Selasa, 25 Maret 2008

Kesulitan Penebus Dosa

Kesulitan itu bisa beragam bentuk dan macamnya. Ada kalanya berupa kematian, sakit, kemiskinan, kegagalan, kekecewaan, dan sebagainya. Semuanya itu berfungsi sebagai penebus dosa untuk mukminin. Tentunya untuk mendapatkan penebusan dosa itu harus menyertakan kesabaran dalam menghadapinya. Penyerahan diri yang tulus kepada Allah dan ridha dalam menerimanya.

Imam Syafi'i mengajarkan nilai-nilai ini dalam untaian bait syairnya, "Biar hari-hari berbuat semuanya. Dan buatlah hari ini rela ketika taqdir ini tiba. Jangan gelisah dengan kelamnya malam. Karena peristiwa dunia ini tidak ada yang abadi."

Tidak ada manusia yang tak berdosa. Sangat banyak kekhilafan yang pernah kita lakukan. Kita sangat butuh ampunan Allah. Dan kita khawatir akan datangnya hari perhitungan amal. Apakah jadinya, kalau kebaikan kita ditimbang dengan kejahatan. Kita masih sangat cemas, jangan-jangan amal kejahatan kita masih lebih berat. Mungkin saja amal kebajikan kita banyak. Tetapi siapakah yang bisa menjamin ada satu di antara sekian banyak yang diterima oleh Allah.

Dengan demikian, kalau kesulitan menindih kita, selain sabar, cobalah menyisipkan rasa syukur. Semoga dengan kesulitan itu, Allah berkenan menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Ada sebagian orang yang harus terbaring di tempat tidur bertahun-tahun lamanya berjuang melawan penyakit. Sebelum akhirnya ia harus mengakhiri hidupnya. Kalau dia seorang mukmin, harga mahal yang telah dia bayar akan membuatnya mudah menghembuskan nafas yang terakhir. Allah telah mencuci dosanya dengan penyakit yang menggerogotinya. Agar kelak menghadap Allah dalam keadaan suci kembali. Karena tidak ada yang selamat, kecuali mereka yang menghadap Allah dengan hati yang suci.

Kesulitan ibarat bara api yang membakar dosa. Untuk membakar dosa yang besar, diperlukan bara api yang besar. Maka, anggaplah wajar kalau kesulitan bertubi-tubi. Tuduhlah diri sendiri dan instrospeksi harus terus dilakukan.

Musibah Sebagai Nasihat

Kesulitan dalam hidup bukanlah harga mati sebuah kesengsaraan. Ia bisa dijalani dengan penuh kenikmatan, jika kita pandai menyikapinya. Bahkan, Allah SWT memberi berita gembira bahwa pada setiap kesulitan itu terdapat dua kemudahan. Inilah sebuah seni dalam hidup yang demikian besar maknanya. Tentu saja, hanya bagi kaum yang berpikir.

Apa yang kita tanam, tak jauh dengan apa yang akan kita tuai. Jika kebaikan yang ditanam, kebaikan pulalah yang kita tuai, cepat atau lambat. Demikian juga sebaliknya, jangan harap mendapat kebaikan jika yang kita tanam adalah kejelekan.

Rangkaian kesulitan hidup dari musibah bencana alam hingga krisis ekonomi, sebenarnya lagu lama buat kita. Peristiwa yang sama hampir terjadi pada setiap tahun berganti. Mestinya, kita sudah pintar dan lihai mengatasi persoalan hidup tersebut, andai saja kita berhasil mengambil pelajaran dari sederet peristiwa sama pada masa lalu.

Tak dipungkiri, dimana ada keinginan untuk berubah, di sana pula akan terbentang kebaikan dan keburukan. Itulah yang dinamakan konsekuensi. Setiap pilihan hidup, pastilah mengandung resiko. Artinya, tiada seorang pun yang bisa menghindar dari konsekuensi tersebut. Akan tetapi, seseorang akan sanggup meminimalisir konsekuensi buruk suatu peristiwa jika ia pandai menyikapinya.

Kesulitan hidup, ada kalanya -bahkan mungkin lebih dominan- dipicu oleh sikap dan perilaku hidup kita sebagai manusia. Musibah banjir, longsor, kebakaran adalah sebagian contoh dimana tangan-tangan manusia turut andil membuatnya terjadi. Inilah sebenarnya apa yang kita tuai dari perilaku kita di masa sebelumnya. Efek yang lambat semacam ini seringkali meninabobokan kita dari rasa peduli terhadap lingkungan atau sekadar sikap wara', berhati-hati.

Maka manakala musibah itu datang, bukan penyesalan atas sikap kita terdahulu yang kemudian lahir, melainkan sikap menyalahkan pihak lain yang dianggapnya mesti bertanggungjawab. Tentu, sikap hidup mencari kambing hitam ini, bukan milik orang-orang yang memiliki iman. Bahkan mereka yang beriman akan instrospeksi, barangkali kelalaiannyalah yang membuat peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Menyadari sikap seperti ini, tentu tidak akan melahirkan keluh kesah, tidak pula membuatnya larut dalam kesedihan. Bagi mereka, inilah saat dimana mereka memperbaiki kualitas hidupnya sehingga tidak saja membuatnya sanggup mengatasi kesulitan hidup, melainkan juga mampu mencegah kembali apa yang mungkin bisa terjadi nanti.

Tetangga Di Surga

Abu Yazid Al-Bustami adalah orang yang dikenal rajin bermunajat pada Allah. Hatinya senang, pikirannya seolah-olah melayang sampai ke Arsy. "Aku berharap kelak menjadi tetangga Rasulullah SAW di surga,” bisik hati kecilnya.

Ketika ia tersadar dari khayalannya, tiba-tiba terdengar suara menyeru, "Ada seorang hamba yang kelak akan menjadi tetanggamu di surga. la tinggal di negeri ini," kata suara itu.

Terdorong hatinya untuk mencari sahabatnya yang kelak menjadi tetangganya di surga itu. Ketika akan menjumpai orang itu, seorang lelaki menasihatinya, "Mengapa engkau mencari orang fasiq dan peminum arak itu. Padahal, dari tanda-tanda di dahimu, kau orang shalih," ujarnya.

Mendengar nasihat itu, Yazid jadi termangu. "Jika demikian, suara yang menyuruhku itu setan. Mengapa aku harus menurutinya?" bisik hatinya.

"Di mana tempat orang itu?" tanya Yazid.

"Dia sekarang sedang mabuk-mabukan di tempat ini," ujar lelaki itu seraya menunjuk ke sebuah tempat.

Abu Yazid menemui orang yang disebutkan itu. Benar. Di tempat itu, ia melihat 40 orang laki-laki sedang mabuk-mabukan. Sementara yang dicarinya tampak duduk di antara mereka. Abu Yazid cepat membalikkan kaki hendak meninggalkan mereka. la merasa kesal dan putus asa. Tetapi seorang memanggilnya.

"Hai Abu Yazid, mengapa engkau tidak masuk rumah ini. Bukankah engkau jauh-jauh datang ke mari karena ingin menemuiku? Bukankah kau mencari tetanggamu di surga?" tanya lelaki itu.

Mendengar ucapan orang itu, hati Abu Yazid jadi masygul. Ia tak habis pikir bagaimana orang itu bisa mengetahui maksud kedatangannya, padahal ia belum menyampaikan isi hatinya.

Dengan sedikit ragu, Abu Yazid menurutinya masuk ke rumah dan duduk di antara mereka yang sedang mabuk-mabukkan. "Hai Abu Yazid, masuk surga jangan cuma ingin enak sendiri. Itu bukan sifat utama seorang lelaki sepertimu. Dulu, ada 80 orang fasiq yang suka mabuk-mabukkan seperti yang engkau lihat saat ini. Kemudian aku berusaha mendekati mereka agar bisa menjadi tetanggaku di surga."

Kemudian Abu Yazid diperkenalkan kepada 40 orang yang sedang mabuk-mabuk itu. Dengan dakwah dan pembinaan khusus, akhirnya 40 orang itu sadar dan bertaubat. Mereka itulah tetangga Abu Yazid di surga.

