Jumat, 30 Mei 2008

THAGHUT SIAPA DIA?

Thaghut adalah ilah-ilah palsu, tuhan-tuhan bathil. Bentuk-bentuk thaghut itu bermacam-macam. Diantara thaghut-thaghut itu adalah:

Jin

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6)

Jin adalah makhluq ciptaan Allah yang jasmaninya dibuat dari api. Sebagian manusia meminta bantuan dan perlindungan kepada jin-jin yang mereka anggap dapat memberi perlindungan dan segala permintaan mereka. Jin sering dianggap sebagai penunggu atau pun penguasa suatu tempat. Dia dianggap memiliki kekuatan untuk melindungi atau mendatangkan rizqi. Padahal semestinya hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan dan memohon perlindungan.

Arca, Manusia, dan Dewa

(Yusuf berkata:) Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama (berhala) itu (untuk disembah). Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 39-40)

Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa arca berhala itu merupakan patung dari orang-orang terdahulu yang shalih, atau berpengaruh, atau pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemudian mereka mengangkat orang-orang tersebut sebagai tuhan atau pun dewa. Mereka beranggapan bahwa untuk menyembah Tuhan Pencipta haruslah melalui tuhan putera atau pun manusia titisan Tuhan seperti Yesus, Firaun, Horus, dsb. Padahal segala ibadah itu semestinya ditujukan kepada Allah secara langsung.

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka, (QS. An-Nisa`: 117)

Hawa Nafsu

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (QS. 25:43)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. 45:23)

Termasuk dalam golongan penyembah hawa nafsu adalah orang-orang atheis seperti Darwinis, Evolusionis, Buddhis, Komunis, Marxis, dsb.

Benda Alam

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. Fushshilat:: 37)

Benda alam seperti batu, bintang, matahari, bulan, pohon, gunung, semua itu adalah ciptaan Allah. Walau matahari tampak begitu perkasa, tetapi keperkasaannya berasal dari Yang Mahaperkasa, yaitu Allah SWT. Maka hendaknya kita tidak menyembah benda alam tersebut, akan tetapi sembahlah Allah Yang Menciptakan itu semua.

Anehnya, ada orang-orang yang sudah melek tekhnologi, tetapi masih saja menyembah matahari. Mungkin merupakan tugas bagi saudara-saudara kita di Jepang untuk menyampaikan aqidah Islam kepada orang-orang yang belum terbebaskan dari ajaran-ajaran bathil tersebut.

Antara Jalan Islam dan Jalan syaitan

idak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)

Agama Islam melandaskan syariatnya kepada firman Allah dan sabda Rasulullah SAAW. Sabda Rasulullah SAAW yang mengandung syariat itu sendiri sebenarnya tidak keluar atas kehendak beliau sendiri, melainkan atas kehendak Allah yang telah mengutusnya. Jadi, Syari’ atau Pembuat syariat sesungguhnya adalah Allah.

Namun muncul suatu kaum yang mengagung-agungkan ustadz-ustadz mereka. Seakan-akan ustadz-ustadz mereka yang telah menyempal dari jama’ah mayoritas ummat Islam itu tidak akan tersesat. Padahal jaminan keselamatan itu tidak terletak pada para penyempal, melainkan pada jama’ah mayoritas ummat Islam.

Mereka telah menjadikan ustadz-ustadz mereka sebagai syari. Jika ustadz mereka berkata bahwa maulid itu bid’ah, maka mereka pun berkata demikian. Jika ustadz mereka berkata bahwa matahari itu mengelilingi bumi, maka mereka pun turut. Padahal apa yang dikatakan ustadz-ustadz mereka itu muncul dari kejahilan dan rusaknya cara berfikir. Maka jahil dan rusak pula orang-orang yang mengikuti ustadz-ustadz itu.

Bagaimana tidak dikatakan rusak dan jahil, sedangkan pemikiran mereka berbeda dengan Al-Qur’an dan Hadits? Contohnya, mereka katakan bahwa merayakan maulidur Rasul itu bid’ah karena Nabi tidak pernah merayakan hari lahir beliau. Pendapat ustadz mereka itu jelas bertentangan dengan sabda Nabi yang tercantum pada hadits shahih.

Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]

Memuji Rasul pun mereka anggap bid’ah. Padahal beliau telah dipuji dengan berbagai pujian, sifat dan gelar, misalnya uswatun hasanah, al-amin, al-musthofa, nabiyur rohmah, ro-ufur rohim, sayidun nas, ulul azhmi, dll. Bahkan nama beliau bermakna ‘yang terpuji’.

Apakah berlebihan jika kita menyebut Nabi sebagai ‘yang terpuji’? Nyatanya tidak. Apakah berlebihan menyandarkan sifat Allah Ro-ufur Rohim kepada Nabi? Nyatanya tidak. Bahkan Allah sendiri yang telah menyifatkan bahwa Nabi itu ‘bil-mu-minina ro-ufur rohim’. Allah juga yang telah berfirman, “Qod ja-akum minallahi nur, sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah.” Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai cahaya yang menerangi langit dan bumi, itu berarti bahwa beliau SAAW adalah matahari bagi alam semesta. Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai cahaya di atas cahaya. Karena beliau itu lebih bercahaya dari bintang manapun. Cahaya beliau akan tetap bersinar, walau bintang-bintang telah padam.

Namun para penyempal itu mengatakan bahwa memuji Nabi Muhammad SAAW itu merupakan sikap ghuluw. Ketahuilah bahwa yang ghuluw itu adalah mereka yang mengidolakan para penyempal ekstrim yang menghalalkan darah kaum muslimin. Jika Anda melihat sejarah mereka dengan seksama, tentu Anda akan melihat betapa ekstrimnya mereka itu.

Tahukah Anda bagaimana Allah mengajarkan malaikat cara memulyakan Nabi Adam as? Apakah dengan menyuruh mereka agar mencium tangan Nabi Adam as? Bukan. Tetapi Allah mengajarkan para malaikat untuk memulyakan Nabi Adam as dengan menyuruh mereka agar bersujud kepada Nabi Adam as. Apakah hal itu ghuluw? Tidak. Begitulah yang Allah ajarkan. Sujud tersebut adalah lit-ta’zhim (untuk mengagungkan), bukan lit-ta’bud (untuk menyembah).

Allah telah mengajarkan bagaimana cara memuji dan memulyakan Nabi Muhammad SAAW yang lebih mulya dibanding semua makhluq Allah. Apakah hal itu ghuluw? Ingatlah oleh Anda bahwa hanya Iblis saja yang enggan dan menolak untuk memulyakan Nabi Adam as dengan cara yang Allah ajarkan!

Para penyempal itu menyebut kitab rawi maulid sebagai kitab bid’ah karena berlebihan dalam memuji Rasulullah SAAW. Padahal pujian yang terkandung didalamnya masih sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Saya khawatir, jangan-jangan setiap kali para penyempal itu membaca Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128 dan yang semisalnya, bukannya pahala yang mereka dapat, malah laknat dari apa yang mereka baca itu yang mereka terima.

Global Warning

Dan apabila lautan dipanaskan, (QS. At-Takwir: 6)
Dan apabila lautan dijadikan meluap, (QS. Al-Infithar: 3)

Menurut kami, global warming (pemanasan global) merupakan global warning (peringatan global) bahwa dunia ini semakin mendekati ‘ajalnya’. Seperti judul film Bang Dedi Mizwar, Kiamat Sudah Dekat. Itu adalah benar. Sebagaimana telah diperingatkan oleh Al-Qur`an, bahwa salah satu tanda semakin dekatnya kiamat adalah ketika lautan dipanaskan hingga airnya meluap. Maka, perbaikan secara lahiriah saja tidaklah cukup, tetapi juga perbaikan secara rohani.

Orang zaman sekarang berfikirnya agak sempit. Mereka berfikir bahwa dengan membagikan -maaf- kondom, maka masalah AIDS bisa dikurangi. Padahal Allah menurunkan AIDS bukan karena manusia malas menggunakan -maaf- kondom. Allah menurunkan AIDS karena manusia itu melakukan perzinahan. Begitu juga dengan global warming, hal ini bukan semata-mata karena manusia melakukan hal-hal yang merusak ozone, tetapi juga karena manusia banyak yang melakukan kerusakan akhlaq, sehingga Allah membiarkan alam ini tidak ‘memperbaiki dirinya’. Seandainya manusia melakukan perbaikan pada dirinya, tentu Allah akan memerintahkan alam ini untuk memperbaiki dirinya pula.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf: 96)

Lihatlah, Allah berjanji bahwa jika kita beriman dan bertaqwa, tentu Allah akan memperbaiki alam ini hingga kita hidup dalam kebaikan semata. Allah sanggup mengubah tanah tandus menjadi tanah subur nan hijau. Dan tak ada manusia yang bisa menghalangi kehendak Allah jika Dia telah berkehendak. Manusia tidak akan bisa merusak apa-apa yang Allah kehendaki untuk tetap baik. Dan manusia juga tidak dapat memperbaiki apa-apa yang Allah kehendaki untuk menjadi rusak.

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. Al-A’raf: 57)

Seandainya perbaikan alam ini disertai dengan perbaikan iman dan taqwa, tentu manusia akan menemui bahwa janji Allah itu pastilah benar.

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ar-Ra’d: 31)

Menyedihkan

MENYEDIHKAN! Kata itulah yang bisa diterapkan pada sebagian remaja kita. Remaja kita tengah berada di persimpangan jalan. Mereka gamang. Di satu sisi remaja harus menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan kecemasan-kecemasan atas perkembangan yang terjadi pada tubuh mereka, khususnya menyangkut pematangan organ-organ reproduksi yang seolah-olah asing baginya. Sementara di sisi lain, mereka juga tengah terseret oleh satu arus besar berupa pergeseran nilai-nilai global menyangkut paradigma atau cara pandang terhadap seksualitas. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan multimedia merupakan salah satu kendaraan yang mampu menyeret remaja kita pada pusaran revolusi nilai-nilai dan moralitas seksual tersebut.

Pada tahap remaja, bisa dikatakan perasaan seksual demikian menguat. Gejala tersebut tak bisa tidak harus dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda antara satu remaja dan remaja lain. Demikian pula kadar kemampuan mengendalikan gejolak perasaan seksual juga berbeda. Sayangnya, ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik-psikis-sosial akibat pubertas, masyarakat justru berusaha keras menyembunyikan segala hal tentang seks. Atau dengan kalimat yang lebih halus, masyarakat tidak mampu menjadi mentor yang membimbing remaja ke arah yang benar berkaitan dengan seks.

Akibatnya, remaja merasa ditinggalkan begitu saja dengan sejuta tanda tanya di kepala mereka. Pandangan bahwa seks adalah sesuatu yang tabu, telah sekian lama tertanam dan bersemanyam dalam moralitas ketimuran, membuat remaja enggan bersikap terbuka. Misalnya berdiskusi tentang segala aspek menyangkut seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja (KRR), baik dengan orang lain atau malah dengan saudara dan orang tua mereka. Mereka merasa tidak nyaman bila membahas persoalan seks.

Celakanya, di tengah tidak tersedianya sumber informasi yang akurat dan benar tentang seks dan KRR, untuk memuaskan keingintahuan mereka, para remaja justru bergerilya mencari akses dan eksplorasi diri lewat berbagai cara dan media. Ada yang lewat buku, majalah, film, obrolan dengan teman, atau lewat internet. Sayangnya, sumber informasi yang mereka dapat memberikan substansi yang salah dan menyesatkan. Buku, majalah, film, dan internet yang mereka akses cenderung bermuatan pornografi, bukan pendidikan seks. Remaja pun kemudian berubah, dari semula seorang yang mencari tahu apa itu seks, menjadi penikmat seks di media yang diaksesnya.

Karena seks hampir sama dengan candu, para remaja yang kebetulan berada pada usia penuh gejolak pun terus dilanda kecanduan seks. Mereka terjebak dan ketagihan oleh materi di buku, majalah, atau film porno yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa diimbangi suatu sikap tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang bakal mereka hadapi. Situs-situs porno di internet pun seolah menjadi “lokasi hiburan” para remaja dalam memuaskan hasrat seksualitasnya. Meski saat ini aktivitas situs porno baru mencapai 2-3% saja dari total pengguna internet, kecenderungan remaja untuk membuka internet karena ingin mengakses ke situs porno tetap harus menjadi hal yang perlu diwaspadai.

Kalau saja berbagai tindakan keliru dalam mencari sumber referensi mengenai seks itu tidak diikuti oleh perbuatan — dalam pengertian melakukan aktivitas dan praktik seksualitas — kekhawatiran kita tidak terlalu besar. Persoalannya, bersamaan dengan maraknya perbuatan mencari sumber informasi itulah, praktik-praktik seksualitas di luar “jalur legal” kian memprihatinkan. Berdasarkan data UNICEF, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu, kini sudah mulai berani melakukan hubungan seks di usia dini, yakni 13-15 tahun. Memang hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pranikah belum terlampau banyak dilakukan. Misalnya di beberapa daerah seperti Jateng, Jatim, Jabar, dan Lampung angkanya baru berkisar 0,4% - 5%. Di daerah perkotaan Jawa Barat angkanya mencapai 1,3% dan pedesaan 1,4%, sedangkan Bali angkanya 4,4% di perkotaan dan 0% di pedesaan.

Namun demikian, beberapa penelitian lain menemukan jumlah remaja yang melakukan seks pranikah jauh lebih fantastis. Misalnya saja hasil survei dasar KRR yang dilakukan BKKBN Jabar terhadap 288 responden usia 15-24 tahun di enam kabupaten di Jabar pada Mei 2002 diperoleh data sekira 39,65% remaja Jabar pernah melakukan hubungan seksual pranikah, sedangkan hasil survei BKKBN-LDFE UI memperlihatkan di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus aborsi per tahun dan sekitar 21%-nya dilakukan oleh remaja, angka penyakit menular seksual (PMS) pada remaja mencapai 4,18%, 50% dari jumlah penderita HIV/AIDS di Jabar berusia sekisar 15-29 tahun dan pengguna narkoba mencapai 2.736 orang.

Data yang membuat para orang tua ”merinding” ini bisa jadi menunjukkan angka lebih besar, karena memang yang muncul ke permukaan hanyalah segelintir. Bayangkan jika para remaja kita yang terkena HIV/AIDS itu kelak berhubungan seks dengan orang yang sehat, berapa banyak mereka yang akan tertular penyakit yang menyerang daya imunitas seseorang itu.

Menurut sejumlah pakar, angka-angka hasil penelitian berbagai lembaga tersebut cenderung memperlihatkan fenomena “gunung es” dengan kaki gunungnya terbenam di bawah samudera. “Angka hubungan seksual sebelum nikah, kehamilan tak diharapkan, penggunaan narkoba, pengidap AIDS/HIV, dan kasus-kasus aborsi di kalangan remaja menunjukkan gejala yang cukup mengkhawatirkan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Jabar Drs. Suryadi Danuwisastra.

**

KELALAIAN untuk menanggapi kebutuhan remaja akan informasi tentang KRR dan seks yang bertanggung jawab ternyata berbuah pahit. Begitu populernya perilaku berisiko, begitu banyak korban berjatuhan, begitu tinggi biaya sosial yang harus kita bayar. Masa depan remaja yang terampas tentu saja tidak mungkin bisa dikembalikan oleh uang, betapa pun besarnya uang itu. Mengenai besarnya biaya atau beban sosial yang harus dibayar, bisa dilihat dari beberapa fakta di bawah ini.

Percaya atau tidak, angka statistik pernikahan dini — dengan pengantin wanita berusia di bawah 16 tahun — secara keseluruhan mencapai lebih dari seperempat dari total pernikahan. Bahkan di beberapa tempat, angkanya jauh lebih besar, misalnya Jatim 39,43%, Kalimantan Selatan 35,48%, Jambi 30,63%, Jawa Tengah 27,84%, dan Jawa Barat 36%. Di banyak daerah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. Padahal, pernikahan dini berarti mendorong remaja untuk menerabas alur tugas perkembangannya, menjalani peran sebagai dewasa tanpa memikirkan kesiapan fisik, mental dan sosial mereka.

Lantas, perjalanan apa yang bisa kita petik dari fenomena di atas? Tak lain, kekukuhan kita untuk terus mengingkari kenyataan bahwa remaja butuh pengetahun dan informasi yang benar tentang seks serta KRR telah menjerumuskan remaja ke dalam kondisi yang menjadikan mereka tidak berkualitas. Mereka menapaki jenjang kehidupan berikut berupa keluarga dengan bekal informasi yang salah. Akibatnya, lembaga keluarga yang mereka bangun pun tidak berkualitas, ayah dan ibu masih muda dan tidak siap menjadi orang tua. Mereka kemudian melahirkan anak-anak yang juga tidak berkualitas. Begitu seterusnya.

Sudah saatnya kita memperbaiki fungsi keluarga, yang barangkali untuk beberapa hal menunjukkan berbagai distorsi. Keluarga adalah segalanya, dengan ayah dan ibu yang bisa menjadi sumber pertama yang mampu memberi informasi mengenai seks kepada remaja secara benar dan tepercaya. Tentu saja, keluarga saja belum cukup. Peran sejumlah lembaga yang berkaitan dengan masalah pendidikan seks, konseling seks, dan KRR, tetap perlu dilibatkan. Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai agama sejak usia dini sambil terus memberikan pengertian dan penyadaran mengenai seksualitas dan KRR.

Remaja adalah mata rantai dalam pembentukan masa depan dan sejarah perjalanan bangsa. Remaja rusak berarti juga menyiapkan bangsa ini jadi rusak. Oleh karena itu, mereka harus diselamatkan sebab jika remaja kita berkualitas rendah, hal itu akan berakibat pada kehancuran bangsa. Untuk itulah kita para orang tua, juga para remaja hendaknya bersama-sama mencegah keadaan tersebut menjadi lebih gawat.

Memang tidak mudah, tapi juga tidak ada lagi alasan bagi orang tua untuk berleha-leha menghadapi anak-anak mereka yang sudah memasuki usia remaja

Al Wahn : Cintai Dunia Takut Mati

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Zaman terus bergulir menghampiri penghabisannya. Hadits-hadits nabi tentang datangnya akhir dari alam semesta semakin terpenuhi. Kita telah melihat bahwa ummat ini semakin mengikuti tingkah laku yahudi dan nashara.

Bukan hanya di mal-mal, bahkan di pasar-pasar tradisional, kita dapat melihat betapa ummat ini telah melangkah meninggalkan millah Islam dan terus saja mengikuti jejak yahudi dan nashara, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga ke lubang biawak pun mereka ikuti.

Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi yang sementara. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada. Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah?

Dari meninggalkan shalat itulah, ummat menjadi insan-insan yang mudah terjatuh kepada perbuatan keji dan mungkar. Narkoba dan minuman keras yang dulunya hanya diminum oleh orang-orang kafir, sekarang juga telah diminum oleh muslimin dengan penuh kebanggaan. Pembukaan aurat yang dulunya hanya dilakukan wanita-wanita kafir, kini juga dilakukan oleh muslimah dari yang muda hingga yang tua. Bahkan perzinahan di kalangan remaja pun menjangkiti para remaja muslim. Jika tahun baru dan valentine day tiba, hampir-hampir di muka bumi ini tidak tersisa lagi dari golongan Muhammad Rasulullah, kecuali sebagian kecil remaja yang meramaikan Masjid-Masjid dengan lafazh ‘Ya Allahu ya Allah’ untuk meredam musibah yang mungkin timbul akibat perbuatan sebagian besar ummat manusia yang terlena dalam kenikmatan duniawi di malam-malam tersebut.

Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.

Jika mereka memang rindu untuk berjumpa dengan Allah, tentu mereka beramal shalih dengan penuh keikhlasan dengan mengharapkan keridhoan dari Allah. Tentu mereka berusaha untuk menyenangkan Allah dan melayani-Nya sebagaimana mestinya seorang hamba. Tetapi kebanyakan kita telah menjadi hamba dari nafsu kita sendiri dan terus melayani nafsu sebagai tuannya. Dan nafsunya begitu cinta terhadap kehidupan duniawi.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

Inilah potret generasi kita, dimana ummat semakin terjangkit penyakit Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.

Selasa, 13 Mei 2008

KEDAHSYATAN SEDEKAH

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Suatu hari datanglah dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafadzkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.

Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkret kedua akhwat di atas, dengan penuh keyakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261). Seruan Rasul itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya Rasulullah, harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah". "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah SAW. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya Rasul, saya akan melengkapi (menyumbang) peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Kenapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan untuk bersedekah? Tiada lain karena mereka yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Sedekah adalah penyubur pahala, penolak bala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?".

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi".
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebihkuat dari pada besi?".
Allah menjawab, "Ada, yaitu api".
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat
dari pada api?".
Allah menjawab, "Ada, yaitu air".
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?," tanya para malaikat.
Allah pun menjawab, "Ada, yaitu angin".
Akhirnya para malaikat bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?".
Allah yang Mahagagah menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya"."

PINTU PINTU MASUKNYA SYAETAN

Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.

Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

1. Marah

Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

2. Hasad

Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

3. Perut kenyang

Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata:
Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya.
Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.
Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:
・ Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.
・ Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
・ Mengganggu ketaatan kepada Allah
・ Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
・ Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
・ Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani

4. Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga

Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.

5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan receck

Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT. Allah berfirman: ”Manusia diciptakan tergesa-gesa” dalam ayat lain dditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.

6. Mencintai harta

Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.

7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.

Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain.
Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.

8. Kikir dan takut miskin.

Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat).

Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.

9. Memikirkan Dzat Allah

Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah.

Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk.

Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.

Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya.
Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia

Sekarang bagiamana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela. Bila orang yang hatinya mamsih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)

Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun Cuma menghardiknya dengan ucapan kaita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:

Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)

Dalam ayat lain disebutkan:

Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)

Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.
Allab SWT berfirman :

Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37)

ETOS KERJA ISLAMI

Saudara-saudara Muslimin Yang Berbahagia,

Marilah kita senantiasa taqwa kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh ya’ni menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Salah satu perwujudan dari Taqwa adalah usaha kita menumbuhkan rasa tanggung jawab akan kewajiban-kewajiban hidup, termasuk didalamnya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari memenuhi kebutuhan keluarga sebagai pertanggungjawaban kepada Allah SWT.
Bekerja harus menurut kemampuan kita dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang digariskan Allah agar senantiasa memperluas ridho Allah SWT.

Jamaah Islam Yang Berbahagia,
Melalui mimbar jum’at ini khatib mengajak jama’ah untuk merenungkan kembali perlunya umat Islam mempunyai ETOS KERJA yang tinggi sebagai konsekwensi hamba Allah hidup di dunia ini.
Keinginan untuk memperoleh kekayaan merupakan fitrah dan kebutuhan dasar manusia. Dalam realitas social sering kali terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap fitrah itu. Hal ini terjadi karena disatu sisi manusia terlalu cinta terhadap harta dan menganggapnya sebagai segalanya, sedangkan persediaan tentang hal ini terbatas dan tidak sedikit orang yang suka mengambil jalan pintas atau menghalalkan segala cara. Disisi lain tidak sedikit pula orang yang keliru menyikapi kekayaan karena dianggap dengan mudah menjerumuskan manusia kepada Hubbud dunya atau gila harta dan melupakan Tuhan. Dari sikap kedua ini dapat melahirkan orang yang tidak respek terhadap kekayaan dan sekaligus apatis terhadap orang kaya.

Muslimin – Muslimat Yang bahagia,
Terlepas dari kekayaan orang akan menjadi congkak, sombong, kikir, suka memeras atau sebaliknya dengan kekurangan orang menjadi baik, pemurah dan penolong.
Dalam pandangan Islam kekayaan tetap penting bagi kehidupan dan eksistensi manusia karena dengan kekayaan orang menjadi berwibawa, mempunyai pengaruh, menguasai massa, memudahkan untuk dipercaya orang, dapat menentukan keputusan, dapat untuk berdakwah dan berjuang dijalan Allah SWT, atau demi kemanuasiaan membantu orang lemah, fakir miskin. Dari itu semua upaya untuk memperoleh kekayaan menjadi penting, manusiawi dan keharusan.
Harta adalah karunia Allah dan mencarinya adalah ibadah;

{10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ
مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ
وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(Al-Jumu’ah. 10)

Bertebaranlah kamu dan Carilah, Islam memberikan petunjuk agar didalam kegiatan mencari harta itu menjadi mudah dan menyenangkan serta tidak menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah; antara lain:

1. Kerja, motivasi seorang muslim dalam menjalankan hidup ini semata-mata dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzaariyaat: 56)

Islam mengajarkan bahwa hidup dan seluruh aspeknya termasuk bekerja niat karena Allah. Karena bekerja tidak saja memenuhi kebutuhan hidup tetapi sekaligus merupakan panggilan dan keharusan agama yang memiliki nilai atau makna sejajar dengan ibadah mahdah / ibadah dalam arti khusus atau merupakan bagian dari ibadah dalam pengertian seluas-luasnya.

Dengan demikian jelaslah Islam tidak menghendaki penghayatan agama yang mengarah pada pelarian diri dari kehidupan duniawi. Bahkan Islam mengajarkan asesi (accersion) duniawi yakni memakmurkan dan memajukan kehidupan dunia jangan tenggelam dalam kenikmatan semunya dunia.

2. Al Qur’an menegaskan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan kekayaan adalah dengan bekerja.

“Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain yang telah diusahakan”.(Al-Baqoroh: 202)

Rosul bersabda :
Artinya: sebaik-baik pekerjaan adalah usaha seseorang dengan usahanya sendiri (H.R. Ahmad dan Hakim).

3. Dalam hidup dan bekerja Islam mengajarkan betapa pentingnya berorientasi ke masa depan, kerja keras, teliti, hati-hati menghargai waktu, penuh rasa tanggung jawab dan berorientasi pada prestasi (achivement oriented) dan bukan prestasi semata-mata. (Prestice Oriented)

Oleh karenanya, sikap ethos yang selayaknya kita tanamkan dalam diri sebagai muslim :

a. Hidup harus punya cita-cita, seorang muslim berasumsi tentang kerja adalah bekerja yang direncanakan dan diperhitungkan masak-masak untung ruginya. Dengan konsekwensi agar hidup dihari esok lebih baik dari hari ini :
- lebih sejahtera
- lebih maju
Nasib manusia (secara perorangan / bersama-sama) akan ditentukan kuantitas ibadah termasuk kerjanya ketika berada di dunia.
“Setiap diri hendaknya memperhatikan apa yang akan dikerjakan hari esuk”.

b. Kerja santai, tanpa rencana, malas, boros tenaga, waktu dan biaya adalah bertentangan dengan nilai-nilai islamiah.
Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu dapat diisi dengan 3 hal :
- meningkatkeimanan
- beramal sholeh
- berkomunikasi sosial

Allah berfirman dalam surat dalam surat Al ‘Ashr:

@بسم الله الرحمن الرحيم
وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

c. Semua masalah yang menjadi tanggung jawabnya harus dihadapi dengan rasa tanggung jawab(responsibility) dan pemahaman perhitungan (accountability). Sanggup memegang amanat dengan kerelaan dan pantang menolak tugas karena apa yang kita kerjakan pada akhirnya akan kembali pada dirinya sendiri. Siapa menanam benih akan menuai buah.

d. Hidup menurut pandangan Islam harus memuat dan berpola kesederhanaan, tidak konsumtif dan tidak berlebihan tetapi tidak pula kikir.

Firman Allah SWT dalam Q.S AL HADIID: 24

Artinya: (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

e. Sebaik-baik pekerjaan adalah yang dikerjakan dengan sebaik mungkin, serapi mungkin. (Aksamu amala) sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada didalamnya dengan sebaik-baiknya.
Islam membolehkan bersaing sehat menuju kebaikan. Fastasbiquul khoiroot

Max Weber dalam: The Protestant Ethics and Spirit Capitalisme menyimpulkan bahwa semangat kapitalis didasari oleh ajaran protestan, maka semestinya orang Islam adalah orang yang paling bersemangat hidup, beretos kerja hebat dan prestasi tinggi dengan didasari ajaran Islam.

Demikian sekelumit tentang Etos Kerja sebagai seorang muslim agar hidup kita sukses didunia dan diakhirat. Amin.

AMANAT

Sidang Jum’ah Rahimakumullah !

Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT, sebab kita yakin bahwa dengan taqwa kepadaNya, akan dapat memberikan dorongan menuju kearah perbaikan hidup dunia lahir batin dan dengan taqwa pula berarti kita mengharapkan rahmat Allah untuk keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Kita adalah manusia yang dijadikan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini banyak sekali mengemban amanah Allah dalam lingkungannya dengan apa yang disebut :

Sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak sekalian, apabila menetapkan hukum diantara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan yang adil. (An-Nisa : 58)

Adapun pengertian amanat adalah segala hak yang dipertanggung jawabkan kepada seseorang baik hak itu milik Allah maupun hak alami baik berupa pekerjaan, perkataan maupun kepercayaan hati.

Amanat itu juga merupakan segala hal yng dipertaruhkan kepada kita yang harus kita pelihara, kita laksanakan serta kita jalani baik baik berupa harta, kehormatan maupun berupa hak yang lain. Bahkan amanat melengkapi undang-undang yang Allah telah pertaruhkan dalam tangan kita dengan maksud agar kita menjaganya dan menyampaikannya kepada manusia secara universal.

Amanat dalam pandangan Islam cukup luas pengertiannya melambangkan arti yang yang bermacam-macam tapi semuanya tergantung kepada perasan manusia yang mengemban amanat tersebut. Oleh Islam mengajarkan kepada para pemeluknya agar memiliki hati kecil yang bisa melihat, bisa menjaga dan memelihara hak-hak Allah dan amal manusia dari yang berlebihan.

Islam mewajibkan kaum muslimin agar berlaku jujur dan dapat dipercaya, mengerti kewajibannya dengan jelas dan bertanggung jawab kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya tentang apa yang kamu pimpin” HR.Bukhori.

Hadits ini menjelaskan pertanggungjawaban yang dipikulkan di pundak setiap orang dalam kehidupan didunia ini. Tidak seorangpun dari setiap pribadi, kecil atau besar, tua atau muda melainkan ia harus bertanggungjawab atas amanat yang telah dipikulnya dan harus melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Serorang pemimpin, baik pemimpin tingkat apa saja adalah bertanggungjawab terhadap daerah (wilayah) yang ia pimpin. Ia berkewajiban menegakkan keadilan, mengembalikan hak bagi pemiliknya, menghormati kemerdekaan rakyatnya bermusyawarah dengan mereka dalam persoalan-persoalan yang menyangkut mereka, mendengarkan nasehat dan kritikan mereka demi baiknya roda pemerintahan, berusaha untuk memakmurkan mereka, mengusahakan lapangan kerja agar mereka tidak menjadi penganggguran, membuat jalan untuk memperlancar perekonomian dsb. Sebab Allah tidaklah menghancurkan suatu negeri manakala penduduknya itu orang-orang yang sholeh ya’ni orang-orang yang berbuat kebaikan sebagaimana dalam firman Allah :

“ Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan suatu negeri secara dholim, sedang penduduknya adalah orang-orang yang berbuat kebaikan”. Q.S. Hud : 117).

Diakhirat kelak para pemimpin itu akan diminta tanggung jawabnya oleh Allah tentang keadaan rakyat mereka sewaktu didunia. Apakah mereka bahagia atau menderita, makmur atau sengsara ? hendaklah para pemimpin selalu sadar dalam melaksanakan tugasnya sehingga tidak tergoda oleh bujuk dan rayu setan atau iblis yang menyesatkan.

Begitu juga seorang suami, istri, anak, buruh, karyawan dan lain-lainnya kelak akan diminta tanggung jawabnya diakherat terhadap apa yang pernah dilakukan selama mereka hidup di dunia ini.

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia

Setiap manusia baik besar maupun kecil, laki-laki atau perempuan, tuan atau pelayan, buruh atau keryawan seluruhnya adalah pemimpin yang memikul tanggungjawab di pundaknya masing-masing dan kelak diakherat Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban kita semua.
Apabila masing-masing orang melaks anakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya, maka akam membawa akibat yang baik pula bagi masyarakat dan negara. Dan kelak di akherat nanti akan mendapat perhitungan amal dengan cara yang mudah serta mendapat pahala disisi Allah SWT.
Akan tetapi manakala masing-masing berkhianat terhadap tanggung jawab, niscaya akan membawa kerusakan dan kehancuran bagi masyarakat dan negara. Dan di akherat akan mendapat hisab yang sulit dan siksaan di neraka, walaupun orang yang berkhianat itu dapat lolos dari kekuasaan hukum manusia atau hukum negara namun tidak akan lepas dari kumum Allah.
Allah Ta’ala berfirman :

“mereka dapat bersembunyi dari manusia, akan tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari penglihatan Allah” (An Nisa’; 108).

Maka dari itu untuk memenuhi arti amanah, hendaklah manusia selalu berlomba-lomba didalam menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan menyelesaikannya dengan tuntas.

MEMAHAMI AYAT AYAT ALLAH

Saudara-saudara kaum Muslimin sidang jum’ah Rakhimakumullah;

Al-Qur’an dan fenomena alam dinamai oleh al-Qur’an sebagai ayat-ayat Allah. Ayat berarti tanda atau rambu-rambu. Yakni tanda-tanda perjalanan menuju kebahagiaan dunia akherat.
Al-Qur’an al-Karim adalah kitab yang oleh Rasulullah saw. dinyatakan sebagai; “Tali Allah yang terulur dari langit ke bumi, di dalamnya terdapat berita tentang umat masa lalu, dan khabar tentang situasi yang akan datang. Siapa yang berpegang dengan petunjuknya dia tidak akan sesat”. Kitab suci ini juga memperkenalkan dirinya sebagai hudan li al-nas (petunjuk bagi seluruh umat manusia). Sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam al-Qur’an. Dari sini kitab suci al-Qur’an berfungsi sebagai mukjizat (bukti kebenaran), sekaligus kebenaran itu sendiri.
Lima belas abad yang lalu ayat-ayat Allah itu diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad saw.

Menurut orientalis Gibb, “ Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini, yang telah memainkan alat bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan yang demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya seperti apa yang dibaca oleh nabi Muhammad saw., yakni al-Qur’an”.

Bahasanya yang demikian mempesonakan, redaksinya yang demikian teliti, dan mutiara pesan-pesannya yang demikian agung, telah mengantarkan kalbu masyarakat yang ditemuinya berdecak kagum, walau nalar sebagian mereka menolaknya.
Nah, terhadap yang menolak itu al-Qur’an tampil sebagai mukjizat, sedangkan fungsinya sebagai hudan ditujukan kepada seluruh umat manusia, sekalipun yang memfungsikannya dengan sebagai hudan hanyalah orang-orang yang bertakwa. Firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 1-2;

Artinya; “Alif, lam, mim. Itulah (al-Qur’an) kitab yang sempurna, tiada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Baqarah : 1-2)

Kaum muslimin rahimakumullah
Ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya, telah terhampar jauh dan luas sebelum turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Ia juga sangat mempesonakan. Sedemikian mempesonakan sehingga banyak orang yang terpaku dan terpukau, bahkan berusaha menguasai dan meraihnya sebanyak mungkin. Sikap ini mengacu pada materialisme sehingga ayat-ayat itu tidak lagi dijadikan ayat atau tanda perjalanan, tetapi telah menjadi tujuan.

Siapa yang tidak terpesona melihat indahnya alam ini; gunung yang begitu tinggi dan besar menjulang, lautan luas tanpa batas dihiasai ombak yang tiada berhenti yang dipenuhi oleh ikan yang berwarna-warni, embun pagi disertai sinar matahari menyambut datangnya pagi yang diramaikan dengan kicau burung bernyanyi, sawah-ladang-dan hutan yang subur tanahnya, rimbun pohonnya membuat manusia ingin menguasainya. Sebetulnya semua itu merupakan sekedar tanda yang harus dibaca dan dipahami untuk mencapai kebahagiaan, bukan merupakan tujuan akhir.

Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau rambu-rambu lalu lintas demikian indah mempesonakan sehingga yang seharusnya menjadi tanda yang menunjuk ke arah yang dituju tidak lagi menjadi tanda dan petunjuk jalan, tetapi membuat si pejalan malah terpaku dan terpukau di tempatnya. Ia terpaku memikirkan untuk memperolehnya sebanyak-banyaknya.

Telah menjadi kebiasaan manusia, jika berpikir dan berbicara tentang dunia tidak pernah berhenti, sampai-sampai yang lainnya terlupakan. Padahal Allah menciptakannya hanya sekedar ayat atau tanda bagi manusia yang ingin mencapai kebahagiaan dunia akherat. Namun saying kebanyakan mereka terpukau dan terpaku pada keinginan menguasai tanda tersebut sebanyak-banyaknya, sehingga tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Manusia ingin menguasainya sebanyak-banyaknya, ia tidak merasa puas, inginya terus menambah dan hidup bermegah-megahan.
Allah melarang orang-orang yang hidup bermegah-megahan sehingga melalaikan Tuhannya. Firman Allah dalam Surat al-Takatsur ;

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ {1} حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ {2} كَلَّا سَوْفَ
تَعْلَمُونَ {3} ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ {4} كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ
عِلْمَ الْيَقِينِ {5} لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ {6} ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا
عَيْنَ الْيَقِينِ {7} ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ {8

Artinya; “Bermegah-megahan menyebabkan kamu melupakan Allah sampai masuk ke liang kubur. Jangan begitu nanti kamu akan mengetahui. Kemudian jangan begitu nanti kamu akan mengetahui. Jangan begitu nanti kamu akan mengerti dengan pengetahuan yang yaqin. Kamu akan mengetahui neraka jahim”

Larangan Allah kepada manusia yang hidup bermegah-megahan dalam ayat di atas, disebutkan sebanyak tiga kali dengan kalimat “kalla”. Hal ini menunjukkan bahwa larangan tersebut sangat keras, dan menunjukkan bahwa hidup bermegah-megahan menjadikan pelakunya melupakan kewajiaban dirinya kepada sesama dan kewajiban dirinya kepada Allah. Ia menjadikan dunia ini sebagai tujuan akhir, padahal dunia seisinya hanya sekedar tanda yang akan menunnjukkan atau mengantarkan manusia mencapai tujuan hidupnya. Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk beribadah. Dan dalam beribadahnya harus ditujukan hanya kepada Allah semata.

