhan manusia sepanjang hayat.

Seorang suami yang terkena PHK harus segera mencari inisiatif positif, bagaimana agar anak istrinya tak mati kelaparan. Seorang anak yang orang tuanya sangat sibuk, seharusnya punya inisiatif positif, bagaimana tetap bisa menjaga diri. Sekumpulan mahasiswa yang sering tak menemukan dosen hadir, mestinya punya inisiatif bagaimana tetap bisa menuntut ilmu. Seorang pedagang yang menghadapi melambungnya harga, selayaknya punya inisiatif, apakah ganti dagangan atau menyiasati strategi pemasaran. Begitu seterusnya dalam segala sisi hidup. Inisiatif ibarat pahlawan di tengah kecamuk perang. Atau seteguk air di hamparan padang pasir yang membakar.

Lebih jauh, saat menghadapi kesulitan baik dalam hidup, dalam menjalankan ajaran Islam, maupun dalam mengemban tugas da’wah, .seringkali kolektifitas atau kebersamaan itu buyar lantaran pribadi-pribadi orangnya mati inisiatif dan tak punya kemandirian. Maka, jangan biarkan inisiatif mati. Tumbuhkan dan tumbuhkan. Awali dari diri sendiri. Sekarang juga

Kamis, 24 April 2008

TUJUH LANGKAH INISIATOR

Pertama, sadarilah nikmat hidup yang Allah berikan.
Rasulullah saw bersabda, "Ada dua ni’mat yang manusia sering tertipu karenanya, ni’mat sehat dan ni’mat waktu kosong.” (HR Bukhari). Seorang muslim akan tertipu selama ia tidak memanfaatkan nikmat sehat dan kelapangan rizkinya. Kesehatan dan waktu kosong ibarat modal dalam hidup, yang harus diinfakkan di jalan Aliah, untuk memperoleh keuntungan akhirat. Bila tidak, waktu akan melibasnya. Akibatnya, inisiatif beramal mati.

Ibnu Bathal mengomentari hadits Rasulullah di atas, “Ingat, kenapa Rasulullah mengatakan, kebanyakan manusia tertipu? Lantaran hanya sebagian kecil manusia saja yang tidak tertipu oleh dua nikmat itu. Ada di mana kita?” Ibnul Jauzi lebih jauh lagi menguraikan makna hadits itu. “Ada kalanya manusia sehat secara fisik, tapi ia tidak punya waktu luang karena kesibukannya mencari nafkah. Ada pula orang yang memiliki harta banyak dan tidak sibuk mencari nafkah, tapi tubuhnya sakit. Bila kedua penyakit itu berkumpul, dan orang itu ditimpa kemalasan dari berbuat ketaatan, kondisi itulah yang dikatakan tertipu.”


Kedua,peliharalah rasa percaya diri, cita-cita tinggi dan semangat kuat mengalahkan bisikan syaitan.
Untuk memiliki daya inisiatif yang kuat diperlukan rasa percaya diri. Tapi seringkali syaitan selalu mempengaruhi seseorang bahwa ia tak mampu melakukan apa-apa sehingga ia bersikap pasif. Syaitan juga membisikkan seseorang bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu dengan baik. Ia mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu masalah, bahwa ia tak berkepentingan atau tidak kompeten terhadap masalah itu. Syaitan juga menghampiri seseorang dan membisikkan bahwa suatu amal yang akan dilakukan itu bernilai riya, dan sebagainya. Sampai akhirnya, seseorang bisa melakukan uzlah (pengasingan) yang keliru, tidak bicara dengan alasan tawadhu’, sampai ia kehilangan kesempatan untuk berbuat baik, dan tertutup pintu kebaikan di hadapannya.

Bila syaitan gagal menjebak manusia dalam cara di atas, ia akan masuk melalui pintu pemberian skala prioritas beramal yang nisbi. Syaitan akan merancukan antara yang harus dilakukan dan sebuah keutamaan saja. Bisikan syaitan ini tentu diiringi dengan serentet alasan dan argumen. Karenanya, seorang muslim seharusnya memiliki neraca ilmu syari’at untuk menutup celah bisikan syai-tan dalam hal ini.

Rasa percaya diri akan menyokong cita-cita yang tinggi. Inilah yang dilakukan oleh para sahabat di antaranya Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami ketika ia ditanya oleh Rasulullah agar menyebutkan permintaannya. Rabi’ah segera menjawab, “Saya ingin menjadi pendampingmu di surga." Imam Ali ra pernah menguraikan harapannya, yaitu terkena pukulan pedang, puasa di tengah musim panas, dan memuliakan tamu. Sedangkan dimata Khalid bin Walid, bertempur di medan perang lebih ia sukai daripada bermalam denqan pengantin baru.

Ketiga, jangan menyepelekan amal meski sedikit.
Jangan juga memandang yang banyak itu itu berarti banyak. Sebab seringkali sesuatu yang kecil menjadi besar karena niat, dan banyak pula sesuatu yang besar menjadi kecil karena niat. Rasulullah saw pernah menyebutkan banyak pintu kebaikan. Termasuk kebaikan bila seseorang memberikan air dalam embernya kepada ember milik saudaranya, tersenyum di hadapan saudaranya, atau sekadar menemuinya dengan wajah yang baik.

Allah swt berfirman, “Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.” (Qs. Az-Zalzalah: 7-8).