Satu kesulitan dua Kemudahan

Musibah adalah bagian dari kesulitan hidup. Ia juga bagian dari nuansa kehidupan yang tidak hanya kaya akan kesulitan, melainkan juga kaya dengan kebahagiaan. Kadang-kadang, banyak orang tidak bersyukur dan terlupa dengan kebahagiaan yang diraihnya sebelum datang kesulitan. Mereka terus menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain karena kesulitan yang menghadangnya itu.

Mereka lupa, bahwa pada saat kebahagiaan datang kepada mereka, tak satu hal pun dilakukan untuk mensyukurinya. Jangankan untuk menghisab diri dengan datangnya musibah tersebut, menyadarinya sebagai bagian dari sunnatullah dan ujian dari Allah pun acapkali jarang terjadi. Demikianlah orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang ajeg kepada Tuhannya.

Sementara itu, orang-orang yang beriman, mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT. Mereka yakin dengan janji Allah bahwa pada setiap kesulitan itu diapit oleh kemudahan. (QS. Alam Nasyrah [94] : 6).

Inilah berita gembira bagi orang-orang yang sabar. Karena Allah tak pernah mengingkari janji-janjiNya. Namun, adakalanya orang yang sudah beriman pun akhirnya tergelincir karena kurang sabar. Ketika musibah datang bertubi-tubi, kesabaran pun dianggap sudah habis dan mencapai batasnya. Mereka kemudian mencari jalan pintas untuk bisa keluar dari kesulitan.

Sebuah ikhtiar seharusnya dilakukan dengan cara yang sesuai dengan rambu-rambu sunnatullah. Jika Allah menjanjikan akan datangnya dua kemudahan, memang bukan berarti ia datang tiba-tiba dan lantas menyelesaikan permasalahan. Akan tetapi tetap harus diupayakan, dicari, dan digali. Allah Sendiri yang akan menuntun kita selama kita memohon perlindungan dan tuntunan kepadaNya.

Musibah adalah 'buah' dari kehendak Sang Maha Berkehendak. Maka pasti Dia juga yang tahu jalan keluarnya. Maka, tak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada Allah dikembalikan segala urusan dengan ikhtiar zhahir yang maksimal. Mudah-mudahan musibah yang datang melanda kita sanggup memberi pelajaran dan mendatangkan berjuta hikmah. Dan mengembalikan kita pada kesadaran bahwa Kehendak Allah di atas segalanya.

Nikmatilah kesulitan hidup seperti kita menikmati kebahagiaan hidup. Karena setelah kesulitan akan datang kemudahan dan kebahagiaan. Lalu waspadalah dan berbekallah karena setelah kebahagiaan itu akan berganti pula dengan kesulitan atau problematika baru. Karena demikianlah sunnatullah.

Satu hal yang juga penting, jangan sampai ketawakalan seperti ini pun menjebak kita dalam sebuah doktrin, yang memandang kesulitan hidup yang terjadi sebagai takdir Allah semata, sehingga menghentikan upaya untuk terus memperbaiki kualitas hidup, mematikan kreativitas, dan melupakan ikhtiar. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya." (QS. Ar-Ra'du [13] : 11).

Cara Berdoa

  1. Menghadap Kiblat

    Hal ini berdasarkan sebuah hadis "Rasulullah datang ketempat wuquf di Arafah dan ia menghadap kiblat lalu terus menerus berdo'a sehingga tenggelam matahari"

  2. Membaca Hamdalah atau pujian, Istighfar dan membaca Shalawat

    Salah seorang Sahabat Nabi berkata : "Ketika Nabi Muhammad SAW duduk di mesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai ia membaca doa, 'Allahummaghfirlii warhamnii'. Maka waktu itu Rasulullah pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika kau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu, lalu kau baca shalawat kepadaku kemudian baru berdo'a. Kemudian datang seorang yang lain setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. dan setelah itu Nabi bersabda, Berdo'alah akan dipenuhi."

  3. Dengan suara lembut dan rasa takut

    Sebagaimana Firman Allah SWT yang berbunyi, "Berserulah (Berdo'a) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al A'raf : 55-56).

  4. Yakin akan dipenuhi

    Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadits berikut ini : "Sesungguhnya Alla 'Azza wa Jalla berfirman : Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepada-Ku".

Etika Baca Qur`an

  1. Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempat-nya serta telah bergosok gigi.

  2. Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.

  3. Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”. (An-Nahl: 98).

  4. Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).

  5. Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil meman-jangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim”. (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an”. (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).

  6. Hendaknya membaca sambil merenungkan dan meng-hayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pela-jaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “......Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:

  7. Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).

  8. Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an dan tekun mem-bacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya”. (HR. Al-Bukhari).

  9. Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).

  10. Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam yang melarang hal tersebut.

  11. Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur’an.
    Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Ápabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (HR. Muslim).

Minta ijin

  1. Hendaknya orang yang akan meminta izin memilih waktu yang tepat untuk minta izin.

  2. Hendaknya orang yang akan minta izin mengetuk pintu rumah orang yang akan dikunjunginya secara pelan. Anas Radhiallaahu 'anhu meriwayatkan bahwasanya ia telah berkata: Sesung-guhnya pintu-pintu kediaman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam diketuk (oleh para tamunya) dengan ujung kuku”. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  3. Hendaknya orang yang mengetuk pintu tidak menghadap ke pintu yang diketuk, tetapi sebaiknya menolehkan pandangannya ke kanan atau ke kiri agar pandangan tidak terjatuh kepada sesuatu di dalam rumah tersebut yang dimana penghuni rumah tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Karena minta izin itu sebenarnya dianjurkan untuk menjaga pandangan.

  4. Sebelum minta izin hendaknya memberi salam terlebih dahulu. Rib`iy berkata: Telah bercerita kepada saya seorang lelaki dari Bani `Amir, bahwasanya ia pernah minta izin kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam di saat beliau ada di suatu rumah. Orang itu berkata: Bolehkah saya masuk? Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata kepada pembantunya: “Jumpailah orang itu dan ajari dia cara minta izin, dan katakan kepadanya: Ucapkan Assalamu `alaikum, bolehkah saya masuk?”. (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

  5. Minta izin itu sampai tiga kali, jika sesudah tiga kali tidak ada jawaban maka hendaknya pulang. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu minta izin sudah tiga kali, lalu tidak diberi izin, maka hendaklah ia pulang”. (Muttafaq’alaih).

  6. Apabila orang yang minta izin itu ditanya tentang namanya, maka hendaklah ia menyebutkan nama dan panggilannya, dan jangan mengatakan: “Saya”. Jabir Radhiallaahu 'anhu menuturkan: “Aku pernah datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk menanyakan hutang yang ada pada ayah saya. Maka aku ketuk pintu (rumah Nabi). Lalu Nabi berkata: “Siapa itu?”. Maka aku jawab: Saya. Maka Nabi berkata: “Saya! Saya!” dengan nada tidak suka.” (Muttafaq’alaih).

  7. Hendaknya peminta izin pulang apabila permintaan izinnya ditolak, karena Allah telah berfirman yang artinya:
    “Dan jika dikatakan kepada kamu “pulang”, maka pulanglah kamu, karena yang demikian itu lebih suci bagi kamu”. (An-Nur: 28).

  8. Hendaknya peminta izin tidak memasuki rumah apabila tidak ada orangnya, karena hal tersebut merupakan perbuatan melampaui hak orang lain.

Menghargai orang lain

  1. Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.

  2. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.

  3. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai.

  4. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan mereka.

  5. Bersikap tawadhu’lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka.

  6. Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain.

  7. Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka.

  8. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.

  9. Mema'afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya, dan tahanlah rasa benci terhadap mereka.

  10. Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantah-membantah dengan mereka.

Etik berhias N Berpakaian

  1. Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.
    Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek :”Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  2. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.

  3. Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari).
    Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.

  4. Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu 'anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

  5. Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu 'anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).

  6. Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu 'anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta'ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dariumatku”. (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

  7. Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari).
    Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menu-tup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya.
    Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih).

  8. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu 'anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih).

  9. Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca : “Alhamdulillaahilladzii hadzaattauba wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa qawwatin”

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ

    (Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku.) (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

  10. Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, katrena hadits mengatakan: “Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu...” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).

  11. Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.

  12. Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wa-nita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih).

Etika Tidur dan bangun

1.

Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuha-sabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, menge-valuasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

2.

Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallaahu anha “Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”. (Muttafaq `alaih).

3.

Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara’ bin `Azib Radhiallaahu anhu menuturkan : Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan...” Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.