Kalam Ilahi yang merupakan ayat-ayat Allah, yang juga sangat mempesonakan, itu mengakibatkan sebagian kita hanya terhenti dalam pesona bacaan ketika ia dilantunkan, seakan-akan kitab suci ia hanya diturunkan untuk dibaca (secara lafdhiah).

Memang, wahyu yang pertama turun adalah Iqra’ bismirabbik… (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu), bahkan kata Iqra’ diulangi dua kali. Akan tetapi, kata ini bukan sekedar perintah membaca dalam pengertian yang sempit, melainkan juga mengandung makna “telitilah, dalamilah” karena dengan penelitian dan pendalaman itu manusia dapat meraih sebanyak mungkin kebahagiaan.
Allah berfirman;

Artinya; “Kitab yang telah Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka memikirkan ayat-ayatnya dan agar ulul albab mengingat/menarik pelajaran darinya”. (QS. Shad/38 ; 29)

Bacaan hendaknya disertai dengan kesadaran akan keagungan al-Qur’an, pemahaman dan penghayatan disertai dengan Tadzakkur (mengingat) dan tadabbur (berfikir). Sungguh aneh jika ada pendengar yang berdecak kagum dengan mendengar bacaan seorang qari’ (pembaca al-Qur’an), berseru dengan kata; “Allah, Allah…” bergembira dan senyum simpul menghiasi bibirnya, padahal ayat yang dibaca sang qari’ adalah ayat ancaman. Itulah salah satu contoh mereka yang terpesona dengan bacaan.
Al-Qur’an mengecam mereka yang tidak menggunakan akal dan kalbunya untuk berpikir dan menghayati al-Qur’an.

Mereka itu dinilainya tertutup hatinya. Firman Allah;

Artinya; “Apakah mereka tidak memikirkan al-Qur’an, atau hati mereka telah terkunci ? (QS. Muhammad/47 : 24).

Janganlah sikap kita terhadap ayat-ayat Allah mencapai tingkat yang pernah dialami oleh umat-umat sebelum kita, yang antara lain dicatat oleh Allah swt. dengan firman-Nya ,

‘Diantara mereka ada yang ummiyyun yang tidak mengetahui al-Kitab kecuali amaniyy (berangan-angan)” (QS. Al-Baqarah/2 : 78)

Ibnu Abbas menafsirkan kata Ummiyyun dengan arti tidak mengetahui makna pesan-pesan kitab suci, walau-boleh jadi- mereka menghafalnya. Mereka hanya berangan-angan atau amaniyy dalam istilah ayat di atas, yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dengan “sekedar membacanya”. Keadaan yang demikian itulah yang disebutkan oleh al-Qur’an dengan seperti

“keledai yang memikul buku-buku (QS. Al-Jumu’ah/62 : 5),

atau “seperti penggembala yang memanggil binatang yang tak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, (maka sebab itulah) mereka tidak mengerti (QS. Al-Baqarah/2 : 171)

Al-Qur’an Surat al-Furqan ayat 30 menjelaskan bahwa di hari kemudian nanti, Rasul Muhammad saw. penerima al-Qur’an itu, akan mengadu kepada Allah. Beliau bersabda;

Artinya; “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku (umatku) telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. al-Furqan/25 : 30)

Menurut Ibnul Qoyyim, banyak hal yang dicakup oleh kata mahjuura yang diterjemahkan dengan sesuatu yang tidak diacuhkan, antara lain;

1. Tidak tekun mendengarkannya
2. Tidak mengindahkan halal haramnya, walau dipercaya dan dibaca
3. tidak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut prinsip-prinsip agama dan rinciannya
4. Tidak berupaya memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah swt. yang menurunkannya
5. Tidak menjadikannya obat bagi semua penyakit kejiwaan.

Semua yang disebutkan di atas tercakup dalam pengaduan nabi Muhammad saw.

Semoga kita tidak hanya memiliki mushaf al-Qur’an, tetapi juga pandai membaca, memahami, dan mengamalkan tuntunannya. Karena kita yakin, dan pasti enggan disamakan dengan keledai atau dengan binatang apapun. Semoga keengganan itu dapat kita buktikan dengan semangat mengamalkan al-Qur’an. Menjadikan al-Qur’an sebagai sumber motivasi; menjadikan al-Qur’an sebagai start of main and the rule of thingking.

SYARAT KHAIRU UMMAH

Landasan

Ali Imran 110:
كنتم خير أمـة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون باللـه
Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Al-Nahl 90:
إنّ اللـه يأمر بالعدل والإحســان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشـاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat; dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.


Uraian

Memperhatikan ayat 110 surat Ali Imran didapati bahwa syarat utama untuk menjadi khaira ummah (masyarakat utama) adalah:
1. Amar makruf (تأمرون بالمعروف , menyuruh yang makruf)
2. Nahi munkar (وتنهون عن المنكر , mencegah dari kemungkaran)
3. Iman kepada Allah (وتؤمنون باللـه ).

Syarat pertama dan kedua dijelaskan dalam surat al-Nahl ayat 90 di atas, yaitu

1. Amar makruf (تأمرون بالمعروف , menyuruh yang makruf), bentuknya adalah
a. Berlaku adil (العدل )
Al-Adl lawan al-dhulm (aniaya). Al-Adl menurut bahasa berarti al-musawah (persamaan). Sedang menurut istilah berarti proporsional, jauh dari keberpihakan.
Keadilan atau al-adalah harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, keadilan berlaku untuk seluruh aktivitas hidup manusia sebagai makhluk sosial. Keadilan ekonomi, keadilan sosial, keadilan politik, keadilan hukum, dan bahkan keadilan agama.
Keadilan beraqidah diwujudkan dalam bentuk iman kepada kebenaran. Mengimani kebenaran Allah sebagai tuhan yang mutlak harus disembah; mengimani kebenaran Islam sebagai satu sistem hidup, sebagai satu kebulatan ajaran yang mutlak benar, bersifat universal dan eternal; mengimani kebenaran ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mencapai kemajuan.
Keadilan berbuat, yaitu dengan cara melakukan segala sesuatu yang menguntungkan bagi kehidupan dunia dan akhirat, menjauhkan diri dari perbuatan yang mencelakakan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dengan patokan ini, maka seluruh perbuatan manusia harus difungsikan untuk ibadah kepada Allah SwT.
Keadilan beraqidah dan berbuat merupakan wujud berlaku adil terhadap diri sendiri.
Sedang berlaku adil terhadap pihak lain, meliputi manusia, binatang, tetumbuhan dan makhluk Allah lainnya adalah dengan cara menempatkan mereka pada posisi yang sebenarnya sesuai dengan nalar, agama dan budaya yang berlaku di masyarakat.
b. Berbuat kebajikan (الإحســان )
Ihsan dalam konteks ayat di atas adalah bukan berbuat kebajikan kepada orang lain sebagai wujud balas jasa atau sebagai imbalan. Maksud ihsan di sini adalah berbuat kebajikan kepada orang lain betul-betul didasarkan atas suka rela tanpa motif apapun, termasuk motif imbalan atau balasan, dan yang dilakukannya itu tidak menuntut balasan apapun dan dari siapapun kecuali ikhlas karena Allah saja.
c. Memberi kepada kaum kerabat ( إيتاء ذي القربى )
Memberikan harta benda kepada kerabat. Kendati kewajiban ini sudah menyatu dalam keluarga bahwa setiap anggota keluarga diwajibkan saling membantu, tetapi ayat ini merasa perlu menyinggung hal itu karena kewajiban itu supaya menjadi akhlak. Maksudnya adalah supaya masing-masing anggota keluarga terjamin kebutuhan pisik-materialnya. Bila setiap keluarga sebagai unit terkecil sudah sejahtera maka masyarakat dalam sekala lebih besar akan menjadi masyarakat madani yang aman dan sentosa, sehat dan sejahtera.

2. Nahi munkar (وتنهون عن المنكر , mencegah dari kemungkaran), bentuyknya adalah
a. Menjauhi dari perbuatan keji (الفحشـاء )
Perbuatan keji adalah perbuatan buruk, jelek atau jahat yang melampui batas ukuran. Setiap orang melihatnya pasti merasa jijik dan muak.
b. Manjauhi dari perbuatan mungkar (المنكر )
Munkar lawan makruf. Makruf adalah segala yang dikenal oleh setiap orang dan setiap bangsa sebagai sesuatu yang baik dan bisa diterima. Sedang munkar adalah sestau yang sejak dahulu, sampai sekarang dan bahkan sampai hari akhir ditoleh oleh setiap orang. Karena itu, perbuatan munkar adalah perbuatan yang ditolak oleh agama dan masyarakat.
c. Menjauhi dari permusuhan (البغى )
Makna al-baghyu menurut bahasa adalah meminta. Sedang menurut istilah, merebut hak orang lain secara paksa sehingga menimbulkan permusuhan. Sikap orang yang berbuat al-baghyu biasanya arogan, merasa sok kuasa dan angkuh. Orang seperti itu adalah dhalim terhadap dirinya karena semua orang membenci dan memusuhinya, dan dhalim terhadap orang lain karena merugikan mereka.

Perbuatan fakhsya’ pasti mungkar, dan perbuatan baghyu pasti fakhsya’ dan mungkar. Kendati demikian, al-Qur’an tetap mempertahankan istilah-istilah itu untuk memudahkan pengelompokkan sehingga masyarakat mampu mengambil langkah-langkah pembasmiannya.


P e n u t u p

Marilah kita hidup suburkan amar makruf, yaitu mengimplementasikan keadilan, ihsan dan pemberian santunan kepada kerabat. Masyarakat kita amat sangat merindukan implementasi akhlak terpuji seperti itu. Sebaliknya, kita galakkan nahi mungkar dengan cara menjauhkan sejauh-jauhnya perbuatan-perbuatan fakhsya’, munkar dan baghyu dari diri kita dan dari masyarakat kita. Jangan sampai diri kita dan masyarakat terkontaminasi perbuatan-perbuatan terlarang itu. Masyarakat kita sudah terlalu jijik dan muak melihat akhlak tercela seperti itu. Insya Allah dengan cara-cara seperti itu, negeri ini akan segera bangkit membangun diri untuk bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Semoga

Marilah kita simak firman Allah dalam surah Ali Imran 104:

ولتكن منكم أمة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، وأولئك هم المفلحون.
Hendaklah kalian menjadi umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

أقول قولى هذا وأسـتغفر اللـه العظيم لي ولكم ...

WANITA DAN RASA KUE

Ibnu Abbas bukan cuma seorang yang pandai dan cerdik, tetapi juga tampan. Banyak gadis tergila-gila padanya. Namun, dia hanya ingin beristri wanita salihah. Allah mengabulkan keinginannya.

Pada suatu hari, istrinya diajak bersilaturahmi ke semua kerabat dan handai taulan. Tetapi, orang-orang, terutama kaum lelaki, selalu lebih melirik pada sang istri ketimbang Ibnu Abbas. Ibnu Abbas merasakan lirikan itu penuh nafsu dan gairah. Hal ini membuatnya galau.

Akhirnya, Ibnu Abbas mengundang para rekan dan kerabatnya berkunjung kerumahnya. Dia menyediakan mereka hidangan kue berbentuk sama, tetapi beraneka warna, mulai dari putih, coklat, kuning, dan hitam. Ibnu Abbas mempersilakan para tamunya mencicipi hidangan itu. ""Wah, kue yang coklat ini lezat,"" bisik seorang tamunya.

""Tetapi, kue yang putih ini juga nikmat,"" bisik tamu lainnya. Tamu yang telah mencicipi kue coklat itu tidak percaya, lalu mencoba kue-kue yang disarankan rekan-rekannya. ""Nah, rasanya sama "kan dengan kue yang berwarna coklat tadi?"" tanya seorang rekannya.

Perbincangan para tamu berkutat pada kue yang beraneka warna, namun satu rasa, manis semua. Akhirnya, Ibnu Abbas berbicara, ""Saudara-saudaraku semua, saya sengaja memberi warna kue ini dengan warna putih, coklat, kuning, hitam, namun rasanya sama, manis semua. Begitu juga dengan istri-istri saudara. Meraka yang berkulit putih, coklat, kuning, dan hitam, walaupun berbeda warna, rasanya bisa saya pastikan sama semua.""

Rasulullah saw menganjurkan kepada mereka yang sudah beristri, jika melihat wanita lain lalu bernafsu, hendaknya segera pulang dan menunaikan kewajibannya sebagai suami terhadap istri. Apa yang dimiliki wanita lain juga ada pada istri kita.

Sementara itu, terhadap mereka yang belum menikah, dalam hadisnya Rasulullah berkata, ""Wahai para pemuda, siapa pun di antara Anda yang sudah

mampu [memberi nafkah lahir batin] segeralah menikah. Sementara bagi yang belum mampu, lebih baik baginya berpuasa karena puasa dapat membendung hawa nafsu.""

Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal, nabi bersabda, ""Pandangan [bernafsu] adalah anak panah yang beracun dari busur Iblis. Barang siapa yang menahan pandangannya dari kemolekan wanita, Allah akan memberikan kenikmatan dalam hatinya sampai hari perjumpaannya dengan Allah."

SATU JAM UNTUK BAHAGIA DUNIA AKHERAT

Manusia selalu berada di antara hidayah Allah dan tipu daya syaithan. Kelengahan sedikit saja, syaithan akan bisa menjermusukan seseorang ke dalam lembah yang akan menyia-nyiakan bahkan merusak hidup seseorang. Berikut ini adalah 7 amal penting yang akan menjamin seseorang terhindar dari kondisi negatif itu. Dengan melakukan 7 program ini, seseorang akan diampuni dosanya, dilindungi dari fitnah kubur, dibangunkan rumah di surga, dikabulkan do’anya, dilindungi dari kefakiran, dicukupi kebutuhannya, dibebaskan dari perasaan gelisah. Uniknya lagi, semua hal itu dapat diperoleh hanya dengan membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit atau 1 jam saja.

1. Melakukan 12 rakaat sunnah rawatib. Yakni, 2 rakaat sebelum subuh, 4 rakaat sebelum zuhur, 2 rakaat bada zuhur, 2 rakaat setelah maghrib, dan 2 rakaat setelah isya.
Manfaat yang diharapkan: Allah akan membangunkan sebuah rumah di surga bagi orang yang senantiasa melakukannya.
Dalil : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang solat dalam satu hari sebanyak 12 rakaat, sunnah, Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR Muslim)

2. Sholat dua rakaat tahajjud. Faidah yang diharapkan: Dikabulkannya do’a, diampunkannya dosa, dan dicukupi Allah kebutuhannya. Dalil: Sabda Rasulullah saw, “Allah sw turun setiap malam ke langit dunia, di saat sepertiga malam terakhir dan mengatakan, “Siapa yang berdo’a kepadaku, pasti aku kabulkan. Siapa yang meminta padaku,pasti aku berikan, dan siapa yang memohon ampun padaku, pasti aku ampuni. (HR. Bukhari)

3. Melakukan sholat duha 2 raka’at, 4 rakaat atau 8 rakaat. Manfaat yang diharapkan: Bernilai shadaqah dari seluruh persendian tulang. Dalil: Rasulullah saw bersabda, “Setiap persendian kalian adalah sadakah, setiap tasbih adalah sadakah, setiap tahmid adalah sadakah, setiap tahlil adalah adakah, setiap takbir adalah sadakah, setiap anjuran pada kebaikan adalah sadakah, setiap larangan dari yang mungkar adalah sadakah, dan semuanya akan mendapat ganjaran yang sama dengan melakukan shalat dua rakaat dari shalat duha.

4. Membaca surat Al Mulk. Manfaat yang diharapkan: Diselamatkan dari adzab kubur. Dalil : Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ada salah satu surat dri Al Qur`an yang terdiri dari 30 ayat. Ia akan memberi syafaat pada seseorang dengan pengampunan dosa. Yaitu surat “tabarakallazi biyadihil mulk.” (HR Turmudzi dan Ahmad. Turmudzi mengatakan, ini adalah hadits hasan)

5. Mengatakan : Laailaaha illallah wah dahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa hua ala kulli syai’in qadir dalam satu hari seratus kali. Manfaat yang diharapkan: Terpelihara dari gangguan syaitan selama satu hari, dihapuskan 100 kesalahan dan memperoleh 100 kebaikan.
Dalil : Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengatakan “Laa ilaaha illallah wah dahuu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ala kulli syai’in qadiir”, maka ia akan mendapat pahala seperti membebaskan 10 budak, ditulis baginya 100 kebaikan, dihapuskan 100 kesalahannya, dan ia akan terpelihara dari syaitan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada seorangpun yang lebih baik dari apa yang ia peroleh dari hari itu, kecuali ada orang yang beramal lebih dari itu.”

6. Shalawat atas Nabi Muhammad saw sebanyak 100 kali.
Faidah yang diharapkan: Bebas dari bakhil dan mendapat balasan shalawat dari Allah swt. Dalil: Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang bershalawat atas diri saya maka Allah akan mendo’akannya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Hadits Rasulullah saw: Orang yang bakhil adalah orang yang bila namaku disebut di hadapannya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku. (HR Turmudzi)

7. Mengatakan Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil aziim.
Faidah yang diharapkan: Ditanamkan di surga untuk yang melakukannya 100 batang pohon. Dalil: Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang melazimkan istighfar, maka Allah akan memberikan padanya jalankeluar di setiap kesempitan, penyelesaian dari setiap kegundahan, dan diberikan rizki dari sesuatu yang tidak diduga-duga. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Hakim)

Selain tujuh amalan di atas, tentu saja kita harus mengerti bahwa iman dalam Islam bukanlah sekedar sholat,dzikir dan bacaan Al Quran, tapi mencakup perbuatan dan prilaku kita dalam berhubungan sesama manusia. Rasulullah menyebutkan, “Senyum anda kepada saudara anda adalah shadakah, danperintah kepada yang ma’ruf serta larangan dari yang mungkar itu shadakah, petunjukmu pada seorang asing yang tersesat itu sedekah, engkau menuntun orang yang sulit melihat itu shadakah, menyingkirkan batu dan duri dari jalan itu adalah sadakah, dan engkau membantu mengambilkan air untuk sahdaramu itu adalah sedekah.” Hadits riwayat Turmudzi ini menunjukkan bahwa kebaikan seorang muslim, selain ditunjang oleh kebaikan bathinnya juga harus diimplementasikan dalam kebaikannya dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya

LEMBUTKAN HATIMU DG INGAT MATI

Saudaraku yang mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta"ala, Sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian. Semoga kita digolongkan ke dalam orang-orang yang sadar dan mengerti harus bagaimana menjalani hidup ini agar terhindar dari kehidupan yang sia-sia dan tanpa makna.

Perjalanan ke sebuah negeri yang tiada akhirnya. Ingatlah wahai saudaraku perbekalan yang terbaik adalah ketakwaan kita (watazawwadu fainna khoirozzaadittaqwa) QS.2:198.

Yakni dengan amal shaleh yang ikhlas dan mutaaba’ah (sesuai sunnah Rasulullah u) yang menyertaimu ketika meninggalkan dunia ini untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta"ala dalam kematian yang pasti.

كل نفس د ا ءقتل لموة ت

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….” (QS. Al-Imran :185)
Memang wahai saudaraku. Perjalanan ini adalah menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta"ala agar berakhir pada kenikmatan surga.

Bukan neraka. Karena keagungan perjalanan menuju hari akhir inilah Rasulullah bersabda:

“Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutaffaqun ‘alaih)
maksudnya, jika kita mengetahui hakekat ajal yang akan menjemput kita dan kedahsyatan alam kubur, kegelapan hari kiamat dan segala kesedihannya, shirot (titian) dan segala rintangannya, surga dengan segala kenikmatannya, niscaya akan memberikan motivasi kepada kita untuk mengadakan perubahan. Berubah dari kefasikan dan kekafiran menjadi keimanan, dari kemunafikan menjadi istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketawadhu’an, dari rakus menjadi rasa syukur dan sederhana, dari pemarah dan pendendam menjadi kasih sayang dan memaafkan, dari kelicikan dan kesewenangan menjadi kejujuran dan keadilan, dari kedustaan menjadi kebenaran. Jadi, perubahan diri dari sifat dan watak syaithoni dan hewani, menjadi insan Islami harus segera di mulai.

Akan tetapi kita sering lupa atau berpura-pura lupa dengan perjalanan panjang tersebut, bahkan malah memilih dunia dengan segala perangkatnya, kemewahan, kecantikan, kekayaan, kedudukan yang semua nilainya disisi Allah Y, tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk!
Wahai yang tertipu oleh dunia…..! Wahai yang sedang berpaling dari Allah Y…! Wahai yang sedang lengah dari ketaatan kepada Rabb-nya…! Wahai yang nafsunya selalu menolak nasehat!! Wahai yang selalu berangan-angan panjang!!! Tidakkah engkau mengetahui bahwa kamu akan segera meninggalkan duniamu dan duniamu pula akan meninggalkanmu? Mana rumahmu yang megah? Mana pakaianmu yang indah? Mana aroma wewangianmu? Mana para pembantu dan familimu? Mana wajahmu yang cantik dan tampan? Mana kulitmu yang halus? Mana….?! Mana….?! Saat itu ulat dan cacing mengoyak-ngoyak dan mencerai-beraikan seluruh tubuhmu ….?!
Bersegeralah bersimpuh di hadapan Rabbul Jalil, Allah Y. Lepaskan selimut kesombongan yang menghalangi dari rahmat dan maghfirah-Nya.

Kuberikan khabar gembira bagi yang berdosa, lalai dan berlebih-lebihan, agar segera berhenti dari perbuatan kemaksiatannya itu.

Saudaraku yang tercinta, siapakah diantara kita yang tak berdosa, siapa diantara kita yang tidak bersalah kepada Tuhannya? Sama sekali tidak ada, seharipun kita tidak bisa seperti malaikat yang selalu taat dan tidak berbuat maksiat sedikitpun.

Datangilah masjid dan beribadahlah di dalamnya, tegakkanlah shalat lima waktu, puasalah di bulan Ramadhan, tunaikan haji jika engkau telah mampu, zakatilah harta dan jiwamu, bimbinglah anak-anakmu dengan Al-Islam, jauhkan dirimu dan keluargamu dari bacaan/majalah/tabloid porno.

Insyafilah semua dosa-dosa, serta ingatlah …. Pintu taubat masih terbuka lebar untukmu, rahmat dan maghfirah Allah Y sangatlah luas, lebih luas dari lautan dosa. Ketahuilah bahwa Allah Y sangat senang dengan taubatmu. Ingatlah firman Allah Y:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan hatinya.”

Rasulullah menyampaikan satu nasehat yang mana satu nasehat ini cukup untuk menasehati setiap manusia:

“Cukuplah dengan adanya kematian sebagai penasehat (bagi kita).”
Saudaraku…., renungkanlah baik-baik risalah ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata. Kembalilah kepada Allah Y dan Rasul-Nya u dengan manhaj (cara) yang benar.

Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya dan sekuat-kuatnya untuk menjauhi larangan-Nya.

Berusahalah untuk memelihara ketundukan, tawadhu’ dan syukur atas nikmat-Nya yang akan mengajakmu menuju pintu ketenangan dan kebahagiaan. Berhiaslah dengan amal shaleh dan keindahan akhlaqul karimah. Semuanya akan mempertanggungjawabkan amalannya sendiri-sendiri, maka beramal-lah!
Allah berfirman:

“Maka barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kebaikan, niscaya akan melihat ganjarannya. Dan barangsiapa beramal seberat biji sawi dari kemaksiatan, niscaya akan melihat siksanya.” (Az-Zalzalah: 7-8) Wallahu a’lam.

NASEHAT IMAM GHOZALI

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A"Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan Sholat". Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.

TATKALA HATI MEMBEKU

Pernah nggak kita merenung?, sudah berapa kali kita pernah menangis karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, merasa ngeri ketika ingat nerakanya atau terkenang dengan bertumpuk-tumpuknya dosa yang pernah kita lakukan? Sudah berapa kali shalat yang kita kerjakan begitu kita nikmati karena kita bisa merenungi makna-makna ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca?……….

Itu tentu sangat sulit!……. mungkin seperti itu jawaban sebagian dari kita. Pernah nggak kita berfikir apa yang menjadi sebab hal itu. Penyebabnya nggak lain adalah bekunya hati kita yang menyebabkan kita sulit untuk menangis serta tidak bisa khusuk dalam shalat.

Berikut ini adalah beberapa penyebab kebekuan hati yang kita alami. Sehingga kalau kita sudah mengetahui penyebabnya, kita bisa menterapi hati kita yang sudah terlanjur cool banget.

Bergaul yang tidak Berfaedah.
Teman punya pengaruh yang signifikan pada diri kita. Dia akan memberikan warna dalam kepribadian kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memberi perumpamaan. Teman yang tidak baik itu seperti Pandai Besi, andai tidak terbakarpun, minimal kita, yang mau tidak mau pasti mendapatkan udara yang panas. Karena itu kita harus mampu mengendalikan diri dengan baik agar tidak terjebak dalam pergaulan yang tidak bermanfaat.

Berbicara Yang tidak Perlu.
Sering sekali kita membicarakan hal-hal yang kadang-kadang tidak ada manfaatnya, baik untuk dunia maupun akhirat kita. Hati-hati dengan lisan kita, salah omong urusannya berabe. Apakah kita lupa bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan lidah hany satu dan telinga ada dua, dengan tujuan yaitu supaya kita lebih banyak diam untuk mendengar daripada bicara.
Namun kita sangat sering melupakan hal ini apalagi kalau sedang asyik berbicara, kita lupa untuk mendengar. Jadi perlu pengendalian kata agar tidak percuma dan sia-sia. Karena itu kebisaan gossip mesti dikurangi dan dihilangkan…..!!!

Memandang Yang tidak Perlu.
Tidak mengatur pandangan yang kita lakukan akan menimbulkan tiga dampak negatif yaitu; Terkena panah Iblis yang beracun. Oleh karena itu Nabi menyatakan, yang artinya:
“Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Alloh maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik” (HR: Ahmad).
Setan masuk seiring pandangan untuk menyalakan api syahwat. Membuat hati lupa dan menyibukkannya sehingga terjerumus ke dalam mengikuti hawa nafsu dan kelalaian.

Berlebih-lebihan dalam Makan.
Imam Syafi’i rahimahulloh mengatakan: “Selama 16 tahun aku hanya pernah kenyang sekali saja, yang akhirnya kumuntahkan. Karena kenyang itu membuat badan terasa berat, hati menjadi keras, kepandaian menjadi hilang, menyebabkan ngantuk dan membuat orang loyo dalam beribadah”. (diwan Imam Syafi’I hal. 14). Sehingga makan itu sekedarnya saja, kalau bisa jangan sampai kekenyangan. Tidak sehat dan membuat malas.

Tidur yang Berlebihan.
Coba kita renungkan komentar Nabi shalallahu’alaihi wa salam tentang orang yang tidur satu malam penuh, bangun-bangun sudah pagi tanpa shalat malam “Itulah orang yang telinganya atau kedua telinganya dikencingi syetan.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Menghina Ulama.
“Daging para ulama itu beracun”, demikian pesan para ulama kita. Terlebih lagi bila kita menghina dan menggunjingkan mereka karena karena ilmu syar’i yang mereka miliki. Jadi sebaiknya kita berhati-hati dalam hal ini.

Tidak Membaca Al Qur’an dengan Merenungi Maknanya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS: Muhammad: 24).

Orang yang tidak merenungi ayat – ayat Al Qur’an tidak hanya satu atau dua gembok yang mengunci hatinya? Bahkan dalam hati tersebut terdapat banyak gembok. Banyak kan!! Kira-kira ada berapa gembok di hati kita, kalo gitu.

Tidak Merenungi Kematian, Alam Kubur, Surga, dan Neraka.
Nabi memerintahkan kita untuk berziarah kubur, agar kita teringat akan akhirat. Nabi juga memerintahkan untuk banyak mengingat kematian yang merupakan penghancur kesenangan hidup (HR: Abu Daud). Mengapa? Karena mengingat mati adalah mesin penggerak untuk beramal shalih yang ada dalam diri orang beriman.

Tidak Mengkaji Kehidupan Umat Terdahulu Yang Sholeh (Sahabat dan 2 Generasi Setelahnya).

Mereka merupakan manusia terbaik yang dekat dengan masa kenabian. Seluruh keutamaan terkumpul dalam diri mereka. Lihatlah kekhusyua’an mereka dalam shalat, shalat malam mereka, shalat berjamaah mereka, bhakti mereka kepada orang tua, zuhud mereka, antusias mereka dalam mencari ilmu, dan sebagainya. “Siapakah kita dibandingkan mereka?,” Itulah kesimpulannya. Karena kurang mengetahui kehidupan mereka, maka hati kita jadi keras, sombong, ujub, udah merasa beramal dan berjasa besar terhadap Islam.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala cairkan hati-hati kita yang mulai membeku karena Dialah yang mengendalikan hati-hati hamba-Nya.
(Sumber Rujukan: Tazkiyatun Nufus, dll)

BIDADARI CANTIK

Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.

Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih.

Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”

Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:

Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

Al-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: ”Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)

Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.

Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: ”Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan.

Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam

(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

SIKAP MENGHADAPI NIKMAT

Katakanlah: Jika sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan perkataan Tuhanku (maksudnya nikmat, rahmat dll), niscaya lautan itu menjadi kering sebelum habis perkataan (nikmat) Tuhanku dituliskan, walaupun kamu datangkan sebanyak itu pula (tinta) tambahannya.
( Al Kahfi : 109 )

NIKMAT YANG MELIMPAH RUAH
Tidak ada satu mesin komputer mutakhir yang mampu mencatat berapa banyak nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia.
Pada ayat yang dikutip diatas, dilukiskan oleh Tuhan sendiri dengan memakai kata-kata kiasan (perbandingan), bahwa kalaupun air laut dijadikan tinta untuk mencatat nikmat itu, maka lautan itu akan kering lebih dahulu, sedang nikmat itu masih belum tercatat seluruhnya.
Pada ayat yang lain ditegaskan oleh Tuhan :
Artinya : “Kalau kamu hitung nikmat Tuhan itu, niscaya tidak dapat kamu menghitungnya “ (Ibrahim 34)
Dalam suatu Hadits digambarkan oleh Rasulullah tentang rahmat (nikmat) itu, sebagai berikut :
Artinya : “Sesungguhnya Allah SWT memiliki 100 rahmat (nikmat) satu rahmat dari padanya diturunkan Nya dan dibagi-bagi diantara jin, manusia, hewan-hewan besar dan kecil. Dengan rahmat yang satu itu, semua makhluk tersebut. Saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi. Dengan rahmat yang satu itulah seekor keledai liar menyayangi anaknya.
Adapun rahmat yang 99 lagi disediakan Tuhan buat kehidupan di akhirat.
Dengan rahmat yang 99 itulah Tuhan akan mengasihi hambaNya pada hari kiamat”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Secara mathematika digambarkan pada hadist tersebut, bahwa nikmat yang dirasakan dan dilihat oleh manusia didunia ini, kekayaan negara dan alam, berupa tambang emas, tambang perak, tambang minyak, mutiara dilaut, karet, tembakau, kopi dan hasil-hasil bumi lainnya, harta milik kaum multi-millioner dan lain-lain sebagainya. Semua itu barulah 1 % dari nikmat-nikmat yang dimiliki Tuhan.
Itupun hanya sekedar hitungan yang gampang untuk menanggapinya.
Oleh sebab itu dapatlah disimpulkan, bahwa nikmat dilimpahkan Tuhan kepada makhluq, terutama umat manusia, melimpah ruah.
Bagaimanakah sikapjiwa manusia menghadapi nikmat itu ? Dalam Al Qur’an sendiri dikemukakan tiga macam sikap jiwa manusia dalam menghadapi nikmat yang diterimanya. Pertama, sikap yang kufur (membangkang), kedua bersikap syukur, ketiga bersikap seperti baling-baling yang terpancang diatas bukit.
Marilah kita uraikan secara singkat ketiga sikapjiwa itu satu demi satu.

1) Sikap Kufur
Banyak manusia yang mendapat nikmat yang melimpah ruah. Berupa kekayaan, kekuasaan, wewenang dll. Akan tetapi, nikmat itu hanyalah semakin menjauhkannya dari ridha illahi. Kekayaan itu dipergunakannya untuk melampiaskan hawa nafsunya, berfoya-foya, menghabiskan waktunya di night-club, bercumbu-cumbuan dengan wanita cantik, berzina, selingkung meminum minuman yang diharamkan, ekstasi, berjudi dan lain-lain sebagainya. Atau kalau di mendapat nikmat berupa kekuasaan dan wewenang. Maka hak-hak itu dipergunakannya untuk memperkosa hak-hak orang lain.
Nikmat yang melimpah ruah itu membuatnya menjadi sombong, angkuh, takabbur.
Pada hakekatnya, nikmat itu adalah semacam cobaan terhadap seseorang sampai dimana dia dapat mengenal dan mengendalikan dirinya.
Tuhan mengatakan dalam Al-Qur’an :
Artinya : “ Kami (Tuhan) akan mencobai kamu dengan yang buruk dan yang baik, untuk ujian dan kepada kami nanti kamu akan dikembalikan “ (Al Ankabut : 35)

Dalam hubungan inilah perlunya norma-norma dan ukuran keagamaan yang selalu memberikan bimbingan dan pedoman kepada manusia dalam menghadapi setiap keadaan dan situasi. Tanpa bimbingan dan pedoman itu, tak obahnya seperti kapal yang kehilangan kemudi di tengah-tengah lautan, dan akhirnya karam dan tenggelam ke dasar laut.
Mempergunakan nikmat yang dikaruniakan Tuhan itu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dimurkai Ilahi adalah satu sikap menantang, membangkang, yang dalam istilah akidah dinamakan Kufur.
Sejarah selalu menunjukkan, bahwa orang-orang yang bersikap kufur itu pada umumnya akan menerima pembalasan dalam kehidupan di dunia ini. Kadang-kadang merupakan kejatuhan, ditimpa musibah dan malapetaka yang bertubi-tubi, kegoncangan dalam kehidupan, dan di akhirat kelak, orang-orang yang kufur nikamt itu akan mendapat azab Ilahi.

2) Sikap Syukur
Adapun manusia golongan (macam) kedua ialah yang menunjukkan sikap syukur ketika mendapat nikmat.
Dia merasa wajib menyatakan syukur itu sebagai ucapan terima kasih. Sedangkan sesama manusia yang memberikan sesuatu pertolongan dirasakan perlu mengucapkan terima kasih. Kononlah lagi kepada Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.
Tatacara bersyukur ini diwujudkan dalam bentuk ta’at kepada Allah dan mendekatkan diri (taqarrub) kepadaNya, mengerjakan ibadah dan amal-amal, melaksanakan kebajikan-kebajikan yang diridhaiNya dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dimurkaiNya.
Apabila mendapat nikmat kekuasaan dan wewenang dan yang seumpamanya maka kekuasaan dan wewenang itu hendaklah dipergunakan untuk menegakkan keadilan, menolong orang-orang yang lemah dan teraniaya, membangun sarana-sarana yang bermanfa’at kepada umum.
Jika mendapat nikmat berupa kekayaan itu hendaklah disumbangkan untuk mendirikan bangunan-bangunan yang bersifat sosial, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, masjid-masjid dan amal-amal kebajikan lainnya, memberi modal usaha untuk yang tidak mampu, bantuan SPP.
Haruslah diyakini, bahwa pemberian (pengeluaran) yang disumbangkan itu tidak berarti berkurang, tapi pasti bertambah dalam bentuk-bentuk yang lain, seperti yang dinyatakan dalam Al Qur’an :
Artinya : “ Jika kamu bersyukur, maka Saya (Allah) akan menambah (nikmat) itu kepada kamu, dan kalau kamu membangkang (kufur), maka sesungguhnya siksaKu sangat pedih.” (Ibrahim :7)

Selain dari itu, apabila ditimpa musibah, bencana, kesukaran dan yang seumpamanya, hendaklah berlaku sabar, menghadapi peristiwa-peristiwa itu dengan hati yang tabah. Jangan berkeluh kesah, menggerutu, menyesali nasib, untung dan takdir. Hendaklah selalu bersikap optimistis, sebab dibelakang kesulitan pasti ada kelapangan, sesudah hujan, matahari akan memancarkan sinarnya kembali.
Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada orang-orang yang sabar, seperti yang dinyatakan dalam Al Qur’an :
Artinya : “ Dan akan kami berikan kepada orang-orang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya ” (An Nahl : 96).