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ditanya tentang pahala sadaqah dua butir korma, ia mengatakan,"Allah menerima shadaqah (matsaqil) seperti biji zarah, dan itu artinya dalam dua buah korma ini terdapat matsaqil zarah yang amat banyak.” (Tafsir Qurthubi:20/152)

Seorang muslim tidak memandang kecil pekerjaan yang baik. Dari pandangan seperti inilah, ia terdorong untuk berkreasi dan berinisiatif dalam berbuat kebaikan. Seorang da’i tidak akan menyepelekan sekadar tersenyum kepada tetangga, memberi nasihat pada orang yang menemaninya ketika bekerja, mendengar ayat Al-Qur‘an dalam perjalanan mobil dan sebagainya.

Keempat, jangan menyia-nyiakan waktu.
Ibnu Mas’ud sangat membenci orang yang menyia-nyiakan waktu tanpa ada pekerjaan. "Aku sangat membenci orang yang tak mengerjakan apa-apa. Tidak amal akhirat, juga tidak amal dunia.” Para salafusshalih merasakan manfaat waktu hingga mereka menyadari begitu berharganya setiap detak jantung atau hirupan nafas mereka yang harus mereka gunakan untuk kebaikan. Setiap detik yang berlalu takkan kembali, apalagi hari-hari atau malam-malam. Iman syahid Hasan al-Banna mengatakan, “Waktu itu adalah kehidupan."

Ketika Abdullah bin Mubarak ditanya para sahabatnya, "Bukankah engkau telah melakukan shalat, tapi kenapa engkau tidak mau nongkrong bersama kami di sini?” Abdullah bin Mubarak menjawab, "Aku memilih duduk bersama para sahabat dan para tabi’in. Aku akan membaca kitab dan mencatat perkataan mereka. Sedangkan bila kududuk bersama kalian, apa yang bisa kuperbuat? Paling-paling kalian membicarakan orang lain." (Siyar a’lami an-Nubala, 2/348).

Allah swt berfirman, “Dan bila kalian selesai mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah dengna sungguh urusan yang lain.” (Qs, Al-Insyirah: ) Maksudnya, menurut Ibnu Abbas, "Dan bila engkau selesai mengerjakan shalat maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a." Sedangkan Mujahid mengatakan, “Bila kalian selesai mengerjakan aktivitas duniamu maka isilah dengan ibadah shalat." (Al-Kasyaf, 4/267)

Kelima, perluas lingkup interaksi dengan banyak kalangan.
Jangan membatasi pergaulan dengan komunitas tertentu yang sempit dan sangat terbatas. Pergaulan yang sempit biasanya akan melahirkan pandangan dan wawasan yang sempit dalam menyikapi suatu masalah. Inilah hikmah dari banyak firman Allah yang menganjurkan umat-Nya untuk berpergian dan berjalan di muka bumi. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang denganya mereka dapat memahami dan mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”(QS. Al-Hajj: 46)

Ini rahasianya mengapa Rasulullah saw sejak kecil telah mendapat didikan memikul tanggung jawab berdagang dan berkeliling ke berbagai lokasi. Di sana beliau berinteraksi dengan banyak kelompok manusia hingga ketika dewasa beliau memiliki pandangan yang luas. Diriwayatkan, bahwa tempat main Khalid di masa kecil sampai ke wilayah Syam.

Keenam, biasakanlah berdiskusi dan membahas suatu masalah dengan banyak kalangan.
Seseorang akan banyak memetik pengalaman dan pelajaran berharga dari banyak orang. Rasulullah selalu melibatkan para sahabat untuk bermusyawarah sehingga mereka terbiasa menyerap banyak pendapat maupun melontarkan gagasannya kepada orang lain. Pola da’wah Rasul dengan para pembesar Quraisy maupun Yahudi banyak yang menggunakan sistem dialog dan diskusi.

Ketujuh, berdo’alah kepada Allah dengan merasa fakir di hadapan-Nya.
Perasaan lemah dan tak berdaya di hadapan Allah merupakan faktor yang efektif untuk memicu motivasi dan melahirkan banyak kreatifitas, seiring dengan tingkat kerendahannya di hadapan Allah dan seimbang dengan bagaimana ia rneminta pertolongan dari Allah. Inilah modal pertama dan paling besar bagi seorang da’i untuk tetap memiliki bashirah, ketajaman pandangan, yang melahirkan ide, inisiatif dan kreatifitas dalam beramal. Wallahu a’lam bi shawab.

PEWARISAN KARAKTER

Berbicara tentang karakter keluarga, sejujurnya adalah berbicara tentang identitas. Dalam garis panjang keturunan, selalu ada sisi-sisi dimana seorang mengenang, mencintai, meneruskan, dan bahkan merasa punya tanggung jawab untuk menjaga garis itu. Tapi ini bukan sebuah garis darah, tapi garis kepribadian, jati diri, dan perilaku utama yang diusung.

Dalam praktiknya, ada bermacam garis-garis karakter yang diusung, diwariskan, atau dipertahankan oleh sebuah keluarga. Beberapa contoh yang dipaparkan berikut ini lebih merupakan bagaimana memahami konteks dan fungsi karakter keluarga bagi kehidupan. Tentu, masih banyak model-model lain dari sebuah karakter dan garis keturunan yang bertebaran sepanjang sejarah.


Karakter Keluarga dan Pencarian Akar

"Indentitas tidak bisa disekat-sekat. Anda tidak bisa membelahnya dari separuh, sepertiga, atau seberapa pun segmen terpisah. Aku tidak punya beberapa identitas: aku hanya punya satu, yang terdiri dari banyak komponen dalam sebuah paduan yang unik bagiku, sama halnya identitas orang lain, unik bagi mereka sebagai individu."