4.

Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasa-nya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya...” Di dalam satu riwayat dikatakan:”tiga kali”. (Muttafaq `alaih).

5.

Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallaahu anhu menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :”Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

6.

Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

7.

Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir Radhiallaahu anhu diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

8.

Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.

9.

Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, seperti : "Allaahumma qinii 'adubaka wauma tab'atsu 'ibadaka"

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ (رواه أبو داود وصححه الألباني) ،

“Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani).

Dan membaca: "Bismika allaahumma amuutu wa ahyaa"

بِاسْمِكَ اَللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا (رواه البخاري)

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari).

10.

Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a: "A-'uudzu bikalimaatillaahi tammati min ghadhabihi wa syarra 'ibadihi, wa min hamazaatisysyayathiini wa an yahdhuruuni"

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّياَطِيْنِ وَأَنْ يَحْضُرُوْنِ (رواه أبو داود وحسنه الألباني)

Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani).

11.

Hendaknya apabila bangun tidur membaca : "Alhamdulillaahilladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuuru"

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ (رواه البخاري)

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari).

Etik Di Pasar

  1. Hendaknya berdzikir kepada Allah di saat masuk ke pasar, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang masuk ke pasar lalu membaca: "Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumiitu, wa huwa hayya laa yamuutu, biyadihilkhairu wa huwa 'ala kulla syai-in qadiiru"

لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ ، وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

“(Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan, dan kepunyaan-Nyalah segala pujian, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak akan mati; di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Allah mencatat sejuta kebajikan baginya, dan menghapus sejuta dosa darinya, dan Dia tinggikan baginya sejuta derajat dan Dia bangunkan satu istana baginya di dalam surga”. (HR. Ahmad dan At-Turmudzi, di nilai hasan oleh Al-Albani).

  1. Tidak menyaringkan suara dengan berbagai pertengkaran dan perdebatan. Di antara sifat kepribadian Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam adalah Bahwasanya beliau bukanlah seorang yang keras kepala atau keras hati dan bukan pula orang yang suka teriak-teriak di pasar dan juga bukan orang yang membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia mema`afkan dan mengampuni’. (HR. Al-Bukhari).

  2. Menjaga kebersihan pasar. Pasar tidak boleh dicemari dengan kotoran dan sampah, karena hal tersebut dapat melumpuhkan arus jalanan dan menjadi sumber bau busuk yang mengganggu.

  3. Menjaga agar selalu memenuhi akad dan janji serta kesepakatan-kesepakatan di antara dua belah fihak (pembeli dan penjual). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”. (Al-Ma’idah : 1)

  4. Mengukuhkan jual beli dengan persaksian atau catatan (dokumentasi), karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: “Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli”. (Al-Baqarah: 282).

  5. Bersikap ramah dan memberikan kemudahan di dalam proses jual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah akan belas kasih kepada seorang hamba yang ramah apabila menjual, ramah apabila membeli dan ramah apabila memberikan keputusan”. (HR. Al-Bukhari).

  6. Jujur, terbuka dan tidak menyembunyikan cacat barang jualan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, maka tidak halal bagi seorang muslim membeli dari saudaranya suatu pembelian yang ada cacatnya kecuali telah dijelaskannya terlebih dahulu”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  7. Jangan mudah mengobral sumpah di dalam berjual beli. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Hindarilah banyak bersumpah di dalam berjual-beli, karena sumpah itu dapat menghabiskan (barang) kemudian membatalkan (barakahnya)”. (HR. Muslim).

  8. Menghindari penipuan, kecurangan dan pengkaburan serta berlebih-lebihan di dalam menarik keuntungan. Telah diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah menjumpai setumpuk makanan, maka Nabi memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut, maka jari-jemarinya basah. Maka beliau bersabda: “Apa ini, wahai si pemilik makanan?” Pemilik makanan menjawab :Terkena hujan, wahai Rasulullah. Maka Nabi bersabda: “Kenapa bagian yang basah tidak kamu letakkan di paling atas agar dilihat oleh manusia? Barangsiapa yang curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami”. (HR. Muslim).

  9. Menghindari perbuatan curang di dalam menakar atau menimbang barang dan tidak menguranginya. Allah berfirman yang artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”. (Al-Muthaffifin : 1-3).

  10. Menghindari riba, penimbunan barang dan segala per-buatan yang dapat merugikan orang banyak. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Allah mengutuk (melaknat) pemakan riba, pemberinya, saksi dan penulisnya”. (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Al-Albani). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan menimbun barang kecuali orang yang salah “. (HR. Muslim).

  11. Membersihkan pasar dari segala barang yang haram diperjual-belikan.

  12. Menghindari promosi-promosi palsu yang bertujuan menarik perhatian pembeli dan mendorongnya untuk membeli, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang najasy. (Muttafaq’alaih). Najasy adalah semacam promosi palsu.

  13. Hindarilah penjulan barang rampasan (hasil ghashab) dan curian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. (Al-Nisa: 29).

  14. Menundukkan pandangan mata dari wanita dan menghindar dari percampurbauran dan berdesak-desakan dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; (An-Nur: 30-31).

  15. Selalu menjaga syi`ar-syi`ar agama (shalat berjama`ah, dll.), tidak melalaikan shalat berjama`ah karena berjual-beli. Maka sebaik-baik manusia adalah orang yang keduniaannya tidak membuatnya lalai terhadap masalah-masalah akhiratnya atau sebaliknya. Allah berfirman yang artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menu-naikan zakat”. (An-Nur: 37).

Etika di Masjid

  1. Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a : "Allaahummaj'alfii qolbiii nuuraan wa fiilisaanii nuuraan, waj'alfii sam'ii nuuraan wa fii bashara nuuraan, waj'alminkhalfii nuuraan, wa min amaa mii nuuraan, waj'al min fauqii nuuraan, wa min tahtii nuuraan, allaahumma a'thinii nuuraan."

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا وَفِي لِسَانِي نُوْرًا ، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُوْرًا وَفِي بَصَرِي نُوْرًا ، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُوْرًا ، وَمِنْ أَمَامِي نُوْرًا ، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا ، وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا ، اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا (متفق عليه)

“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

  1. Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

  2. Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam lalu mengucapkan: "Allaahummaftahlii abwaaba rohmatika"

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam kemudian membaca do`a: "Allaahumma innii as aluka min fadlika"

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

  1. Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

  2. Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  3. Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

  4. Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  5. Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

  6. Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

  7. Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

  8. Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

  9. Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).
    `Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

Makan dan Minum etikanya

  1. Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

  2. Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.

  3. Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.

  4. Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

  5. Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

  6. Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah Radhiallaahu anhu dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

  7. Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhannahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhannahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Subhannahu wa Ta'ala bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

  8. Hendaknya makan dengan tangan kiri dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

  9. Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

  10. Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

  11. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwa-sanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  12. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  13. Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.

  14. Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.

  15. Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijikkan.

  16. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
    Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).

etika di jalan

  1. erjalan dengan sikap wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
    (Luqman: 18).

  2. Memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
    “Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya....” (An-Nur: 30-31).

  3. Tidak mengganggu, yaitu tidak membuang kotoran, sisa makanan di jalan-jalan manusia, dan tidak buang air besar atau kecil di situ atau di tempat yang dijadikan tempat mereka bernaung.

  4. Menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang karenanya seseorang bisa masuk surga. Dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Ketika ada seseorang sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya...” Di dalam suatu riwayat disebutkan: maka Allah memasukkannya ke surga”. (Muttafaq’alaih).

  5. Menjawab salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal. Ini hukumnya wajib, karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:”Ada lima perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya- diantaranya: menjawab salam”. (Muttafaq alaih).

  6. Beramar ma`ruf dan nahi munkar. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya.

  7. Menunjukkan orang yang tersesat (salah jalan), mem-berikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan menegur orang yang berbuat keliru serta membela orang yang teraniaya. Di dalam hadits disebutkan: “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah...dan disebutkan diantaranya: berbuat adil di antara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya di atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah....” (Muttafaq alaih).

  8. Perempuan hendaknya berjalan di pinggir jalan. Pada suatu ketika Nabi pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka ia bersabda kepada wanita: “Meminggirlah kalian, kalain tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri pinggir jalan. (HR. Abu Daud, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

  9. Tidak ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu tergolong di dalam tolong-menolong di dalam kebajikan.

Buang hajat

  1. Segera membuang hajat. Apabila seseorang merasa akan buang air maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.