Sikap sabar itu bukan saja ditunjukkan dalam bencana yang mengenai kehidupan, tapi juga sabar dalam menghadapi perjuangan.
Contohnya ialah kesabaran kaum Muslimin dizaman Rasulullah menghadapi perjuangan melawan kaum musyrikin / munafikin dalam peperangan Ahzab, yang mempunyai kekuatan dan senjata yang berlipat ganda. Dengan sikap sabar itu, akhirnya Tuhan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kaum Muslimin.
Tatkala menghadapi pasukan yang kuat itu, kaum Muslimin tidak kecut, malah sebaliknya semakin bertambah keimanan mereka, seperti yang dilukiskan dalam Al Qur’an :
Artinya : “ Setelah orang-orang yang beriman melihat pasukan kaum serikat (Ahzab) mereka berkata :
Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya kepada kita dan Allah serta Rasul itu (senantiasa) berkata benar. Hal itu hanyalah semakin menambah keimanan dan kebulatan tekad kaum Muslimin “ (Al Ahzab 22)

3) Manusia “Baling-baling”
Golongan (macam) ketiga dapat dinamakan “manusia baling-baling” sebab sikap hidup dan pendiriannya adalah laksana baling-baling yang terpancang diatas bukit, yang bertiup menurut arah angin berhembus.
Orang-orang yang demikian, apabila mendapat nikmat, sikapnya gembira dan melonjak-lonjak, dan umumnya lupa daratan. Tetapi, jika ditimpa malapetaka, mereka menggerutu, bahkan kadang-kadang sikap dan pendiriannya berputar 180 derajat. Tuhan melukiskan dalam Al qur’an tentang manusia yang demikian :
Artinya : “Sebagian manusia ada yang menyembah Tuhan di pinggir-pinggir saja (ragu-ragu, tidak sungguh-sungguh), sehingga kalu dia mendapat kebaikan hatinya senang.
Tetapi kalau mendapat cobaan, dia berputar ke belakang, orang-orang yang demikian itu akan mendapat kerugian di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata ” (Al Haj : 11)

Sikap hidup dan pendirian yang demikian adalah karena iman yang tipis, tauhid belum kuat dan mendalam. Apabila iman dan tauhid sudah teguh, maka keadaannya seperti dilukiskan dalam Al Qur’an sendiri- tak ubahnya laksana pohon besar, daunnya rindang, buahnya lebat, akarnya tertancap ke dalam bumi.
Bukan saja pohon yang demikian dijadikan tempat berlindung diwaktu panas terik, tapi juga memberikan manfa’at kepada makhluq yang lain. Bahkan yang terpenting, mempunyai pendirian yang teguh, tidak roboh dan tumbang walaupun dipukul oleh angin taufan.
Sudah menjadi tabi’at dan watak sebagian manusia bersikap positif waktu mendapat kesenangan, kelapangan, nikmat dan bersikap negatif tatkala mendapat ujian atau ditimpa kesusahan. Hal inilah yang dilukiskan oleh Tuhan dalam Al Qur’an :
Artinya : “ Adapun manusia, apabila diuji oleh Tuhannya, diberiNya kemuliaan dan kesenangan hidup, dia mengatakan: Tuhanku memuliakan aku tetapi, apabila Tuhan mengujinya dibatasiNya rezekinya, maka dia berkata : Tuhanku menghinakan aku “ (Al Fajr : 15-16)

Bagi manusia yang demikian, ukuran yang dipakainya ialah materialistis / nilai-nilai lahiriah, soal kebendaan (materi). Yang nampak baginya ialah benda-benda yang mengambang di permukaan air, sedang bend

ETOS KERJA

Marilah kita senantiasa taqwa kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh ya’ni menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Salah satu perwujudan dari Taqwa adalah usaha kita menumbuhkan rasa tanggung jawab akan kewajiban-kewajiban hidup, termasuk didalamnya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari memenuhi kebutuhan keluarga sebagai pertanggungjawaban kepada Allah SWT.
Bekerja harus menurut kemampuan kita dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang digariskan Allah agar senantiasa memperluas ridho Allah SWT.

Jamaah Islam Yang Berbahagia,
Melalui mimbar jum’at ini khatib mengajak jama’ah untuk merenungkan kembali perlunya umat Islam mempunyai ETOS KERJA yang tinggi sebagai konsekwensi hamba Allah hidup di dunia ini.
Keinginan untuk memperoleh kekayaan merupakan fitrah dan kebutuhan dasar manusia. Dalam realitas social sering kali terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap fitrah itu. Hal ini terjadi karena disatu sisi manusia terlalu cinta terhadap harta dan menganggapnya sebagai segalanya, sedangkan persediaan tentang hal ini terbatas dan tidak sedikit orang yang suka mengambil jalan pintas atau menghalalkan segala cara. Disisi lain tidak sedikit pula orang yang keliru menyikapi kekayaan karena dianggap dengan mudah menjerumuskan manusia kepada Hubbud dunya atau gila harta dan melupakan Tuhan. Dari sikap kedua ini dapat melahirkan orang yang tidak respek terhadap kekayaan dan sekaligus apatis terhadap orang kaya.

Muslimin – Muslimat Yang bahagia,
Terlepas dari kekayaan orang akan menjadi congkak, sombong, kikir, suka memeras atau sebaliknya dengan kekurangan orang menjadi baik, pemurah dan penolong.
Dalam pandangan Islam kekayaan tetap penting bagi kehidupan dan eksistensi manusia karena dengan kekayaan orang menjadi berwibawa, mempunyai pengaruh, menguasai massa, memudahkan untuk dipercaya orang, dapat menentukan keputusan, dapat untuk berdakwah dan berjuang dijalan Allah SWT, atau demi kemanuasiaan membantu orang lemah, fakir miskin. Dari itu semua upaya untuk memperoleh kekayaan menjadi penting, manusiawi dan keharusan.
Harta adalah karunia Allah dan mencarinya adalah ibadah;

{10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ
مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ
وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(Al-Jumu’ah. 10)

Bertebaranlah kamu dan Carilah, Islam memberikan petunjuk agar didalam kegiatan mencari harta itu menjadi mudah dan menyenangkan serta tidak menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah; antara lain:

1. Kerja, motivasi seorang muslim dalam menjalankan hidup ini semata-mata dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzaariyaat: 56)

Islam mengajarkan bahwa hidup dan seluruh aspeknya termasuk bekerja niat karena Allah. Karena bekerja tidak saja memenuhi kebutuhan hidup tetapi sekaligus merupakan panggilan dan keharusan agama yang memiliki nilai atau makna sejajar dengan ibadah mahdah / ibadah dalam arti khusus atau merupakan bagian dari ibadah dalam pengertian seluas-luasnya.

Dengan demikian jelaslah Islam tidak menghendaki penghayatan agama yang mengarah pada pelarian diri dari kehidupan duniawi. Bahkan Islam mengajarkan asesi (accersion) duniawi yakni memakmurkan dan memajukan kehidupan dunia jangan tenggelam dalam kenikmatan semunya dunia.

2. Al Qur’an menegaskan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan kekayaan adalah dengan bekerja.

“Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain yang telah diusahakan”.(Al-Baqoroh: 202)

Rosul bersabda :
Artinya: sebaik-baik pekerjaan adalah usaha seseorang dengan usahanya sendiri (H.R. Ahmad dan Hakim).

3. Dalam hidup dan bekerja Islam mengajarkan betapa pentingnya berorientasi ke masa depan, kerja keras, teliti, hati-hati menghargai waktu, penuh rasa tanggung jawab dan berorientasi pada prestasi (achivement oriented) dan bukan prestasi semata-mata. (Prestice Oriented)

Oleh karenanya, sikap ethos yang selayaknya kita tanamkan dalam diri sebagai muslim :

a. Hidup harus punya cita-cita, seorang muslim berasumsi tentang kerja adalah bekerja yang direncanakan dan diperhitungkan masak-masak untung ruginya. Dengan konsekwensi agar hidup dihari esok lebih baik dari hari ini :
- lebih sejahtera
- lebih maju
Nasib manusia (secara perorangan / bersama-sama) akan ditentukan kuantitas ibadah termasuk kerjanya ketika berada di dunia.
“Setiap diri hendaknya memperhatikan apa yang akan dikerjakan hari esuk”.

b. Kerja santai, tanpa rencana, malas, boros tenaga, waktu dan biaya adalah bertentangan dengan nilai-nilai islamiah.
Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu dapat diisi dengan 3 hal :
- meningkatkeimanan
- beramal sholeh
- berkomunikasi sosial

Allah berfirman dalam surat dalam surat Al ‘Ashr:

@بسم الله الرحمن الرحيم
وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

c. Semua masalah yang menjadi tanggung jawabnya harus dihadapi dengan rasa tanggung jawab(responsibility) dan pemahaman perhitungan (accountability). Sanggup memegang amanat dengan kerelaan dan pantang menolak tugas karena apa yang kita kerjakan pada akhirnya akan kembali pada dirinya sendiri. Siapa menanam benih akan menuai buah.

d. Hidup menurut pandangan Islam harus memuat dan berpola kesederhanaan, tidak konsumtif dan tidak berlebihan tetapi tidak pula kikir.

Firman Allah SWT dalam Q.S AL HADIID: 24

Artinya: (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

e. Sebaik-baik pekerjaan adalah yang dikerjakan dengan sebaik mungkin, serapi mungkin. (Aksamu amala) sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada didalamnya dengan sebaik-baiknya.
Islam membolehkan bersaing sehat menuju kebaikan. Fastasbiquul khoiroot

Max Weber dalam: The Protestant Ethics and Spirit Capitalisme menyimpulkan bahwa semangat kapitalis didasari oleh ajaran protestan, maka semestinya orang Islam adalah orang yang paling bersemangat hidup, beretos kerja hebat dan prestasi tinggi dengan didasari ajaran Islam.

Demikian sekelumit tentang Etos Kerja sebagai seorang muslim agar hidup kita sukses didunia dan diakhirat. Amin.

DIMENSI SOSIAL SHOLAT

Sholat adalah salah satu pilar dasar ajaran Islam. Sholat adalah bukti pengakuan manusia sebagai mahluk, yang membutuhkan dan mempercayai adanya sang Kholik, Pencipta, Penggenggam kekuasaan seluruh jagad raya, Allah Robbul ‘Alamin.
Dengan Sholat manusia mengakui kehadirannya di dunia semata-mata adalah untuk mengabdi kepada Allah, dengan diberi peran sebagai pemegang amanat untuk mengelola dan mengembangkan kehidupan dunia sesuai dengan kitab suci dan percontohan-percontohan yang dilakukan oleh para Nabi, Utusannya yang terbimbing.
Sebagai pemegang amanat dalam kongkritisasi dalam kehidupan sosial bisa beraneka bentuk, ada yang bekerja di pemerintah (eksekutif), ada yang bertugas di legislative, yudikatif, dan ada yang sebagai pedagang, pengusaha, pengajar, pembantu, pekerja, buruh dan merk-merk social yang lain.
Dengan sholat, meyakini bahwa semua peran tersebut akan dipertanggung-jawabkan bukan saja kepada komunitas sosialnya, lebih dari itu adalah dipertanggung-jawabkan kepada Allah, Raja Diraja Yang Maha Adil.
Menimbang bahwa pertanggung-jawaban kepada sesama manusia, masih bisa dikelabuhi, dimanipulasi dan ditutup-tutupi namun pertanggung-jawaban kepada Allah, tidak akan pernah ada yang luput dari catatan Allah. Karena itu guna selalu meluruskan keamanatan sebagai kholifah Allah, manusia senantiasa memohon bimbingan, hidayah dan kekuatan dari Allah untuk senantiasa dalam bingkai kasih sayang Allah.
Karena itulah dalam sejarah pemimpin-pemimpin Islam yang saleh, ketika dipilih dan diangkat sebagai pemegang amanat (mandat) entah sebagai kholifah/raja atau yang lain, bukan mengucap alhamdulillah, tapi adalah innalillah. Semata-mata karena merasa betapa berat dan mendasar tanggung jawab yang dipikulnya dan nantinya semua kepemimpinannya ditertanggung-jawabkan dihadapan Allah.
Sejumlah kholifah merasa berkewajiban untuk turun melihat dan memeriksa sekian rakyatnya, adalah di kalangan mereka yang kelaparan, yang teraniaya, yang tertindas, yang butuh bantuan dan pertolongan. Sebab ketidak-benaran dalam mengatur dan memenuhi kebutuhan rakyat yang merupakan tanggung-jawabnya, maka siksa Allah akan menimpanya dengan sangat dahsyat dan tiada siapapun juga yang mampu menolongnya.
Hidup di dunia ini bisa dinikmatinya paling lama 80 tahun, sedangkan di akherat adalah tetap selama-lamanya. Pertimbangan inilah yang menjadikan sejumlah pemimpin Islam yang saleh, seolah-olah tiada waktu untuk bercengkerama/senang-senang dengan keluarganya, karena menimbang tanggung-jawabnya yang besar. Yang semua itu akan dinilai sedetail-detailnya oleh Allah.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ {7 وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ {8

Famayya’mal mistiqoola dzarrotin khoiroyyarah, wamayya’mal mistiqoola dzarrotin syarroyyaroh (siapapun yang berbuat kebajikan atau kejahatan, sekecil apapun, pasti akan mendapat balasannya). Al-zalzalah : 7-8.
Semua kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dituntut pertanggung-jaw abannya. Sebagai guru, dosen, apakah yang diajarkan telah dilaksanakan olehnya atau hanya transfer ilmu saja ? yang jadi polisi, apakah telah bertindak adil kepada para penjahat, pengganggu keamanan masyarakat ? asal tangkap karena pesanan atau karena hendak mendapatkan imbalan ? apakah ada yang diistimewakan dalam tahanan, atau ada yang disiksa ? kepada jaksa dan hakim, apakah tidak bermain mata dengan tersangka, terdakwa, sehingga hukum bisa dibeli dan diatur oleh mereka, dan sebagainya ? semua peran-peran tersebut secara detail akan dituntut tanggung-jawabnya, dan tidak ada yang luput setitikpun setiap perilaku kitta dari pengawasan dan catatan Allah. Semua anggota tubuh kita akan berbicara dan bersaksi terhadap setiap tutur kata dan langkah-langkah kita, yang bisa jadi justru kita yang lupa dengan apa-apa yang pernah kita katakan dan perbuat.
Orang-orang yang murokobah dan wara’ lebih memilih siksa Allah ditimpakan kepada mereka di dunia, dari pada ditunda kelak di akherat. Di dunia masih bisa minta tolong kanan-kiri, tetapi di akherat, tiada siapapun juga yang mampu menolong kita kecuali amal-amal kita sendiri.
Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasaar. Salat merupakan pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Kemalasan dan keengganan melaksanakan salat disamping sebagai tanda-tanda kemunafikan, dan semakin lunturnya imannya seseorang, dalam skala besar merupakan tahapan awal kehancuran komunitas muslim. Karena secara empirik salat merupakan faktor utama dalam proses penyatuan dan pembangunan kembali kekuatan-kekuatan komunitas muslim yang sebelumnya rusak dan terpencar-pencar sebagai akibat melalaikan mendirikan salat.
Sholat yang dimaksudkan untuk senantiasa memelihara hubungan yang akrab dan erat dengan Allah baik siang maupun malam, dan selalu condong pada kemuliaan. Akan berubah aplikasnya, manakala kita melalikan solat. Seseorang akan semakin jauh dari kemuliaan dan kesalehan sampai akhirnya hubungan batinnya dengan Tuhan rusaj sama sekali.
Perlahan-lahan ia membuat permusuhan dengan kebenaran. Ia menantang segala sesuatu yang baik dan benar di dunia. Kepatuhan pada nafsunya sendiri makin lama makin kuat sehingga setiap aspek dalam kehidupan moral dan sosialnya selalu diabdikan demi kepentingan dirinya sendiri.
Pada hari perhitungan kelak di akherat, mer eka akan terlempar dalam neraka saqorَ

عَنِ الْمُجْرِمِينَ {41} مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ {42} قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ
الْمُصَلِّينَ {43
Ketika ditanyakan mengapakamu berada di neraka sakor ? Mereka menjawab, kami dahulu adalah orang-orang yang meninggalkan sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami suka membicarakan hal-hal batil, dan kami tidak mempercayai hari pembalasan, sampai datang kematian menjemputku” (al-mudatstsir: 41-43).
Baru menyadarinya ketika di alam akherat, sudah tidak berguna. Naudzu billahi mindzalik. Karenanya saking mendasarnya ibadah solat, dalam suasana menghadapi musuh sekalipun, solat tidak dapat ditinggalkan. Hal ini karena tujuan utama seorang mukmin bukanlah berperang, tapi menciptakan kondisi-kondisi dalam masyarakatdimana setiap orang dapat beribadah dan menjalankan perintah Allah tanpa ada rasa takut. Ia bahkan boleh melupakan bahaya dari musuhnya ketika ia menerima panggilan untuk solat. Karena itu, ia tidak meninggalkan salatnya walaupun dalam medan perang ketika nyawanya sendiri dalam bahaya. Periksa surat An-Nisa : 101-102.
Berkait dengan itu, Muhammad Rasul Allah juga menegaskan bahwa solat adalah tiang agama, siapa yang mendirikan solat berarti menegakkan agama Allah, dan sebaliknya siap yang meninggalkan solat berarti merusak agama Allah.
Ditambah dengan sabda beliau bahwa amal yang pertama kali akan ditanya pada yaumul hisab/hari perhitungan adalah salat. Jika salatnya baik, maka baik pula amal-amal lainnya, sebaliknya jika salatnyaa buruk, buruk pula amal-amal lainnya.
Ketika Rosulullah menjelang wafatnyapun, hal terakhir yang beliau pesankan pada ummatnya adalah agar ummat menjaga dan menegakkan solat.
Solat disamping bernilai sebagai ritual persembahan kepada Allah SWT, pada saat yang sama solat memberi makna yang substantif dalam kehidupan duniawinya, diantaranya adalah :
1. Sholat mengajarkan kebersihan, kesucian. Menghadap kepada Allah dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Badannya bersih, suci dari najis. Demikian pula pakaian yang dikenakan adalah bersih, bersih bukan berarti baru dan mahan tapi adalah terjaganya dari noda najis. Akan nampak berseri-seri dan anggun, bukan memakai yang sak kepenaknya sebagaimana kalau mau pergi santai-santai di tempat rekreasi.
2. Sholat mengajarkan ketepatan waktu artinya membentuk sikap disiplin. Segala sesuatunya telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga semua agenda hidupnya telah tersusun, tertata. Jika bisa diselesaikan hari ini, mengapa harus besok ? Bukan sebaliknya jika bisa dibikin rumit, mengapa harus dimudahkan. Jika masyarakat bisa diajak prihatin, mengapa harus disubsidi dan sebagainya.
3. Sholat mengajarjan ketawaddu’an/rendah hati, egaliter. Siapa yang berprestasi, maka dia akan mendapatkan imbalannya yaitu sukses. Siapa yang persiapannya lebih bagus, dia akan duduk di shof terdepan, dan sebaliknya yang terlambat atau ketinggalan akan menempati di shof belakang. Rendah hati, tidak menilai diri sendiri lebih bagus, lebih terhormat, lebih populer, lebih kaya, lebih alim dan lebih-lebih yang lain, melainkan adalah justru hendak mendahulukan orang lain, karena dia merasa, dan merasa sungguh-sungguh bahwa yang diperbuatnya adalah masih belum seberapa dibading dengan kemampuan yang dimilikinya. Orang rendah hati, selalu menjinakkan sifat-sifat jelek yang melilit manusia seperti iri dengki, hasud, merasa mempunyai nilai lebih dan sebagainya.
4. Sholat mengajarkan keikhlas an dalam berkarya. Semua kreasi dan aktivitasnya semata-mata hanya dipersembahkan kepada Tuhannya. Tidak butuh pujian dan sanjungan, karena semua itu adalah milik Allah semata.
5. Sholat mengajarkan keteraturan, ketertiban. Hal ini tercermin dari mengikuti norma-norma sholat yang sudah terstruktur. Ini bermakna bahwa sikap hidup orang yang sholat adalah bukan main trabas, main lompat-melompat yang merugikan pihak lain. Tetapi adalah mengikuti standart baku yang telah ditentukan yaitu tertib dan teratur.
6. Mengajarkan kesalehan individu dan kesalehan sosial. Ucapan salam ke kanan dan kekiri adalah diwujudkan dengan jaminan melakukan apa saja yang dibenarkan syariah guna membantu saudara-saudaranya yang memang butuh bantuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuasa membantu yang teraniaya, yang berilmu membantu yang masih belajar, supaya terjadi saling hubungan yang serasi dan harmonis, tidak ada percekcokan di antara mereka. Bukan justru sebaliknya membuat kebijakan yang semakin membuat masyarakat sedih, meradang dan pilu hatinya. Orang yang salatnya baik, tidak akan pernah mengeluarkan ucapan dan atau perbuatan kepada sesamanya, yang maksudnya memang jelek. Orang yang salatnya baik akan bertindak santun dengan sahabatnya, tetangganya dan siapapun juga. Orang yang salatnya baik akan menghormati tamunya dengan penuh perhatian. Orang yang salatnya baik akan bertindak dan bertaaruf secara santun dengan saudaranya sesama manusia apalagi terhadap saudaranya seiman, dengan tanpa membedakan baju dan golongannya. Orang yang salatnya bagus bukan sekedar membekas hitam di keningnya, lebih dari itu adalah bagaimana mengimplementasikan kasih sayangnya kepada lingkungannya (rohmatun lilalamin). Orang yang salatnya baik justru dituntut lebih banyak kiprahnya dalam kehidupan sosial. Keliru besar jika mereka yang solat, hanya mengelompok, menyendiri dan mengexklusifkan diri seolah hidup dalam ruang hampa sosial, dan menafikan dan terkesan merendahkan pihak lain. Sungguh Allah membenci dan tidak menyukai orang-orang yang membanggakan dirinya, angkuh, sombong dan merasa paling baik, paling suci dibanding dengan yang lain. Intinya orang yang sholatnya baik ad alah tercermin dalam amal salehnya di luar sholat.
Akhirnya marilah kita memohon kemurahan kepada Allah semoga sholat kita, kekhusu’annya bisa mendekati solatnya para sahabat was sholihin.
Kita juga perlu memohon semoga pemimpin-pemimpin kita sholatnya semakin baik, sehingga out put kebijakannya bisa menyejukkan dan menentraman masyarakat, bukan seperti yang kita saksikan. Masih belum terlambat, meski duka, derita dan nestapa terus mengiringi sebagian saudara kita. Semoga Allah be rkenan mengingatkan pemegang amanat negeri ini.
Terkait dengan kekhusu’an tersebut Saytidina Ali bin Abi Tholib RA. Pernah kena anak panah yang menancap di kakinya. Beliau memintya kepada sahabatnya untuk menariknya keluar pada saat ia melaks anakan salat dua rakaat. Hal tersebut dilakukan oleh sahabatnya yaitu anak panah ditarik keluar dari betisnya, namun beliau meneruskan salatnya tanpa merasakan sakit sedikitpun.
Hal ini menggambarkan betapa sholat yang dilakukan dengan penuh kekhusu’an, menjadikan dirinya nyaman dan bahagia pada puncak-puncak kenikmatan dalam pelukan d an kasih sayang Allah melebihi obat bius yang menidurkan dan menjinakkan rasa sakit.
Semoga sholat kita memberi dasar/motivasi yang dahsyat dalam kehidupan sosial kita sehingga kehadiran kita dikomunitas apapun, benar-benar menjadi rohmatan lilalamin sebagai wujud atau buah ibadah sholat. Yhakinlah saudaraku bahwa sholat yang khusu’ adalah kunci pintu sukses dalam meraih kemaslahatan kehidupan duniawi sekaligus ukhrowi. Dan sebaliknya porak poranda dan kehancuran ummat akan segera tampak, manakala sholat hanya diletakkan sebagai pelengkap hidup, apalagi ditinggalkan.

LANDASAN PENDIDIKAN ISLAM

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Syukur alhamdulillah, kita panjatkan ke hadlirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya kepada kita sekalian, khususnya nikmat melimpah iman dan Islam, sehingga sampai detik ini kita masih mau dan mampu menunaikan salah satu kewajiban kita, yaitu shalat Jum’at. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW, beserta seluruh keluarga, sahabat dan para pengikutnya, hingga yaumul qiyamah (wasiat Tuhan) nanti, amin.

Sidang Jum’at rahimakumullah

Dalam bulan September ini, terdapat 2 (dua) peristiwa penting bagi mahasiswa , yaitu : dimulainya proses belajar mengajar bagi mahasiswa baru dan insya Allah, besok proses diakhirinya pendidikan formal, yaitu wisuda sarjana bagi sejumlah lulusan baru . Dua peristiwa penting ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban orang tua yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk menjaga dan memelihara dan mendidik anak-anaknya, sehingga meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Pada kesempatan yang mulia ini, saya selaku khatib ingin mengajak pada jmaa’ah untuk menengok firman Allah SWT. :

Petrtama : surat 66 at-Tahrim : 6

َّ} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ {6

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

Para ahli telah sepakat bahwa, untuk dapat menyelamatkan diri dan keluarga dari siksa api neraka, hanya ada satu cara yaitu melalui pendidikan dan pengajaran. Pertanyaannya adalah : pendidikan dan pengajaran yang bagaimana yang mampu memberikan jaminan keselamatan tersebut ? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali menengok petunjuk Allah SWT, sebagaimana yang digambarkan pada diri Luqman ketika memberi pelajaran kepada anaknya :

Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. 31/Luqman : 13)

Dari firman Allah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa pendidikan dan pengajaran yang mampu menyelamatkan manusia adalah : pendidikan dan pengajaran yang didasarkan dan ditujukan pada penanaman tauhid, akidah dan keimanan kepada Allah SWT. Yaitu pendidikan yang apapun bentuk dan jenisnya mampu meningkatkan keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya Pencipta Alam dan satu-satunya yang wajib disembah. Tidak sebaliknya, melalui pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada anak-anak, justru menyebabkan anak-anak tersebut semakin jauh dari Allah SWT sebagai penciptanya, dan bahkan menyekutukan-Nya. Pendidikan yang diberikan kepada anak-anak hendaknya mampu meningkatkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah, termasuk nikmat dapat menempuh studi di perguruan tinggi dan pada ketundukkan dan tetawadlu’an kepada Allah SWT.

Selanjutnya Allah SWT berfirman :

Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS 31/Luqman : 14)

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Dari ayat ke 14 surat Luqman ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, pendidikan dan pengajaran yang dapat menyelamatkan manusia, di samping didasarkan dan ditujukan pada penanaman dan pengembangan keimanan kepada Allah, juga harus didasarkan dan diarahkan pada penanaman dan pengembangan akhlakul karimah, berbuat baik, terutama kepada dua-orang tua ibu bapak, lebih-lebih pada ibu. Di samping rasa syukur yang harus senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT, terima kasih yang tak terhingga juga harus senantiasa dipanjatkan dan dimohonkan mereka kepada Allah, tanpa kita menyadarinya. Juga dukungan materi, yang belum tentu kita dapat membalasnya. Pendidikan dan pengajaran yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa api neraka adalah yang mampu meningkatkan rasa syukur kepada Allah dan terima kasih kepada kedua orang tua, termasuk kepada guru atau dosen.
Selanjutnya Allah SWT berfirman :

Artinya : (Luqman berkata) : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Alah (QS 31/Luqman : 17).

Landasan berikutnya dari pendidikan dan pengajaran yang dapat menyelamatkan manusia adalah yang didasarkan dan ditujukan pada ibadah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Ibadah adalah tugas utama manusia sebagai wujud ketundukan, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT dan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu fungsi dari generasi khaira ummah, sebagaimana menjadikannya sebagai motto dalam mendidik mahasiswanya. Tidak ada artinya semua pengetahuan yang dipelajari dan dikuasai kalau jauh dari nilai-nilai ibadah kepada Allah dan mengajak atau menyeru manusia untuk berbuat yang baik dan meninggalkan yang tidak baik.

Artinya, hendaknya seluruh pengamalan ilmu yang akan, sedang dan telah dipelajari sepenuhnya diamalkan sebagai bentuk ibadah dan kegiatan dakwah untuk menegakkan kalimatullah. (QSFushilat : 33)

Dengan demikian, terdapat trilogy pendidikan dan pengajaran yang tidak dapat dipisah-pisahkan, yaitu : akidah, akhlak dan ibadah.

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Kedua : yang perlu kita perhatikan adalah firman Allah : (QS. 4 An-Nisa’ : 9)

Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Sejalan dengan uraian sebelumnya, adalah sunnatullah apabila orangtua selalu khawatir dan takut akan masa depan dan kebahagiaan anak-anaknya. Untuk itu mereka berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik, termasuk memilih fakultas dan program studi yang ‘prospektif’. Ketakutan dan kekhawatiran ini tidak akan berhenti atau hilang ketika anak-anaknya sudah lulus, di tengah-tengah ketidak pastian untuk segera memperoleh pekerjaan. Untuk ini, Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita untuk tetap berpegang teguh dengan taqwallah dan akhlakul karimah. Tidak perlu menempuh cara-cara yang tidak diridlai oleh Allah, apalagi meningggalkan kaidah-kaidah akhlakul karimah. Na’udzu billahi min dzaalik.

Adalah janji Allah dan janji Allah pasti benar, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti akan diberi jalan keluar, bahkan dipenuhi seluruh kebutuhannya, sebagaimana firman-Nya : (QS. 65 Ath-Thalaq : 2-3)

} فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ
بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ
وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ
بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا {3

Artinya : Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Sebagai penutup, atribut yang hendaknya senantiasa melekat pada generasi khaira ummah yang menunjukkan kualitas dirinya antara lain adalah : beriman dan bertaqwa kepada Allah, selalu mengajak kepada yang ma’ruf, mencgah yang mungkar, gemar beribadah dan selalu menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Dan mudah-mudahan dengan atribut-atribut yang demikian, kita semua meraih kebahagiaan di dunia, di akherat dan terbebas dari siksa api neraka, sebagaimana do’a yang senantiasa dan tidak pernah lupa kita panjatkan kepada Allah :

PENYAKIT ROHANI

Kita sudah tahu dan yakin bahwa manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Jasmani adalah bagian yang kasar, yang menurut Tuhan penciptanya, diciptakan dari tanah, seperti firmankan Allah dalam S. Sajdah ayat 7 :
Artinya : “Dan Ia (Allah) memulai penciptaan manusia itu dari pada tanah“

Adapun rohani adalah bagian yang halus, yang dirahasiakan Tuhan tentang hakekatnya. Dalam S. Al Isra’ ayat 85 Allah berfirman
Artinya : “Mereka akan bertanya kepada Engkau (Muhammad) dari hal Roh Katakanlah, soal roh itu adalah urusan Tuhanku “

Karena itu manusia tidak akan mengetahui hakekatnya untuk selama-lamanya. Yang dapat diketahui manusia rohani ini, hanyalah gejala-gejala saja. Gejala-gejala itu antara lain menangkap dan menyimpan pengertian, mengingat, berfikir, berkemauan, gembira, sedih, susah dan sebagainya.
Jasmani dan rohani itu bisa sehat dan bisa pula sakit. Sehat dan sakitnya jasmani sudah cukup jelas bagi kita. Untuk perawatan sakit jasmani, sudah tersedia dokter, obat dan rumah sakit yang amat banyak. Tetapi sehat dan sakitnya rohani, belum begitu kita ketahui, bahkan sering tidak kita hiraukan. Karena rohani ini urusan Tuhan, maka yang tahu sehat dan sakitnya itu hanyalah Dia saja. Tuhan telah memberi tahukan, bahwa rohani pada asalnya adalah sehat :
“ Dan apa-apa yang disisi Allah itu adalah baik “

Yang baik itu antara lain ialah yang sehat. Kemudian rohani itu bisa jadi sakit. Allah telah memberi tahukannya antara lain dalam S. Al baqarah ayat 10.
Artinya : “ Dalam hati (rohani) mereka ada penyakit, kemudian menambah Allah akan penyakit itu “

Dalam kenyataan kehidupan manusia, soal sakit jasmani, dijadikan persoalan yang amat besar. Karena itu diadakan Fakultas Kedokteran, sekolah apoteker, sekolah farmasi, dan sekolah-sekolah lain diadakan kursus-kursus kesehatan, diciptakannya bermacam-macam alat dan obat untuk pengobatan, dan didirikan rumah sakit-rumah sakit yang besar dan kecil untuk tempat perawatan. Semua itu dengan pengerahan tenaga, biaya dan fikiran yang hebat sekali. Tetapi untuk penyakit rohani, boleh dikata belum ada usaha yang nyata, bahkan seperti telah kita katakan diatas sering tidak dihiraukan, malah ada yang berusaha dengan sekuat biaya, tenaga dan fikiran untuk menyebarkan bibit penyebabnya kesegenap lapisan masyarakat dengan rasa bangga dan mengeruk keuntungan yang lumayan untuk kepentingan pribadi-pribadi penyebar itu. Susahnya lagi yang disebari bibit penyakit itu juga merasa senang dan bangga sehingga tersebarlah penyakit rohani yang maha hebat ditengah-tengah masyarakat manusia.
Pada hal akibat penyakit jasmani hanyalah bagi yang bersangkutan saja, sedangkan akibat bagi penyakit rohani sangat hebat, yaitu mengganggu kebahagiaan pribadi dan masyarakat manusia serta dunia dan akhirat. Untuk didunia Allah memfirmankan :
“ Nyatalah bahwa kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia sendiri “

Orang yang sehat rohaninya tidak akan membuat kerusakan itu. Prof. Dr. Abu Hanifah mengatakan : Rohani yang sakit itulah sumber / pangkal segala macam krisis dalam kehidupan manusia.
Untuk diakhirat Allah berfirman:
“ Pada hari itu (diakhirat) tidak ada gunanya harta dan anak. Kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati (rohani) yang selamat (sehat).”

Jadi menurut ayat ini orang yang berbahagia di akhirat itu hanyalah orang-orang yang rohaninya sehat selama didunia ini.
Dalam surat Al fajr ayat 27 – 39 Allah berfirman pula :
Artinya : “ Hai nafsu (rohani) yang tenang (sehat) kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan redha dan diridhai. Masuklah ke dalam (golongan_ hamba-hambaku. Dan masuklah kedalam syurga Ku “

Karena itu perlu sekali kita mengetahui pengertian penyakit rohani itu, penyebabnya, gejala-gejalanya, hal-hal yang dirusakkan dan methode pengobatannya agar kita berhati-hati dan selalu dalam keadaan rohani yang sehat supaya cita-cita hidup kita untuk bahagia di dunia dan di akhirat itu tercapai.
A. PENGERTIAN PENYAKIT ROHANI
Dr. Hamzah Ya’cub memberikan pengertian tentang penyakit rohani ini sebagaimana berikut :
1. Penyakit rohani ialah sifat buruk dan merusak dalam batin manusia yang mengganggu kebagiaan
2. Penyakit rohani ialah sikap mental yang buruk, merusak dan merintangi pribadi memperoleh keridhaan Allah
3. Penyakit rohani ialah sifat dan sikap dalam hati yang tidak diridhai Allah, sifat dan sikap mental yang cenderung mendorong pribadi melakukan perbuatan buruk dan merusak.
Singkatnya dapat kita katakan bahwa penyakit rohani ialah sifat dan sikap yang buruk dan merusak rohani, yang akan mengganggu kebahagiaan manusia, merintanginya untuk memperoleh keridhaan Allah dan mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak. Karena itulah penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia.

B. PENYEBAB
Tiap sesuatu baru akan terjadi kalau ada penyebabnya, tanpa sebab tidak mungkin sesuatu akan terjadi. Hal ini sudah merupakan hukum alam (sunnatullah) yang tetap. Maka begitu pulalah halnya dalam penyakit. Sesuatu penyakit tidak akan timbul (berjangkit) tanpa sebab :
Penyebab dari penyakit jasmani ialah kuman-kuman (bakteri). Sedang penyebab dari penyakit rohani ialah :
1. Nafsu. Sebab nafsu ini menimbulkan sifat dan sikap yang buruk dalam batin manusia serta mendorongnya untuk berbuat jahat
Allah berfirman :
Artinya : “ Sesungguhnya nafsu itu hendak mendorong (manusia) kepada kejahatan. “ (S. Yusuf: 53)

Bahkan Allah memperingatkan, bahwa apabila nafsu itu dituruti akan membawa rusak segala-galanya, yang ada di langit, dibumi dan yang ada pada langit dan bumi itu.
Artinya : “ Dan jikalau kebenaran itu tunduk kepada hawa nafsu mereka, sungguh akan rusaklah langit, bumi dan apa yang ada pada keduanya “ (S. Al Mu’minun 71)

2. Syetan. Sebab syetan itu berkeinginan agar manusia mengerjakan yang keji dan yang mungkar, serta berkecamuknya di kalangan umat manusia itu permusuhan dan kemarahan. Kalau ini sampai terjadi akan hilanglah kebahagiaan manusia dan Allah akan menjadi marah. Allah memfirmankan:
Artinya : “ Karena sesungguhnya syetan itu mendorong manusia untuk berbuat keji dan mungkar “ (S. An Nur 21)
” Keinginan syetan itu hanyalah hendak membuat bersimaha rajalelanya diantara manusia permusuhan dan kemarahan “ (S. Al Maidah 91)

3. Orang kafir. Sebab orang kafir ini tidak senang kalau umat Islam memperoleh rahmat dari tuhan. Allah memberitahukan :
Artinya : “ Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak suka, jika Allah menurunkan atas kamu kebaikan “ (S. Al baqarah 105)

Untuk menghalangi turunnya kebaikan Allah kepada umat Islam itu mereka akan selalu memerangi umat Islam, Allah berfirman:
Artinya : “ Dan mereka akan tetap memerangai kamu, sehingga mereka memalingkan kamu dari agamamu “ S. Al-Baqoroh: 217)

Perang ini mereka lakukan dengan dua cara :
a. Perang panas, yaitu dengan senjata api (bedil)
b. Perang dingin, yaitu dengan senjata kebudayaan, dengan membuat sarana-sarana yang mengobarkan nafsu dan menyenangkan syetan, sehingga umat Islam menjadi umat yang bergelimang didalam kemaksiatan
Untuk tujuan itu mereka keluarkan biaya yang tidak sedikit, seperti telah diberitahukan Tuhan, dan terlibat dalam kenyataan :

Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan hartanya untuk menghalangi kamu dari jalan Allah “ (S. AL Anfal 36)

Mengikuti jalan Allah itu adalah keridhaan Allah. Jadi orang kafir merintangi umat Islam dari keridhaan Allah. Karena itu mereka (orang kafir) adalah menyebabkan penyakit rohani pada umat Islam.