Ungkapan di atas ditulis oleh Amin Maalouf, seorang novelis dari Lebanon yang tinggal di Perancis, dalam bukunya In the Name of Identity yang kontroversial itu, untuk menjawab pertanyaan orang apakah dia separuh Perancis separuh Lebanon?

Amin Maalouf sepertinya ingin menjelaskan bahwa indentitas itu tidak bisa dilihat hanya dari sudut tertentu, yang mungkin umum diketahui orang. Akan tetapi, ia merasa bahwa ada beberapa komponen lain yang tidak bisa dinafikan keberadaan dan pengaruhnya pada diri seseorang, yang mungkin akan menjadikan orang itu tampak unik dan berbeda dari orang lain. Yang menjadikannya punya karakter tersendiri yang dia warisi dari leluhurnya. Ia menegaskan, "Aku lahir di Lebanon dan tinggal di sana sampai 27 tahun; bahwa Arab adalah bahasa ibuku; bahwa dalam terjemahan bahasa Arablah aku pertama kali membaca Dumas dan Dickens serta Gulliver’s Travels; bahwa di desaku lah, desa para leluhur, aku mengalami nikmatnya masa kecil dan mendengarkan dongeng-dongeng yang nantinya mengilhami novel-novelku. Bagaimana mungkin aku melupakan semua itu? Bagaimana mungkin aku mengesampingkannya? Di sisi lain, aku sudah tinggal di tanah Perancis selama 22 tahun. Aku tenggak air dan anggurnya, tiap hari tanganku menjamah bebatuan kunonya, aku tulis buku-buku dalam bahasanya. Tak akan lagi Perancis menjadi negeri asing bagiku."

Pengalaman dan penuturan di atas mungkin menarik untuk coba kita simak. Bahwa akar, yang tak lain adalah keluarga besar, atau suku, atau bangsa dimana kita berasal adalah sesuatu yang tak bisa terpisahkan dan tak mungkin terlupakan begitu saja, meskipun kita tidak lagi berada dalam lingkungan mereka karena terpisah oleh satu wilayah atau negara yang cukup jauh, atau karena rentang waktu yang begitu panjang.

Bagaimanapun, kerinduan kepada mereka pasti tetap bersemi di hati kita. Kebanggaan sebagai bagian dari mereka pasti ada. Kenangan-kenangan manis pun kadang terlintas. Karena dari sanalah identitas kita terbangun. Karakter-karakter yang menjadi ciri khusus mereka pun tumbuh baik dalam jiwa kita. Ketika Rasulullah saw terusir dari Makkah dan hijrah ke Madinah, beliau tidak pernah kembali lagi ke sana hingga terjadinya Fathu Makkah. Suatu hari, setelah sekian tahun tinggal di Madinah, seorang sahabat tiba dari Makkah. Beliau pun bertanya, "Bagaimana keadaan Makkah ketika kamu tinggalkan?"

Sahabat itu menjawab dengan menceritakan kebun-kebun kurma hijau yang sedang tumbuh indah. Tiba-tiba beliau berkata, "Cukup! Cukup!" Beliau tak kuasa menahan tangis karena cerita itu seolah mengembalikan kenangan-kenangan manis beliau bersama keluarga di kota kelahirannya itu.

Karakter Keluarga, Apresiasi Kekhususan dan Kebahagiaan Batin Yang Tidak Tergantikan

Allah swt yang telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tidak hanya membedakan mereka dari bahasa dan warna kulitnya. Tetapi mereka diberikan juga sesuatu yang lain, yang mungkin sangat spesifik seperti karakter, bakat, atau sifat turunan yang membuatnya unik, dapat melakukan sesuatu yang berarti yang tidak dilakukan orang lain. Dan ini adalah bukti dari kemahakuasaan Allah yang lain.

Kita bisa membaca dari sebuah analisa sejarah, mengapa Islam diturunkan kepada bangsa Arab. Al Buthy dalam Fiqhus Sirahnya menjelaskan hal ini, bahwa bangsa Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan ajaran dan pemikiran. Karena mereka tidak diberikan kemewahan dan peradaban seperti Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak diberikan kekuatan militer seperti Romawi, yang mendorong melakukan ekspansi ke negeri tetangga. Mereka tidak memiliki kemegahan filosofi dan dialektika seperti Yunani, yang menjerat menjadi bangsa mitos dan khurafat.

Yang mereka miliki adalah karakter-karakter positif alami, seperti bahan baku alami berkualitas sangat baik, yang belum diolah dengan bahan lain; masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri dan keterhormatan.