  2. Menjauh dari pandangan manusia di saat buang air (hajat). berdasarkan hadits yang bersumber dari al-Mughirah bin Syu`bah Radhiallaahu 'anhu disebutkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila pergi untuk buang air (hajat) maka beliau menjauh”. (Diriwayat-kan oleh empat Imam dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

  3. Menghindari tiga tempat terlarang, yaitu aliran air, jalan-jalan manusia dan tempat berteduh mereka. Sebab ada hadits dari Mu`adz bin Jabal Radhiallaahu 'anhu yang menyatakan demikian.

  4. Tidak mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu 'anhu ia menuturkan: “Biasanya apabila Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Albani).

  5. Tidak membawa sesuatu yang mengandung penyebutan Allah kecuali karena terpaksa. Karena tempat buang air (WC dan yang serupa) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, dan di situ setan berkumpul dan demi untuk memelihara nama Allah dari penghinaan dan tindakan meremehkannya.

  6. Dilarang menghadap atau membelakangi kiblat, berdasar-kan hadits yang bersumber dari Abi Ayyub Al-Anshari Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila kamu telah tiba di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat”. (Muttafaq’alaih).
    Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja. Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya pelindung/penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah kiblat.

  7. Dilarang kencing di air yang tergenang (tidak mengalir), karena hadits yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ”.(Muttafaq’alaih).

  8. Makruh mencuci kotoran dengan tangan kanan, karena hadits yang bersumber dari Abi Qatadah Radhiallaahu 'anhu menyebutkan bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sekali-kali seorang diantara kamu memegang dzakar (kemaluan)nya dengan tangan kanannya di saat ia kencing, dan jangan pula bersuci dari buang air dengan tangan kanannya.” (Muttafaq’alaih).

  9. Dianjurkan kencing dalam keadaan duduk, tetapi boleh jika sambil berdiri. Pada dasarnya buang air kecil itu di lakukan sambil duduk, berdasarkan hadits `Aisyah Radhiallaahu 'anha yang berkata: Siapa yang telah memberitakan kepada kamu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka jangan kamu percaya, sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah kencing kecuali sambil duduk. (HR. An-Nasa`i dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Sekalipun demikian seseorang dibolehkan kencing sambil berdiri dengan syarat badan dan pakaiannya aman dari percikan air kencingnya dan aman dari pandangan orang lain kepadanya. Hal itu karena ada hadits yang bersumber dari Hudzaifah, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam (di suatu perjalanan) dan ketika sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau buang air kecil sambil berdiri, maka akupun menjauh daripadanya. Maka beliau bersabda: “Mende-katlah kemari”. Maka aku mendekati beliau hingga aku berdiri di sisi kedua mata kakinya. Lalu beliau berwudhu dan mengusap kedua khuf-nya.” (Muttafaq alaih).

  10. Makruh berbicara di saat buang hajat kecuali darurat. berdasarkan hadits yang bersumber dari Ibnu Umar Shallallaahu 'alaihi wa sallam diriwayatkan: “Bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki lewat, sedangkan Rasulullah saw. sedang buang air kecil. Lalu orang itu memberi salam (kepada Nabi), namun beliau tidak menjawabnya. (HR. Muslim).

  11. Makruh bersuci (istijmar) dengan mengunakan tulang dan kotoran hewan, dan disunnatkan bersuci dengan jumlah ganjil. Di dalam hadits yang bersumber dari Salman Al-Farisi Radhiallaahu 'anhu disebutkan bahwasanya ia berkata: “Kami dilarang oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam beristinja (bersuci) dengan menggunakan kurang dari tiga biji batu, atau beristinja dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang. (HR. Muslim).
    Dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: “Barangsiapa yang bersuci menggunakan batu (istijmar), maka hendaklah diganjil-kan.”

  12. Disunnatkan masuk ke WC dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan berbarengan dengan dzikirnya masing-masing. Dari Anas bin Malik Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila masuk ke WC mengucapkan : "Allaahumma inni a’udzubika minal khubusi wal khabaaits"

    اَللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ (متفق عبيه) ه

    "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari pada syetan jantan dan setan betina."
    Dan apabila keluar, mendahulukan kaki kanan sambil mengucapkan : "Gufraanaka"

    غُفْرَانَكَ

    "Ampunan-Mu ya Allah".

  13. Mencuci kedua tangan sesudah menunaikan hajat. Di dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah ra. diriwayatkan bahwasanya “Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam menunaikan hajatnya (buang air) kemudian bersuci dari air yang berada pada sebejana kecil, lalu menggosokkan tangannya ke tanah. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

telpon

  1. Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak meng-ganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain.

  2. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.

  3. Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mem-punyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.

  4. Hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab: 32).

  5. Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.

  6. Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.

  7. Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.

  8. Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!

  9. Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.

Berbicara

  1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
    “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”.
    (An-Nisa: 114).

  2. Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat dide-ngar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.

  3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

  4. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:”Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar”.(HR. Muslim)

  5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

  6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah ra. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila membi-carakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).

  7. Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Seorang mu’min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  8. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

  9. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12).

  10. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

  11. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

  12. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.

  13. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan).
    (Al-Hujurat: 11).

Majlis

  1. Hendaknya memberi salam kepada orang-orang yang di dalam majlis di saat masuk dan keluar dari majlis tersebut. Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu telah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).

  2. Hendaknya duduk di tempat yang masih tersisa. Jabir bin Samurah telah menuturkan: Adalah kami, apabila kami datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majlis. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  3. Jangan sampai memindahkan orang lain dari tempat duduknya kemudian mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis. Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (Muttafaq’alaih).

  4. Tidak duduk di tengah-tengah halaqah (lingkaran majlis).

  5. Tidak duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  6. Tidak boleh menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya”. (HR.Muslim)

  7. Tidak berbisik berduaan dengan meninggalkan orang ketiga. Ibnu Mas`ud Radhiallaahu 'anhu menuturkan : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih”. (Muttafaq’alaih).

  8. Para anggota majlis hendaknya tidak banyak tertawa. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:”Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati”. (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

  9. Hendaknya setiap anggota majlis menjaga pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat”. (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

  10. Anggota majlis hendaknya tidak melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap atau membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.

  11. Tidak melakukan perbuatan memata-matai. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang”. (Muttafaq’alaih).

  12. Disunnatkan menutup majlis dengan do`a Kaffarat majlis, karena Rasulullah SAW telah bersabda: “Barang siapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia membaca : "Subhaanakallaahumma wabihamdika, asyhadu ala ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika."

    سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

  13. “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu; aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disem-bah selain engkau; aku memohon ampunanmu dan aku bertobat kepada-Mu”, melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al- Albani).

Bercanda

  1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, yang ahli baca al-Qur`an yang artimya:
    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”.
    (At-Taubah: 65-66).

  2. Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengan-dung dusta. Dan hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

  3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).

  4. Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua darimu, atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahrammu.
    Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.

Nasehat

  1. Hendaknya ikhlas di dalam memberikan nasihat, tidak mengharap apapun di balik nasihatmu selain keridhaan Allah Subhannahu wa Ta'ala dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasihatmu bukan untuk tujuan riya` atau mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasihat.

  2. Hendaknya nasihat dengan cara yang baik dan tutur kata yang lembut dan mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasihati dan mau menerimanya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik”. (An-Nahl: 125).

  3. Hendaknya orang yang dinasihati itu di saat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah ia terima. Karena siapa saja yang menasihati saudaranya di tengah-tengah orang banyak maka berarti ia telah mencemarkannya, dan barangsiapa yang menasihatinya secara sembunyi maka ia telah menghiasinya. Imam Syafi`i –rahimahullah- berkata: “Berilah aku nasihat secara berduaan, dan jauhkan aku dari nasihatmu di tengah orang banyak; karena nasihat di tengah-tengah orang banyak itu mengandung makna celaan yang aku tidak suka mendengarnya”.

  4. Hendaknya pemberi nasihat mengerti betul dengan apa yang ia nasihatkan, dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima nasihatmu.

  5. Hendaknya orang yang memberi nasihat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasihatinya. Maka hendaknya tidak menasihatinya di saat ia sedang kalut, atau di saat ia sedang bersama rekan-rekannya atau kerabatnya. Dan hendaklah pemberi nasihat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasihati itu.