C. GEJALA
Setiap penyakit mempunyai gejala, yaitu tanda-tanda yang menyatakan bahwa seseorang terserang oleh sesuatu penyakit, Umpamanya: pegal linu, kepala pusing dan salesma mengalir adalah tanda-tanda dari penyakit influenza.
Penyakit rohani ini mempunyai gejala-gejala tertentu : gejala-gejalanya antara lain ialah :
1. Gelisah dan keluh kesah
Allah berfirman:
“ Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah, maka sesungguhnya baginya adalah kehidupan yang sempit “ (S. Thoha 124)

Menurut A. Hasan yaitu kehidupan yang sempit dalam lapangan rohani. Menurut Dr. Zakian Derajat manifestasi kesempitan rohani itu ialah rasa gelisah, keluh kesah, takut, putus asa dan sebagainya. Menurut Dr. Abu Hanifah inilah sumber dari segala macam krisis yang timbul di dalam kehidupan manusia.
Memanglah orang yang dalam keadaan gelisah dan takut perbuatannya sering tidak menentu (ngawur).
Tetapi orang sehat rohaninya tidak akan merasa gelisah dan takut apabila putus asa. Allah berfirman :
Artinya : “ Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah merasa takut dan tidak pula pernah bersedih “ (S. Yunus 62)

2. Pendangkalan rasa, yaitu tidak cepat terkesan dengan rahmat Allah. Sesungguhnya dia telah banyak menerima rahmat Allah, tetapi ia belum juga merasakan dan belum juga mau berterima kasih. Bahkan dia menerima rahmat Allah itu dengan sikap dan perbuatan durhaka. Apabila ia mengalami malapetaka baru ia sadar. Allah berfirman :
Artinya : “ Maka apabila manusia itu ditimpa malapetaka, ia menyeru Tuhannya dan kembali kepada Nya, tetapi kemudian apabila ia memperoleh rahmat dari Allah sebahagian dari mereka mempersekutukanNya “
3. Liar terhadap kebenaran. Kebenaran itu dari Allah :
“ Kebenaran itu dari Tuhanmu “ (S. Ali Imran 60)

Orang-orang yang sakit rohaninya tidak senang kepada kebenaran itu.
Allah berfirman :
Artinya : “Dan apabila disebut nama Allah semata, tidaklah senang hati orang-orang yang tidak beriman dengan hari akhir itu, tetapi apabila disebut orang-orang selain Allah, ketika itu mereka menjadi gembira “ (S. Az zumar 45)

Umpama dalam ceramah, khutbah dan kuliah, apabila yang dikemukakan sebagai alasan atau dalil adalah ayat-ayat Qur’an atau Sunnah, ia kurang senang atau belum puas, malah kadang-kadang mengejek, tetapi apabila yang dikemukakan sebagai dalil dan alasan itu kata Profesor Insinyur, Drs.. dan SH. Ia akan menjadi senang, puas dan dinyatakan sebagai ilmiah.
4. Berpurbasangka buruk
Allah berfirman :
Artinya : “Dan apabila orang-orang munafik dan orang-orang yang pada hatinya ada penyakit mengatakan, tidak adalah yang dijanjikan oleh Allah dan rasulNya, melainkan tipuan semata” (S. Al Ahzab 12)

Mereka mengatakan ini sebelum mengadakan penyelidikan dan mengadakan experimen. Jadi sebelum dibuktikan kebenarannya. Jadi dengan purbasangka buruk saja.
5. Suka menghasut (memfitnah)
Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang munafik dan mereka yang dihati-hatinya ada penyakit dan penghasut-penghasut di Madinah, niscaya Kami izinkan kamu memerangi mereka kemudian mereka tidak akan bertetangga denganmu melainkan sedikit saja “ ( S. Al Ahzab 60 ).

Ayat ini :
a. Menyejajarkan orang munafik dan orang yang berpenyakit rohani dengan penghasut
b. Jadi golongan itu tidak disenangi (diridhai) Allah
c. Jadi penghasut adalah menghalangi keridhaan Allah. Dengan demikian merupakan gejala penyakit rohani (penyakitnya sendiri)
6. Lemah dan daya amal. Orang yang sehat rohaninya pasti akan kuat/giat beramal. Karena pada dasarnya manusia dikirim Allah kebumi ini adalah untuk beramal, agar tugas yang dipikulkan Allah kepadanya terlaksana sesuai dengan rencana dengan daya amal yang lemah. Kalau ada tanda-tanda kelemahan amal, tentu ada sesuatu yang tidak beres disana. Itulah beberapa gejala penyakit rohani itu.

D. MACAM-MACAM PENYAKIT ROHANI
Penyakit rohani ini amat banyak, yaitu segala macam sifat dan sikap mental yang mengganggu kebahagiaan, merintangi untuk memperoleh ridha Allah dan yang mendorong untuk berbuat buruk. Tetapi disini akan kita bicarakan beberapa saja diantaranya, yaitu :
1. Nifak. Orang yang punya penyakit ini disebut munafiq mereka mengatakan apa-apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Allah memfirmankan :
Artinya : “Dan sebahagian dari pada manusia berkata : kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, pada hal mereka buka orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman pada hal mereka tidak lain, melainkan menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, tersebab mereka telah berdusta” (S. Al Baqarah 8,9,10)

Azab bagi orang yang berpenyakit ini amat hebat yaitu dikerak (intip) nya neraka.
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada keraknya dari neraka” (S. An Nisa’ 145)

2. Hasad (=iri hati), yaitu orang yang benci kepada orang yang diberi nikamt oleh Allah dan ingin agar nikmat itu terlepas dari padanya. Penyakit ini menghabiskan semua pahala amal yang telah dikerjakan, Nabi menyabdakan :
“Jauhilah iri hati, karena ia akan memakan semua kebaikan (pahala) sebagaiaman api memakan kayu bakar yang kering “ (HR. Abu Daud)

3. Sedih, duka cita, lemah kemauan, malas, pengecut, kikir, senang berhutang, dan senang menganiaya, sebab itu Nabi Muhammad menganjurkan agar selalu membaca do’a untuk berlindung kepada Allah, agar ia jangan terkena penyakit tersebut. Kalau bisa pada setiap sesudah sholat atau sebelum membaca salam.
“Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari pada kesedihan, kedukaan, kelemahan, malas, pengecut, kikir, banyak hutang dan kezaliman manusia “.

4. Tabzir (mubazir) = menyia-nyiakan harta. Allah memfirmankan :
“ Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah kawan-kawannya syetan “ (S. Al Isra’ 27)

Syetan adalah penyebab penyakit rohani, maka orang yang menjadi kawannya, tentu telah dihinggapi penyakit rohani itu.
5. Ananiyah = egoistis – mementingkan diri sendiri.
Allah memfirmanakan :
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara” (S. Al Hujurat 14)
“Sesungguhnya umatmu ini, umat yang satu” (S. Al Anbiya 92)

maka kalau umat Islam mementingkan diri sendiri saja, berarti dia durhaka kepada Allah. Orang durhaka dimarahi Allah. Jika orang yang mementingkan diri sendiri, merintangi keridhaan Allah, jadi ia berpenyakit rohani.
6. Al Bukhtan = berdusta = mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Berdusta ini salah satu tanda munafiq. Munafik adalah orang yang berpenyakit rohani. Berdusta tidak diridhai oleh Allah dan juga oleh manusia.
7. Takabbur = membesarkan diri = merasa diri lebih dari orang lain. Allah menyabdakan :
“Takabbur itu adalah selendangKu” (Hadits Qutsi)

maka kalau manusia memakainya sangat dimarahi oleh Tuhan.
Itulah beberapara diantara sekian banyak penyakit rohani, kalau mau memperdalamnya silahkan membaca buku-buku akhlaq.

E. KERUSAKAN YANG DITIMBULKAN PENYAKIT ROHANI
Oleh setiap penyakit tentu ada yang dirusakkannya. Makin berat penyakit itu makin besar/berat kerusakan yang ditimbulkannya. Begitu juga penyakit rohani menimbulkan bermacam-macam kerusakan antara lain :
1. Merongrong ketenangan, ini berarti meruntuhkan kebahagiaan
2. Menjauhkan diri dari Tuhan. Sifat-sifat yang ditimbulkannya, dimarahi Tuhan, dan menjadikan manusia jadi durhaka kepada Tuhan
3. Melemahkan daya amal. Kalau malas beramal akan membawa kerugian bagi akhirat kita
4. Menimbulkan psiko neurosa. Mulanya terjadi ketidakberesan pada saraf, kemudian merubah sikap terhadap diri sendiri dan orang lain, dengan sikap buruk
5. Merusak jasmani. Kini sudah dibuktikan bahwa banyak penyakit jasmani, yang disebabkan oleh sakitnya rohani. Kini sudah dikembangkan suatu ilmu yang bernama psychosomatik, yaitu ilmu yang mempelajari dan mengobati penyakit jasmani yang disebabkan oleh sakit rohani. Banyak sudah dicobakan orang pengobatan penyakit jasmani yang disebabkan oleh sakit rohani itu dengan do’a, zikir dan sholat. Hasilnya amat memuaskan. KH, SS Jami’an telah membukukan kasus-kasus yang dihadapi beliau di RS. Cipto Jakarta dengan judul “Islam Psychosomatic”.

F. METHODE PENGOBATANNYA :
Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Bagi setiap penyakit itu ada obatnya” (HR. Muslim)

Dalam mengobati penyakit rohani ini ada methodenya sendiri , antara lain :
1. Beragama/beriman, Allah berfirman :
“Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh adalah kebahagiaan bagi mereka dan tempat kembali yang baik” (S. Ar Ra’du 29)

yang berbahagia ialah yang sehat rohani :
Menurut Islam kebahagiaan itu ialah masuk syorga, Allah berfirman :
“Dan Adapun orang-orang yang berbahagia itu, tempatnya didalam syorga, mereka kekal didalamnya “ (S. Hud 108)
yang bisa masuk syorga itu ialah yang sehat rohaninya. Allah berfirman:
“Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak. Kecuali yang datang kepada Allah dengan rohani yang sehat” (S. Asy Syu’ara’ 88-89)

Agama diturunkan Allah untuk obat rohani memang.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (agama) dari Tuhanmu, untuk obat bagi rohani” (S. Yunus 57).

2. Tobat = Menyesali atas segala kesalahan meninggalkan kesalahan itu Bertekad tidak akan mengulangi lagi untuk selama-lamanya.
Orang yang telah tobat ini, menjadi bersih/sehat rohaninya kembali.
Nabi Menyabdakan :
“Orang yang tobat dari dosa sama seperti orang yagn tidak berdosa (HR. Baihaqi) .

Bahkan Allah dalam surat Furqan 70 bemfirman :
“Kecuali orang-orang yang tobat, dan beriman dan mengerjakan amal sholeh, mereka itu diganti Allah kejahatannya dengan kebaikan, dan Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang”.

Jadi orang-orang yang telah tobat, akan diganti oleh Allah kejahatannya dengan kebaikan. Dengan demikian, kejahatan karena sakit, kebaikan karena sehat. Jadi tobat menyembuhkan penyakit rohani.
3. Mawas diri (waspada). Nabi menyabdakan :
“Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri, dari pada dengan aib orang lain (HR. Al Bazar).

Mawas diri ialah memandang dalam segala gerak-gerik badan dan batin. Orang yang seperti ini, tidak mungkin akan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Karena setiap perbuatan buruk itu akan jelas nampak olehnya. Jadi dengan kewawspadaan penyakit rohani dapat disembuhkan.
4. Sadar. Sadar yaitu mengerti dan menghayati. Maka yang sadar tidak akan mau mengerjakan yang buruk. Sebab ia mengerti bahwa itu buruk, dan menghayati keburukannya
Dengan demikian untuk penyembuhan penyakit rohani, pengertian harus diperhalus/diperdalam, dan penghayatan kepada yang baik diperbanyak. Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu, apabila mengenai mereka gangguan syetan, mereka ingat dan mereka sadar. “ (S. Al A’raf)

karena itulah mereka tidak bisa dihinggapi penyakit rohani. Sebab begitu penyebabnya mengenai mereka, mereka cepat ingat dan sadar.
“Sesungguhnya hamba-hambaKu (taqwa) tidak ada kekuasaan bagimu (syetan) atas mereka” (S. Al Hijr 42).
5. Ibadat. Terutama sholat, zikir, dan do’a
“Yang beriman dan tenteram hati mereka dengan ingat kepada Allah. Ketahuilah dengan ingat kepada Allah, bisa tentram hati manusia” (S. Ar Ra’du 28)

Hati yang tentram adalah tanda sehat. Untuk mengingat Allah itu yang utama adalah sholat.
“Dirikanlah sholat untuk mengingat Aku” (S. Thoha 14)

sedang do’a adalah jantung ibadah.
“Do’a itu adalah jantung ibadah.” (HR. Turmudzi)

jadi dengan ibadah terutama sholat, zikir dan do’a akan membuat rohani sehat.
6. Amal-amal sholeh yang lain
“Demikianlah, barang siapa yang membesarkan syi’ar agama Allah sesungguhnya itu adalah bukti dari pada rohani yang sehat” (S. Al Hajj 32)

itulah diantara lain, metode pengobatan penyakit rohani itu. Karena itu marilah beragama dengan baik, beribadat, berdo’a, berzikir dan beramal sholeh yang banyak, agar rohani kita selalu sehat.

G. ROHANI YANG DITERIMA ALLAH
Seperti yang telah diterangkan diatas rohani itu asalnya sehat. Tetapi setelah datang kedunia ini, karena beberapa sebab ia menjadi sakit. Kemudian Allah menurunkan agamanya, sebagai obatnya, karena Allah menghendaki agar ia tetap sehat, sebab Ia baru mau menerima kembali, kalau dalam keadaan sehat.
“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan rohani yang sehat “ (S. Asy Syuara’ 89).

Kalau datang dalam keadaan sakit harus diobat dulu di dalam neraka. Setelah sehat, baru boleh datang menghadap. Sedang untuk menghadap didunia ini saja (dengan sholat) harus suci dari najis dan hadats, juga dari dosa.
Karena itu marilah kita pelihata kesehatan rohani kita dengan mengamalkan semua perintah Allah dan menghentikan semua larangan Nya.
Bayangkan kalau semua orang bersedia kembali kepada diri sendiri dahulu, sebelum berkeinginan untuk melihat, mengoreksi dan menilai orang lain, bayangkan bila semua orang demikian. Dan mendasarkan seluruh aktifitasnya pada hati yang bersih dan tak disertai kedengkian, kesombongan

4 Kejadian yang sudah pasti menimpa manusia dan 7 cara menanggulanginya

  1. Bergerak menjadi ‘tua’

Tak dapat dipungkiri. Semua yang ada di bumi ini mempunyai usia yang sudah ditetapkan. Maka dari itu, menjadi tua adalah suatu kepastian. Dan manusia tak bisa menghindari untuk menjadi tua. Walaupun dibela-bela dengan melakukan suntik silicon untuk tetap mengencangkan otot wajah. Tapi pada dasarnya manusia itu sendiri tetaplah orang tua. Karena umur tua tak bisa disembunyikan, sudah menjadi kodrat kita semua. Wajah, badan dan lainnya bisa kita buat menipu. Hingga yang tua nampak masih seperti muda.

Usia kita tidak bisa menipu. Usia kita tetaplah tua walaupun jasmani kita masih kelihatan muda. Jangan takut menjadi tua. Karena setiap manusia pun akan mengalaminya. Yang penting adalah usahakanlah selalu di usia yang tua ini kita tingkatkan amal sholih dan ketakwaan kita kepada Alloh SWT. Sehingga usia tua kita tak sia-sia karena kelalaian kita dan keasyikan kita menikmati dunia sehingga lupa untuk beribadah kepadaNya.

2.Mengalami kesusahan dan kerepotan.

Tak ada manusia manapun yang jauh dari kesusahan dan kerepotan. Kita semua tak bisa mengelak dari yang bernama kesusahan dan kerepotan. Bahkan seorang Rasul pun merasakan bagaimana hidup susah dan kerepotan. Bohong sekali kalau orang tak pernah mengalami kesusahan dan kerepotan.

Seorang yang masih hidup sendiri pun repot dan susah karena hidup sendirian. Maka dia pun membutuhkan suatu perkawinan, seorang teman sebagai pendamping hidupnya. Yang dimaksudkan untuk sama-sama mengurangi kesusahan dan kerepotan bersama-sama.

Namun kadang manusia suka sekali berlebih-lebihan. Hidup dengan seorang istri dan beberapa anak sudahlah repot. Tapi ia serakah, hingga melakukan poligami ataupun poliandri. Alasan mereka untuk mengurangi kesusahan hidup. Tapi sebenarnya justru mereka mencari kerepotan dan kesusahan yang baru dengan melakukan hal itu.

  1. Mengalami sakit.

Manusia bukanlah robot. Yang tak pernah mengeluh sakit. Manusia hidup dengan badan, jasmani dan rohani. Sehingga pasti merasakan yang namanya sakit. Baik itu sakit jasmani maupun sakit rohani.

Sakit jasmani bisa dirasakan oleh pribadi manusia itu sendiri yang mengeluhkan sakit. Sehingga dia merasakan perlu untuk istirahat beberapa saat untuk memulihkan kembali kesehatannya. Baik itu dengan berobat ataupun dengan kembali mengatur pola hidup sehat.

Ada sakit jasmani tentu juga ada sakit rohani. Sakit rohani untuk pertama kali yang merasakan adalah orang di sekitarnya. Dimana melihat tingkah laku yang berbeda dari seseorang yang mempunyai kelainan rohani. Entah itu seorang penjahat ataupun lainnya. Dia berlaku jahat dan dzalim tentu karena kurang sehatnya rohani yang ada dalam dirinya. Sehingga diperlukan siraman rohani untuk mengobati sakit rohani yang dideritanya.

  1. Mengalami ajal atau kematian.

Tumbuh-tumbuhan berkembang dari mulai biji kemudian tumbuh menjadi tanaman yang indah dan atau menghasilkan buah yang bias dinikmati oleh pemetiknya. Lambat laun pun akan menjadi tumbuhan tua dan mati pada umur yang sudah ditetapkan. Begitu pun manusia, dilahirkan ke dunia ini pun sudah ditetapkan usia hidupnya. Dari mulai bayi melalui bertahap kejadian pertumbuhan hingga menginjakkan usia yang sudah ditetapkan dan meninggal dunia. Dan kita tak pernah tahu jumlah usia kita. Kapan kita tutup usia, itu rahasia Alloh SWT. Dan hanya DIA yang tahu kapan, dimana, dalam keadaan apa kita mati.

Tak boleh kita takut akan kematian. Tak boleh pula kita mencari mati. Karena kematian pasti akan datang menjemput kita. Cuma kita tak tahu kapan itu terjadi. Karena batas usia hanyalah kehendakNya. Bisa saja mati masih dalam kandungan, dalam usia anak-anak, dalam usia remaja dan dalam usia dewasa. Itu bisa saja. Tergantung jatah hidup usia kita di dunia.

Yang paling penting adalah kita berusaha mempersiapkan diri kita agar disaat maut menjemput kita, kita tetap dalam keadaan iman dan islam. Dan disaat kematian kita, kita bisa mengalami khusnul khotimah. Dimana kalimat ‘Laa ilaha illalloh’ terucap dari bibir kita saat maut tiba.

Itulah 4 hal diantara beberapa hal yang sudah pasti dialami oleh kita semua. Dan kesemuanya itu harus kita persiapkan sebelumnya dengan beberapa cara pula, yaitu untuk menghadapi kesulitan dan kesusahan hidup kita. Kita harus,

  1. Syukur kita kepada Alloh SWT.

Barangsiapa bersyukur kepada Alloh SWT, niscaya akan ditambah kenikmatannya. Namun barang siapa yang kufur kepada nikmat Alloh SWT. Ingatlah sesungguhnya azab Alloh SWT amatlah pedih.

Inti dari semua itu adalah semua yang kita alami hendaknya tetap kita syukuri. Pahit, manis, musibah, berkah adalah karuniaNya. Mungkin dengan kepahitan hidup yang kita alami nantinya akan berbuah manis untuk kebaikan kita.

Dan bisa jadi manis yang kita rasakan saat ini adalah suatu peringatan bagi kita untuk selalu bersyukur kepadaNya. Sehingga kita akan menjadi manusia yang ahli syukur di hadapanNya. Dan kita menjadi orang yang tahu berterima kasih pada pemberi kenikmatan itu sendiri.

  1. Sabar atas segala kejadian yang kita alami.

Yakinlah Alloh SWT mencintai orang-orang yang sabar dalam musibah. Setelah kita bersyukur dan mengembalikan semuanya pada Alloh.

Sabar, karena segala musibah yang menimpa kita adalah ujian dariNya. Namun kita pun harus yakin, Alloh SWT yang akan mengembalikan kita kepada kebaikan nantinya.

Tapi sabar tidak selalu dalam kejadian kita mengalami musibah. Didalam kenikmatan pun kita harus bersabar. Karena banyak orang yang berlebih-lebihan menghambur-hamburkan harta di jalan maksiat. Itu karena mereka tak bisa sabar mengelola nikmatNya. Sehingga mudah tergoda oleh rayuan syaitan untuk melakukan kenistaan. Na’udzubillah min dzalik.

  1. Ikhtiar, berusaha mencari celah yang berbeda.

Orang tak bisa menyalahkan nasibnya pada Alloh SWT. Karena pada prinsipnya semua orang sama dalam segala hal. Orang kaya tak bisa disebut kaya tanpa adanya orang miskin. Orang miskin pun begitu. Dia disebut miskin karena hidup diantara orang kaya.

Tapi itu tak boleh menjadikan kita berkecil hati. Orang miskin pun berhak kaya. Tentunya dengan jalan yang diridloiNya. Dia tak boleh berpangku tangan dengan nasibnya. ‘Nrimo ing pandum’, menerima bagiannya. Bagian yang seperti apa dulu. Bila ia mau berusaha lebih dan optimis tentu akan menerima bagian yang lebih.

Jika menjadi seorang pegawai kecil tak bisa menghasilkan uang yang lebih. Dia bisa saja mencari alternative ikhtiar lainnya. Entah itu dengan membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Atau bisa juga mencari tambahan-tambahan lain yang halal di luar pekerjaannya. Itu baru dinamakan ikhtiar yang benar.

  1. Tawakal setelah berikhtiar.

Iktiar sudah kita lakukan. Sekarang tinggal kita bertawakal, serahkan semua hasil padaNya. Karena Alloh SWT adalah Maha Pemberi Rizky. Maha Penyelesai Masalah kita. Dimana setelah kita berusaha dengan sebaik mungkin menyelesaikan urusan kita, masalah kita. Sekarang tinggal Alloh SWT yang nantinya mengatur hasilnya.

Tawakal bisa saja diartikan dengan iktiar yang kontinyu. Terus menerus menuju peningkatan. Sesuatu yang dilakukan secara terus menerus dengan kepasrahan tanpa berharap lebih, insyaalloh akan menghasilkan sesuatu yang manis.

  1. Memperkuat Iman kita.

Tak ada yang bisa merubah nasib kita kecuali kita sendiri yang mau merubahnya. Alloh SWT adalah pemilik tunggal seluruh alam semesta ini. PadaNya kita berserah diri, memohon rahmat dan ampunanNya. Kita beriman padaNya itu adalah suatu kewajiban. Dengan selalu memperkuat mutu keimanan kita padaNya, Insya Alloh kita dijauhkan dari segala marabahaya yang mengancam kehidupan kita. Dengan selalu taat dan patuh padaNya niscaya Alloh SWT akan memberikan yang terbaik untuk kita semua.

  1. Memperbanyak amal shalih dan ibadah.

Jika kita menginginkan sesuatu tentu kita harus rela memberikan sesuatu. Tak ada yang kita dapatkan tanpa pengorbanan yang kita lakukan.

Di jaman yang serba sulit ini satu hal yang teramat berat kita lakukan adalah bersedekah. Padahal sedekah adalah anjuran dariNya. Barangsiapa menolong kesulitan saudaranya, Alloh SWT pasti menolong kesulitannya. Karena itu beramal baik harus selalu kita upayakan. Walaupun hanya sebentuk senyum manis untuk saudara kita. Itulah tanda hablumminnas kita.

Kemudian untuk hablumminalloh kita adalah kita selalu menjalankan perintah-perintahnya. Baik itu sholat wajib ataupun sholat sunah. Shaum kita, baik yang wajib ataupun yang sunah pun harus kita lakukan. Insya Alloh, kita dijauhkan dari kesusahan hidup.

  1. Berdo’a.

Termasuk orang yang sombong, orang yang tak mau berdo’a kepadaNya. Untuk itu kekuatan do’a harus selalu kita perkuat dengan keyakinan kita. Sesuai janjiNya, berdo’alah kepadaKu pasti kuijabahkan. Dimana pun, kapan pun dan dalam keadaan apapun, lantunkan selalu do’a-do’a yang baik kepadaNya.

Kita tak boleh dalam marah kita, kita menyumpahi dengan do’a-do’a yang buruk. Do’akanlah saudara-saudara kita yang telah mendzalimi kita dengan do’a yang baik. Jangan pernah kita mendo’akan mereka dengan suatu keburukan.

Do’a yang buruk bisa saja terjadi kepada yang dido’akan. Namun bila tertolak akan kembali kepada yang berdo’a itu sendiri. Na’udzubillah min dzalik.

Allohumma inni as aluka ‘afwa wal ‘afiata fiddunya wal akhirati.

Yaa Alloh, aku memohon kepadaMu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Akhirnya, semoga Alloh menyelamatkan kita dari kenistaan dan keburukan nasib kita. Dan terus memberikan petunjuk hidup kepada jalanNya yang lurus. Amien.

Wallohu a’lam bishowab.

Minggu, 11 Mei 2008

TATA CARA TAYAMUM

Pertama kali, pusatkan konsentrasi Anda dan berniatlah untuk bertayammum. Tentukanlah untuk kewajiban apakah Anda bertayammum; sebagai ganti dari wudhû` atau mandi?

Setelah itu, tepukkanlah kedua telapak tangan Anda di atas debu kering dan suci yang telah disiapkan sebelumnya. Kemudian, angkatlah kedua telapak tangan.

Selanjutnya, usapkanlah kedua telapak tangan tersebut di atas dahi hingga ujung atas hidung yang berada di antara kedua mata. Pengusapan ini harus dilakukan dari atas ke arah bawah.

Setelah itu, tanpa menepukkan kedua telapak tangan di atas debu untuk yang kedua kalinya, usapkanlah telapak tangan kiri di atas tangan kanan dimulai dari pergelangan tangan hingga ujung jari.

Lalu, usapkanlah telapak tangan kanan di atas tangan kiri dimulai dari pergelangan tangan hingga ujung jari. Dengan selesainya pengusapan tersebut, selesailah tayammum Anda.

TATA CARA WUDLU

Tata Cara Wudhu`

Pertama kali, berniatlah untuk berwudhu` dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Ambillah air wudhu` dengan tangan kanan.

Basuhlah wajah Anda dengan air tersebut dimulai dari tempat tumbuhnya rambut di dahi hingga ujung janggut. Membasuh wajah disyaratkan dari atas ke bawah.

Lalu ambillah air untuk kedua kalinya dengan tangan kiri dan basuhlah tangan kanan dimulai dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kanan disyaratkan dari atas ke bawah.

Lalu ambillah air untuk ketiga kalinya dengan tangan kanan dan basuhlah tangan kiri dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kiri juga disyaratkan dari atas ke bawah.

Kemudian usaplah kepala bagian atas ke arah depan dengan tangan kanan dan menggunakan sisa air yang tersisa di tangan. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kepala.

Setelah itu, usaplah kaki kanan Anda dengan sisa air yang ada di tangan kanan dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kaki kanan.

Selanjutnya, usaplah kaki kiri Anda dengan sisa air yang ada di tangan kiri dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk memngusap kaki kiri. Dengan demikian, Anda tela selesai berwudhu`.

MASALAH MADZHAB

Mazhab artinya jalan. Dalam masalah agama sering disebut aliran. Sebenarnya banyak sekali aliran dan mazhab yang dikenal dalam sejarah Islam. Sejak masa sahabat dan munculnya perbedaan pendapat dalam masalah cabang agama, setiap pendapat lalu disebut dengan istilah mazhab, maka di sana terkenal mazhab Aisyah, mazhab Adbullah bin Umar, mazhab Abdullah bin Masud dll.

Sampai sekitar pertengahan abad keempat, ada sekitar 13 mazhab terkenal yang pendapat mereka dikodifikasikan oleh para pengikut mereka, termasuk di dalamnya mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Selanjutnya mazhab empat tersebut yang yang paling populer di kalangan umat Islam sunni serta mendapatkan perhatian intelektual yang sangat besar dari para pengikutnya.

Mazhab selain mazhab empat yang juga cukup populer dan benyak pengikutnya adalah Dawud al-Zahiri, Zainul Abidin (dari syiah), Ja’far Shadiq dan Jabir bin Zaid (Ibadliyah)

Sebenarnya tidak ada keharusan bermazhab dalam agama, demikian juga tidak ada keharusan mengikuti mazhab empat. Yang menjadi kewajiban adalah mengikuti al-Qur’an dan Sunnah dan dalil-dalil lainnya secara benar.

Bagi orang awam bermazhab adalah semata untuk memudahkan mereka mengikuti ajaran agama, sebab mereka tidak perlu lagi mencari setiap permasalahan dari sumber aslinya yaitu al-Qur’an, hadist, Ijma’ dll., namun mereka cukup membaca ringkasan tata cara beribadah dari mazhab-mazhab tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya beragama bagi orang awam, bila harus mempelajari semua ajaran agamanya melalui al-Qur’an dan Hadist. Betapa beratnya beragama bila semua orang harus berijtihad.

Pada zaman sekarang ini, pengaruh mazhab ini sedemikian populer dan kuat di kalangan umat Islam, sehingga tidak satu komunitas pun yang sebenarnya bebas mazhab. Ini karena agama yang dianut oleh komunitas tertentu sudah pasti diambil atau dipengaruhi oleh salah satu mazhab yang ada. Contohnya dalam masyarakat kita Indonesia, meskipun ada yang mengklaim tidak menggunakan mazhab, namun dalam praktiknya tetap saja secara ritual dan tata cara beribadah masyarakat kita cenderung mengikuti mazhab syafi’i, karena melalui mazhab inilah masyarakat Indonesia mengenal Islam. Masyarakat Saudi Arabia juga demikian, meskipun diklaim tidak bermazhab, namun praktiknya mereka menerapkan mazhab Hanbali, karena masyarakatnya mengenal Islam melalui mazhab Hanbali.

Dalam ilmu usuhul fiqh, terdapat istilah penting yang berkaitan dengan masalah bermadzhab, yaitu ijtihad, taqlid dan talfiq.

1. Ijtihad

Ijtihad didefinisikan sebagai “upaya untuk menemukan hukum-hukum shariah (agama). Untuk bisa mencapai taraf ijtihad, para ulama membuat beberapa persyaratan, yaitu :
1. Mengetahui arti ayat-ayat al-qur’an, baik dari segi bahasa maupun hukum.
2. Mengetahui hadist-hadist hukum, dan mengetahui maksudnya dari segi bahasa maupun hukum.
3. Mengetahui masalah nasikh dan mansukh (abrogasi dalam hukum qur’an dan hadist)
4. Mengetahui permasalahan-permasalahan yang telah terjadi konsensus para ulama mengenai hukumnya.
5. Mengetahui masalah analogi hukum Islam.
6. mengetahui bahasa Arab.
7. Mengetahui methodologi pengambilan hukum islam.
8. Mengetahui maqasid shariah (filsafat hukum Islam).

Itjihad dalam masalah-masalah agama senantiasa terbuka sampai kapan pun. Memang sering kita dengar isu bahwa pintu ijtihad telah tertutup, tapi kalau mau kita sadari, itu adalah isu yang menyesatkan, karena menutup pintu ijtihad sama saja dengan melarang orang berfikir. Agama Islam adalah agama yang mengajak kebebasan berfikir dengan logika yang benar. Imam Baghawi pernah mengatakan bahwa mencari ilmu untuk bisa mencapai tingkat ijtihad hukumnya fardlu kifayah. Bila dalam satu masa, tidak ada orang yang mau mencari ilmu untuk meraih tingkat ijtihad maka, berdosalah seluruh umat Islam yang hidup pada saat itu.

Mencari solusi hukum islam untuk permasalahan-permasalahan baru di zaman sekarang juga termasuk ijtihad.

Ijtihad dibuka dalam segala bidang, termasuk dalam masalah-masalah ritual dan fiqh. Hanya yang perlu diketahui di sini adalah ijtihad dengan cara, metodologi dan etika yang benar, sesuai dengan dalil-dalil yang ada.

2. Taqlid

Taqlid adalah mengambil pendapat ulama dengan tanpa mengetahui dalilnya. Mengambil satu hukum dengan referensi empat madzhab atau lainnya dengan tanpa mempelajari dalilnya, termasuk taqlid. Taqlid boleh dilakukan oleh orang yang pengetahuan agamanya terbatas, sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk bisa mengakses dalil-dalil yang ada. Taqlid boleh dilakukan hanya kepada ulama-ulama yang benar-benar mengetahui ilmu-ilmu agama dan taqlid yang terbaik adalah dengan disertai memperlajari dlail-dalil dari pendapat yang diikutinya. Taqlid buta, meskipun ia tahu itu bertentangan dengan dalil yang ia ketahui, atau taqlid dengan fanatik, sehingga merasa benar seindiri, sangat dicela dalam agama.

Bidang yang diperbolehkan taqlid, menurut sebagian besar ulama, secara teoritis, adalah furu’ (cabang-cabang fiqh), sedangkah masalah tauhid (keyakinan) tidak boleh taqlid. Namun kalau dikaji secara empiris, tentu sulit untuk menerapkan ketentuan seperti itu. Masyarakat yang pengetahuannya terbatas dalam bidang apapun, pasti akan cenderung melakukan taqlid.

Bertaqlid kepada salah satu dari empat madzhab fiqh merupakan tindakan terpuji , karena muqallid (orang yang melakukan taqlid) tentu telah berkeyakinan bahwa madzhab yang dianutnya adalah yang terbaik bagi dirinya, artinya dari pertimbangan memperkecil keraguannya. Namun fanatik dengan madzhab yang dianutnya merupakan perbuatan tercela, karena ini berarti menganggap madzhab lain salah. Muqallid harus tetap berkeyakinan bahwa di sana ada pendapat lain yang mungkin layak juga untuk dipakai.

Keuntungan dari menggunakan satu madzhab adalah dari aspek simplifikasi pengajaran. Orang awam tentu akan lebih mudah belajar dan diajari dengan pendekatan satu madzhab, karena ini tidak membingungkan. Kerugiannya, antara
lain: terkadang taqlid dengan satu madzhab bisa merangsang fanatisme madzhab, apalagi pada kalangan awam yang tidak diberi wawasan agama yang baik. Terkadang taqlid kepada satu madzhab juga memperberat penerapan hukum,
aplagi bila kondisi tidak memungkinkan.

Sebagian besar ulama berpendapat tidak ada ketentuan yang mewajibkan bertaqlid kepada satu imam saja, namun boleh kepada imam lain yang diyakininya benar. Pendapat ini juga dipakai oleh para ulama terkemuka saat ini, karena menghembuskan nafas keterbukaan dalam menerapkan hukum agama.

3. Talfiq

Permasalahan taqlid yang telah mengundang polemik ulama dari rentang waktu yang cukup panjang, pada sekitar abad ke-10 hijriyah telah mengantarkan kepada gagasan pembatasan taqlid, yaitu dengan konsep talfiq. Mereka mengatakan bahwa taqlid sah apabila tidak mengantarkan kepada talfiq. Talfiq didefinisikan : mencetuskan hukum dengan mengkombinasikan berbagai madzhab, sehingga hukum tersebut menjadi sama sekali baru, tidak ada seorang ulama pun yang mengatakannya. Mencampur-campur madzhab dengan sengaja dan mencetuskan hukum baru yang sama sekali tidak ada dalilnya, itulah yang lebih tepat disebut talfiq yang dicela agama. Adapun berpindah madzhab dalam satu masalah agama dengan berlandasan kepada dalil atau karena kondisi tertentu, tidak lah termasuk talfiq.