Jika mereka hidup dalam kegelapan dan kebodohan, itu karena mereka tidak memiliki pengetahuan yang dapat membimbing ke jalan yang benar. Tetapi dengan datangnya Islam, karakter-karakter positif yang mereka miliki seperti menemukan kerannya. Dalam waktu yang tidak lama, bangsa Arab tiba-tiba menjelma menjadi kekuatan besar yang siap menaklukkan dunia. Di sini Islam berkembang mudah karena tidak perlu menghabiskan waktu untuk melawan kehebatan filsafat dan mitos, atau meruntuhkan sebuah kekuatan militer. Islam "hanya" perlu menyesuaikan ajaran-ajaran yang dibawanya dengan fitrah kemanusiaan bangsa Arab

Karakter-karakter positif di atas adalah milik bangsa Arab secara umum. Namun dalam lingkup yang lebih kecil, di dalam suku atau keluarga-keluarga tertentu, mereka masih menyimpan karakter-karakter lain yang lebih unik. Dan Rasulullah mengapresiasi potensi-potensi itu dengan memberikan tugas-tugas kebaikan yang lebih khusus sesuai karakter mereka. Hal ini bisa kita temukan dalam sebuah riwayat dari Abu Mahdzurah. Ia berkata, "Rasulullah saw telah memberikan kewenangan adzan kepada kami dan keturunan-keturunan kami; memberi minum para jamaah haji kepada anak keturunan Hasyim; dan penjaga pintu Ka’bah kepada anak keturunan Abdid Daar." (HR. Ahmad)

Jika kita cermati hadits ini, apa yang dilakukan Rasulullah saw itu tentu bukan karena beliau sekadar ingin membagi kebaikan semata, tetapi mungkin karena beliau melihat ada karakter berbeda yang dimiliki masing-masing keluarga. Maka beliau pun memberikan tugas sesuai dengan karakter yang mereka miliki.

Abu Mahdzurah yang berasal dari keluarga Al Jamahi mungkin memiliki karakter suara yang indah sehingga kewenangan adzan di Masjidil Haram diberikan kepada mereka. Keturunan Hasyim mungkin memiliki kedermawanan yang luar biasa sehingga diberikan kewenangan memberi minum kepada jamaah haji. Dan keluarga Abdid Daar diberikan hak menjaga dan memelihara Ka’bah karena mungkin mereka memiliki fisik yang kuat, amanah dan kesetiaan yang istimewa.

Tugas-tugas kebaikan yang mereka dapatkan selain sebagai apresiasi atas kekhususan mereka, juga memberikan kebahagiaan batin tak tergantikan. Kebaikan itu terus mereka wariskan kepada anak-anak mereka, sebagai sebuah kebanggaan dan kepuasan hati, serta keberartian diri kepada orang banyak. Satu bukti yang masih tersisa hingga detik ini, di lingkungan Masjid Nabawi sebuah keluarga mewarisi adzan dari waktu yang sudah cukup lama. Meskipun di antara keluarga ini bergelar doktor dan berprofesi sebagai dosen, namun begitu masuk waktu shalat tak ada rasa segan di hati untuk melantunkan adzan.

Ada lagi keluarga di sekitar Masjid Nabawi, yang setiap tahun setia menyediakan beraneka penganan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa di sepanjang Ramadhan. Bahkan biasanya berlanjut pada puasa enam hari di bulan Syawal. Penganan-penganan itu, jika dinilai secara harga.barangkali cukup mahal, padahal mereka bukanlah dari keluarga-keluarga kaya. Ketika ditanya bagaimana melakukan itu, mereka mengatakan, kami harus menabung; menyisihkan rejeki selama sebelas bulan. Lalu uang yang terkumpul, semua khusus dibelanjakan untuk memberikan ifthar kepada orang-orang yang berpuasa.

Subhanallah. Sebuah karakter kedermawanan luar biasa yang diwarisi secara turun temurun. Mereka melakukan itu tanpa beban, karena menemukan kepuasan batin tak tergantikan. Mungkin kisah-kisah tadi bisa kita jadikan sebuah inspirasi untuk coba mengenal karakter keluarga kita masing-masing. Bahwa keluarga kita juga memiliki karakter-karakter unik yang mungkin sekarang sudah mulai luntur. Dan tentu sangat baik jika kita berusaha menguatkannya kembali, sehingga orang-orang yang pernah merasakannya, mengingatkan mereka pada keluarga-keluarga kita terdahulu.

Karakter Keluarga dan Tokoh Utama yang Siap Berkorban

Karakter khusus yang sudah menjadi ciri atau identitas sebuah keluarga, tidak cukup hanya dirasakan atau dibanggakan sebagai "warisan" berharga. Potensi itu perlu dibangun, diasah, dan dikembangkan supaya tidak beku dan hilang sia-sia. Diperlukan sebuah martir untuk mendorong kekuatan itu agar dapat maksimal dan melahirkan manfaat yang besar. Peran itu bisa dilakukan oleh siapa saja dalam keluarga, tetapi tentu dibutuhkan seorang yang lebih mengerti dan konsisten dalam melakukannya.

Dalam banyak kisah sejarah, orang tua adalah kekuatan martir yang paling dahsyat, terutama seorang ibu. Menurut seorang pengamat SDM, perilaku menunda-nunda pekerjaan berkaitan erat dengan kebiasaan seseorang. Perilaku ini berhubungan dengan kebiasaan diri sewaktu masih dalam pengasuhan orang tua. "Mereka yang dibiasakan manja, serba mudah, dibesarkan tanpa tantangan hidup dan tak ada pendisiplinan, terutama terkait penyelesaian kewajiban akan terbawa menjadi kebiasaan."

Meskipun seorang anak lahir dari keluarga yang punya karakter kuat dan berdisiplin, namun ketika potensi itu tidak dibina dengan baik, maka yang akan tumbuh adalah seorang laki-laki lemah jiwa dan manja, bukan laki-laki kuat dan pemberani. Karena itulah barangkali ketika satu hari beberapa perempuan mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Ya Rasulullah. Kaum lelaki kembali dengan membawa pahala perjuangan di jalan Allah; sedang kami tidak mempunyai cara untuk dapat seperti mereka?" Beliau menjawab, "Jangan takut, tenanglah kalian! Mengurus rumah tangga kalian dengan sungguh-sungguh dapat mengejar pahala syahid di jalan Allah seperti mereka."