  6. Hendaknya pemberi nasihat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasihati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Syu`aib: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang” (Hud: 88).

  7. Hendaknya pemberi nasihat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (Luqman: 17). Luqman menyuruh anaknya untuk sabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Musafir

  1. isunnatkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalan jauh (safar) beristikharah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana safarnya itu, dengan sholat dua raka`at di luar shalat wajib, lalu berdo`a dengan do`a istikharah.

  2. Hendaknya bertobat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari segala kemaksiatan yang pernah ia lakukan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa yang telah diperbuatnya, sebab ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik kepergiannya itu.

  3. Hendaknya ia mengembalikan barang-barang yang bukan haknya dan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, membayar hutang atau menyerahkannya kepada orang yang akan melunasinya dan berpesan kebaikan kepada keluarganya.

  4. Membawa perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang.

  5. Disunnatkan bagi musafir pergi dengan ditemani oleh teman yang shalih selama perjalanannya untuk meringankan beban diperjalananya dan menolongnya bila perlu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari sendirian”. (HR. Al-Bukhari)

  6. Disunnatkan bagi para musafir apabila jumlah mereka lebih dari tiga orang mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin (amir), karena hal tersebut dapat mempermudah pengaturan urusan mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  7. Disunnatkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya”. Dan juga bersabda: “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari”. (Keduanya diriwayat-kan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  8. Disunatkan bagi musafir apabila akan berangkat mengu-capkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan dia sabdakan: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu”. (HR. At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

  9. Apabila si musafir akan naik kendaraannya, baik berupa mobil atau lainnya, maka hendaklah ia membaca basmalah; dan apabila telah berada di atas kendaraannya hendaklah ia bertakbir tiga kali, kemudian membaca do`a safar berikut ini: "Subhaanalladzii sakhara lanaa hadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniina, wa innaa ila rabbanaa lamunqalibuuna, allaahumma inni nas aluka fii safarinaa hadzalbarra wattaqwa, wa minal 'amali maa tardha, allaahumma huwwan 'alainaa safaranaa hadzaa waathwi 'anna bu'dahu, allaahumma antashshahibu fiissafari walkhaliifatu diil ahli, allaahumma innio a'uudzubika min wa 'atsaa issafari wakaabatil mandhari, wa suu ilmunqalabi fiilmaali wal ahli"

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَالتَّقْوَى ، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى ، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعَثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ اْلمَنْظَرِ ، وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي اْلمَالِ وَالأَهْلِ (رواه مسلم )

Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau ridhai; Ya Allah, mudahkanlah perjalannan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya Allah, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga”. (HR. Muslim).

  1. Disunnatkan bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Jabir yang menuturkan: “Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih”. (HR. Al-Bukhari).

  2. Disunnatkan bagi musafir selalu berdo`a di saat perjala-nannya, karena do`anya mustajab (mudah dikabulkan).

  3. Apabila si musafir perlu untuk bermalam atau beristirahat di tengah perjalanannya, maka hendaknya menjauh dari jalan; karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu hendak mampir untuk beristirahat, maka menjauhlah dari jalan, karena jalan itu adalah jalan binatang melata dan tempat tidur bagi binatang-binatang di malam hari”. (HR. Muslim).

  4. Apabila musafir telah sampai tujuan dan menunaikan keperluannya dari safar yang ia lakukan, maka hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu disebutkan diantaranya: ......Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya”. (Muttafaq’ alaih).

  5. Disunnatkan pula bagi si musafir apabila ia kembali ke kampung halamannya untuk tidak masuk ke rumahnya di malam hari, kecuali jika sebelumnya diberi tahu terlebih dahulu. Hadits Jabir menuturkan :”Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan) keluarganya di malam hari”. (Muttafaq’alaih).

  6. Disunnatkan bagi musafir di saat kedatangannya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk shalat dua rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila datang dari perjalanan (safar), maka ia langsung menuju masjid dan di situ ia shalat dua raka`at”. (Muttafaq’ alaih).

Pengantin

  1. Merayu istri dan bercanda dengannya di saat santai berduaan. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selalu bercanda, tertawa dan merayu istri-istrinya.

  2. Meletakkan tangan di kepala istri dan mendo`akannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu menikahi seorang wanita, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, dan bacalah bimillah lalu mohon berkahlah kepada Allah, dan hendaknya ia membaca: "Allaahumma inni as-aluka min khairi haa wa kahiri maa jabaltahaa 'alaihi, wa a-'udzubika min syarra haa wa syarra maa jabaltahaa 'alaihi"

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ (رواه أبو داود وحسن إسناده الألباني)

“(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan sifat yang ada padanya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukanya dan keburukan sifat yang ada padanya)” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani).

  1. Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua raka`at bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf.

  2. Membaca basmalah sebelum melakukan jima`. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya seorang di antara kamu hendak bersenggama dengan istrinya membaca : "Bismillaahi allaahumma jannabnaasy syaithaana wa jannabisy syaithaana maa razaqtanaa"

ِبسمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“(Dengan menyebut nama Alllah, ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami), maka sesungguhnya jika keduanya dikaruniai anak dari persenggamaannya itu, niscaya ia tidak akan dibahayakan oleh setan selama-lamanya” (Muttafaq alaih).

  1. Jika sang suami ingin bersenggama lagi, maka dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali maka hendaklah ia berwudhu”. (HR. Muslim).

  2. Disunatkan bagi kedua suami istri berwudhu sebelum tidur sesudah melakukan jima`, karena hadits Aisyah menuturkan :”Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau hendak makan atau tidur sedangkan ia junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat” (Muttafaq’alaih).

  3. Haram bagi suami menyetubuhi istrinya di saat ia sedang haid atau menyetubuhi duburnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang melakukan persetubuhan terhadap wanita haid atau wanita pada duburnya, atau datang kepada dukun (tukang sihir) lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR. Al-Arba`ah dan dishahihkan oleh Al-Alnbani).

  4. Haram bagi suami-istri menyebarkan tentang rahasia hubungan keduanya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguh-nya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan dengan istrinya (jima`), kemudian ia menyebarkan rahasianya”. (HR. Muslim).

  5. Hendaknya masing-masing saling bergaul dengan baik, dan melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut yang ma`ruf”. (Al-Baqarah: 228).

  6. Hendaknya suami berlaku lembut dan bersikap baik terhadap istrinya dan mengajarkan sesuatu yang dipan-dang perlu tentang masalah agamanya, serta menekankan apa-apa yang diwajib Allah terhadapnya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah selalu kepada istri, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan disisi kalian....” (HR. Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  7. Hendaknya istri selalu ta`at kepada suaminya sesuai kemampuannya asal bukan dalam hal kemaksiatan, dan hendaknya tidak mematuhi siapapun dari keluarganya bila tidak disukai oleh suami dan bertentangan dengan kehendaknya, dan hendaknya istri tidak menolak ajakan suami bila mengajaknya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidutrnya lalu ia tidak memenuhi ajakannya, lalu sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknat wanita tersebut hingga pagi”. (Muttafaq alaih).

  8. Hendaknya suami berlaku adil terhadap istri-istrinya di dalam masalah-masalah yang harus bertindak adil. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mempunyai dua istri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satunya, niscaya ia datang di hari Kiamat kelak dalam keadaan sebelah badannya miring”. (HR. Abu Daud).

Menjenguk orang sakit

Untuk orang yang berkunjung (menjenguk):
  1. Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur dan membahagiakannya.

  2. Hendaknya mendekat kepada si sakit dan menanyakan keadaan dan penyakit yang dirasakannya, seperti mengata-kan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

  3. Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: “Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (HR. Al-Bukhari). Dan berdo`a tiga kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam .

  4. Mengusap si sakit dengan tangan kanannya, dan berdo`a: "Adzhibil basarabbannaasi, isyfi antasysyaafii, laa syifaa a illaa sifaa uka, syifaa an laa bughaadiru saqamaa"

أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ ، اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ سِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لاَ بُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (Muttafaq’alaih).

  1. Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah Subhannahu wa Ta'ala dan jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, dan hendaknya tidak mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.

  2. Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya dan mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Talkinlah orang yang akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah”. (HR. Muslim).