Dalam menggunakan pendapat madzhab yang berbeda-beda yang perlu diperhatikan adalah sbb :
1. Tidak dengan sengaja mencari-cari yang mudah (sengaja mencari enaknya) dengan tujuan mempermainkan agama, apalagi yang mengantarkan kapada hukum baru yang sama sekali tidak dikatakan oleh salah seorang ulama. Misalnya mengambil pendapat yang mengatakan boleh nikah tanpa wali, kemudian mengambil pendapat kedua yang mengatakan boleh nikah tanpa saksi, kemudian mengambil pendapat ketiga yang mengatakan sah nikah tanpa mahar, lalu mencetuskan pendapat “boleh nikah tanpa wali, saksi dan mahar”. Pendapat ini tidak ada seorang pun ulama yang mengatakannya.

2. Tidak mengantarkan kepada pendapat baru yang sama sekali bertentangan dengan dalil.
3. Tidak memaksakan diri menggunakan pendapat yang telah diketahui atau diyakini kelemahnya.
4. Tidak boleh dalam satu ibadah, misalnya dalam wudlu mengambil mazhab Syafi’i dalam mengusap sebagain kepala, kemudian mengikuti mazhab Hanafi dalam masalah tidak batal memegang kemaluan, padahal tanpa mengetahui dalil masing-masing dan hanya bermazhab buta atau taqlid.

Demikian, semoga membantu

TANYA JAWAB AGAMA

Menghadapi Iseri yang Ego
Soalan:
Isteri saya menuntut cerai kerana dia enggan mendengar nasihat saya bagi perkara2 tertentu. Dia masih merasa sangat marah sehingga perasaan benci dan dendam sudah mula timbul. Dia tidak lagi menganggapkan dirinya itu sebagai isteri saya. Dia sudah beberapa bulan tidak memberi nafkah batin, mengusir saya keluar dari rumah dan keluar rumah tanpa kebenaran saya. Ibunya pula menyokong pendiriannya juga. Dia tidak mahu bercakap dengan saya juga kerana tersinggung dengan percakapan saya. Saya masih bersabar. Saya mengerti akan tikah lakunya kerana isteri saya itu mengikut perasaan. Lagipun fahaman agamanya pun kurang. Walaupun demikian, saya belum lagi menjatuhkan talak. Saya masih mengasihi isteri saya dan saya ingin membimbingnya kembali kepangkuan jalan. Apakah saranan yang terbaik bagi saya. Saya masih bersabar, saya tidak mahu bercerai berai.
M. Tariq, Singapura
Jawapan:
Berdosa besar bagi seorang isteri yang tidak melayan kehendak suaminya. Seandainya suami menginginkan agar pada malam tersebut isterinya melayannya sedangkan si isterinya menolak permintaan suami itu, maka semalaman malaikat mengutuk perbuatan isteri tersebut. Bayangkan saja jika sudah berbulan-bulan isteri tidak mahu melayan kehendak suami tentu semakin besar dosa yang ditanggungnya.

Dalam Islam seorang isteri hendaklah mendengar dan menjalankan segala perintah yang disuruh oleh suami selagi perintah tersebut tidak menjurus kepada mensyirikkan Tuhan atau sesuatu perkara yang bertentangan dengan syarak. Jika isteri ingkar maka isteri tersebut tergolong isteri yang derhaka, jika ia mati dalam keadaan tidak mendapat keredhaan suaminya maka ia mati dalam keadaan membawa dosa yang besar. Menghadapi isteri yang ego seperti ini, suami hendaklah bersabar kerana wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, jika kita paksakan untuk meluruskannya maka ia akan patah dan jika kita biarkan dia dalam keadaan yang keliru itu maka selamanyalah ia akan menjadi bengkok.

Berusahalah menasihatinya dengan cara yang baik dan sesuai dengan cara yang disyariatkan Islam. Carilah sebab mengapa dia bertindak demikian setelah itu pujuklah dengan menggunakan pendekatan psikologi dan agama. Jika dengan berbagai cara tidak dapat melembutkan hatinya, maka lakukanlah solat istikharah, bermohonlah kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah keluarga anda tersebut. Jika perceraian merupakan jalan yang terbaik ada baiknya anda ceraikan, kerana talak merupakan perkara yang halal sebagai suatu jalan menyelesaikan masalah dalam perkahwinan. Seandainya kita telah meminta keputusan melalui solat istikharah maka , insya Allah, Allah SWT akan memberikan jalan yang terbaik buat kita. Wallahu A'lam.


Pernikahan Setelah Hamil
Soalan:
Dosa yang telah saya sudah keterlaluan sekali, saya sangat rajin sholat, baik lima waktu ataupun shalat-shalat sunah; Tahajud,Duha, bahkan saya puasa senin & kamis, namun kiranya iman yang saya miliki tidak sekokoh ibadah yang saya lakukan, setan telah berhasil menggoda saya melalui seorang perempuan yang saya sangat cintai. Saya terlanjur berbuat zina dengan dia. Saya sangat bingung dan sedih terhadap diri saya yang sudah bergelimang dosa karena zina ini, namun saya selalu berharap Allah maha pengampun.

Masalahnya wanita yang saya cintai itu hamil karena perbuatan saya, dan saya sekarang sudah menikahinya setelah empat bulan hamil. Yang saya tanyakan apakah perkawinan saya ini syah ? Karena ada pendapat bahwa perkawinan yang diselenggarakan pada saat hamil itu tidak syah? jika benar demikian mohon kiranya Ustadz memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya mengenai masalah ini. Dan bagaimana hukumnya dengan anak yang lahir nanti?


Jawaban:
Jika telah melakukan perbuatan dosa besar seperti berzina, maka bertaubatlah dengan taubat nasuha, ertinya tidak akan mengulangi perbuatan yang terkutuk tersebut. Jika kita benar-benar bertaubat dan tidak mengulanginya lagi maka insya Allah, segala dosa silam telah diampunkan oleh Allah SWT. Hanya dengan bertaubat sajalah seseorang itu dapat membersihak dirinya dan dengan bertaubat juga seseorang itu dapat mengembalikan fitrahnya.

Jika anda telah menikah dengan wanita hamil melalui perhubungan anda tersebut maka pernikahan anda tetap sah. Sedangkan hukum anak yang lahir nanti tetap sebagai anak manusia yang suci dan bersih sebagaimana dengan anak manusia yang lain. Sebab anak tersebut tidak berdosa dan tidak bersalah yang berdosa dan salah adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh orang tuanya. Menurut Imam Syafei jika sesuatu pasangan melakukan zina kemudian berkahwin setelah berlalu enam bulan dua lahzat isterinya melahirkan anak, maka anak itu boleh di "bin" kan kepada bapanya. Jika isterinya melahirkan anak kurang dari tempoh enam bulan anak tersebut tidak boleh di "bin' kan kepada bapa terlibat sebaliknya hendaklah di bin kan dengan kepada ibunya

Mencerai Isteri Dengan Talak Tiga
Soalan:
Saya bertengkar keras dengan isteri saya. Pada waktu marah dan tida berfikir dan tidak inginkan, I sebutkan 'Saya ceraikan engkau dengan tiga talak'. Sekarang, saya sangat menyesal dan mahu tahu apakah saya perlu buat untuk dapatkan isteri saya dan anak kesayangan saya. Bolehkah saya diampuni tuhan kalau saya betul betul menyesal and waktu saya memperkatan, saya tidak anda intention langsung.

Isa Khader, Singapura
Jawapan:
Menurut Imam Syafei tidaklah diharamkan mengumpulkan talak tiga sekaligus. Apabila ini berlaku berkuatkuasalah talak tersebut. Begitu juga Jumhur Ulama berpendapat talak tiga sekaligus jatuh tiga talak. Ertinya apa yang anda lafazkan terhadap isteri anda tersebut menyebabkan jatuhnya talak tiga dan anda tidak boleh rujuk kembali terhadap isteri anda itu, sehinggalah ia dikahwini oleh orang lain dan orang tersebut mencerainya pula. Pada ketika itu barulah anda boleh menikahinya kembali.

Penyesalan anda dari perbuatan yang terburu-buru nafsu itu hanya sesuatu yang terlambat. Padahal dalam Islam telah ditunjuk kaedah dan cara yang terbaik ketika ingin menceraikan isteri. Allah berikan tiga talak tersebut dengan tujuan agar manusia dapat menggunakannya satu persatu dan ada ruang untuk mereka rujuk kembali. Maka dari semenjak anda menceraikan isteri anda tersebut, anda tidak boleh menggaulinya lagi dan jika anda melakukannya anda telah berbuat zina. Oleh sebab itu terimalah ketetapan ini dengan hati yang terbuka,meskipun penyesalan telah menyelimuti ruang minda.

MENCINTAI IDAMAN

Rasa cinta dan kasih sayang merupakan fitrah dan anugerah Allah yang diberikan kepada setiap insan. Dengan rasa cinta dan kasih sayang inilah terbinanya kehidupan dan tamadun umat manusia yang cemerlang. Cinta juga merupakan tabiat manusia terhadap sesuatu yang nikmat baik bersifat jasmaniah mahupun rohaniah. Nafsu cinta iaitu usaha untuk memenuhi keinginan jasmaniah seseorang terhadap orang lain atau keinganan untuk menjalinkan hubungan lelaki terhadap seorang wanita. Jika kita ingin kepada makanan dan minuman tertentu yang kita sukai namanya selera, kemudian jika kita suka terhadap haiwan tertentu,itu dinamakan sayang. Jangan kita katakan cinta terhadap haiwan dan sebagainya.

Cinta, kasih, sayang, selera, simpati dan sebagainya itu merupakan bahagian yang termasuk dalam naluri manusia. Ada pula orang yang mengatakan bahawa cinta itu buta. Ertinya bila seseorang jatuh cinta maka ia akan kehilangan kemampuan untuk berfikir secara wajar. Lebih banyak dikuasai oleh gelora perasaan sehingga mereka merasa buta untuk melakukan pekerjaan yang lain. Cinta itu buta dapat juga diertikan cinta itu mengandungi kesetiaan, kerana apabila ia telah jatuh cinta terhadap seseorang maka fikiran dan matanya buta terhadap yang lain. Cintanya bertujuan terhadap seseorang yang menjadi pilihannya semenjak dari awal, tak peduli apakah bentuknya cantik atau cacat.

Jadi perasaan cinta yang tumbuh dalam sanubari anda tersebut bukanlah suatu dosa, melainkan proses fitrah yang sedang berjalan dalam kehidupan anda. Cuma saja diharapkan tidak menyalahkan fitrah tersebut dengan memberikan ruang-ruang syaitan untuk menguasai diri kita. Berdoalah kepada Allah jika lelaki tersebut merupakan pasangan yang terbaik untuk anda maka mohonlah agar dipertemukan jodoh dengannya, namun sebaliknya jika ia bukan yang terbaik maka bermohonlah agar ia dijauhkan dari kehidupan anda meskipun rasa cinta yang bergelora menusuk setiap nadi anda. Sebab ketentuan Allah untuk kita itu lebih baik dan lebih bermanfaat dari kehendak nafsu dan diri sendiri.

TANDA TANDA KIAMAT

Menjadi keyakinan kita bahawa kiamat pasti akan beralaku, namun kita tidak diberitahu bilakah kiamat itu akan berlaku. Cuma di dalam al Quran dan hadis ada disebutkan tanda-tanda sebelum kiamat itu terjadi. Semoga dengan panduan terhadap tanda-tanda tersebut memberikan suatu peringatan buat kita yang sentiasa lupa dan bersedia menanti hari yang paling menakutkan itu. Bagi orang yang beriman menganggap itu adalah tanda-tanda kekuasaaan Allah yang perlu dihadapi dengan amal takwa dan hati yang tenang.

Disebutkan dalam sebuah hadis bahawa suatu hari Rasulullah SAW dihadapan orang ramai dikunjungi oleh malaikat Jibril as. dan bertanya: "Wahai Rasulullah SAW bilakah datangnya hari kiamat ?. Rasulullah SAW menjawab: "Tidaklah yang ditanya itu lebih mengerti daripada yang bertanya., tetapi saya hendak memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya, iaitu apabila hamba sahaya wanita melahirkan tuannya, itulah diantara tanda-tandanya. Dan juga apabila orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang dan pengembala kambing telah menjadi pemimpin-pemimpin manusia. Begitu juga apabila pengembala kambing sudah bermegah-megahan dalam bangunan-bangunan pencakar langit, maka itulah tanda-tandanya". ( Riwayat Ibn Abi Syaibah) Dalam hadis yang lain dari Anas as. bahawa Rasulullah SAW bersabda: "Bahawasanya setengah dari tanda-tanda hari kiamat ialah: ilmu diangkat, nampaknya kebodohan, perzinaan tersebar luas, khamar diminum dengan berleluasa, kaum wanita lebih banyak jumlahnya sehingga perbandingan 50 wanita dengan seorang lelaki". (Bukhari dan Muslim) Banyak lagi tanda-tanda kecil kiamat tersebut, seperti yang dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW. Dalam hadis yang lain juga diterangkan tentang tanda-tanda besar menjelang kiamat seperti, matahari terbit dan muncul dari arah barat, munculnya binatang ajaib yang dapat berbicara, keluarnya imam mahdi, keluarnya al masih Dajjal, keluarnya bangsa Ya'juj Ma'juj, turunnya Nabi Isa as. keluarnya asap atau awan, rosaknya Kaabah, lenyapnya al quran dari mushaf dan hati serta kebanyakan manusia menjadi kafir.

Mengenai tanda-tanda datangnya hari kiamat itu telah diingatkan oleh Allah dalam Al Quran iaitu: "Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (iaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, kerana sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesedaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang". (Muhammad ayat 18)
Sila rujuk buku-buku berikut:
1. Peringatan Di Akhir Zaman DN 102

2. Persediaan di Hari Kematian & Pengadilan di Hari Kebangkitan
DN 024

Membina jiwa Tabah

Hamba Allah yang bertaqwa, jika beribadah dan beramal soleh hanya mengharapkan rahmat dan keredhaan Allah SWT. Sesungguhnya dengan kederhakaan dan ketaatan kita tidak sedikitpun mengurangi kekuasaan dan kebesaran Allah. Jika kita beramal semata-mata ingin memperolehi kenikmatan dunia yang sedikit, kemudian jika diuji dengan kegagalan lalu meninggal amal ibadah yang selama ini dilaksanakan, maka jelaslah amalan kita tersebut sekedar permainan dan senda gurau semata bukan dengan hati yang ikhlas kerana Allah. Seandainya ini yang terjadi dalam kehidupan seseorang, maka segeralah memohon ampun dan bertaubat kepada Allah serta perbaikilah amalan dan ibadah seharian kita.

Segala sesuatu yang ditimpakan kepada kita sebenarnya tersimpan seribu satu hikmah yang sangat sukar diketahu oleh seseorang. Jika kehilangan wang puluhan ribu umpamanya, apakah wang kita tersebut benar-benar bersih seperti dengan mengeluarkan zakat dan bersedekah. Jika wang tersebut telah dikeluarkan hak orang lain seperti zakat dan sedekah namun masih ditipu oleh orang lain, kemungkinan itu dugaan daripada Allah, agar kita bersabar. Namun jika wang banyak tersebut tidak pernah dikeluarkan zakat ataupun sedekahnya akhirnya ditipu orang lain, kemungkinan juga ia merupakan peringatan, agar kita sentiasa mengingat Allah, dan agar kita mengetahui bahawa hak memberi rezeki itu hanya milik Allah. Sesungguhnya Allah untuk memberi kepada orang dikehendakinya dan mengambil kembali kepada orang yang dikehendakinya pula.

Sedangkan rasa sakit yang ditimpakan kepada tubuh kita itu juga merupakan dugaan dan rahmat daripada Allah agar kita dapat menghisab ataupun muhasabah diri bahawa nikmat sihat dan sakit itu hanya Allah SWT yang berhak memberinya. Suatu hari isteri nabi Ayub menyuruh agar nabi Ayub berdoa kepada Allah supaya penyakit tersebut disembuhkan olehNya. Namun nabi Ayub bertanya, "berapa tahunkah aku sakit ?". Isterinya menjawab, "sembilan tahun". Kemudian nabi Ayub bertanya lagi. "berapa tahunkah aku sihat". Isterinya menjawab: "Lapan puluh tahun". Maka nabi Ayub menjawab; Aku telah menikmati kesihatan lapan puluh tahun, sedangkan aku sakit baru sembilan tahun, jadi sesungguhnya aku malu dengan Allah SWT". Jadi janganlah mengeluh dengan penyakit yang ditimpakan Allah kepada kita, kerana didalam penyakit yang diberikan itu tersimpah beribu hikmah yang hanya Allah saja mengetahuinya.

Selaku hamba yang mempercayai kebesaran dan keagunganNya banyakkanlah beramal dan berdoalah dengan rasa harap dan takut, iaitu mengharap keberkatan dan rahmatNya dan merasa takut dengan ditoloknya permohonan tersebut. Berdoalah dengan memenuhi syarat dan adabnya agar doa kita itu dikabulkan Allah SWT. Hindarilah perasaan putus asa yang menyebabkan kita menjadi insan yang merugi dan akan tergolong ke dalam orang-orang ingkar.Wallahu A'lam.
Sila rujuk buku:
1. Penawar Jiwa DN 049

^ Kembali ke atas ^

709. Solat Ketika Waktu Kerja
Soalan:
Apakah hukumnya kita bersembahyang(zohor) di waktu pejabat.Sedangkan kita punyai waktu untuk mengerjakannya pada masa rehat iaitu 12.45 hingga 2.00 petang? Apakah sah sembahyang kita itu?

Suhaimie, Dungun
Jawapan:
Di dalam Islam bekerja juga dinilai sebagai ibadah, sebab didalam bekerja itu seseorang bertujuan memenuhi tanggungjawabnya terhadap dirinya sendiri keluarganya dan yang lainnya. Kerja sebagai ibadah jika pekerjaan yang kita lakukan itu tidak bertentangan dengan agama, dan hendaklah diniatkan untuk memenuhi keperluan hidup kerana Allah semata dan demi untuk mengabdi kepadanya. Disamping itu kerja dinilai sebagai ibadah jika kita bekerja sesuai dengan ketentuan dan persetujuan yang telah ditentukan antara majikan dan pekerja. Jika pekerja mensia-siakan waktu bekerjanya sedangkan dia digaji menurut yang ditentukan, maka jika ia menggunakan waktu tersebut untuk keperluan selain yang telah dipersetujui maka hukumnya berdosa. Dikhuatirkan rezeki yang kita perolehi tidak setimpal dengan kerja yang kita laksanakan, akhirnya tergolong rezeki yang haram.

Islam menganjurkan agar kita menyegerakan mengerjakan solat. Maka adalah lebih baik setelah masuk waktu solat segera mengerjakannya. Walaupun solat yang kita kerjakan dengan menggunakan waktu bekerja hukumnya sah, namun menggunkan waktu bekerja bererti mengabaikan tanggungjawab kita.

Dalil dalil Dosa Besar

Semua dosa-dosa diatas tergolong dalam dosa-dosa besar. Jika dosa-dosa ini dilakukan seseorang kemudian meninggal dunia ketika belum sempat bertaubat, maka balasan dari dosa ini adalah masuk ke dalam api neraka. Jika mereka sempat bertaubat maka insya Allah taubatnya akan diterima oleh Allah SWT. Sebab Allah SWT telah berjanji di dalam Al Quran akan menerima taubat hambanya yang benar-benar bertaubat (taubat nasuha).

1. Dalil balasan dosa meninggal solat.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan solat".
(Al Mudatsir, 42-43)

2. Dalil balasan dosa meninggal puasa dengan sengaja.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana ia diwajibkan ke atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertakwa kepadanya. Hanya dalam masa beberapa hari saja".
(Al Baqarah 183, 184)

3. Dalil balasan tidak membayar zakat.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Dan orang -orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahawa mereka akan mendapat seksa yang pedih".
(At Taubah 34)

4.Dalil balasan dosa berzina
"Firman Allah SWT maksudnya:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar dan tidak berzina. Barangsaipa melakukan yang demikian itu, nescaya dia mendapat pembalasan dosanya".
(Al Furqan 68)

5. Dalil balasan menipu orang lain.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah sedangkan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bersolat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riyak dengan solat dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali".
(An Nisa, 142)

Firman Allah SWT maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka".
(An Nisa, 145)

6. Dalil balasan dosa Menganiaya orang.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata".
(al Ahzab,58)

7. Dalil Balasan Meminum Arak.
Firman Allah SWT maksudnya: "Sesungguhnya khamar, judi, patung berhala dan undian nasib itu adalah kotoran dari perbuatan syaitan, maka jauhilah dia supaya kamu beroleh kejayaan. Sesungguhnya syaitan itu mahu mengadakan permusuhan dan perkelahian pada khamar dan judi dan menghalang kamu dari mengingati Allah dan solat tidaklah kamu mahu berhenti ?". (Al maidah ayat, 90-91)

8. Dalil balasan Membuat Sumpah Palsu.
Firman Allah SWT maksudnya:
"Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpah kamu sebagai alat penipu di antara kamu yang menyebabkan tergelincir kakimu sesudah kukuh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan di dunia kerana kamu menghalangi manusia dari jalan Allah dan untuk kamu azab yang besar". (An Nahl ay

MENUNAIKAN HAK MUSLIM

Hak-hak yang wajib ditunaikan seorang insan sangat banyak. Disana ada hak Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hak kepada keluarga, hak untuk diri pribadi maupun hak untuk orang lain seperti tetangga dan lainnya. Tahukah kita bagaimana Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi waktunya dalam sehari untuk menunaikan hak-hak tersebut?

Anas bin Malik radhiallaahu anhu menuturkan, yang artinya: “Tiga orang sahabat pernah datang ke rumah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan ibadah yang beliau lakukan. Setelah diceritakan tentang ibadah beliau, mereka merasa ibadah yang mereka kerjakan terlalu sedikit dibandingkan dengan ibadah beliau. Mereka berkata: “Alangkah jauh kedudukan kita dari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam! padahal telah diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Seorang di antara mereka berkata: “Aku akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata: “Sedangkan aku akan berpuasa terus menerus tanpa berbuka.” Seorang lagi berkata: “Adapun aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Kemudian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata: “Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Demi Alloh, aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh Subhanahu wata’ala dan yang paling bertakwa kepada-Nya dari pada kalian semua. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari hadist diatas terlihat bahwa seorang muslim harus hidup sebagaimana mestinya tanpa melakukan hal-hal yang melampaui batas. Kita harus memenuhi hak-hak atas tubuh kita ini yang membutuhkan makanan dan minuman serta kebutuhan batiniah berupa pernikahan dan keluarga. Kita harus memperhatikan dan membantu lingkungan kita mulai dari bermuamalah dengan masyarakat sampai dengan membersihkan lingkungan.

ETIKA BEDA PENDAPAT

Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seorang muslim kita berupaya untuk ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu dan juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.

Seorang muslim haruslah mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur’an dan Sunnah. Karena Alloh Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Kitab) dan Rasul”. (QS: An-Nisa: 59).

Seorang muslim berupaya berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.

Seorang muslim berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang. Berlapang dada di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatang yang dialamatkan kepada anda.

Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah. Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi lawan.

DOA ROSULLULAH

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.

Doa adalah ibadah yang sangat agung, yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. Doa merupakan tanda Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala). Doa juga merupakan lambang kelemahan manusia. Di dalam ibadah doa terkandung pujian terhadap Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Disamping itu terkandung juga sifat penyantun dan pemurah bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Doa itu adalah ibadah” (HR: Tirmidzi)

Di antara doa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, yang artinya: “Ya Alloh, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR: Muslim)

Di antara doa beliau adalah, yang artinya: “Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain.” (HR: Abu Daud)

Demikian pula doa berikut ini: “Ya Alloh, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) dari yang haram, perkayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta) kepada selain-Mu.” (HR: At-Tirmidzi)

Di antara permohonan beliau kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Ya Alloh, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa memohon kepada Rabb Subhanahu wa Ta’ala baik pada waktu lapang maupun pada saat sempit. Pada peperangan Badar, beliau berdoa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala hingga jatuh selendang beliau dari kedua pundaknya, memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar menurunkan pertolongan bagi kaum muslimin dan menjatuhkan kekalahan atas kaum musyrikin. Beliau sering berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan ahli bait beliau, untuk sahabat-sahabat beliau bahkan untuk segenap kaum muslimin.

KEBERANIAN DAN KATABAHAN ROSUL

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keberanian yang mengagumkan dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan kalimatullah Ta’ala. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang dicurahkan atas beliau pada tempat yang semestinya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits, yang artinya: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.” (HR: Muslim)

Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya. Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: “Tidak ada yang sudi menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku.” Akan tetapi beliau bersandar serta bertawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan tetap meneruskan perjuangan dakwah beliau. Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap teguh bagaikan karang.

Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira’ selama beberapa tahun. Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Alloh”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (QS: Yunus: 31)

Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala firmankan, yang artinya: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS: Az-Zumar: 3)

Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?” mereka akan menjawab: “Alloh”.

Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara mereka dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan. Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS: Al-Maidah: 72)

Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang menunjukkan keperkasaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.

Sahal bin Sa’ad menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau . Ia berkata: “Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku benar-benar mengetahui siapakah yang mencuci luka Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah yang menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati.” Ia melanjutkan: “Fathimah radhiyallahu ‘anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut, sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menyiramkan airnya dengan perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu ‘anha melihat siraman air tersebut hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah, wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar.” (HR: Al-Bukhari)

Al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiallaahu anhu menceritakan kepahlawanan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peperangan Hunain. Ia berkata: “Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam justru memacu bighalnya ke arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. Saat itu beliau berkata: “Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul Muththalib.” (HR: Muslim)

Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya, yaitu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menceritakan keberanian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.” (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401)

Kesabaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai Tigris. Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Alloh . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Alloh . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.” (HR: At-Tirmidzi dan Ahmad)

Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau terus mengalir, namun Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat, barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. Beliau tidak mewasiatkan harta apapun.” (HR: Muslim)

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

PERSAHABATAN TULUS

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa setiap kali disampaikan kepada Rasulloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang kurang berkenan dari seseorang, beliau tidak mengatakan: “Apa maunya si ‘Fulan’ berkata demikian!” Namun beliau mengatakan: “Apa maunya ‘mereka’ berkata demikian!” (HR: At-Tirmidzi)

Anas bin Malik radhiallaahu anhu menceritakan bahwa pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata, yang artinya: “Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za’faran itu dari bajunya.” (HR: Abu Daud & Ahmad)

Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, yang artinya: “Inginkah aku kabarkan kepadamu oang yang diselamatkan dari api Neraka, atau dijauhkan api Neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah lembut dan murah hati.” (HR: At-Tirmidzi)

(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)

TERSENYUMLAH

Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda berkata: “Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan terhibur.” Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan, asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan mengejek atau mencemooh: “Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa akan mematikan hati.”

Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.

Kalau kita diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua. Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi mampu menciptakan suasana rumah seperti surga.

Senyum yang tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit, bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang tulus.

Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan akan melihat kesulitan dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan kata-kata “kalau”, “bila”, dan “jika”.

Betapa kita amat membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemrahan hati, kelemahlembutan, dan keramahan. “Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam) agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain.”

JUJUR AKLAQ MUSLIM

Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.

Untaian kata-kata diatas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. (HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab subbab 69, jilid VII, hal 95. HR Muslim dalam shahihnya bab Al-Birr subbab 29, hadits nomor 104, jilid IV hal 2012-2013, dan HR Tirmidzi dalam sunannya bab Al-Birr subbab 46 hadits nomor 1971 jilid IV hal 347)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS: Muhammad: 21)

Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan (Fathul Baari, jilid X, hal 507).

Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “al-birr” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “al-birr” berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).

Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan oleh masyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.

Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.

Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. “Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?”. Imam Ahmad menjawab singkat: “Dengan perilaku jujur”. Beliau melanjutkan bahwa ”Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).

Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109).

Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kini akan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan bila kalian menolak, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Besar.

Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Maka nikahkanlah saudara dengan puteri kita”. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: “Mudah-mudahan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? Bilal menjawab: “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya”. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356).

Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: “Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh aku membaca tulis Al-Qur’an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dusta walaupun harus mati” (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27).

Rib’i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal). Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalu memberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: “Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib’i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini kedua anaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya”.

Hajjaj berkata: “Serahkan ia kepadaku”. Rib’i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj. Hajjaj bertanya: “Wahai orangtua….”.
“Apa yang kau mau?” tanya Rib’i.
“Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?” tanya Hajjaj dengan selidik.
Rib’i berkata jujur: “Tempat bermohon adalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aku meninggalkan keduanya di rumah”.
“Tidak ada pidana. Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana”. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan dan hidayah-Nya agar bisa sedikit demi sedikit memiliki sifat mulia ini

AKLAQ YANG LUHUR

Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, perkataan yang lembut, perkataan yang halus dan ramah. Nabi manusia yang harus dijadikan panutan dan idola kaum muslimin telah banyak mencontohkan perbuatan perbuatan yang mulia diatas untuk menuntun umatnya.

Anas Radiyallahu ‘anhu, sahabat sekaligus pembantu setia nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, mengatakan bahwa beliau merupakan manusia yang paling baik ahlaknya. Anas Radiyallahu ‘anhu menceritakan: “Aku telah membantu Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun .selama itu pula tak pernah sekalipun meluncur dari lisan beliau kepadaku kata “ah”dan beliau tak pernah megatakan untuk suatu yang kerjakan mengapa engkau lakukan hal itu ?”tidak pula untuk suatu yang aku kerjakan “mengapa kamu tidak melakukannya?” (HR: Muttafaq alaih).

Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam selalu menjauhi perbuatan maupun ucapan yang kotor. Abdullaah Bin Amru bin Ash Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya yang termasuk insane piliha diantara kamu sekalian adalh yang terbaik ahlaqnya” (HR: Muttafaq alaih).

Dalam riwayat lain, yang artinya: “Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari islam dan sesungguhnya sebaik-baiknya manusia keislamannya adalah yang baik ahlaqnya” (HR: Thabrani ,Ahmad, Abu ya’la).

Dalam riwayat lain pula, yang artinya: “Sesungguhnya yang aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya dengan ku dihari kiamat adalah yang paling baik ahlaqnya. Dan yang paling benci dan jauh dariku dihari kiamat adalah yang banyak bicara dan berlagak sombong serta bertele tele dalam berbicara.”bertanya pera sahabat:”ya Rasululloh, kami tahu apa yang dinamakan “Ats tsartsaarun wal mutasyaddiqun (banyak bicara dan bertele-tele),lalu apakah arti mutafaihaiqun’?’”Rasululloh menjawab.”Almutakabbirun (sombong).” (HR: Tirmidzi).

Semua sahabat Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam –yang diridhoi Alloh Subhanahu wa Ta’ala– selalu tekun mendengar dan mengikuti bimbingan ahlak yang mulia dari beliau. Mereka menyaksikan sendiri ketinggian akhlaq beliau. Mereka dengan penuh kesadaran dan semangat, berbuat sesuai deangan ajaran beliau, meneladani baliau, sehinga waktu itu tegaklah suatu masyarakat Islam yang indah, adil yang tidak bisa dilupakan didalam sejarah umat manusia.

Anas Radiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi penuh dengan sifat belas kasih, tak ada seorangpun mendatangi beliau kecuali beliau telah menjanjikan dan memenuhi janjinya jika telah berjanji jikatelah berjanji dengan saorang meskipun beliau sedang mendirikan shalat. Pernah datang saorang arab badui kepada beliau, lalu menarik baju beliau seraya berkata: sesungguhnya aku tetap akan melaksanakan hajatku (sekarang juga), aku takut lupa, maka Nabi berdiri bersamanya sehingga ia menyelesaikan hajatnya kemudian beliau menghadap kiblat dan meneruskan Shalat” (HR: Bukhari).

Tidak nampak pada diri Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam rasa keberatan sedikitpun untuk mendengar orang arab itu dan menyelesaikan hajatnya, padahal beliau tengah mendirikan sholat. Tidaklah sempit dadanya mendapat perlakuan kasar laki-laki tersebut yang menarik bajunya, dan menunggu menyelesaikan hajatnya sebelum shalat. Beliau bersabar, lembut dalam membengun masyarakat yang tegak atas moral yang suci. Beliau mendidik kaum muslimin melalui perbuatan nyata, bagaimana seharusnya saorang muslim membantu sesama saudaranya. Dia telah menegakkkan suatu prinsip dan sendi-sendi akhlaq yang diperlukan bagi masyarakat muslim yang kokoh.

Jika kita lihat, kebajikan moral pada masyarakat bukan muslim selalu berpulang kepada kebaikan system pendidikan, dan hasil kerja ilmiah. Sedangkan pada masyarakat muslim, sebelum dikembalikan kepada unsur-unsur tersebut, terlebih dulu masalah-masalah itu kembalikan kepada agama yang menjadikan akhlaq sebagai tabiat asli kaum muslimin dan akhlak memproleh kedudukan yang tinggi dalam Islam, akhlaq memiliki berat bobot timbangan disisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, yang artinya: ”Tiada sesuatu yang lebih berat timbanganya bagi saorang muslim dihari kiamat daripada keluhuran ahlaknya.dan allah membenci orang yang keji dalam ucapan ataupun perbuatannya” (HR: Thabrani).

Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan pada perkara akhlaq ini. Semua beliau lakukan dengan berbagai acara baik dengan lisan maupun perbuatan nyata sehingga beliau berhasil meresapkan ajaran beliau kelubuk hati hati para sahabatnya sekaligus pengikutnya, mensucikan jiwa mereka dan memperindah akhlaq mereka.

JAHILIYAH MODERN

Telah menjadi kebanggaan syetan-syetan di depan Iblis. Mungkinkah kita lupa! Syetan dan Iblis itu adalah musuh bebuyutan bani adam yaitu seluruh yang berbangsa manusia, lalu kenapa malah sebagian manusia menyembah-nyembah dengan aneka cara dan dengan mengikuti petunjuknya yang menuju ke neraka.

Sekarang ini televisi sudah berani sekali merusak moral bangsa dengan aneka tayangan. Adegan yang berlabel Islam, namun penuh dengan pengrusakan aqidah Islam bahkan berupa kepalsuan dan penghinaan terhadap syariat Islam. Adegan ciuman dan bahkan lebih dari itu sudah merupakan menu setiap saat. Belum lagi VCD porno (yang menurut mereka karya seni) yang beredar di mana-mana. Masih ditambah lagi dengan aneka majalah, tabloid dan bacaan yang porno lagi menjijikkan plus menyesatkan aqidah.

Semua itu dijajakan secara terang-terangan dan besar-besaran, bahkan kadang dipampang di dekat Masjid, rumah Alloh Subahanahu wa Ta’ala. Kalau dulu zaman jahiliyah orang-orang musyrikin memajang berhala-berhala di sekitar Ka’bah (berhala-berhala ini umumnya patung-patung orang sholeh), maka sekarang manusia-manusia jahiliyah modern memajang gambar-gambar porno dan tak sopan di dekat-dekat masjid, di pinggir-pinggir jalan, di tempat-tempat strategis, dan di kamar-kamar, bahkan ruang tamu. Sebagian remaja Islam merasa malu apabila di dalam kamarnya tidak dipajang poster-poster artis, pemain bola dan sebagainya. Para aktifis Islam pun, tidak sedikit yang memajang poster-poster penyanyi-penyanyi ”Islam”, ustadz/ustadzah idola (sungguh hal yang memilukan hati). Bahkan poster yang tidak sedikit memperlihatkan aurat tersebut, secara sengaja atau tidak sengaja pada hakikatnya secara tidak langsung ataupun langsung telah dijadikan sebuah berhala era modern. Mereka sangat mengelu-elukannya dan memimpikannya.

Sungguh fenomena luar biasa. Benar-benar jahiliyah modern. Televisi dan VCD yang berisi gambar-gambar porno pun dipajang di kamar-kamar, bahkan kamar tidur. Ini seperti orang-orang musyrikin menyimpan benda-benda yang dikeramatkan yang dianggap sebagai memberikan keamanan kepada mereka.

Keadaan ini pantas dibanggakan di depan Sang Iblis yang setiap saat menyeleksi syetan-syetan yang melapor padanya atas dahsyatnya tipu daya yang dilakukan syetan terhadap manusia.

Yang lebih luar biasa lagi adalah sebagian penjahat, artis dan masyarakat bahkan para pejabat berbondong-bondong tunduk di kaki para dukun atau istilah modern-nya paranormal. Sedang para dukun/paranormal makin cengengesan (tertawa tanpa aturan) dengan aneka paket tipuan. Ada yang membuat istilah pengobatan alternatif, kontak jarak jauh, supranatural, susuk asmara, paranormal ampuh dan aneka macam tetek bengek istilah yang mereka tipukan pada masyarakat. Padahal hakekatnya adalah sama saja, mereka itu adalah biang para perusak bangsa ini.

Sulit diatasi kecuali mengembalikan umat ke jalan Islam yang shohih secara kaffah. Bagaimana tidak sulit, pihak keamanan yang harusnya menjadi pengayom penegakkan kebenaran dan keadilan (Adil dan Benar itukan menurut Alloh bukah menurut manusia atau thoghut) justru ikut-ikutan antri ke dukun, sedang para punggawa sampai pejabat tinggi sudah banyak yang tunduk pada dukun, maka pada dasarnya negeri ini adalah mainan syetan. Karena dukun adalah wali (kekasih, teman komplot) syetan.

Kenapa syetan-syetan yang sebenarnya adalah musuh manusia itu malah di mintai tolong untuk menyantet, untuk menghidup suburkan kemaksiatan, untuk menegakkan hukum thoghut, dan untuk membantu dalam menolak ditegakkannya syari’at Islam?