Seorang sahabiyah bernama Al Khansa melakukannya. Dengan kesabaran dan ketakwaannya yang mantap, dia mendidik anak-anaknya dengan baik. Pada saat terjadi perang Qadisyiah, dia datang bersama keempat anaknya untuk ikut bergabung bersama kaum muslimin. Mereka dibekali dorongan dan semangat dengan kata-kata yang menyala-nyala, "Wahai putra-putraku! Kalian masuk Islam dengan penuh kesadaran. Kalian berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia. Kalian adalah empat bersaudara dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak akan mencampuri kehormatan kalian, tetapi kalian telah mengetahui, apa yang dijanjikan bagi kaum Muslimin yang memerangi kaum kafir. Sadarilah! Kehidupan akherat lebih kekal dan lebih baik dari kehidupan dunia yang sementara ini. Bulatkan tekad dan kesabaran kalian. Bertakwalah kalian selalu agar apa yang kalian inginkan berhasil. Wahai putra-putraku! Jika kalian lihat api peperangan telah berkecamuk dan menjadi dahsyat, masuklah dengan semangat yang menyala-nyala. Di sanalah kalian akan menemukan kemuliaan dan kehormatan di alam abadi dan kekal."

Berbekal semangat yang dipompakan ibunya itu, keempat anak Al Khansa pun berangkat ke medan perang dengan iman dan keberanian. Tujuan mereka satu; mencari syahadah, dan itu pun diperolehnya. Mereka gugur dalam pertempuran. Sementara umat Islam memperoleh kemenangan, Al Khansa menerima kabar gugurnya keempat putranya. Tapi ia bersabar, bahkan kebanggaan tumbuh dihatinya melihat putra-putranya menjadi syuhada dalam pertempuran besar itu. Dia berkata, "Alhamdulillah! Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku mengharap semoga Allah mengumpulkan aku dengan mereka di dalam rahmat-Nya kelak."

Al Khansa adalah ibu yang berhasil mewariskan karakter pejuang kepada putra-putranya sehingga menjadi mujahid yang tangguh, rela mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk kejayaan dan ketinggian Islam.

Masih banyak contoh lain para ibu yang berhasil menghantarkan putranya menjadi ilmuwan bahkan mujtahid. Diantaranya, Ibu Imam Abu Hanifah, Ibu Imam Syafi’i, Ibu Imam Ahmad bin Hambal dan Ibu Imam Bukhari. Keempat imam ini ditinggal wafat ayahnya sejak kecil. Ibunyalah yang memelihara dan mendampingi mereka hingga besar. Mereka memiliki daya hafal yang tinggi sejak kecil. Di usia mudanya, mereka sudah menguasai bahasa Arab dan seluk beluknya, hafal ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi, serta sangat gemar menuntut ilmu. Memang untuk menguasai banyak ilmu mereka belajar dari banyak guru. Belajar bahasa Arab ke beberapa orang guru, fikih ke beberapa orang guru, dan hadits Nabi ke beberapa orang guru. Tapi, ibu-ibu merekalah yang telah manjadi martir pelecut semangat, sehingga anak-anak mereka gemar menuntut ilmu dan tidak kenal lelah.

Karakter Keluarga; Tradisi Keilmuan dan Kesinambungan Spiritual

Di Mauritania, negara Islam yang terletak di pantai Atlantik di Afrika Barat ini, terdapat satu suku kecil bernama Syinqithy. Suku ini memiliki tradisi unik dan luar biasa yang tetap bertahan hingga kini, yaitu mereka membiasakan anak-anak kecil menghafalkan Al Qur’an, hadits, syair-syair, dan ilmu-ilmu agama. Tradisi ini menjadikan mereka terkenal sebagai penghafal yang tak tertandingi. Kemampuan mereka tidak hanya sanggup menghafalkan Al Qur’an secara utuh dan sempurna, namun kitab-kitab lain yang lebih tebal dan rumit bahasanya sekalipun juga mereka hafalkan. Sebagai contoh, karena mereka bermadzhab Maliki maka Al Muwaththa’, kitab hadits yang ditulis oleh Imam Malik yang menghimpun 1844 hadits, menjadi kitab kedua yang mesti dihafalkan setelah Al Qur’an.

Begitu besarnya perhatian mereka terhadap budaya menghafal ini, sehingga seseorang akan merasa tersisih dari lingkungannya jika tidak melakukannya. kannya. Misalnya, seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahun tetapi belum hafal Al-Qur’an, ia akan dilarang keluar rumah karena menjadi aib bagi keluarga, dan anak itu dengan sendirinya akan malu bergaul bersama teman-teman sebayanya.

Tradisi menghafal ini tidak hanya ada di kampung halaman mereka di Afrika sana, tetapi di manapun berada hal itu tetap mereka lakukan. Orang-orang Syinqithy yang ada di Madinah, misalnya, meskipun suasana alam dan lingkungannya berbeda dengan kampung halamannya, namun mereka tetap mempertahankan tradisi itu.