· Untuk orang yang sakit:

  1. Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.

  2. Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan ketaatannya

  3. Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, dan segera membayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemiliknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

  4. Memperbanyak zikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan beristighfar (minta ampun).

  5. Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yang dideritanya, karena dengan demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan dan penyakit, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya dan mengampuni kesalahannya karenanya”. (Muttafaq’alaih).

  6. Berserah diri dan tawakkal kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dengan tidak melupakan usaha-usaha syar`i untuk kesembuhannya, seperti berobat dari penyakitnya.

Memberi salam

  1. Makruh memberi salam dengan ucapan: “Alaikumus salam” karena di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan : Aku pernah menjumpai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam maka aku berkata: “Alaikas salam ya Rasulallah”. Nabi menjawab: “Jangan kamu mengatakan: Alaikas salam”. Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan “alaikas salam” itu adalah salam untuk orang-orang yang telah mati”. (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

  2. Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).

  3. Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq‘alaih.

  4. Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun”.(HR. Muslim).

  5. Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).

  6. Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu kosong, karena Allah telah berfirman yang artinya:
    Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61)
    Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma : “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan : Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).

  7. Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat), karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu 'anhuma yang menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak menjawabnya”. (HR. Muslim)

  8. Disunnatkan memberi salam kepada anak-anak, karena hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu 'anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).

  9. Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab, sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.....” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam : “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: wa `alaikum”.(Muttafaq’alaih).

  10. Disunnatkan memberi saam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu 'anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam : “Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).

  11. Disunnatkan menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab : “`alaika wa `ala abikas salam”

  12. Dilarang memberi salam dengan isyarat kecuali ada uzur, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yang akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam hadits Jabir bin Abdillah Radhiallaahu 'anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dengan tangan”. (HR. Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

  13. Disunnatkan kepada seseorang berjabat tangan dengan saudaranya. Hadits Rasulullah mengatakan: “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  14. Dianjurkan tidak menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yang dibattangani itu melepasnya. Hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu 'anhu menyebutkan: “Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tidak melepas tangannya sebelum orang itu yang melepasnya....” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  15. Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi penghormatan, karena hadits yang bersumber dari Anas menyebutkan: Ada seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dengan temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya? Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Tidak”. Orang itu bertanya: Apakah ia merangkul dan menciumnya? Jawab nabi: Tidak. Orang itu bertanya: Apakah ia berjabat tangan dengannya? Jawab Nabi: Ya, jika ia mau. (HR. At-Turmudzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

  16. Haram berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: “Sesung-guhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita”. (HR.Turmudzi dan Nasai, dan dishahihkan oleh Albani).

Bertetangga

  1. Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : “....Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memu-liakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq’alaih).

  2. Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

  3. Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

  6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

  7. Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

  8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

  9. Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah.... –Disebutkan di antaranya- : Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad).

Etik Berdoa

  1. Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kepada Allah kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tidak memuji kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam maka Nabi bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (HR. At-Turmudzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

  2. Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) dan merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan dan rasa takut kepada Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
    Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu` kepada Kami”. (Al-Anbiya’: 90).

  3. Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat dan mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam selesai melakukan perang Hunain :” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putih kulit ketiak beliau”. (Muttafaq’alaih).

  4. Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a dan berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, dan jangan ada seorang kamu yang mengatakan :Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tidak ada yang dapat memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat karena sesuatu yang Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).

  5. Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak dan harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu dan juga terhadap anak-anak kamu dan pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dengan waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (HR. Muslim).

  6. Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berdo`a kepada yang tuli dan tidak pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu menyertai kamu”. (HR. Al-Bukhari).

  7. Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Berdo`alah kamu kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa sesung-guhnya Allah tidak mengabulkan do`a dari hati yang lalai”. (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh Al-Albani).
    Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kepada `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dan para shahabatnya tidak melakukan hal tersebut”.(HR. Al-Bukhari).

Wanita kedudukanya

Wanita Di Masa Jahiliyah
Wanita dimasa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah ) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan.
Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah berfirman (artinya):
“Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59).
Islam Menjunjung Martabat Wanita
Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah adalah takwa, sebagaimana yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33.
Lebih dari itu Allah menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)
Ambisi Musuh-Musuh Islam Untuk Merampas Kehormatan Wanita
Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “Kesetaraan Gender”, “Kungkungan Budaya Patriarkhi” adalah sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam.
Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.
KETAHUILAH WAHAI MUSLIMAH! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah ta’ala berfirman (artinya):
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27).
Peran Wanita Dalam Rumah Tangga
Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah:
“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33)
Maha benar Allah dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.
Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah ta’ala berfirman (artinya):
“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya”. (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab:
1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagamana hal ini ditunjukkan oleh As-Sunnah An -Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya. Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat.
2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada di bawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’)
Pekerjaan Wanita Di Dalam Rumah
Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:
1. Beribadah kepada Allah . Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah ta’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah ta’ala berfirman (artinya):
“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)
2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:
- Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356)
- Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.
- Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:
خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
“Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi)
- Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.
3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adab Keluar Rumah
Allah Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun di akhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya.
Rasulullah bersabda:
قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ
“Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi)
Namun juga ingat petuah Rasulullah yang lainnya:
“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya , yaitu:
a. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59.
b. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
c. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341)
d. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31)
e. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32)
f. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan.
g. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311)
h. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31)
i. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)
j. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978).

Hukum Wanita Kerja Di Luar Rumah
Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah berfirman (artinya): “Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)
Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggug jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)
Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya.
Wanita Adalah Sumber Segala Fitnah
Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah . Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala.
Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah I berfirman (artinya): “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14).
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114)
Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلِ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim).
Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier di balik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak ?!!!!

Setan

Setan menurut Islam ==
Menurut agama Islam, [[Tuhan]] meletakkan taraf manusia lebih tinggi daripada makhluk-makhluk yang lain kerana mereka diberikan akal, terutama untuk membandingkan mana yang buruk dan mana yang baik. Setan membangkang pada manusia ciptaan Tuhan dan menolak untuk bersujud di hadapan [[Nabi Adam|Adam]] seperti yang dilakukan oleh para malaikat lain. Tuhan bertanya kepada Setan: "Apakah yang mencegahmu untuk bersujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?" Setan menjawab: "Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya (menciptakan Adam) dari lumpur." Ini menunjukkan bahwa Setan merasa dirinya lebih bertaraf tinggi dari Adam kerana dia diciptakan dari api dan Adam diciptakan dari tanah, yang dianggap tidak bersih dan rapuh. Setan berjanji dan berkata di hadapan [[Tuhan]], [[Nabi Adam]] dan para malaikat bahwa dia akan membinasakan Adam dan seluruh keturunannya (yaitu golongan manusia) sampai hari [[Akhirat]] kelak. [[Allah]] bersabda bahwa manusia yang mengikuti perintah-Nya tidak akan dibinasakan oleh Setan, tetapi yang mengikuti Setan akan turut dibinasakan dan disiksa di [[api]] [[neraka]] pada hari [[Akhirat]]. Setan juga yang memyebabkan [[Nabi Adam]] dan isterinya [[Siti Hawa]] dikeluarkan dari [[Surga]], walaupun mereka telah diampuni oleh [[Allah]]

Dzikir dengan Pengeras

Dzikir adalah perintah Allah SWT yang harus kita laksanakan setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Allah selalu mendengar apapun yang kita ucapkan oleh mulut atau hati kita. Dzikir merupakan salah satu sarana komunikasi antara makhluk dengan khaliqnya. Dengan berdzikir seseorang dapat meraih ketenangan, karena pada saat berdzikir ia telah menemukan tempat berlindung dan kepasrahan total kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, dzikir harus dilaksanakan dengan sepenuh hati, jiwa yang tulus, dan hati yang khusyu' penuh khidmat. Untuk bisa berdzikir dengan hati yang khusyu' itu diperlukan perjuangan yang tidak ringan, masing-masing orang memiliki cara tersendiri. Bisa jadi satu orang lebih khusyu' kalau berdzikir dengan cara duduk menghadap kiblat, sementara yang lain akan lebih khusyu' dan khidmat jika wirid dzikir dengan cara berdiri atau berjalan, ada pula dengan cara mengeraskan dzikir atau dengan cara dzikir pelan dan hampir tidak bersuara untuk mendatangkan konsentrasi dan ke-khusyu'-an. Maka cara dzikir yang lebih utama adalah melakukan dzikir pada suasana dan cara yang dapat medatangkan ke-khusyu’-an.