Bukankah kita masih mengaku sebagai Muslim? Bahkan marah kalau ada yang menyindir seperti; “Saya memakai jilbab karena saya Muslim, saya menutup aurat karena saya Muslim” Lalu lawan bicaranya sedikit sebal dengan berkata “Saya Juga Muslim Bu!!!”

Sadarkah kita!, Selama ini mungkin mulutmu sering jadi corong syetan. Tangan sering menjadi senjata syetan dalam menggencet muslimin. Otak sering jadi penebar ideologi syetan dalam menghalangi syari’at Islam. Sedang darah dan daging mungkin memang dijadikan dari makanan yang dihasilkan bersama-sama syetan atau dengan cara yang dicanangkan syetan. Ini bukan tuduhan, tetapi sekadar mengingatkan, kepada diri saya sendiri dan kepada jama’ah sekalian. Kita ini perlu muhasabah, mengoreksi diri. Kenapa kita sudah terlalu jauh rusaknya seperti ini.

Kita meminta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar memberi hidayah kepada kita semua dan memberi taufik kepada kaum muslimin seluruhnya, para pemerintah dan rakyatnya untuk kembali ke jalan yang Haq, memerangi syetan dan berhati-hati dari padanya, serta merasa cukup dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pada segala perkara di muka bumi ini yang sesuai dengan syariat karena Dia-lah yang berkuasa atasnya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab

PERPECAHAN DAN KEHANCURAN

Perpecahan dan kehancuran sering ditimbulkan karena seseorang atau sekelompok orang tidak mampu untuk memahami kaidah-kaidah Islam dalam berselisih pendapat. Yang dimaksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim atau lebih dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya itu dapat ditolerir? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik? Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja dan kapan saja? Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Bahkan ditambah lagi akibat tidak adanya pemahaman dan pengamalan yang benar tentang adab Islam yang shohih, tidak sedikit diantara kita yang merasa yakin kita benar namun dalam upaya dakwah atau penjelasan kepada orang lain sering menggunakan istilah-istilah atau intonasi yang kotor dan “kurang pada tempatnya”. Sangat sering dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi, bahkan menjatuhkan kemulian sebuah kebenaran dan menyebabkan kehinaan karena kelemahan orang-orang yang merasa kuat dan benar tersebut. bagaimanakah dengan kita?????

ETIKA BERTETANGGA

Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : �….Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka hendaklah ia memu-liakan tetangganya�. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: �hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya�. (Muttafaq�alaih).

Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: �Demi Alloh, tidak beriman; demi Alloh, tidak beriman; demi Alloh, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasululloh? Nabi menjawab: �Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya�. (Muttafaq�alaih).

Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: �Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu�. (HR. Muslim).

Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: �Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Alloh…. �Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya�. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

DIAM KETIKA KHOTIB KHUTBAH

Di antara syiar Jum’at yang paling besar ialah dua khutbah. Diantara adab orang yang mendengarkannya ialah diam dan mendengarkan khatib selama dua khutbah itu disampaikan, agar dia dapat menyerap nasihatnya dan mengamini doanya. Karena itulah Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam memperingatkan berkata-kata ketika khutbah disampaikan, meski dengan ucapan yang singkat. Seseorang yang berkata kepada rekan di sampingnya, “Diamlah!” ketika imam menyampaikan khutbah, berarti dia telah mengucapkan perkataan yang rusak, karena dia melakukan sesuatu yang menafikan perhatian terhadap khutbah.

Naskah Hadist:
عَنْ أَبُوهُرَ يْرَة أَنَّ رَسُو لَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قاَلَ إِذَا قُلْتَ لِصَا حِبِكَ يَوْمَ الْخُمُعَةِ أَنْصِتْ و َالإِ مَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْ تَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Jika engkau berkata kepada rekanmu, ‘Diamlah’, pada Jum’at padahal imam sedang menyampaikan khutbah, berarti engkau telah mengucapkan perkataan yang rusak’.”Penjelasan Lafazh:
Lagha seperti bentuk ghaza, yang artinya mengucapkan perkataan batil yang tidak ada manfaatnya. An-Nadhar bin Syumail menafsirinya dengan perkataan yang tidak ada pahalanya.

Kesimpulan Hadist:

  1. Kewajiban mendengarkan khatib pada saat Jum’at. Ibnu Abdil-Barr menukil ijma’ tentang hukum wajibnya mendengarkan khutbah ini.

  2. Keharaman berbicara ketika mendengarkan khutbah, karena pembicaraan itu menafikan keharusan mendengarkan pada saat itu.

  3. Ada pengecualian untuk masalah ini, yaitu orang yang diajak bicara oleh khatib atau orang yang berbicara dengan khatib, seperti tentang orang yang masuk masjid padahal belum shalat tahiyatul masjid atau seperti kisah Arab Badui yang mengadukan musim kemarau kepada Rasulullah Shalallahu’alaui wa sallam.

  4. Sebagian ulama mengecualikan orang yang tidak dapat mendengarkan khutbah karena jaraknya yang jauh, jika tidak diharuskan diam, tapi dapat melakukan dzikir atau membaca Al-Qur’an. Tapi pendapat ini menimbulkan banyak tanggapan. Adapun orang yang tidak dapat mendengar khutbah tuli, tidak boleh membaca dengan suara nyaring sehingga mengganggu sekitarnya. Dia dapat melakukannya di dalam hati.

AKHLAQ Adalah Cermin Islam

Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung” (Al qalam : 4). Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan ? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak ada seorangpun melainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itu kita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebih mementingkan perhiasan dhahir (luar) dengan penambahan aksesoris sepertipakaian yang bagus, make up yang mewah dan emas permata, sehingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapula yang berupaya memperbaiki kualitas akhlak, memperbaiki dengan akhlak islami.
Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari, namun karena kesadaran agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segera mengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.

ISLAM MENGUTAMAKAN AKHLAK

Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan awwam, seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok kurang ajar sama orang tua.” Atau ucapan : “Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan lain-lain.

Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengoreksi diri dan membenahi akhlak. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.

RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK

Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliau menshahihkannya).

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”

KEUTAMAAN AKHLAK

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq).

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).

Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda beliau : “ Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata : Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash shahihah Juz 2 hal 418-419).

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambilakhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.

KEUTAMAAN BERDOA HARI JUM`AT

Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap ummat ini. Pada hari tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung adalah Shalat Jum’at). Di bawah ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaannya dan sunnah-sunnah serta kewajiban yang diperintahkan dalam rangka memuliakan hari Jum’at.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam mengatakan, yang artinya: “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Adam ‘alaihissalam, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu dan kiamat akan terjadi pada hari Jum’at pula.” (HR: Muslim, Abu Dawud, Annasa’i, Tirmidzi dan dishahihkannya. Lihat Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq bab Jum’ah).

Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa ibadah khusus yang mulia pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at. Barangsiapa yang meninggalkannya tanpa ada alasan syar’i akan mendapatkan dosa besar adan akan diadzab dengan adzab yang pedih. Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang suatu kaum yang meninggalkan shalat Jum’at, yang artinya: “Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahakan seorang laki-laki shalat bersama dengan manusia kemudian aku membakar rumah-rumah mereka yang tidak melakukan shalat Jum’at.” (HR: Muslim, Ad Darimi dan Al Baihaqi).

Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Abdurrahman bin Zahrah, aku mendengar pamanku berkata, Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa mendengan panggilan adzan pada hari Jum’at dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, maka Alloh akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (HR: Al Baihaqi, Abu Ya’la, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Mundzir, hadits ini dihasankan oleh Masyhur Hasan Salman dalam Al Qulul Mubin fii Akhtha’il Mushollin).

Berikut ini beberapa hal yang disunnahkan berkenaan dengan keutamaan hari Jum’at:

  1. Disunnnahkan berdo’a karena berdo’a pada hari itu akan dikabulkan terutama pada waktu / saat mustajab (mudahj terkabul do’a). Hal ini terdapat hadits bersumber dari Jabir bin Abdillah. Dari Jabir bin Abdillah dari Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata, yang artinya: “Pada hari Jum’at ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang muslim yang sedang memohon sesuatu kepada Alloh ‘Azza wa jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu itu, yaitu akhir waktu setelah ‘Ashr.” (HR: Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, hadits 926 hal. 196)

    Do’a yang paling disukai oleh Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam adalah meminta kebaikan di dunia dan akhirat dan meminta perlindungan dari neraka. Dalam suatu hadits disebutkan, yang artinya: “Barangsiapa yang meminta dimasukkan ke dalam surga, maka surga mengatakan: “Ya, Alloh, masukkan dia ke dalam surga”. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dari api neraka kepada Alloh subhanahu wata’ala, maka neraka akan berkata: “Ya Alloh, lindungilah dia dari neraka.” (HR: Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 6151/, lihat Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah oleh Mahmud bin Khalifah Al Jasim).

  2. Disunnahkan memperbanyak bacaan shalawat Nabi. Aus bin Aus radliyAllohu ‘anhu berkata bahwa Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam pernah bersabda, yang artinya: “Seutama-utama hari adalah hari Jum’at. Padanya diciptakan dan dimatikannya Adam ‘alaihissalam, ditiup sangkakala dan dibinasakannya manusia. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu karena shalawatmu akan sampai kepadaku.” Para sahabat bertanya: ”Bagaimana bisa sampai kepadamu sedangkan jasadmu telah dimakan tanah?” Rasululloh berkata: ”Alloh subhanahu wa ta’ala mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (HR: Abu Dawud, Shahih, Lihat Shahih Sunan Abu Dawud hal. 196 hadits no. 925 oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani)

  3. Disunnahkan membaca Surat Al Kahfi pada siang atau malam harinya (Lihat Al Adzkar oleh Imam AnNawawi). Seorang muslim yang menghafal sepuluh atau tiga ayat pertama dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Juga barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dan sepuluh ayat dari Surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dalilnya adalah hadits dari Abu Darda’ radliyAllohu ‘anhu dari Nabi shallAllohu alaihi wasallam berkata, yang artinya: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR: Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi). Pada lafadz Tirmidzi, yang artinya: “Barangsiapa menghafal tiga surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal .” Dia berkata: “Hadits Hasan”.

    Pada hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abu Darda’ radliyAllohu ‘anhu bahwa Nabi shalAllohu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal”. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Nasa’i dari Qatadah radliyAllohu ‘anhu. Dan pada lafadz Nasa’i menyatakan, yang artinya: “Barangsiapa membaca sepuluh ayat (mana saja) dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.”Pada hadits yang marfu’ (sanadnya bersambung sampai Rasululloh, ed.) dari Ali bin Abi Thalib, yang artinya: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at maka ia akan dijaga dari setiap fitnah sampai delapan hari walaupun Dajjal keluar ia akan tetap terjaga dari fitnahnya”. (Lihat tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi).

    Disunnahkan pula membaca surat Alif Laam Miim tanziil - assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat fajar (shubuh). Abu Hurairah radhiAllohu ‘anhu mengatakan, yang artinya: Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam membaca surat Alif Laam Miim tanziil assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat subuh hari Jum’at. (Muttafaq ‘alaih)

    Menurut Thabrani dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi terus-menerus membaca kedua surat tersebut. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Abi Hurairah radliyAllohu’anhum berkata bahwa Rasululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Al Jum’ah dan Munafiqun pada hari Jum’at. (HR: Muslim).

    Demikian pula Nabi membaca surat Sabbihisma dan Al Ghasyiah pada shalat Jum’at. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al-A’la dan Al Ghasyiah). Allohu Ta’ala A’lam.

(Sumber Rujukan: Al Adzkar, Imam Nawawi tahqiq Abdul Qadir Al Arnauth; Fiqhussunnah, Sayyid Sabiq; Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani; Tamaamul Minnah, Muhammad Nashiruddin Al Albani; Ikhtishar Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi; Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir; Taisiirul ‘Alllaam Syarhu ‘Umdatul Ahkam, Abdullah bin Abdirrahman bin Shalih Al Bassam; Subulussalam, Imam Ash-Shan’ani; Bulughul Maraam min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar Al Asqalani; Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah; Al Qaulul Mubin fii Akhtha’il Mushallin, Masyhur Hasan Salman; Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah, Mahmud bin Khalifah Al Jasim; Shahih Sunan Abi Dawud, Muhammad Nashiruddin Al Albani)

SHOLAT KHUSUK MUNGKINKAH?

Secara etimologi (bahasa), al-khusyu’ memiliki makna al-khudhû’ (tunduk). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminologi (istilah syar’i) al-khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Alloh Subhannahu wa Ta’ala yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Alloh Subhannahu wa Ta’ala. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga shalatnya berakhir.

Berikut firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala tentang sholat yang khusyu’, yang artinya: “Yaitu orang-orang yang khusyu’ didalam sholatnya” (QS: Al-Mu’minun:2). Ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Abbâs Radhiallaahu anhu bahwa: “Orang-orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang takut lagi penuh ketenangan”. Dan Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa ”Yang dimaksud dengan khusyu’ dalam ayat ini adalah kekhusyu’an hati”.

Kiat-kiat yang dilakukan sebelum melaksanakan shalat.
Sebelum memulai ibadah shalat maka perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:

Menjawab seruan adzan dengan lafazh sebagaimana yang dikumandang kan oleh muadzin kecuali lafazh: “hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falâh” maka jawabannya adalah “lâ haula walâ quwwata illa billâh” sebagaimana perintah Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam dalam sabdanya, yang artinya: “Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan azan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya….” (HR: al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Lalu berdo’a selesai adzan dengan do’a yang diajarkan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam seperti Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah…dst.

Kemudian berdo’a sesuai dengan keinginan masing-masing, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam, yang artinya: ”Do’a antara adzan dan iqomah tidak tertolak” (HR: Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan lainnya)

Berwudhu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam. Melakukan wudhu berarti telah merealisasikan perintah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, yang terdapat dalam firman-Nya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu, basuhlah tanganmu hingga siku, dan usaplah (sapulah) kepalamu, serta basuhlah kakimu hingga kedua mata kakimu…” (QS: Al-Maidah: 6)

Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda tentang keutamaan wudhu, yang artinya: “Barangsiapa yang berwudhu’, lalu berwudhu’ dengan sebaik-baiknya, kemudian dia shalat, niscaya dosa antara sholatnya itu dan sholatnya yang lain (berikutnya) diampuni.” (HR: Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad)

Dan bahkan orang yang berwudhu` itu berarti dia telah menggugurkan dosa-dosanya bersamaan dengan air yang mengalir dari anggota wudhu` yang telah dibasuh. (HR: Ibnu Khuzaimah dan Muslim)

Bersiwak (atau menggosok gigi) sebelum shalat sebagaimana perintah Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam dalam sebuah haditsnya, yang artinya: “Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu’ (dalam riwayat yang lain) setiap kali hendak sholat” (HR: Muttafaq ‘Alaih)

Memakai pakaian yang sopan (layak), bersih dan wangi, serta menjauhi semaksimal mungkin pakaian yang sudah kotor, bau dan tidak layak untuk dipakai dalam shalat. Menghindari pakaian yang ketat sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak dan bernafas, janganlah memakai pakaian bergambar atau bertulisan agar mata kita terjaga dan juga agar orang lain tidak terganggu, lalu perhatikan juga pakaian yang membungkus tubuh kita, apakah sudah memenuhi syarat? Apakah sudah benar-benar menutupi aurat? Semua hal ini sebagai bentuk realisasi dari firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Wahai manusia pakailah pakaianmu yang indah setiap kali memasuki masjid” (QS:Al-’Araf: 31)

Jagalah konsetrasi dalam melaksanakan shalat dengan cara menghindari tempat dan suasana yang panas atau gerah, sebagaimana larangan Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam untuk tidak shalat Dzuhur pada saat panas sangat menyengat. Beliau Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Laksanakanlah sholat Dzuhur pada waktu panas sudah mereda, karena panas yang sangat menyengat itu adalah hawa panas yang berasal dari neraka jahannam” ( HR: al-Bukhari, Ahmad dll).

Dan jagalah konsentrasi shalat kita dengan memenuhi segala kebutuhan jasmani kita yang mendesak, seperti; kalau seandainya sebelum shalat perut kita terasa mulas, ingin buang air maka janganlah ditahan-tahan, sebab kalau kita shalat sambil menahan perut kita yang mulas pasti konsetrasi shalat kita terganggu.

Demikian juga apabila kita merasa lapar sebelum melaksanakan shalat maka bersegeralah untuk makan untuk memenuhi hajat perut kita tersebut agar rasa lapar itu tidak membuyarkan konsetrasi kita ketika sedang shalat, dan mengenai dua permasalahan diatas Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Tiada sholat ketika makanan sudah terhidang dan tiada sholat ketika seseorang menahan hajat buang airnya” (HR: Muslim, Ahmad dan lain-lain).

Carilah tempat shalat yang tenang, yang jauh dari kebisingan, yang jauh dari suara-suara berisik dan suara-suara gaduh, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Jauhilah suara-suara berisik seperti di pasar (ketika berada di masjid)” (HR: Muslim)

Oleh karena itu siapa saja yang berada di masjid hendaklah menjaga ketenangan dan ketentraman masjid, apabila kita berdzikir maka lirihkanlah suara dzikir kita, dan apabila kita membaca al-Qur’an maka lirihkanlah suara bacaan Al-Qur’an kita. Jangan sampai suara kita membuyarkan konsentrasi saudara-saudara kita yang sedang bermunajat kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabnya, maka perhatikanlah saudaramu yang sedang bermunajat itu, Janganlah keraskan bacaan Qur’an kalian!” (HR: al-Bukhari dan Imam Malik)

Luangkanlah waktu untuk menunggu datangnya waktu shalat. Meluangkan waktu menunggu datang nya waktu shalat bisa dilakukan di dalam masjid terutama bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita maka lebih utama di rumah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan keutamaan dan fadhilah yang sangat banyak bagi orang yang menunggu waktu shalat, Sebagaimana Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Senantiasa dihitung perbuatan seorang hamba itu sebagai pahala sholat selama ia menunggu datangnya waktu sholat, dan para malaikat (senantiasa) berdo’a untuknya, “Ya Alloh ampunilah dia dan rahmatilah dia,” sampai seorang hamba itu selesai (melaksanakan sholat) atau ia berhadats, (ada yang bertanya); apa yang dimaksud dengan hadats, (kata Rasululloh); keluar angin dari lubang dubur baik bau maupun tidak” (HR: Muslim dan Abu Daud)

Dalam hadits yang lain beliau Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Maukah aku beritahukan tentang beberapa hal, yang mana Alloh akan menjadikannya sebagai pelebur dosa dan pengangkat derajat kalian? Para shahabat menjawab, “Tentu mau ya Rasululloh,” lalu Rasululloh bersabda, yang artinya: “Sempurnakan wudhu’ walau dalam keadaan tidak menyenangkan (spt; dingin), perbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah melaksanakan sholat, maka yang demikian itu adalah ar-ribath, yang demikian itu ar-ribath.” (HR: Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Muslim)

Ar-ribath adalah senantiasa menjaga kesucian, shalat dan ibadah maka pahalanya diumpamakan seperti jihad di jalan Alloh Subhannahu wa Ta’ala.

Demikianlah kiat-kiat yang perlu kita perhatikan sebelum melak sanakan shalat. Dengan merealisasikan itu semua mudah-mudahan shalat kita menjadi shalat yang khusyu’ dan diterima disisi Alloh Subhannahu wa Ta’ala.

Keutamaan Shalot yang Khusyu’
Sesungguhnya Alloh Subhannahu wa Ta’ala telah memuji orang yang khusyu’ pada banyak ayat dalam al-Qur’an, di antara nya adalah:

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya telah beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ didalam sholatnya”. (QS: Al-Mu’minun: 1-2)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (QS. al-Baqarah: 45)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala pada ayat yang lain, yang artinya: “Mereka yang berdo’a kepada Kami dengan penuh harapan dan rasa takut (cemas), dan mareka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”. (QS: Al-Anbiya’: 90)

Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Mereka menyungkurkan mukanya dalam keadaan menangis dan kekhusyu’an mereka semakin bertambah” (QS: Al-Isra’: 109)

Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih, Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS: Maryam: 5 8)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS: Al-Mulk: 12)

Demikian juga beberapa hadits Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam yang menjelaskan tentang keutamaan khusyu’ berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Tujuh golongan yang mendapat naungan Alloh pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Alloh; …(dan disebutkan di antaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendirian (kesunyian) kemudian air matanya mengalir.” (HR: Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya)

Nabi Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mengingat Alloh kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari Kiamat kelak.” (HR. al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Nabi Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Semua mata (manusia) pada hari Kiamat akan menangis kecuali (ada beberapa orang yang tidak menangis) (pertama) mata yang terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, (ketiga) mata yang menangis karena takut pada Allah walau (air mata yang keluar itu) hanya sekecil kepala seekor lalat” (HR: Ashbahâny)

Dari Bahaz Bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya semoga Alloh meridhai mereka, kakeknya berkata, “Saya mendengar Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Diharamkan neraka membakar tiga golongan manusia yang disebabkan matanya, (pertama) mata yang menangis karena takut pada Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (begadang) di jalan Alloh, (ketiga) mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Alloh.” (HR: At-Thabrani, Al-Baghawi dan yang lainnya, al-Hakim mengatakan hadits ini shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi) Wallahu a’lam bish shawab.

(Sumber Rujukan: Taisîr Karimir Rahman, Asy-Syaikh Abdur Rahman Bin Nâshir As-Sa’dy; Tafsir Ibnu Katsir

SIFAT MALU YANG MULIA

Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.

Malu adalah Iman
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)

Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR: Bukhari)

Malu, Kunci Segala Kebaikan
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.

Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”

Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:
“Bila cahaya wajah berkurang,
maka berkurang pula rasa malunya
Tidak ada keindahan pada wajah,
Bila cahayanya berkurang
Rasa malumu peliharalah selalu,
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,
Adalah rasa malunya.”

Bukannya Tidak Pede
Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau karena manusia. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’I, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang Pria Muslim atau malu pergi ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Alloh-lah yang seharusnya kita utamakan. Bukankah Alloh-lah yang paling berhak kita malui?

Al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS: Al-Ahzab: 53)”.

Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan: Saya tidak tahu”.

Imam Bukhari rahimahulloh berkata: “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.” Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu pada diri mereka tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama.” (Fathul Bari 1/229)

Harus Ditumbuhkan
Pengunjung Media Muslim INFO yang tercinta… sifat yang mulia ini selayaknyalah kita pupuk dengan baik dan kita jaga agar tidak musnah dari diri kita. Berbahagialah kita, jika kita terlahir sebagai sebagai seorang yang pemalu, yang berati kita telah mempunyai sifat dasar yang baik. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Asyaj dari bani Anshar, yang artinya: “Pada dirimu ada dua sifat yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala sukai.” Maka ia bertanya, “Apakah itu, wahai Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?” Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab; “Sabar dan malu”. Asyaj bertanya lagi, “Apakah kedua sifat itu sudah ada sejak dulu atau baru ada?”. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sejak dulu.” Asyaj berkata, “Puji syukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberiku dua sifat yang Allah sukai “ (HR: Ibnu Abi ‘Ashim).

Jika memang kita rasakan sifat itu kurang pada diri kita, maka tidak perlu khawatir karena sifat itu dapat ditumbuhkan. Dengan meningkatkan iman, ma’rifatulloh, dan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sehingga dalam diri kita timbul kesadaran bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi, mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan dan yang kita simpan dalam hati maka akan tumbuhlah malu imani yang mampu mencegah seseorang berdosa karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

(Sumber Rujukan: Al-Qur’an, Fathul Bari, Hadits Bukhori dan Muslim dan berbagai sumber lainnya)

Kamis, 08 Mei 2008

SUKUR ADALH NIKMAT

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang pandai
mensyukuri segala nikmat yang telah Allah curahkan. Semoga pula Allah
memampukan kita untuk dapat mensyukuri semua nikmat tersebut dengan
cara terbaik.

As Syakur adalah satu dari 99 nama Allah yang terdapat dalam Asma'ul
Husna. Nama Allah, As Syakur, terambil dari kata syakara yang
berarti "pujian atas kebaikan" serta "penuhnya sesuatu". Keterangan
lain menyebutkan bahwa tumbuh-tumbuhan yang berhasil tumbuh walau
dengan sedikit air, atau binatang yang gemuk walau dengan sedikit
rumput, dalam bahasa Arab disebut syakur.

Dari penggunaan istilah ini, maka kata syakur yang menjadi nama dan
sifat Allah berarti, "Dia mengembangkan atau memperbanyak imbalan
yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya, meskipun amalannya sedikit".
Karena itu, tidak mengherankan bila Allah SWT selalu melipatgandakan
amalan-amalan yang dilakukan hamba-Nya.

Dalam QS Al Baqarah ayat 261 diungkapkan, Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada
tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi
siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.

Dr Quraish Shihab menyebutkan bahwa kata syukur biasa dipertentangkan
dengan kata kufur. Dalam QS Ibrahim ayat 7 disebutkan, ''Kalau kamu
bersyukur pasti akan Aku tambah untukmu (nikmat-Ku) dan kalau kamu
kufur, sesungguhnya siksa-Ku amat pedih''. Penempatan kata syukur
yang dipertentangkan dengan kata kufur disebabkan karena keduanya
mengandung makna berlawanan. Syukur berarti menampakkan sesuatu ke
permukaan, sedangkan kufur berarti menutupinya.

Apa makna dari Al Syakur ini? Lewat nama-Nya ini, Allah SWT
memperlihatkan sifat-Nya yang tidak "egois". Allah SWT akan
memberikan apresiasi tertinggi terhadap semua yang dilakukan hamba-
Nya dengan "penghargaan" dan derajat kemuliaan, walau dalam pandangan
manusia amalan tersebut sangat tidak berarti. Dalam Alquran
disebutkan, Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah
pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula (QS Al Zalzalah: 7).
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan sedikit pun
berbuat aniaya terhadap kebaikan orang Mukmin, penghargaan-Nya
diberikan sewaktu ia di dunia dan di akhirat kelak pun ia akan
mendapatkannya" (HR Ahmad).

Melihat demikian tingginya apresiasi yang diberikan Allah SWT kepada
setiap kebaikan hamba-Nya, seharusnya membuat kita tertantang untuk
melakukan yang terbaik untuk Allah, sekaligus menghargai apapun yang
Ia berikan kepada kita. Dengan kata lain, kita harus menjadi hamba
yang bersyukur.

Bagaimana caranya? Pertama, meyakini bahwa segala sesuatu hanyalah
milik Allah SWT atau tidak merasa dimiliki dan memiliki kecuali oleh
Allah semata. Lewat keyakinan ini, kekayaan duniawi yang melimpah
tidak akan membuat kita sombong dan takabur; sedang tiadanya tidak
akan menjadikan minder dan nelangsa. Intinya, apa yang kita punya
sekarang hanya sekadar titipan yang suatu saat akan diambil oleh
pemiliknya. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi (QS Al Baqarah: 284).

Kedua, selalu memuji Allah SWT dalam segala kondisi. Alangkah baiknya
apabila lidah kita selalu basah dengan memuji Allah karena demikian
banyaknya nikmat yang tercurah, baik dalam keadaan senang atau susah.
Andai kita teliti, musibah yang kita dapatkan jauh lebih sedikit
daripada nikmat yang Allah berikan. Tidak salah bila dikatakan bahwa
kita "dicelupkan" Allah ke dalam samudera nikmat yang tiada bertepi.
Tak sedetik pun Allah melepaskan karunianya pada kita. Maka sangat
wajar apabila ucapan hamdallah, tahmid, takbir, dan istighfar selalu
ke luar dari mulut kita.

Ketiga, manfaatkan nikmat yang ada sebagai sarana taqarub pada Allah.
Bagi seorang ahli syukur, kegembiraannya tidak lagi terletak pada
pesona indahnya dunia, tapi terletak pada manfaat dunia tersebut
untuk mendekatkan dirinya pada Allah. Baginya, dunia adalah kendaraan
menuju Allah SWT.

Keempat, berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi jalan nikmat
dan kebaikan bagi kita. Tahu berterima kasih (balas budi) adalah
salah satu ciri ahli syukur. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa
telah berbuat kebaikan kepada kalian, maka hendaklah kalian
membalasnya, jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdolah
baginya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Sebab Allah
adalah Dzat yang Mahatahu berterimakasih dan sangat cinta kepada
orang-orang yang bersyukur" (HR Thabrani). Dalam hadis lain
disebutkan, "Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak tahu
berterima kasih kepada sesama manusia" (HR Ahmad).

Mulai sekarang ingat-ingatlah selalu kebaikan orang-orang yang
menjadi jalan kesuksesan, menjadi jalan ilmu, dan jalan kebaikan bagi
kita. Maksimalkan berbuat baik kepada mereka. Seandainya mereka telah
tiada, jagalah hubungan baik dengan ahli warisnya, juga sahabat-
sahabatnya, dan doakanlah mereka dalam ibadah-ibadah kita. Insya
Allah dengan menjadi hamba yang pandai bersyukur, Allah akan
membukakan pintu-pintu kebaikan bagi kita. Amin.

4 Rahasia Ahli Syukur

llah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhluk-Nya. Kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi diri sendiri.

"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu."

Firman Allah SWT: La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)

Wa maa bikummin ni'matin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun (Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS.16: 53)

Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits (Dan terhadap Nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS.93: 11)*

*(diambil dari kitab Al Hikam; Syekh Ahmad Atailah)


Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya. Kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Jangan engkau lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.

Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah kalau nikmat yang ada tidak disyukuri. Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati, La in syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)

Maka, daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri. Sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.

Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.

Rahasia yang kedua ahli syukur adalah "orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi". Karena apa? Karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi. Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada.

Ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat yang ada untuk mendekat kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga dilihat kudanya telah hilang semua. Betapa kagetnya mereka dan pada saat yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan. Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda. Si-A kaget dan berkomentar, "Wah ini hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!" Dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini.

Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar, "Wah ini kuda hebat," sambil berterima kasih kepada yang memberi. Sikap C beda lagi, ia berkomentar "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? Yang ditanya menjawab, "Ini kuda milik raja." Si-C bertanya kembali "Kenapa raja memberikan kuda ini? Dijawab "Sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.

Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah. Yang B mungkin adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT.

Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah.

Maka, jika sahabat ingin banyak uang, sederhana saja rumusnya, pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah. Jangan heran jika rejeki datang melimpah. Punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau tidak ada AC, bukan masalah ukuran, tetapi rumah yang nikmat adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah. Bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong, belilah asesoris rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita. Pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita. Itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat strees bagi yang punya. Dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di depan harus ada anjing. Coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak akan sesibuk itu.

Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? Gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah.

Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada punya anak tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu bapaknya? Ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan mensholatkan ibu bapaknya.

Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah. Di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia. Di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya. Di akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.

Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan nikmat. Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Dimana-mana anak sholeh itu harum namanya. Tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia sebab kenapa? Karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.

Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik seseorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun negeri. Tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita episodenya hidup di Indonesia. Maka syukuri, jangan minder jadi orang Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus bangkit untuk tidak korupsi! Dengan minder tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus bangkit! Negara ini harus jadi ladang untuk mendekat kepada Allah.

Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati, itu semuanya tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah. Sekarang justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi. Daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari kita sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah. Itulah namanya syukur nikmat.

Dan sahabat-sahabat, salah satu tugas kita untuk mensyukuri nikmat adalah kita harus memilih pemimpin kita yang berakhlaq baik yang bisa membimbing kita. Rakyat seluruh negeri ini menjadi orang yang baik-baik. Kita membutuhkan suri tauladan yang baik. Jangan pernah melihat orang dari topeng duniawinya tetapi lihatlah orang dari akhlaqnya karemna akhlaq adalah buah dari keimanan dan keilmuan yang diamalkan. Harta, gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan yang tidak menjadikan kemuliaan akhlaq seseorang berarti dia telah terpedaya. Kita tidak membutuhkan topeng. Yang kita butuhkan adalah isi dan isi inilah milik orang-orang yang ahli syukur kepada Allah.

SELALU INGAT PADA ALLAH

Semua orang pasti mendambakan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kesejahteraan dalam hidup. Ia berharap agar ALLAH selalu hadir dan membimbing segala aktivitas hidupnya.
Salah satu cara efektif agar senantiasa merasakan tenang, damai, dan bahagia dalam hidup adalah zikrullah ( Selalu Ingat ALLAH ) dengan do’a dan zikir yang disertai perenungan dan pengamalan intensif.


Selalu ingat ALLAH, akan menumbuhkan kesadaran dan pencerahan Ruhani, Selalu ingat ALLAH, dapat membuahkan komitmen untuk hidup seuai dengan konsep ALLAH. Dengan selalu ingat ALLAH, kita akan mendapatkan penghargaan tertinggi dari ALLAH.
Dengan selalu inggat ALLAH, hidup kita akan bertabur cahaya ALLAH. Dengan selalu ingat ALLAH, kita akan meraih begitu banyak kebaikan dari ALLAH.Dengan selalu ingat ALLAH, kita akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Inilah amalan yang menjadi rahasia dan kunci sukses kehidupan Rasulullah, para shabat, dan generasi Rabbani. Karena, aktivitas kehidupan mereka tidak melalaikannya dari Selalu Ingat ALLAH.

SUKSES DIBANGUN DARI SENTI PERSENTI

Jadi sukses itu tidak datang secara sekaligus, juga tidak datang secara mendadak, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, senti demi senti, setiap hari.

Satu senti setiap hari ini berbicara mengenai hal-hal yang kita lakukan secara berdisiplin setiap harinya, hal-hal yang sederhana. Banyak orang yang saat melihatnya akan berkata, “Ah, apa sih ? Cuma satu senti, apa artinya ?” Memang kalau dilihat sekilas, tidak ada perbedaan antara orang yang rajin membangun senti demi senti dengan orang yang hidupnya asal-asalan. Orang yang melihatnya akan berkata, “Ah, sama saja, tidak ada perbedaan.” Memang betul, pada awalnya akan terlihat sama saja, tidak ada perbedaan. Tapi tunggulah lima tahun lagi, orang yang terus membangun senti demi senti akan sudah mencapai ketinggian sepuluh meter, sementara yang asal-asalan hanya tiga meter ! Tunggulah sepuluh tahun lagi, maka perbedaannya akan semakin mencolok ! Luar biasa.

Karena itu cobalah temukan satu senti kita masing-masing, lalu lakukanlah dengan setia. Mengapa ? Karena sukses itu dibangun senti demi senti, setiap hari.

SABAR KUNCI SUKSES

Semua manusia pasti menghendaki kesuksesan dalam hidupnya. Untuk mencapainya jalan yang umum dilakukan adalah “kerja keras”. Namun tentu saja tidak sesederhana itu jalan menuju ke sana. Kerja keras tentu harus dibarengi dengan nilai-nilai yang lain seperti sabar dan istiqamah.

Seperti yang ditulis oleh Pak Donald Latumahina tentang satu senti menuju sukses
sangat menarik sekali, betapa kita mesti menghargai setiap satu senti dari hidup kita. Jangan meremehkan usaha walaupun sedikit karena yang sedikit itu jika dilakukan terus menerus ( istiqamah dan sabar ) maka kita akan terkejut melihat hasilnya dikemudian hari. Orang sukses adalah kumpulan dari setiap satu senti amal perbuatannya yang dilakukan dengan penuh kecintaaan.

Dalam Qur’an pesan itu disampaikan dengan indah dan sederhana.
153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Sabar dan shalat adalah tools yang mujarap untuk meraih kesuksesan.

SIAP A TUHAN KAMI

Tuhan kita adalah jawaban-jawaban hati kita
Saat hati ini bertanya :

Siapa yang paling kita ikuti ?
Siapa yang paling kita cintai ?
Siapa yang paling kita takuti ?
Siapa yang paling kita taati ?
Siapa yang paling kita puji ?
Siapa yang selalu teringat di hati ?
Kepada Siapa kita mengabdi ?
Kepada Siapa kita tertunduk berendah hati ?
Kepada Siapa kita pasrahkan hidup ini ?
Kepada Siapa keluh kesah dan pengobat hati ?
Kepada Siapa segalanya bermuara ?
Untuk Siapa hidup dan mati ini ?

MNAKJUBKAN IMAN

Suatu malam, menjelang waktu subuh, Rasulullah SAW bermaksud untuk wudhu. “Apakah ada air untuk wudhu?” beliau bertanya kepada para sahabatnya. Ternyata tak ada seorang pun yang memiliki air. Yang ada hanyalah kantong kulit yang dibawahnya masih tersisa tetesan-tetesan air. Kantong itu pun dibawa ke hadapan Rasulullah. Beliau lalu memasukkan jari jemarinya yang mulia ke dalam kantong itu. Ketika Rasulullah mengeluarkan tangannya, terpancarlah dengan deras air dari sela-sela jarinya.

Para sahabat lalu segera berwudhu dengan air suci itu. Abdullah bin Mas’ud bahkan meminum air itu. Usai salat subuh, Rasulullah duduk menghadapi para sahabatnya. Beliau bertanya, “Tahukah kalian, siapa yang paling menakjubkan imannya?”

Para sahabat menjawab, “Para malaikat.” “Bagaimana para malaikat tidak beriman,” ucap Rasulullah, “Mereka adalah pelaksana-pelaksana perintah Allah. Pekerjaan mereka adalah melaksanakan amanah-Nya.”
“Kalau begitu, para Nabi, ya Rasulallah,” berkata para sahabat. “Bagaimana para nabi tidak beriman; mereka menerima wahyu dari Allah,” jawab Rasulullah.