Di salah satu sudut Masjid Nabawi mereka punya tempat tersendiri untuk berkumpul. Di tempat itu, ketika pagi hari mereka duduk mendengarkan hafalan anak-anaknya, baik hafalan Al Qur’an, hadits, ataupun bait-bait syi’ir. Setelah anak-anak selesai, mereka kemudian berkumpul dan terkadang berada di tempat itu hingga larut malam. Apa yang mereka perbincangkan? Seorang mahasiswa Indonesia yang penasaran coba urun dengar obrolan mereka. Dan ternyata, mereka bertukar syi’ir. Tentu bukan sembarang syi’ir, tetapi syi’ir yang berkaitan dengan ilmu, seperti matan aqidah, ushul fiqh, nahwu, dan sebagainya dari kitab-kitab klasik. Terkadang mereka saling menasehati dengan lantunan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits. Seorang membacakan, sementara yang lain menyimaknya dengan penghayatan sambil mengucurkan air mata. Sungguh tradisi luar biasa yang diwarisi dari orang-orang tua mereka, dan masih tetap mereka pertahankan hingga sekarang.

Begitulah tradisi mereka menyimpan ilmu. Otak yang Allah berikan, mereka jadikan laiknya komputer penyimpan data. Kapan pun mereka membutuhkan ilmu itu, secepat kilat mereka dapatkan. Ilmu mereka luas, spritual mereka terjaga.

Akhirnya, di tengah budaya hidup yang tak ramah, di tengah fanatisme suku dan darah biru yang palsu, di tengah kondisi rumah tangga dan keluarga yang tak punya identitas, kita semestinya menyadari siapa diri kita. Dalam makna yang lebih mendalam: seperti apa karakter keluarga besar kita? Atau: karakter seperti apa yang ingin dibangun di tengah keluarga kita kelak?

Jawabannya, mungkin akan sangat tergantung pada paradigma yang tertanam dibenak kita. Setidaknya kita meyakini bahwa paradigma yang dibesarkan dibawah naungan hidayah-Nya, akan merangsang tumbuhnya karakter kebaikan. Karena, seperti sabda Nabi, jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, pasti Allah akan memulainya dengan membuatnya paham akan agama Allah. Wallahu’alam.

PROFIL PENDIDIK TELADAN

Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang, harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu. Sebagai contoh membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasalahan yang terkait dengan bangunan. Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional. Proses tarbiyah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah, karena tarbiyah berarti mempersiapkan manusia, membentuk dan memformatnya menjadi syakhsyiah (berkepribadian) muslimah da’iah setelah menghilangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.

Tarbiyah berarti berinteraksi dengan manusia makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks. Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusia dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya. Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiyah, bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus, latarbelakang ilmiah yang yang memadai, kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun, belum cukup untuk menjadi murobbi sukses. Mengingat mentarbiyah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional.
Definisi murobbi
Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiyah, murobi dengan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih muslih, yang memperhatikan aspek pemeliharaan [ar-ria’yah], pengembangan [at-tanmiah] dan pengarahan [at-taujih] serta pemberdayaan [at-tauzhif].
Fungsi murobbi dalam Al-qur’an

Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan fungsi murobbi, seperti di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151, Ali Imron ayat 164 dan Al-Jumu’ah ayat 2. Di dalam surat Al-Baqoroh ayat 151 Allah SWT. berfirman;

Artinya;

“Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul /Muhammad/ membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa-jiwa kamu, mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang kamu belum mengetahuinya”.

Di dalam ayat ini ada 3 poin penting yaitu; Rosul diutus kepada ummatnya sebagai murobbi /kama arsalna fikum rosulan minkum Rosul dalam melaksanakan fungsi tarbiyah dibekali manhaj dan penguasaannya yang benar dan utuh. [yatlu ‘alaikum ayatina]

Proses tarbiyah yang dilakukan rosul memperhatikan 3 aspek penting yaitu;

a. Mensucikan jiwa [wayuzakkikum] agar terbentuknya ruhiah ma’nwiah [mentalitas sepiritual].

b. Mengajarkan ilmu [wayu’allimukumul kitaba walhikmata] agar terbentuknya fikriah tsaqofiah [wawasan intelektual]

c. Mengajarkan cara beramal [wayu’allimukum malam takunu ta’lamun] agar terbentuknya amaliah harokiah [amal dan harokah].

Jika kita perhatikan ayat di atas, tazkiatun nafs [pembersihan jiwa] menjadi skala prioritas dalam proses tarbiyah sebelum memberikan wawasan intelektualitas dan berbagai aktivitas, karena perubahan dan perbaikan manusia arus dimulai dari perubahan dan perbaikan jiwa sebagaimana. firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11.

Artinya;

“sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan dirinya”.

walaupun murobbi tidak boleh mengabaikan sisi-sisi yang lainnya yaitu sisi intelektualitas dan aktivitas secara seirnbang dan berkesinambungan.
Fungsi murobbi dalam menjalankan proses tarbiyah

Murobbi dalam melaksanakan proses tarbiyah atas mutarobbi berfungsi sebagai;

1. Walid [orang tua] dalam hubungan emosional.

2. Syaikh [bapak spiritual] dalam tarbiyah ruhiah

3. Ustadz [guru] dalam mengajarkan ilmu

4. Qoid [pemimpin]dalam kebijakan umum da’wah.

Agar fungsi-fungsi ini dapat di perankan oleh murobbi maka murobbi dituntut untuk memenuhi kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses.

Kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses

Diantara kriteria dan sifat-sifat murobbi sukses sebagai berikut;

1. Memiliki ilmu.

Ilmu yang harus dimiliki seorang murobbi meliputi banyak cabang ilmu pengetahuan, diantaranya:

a. Ilmu syar’i; salah satu tujuan tarbiyah dalam islam menjadikan manusia agar beribadah kepada Allah ibadah baru akan tercapai hanya dengan ilmu syar’i. Yang dimaksud dengan ilmu syar’i di sini tidak berarti bahwa seorang murbbi harus alim di bidang ilmu syar’i atau sepesialis di bidang ulum syar’iah akan tetapi ilmu syar’i yang harus dimiliki seorang murobbi adalahilmu syar’i yang dengannya ia mampu membaca, membahas dan mempersiapkan terna-terna syar’i serta memiliki ilmu-ilmu dasar yang kemudian ia dapat mengembangkan potensi syar’inya dengan semangat belajar.

b. Ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai murobbi tentang situasi dankondisi zaman dan masyarakatnya.

c. Psikologi, seperti karakter manusia sesuai dengai usianya; anak-anak, remaja, dan orang dewasa, tentang motivasi naluri dan potensi manusia serta membaca tulisan-tulisan dan kajian-kajian tentang kelompok masyarakat yang dibutuhkan dalam proses tarbiyah. Ini tidak berarti seorang murobbi harus psikolog atau ahli di bidang ilmu pendidikan, akan tetapi yang diperlukan murobbi adalah dasar-dasar umum ilmu jiwa dan memiliki kemampuan memahami hasil kajian dan penelitian di bidang ini.

d. Mengetahui kesiapan, kemampuan dan potensi mutarobbi, dalam hal ini Rasul SAW. murobbi yang sangat tahu tentang kondisi, potensi, kesiapan dan kemampuan mutarobb, sebagai contoh ketika Rosul memberikan sarannya kepada Abu Dzar al-Gifari di saat ia minta jabatan kepada rosul dalam sabdanya

’Wahai Abu Dzar saya lihat kamu dalam hal ini lemah, dan saya mencintai kamu seperti saya mencintai diri saya sendiri, kamu tidak layak untuk memimpin banya dua orang sekalipun dan tidak mampu mengelola harta milik anak yatim”.[H.R Muslim].

e. Mengetahui lingkungan di mana mutarobbi berada/tinggal, karena lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kepribadaian [mutarobbi], pengetahuan tentang lingkungan mutarobbi sangat penting bagi mutarobbi sebagai bahan dalam proses tarbiyah.

2. Murobbi harus lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi; dalam proses tarbiyah terjadi timbal balik antara murobbi dan mutarobbi, terjadi proses memberi dan mengambil menyampaikan dan menerima, oleh karenanya murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbi, tidak berarti murobbi harus lebih tua dari mutarobbi sekalipun faktor usia penting akan tetapi yang lebih penting kemampuan, pengalaman dan keterampilan murobbi harus lebih tinggi dari mutarobbinya. Karenanya Rosul orang memiliki sifat-sifat di atas semua manusia di berbagai sisi.

3. Mampu mentransformasikan apa-apa yang dimiliki; banyak orang orang besar yang tidak mampu memberikan dan menyampaikan apa-apa yang dimilikinya, karenanya ia tidak dapat mentarbiyah, walaupun memiliki kelebihan dari sisi ilmu pengetahuan, moralitas, mentalitas dan emosional, akan tetapi karena alasan tertentu mereka tidak mendapatkan pengalaman lapangan khususnya di medan tarbiyah ia hanya memiliki wawasan teoritis tidak memiliki pengalaman praktis. Orang-orang seperti ini sering dijumpai di acara-acara umum seperti kajian ilmiah, seminar, dialog wawancara dan lain-lainnya mereka pandai berbicara, kuat argumentasinya dan penyampaian materinya menarik, tapi semua itu belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu mentarbiyah. Sering kali kita terpesona dengan orang-orang seperti itu bahkan menganggap mereka memiliki potensi tarbiyah yang paling baik tanpa melihat sisi-sisi yang lain.

4. Memiliki kemampuan memimpin [al-qudroh ‘alal qiyadah]; kemampuan memimpin menjadi salah satu kriteria asasi bagi murobbi.dan tidak semua orang memilki kemampuan ini, ada orang yang dapat mengambil keputusan managerial, dan ada pula yang mampu memanage perusahaan atau yayasan, akan tetapi qiyadah [kepemmpinan] lebih dari itu, khususnya proses tarbiyah tidak bisa dipaksakan, jika militer atau penguasa dapat menggiring manusia dengan tongkat dan senjata maka seorang yang tidak memiliki kemampuan memimpin tidak akan bisa mentarbiyah orang lain.