Imam Zainuddin al-Malibari menegaskan: “Disunnahkan berzikir dan berdoa secara pelan seusai shalat. Maksudnya, hukumnya sunnah membaca dzikir dan doa secara pelan bagi orang yang shalat sendirian, berjema’ah, imam yang tidak bermaksud mengajarkannya dan tidak bermaksud pula untuk memperdengarkan doanya supaya diamini mereka." (Fathul Mu’in: 24). Berarti kalau berdzikir dan berdoa untuk mengajar dan membimbing jama’ah maka hukumnya boleh mengeraskan suara dzikir dan doa.

Memang ada banyak hadits yang menjelaskan keutamaan mengeraskan bacaan dzikir, sebagaimana juga banyak sabda Nabi SAW yang menganjurkan untuk berdzikir dengan suara yang pelan. Namun sebenarnya hadits itu tidak bertentangan, karena masing-masing memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Contoh hadits yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir riwayat Ibnu Abbas berikut ini: "Aku mengetahui dan mendengarnya (berdzikir dan berdoa dengan suara keras) apabila mereka selesai melaksanakan shalat dan hendak meninggalkan masjid.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Adra’ berkata: "Pernah Saya berjalan bersama Rasulullah SAW lalu bertemu dengan seorang laki-laki di Masjid yang sedang mengeraskan suaranya untuk berdzikir. Saya berkata, wahai Rasulullah mungkin dia (melakukan itu) dalam keadaan riya'. Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, tapi dia sedang mencari ketenangan."

Hadits lainnya justru menjelaskan keutamaan berdzikir secara pelan. Sa'd bin Malik meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, "Keutamaan dzikir adalah yang pelan (sirr), dan sebaik rizki adalah sesuatu yang mencukupi." Bagaimana menyikapi dua hadits yang seakan-akan kontradiktif itu. berikut penjelasan Imam Nawawi:

وَقَدْ جَمَعَ النَّوَوِيُّ بَيْنَ الأَحَادِيْثِ الوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الجَهْرِ بِالذِّكْرِ وَالوَارِدَةِ فِيْ اسْتِحْبَابِ الإِسْرَارِ بِهِ بِأَنَّ الإِخْفَاءَ أَفْضَلُ حَيْثُ خَافَ الرِّياَءَ أَوْتَأَذَّى المُصَلُّوْنَ أَوْالنَّائِمُوْنَ. وَالجَهْرُ أَفْضَلُ فِيْ غَيْرِ ذَالِكَ لِأَنَّ العَمَلَ فِيْهِ أَكْثَرُ وَلِأَنََّ فَائِدَتَهُ تَتَعَدَّى إِلَى السَّامِعِيْنَ وَلِأَنَّهُ يُوْقِظُ قَلْبَ الذَّاكِرِ وَيَجْمَعُ هَمَّهُ إِلَى الفِكْرِ وَيُصَرِّفُ سَمْعَهُ إِلَيْهِ وَيُطَرِّدُ النَّوْمَ"

“Imam Nawawi menkompromikan (al jam’u wat taufiq) antara dua hadits yang mensunnahkan mengeraskan suara dzikir dan hadist yang mensunnahkan memelankan suara dzikir tersebut, bahwa memelankan dzikir itu lebih utama sekiranya ada kekhawatiran akan riya', mengganggu orang yang shalat atau orang tidur, dan mengeraskan dzikir lebih utama jika lebih banyak mendatangkan manfaat seperti agar kumandang dzikir itu bisa sampai kepada orang yang ingin mendengar, dapat mengingatkan hati orang yang lalai, terus merenungkan dan menghayati dzikir, mengkonsentrasikan pendengaran jama’ah, menghilangkan ngantuk serta menambah semangat." (Ruhul Bayan, Juz III: h. 306).

Kesimpulannya, bahwa dzikir itu tidak mesti harus dengan suara keras atau pelan tetapi tergantung kepada situasi dan kondisi; jika dalam kondisi ingin mengajarkan, membimbing dan menambah ke-khusyu’-an maka mengeraskan suara dzikir itu hukumnya sunnah dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bahkan dalam beberapa keadaan sangat dianjurkan untuk mengeraskan dzikir.

Namun disunnahkan memelankan suara dzikir jika sekiranya mengeraskan suara dzikir dapat menggangu ke-khusyu’-an diri sendiri dan orang lain, mengganggu orang orang tidur dan menyebabkan hati riya’. Bagi kita umat muslim hendaklah menghindari mengeraskan suara dzikir yang dapat mengganggu kenyamanan dan ketenangan masyarakat. Wallahu a’lam bis shawab.

Bahaya Sihir global

Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian.

Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah,ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.

Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung.

Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yang diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat.

Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan.

Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

Padahal, sebagaimana telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29).

Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti “ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan, dalam kecerobohan”. Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai:

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu denganmerendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf, 7: 205)

“Dan BERILAH mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS.Maryam, 19: 39)

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an:

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”
Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”
Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.”
Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”

“Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

Berpikir dapat membebaskan seseorang dari belenggu sihir

Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia,”Dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?” Kata disihir atau tersihir di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yang sederhana sekalipun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini.

Pengaruh sihir yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagaimana berikut:
Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yang dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita!

Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus? Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yang lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya: meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya.Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya.

Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yang sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dapat melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang diciptakan-Nya.

Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Di bawah ini satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya. Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun
ketika sedang makan siang.

Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain.

Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia.

Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?”

Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,”Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?”, maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga “berpikir” hal-hal yang “bermakna”, “penuh hikmah” dan “penting” setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dansilih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

Agar sebuah perenungan menghasilkan manfaat dan seterusnya menghantarkan kepada sebuah kesimpulan yang benar, maka seseorang harus berpikir positif. Misalnya: seseorang melihat orang lain dengan penampilan fisik yang lebih baik dari dirinya. Ia lalu merasa dirinya rendah karena kekurangan yang ada pada fisiknya dibandingkan dengan orang tersebut yang tampak lebih rupawan. Atau ia merasa iri terhadap orang tersebut. Ini adalah pikiran yang tidak dikehendaki Allah. Jika ridha Allah yang dicari, maka seharusnya ia menganggap bagusnya bentuk rupa orang yang ia lihat sebagai wujud dari ciptaan Allah yang sempurna.

Dengan melihat orang yang rupawan sebagai sebuah keindahan yang Allah ciptakan akan memberikannya kepuasan. Ia berdoa kepada Allah agar menambah keindahan orang tersebut di akhirat. Sedang untukdirinya sendiri, ia juga meminta kepada Allah agar dikaruniai keindahan yang hakiki dan abadi di akhirat kelak. Hal serupa seringkali dialami oleh seorang hamba yang sedang diuji oleh Allah untuk mengetahui apakah dalam ujian tersebut ia menunjukkan perilaku serta pola pikir yang baik yang diridhai Allah atau sebaliknya.

Keberhasilan dalam menempuh ujian tersebut, yakni dalam melakukan perenungan ataupun proses berpikir yang mendatangkan kebahagiaan di akhirat, masih ditentukan oleh kemauannya dalam mengambil pelajaran atau peringatan dari apa yang ia renungkan. Karena itu, sangatlah ditekankan disini bahwa seseorang hendaknya selalu berpikir secara ikhlas sambil menghadapkan diri kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

“Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS.Ghaafir, 40: 13)

Selamet apa aan itu

Selamet”, orang Jawa mudah sekali meluncurkan kata ini dari mulut mereka. Khususnya kala menghadapi peristiwa istimewa. “Selamet” adalah kata kunci (password) untuk memahami budaya Jawa. Idiom ini menjadi kata kunci dalam segala perilaku hidup mereka. Dari kata ini muncul istilah “selametan”.

Selamet adalah cita-cita dan tujuan hidup orang Jawa. Selamet sebagai cita-cita begitu sentral dalam pandangan dunia orang Jawa. Sebagai contoh, bila ada yang hendak bepergian, maka yang ditinggal mengucapkan doa, “Muga-muga selamet”, atau “Nyangoni selamet” (kuberi bekal doa keselamatan). Bandingkan, misalnya, dengan orang Inggris yang mengucapkan “Good luck” (semoga beruntung) kepada orang yang hendak pergi.