“Kalau begitu, kami; para sahabatmu,” kata para sahabat. “Bagaimana kalian tidak beriman; kalian baru saja menyaksikan apa yang kalian saksikan,” Rasulullah merujuk kepada mukjizat yang baru saja terjadi.

“Lalu, siapa yang paling menakjubkan imannya itu, ya Rasulallah?” para sahabat bertanya. Rasulullah menjawab, “Mereka adalah kaum yang datang sesudahku. Mereka tidak pernah berjumpa denganku; tidak pernah melihatku. Tapi ketika mereka menemukan
Al-Kitab terbuka di hadapan, mereka lalu mencintaiku dengan kecintaan yang luar biasa sehingga sekiranya mereka harus mengorbankan seluruh hartanya agar bisa
berjumpa denganku, mereka akan menjual seluruh hartanya.”

* * *
Hadis di atas dimuat dalam Tafsir Al-Dûr Al-Mantsûr, karya mufasir Jalaluddin
Al-Syuyuti. Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam kelompok ini; mereka yang
tidak pernah bertemu dengan Rasulullah tetapi mencintainya dengan sepenuh hati.

Masih dalam kitab ini, diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW bersabda,
“Berbahagialah mereka, para saudaraku (ikhwâni).” Para sahabat bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan ikhwâni itu adalah kami, ya Rasulullah?” “Tidak,” jawab Rasulullah, “Kalian adalah para sahabatku. Yang aku maksud dengan
ikhwâni adalah mereka yang datang sesudahku.”

SHOLAT SUBUH Adalah CAHAYA

Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap (di pagi hari), dengan cahaya yang sempurna di akhirat kelak.h (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Cahaya merupakan simbol dari pencerahan spiritual. Ilmu adalah cahaya. Iman adalah cahaya. Bekas-bekas basuhan air wudhu di wajah adalah cahaya. Alquran adalah cahaya. Setiap amal saleh yang kita lakukan hakikatnya adalah cahaya. Sejatinya, cahaya spiritual akan membimbing serta menerangi kehidupan manusia, tidak hanya di dunia saja tapi juga sampai ke akhirat kelak.
Di sana, cahaya terang akan memancar dari wajah setiap hamba-hamba beriman yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Cahaya inilah yang akan membedakannya dari orang-orang kafir nan ingkar. Allah SWT berfirman, Pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak (QS Al Hadiid [57]: 12).

Pertanyaannya, apa kaitan shalat Subuh dengan cahaya? Di awal telah diungkapkan bahwa semua amal saleh hakikatnya adalah cahaya. Karena shalat Subuh adalah sebentuk amal saleh yang sangat bernilai, otomatis ia pun termasuk cahaya. Cahaya seperti apa? Dalam sebuah hadis dari Buraidah Al Aslami, Rasulullah SAW mengungkapkan, Beritakanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid di waktu gelap (di pagi hari), dengan cahaya yang sempurna di akhirat kelak. (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sungguh mengagumkan hadis ini. Al Mubarakfuri memberi komentar, gBahwa tubuh mereka akan diselimuti, dengan cahaya dari berbagai arah, saat mereka mengalami kesulitan berjalan di atas titian shirath kelak. Simaklah kata-kata kunci di dalamnya, kegelapan yang diikuti cahaya yang sempurna. Kegelapan yang diikuti cahaya terang, bukan cahaya remang-remang, namun cahaya yang kualitas terangnya begitu sempurna. Bagaimana terang benderangnya cahaya yang berada di tengah kegelapan? Semakin pekat kegelapan, semakin benderang pula cahaya yang melingkupinya. Pantas jika Rasulullah SAW mengungkapkan janji ini. Bukankah waktu Subuh, waktu sepertiga malam terakhir, waktu menjalang terbitnya fajar, adalah waktu yang paling gelap dari keseluruhan malam? Saat itu adalah saat terjadinya pertukaran antara malam dan siang. Bulan dan bintang sudah memasuki peraduannya sedangkan matahari belum muncul ke permukaan. Saat itu adalah saat-saat di mana cahaya yang menerangi bumi mencapai intensitasnya yang terendah, hingga Bumi mencapai kegelapan yang sempurna.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah SWT memerintahkan kita untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Dalam kegelapan yang sempurna, Rasulullah SAW mengajak kita berjalan ke masjid memenuhi panggilan Ilahi yang terungkap lewat kumandang adzan. Ketika momen itu berlangsung, dalam setiap langkah kaki, Allah SWT akan menggugurkan satu dosa serta mengangkat kita satu derajat (HR Bukhari Muslim). Ketika itu pula, Allah SWT menaburkan cahaya-cahaya terang yang akan menerangi jiwa orang-orang yang memenuhi panggilannya. Tahukah Anda bahwa peristiwa itu terjadi setiap hari, di pagi hari.

Karena tu, Rasulullah SAW mengajari kita sebuah doa, saat kita berjalan ke masjid di waktu malam dan pagi hari,” Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya, dari bawahku cahaya. Ya Allah berikanlah kepadaku cahaya dan jadikanlah aku cahaya” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Sepertiga malam terakhir hingga terbitnya fajar, adalah momen-momen yang sangat dahsyat. Seiring hadirnya cahaya-cahaya penerang jiwa, Allah SWT pun menaburkan aneka keberkahan di dalamnya. Betapa tidak, saat itulah para malaikat (yang juga makhluk cahaya) memberi laporan harian kepada Tuhannya, perihal amal-amal yang dilakukan manusia. Malaikat siang dan malaikat malam datang dan pergi kepada kalian pada waktu malam. Mereka berkumpul di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian malaikat yang hadir bersama kalian naik ke langit, dan Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka (walau Allah Maha Mengetahui segalanya), ‘Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami pun mendatangi mereka ketika dalam keadaan shalat’. (HR Bukhari Muslim).

Siapa pun yang mampu meraih keberkahan ini, maka di akhirat kelak kado istimewa sudah siap menunggunya. Apakah itu? Perjumpaan dengan Allah, Dzat Yang Mahatinggi. Masuk surga itu adalah nikmat yang teramat besar. Namun, kenikmatan surga tiada artinya jika dibandingkan dengan menatap wajah Allah secara langsung. Itulah puncak dari segala puncak kenikmatan dan kebahagiaan. Rasul sendiri yang menjanjikan hal ini. Dari Jair bin Abdillah, diriwayatkan bahwa ia menceritakan, Ketika kami tengah berada di sisi Nabi SAW, beliau memandang ke arah bulan purnama, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini untuk melihat-Nya. Jika kalian sanggup untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah’. Kemudian beliau membaca ayat ini: dan bertasbihlah memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya (QS Thaahaa [20]: 30). (HR Bukhari).

Alasan dikhususkannya shalat Subuh dan Ashar, boleh jadi karena pada kedua waktu itu seseorang nyaman beristirahat. Waktu Subuh meneruskan istirahat malam, sedangkan Ashar adalah waktu beristirahat seusai melakukan berbagai kesibukan pekerjaan. Selain itu, siapa pun yang istikamah menjaga kedua shalat ini, biasanya mampu pula menjaga shalat fardu pada waktu-waktu lainnya.

KUNCI SURGA

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip perkataan Ibnu Ishak, ketika Rasulullah SAW mengutus al-Ala’ bin al-Hadhrami, beliau bersabda, ”Apabila engkau ditanya tentang kunci surga, katakanlah kuncinya adalah la Ilaha Illallah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah).” Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata sebanyak apa pun la Ilaha Illallah dibaca, tidak akan memberikan manfaat sedikit pun kepada yang mengucapkannya, kecuali telah memenuhi tujuh syarat.

Pertama, mengetahui maknanya. Yakni, mengetahui makna yang meniadakan dan yang menetapkan. Oleh karena itu, siapa saja yang mengucapkan la Ilaha Illallah, sedangkan ia tidak mengerti makna dan apa yang menjadi tuntutannya, maka ucapannya tidak akan bermanfaat baginya. Sebab, jangankan yakin dengan apa yang diucapkannya, tahu artinya saja tidak. Ini sama dengan orang yang berbicara dengan suatu bahasa, namun ia tidak paham bahasa itu. Kedua, disertai keyakinan. Keyakinan adalah bentuk kesempurnaan pengetahuan. Dan dengan keyakinan ini setiap bentuk keraguan dan kebimbangan akan dihilangkan.

Ketiga, dibarengi keikhlasan. Keikhlasan akan meniadakan segala bentuk kesyirikan. Dan keikhlasan inilah yang dikehendaki dari la Ilaha Illallah.

Keempat, kejujuran. Kejujuran akan mencegah timbulnya kemunafikan. Seperti mereka mengucapkan la Ilaha Illallah dengan mulut mereka, sementara hatinya tidak meyakini maknanya.

Kelima, mencintai kalimat itu, sehingga, ketika mengucapkannya wajahnya tampak berseri. Dengan demikian, berbeda dengan wajah yang diperlihatkan oleh orang-orang munafik.

Keenam, tunduk untuk melaksanakan hak-hak la Ilaha Illallah. Yaitu melaksanakan amal-amal wajib, ikhlas karena Allah dan hanya mencari ridha-Nya. Dan demikian inilah tindakan yang dikehendaki dari la Ilaha Illallah.

Ketujuh, adanya penerimaan yang meniadakan bentuk penolakan. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah syarat-syarat yang telah digali oleh para ulama dari Alquran dan sunah agar la Ilaha Illallah dapat menjadi kunci yang akan membuka pintu surga

BUKTI KEBENARAN ISLAM

Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk seluruh ummat manusia. Karena untuk tegaknya kehidupan manusia di atas planet bumi ini diperlukan dua hal:
Pertama: Terpenuhinya kebutuhan pokok berikut sumber-sumbernya untuk menjamin kelangsungan hidup, dan kecukupan material yang dibutuhkan oleh perseorangan dan masyarakat.


Kedua: Mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang tata-cara hidup perseorangan dan masyarakat-masyarakat, agar terjamin berlakunya keadilan dan ketentraman dalam masyarakat dan kebudayaan.

Allah Rabbul-’alamin telah menyediakan kedua macam kebutuhan itu secukupnya untuk manusia. Untuk kebutuhan pertama, Allah s.w.t. telah menyediakan sumber-sumber alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk digali dan diolah. Dan untuk kebutuhan kedua, yakni kebutuhan kejiwaan/rohani, kemasyarakatan dan kebudayaan, Allah s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul. Semua Rasul itu telah mengajak manusia ke jalan Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah s.w.t. Semua Rasul telah menyampaikan risalah yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.
Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah s.w.t. Itulah pula sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.
Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah naungan ketaatan kepada Allah s.w.t., hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat.
Orang-orang yang beriman, yang berhati tenang dengan ingat kepada Allah. Ingatlah bahwa hati akan tenang dengan mengingat Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kebahagiaanlah untuk mereka dan tempat kembali (Surga) yang baik. (Ar-Ra’d, 28 - 29)
Itulah pokok seruan semua Rasul Allah untuk membawa alam kemanusiaan kepada jalan kehidupan yang lurus. Tetapi manusia tidak selalu berada dalam jalan yang benar. Mereka kadang-kadang menyimpang dari bimbingan yang diberikan oleh para Rasul itu. Itulah sebabnya, maka ada beberapa Rasul yang diutus guna memberikan kembali seruan/risalah yang asli dan membawa manusia ke jalan yang benar. Rasul yang terakhir ialah Muhammad s.a.w. yang telah memberikan bimbingan Allah s.w.t. dalam bentuknya yang final dan sempurna untuk segala zaman. Bimbingan inilah yang sekarang dikenal sebagai Islam, terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan contoh kehidupan Rasulullah s.a.w.
Dasar-dasar kepercayaan Islam
Konsep yang pokok dalam Islam ialah bahwasanya seluruh alam ini, Tuhanlah yang telah menjadikan, menguasai dan mengawasinya, bahwasanya Dia adalah Maha Tunggal, tidak ada yang menyertai dalam kesucian-Nya. Dia telah menciptakan manusia dan menentukan ajalnya, dan bahwasanya Allah s.w.t. telah menyediakan untuk seluruh alam jalan hidup yang lurus, sekaligus memberikan kebebasan mutlak kepada hamba-Nya untuk mengikuti atau mengingkarinya. Barang siapa yang mengikuti jalan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang Muslimin dan Mukminin, dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir yang mengingkari kebenaran.
Orang telah memeluk Islam, apabila ia telah menyaksikan dengan sepenuh keimanan atas ke-Esaan Allah dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah Rasulullah. Kedua kepercayaan ini tersimpul dalam kalimat:
Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.
Bagian pertama kalimat ini memberikan konsep Tauhid (ke-Esaan Tuhan), dan bagian kedua adalah kesaksian atas kerasulan Muhammad s.a.w.
Tauhid adalah akidah revolusioner yang menjiwai seluruh ajaran Islam; akidah yang meyakinkan bahwasanya seluruh alam ini kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan seluruhnya berada di bawah kekuasaan-Nya, Dzat yang Azaly, tiada permulaan dalam wujudnya, tidak dibatasi tempat dan waktu, mengatur seluruh dunia dengan segenap manusia yang ada di atasnya.
Sesungguhnya, adalah benar-benar merupakan keajaiban, apabila orang memperhatikan tentang penciptaan alam yang tidak ada henti-hentinya dengan pengaturan yang pasti, terarah dan serasi, serta kemampuannya untuk mempertahankan apa yang bermanfaat dan menghukum apa yang berbahaya bagi kemanusiaan. Semua itu memberikan kesimpulan bahwa dibalik alam ini ada satu Kekuatan yang terus menerus aktif menciptakan perkembangan alam tanpa pengumuman! Itu bintang-bintang yang memenuhi angkasa luas dan pemandangan alam yang memikat hati, perputaran matahari dan bulan yang menakjubkan, pergantian musim, pergantian siang dan malam, sumber-sumber air yang tak kunjung kering, bunga-bunga yang halus dan cahaya bintang-bintang yang gemerlapan. Bukankah semua itu menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Kuasa yang telah menjadikannya dan menguasai segala keadaan? Kalau kita perhatikan alam ini secara keseluruhan, ternyatalah kepada kita adanya tata-cara yang teratur. Apakah yang demikian itu tidak menunjukkan atas adanya Tuhan? Dapatkah semua itu terjadi secara kebetulan?
Sungguh benar firman Allah s.w.t.:
Hai sekalian manusia! Sembahlah Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu dapat menjaga diri. Tuhan yang telah menjadikan buat kamu bumi yang menghampar dan langit yang memayung, dan Dia telah menurunkan air dan langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rizqi buat kamu. Maka oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah 21-22)
Itulah akidah asasi (kepercayaan pokok) yang diserukan oleh Muhammad s.a.w. kepada seluruh ummat manusia, supaya menjadi pegangan hidupnya. Akidah ini logis dan menyeluruh, dapat memecahkan segala persoalan alam, dan menunjukkan bahwa alam ini tunduk di bawah satu hukum kekuasaan tertinggi. Akidah ini memberikan gambaran umum yang sesuai dengan kenyataan bahwa seluruh isi alam ini satu sama lain saling melengkapi; berbeda sepenuhnya dengan pandangan yang sepotong-potong dari ilmuwan dan para filsuf, dan dapat menyingkap tabir rahasia/hakikat yang sebenarnya.
Setelah berabad-abad lamanya manusianberada dalam kegelapan, mulailah sekarang manusia dapat menemukan hakikat itu sedikit demi sedikit berdasarkan konsep akidah ini, dan pikiran ilmiah modern pun terus bergerak kearah ini. Akidah ini bukan sekedar konsep metaphisic atau kumpulan kata-kata yang tidak berarti. Akidah ini adalah suatu kepercayaan yang dynamis dan doktrin yang revolusioner. Akidah ini mengandung pengertian bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah dan semua mereka adalah sama. Sikap-sikap diskriminatif berdasarkan warna kulit, kelas-kelas sosial, suku bangsa, bangsa atau daerah asal kelahiran itu tidak ada dasarnya, dan sikap atau pandangan seperti itu adalah warisan zaman jahiliyah yang telah mengikat manusia kepada perbudakan.
Manusia seluruhnya merupakan satu keluarga yang diurus Allah s.w.t., sehingga tidaklah sepatutnya ada dinding pemisah di antara sesama mereka. Manusia semuanya sama, tidak ada perbedaan golongan borjuis atau proletar, kulit putih atau kulit hitam, bangsa Aria atau bukan Aria, orang Barat atau orang Timur. Islam telah memberikan konsep revolusioner tentang kesatuan ummat manusia. Dan kebangkitan Rasulullah s.a.w. itu tidak lain hanya untuk mempersatukan seluruh alam di bawah kalimat Allah, dan untuk membangkitkan kehidupan baru di dunia yang sudah mati.
Firman Allah s.w.t.:
Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu, tatkala kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah melembutkan hati kamu semua sehingga atas karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ali Imran 103)
Akidah ini juga menjelaskan tentang hakikat kedudukan manusia dalam alam ini. Allah telah menciptakan alam serta memeliharanya, dan manusia adalah khalifah atau wakil-Nya di atas planet bumi ini. Dengan demikian, maka derajat manusia itu cukup tinggi, seharusnya mempunyai pimpinan dunia modern, pasti dia berhasil menyelesaikan segala persoalannya dengan cara yang dapat membawa dunia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Saya berani meramalkan, bahwa akidah yang dibawa oleh Muhammad akan diterima baik oleh Eropa di kemudian hari, sebagaimana sekarang sudah mulai.
Pertama: Mudah, Rasional dan Praktis
Islam adalah agama yang tidak dicampuri mitologi. Ajaran-ajarannya mudah dimengerti. Islam bebas dari takhayul dan setiap kepercayaan yang bertentangan dengan akal yang sehat. Ke-Esaan Tuhan, ke-Rasulan Muhammad s.a.w. dan konsep kehidupan sesudah mati adalah dasar pokok akidah Islam. Semua itu beralasan kuat dan logis. Dan seluruh ajaran Islam adalah lanjutan dari dasar-dasar kepercayaan ini, semuanya mudah difahami dan lurus. Dalam Islam tidak ada kekuasaan pendeta, tidak ada yang samar-samar dan tidak ada upacara-upacara atau peribadatan yang sulit. Semua orang dapat membaca langsung Kitabullah (Al-Qur’an) dan melaksanakannya dalam praktek. Islam selalu menganjurkan supaya orang berpikir, mempertimbangkan setiap urusan sebelum dilaksanakan, membahas keadaan yang sebenarnya dan berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Al-Qur’an menganjurkan supaya orang berdo’a:
Tuhanku! Tambahlah ilmu pengetahuanku! (Toha 114)
Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang berpengetahuan itu tidak sama dengan orang yang tidak berpengetahuan:
Katakanlah: Apakah orang-orang yang berpengetahuan sama dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan amalnya dalam keadaan terbuka. (Aku katakan): Bacalah buku amal kamu. Cukuplah kamu sendiri menghitungnya hari ini. (Al-Isra’ 13-14)
Barangsiapa yang datang dengan kebajikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat, dan barangsiapa yang datang dengan keburukan, maka dia hanya dibalas dengan hukuman yang seimbang. Mereka tidak dianiaya. (Al-An’am 160)
Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa pokok asasi akidah Islam itu ada tiga, yaitu:
Iman atau percaya atas ke-Esaan Allah.
Iman atau percaya bahwa Muhammad itu Utusan Allah.
Iman atau percaya akan adanya kehidupan akhirat dan adanya hisab pada hari kiamat.
Maka barang siapa yang beriman kepada tiga pokok tersebut, dia adalah orang Muslim, dan kesemuanya dituangkan dalam kalimat:
“LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR-RASULULLAAH”
Beberapa watak pokok Islam
Bernard Shaw berkata: “Saya selalu memandang tinggi agama Muhammad, karena vitalitasnya yang mengagumkan. Agama Muhammad adalah satu-satunya agama yang jelas bagi saya membuktikan kemampuannya yang besar dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang berubah-rubah dan menyebabkannya sesuai untuk segala masa. Saya telah mempelajari kehidupan orang ini, orang yang mengagumkan dan menurut pikiran saya jauh dari bersifat anti Kristus, dia mestinya mendapat gelar Juru Selamat Kemanusiaan. Saya yakin, jika seorang seperti dia diserahi tujuan hidup yang luhur, yakni melaksanakan kehendak Allah di muka bumi. Inilah satu-satunya penyelesaian atas segala persoalan sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya dan sekaligus membina tatanan baru, berupa persamaan, keadilan dan keamanan, sehingga berbahagialah dunia dengan keselamatan dan kemakmuran.
Titik tolak kepercayaan Islam ialah percaya atas ke-Esa-an Allah, yakni Tauhid, dan bahwa Allah swt. Tidak menjadikan manusia untuk dibiarkan begitu saja, tanpa petunjuk yang menerangi jalan hidup mereka. Untuk itu Allah swt. Telah mengutus para Rasul yang membawa agama Allah untuk keselamatan mereka, dan Muhammad saw. adalah Rasul-Nya yang terakhir. Dan Iman kepada Rasul itu menuntut supaya juga beriman terhadap risalahnya serta taat kepada ajaran-ajarannya, menerima ketentuan hukum yang telah ditetapkannya, mengenai perjalanan hidup yang harus ditempuh. Dengan demikian, maka landasan kedua dalam Islam adalah beriman kepada risalah yang disampaikan melalui Muhammad saw. dan memeluk agama yang dibawanya, berikut melaksanakan segala ajarannya. Dan ini akan membawa kita kepada pokok Islam yang ketiga yaitu percaya atas adanya kehidupan akhirat.
Adapun dunia ini, menurut pandangan Islam, adalah tempat ujian. Manusia akan dituntut pertanggungan jawab atas segala amal perbuatannya, dan pasti akan datang hari penghabisan hidupnya di dunia, untuk kemudian dibangkitkan kembali di alam yang baru, dimana manusia akan mendapat balasan atas segala perbuatannya yang baik maupun yang buruk. Maka orang-orang yang taat kepada Allah di dunia ini, akan mendapat kebahagiaan yang kekal di alam akhirat, dan sebaliknya orang-orang durhaka kepada Allah di dunia ini, kelak di akhirat akan mendapat balasan buruk, sesuai dengan firman Allah swt. Dalam al-Qur’anul-karim:
Dan setiap manusia Aku ikatkan amalnya di kuduknya, dan Aku keluarkan baginya pada hari kiamat buku catatan. Orang-orang yang mengambil pelajaran itu hanyalah mereka yang berakal sehat. (Az-Zumar 9)
Al-Qur’an juga mencela orang-orang yang tidak mau berpikir tentang makhluk Allah dan menganggapnya lebih sesat daripada hewan:
Dan sungguh telah Aku jadikan untuk isi Jahannam banyak jin dan manusia yang punya hati tidak digunakan untuk mengerti, punya mata tidak digunakan untuk melihat dan punya telinga tidak untuk mendengar. Mereka tida berbeda dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lupa. (Al-A’raf 179)
Sebaliknya, Al-Qur’an menilai orang-orang yang percaya atas ayat-ayat Allah sebagai orang-orang yang mengerti,
Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang mengerti. (Al-An’am 97).
Mereka juga dinilai sebagai orang yang berpikir:
Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang berpikir. (Al-An’am 98).
Dijelaskan pula bahwa orang-orang dikaruniai hikmah (ilmu kebijaksanaan) bahwa mereka itu telah dikaruniai kebaikan yang banyak dan berakal sehat:
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka dia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah menerima petunjuk selain orang yang berakal sehat. (Al-Baqarah 269)
Ilmu yang luas dan badan yang sehat adalah termasuk sifat orang-orang yang dipilih Allah untuk memimpin/memerintah sesama manusia. Hal itu diterangkan dalam hikayat Al-Qur’an tentang Thalut yang diangkat Raja atas kaumnya:
Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut sebagai Raja buat kamu.’ Mereka bertanya: “Bagamana dia mendapatkan kerajaan atas kami, pada hal kamu lebih berhak atas kerajaan dari pada dia dan juga dia tidak kaya?” Jawab Nabi: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih dia atas kamu dan telah menambah dia ilmu yang luas dan badan yang sehat/kuat. Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah itu Maha luas ilmunya dan Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah 247)
Al-Qur’an juga menyatakan bahwa manusia lebih mulia dari pada Malaikat karena ilmu, sehingga manusia diberi hak mengatur dunia sebagai Khalifah Allah:
Dan ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di bumi. Para Malaikat bertanya: “Apakah Engkau akan menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Pada hal kami ini bertasbih dengan selalu memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhanmu berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak tahu. Lalu Tuhanmu mengajari Adam tentang semua nama-nama. Kemudian ditunjukkan-Nya kepada para Malaikat dengan firman-Nya: Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu memang betul (dalam pengakuanmu)! Para Malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau. Kami tidak tahu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Firman Tuhanmu: Adam! Terangkanlah kepada mereka nama-nama semua itu! Maka sesudah Adam memberitahukan semua nama, Tuhanmu berfirman: Tidakkah Aku katakan kepada kamu bahwa Aku mengetahui kegaiban langit tujuh dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tunjukkan dan apa yang kamu sembunyikan? (Al-Baqarah 30-33)
Rasul Islam telah pula bersabda:
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam, pria dan wanita. - Riwayat Ibnu Abdil-Barr dari Anas.
Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia itu dalam jalan Allah, sampai waktunya dia kembali - Riwayat At-Turmudzy dari Anas.
Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah, menuntutnya merupakan ibadah, mengulang-ulangnya merupakan tasbih, pembahasannya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya merupakan sadakah dan menyerahkannya kepada ahlinya merupakan “pendekatan diri” kepada Allah - Riwayat Ibn ‘Abdil-Barr.
Demikianlah Islam telah mengeluarkan manusia dari alam khurafat dan kegelapan dan membawa mereka ke dunia ilmu yang terang benderang. Kemudian Islam adalah agama yang praktis, tidak hanya merupakan teori yang kosong, bukan hanya akidah yang harus diimani semata-mata, akan tetapi juga harus dijadikan sumber praktek hidup sehari-hari, sehingga jiwa yang berisi Iman itu mengalir dalam arus amal perbuatan, seperti mengalirnya air di atas bumi yang subur. Agama Islam tidak hanya berupa kata-kata yang berulang-ulang, berupa dzikir dan puji kepada Allah s.w.t. saja, tetapi harus menjiwai kehidupan manusia seluruhnya. Dalam hal ini Al-Qur’an menyatakan:
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik - Ar-Ra’d 29.
Dan sabda Rasulullah saw.:
Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas, karena Dia dan dimaksudkan untuk keridlaan-Nya - Riwayat An-Nasa’iy.
Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani
Islam tidak memberikan garis pemisah antara benda dan rohani. Islam memandang hidup ini sebagai satu kesatuan yang mencakup kedua-duanya, sehingga Islam tidak merupakan penghalang antara manusia dan kepentingan hidupnya, bahkan Islam mengatur seluruh urusan hidup. Islam tidak mengakui adanya larangan dan tidak menuntut supaya orang menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, tetapi dengan jalan taqwa kepada Allah dalam seluruh kebutuhan hidup yang beraneka-ragam, sebagaimana dihikayatkan dalam Al-Qur’an mengenai hamba-hamba Allah yang saleh:
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Tuhan-Ku! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang mendapat bagian (pahala) dari apa yang mereka lakukan, dan Allah itu cepat hisab-Nya — Al-Baqarah 201-202.
Malah Al-Qur’an mencela orang-orang yang tidak memanfaatkan ni’mat harta kurnia Allah:
Katakanlah, siapa yang melarang perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rizqi yang baik-baik. Katakanlah, itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khususnya pada hari kiamat. Begitulah Aku menjelaskan ayat-ayat-Ku untuk orang-orang yang mengetahui — Al-A’raf 32.
Akan tetapi dalam pada itu Islam menuntut supaya para penganutnya menjadi ummat yang sedang-sedang dalam kehidupan dunia:
Hai turunan Adam! Kenakanlah pakaian kamu pada setiap kali kamu bersembahyang di mesjid dan makan minumlah kamu dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang suka berlebih-lebihan. - Al-A’raf 31.
Dan sabda Rasulullah saw.:
Orang mukmin yang bergaul dalam masyarakat dan tabah atas segala rintangan adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dan tidak tabah/tidak sabar atas rintangan. - Riwayat Bukhari.
Rasulullah saw. pernah bersabda yang ditujukan kepada Abdullah bin Umar bin ‘Ash:
Aku mendapat kabar bahwa engkau berpuasa tanpa berbuka dan melakukan sembahyang sepanjang malam. Janganlah engkau berbuat begitu, sebab matamu juga harus dapat bagian, dirimu harus dapat bagian dan istrimu juga harus dapat bagian. Oleh karena itu, berpuasalah dan berbuka, bersembahyanglah dan tidur. - Riwayat Muslim.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw. bersabda:
Tiga perkara termasuk Iman, memberi nafkah tanpa terlalu beririt-irit, mengusahakan keselamatan untuk semua orang dan menginsafi dirimu sendiri. - Riwayat Muslim.
Jadi Islam itu tidak membuat garis pemisah antara kepentingan kebendaan dan kepentingan kerohanian dalam kehidupan manusia, bahkan Islam menjalin kedua-duanya, sehingga terbukalah jalan hidup yang sesuai dengan kemampuan orang atas dasar yang shah dan baik. Islam mengajarkan bahwa kebendaan dan kerohanian adalah dua hal yang selalu harus berdampingan dan bahwasanya kesucian rohani dapat terhindar dari keburukan, apabila sumber-sumber kebendaan dibaktikan untuk kepentingan kemanusiaan. Kesucian rohani tidak akan tercapai dengan jalan menyiksa diri, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan menekan naluri kemanusiaan. Dunia ini telah cukup menderita, akibat ajaran-ajaran yang berat sebelah dari agama dan ideologi lain. Ada agama yang menekankan ajarannya kepada segi kerohanian saja dalam hidup ini, dan bersikap masa bodoh terhadap benda dan kehidupan duniawi. Mereka memandang dunia ini sebagai khayalan penipuan dan perangkap. Di lain pihak, ada ideologi materialistis yang sepenuhnya bersikap masa bodoh terhadap segi kerohanian dan moral serta menganggapnya sebagai khayalan semata-mata. Kedua macam ajaran/pendirian ini telah menimbulkan kerusakan/kehancuran. Mereka telah merampas keamanan, kepuasan dan ketenangan manusia. Sampai sekarang tetap menimbulkan ketidak seimbangan.
Seorang sarjana Perancis Dr. De Brogbi dengan tepat menyatakan:
“Bahaya yang mengancam kebudayaan yang terlalu menitik-beratkan kebendaan ialah kehancuran kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan semacam itu kalau tidak disusul dengan perkembangan kehidupan rohani, pasti gagal membuat keseimbangan.”
Agama Kristen tersesat dengan terlalu menekankan ajarannya kepada salah satu extrimitas, yakni kerohanian, sedangkan kebudayaan modern tersesat pada extrimitas yang lain, yakni kebendaan. Seperti kata Lord Snell: “Kita telah mendirikan bangunan yang lahirnya memang mewah dan megah, tapi kita tidak memperhatikan tuntutan pokok yang harus menjadi isinya. Kita dengan sepenuh perhatian membuat rencana, dekorasi dan membersihkan semua bagian luar bangunan kita, akan tetapi bagian dalamnya penuh dengan pemerasan dan pelanggaran. Kita telah mempergunakan kemajuan pengetahuan dan kekuatan untuk mengatur kesenangan badan, tapi kita telah meninggalkan segala kepentingan rohani.”
Agama Islam telah membina keseimbangan antara kedua segi kehidupan: kebendaan dan kerohanian. Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini untuk manusia, akan tetapi manusia sendiri untuk mengabdi kepada Tuhan; tugas kehidupannya ialah melaksanakan kehendak Tuhan. Ajaran-ajaran Islam mendorong manusia ke arah kebersihan rohani, sama seperti dorongannya untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya di dunia yang bersifat sementara ini. Islam menyuruh manusia supaya membersihkan jiwanya, sekaligus membentuk atau membangun kehidupan dunianya, perseorangan maupun masyarakat, dan supaya membina hak/kebenaran atas kekuasaan dan kebajikan atas kejahatan. Jadi, Islam itu berdiri di atas jalan tengah.
Ketiga: Jalan Hidup yang Sempurna
Islam bukan satu agama yang hanya mempunyai ruang lingkup kehidupan pribadi manusia, seperti yang disalahartikan oleh banyak orang. Islam adalah satu jalan-hidup yang sempurna, meliputi semua lapangan hidup kemanusiaan. Islam memberikan bimbingan untuk setiap langkah kehidupan perorangan maupun masyarakat, material dan moral, ekonomi dan politik, hukum dan kebudayaan, nasional dan internasional. Al-Qur’an memerintahkan supaya manusia memeluk agama Islam secara keseluruhan, tanpa pilih-pilih, dan mengikuti semua bimbingan Tuhan dalam segala macam lapangan hidup. Kenyataan sekarang membuktikan bahwa ruang lingkup agama itu dibatasi hanya pada kehidupan perseorangan, sedangkan peranan sosial dan kebudayaannya ditinggalkan. Mungkin tidak ada faktor lain lagi yang lebih penting dari itu yang telah menyebabkan kemerosotan agama di abad modern sekarang ini. Salah seorang filosof modern berkata: “Agama memerintahkan supaya kita memisahkan apa yang untuk Tuhan dan apa yang untuk Kaisar. Pemisahan ini berarti niengurangi dua-duanya. Mengurangi peranan dunia dan agama. Agama sangat kecil, kalau jiwa para penganutnya tidak tergetar ketika awan gelap peperangan bergayutan di atas kepala kita semua dan persaingan industri telah mengancam keamanan masyarakat. Agama telah memperlemah naluri sosial kemanusiaan dan kepekaan moral dengan jalan pemisahan apa yang untuk Tuhan dari apa yang untuk Kaisar.” Islam menolak sepenuhnya konsep pemisahan agama seperti itu, dan jelas menyatakan bahwa tujuannya ialah menyempurnakan jiwa dan membentuk masyarakat.
Sungguh Aku telah mengutus Rasul-rasul-Ku dengan membawa penjelasan, dan Aku telah menurunkan bersama mereka Kitab dan keadilan,5 supaya manusia menegakkan keadilan, dan Aku telah menyediakan besi yang mengandung bahaya besar dan manfaat yang banyak bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-Nya, walaupun agama itu ghaib. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat dan Maha Perkasa. - Al-Hadid 25.
Dan
Apa yang kamu sembah selain Allah itu hanya sebutan-sebutan yang kamu berikan saja, kamu dan leluhur kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Kekuasaan itu hanya pada Allah. Dia memerintahkan bahwa hendaklah kamu tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. - Yusuf 40.
Mengenai orang-orang yang berhak mendapat pertolongan Allah swt., Al-Qur’an menyatakan:
Orang-orang yang kalau Aku tempatkan mereka di bumi, mereka melakukan sembahyang, membayar zakat, memerintahkan/menganjurkan kebaikan dan melarang/memperingatkan keburukan. Dan kepada Allah-lah kembalinya segala urusan. - Al-Haj 41.
Dan Rasulullah saw. bersabda:
Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.
Saya kira orang tidak perlu mempelajari secara mendalam tentang ajaran-ajaran Islam, kalau sekedar untuk mengetahui bahwa Islam itu adalah suatu agama yang menyeluruh, meliputi segala lapangan hidup manusia, dan tidak membiarkan satu lapanganpun untuk dimasuki oleh kekuatan buruk syaitan.
Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan
Ada satu keistimewaan yang bersifat unik bagi Islam, yaitu bahwa agama ini membina keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan kemasyarakatan. Islam percaya adanya kepribadian manusia dan menentukan bahwa setiap orang secara sendiri-sendiri bertanggung jawab terhadap Tuhan. Islam menjamin hak-hak azasi manusia dan tidak membenarkan siapapun juga untuk merobek-robek atau menguranginya. Islam juga menjamin perkembangan yang baik kepribadian manusia, sebagai salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan pendidikannya.
Islam tidak setuju dengan pandangan bahwa manusia harus melenyapkan kepribadiannya, meleburkan diri dalam masyarakat atau negara.
Al-Qur’an menyatakan:
… dan bahwa manusia tidak akan mendapat selain apa yang dia usahakan. — An-Najm 39.
Dan musibah apa yang menimpa kamu itu disebabkan perbuatan kamu. — Asy-Syura 30.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka sendiri mau mengubah keadaannya. - Ar-Ra’d 11.
Bermanfaat bagi seseorang apa yang dia usahakan, dan berbahaya baginya apa yang dia lakukan. — Al-Baqarah 286.
Mengenai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ajakan kaum musyrikin, Tuhan mengajarkan:
Bagi kami bermanfaat amal perbuatan kami dan bagi kamu amal perbuatan kamu. — Al-Qashash 55.
Semua itu mengenai soal-soal perseorangan.
Di lain pihak, Islam selalu menanamkan dalam jiwa manusia rasa tanggung jawab sosial, mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dan negara, dan mengikutsertakan setiap orang dalam usaha menegakkan kemaslahatan umum.
Sembahyang dalam Islam dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah), salah satu cara untuk menanam rasa disiplin sosial di kalangan ummat Islam. Setiap orang diwajibkan nnembayar zakat, sekurang-kurangnya zakat fithrah.
Al-Qur’an menyatakan:
Dan dalam harta kekayaan mereka ada bagian hak yang dibutuhkan oleh yang meminta dan miskin. — Adz-Dzariyat 19.
Jadi zakat itu adalah sebagian harta yang menjadi hak masyarakat. Dan jihad (berjuang) dalam Islam itu wajib. Ini berarti bahwa setiap orang diharuskan berkorban, sampai dengan jiwanya sekalipun, untuk mempertahankan kejayaan Islam dan negaranya. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:
Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.
Sabdanya pula:
Kamu jangan berprasangka, sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling bohong. Dan janganlah kamu saling selidik menyelidik kesalahan, jangan saling bermegahan, jangan saling benci, jangan saling belakangi. Jadilah kamu –hamba Allah– bersaudara, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kamu. — Riwayat Bukhari dan Muslim.
Dan:
Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dengan perut kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, dan dia mengetahui hal itu. — Riwayat Al-Bazar.
Dan:
Orang Mukmin itu ialah orang yang boleh dipercaya atas harta dan diri/jiwa orang lain. — Riwayat Ibnu Majah.
Singkatnya, Islam tidak hanya menegakan hak-hak perseorangan atau hanya mengakui hak-hak masyarakat saja. Islam membina keserasian dan keseimbangan antara keduanya, dengan memberikan batas-batas yang teliti untuk kebaikan dua-duanya.
Kelima: Universal dan Kemanusiaan.
Risalah Islam adalah untuk seluruh ummat manusia. Tuhan, dalam ajaran Islam, adalah Tuhan seluruh alam. Firman Allah:
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengurus seluruh alam. — Al-Fatihah 2.
Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang Rasul untuk seluruh kemanusiaan. Al-Qur’an menyatakan:
Katakanlah: Hai sekalian manusia! Sesungguhnya aku ini adalah Utusan Allah kepada kamu sekalian. — Al-A’raf 158.
Dan firman-Nya:
Maha Tinggi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, supaya menjadi peringatan bagi seluruh alam. — Al-Furqan 1.
Dan firiman-Nya lagi:
Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam. — Al-Anbiya 107.
Menurut ajaran Islam, manusia itu semuanya sama, walaupun berlainan warna kulit, bahasa, keturunan dan kebangsaannya. Hal itu adalah bimbingan Allah kepada naluri kemanusiaan, dan Dia tidak mengakui adanya perbedaan keturunan/kebangsaan, kedudukan sosial atau kekayaan. Tidak bisa dibantah bahwa dalam kenyataan, semua perbedaan itu masih ada dalam zaman kita yang mengaku abad ilmu dan kemajuan ini. Akan tetapi Islam tidak mengakuinya. Malah Islam menetapkan/mengakui bahwa semua manusia itu satu keluarga, Tuhannya ialah Allah s.w.t. Dalam hal ini Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
Semua makhluk itu keluarga Allah, maka mereka yang paling disenangi Allah ialah yang paling bermanfaat untuk keluarga-Nya. — Riwayat Al-Bazar.
Dan do’a Rasulullah s.a.w.:
Ya Tuhanku! Tuhan yang mengurus segala sesuatu dan Yang Memilikinya! Aku bersaksi bahwa hamba-hamba itu semuanya bersaudara. — Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.
Jadi, Islam itu berpandangan internasional dan tidak mengakui adanya garis-garis pemisah dan perbedaan-perbedaan seperti pada zaman jahiliyah. Islam menginginkan adanya kesatuan seluruh kemanusiaan di bawah satu bendera, dan dalam dunia yang telah dirusak dengan persaingan-persaingan dan permusuhan-permusuhan kebangsaan ini Islam merupakan tuntunan hidup dan harapan kebahagiaan di hari yang akan datang.
Keenam: Stabil dan Berkembang
Justice Cardoza dengan tegas menyatakan: “Kebutuhan terbesar zaman kita sekarang adalah satu falsafah yang bisa menengahi antara tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan mengenai stabilitas dan kemajuan dan memenuhi prinsip perkembangan.” Islam memberikan satu ideologi yang memuaskan tuntutan-tuntutan stabilitas dan perkembangan/perubahan sekaligus.
Kenyataan membuktikan bahwa memang hidup itu tidak semata-mata stabil dalam arti tidak berkembang, tidak pula berkembang dan berubah secara keseluruhan. Sebab soal-soal pokok kehidupan itu tetap, akan tetapi cara-cara penyelesaian dan tehnik penanganannya berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menjamin kedua hal itu berjalan secara teratur. Al-Qur’an dan Sunnah mengandung petunjuk-petunjuk abadi dari Tuhan Rabul’alamin, Tuhan yang tidak dibatasi oleh zaman dan tempat memberi petunjuk-petunjuk yang bertalian dengan kepentingan perorangan maupun yang bertalian dengan masyarakat, sesuai sepenuhnya dengan alam yang diciptakan Allah s.w.t. Dengan demikian maka petunjuk-petunjuk itu bersifat azali dan abadi (kekal). Akan tetapi Tuhan hanya merumuskan dasar-dasar dan pokok-pokoknya, sedangkan manusia diberi kebebasan untuk melaksanakannya sesuai dengan perkembangan zaman yang berbeda-beda, jiwa dan kondisinya. Untuk itu manusia melakukan ijtihad yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ahli setiap zaman, untuk menerapkan petunjuk-petunjuk Tuhan dalam menghadapi segala bentuk kehidupan pada zamannya.
Jadi dasar dan pokok ajaran itu tetap tidak berubah, hanya cara-cara pelaksanaannya mungkin berubah, sesuai dengan kebutuhan hidup pada setiap zaman. Itulah rahasianya, mengapa Islam itu tetap segar dan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang mana dan kapanpun.
Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan.
Dan akhirnya, masih ada satu rahasia penting, ialah bahwa ajaran-ajaran Islam dalam Al-Qur’an tetap atas dasar dan nash-nya yang semula sebagaimana yang diturunkan Allah, Tuhan semesta alam.
Manusia tetap memperoleh petunjuk-petunjuk di dalamnya, sebagai yang dikehendaki Allah, tanpa perubahan atau pergantian sedikitpun. Al-Qur’an tetap sebagaimana yang diturunkan Allah dan tetap berada di tengah-tengah kita, hampir 14 abad lamanya. Kalimat Allah tetap kalimat Allah, dalam bentuknya yang semula. Dan keterangan terperinci tentang kehidupan Nabi Islam dan ajaran-ajarannya telah dikenal berabad-abad dalam bentuknya yang orisinal. Hal itu diakui oleh para kritikus non Muslim. Profesor Reynold A. Nicholson dalam bukunya “Literary History of the Arabs” menyatakan:
“Al-Qur’an adalah suatu dokumen kemanusiaan yang luar biasa, menerangkan setiap phase hubungan Muhammad dengan segala kejadian yang dihadapinya selama hidupnya, sehingga kita mendapat bahan yang unik dan tahan uji keasliannya, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan Islam sejak permulaannya sampai sekarang. Semua itu tidak ada bandingannya dalam agama-agama Buddha atau Kristen, maupun dalam agama-agama lainnya.” (hal. 413).
Semua itu hanyalah sebahagian saja dari tanda-tanda yang dengan jelas dan kuat menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna bagi kemanusiaan, dahulu, sekarang dan di kemudian hari. Segi-segi itulah yang telah menarik beratus-ratus juta ummat manusia ke dalamnya. Mereka semua yakin bahwa Islam adalah agama yang hak dan benar, jalan hidup yang lurus yang seharusnya dilalui oleh manusia. Hal itu akan tetap menarik mereka di waktu-waktu yang akan datang. Manusia dengan jiwanya yang bersih dan ikhlas mencari kebenaran, akan selalu mengucapkan:
AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH YANG SATU DAN TIDAK ADA YANG MENYEKUTUINYA DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH HAMBANYA DAN UTUSAN-NYA