5. Memiliki kemampuan mengevaluasi [al-qudroh ‘alal mutaba’ah]; proses tarbiyah bersifat terus menerus dan berkesinambungan tidak cukup denan arahan-arahan sesaat dan temporer dan tarbiyah membutuhkan evaluasi yang berkesinambungan.untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses tarbiyah maka evaluasi suatu hal yang tidak boleh diabaikan.murobbi mengevaluasi dirinya, manhaj, sarana, media, metoda dan mutarobbi secara intensif dan integral.
6. Memiliki kemampuan melakukan penilaian [al-qudroh ‘alat taqwim]; taqwim dalam proses bagian yang tidak terpisahkan dari tarbiyah itu sendiri, murobbi harus melakukan penilaian terhadap;
a. Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui kemampuannya, agar murobbi dapat mentarbiyah sesuai dengan keadaannya.
b. Menilai peserta tarbiyah untuk mengetahui sejauh mana pencapaian muwasofat pada dirinya dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kesehariannya.
c. Menilai program, tugas dan kendala serta solusinya.
d. Menilai permasalahan tarbawiah untuk ditangani secara profesional dan proporsional.
Taqwim yang dilakukan oleh murobbi harus dilakukan secara ilmiah dan obyektif dengan berpegang pada kaidah-kaidah taqwim yang telah baku, bukan kesan pribadi atau emosional.
7. Memiliki kemampuan membangun hubungan emosional [al-qudroh ‘ala binaal-‘laqoh al-insaniah]. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah, maka murobbi yang tidak menanamkan kasih sayang dan kecintaan ke dalam jiwa mutarobbinya, bisa dipastikan bahwa semua pelajaran dan pesan-pesannya yang disampaikan kepadanya akan berakhir dengan berakhirnya kata-kata murobbi dan tidak akan masuk kedalam hati, apa lagi untuk menjadi ilmu yang mengkristal di dalam jiwa. Allah SWT.telah mengingatkan didalam surat Ali Imron ayat 159:
”Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadqp mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah ampunan hagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya”.
Penutup
Proses tarbiyah adalah pekerjaan yang tidak mudah, oleh karena itu diperlukan kesiapan dan persiapan. Dengan dilandasi dengan pemahaman yang utuh tentang makna tarbiyah, insya Alloh akan terbentuk pribadi-pribadi muslim yang syamilah mutakamilah. Disinilah peran seorang murobi diperlukan yang diharapkan mampu menjalankan fungsinya sebagai walid, syeikh, ustadz ataupun qoid. Semoga Alloh SWT memberikan kekuatan dan bimbingan kepada penerus dakwah ini.

BERDAKWAH DG BAHASA HATI

Terkadang kita terjebak pada keangkuhan intelektual kita dalam menyampaikan dakwah ini. Seolah-olah obyek dakwah yang kita dakwahi akan terpesona dan mengikuti dakwah ini berdasar ribuan argumentasi yg kita kemukakan. Padahal sejatinya dakwah ini adalah menyentuh hati, karena di hati inilah nanti hidayah Allah akan dicurahkan sehingga dia akan turut serta bersama lingkaran dakwah ini. Oleh sebab itu Allah me"ralat" do’a nabi Ibrahim dalam surat Al Baqarah yg mengedepankan tu’alimunal kitab dari pada tuzakkihim, Allah meluruskan dalam surat Al-Jumu’ah dengan terlebih dahulu mengedepankan Tuzakkihim baru tu’alimunal kitab. Dari sini kita bisa ambil hikmahnya betapa sentuhan hati itu lebih utama dari pada transfer pengetahuan, sebab kalo hati masih tertutup maka pengetahuan dan argumentasi sehebat apapun jadi nihil atau bahkan jadi bumerang yg membuat mereka semakin jauh. Alih-alih dia ingin dekat dengan kita malah dia semakin jauh karena sikap kita.

Ikhwani fillah, kadang yang terlihat secara kasat mata, dia berseberangan secara pemikiran bahkan ideologi dengan kita, namun dengan mata hati kita bisa melihat betapa dekatnya kita dengan obyek dakwah kita. Tak ada bahasa apapun di dunia ini yang bisa mengalahkan bahasa kasih sayang dan cinta kasih. Hati mana yg tidak luluh oleh ketulusan cinta dan kasih sayang yg kita siramkan di hati obyek dakwah kita setiap hari. Meskipun awalnya dia begitu membenci dan memusuhi kita, tidak mustahil batu yg begitu keras akan lunak juga oleh tetesan air setiap hari. Mungkin masih segar di ingatan kita tentang sirah Rasul yg dengan bahasa kasihnya menyebabkan seorang kafir Quraisy yg tiap hari melempari kotoran ke tubuh beliau akhirnya masuk Islam, hanya karena rasulullah menjenguk dia tatkala sakit. Itulah bahasa kasih, yg tak perlu logika dan argumentasi, yg tak butuh ribuan dalil dan ratusan hujjah. Demikianlah kekuatan hati, kekuatan yg bisa menembus relung yg tak bisa dijangkau kekuatan manapun di dunia ini dengan izin Allah SWT. Asy-Syahid Sayyid Qutb telah menunjukkan bukti tentang kekuatan ini, sebelum beliau syahid di tiang gantungan, beliau sempatkan berdakwah lewat hati dengan sebuah senyuman pada sang Jagal. Yang akhirnya sang Jagal menerima dakwah ini hanya karena begitu sulit melupakan senyuman manis dari sang Syahid Sayyid Qutb. Senyuman yg berasal dari hati yg paling dalam yg berhulu pada mata air cinta kasih kepada sesama insan yang ditaburi oleh nur Ilahi sehingga akhirnya mampu bermuara pada hati yg kering dan tandus yg butuh air kasih dan hujan nur Ilahi.
Ikhwani fillah, masing-masing kita punya hati, yg dibekali Allah untuk menemukan hati-hati lain yang menunggu siraman kasih dan curahan cinta Ilahi dari hati kita. Maka marilah kita berikan hati kita untuk kita curahkan cinta kita, perhatian kita, kasih sayang kita pada mereka obyek dakwah kita, sehingga kita seperti gambaran Allah dalam surat Ibrahim ayat 14:
" …Seperti pohon yg akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit, yang memberi buah bagi orang yg lewat disekitarnya, dan menyenangkan bagi orang yg memandang dan berteduh dibawahnya……"

Wallahu’alam bisshowab