HUJAN ADALAH KARUNIA ALLAH

ujan adalah karunia Allah kepada hamba-Nya, sesuatu yang semestinya lebih disyukuri adalah Allah menurunkan hujan dengan rasa yang tawar. Dapat dibayangkan sulitnya bila hujan itu turun dengan rasa yang asin, apalagi yang dapat kita minum dengan segar dan nikmat.

”Maka, terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS Al-Waqiah [56]: 68-70) Adapun bila bersama hujan itu ada masalah lainnya, itu tentu terkait dengan kerusakan yang dibuat sendiri oleh manusia. Sebab, ketika pembangunan tidak mengindahkan aspek keharmonisan dengan alam, yang terjadi adalah kerusakan.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS Ar-Rum [30]: 41)”

Bagaimanapun, hujan tetaplah sebuah karunia dari Allah Sang Pemelihara alam semesta. Turunnya hujan harus tetap disyukuri sebagai karunia, tinggal kita yang senang membuat kerusakan di alam ini semestinya bertobat, lalu bergegas memperbaiki perbuatan kita

Misteri Sholat Subuh

Nabi pernah bersabda :
” Sesungguhnya sholat yg berat bagi orang munafiq adalah sholat shubuh dan sholat isya, sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.”

ANTARA MARAH DAN MARAH

Tidaklah seseorang dikatakan pemberani dan kuat karena cepat meluapkan amarahnya, tetapi seseorang dikatakan pemberani dan kuat kalau mampu menguasai diri dan nafsunya ketika marah.”(Hadis)Marah tidak hanya ada pada manusia, tapi juga ada pada makhluk lain, ada pada alam. Marah pada diri manusia harus dibedakan antara marah wajar dan marah emosional.
Ketika sseorang marah, misalnya karena agamanya dihina, maka marahnya itu adalah marah yang wajar. Sebaliknya ketika seseorang marah, misalnya melemparkan gulai ke wajah istrinya hanya karena rasa gulai itu tak sesuai dengan seleranya, itu tergolong marah emosional.Dalam kehidupan sehari-hari, marah yang paling banyak ditemukan ialah marah emosional. Contohnya sangat bervariasi, Istri marah ketika uang yang dibawa suaminya tidak sebanyak yang diinginkannya. Remaja marah ketika ibunya tak memberinya uang untuk pesta di diskotik bersama teman-teman sebayanya. Penguasa marah ketika diingatkan akan kezalimannya. Ulama marah ketika hasil ijtihadnya dikritik. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa marah emosional berasal dari setan. Makanya marah emosional dinilai sebagai akhlak yang tercela. Sedangkan marah yang wajar bukanlah merupakan akhlak tercela. Sebab yang menciptakan perasaan marah pada hakikatnya adalah Allah Ta’ala. Tujuannya untuk menguji iman hamba-hambaNya. Maka marah yang wajar merupakan sesuatu yang normal. Jangankan manusia biasa, manusia yang telah diangkat Allah menjadi NabiNya pun juga bisa marah.Nabi Muhammad SAW juga pernah. marah. Seorang lelaki, Abu Mas’ud al-Anshari, pada suatu hari mengadukan keberatannya kepada Rasulullah tentang imam shalat di lingkungannya memanjangkan shalat misalnya rukuk dan sujud terlalu lama, atau ayat Al Quran yang dibaca seusai Fatihah panjang sekali). Mendengar pengaduan itu, Nabi marah, sampai lelaki itu berkata: “Aku belum pernah melihat Nabi marah melebihi marahnya ketika beliau memberi nasihat pada hari itu kepada orang banyak dengan sabdanya; Wahai umatku sekalian! Sesungguhnya ada di antara kalian yang menyebabkan orang jauh dari agama. Maka siapa di antara kalian menjadi imam (shalat), hendaklah mempercepat shalatnya karena di belakangnya terdapat orang-orang tua, orang-orang yang lemah dan orang-orang yang mempunyai keperluan lain.” (HR Bukhari dari Abu Mas’ud al-Anshari).Emosi marah yang negatif, yang ditunggangi setan, dapat menimbulkan masalah besar. Di antaranya pembunuhan, perkelahian mengerikan bahkan peperangan besar. Terhadap emosi marah yang negatif ini, Allah memberikan tuntunan: “Dan bersegeralah menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang mengendalikan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (OS Ali Imran [3]: 134)Firman Allah ini memang mudah dibacakan dan diclengarkan, belum tentu mudah diamalkan. Banyak orang pintar menasihati orang lain agar mengendalikan emosi marah, tetapi tak mampu melakukannya sendiri ketika emosi marahnya meledak-ledak.Begitu pentingnya mengendalikan emosi marah yang negatif ini, sehingga ketika seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah aku nasihat,” Rasulullah bersabda, “Janganlah marah. Janganlah marah.”Kiat Meredam MarahLanjutan hadis Nabi yang menyatakan marah emosional berasal dari setan, juga disebutkan bahwa salah satu cara untuk meredam marah emosional yang tengah menggelora adalah segera berwuduk. Mengapa harus berwuduk? Bagaimana berwuduk dianggap bisa mengatasi marah?Filosofinya adalah berwuduk berarti meng’gunakan air. Setan itu asal-muasalnya diciptakan dari api. Air sangat kontras dengan api. Air dapat memadamkan api. Maka dengan berwuduk hampir dapat dipastikan emosi marah akan berkurang atau bahkan tak mustahil lenyap sama sekali, Orang-orang yang kuat imannya dapat melakukan hal itu.Tetapi setan dalam hal ini licik dan jahat sekali. Ketika orang sedang dibakar emosi marah, setan membuatnya lupa berwuduk. Itulah sebabnya seringkali orang tak ingat lagi berwuduk ketika marah. Yang membebani dadanya ketika marah itu ialan melampiaskan emosi sepuas-puasnya. Dan setan akan terus berupaya maksimal membakar emosi itu agar berlanjut pada perbuatan atau tindakan yang dibenci Allah, tidak hanya sebatas kata-kata seperti mencaci-maki, tapi juga memukul, menendang dan seterusnya. Setan akan puas kalau manusia berhasil didforongnya untuk melampiaskan emosi marahnya secara negatif. Apalagi kalau akibatnya sangat buruk dan mengerikan, Misalnya pertumpahan darah, Itulah memang salah satu misi setan. Dan bagi pelaku ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan ketika berhasil melampiaskan emosi marahnya itu.Kekuasaan, pangkat, jabatan, kekayaan, kekuatan dan kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki seseorang terkadang dapat mendorong dirinya mudah marah, terutama terhadap orang-orang lemah dan kecil, khususnya yang berada di bawah kekuasaannya. Maka di sebuah rumah atau instansi atau perusahaan, yang biasanya marah adalah tuan/nyonya rumah terhadap pembantu, atasan terhadap bawahan, majikan terhadap karyawan.Apa artinya?Pada umumnya orang-orang pemarah itu hanya berani marah terhadap orang kecil dan lemah, termasuk orang miskin atau pembantu rumah tangganya. Terhadap orang kuat dan besar, mereka biasanya tak berani marah, termasuk terhadap orang kaya. Orang-orang kecil dan lemah hanya mungkin marah kalau sudah bersatu menjadi massa. Mereka bisa berdemo, atau mogok.Dalam hal ini, Rasulullah SAW menegaskan makna hakiki keberanian dan kekuatan pada diri manusia. “Tidaklah seseorang dikatakan pemberani dan kuat karena cepat meluapkan amarahnya, tetapi seseorang dikatakan pemberani dan kuat kalau mampu mengendalikan diri dan nafsunya ketika sedang marah.”Emosi marah hanya ada di dunia. Itu sebabnya, bagi orang-orang kecil yang sering dimarahi, ada semacam hiburan, bahwa di akhirat nanti, siapa yang memarahi orang yang sebenarnya tak bersalah akan diadili Allah seadil-adilnya. Dan salah satu beda hidup di dunia dengan di surga ialah bahwa di surga, emosi marah tak ada lagi. Di surga tak akan ada lagi yang memarahi dan dimarahi. Juga takkan ada lagi majikan dan pembantu, tak ada lagi atasan dan bawahan. Kedudukan manusia sama semua. Bahkan Allah pun tak pernah lagi murka kepada semua penghuni surga

ILMU YANG BERMANFAAT

Di zaman ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang demikian pesat dan mengagumkan. Terutama dalam bidang telekomunikasi dan komputer yang setiap saat dalam hitungan hari selalu ada inovasi-inovasi baru, memudahkan dan memanjakan manusia dalam menikmati dan menjalani kehidupan sehari-hari. Saat ini kita bisa menonton kejadian di belahan dunia lain hanya dengan menekan tombol Handphone yang sudah memiliki feature 3G , dimana bisa digunakan untuk memutar siaran televisi ataupun video call. Juga iPhone yang sebentar lagi akan memberikan service browsing website dengan browser khusus yang lebih canggih, dan ‘kabarnya’ menyiapkan situs-situs porno. Banyaknya fasilitas ini disamping bisa memberikan manfaat buat manusia, juga ada sisi lain yang bisa menjerumuskan manusia ke perilaku negatif. Contohnya, berapa banyak perilaku seksual baik di kalangan awam, pelajar, pejabat yang direkam dalam camera video dalam perangkat handphone dan disebarkan ke khalayak ramai. Penyebarannya menggunakan teknologi internet sehingga dengan cepat merambah ke seluruh dunia dan dapat diacces oleh siapapun dan di manapun.

Banyak pendapat mengenai ilmu pengetahuan, bahwasanya ilmu itu bebas nilai. Apakah benar demikian ? Kalo kita menilik tujuan sebenarnya ilmu adalah untuk memudahkan manusia menjalani kehidupan di dunia, namun di sisi lain manusia adalah makhluk Tuhan yang diberikan wewenang sebagai khalifah / wakil di muka bumi. Tentu saja wewenang yang diberikan Tuhan di muka bumi adalah untuk kemaslahatan dan kebaikan seluruh makhluk. Jika ilmu dipergunakan untuk merusak ( fisik dan jiwa ) manusia maupun alam semesta, maka bagaimana pertanggungjawaban ilmu terhadap amanat dari Tuhan ? Masih bisakan dikatakan ilmu itu bebas nilai ? Mungkin bisa, tapi setelah itu mesti ada perangkat yang menjamin bahwa ilmu itu harus diarahkan menuju perbaikan manusia dan alam semesta. Jika tidak, itulah ilmu yang tidak membawa manfaat. Padahal dalam islam, ilmu yang bermanfaat itu akan bernilai abadi selain anak yang sholeh dan amal /sedekah yang masih dirasakan manfaatnya bagi generasi sesudahnya sampai akhir zaman.

Jika demikian, ilmu memang harus disandingkan dengan nilai-nilai kehidupan yang baik. Yang membimbing manusia untuk senantiasa meraih kehidupan yang diberkahi Tuhan ( dalam bahasa Islam, mendapat ridha dari Allah Swt dan membawa kepada ketaatan kepada-Nya). Jika tidak, kita sebenarnya telah mendhalimi diri sendiri.

Semoga kita bisa menjadi orang yang berilmu karena Tuhan menjanjikan derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya. Tentu saja ilmu yang bermanfaat. Wallahualam bishawab.

PENANGKAL PANAH PANAH SYAITAN

Apa yang akan dilakukan ketika kita akan pergi ke medan perang? Tentu, kita akan mempersiapkan diri sebaik mungkin, termasuk mempersiapkan fisik, mental, persenjataan, penguasaan medan, plus strategi jitu untuk memenangkan peperangan. Sangat konyol maju ke medan perang tanpa memiliki persiapan apa pun. Sesungguhnya, hidup dapat dianalogikan sebagai medan perang. Prinsip yang berlaku di sini adalah menang atau kalah, menjadi pemenang atau pecundang. Hadiah yang disediakan pun sangat fantastis. Surga yang abadi bagi pemenang, dan neraka yang kekal bagi pecundang. Namun berperang dengan siapa?

Tentu saja berperang dengan setan. Dialah musuh terbesar dan paling nyata bagi manusia. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah [2]: 208). Berperang melawan setan, tentunya tidak sama dengan berperang melawan manusia.

Setan itu lebih canggih tipu dayanya, lebih profesional pekerjaannya, lebih banyak jumlahnya, serta tidak tampak wujudnya. Tanpa kesungguhan untuk menghadapinya, kita akan menjadi bulan-bulanan mereka. Bagaimana tidak, di mana pun dan kapan pun, setan bebas menembakkan panah-panah beracun kepada kita, tanpa kita menyadarinya. Setan akan membidikkan panah asmara ke dalam hati dua orang yang bukan muhrim untuk berzina. Setan akan membidikkan panah ke mata manusia, sehingga ia merasa nikmah melihat hal-hal yang diharamkan. Membidikkan panah ke lidah manusia, sehingga ia bergibah, memfitnah, namimah, serta berdusta. Dsb.

Bagaimana memenangkan perang dengan musuh seperti ini? Perlindungan dari Allah menjadi kata kunci. Dalam QS Al A’raaf [7] ayat 200, Allah SWT memberikan jaminan, Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Salah cara mendapatkan perlindungan Allah adalah dengan zikir, atau senantiasa mengingat dan bergantung kepada Allah Dzat Yang Mahakuasa.

Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, Aku perintahkan kepada kalian agar selalu berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan orang yang berzikir itu seperti seorang yang dicari-cari oleh musuhnya. Mereka menyebar mencari orang tersebut sehingga ia sampai pada suatu benteng yang sangat kokoh dan ia dapat melindungi dirinya di dalam benteng tersebut dari kejaran musuh. Begitu juga setan. Seorang hamba tidak akan dapat melindungi dirinya dari setan, kecuali dengan berzikir kepada Allah.

Zikir dapat kita ibaratkan sebagai tameng, pakaian perang atau baju anti peluru yang akan melindungi seluruh tubuh serta jiwa kita dari panah-panah beracun yang dibidikkan setan. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mencontohkan ibadah-ibadah wajib serta sunnat kepada kita. Mulai dari shalat lima waktu yang dilengkapi shalat rawwatib, tahajud, dhuha, dsb, sampai shaum Ramadhan yang dilengkapi dengan shaum-shaum sunnat lainnya.

Beliau pun memberi panduan berupa aneka zikir serta doa yang layak kita ucapkan dalam berbagai kesempatan. Setiap aktivitas ada doanya, minimal dengan membaca basmallah, serta mengakhirinya dengan hamdallah. Jika semua panduan ini diamalkan dengan ikhlas serta penuh kesungguhan, niscaya hari-hari kita akan menjadi hari-hari penuh kemenangan. Betapa tidak, seluruh anggota badan akan terlindung dari maksiat. Efeknya, hati akan tenang, pikiran akan jernih, doa ijabah, masalah menjadi mudah, energi kita pun akan optimal, karena hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif serta bernilai tambah. Maka, awalilah hari dengan zikir, isi hari dengan zikir, dan akhiri hari dengan zikir. Namun jangan salah, zikir tidak hanya di masjid. Zikir bisa hadir di kantor, di pasar, di terminal, dan di mana pun kita berada. Semoga kita bisa melakukannya dengan ikhlas.

SYUKUR PENGUNDANG NIKMAT

Adalah kenyataan yang kita saksikan sehari-hari ternyata kebahagiaan yang dirindukan bukanlah hal yang mudah didapat. Kita sering mendapatkan orang-orang pusing dan nelangsa karena tidak punya uang, namun bersamaan dengan itu kita sering melihat orang yang menderita stress dan was-was melekat pada orang-orang yang justru kelebihan uang. Dan adapula yang merasa sempit dan sengsara karena dia adalah orang yang banyak hutang. Begitupun berkaitan dengan rupa, harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas, gelas dan aksesoris duniawi lainnya ternyata sama sekali tidak menjamin akan ketentraman, kenikmatan dan kebahagiaan, apakah sebabnya ?
Andaikata diambil perumpamaan, bayangkan jika ada sebuah lemari kaca penuh dengan makanan lezat tapi terkunci rapat, manakah yang lebih dahulu dipikirkan? Isi lemari atau kunci lemari?
Siapapun yang normal cara berpikirnya akan berupaya mencari kuncinya lebih dahulu, karena mati-matian ingin menikmati isi lemari, tapi kalau tidak punya kuncinya sama dengan menyiksa diri membuat penderitaan tiada akhir didera keinginan yang tidak akan tercapai.
Ketahuilah bahwa kenyataan hidup pun tidak jauh berbeda dengan perumpamaan diatas. Sehebat apapun keinginan menikmati hidup bila tidak mengetahui kuncinya maka kebahagiaan hanya akan ada dalam angan-angan saja, kalaupun merasa mendapat kebahagiaan sesungguhnya hanyalah semu belaka atau bagai mengejar bayang-bayang tidak akan pernah terkejar.
Sayang, sebagian besar orang lebih sibuk memikirkan isi lemari daripada sibuk mengetahui dan menguasai kuncinya. Itulah sebabnya hidup ini menjadi sulit untuk bahagia , selalu menjadi perpindahan dari was-was, takut, cemas, gelisah, bingung, tegang, pening dan sebagainya.
Kunci pembuka lemari nikamt itu bernama syukur , artinya siapapun yang tidak tahu cara mensyukuri nikmat dengan benar, maka tipislah harapan dapat menikmati hidup ini dengan benar pula.
Memiliki kemampuan bersyukur berarti pula akan dapat mengikat nikmat yang ada dan mengundang nikmat yang lebih besar yang belum ada sesuai dengan janji Allah,
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan sesungguhnya jika kami bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim[14]:7)
Dengan demikian maka wajib bagi siapapun yang merindukan hidup bahagia ternikmati dengan baik dan benar harus mengenal kunci bersyukur.
Berikut ini adalah kunci rahasia syukur pengundang nikmat :
1. Tidak merasa memiliki kecuali meyakini segalanya milik Allah
Keyakinan bahwa segalanya hanyalah milik Allah atau tidak merasa dimiliki dan memiliki kecuali hanyalah milik Allah, adalah kunci yang sangat luar biasa dampaknya bagi kenyamanan dan kebahagiaan hidup. Bagi orang yang telah memasuki keyakinan ini, adanya kekayaan duniawi sebanyak apapun tidak membuatnya sombong dan takabur, tiadanya duniawi tidak akan membuat minder dan nelangsa, ikhtiarnya tidak mungkin tidak jujur, karena yakin bahwa jujur rizki dari Allah, dan tidak jujur pun tetap rizki dari Allah. Pendek kata kalaupun akan diumpamakan petugas parkir, walaupun segala kendaraan mewah ada di halaman parkirnya sama sekali tidak akan membuatnya sombong, begitupun ketika seluruh kendaraan diambil sampai habis tidak membuatnya kecewa dan merana. Mengapa demikian ? karena petugas tersebut sangat sadar bahwa segala yang ada hanya titipan saja, sama sekali bukan miliknya, nah begitupun diri kit asemua. Terjadinya hari sombong, sibuk pamer atau nelangsa karena kehilangan atau ketidakjujuran ketika ikhtiar semuanya berasa dari merasa memiliki. Padahal seharusnya mereka merasa tertitipi belaka. Segala-galanya hanyalah milik Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah,
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi, dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kami menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan perbuatanmu itu” (QS.Al-Baqarah[2]:284)
2. Selalu Memuji Allah dalam Segala Kondisi
Selalu berucap alhamdulillah, memuji ALlah dalam segala kondisi senang maupun susah karena nikmat yang harus disyukuri lebih banyak daripada musibah. Alkisah ada seseorang yang sangat kaya raya sedang mengamat-ngamati tanah yang telah dimilikinya yang terbentang sangat luas. Tetapi setiap melihat sebidang tanah kecil yang ada diantara tanah miliknya, mulailah hatinya merasa tidak nyaman dan semakin lama semakin mendidih karena begitu kesal dan geram disebabkan tanah petak kecil tersebut tidak mau dijual kepadanya. Memang sebetulnya tidak berpengaruh apapun terhadap kekayaannya, tetapi rasanya sungguh tidak puas andaikata masih ada pemilik lain disekitar tanahnya, sudah hampir dua tahun dirinya memendam dongkol dan pikirannya dibuat pusing oleh tanah mungil yang tidak mau dijual kepadanya itu, sehingga hampir tidak ada waktu untuk menikmati tanah yang begitu luas miliknya sendiri.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar lirih penuh kesyahduan bergetar penuh kekhusuan menyebut “Alhamdulillah yaa Allah, Alhamdulillah…..Alhamdulillah…” dan suara itu benar-benar menggugahnya menembus relung-relung kalbu yang selama ini selalu gersang resah gelisah, bagai air bening nan sejuk yang dirasakan bagi yang sangat dahaga kehausan. Semakin bersungguh-sungguh didengar, maka semakin bergetarlah hatinya turut menikmati orang yang tengah syahdu memuji Tuhannya, sehingga tanpa terasa berlinanglah air matanya, sungguh tetesan yang sangat langka, aie mata yang sudah lama sekali tidak menetes bahkan mungkin terasa sudah lupa bagai tidak memiliki air mata seperti ini.
Setelah berupaya mencari sumber suara tersebut, dan akhirnya ditemukannya sebuah rumah sederhana, berlantai tanah, beratap daun-daun kurma dan berdinding bilik. Dari jendela tua yang terbuka tampaklah seseorang tengah duduk bersimbuh diatas tikar menghadap kiblat. Nampak air mata becucuran sampai membasahi janggutnya.
“Assalamu’alaikum”, sapaan yang selera dijawabnya dengan penuh getaran keikhlasan dan tampak bertambah dijiwai pujaan kepada Allah ‘Alhamdulillah”. Dan sang tamu pun menyapa “Pak saya ini tamu, lihatlah saya”. Ketika tuan rumah itu menoleh serta merta bertambah deraslah cucuran air matanya sambil mengusap matanya dan tidak terputus lisannya bertahmid “Alhamdulilla yaa Allah…..”
Dengan penuh rasa heran dan haru, sang tamu agak memaksa untuk mendapatkan jawaban, “Katakan Pak, apa yang menyebabkan bapak begitu larut dan tampak nikmat memuji Allah seperti itu ? Saya pun yang mendengar dan memperhatikannya ikut hanyut merasakan nikmat bergetarnya kalbu ini “.
Lalu beliau menjawab betapa dirinya merasa dicelupkan dalam samudra nikmat yang tiada bertepi, yang seakan-akan tiada satupun yang tidak dapat disyukurinya.Syukur ditakdirkan jadi manusia normal tidak jadi hewan. Syukur ditakdirkan menjadi muslim tidak menjadi kafirin. Syukur diberi nikmatnya iman dan bisa beramal tidak menjadi munafikin atau fasikin. Syukur otak bisa berfikir normal sehingga dapat mencari dan menemukan keagungan dan kebesaran Allah yang dapat menuntunnya menemukan kebenaran dan arti hidup ini.
Syukur bahwa Allah tidak pernah lupa memberi makan dan minum setiap hari sehingga tubih bisa kuat untuk beribadah. Syukur Allah memberi tempat berteduh sehingga dapat beristirahat dengan layak. Syukur karena Allah selalu memberi sesuatu untuk menutup aurat, bahkan ketika mendengar suara tuan mengucapkan salam saya merasa harus semakin bersyukur karena masih memiliki telinga yang masih bisa mendengar dan teringatlah betapa dengan telinga ini dapat mendengar suara anaknya, dapat berbincang-bincang dan dapat mendengar ilmu dan yang terpenting dapat mendengar nasihat-nasihat, ayat-ayat Allah dan seruan kepada kebaikan.
Dan ketika menoleh melihat tuan, saya teringat akan karunia mata yang masih sehat yang harus disyukuri dan terkenanglah dengan mata ini saya menatap wajah orang tua, istri, anak, guru, sahabat dan yang utama sekali bisa membaca menuntut ilmu dan bisa membaca Al-Qur’an surat dari Allah tercinta. Syukur masih memiliki hati yang bisa merasakan kasih sayang dan nikmatnya iman. Setelah mendengar ungkapan tersebut sang orang kaya tercengang dalam dan lama sekali seakan telah menemukan sesuatu yang hilang.
Sesuai berpamitan dan melangkah menuju rumahnya, pikirannya tidak bisa lepas sedikitpun dari pengalaman yang dialaminya tersebut. Bahkan ketika sampai dirumahpun seluruh waktunya terkuras untuk mengenang peristiwa yang dilihatnya. Terpikir olehnya betapa beruntungnya orang sederhana tadi, walaupun memiliki harta hanya ala kadarnya tetapi begitu bahagia menikmati dan mensyukuri nikmat yang ada, sungguh berlainan dengan keadaan dirinya, walaupun hartanya berlimpah ruah tetapi begitu sulit hatinya untuk menikmati syukur, begitu langka menikmati ketentraman, ketenangan, dan kesejukan kalbu, selalu galau memikirkan yang tidak ada, selalu saja merasa ada yang kurang bagai minum air laut, semakin diminum semakin bertambah haus.
Akhirnya dia merasa telah mendapat pelajaran mahal yang tidak ternilai harganya dan memutuskan untuk berterima kasih kepada Pak Tua tersebut dengan memberinya sebuah rumah yang lengkap dengan segala fasilitas yang ada bahkan termasuk untuk kebutuhan sehari-haripun telah dijamin sepenuhnya. Namun jawaban dari sang miskin sungguh diluar dugaannya, “Hai manusia malang, dengan nikmat seperti ini saja saya sudah sangat repot untuk mensyukurinya, apalagi jika mendapatkan yang lebih banyak…..!!”. Maka semakin lunglailah sang saudagar merasakan kemiskinan, kerendahan dan kehinaan pribadinya.
Andaikata kita berani jujur kepada diri sendiri, betapa sering kitapun berprilaku mirip dengan kaya tersebut, selalu saja diperbudak oleh keinginan yang tidak ada habisnya, tidak pernah puas oleh apa yang telah ada, selalu membandingkan dengan yang lebih tinggi. lebih bagus, lebih kaya, akibatnya semua nikmat yang ada jadi terasa sangat kurang, sangat sedikit. Akibatnya apa yang telah dimili ki jangankan bisa dinikmati malah menjadi biang kesengsaraan, bukan karena tiada memiliki sesuatu, melainkan karena tiada memiliki rasa syukur.
Pendek kata siapapun yang lebih sibuk melihat dengan proporsional nikmat yang lebih banyak harus disyukuri dan dibandingkan dengan musibah yang pasti kecil dan lebih sedikit dibanding nikmat yang ada, niscaya kesulitan apapun yang dihadapi akan terasa jauh lebih ringan atau bahkan menjadi bagian yang dinikmati pula. Maka untuk urusan duniawi tengoklah selalu kebawah, niscaya kita akan merasa sudah mendapat banyak dan melimpah. Dan tidak perlu kita ingin selalu tampak lebih daripada keadaan sebenarnya, semua ini akan menyiksa hidup kita, hiduplah dengan menerima apa adanya, sambil secara bertahap kita berupaya mengingkatkan taraf hidup kita.
Oleh karena itu orang yang ingin dapat menikmati hidup ini dengan baik dan juga dijamin akan dicukupi nikmat lainnya oleh Allah. Hendaknya menyadari bahwa nikmat yang sesungguhnya bukan dari ada dan tiada, melainkan dari sikap terhadap ada dan tiada. Syukurilah apapun yang diberikan Allah tanpa harus kecewa dan keluh kesah, dan ikhtiarlah lebih sungguh-sungguh lagi dengan hati yang lapang, niscaya Allah tidak akan pernah mengecewakan hambanya yang ahli bersyukur.
Dan ingat baik-baik, bagus, cocok untuk orang lain belum tentu maslahat untuk setiap orang, yakinlah ada takdirnya masing-masing. Sesungguhnya kita sangat sering berlaku tidak adil kepada diri kita sendiri juga terhadap nikmat yang diberikan Allah, yaitu diantaranya dengan salah memandang nikmat dan musibah, akibatnya begitu banyak kejadian yang membahagiakan justru kita sikapi secara salah sehingga menjadi sesuatu yang menyedihkan.
3. Nikmat Adalah Kendaraan Menuju Allah
kita sepakat bahwa seseorang yang dengan kearifannya berusaha untuk memahami manfaat yang hakiki dari setiap pemberian Allah, dan kegembiraannya sudah bukan terletak pada pesona indah atau bagusnya dunia, tetapi dari manfaat dunia ini menjadi kendaraannya yang dapat membuatnya semakin dekat kepada Allah, maka inilah hakikat syukur yang paling tepat yaitu orang yang memili kesadaran bahwa semua titipan Allah harus menjadi kendaraan untuk membuatnya semakin dekat dan akrab dengan Allah.
4. Tahu Balas Budi dan Berterima Kasih
Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepada kalian, maka hendaklah kalian membalasnya, jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah buatnya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Sebab Allah yang Maha tahu berterima dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur (HR. Thabrani)
kita sekarang dapat membaca Al-Qur’an, lezat berfikir dan bermunajat, nikmat shalat maupun tahajud, ringan sedekah dan mensucikan harta dan mengenal dengan jelas makna hidup yang harus dijalani sehingga tidak menjadi mahluk dungu yang tidak mengerti hidup dan yang paling tidak ternilai adalah hidup ini menjadi mantap dan tentram karena telah mengenal serta memiliki keyakinan kepada Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Pernahkah kita dengan sengaja dan sungguh-sungguh mengenang lewat siapa saja semua itu sampai kepada diri kita?
Atau setidaknya pernahkah kita berdoa memohon dengan sungguh-sungguh dan tulus agar Allah membalas segala kebaikannya, menyelamatkan keluarga dan keturunannya dunia maupun akhirat. Andaikata tidak atau belum, maka kita semakin mengetahui jenis apa sesungguhnya kita ini, mungkin itulah sebabnya kita sering merasa susah mendapat dan memahami ilmu atau kalaupun telah memiliki ilmu tidak mudah mengamalkannya.
Menceritakan nikmat agar orang lain ingat dan berharap banyak kepada Allah adalah suatu kebaikan tapi waspadai bahaya riya. Banyaklah beristighfar atas segala nikmat yang ada jangan sampai membuat ujub, takabur dan riya.
Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla, Dzat Maha Pembolak-balik hati hamba-hamba-Nya mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk bersungguh-sungguh berjuang untuk menjadi seorang hamba ahli syukur terhadap nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada-Nya.