Antropolog Koentjaraningrat mendefinisikan “selamet” dalam khazanah Jawa itu sebagai: “a state in which events will run their fixed course smoothly and nothing untoward will happen to anyone” (keadaan di mana segala peristiwa berjalan dengan lancar seperti diharapkan dan tak ada satu pun kejadian merugikan yang menimpa pada siapapun). “Selamet” juga berarti selamat di dunia dan di akhirat. Baik selamat dari gangguan orang lain, binatang buas, marabahaya (kecelakaan) maupun bencana alam. Sebab, alam dalam pandangan dunia Jawa, bisa sangat buas, di samping bisa mendatangkan barokah dan keuntungan.
Dus “selamet “ juga merefleksikan pandangan hidup orang Jawa yang tidak membedakan antara masyarakat dan alam. Alam dan masyarakat saling terkait satu sama lain. Manakala terjadi sesuatu pada alam, bencana misalnya, maka itu berhubungan dengan perilaku orang perorang atau masyarakat. Karena itu, orang harus menjaga harmoni dengan alam. Ia harus menyelaraskan perilakunya dengan alam.

Jika kita bandingkan dengan Islam, kita menemukan titik kesesuaian. Islam juga menekankan keselamatan sebagai tujuan hidup utama. Dalam Al-Quran kita dibimbing untuk berdoa meminta keselamatan di dunia dan akhirat. “Tuhan kami, berilah kami kehidupan yang baik di dunia dan baik di akhirat serta selamatkan kami dari api neraka.” Kita pun diajari untuk memanjatkan doa keselamatan (salam) untuk saudara-saudara muslim yang kita jumpai.

Sebenarnya, tentang pentingnya keselamatan ini tidak hanya disadari oleh orang Jawa dan orang Islam, tapi juga orang lain. Misalnya, tulisan “Safety first” yang terdapat di bengkel kerja atau industri mereka, dengan sangat jelas menunjukkan hal tersebut: keselamatan itu nomor satu. Ya, untuk apa untung banyak kalau tidak “selamet”.
Islam juga menekankan saling berkaitnya kejadian alam dengan apa yang diperbuat manusia atau sekelompok orang. Bacalah firman Allah yang sangat terkenal ini, “Sudah tampak kerusakan di darat dan di laut lantaran apa yang diperbuat oleh manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan (akibat dari) sebagian yang mereka perbuat, agar mereka kembali (ke jalan Allah).”

Belakangan ini kita melihat arus kebalikan dari budaya Jawa tadi, termasuk pada orang Jawa yang berada di lapis elit. Mereka seolah melupakan “selamet” sebagai unsur penting pembentuk budaya mereka. Contoh, baru beberapa bulan kita menyelenggarakan Konferensi PBB untuk perubahan iklim di Bali, pemerintah kita (yang dikomandani wong Jowo) sudah mengeluarkan peraturan soal alih fungsi hutan industri dan hutan lindung, di mana pembukaan hutan untuk pertambangan, jalan tol, pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan lain-lain diizinkan dengan tarif sangat murah. Contoh lain, kita tahu betapa kerap dan hebatnya banjir yang melanda Jakarta. Toh, Gubernur DKI masih juga menerapkan kebijakan yang mendorong pendirian bangunan-bangunan untuk bisnis dan usaha. Berarti, mereka tidak lagi menomorsatukan “selamet”, melainkan keuntungan.

Pada kenyataannya, Pulau Jawa saat ini jauh dari “selamet”. Berbagai bencana terjadi bertubi-tubi. Dari satu bencana ke bencana lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Nyaris semua daerah sudah mendapat giliran. Berarti, alam sangat murka. Dan karena kita semua percaya bahwa di balik alam itu ada kekuatan Mahaagung, yaitu Allah, maka berarti Allah sedang marah atau mungkin menguji kita, lantaran perbuatan kita. Entah perbuatan itu, dalam hukum kausalitas, mengakibatkan bencana bersangkutan secara langsung ataupun tidak langsung.

Celakanya, ada usaha untuk memutus keterkaitan bencana alam itu dengan (perbuatan) kita. Yang paling ekstrem adalah ulah sebagian dari anggota Dewan kita yang terhormat. Sudah jelas semburan lumpur di Sidoarjo itu akibat pengeboran. Sudah sejak lama pula para ahli menemukan fakta bahwa penyebabnya adalah keteledoran PT Lapindo Brantas yang tidak memasang pengaman (casing). Eh, tiba-tiba Tim Pengawas Penanggulan Lumpur Sidoarjo (TP2LS) bentukan DPR RI menyimpulkan bahwa semburan lumpur itu bencana alam, bukan bencana akibat ulah manusia.

Ai, jangan-jangan sudah banyak orang Jawa yang tidak lagi njawani. Banyak orang Jawa yang tidak jowo (satu ungkapan yang berarti bijak)

Kejahatan Orang Tua pada Anak

Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Bahkan dalam shalat pun Rasulullah saw. tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah saw. mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah saw.—Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).

Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuha peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).

Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah saw. “Rasulullah saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).

Begitulah Rasulullah saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktik bagaimana bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemahlembutan.

Karena itu, setiap sikap yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., adalah bentuk kejahatan kepada anak-anak. Setidak ada ada empat jenis kejahatan yang kerap dilakukan orang tua terhadap anaknya.

Kejahatan pertama: memaki dan menghina anak

Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.

Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum
ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).

Karena itu Rasulullah saw. kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah saw. memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.

Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.

Kejahatan kedua: melebihkan seorang anak dari yang lain

Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu factor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar
saudara.

Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’
Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).

Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si
anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah saw. bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)

Kejahatan ketiga: mendoakan keburukan bagi si anak

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa
(keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)

Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bias sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bias terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.

Coba simak kisah ini. Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”

Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.

Kejahatan keempat: tidak memberi pendidikan kepada anak

Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”

Perhatian. Itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.

Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).

Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.”)

Setan spesialis Gosip

Memang enak mengumbar lisan, tapi jangan tanyakan akibatnya. Hanya sepatah kata, tanpa disadari bisa menjadi sebab bagi seseorang untuk masuk ke jurang neraka yang amat dalam. Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya, ada seseorang yang berkata sepatah kata saja di mana dia menganggap tak ada dampaknya namun itu (menjadi sebab) dia terlempar ke dalam neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. at-Tirmidzi)

Kebanyakan orang yang masuk neraka juga karena lisannya, seperti sabda Nabi SAW:
“Adakah yang menenggelamkan hidung (wajah) manusia ke dalam neraka selain dari hasil perbuatan lisan mereka?” (HR. Ahmad)

Sabda Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa lisan adalah penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, meskipun dia seorang muslim. Namun, siksa yang menimpa muslim pasti ada akhirnya.

Para sahabat yang memahami betapa dahsyatnya bahaya lisan, sangat berhati-hati menjaga lisannya. Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Tiada yang lebih layak untuk banyak dipenjarakan selain dari lisan saya.”

Iblis juga memahami hal ini. Menjerumuskan manusia ke dalam dosa lisan menjadi wilayah garap utamanya. Maka diangkatlah seorang anaknya menjadi pasukan khusus penyebar gosip. Qatadah menyebutkan, Iblis memiliki anak bernama al-Masuth yang bertugas khusus untuk membuat gosip, menyebarkan kabar burung yang tak jelas asalnya dan belum tentu kebenarannya, sekaligus menyebarkan kedustaan. Al-Masuth memperalat orang-orang yang hobi menyebar gosip menjadi perpanjangan lidahnya.

Dosanya Sesuai dengan Andilnya

Gosip berpotensi besar merusak kehormatan muslim, merapuhkan ukhuwah Islamiyah dan bahkan memicu terjadinya peperangan antara kaum muslimin. Seperti terjadi pada persitiwa ˜haditsul ifki”, berita dusta, di mana banyak rumor berkembang bahwa ummul mukminin Aisyah telah berbuat tidak senonoh dengan sahabat Shafwan. Akan tetapi Allah membersihkan nama beliau ra, sekaligus mengancam pelakunya dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. an-Nuur: 19)

Orang-orang yang menyebarkan gosip tidak berada pada satu level dosa, tetapi tergantung besar kecil andilnya dalam menyebarkan gosip. Allah berfirman tentang orang-orang yang ikut andil dalam haditsul ifki:

“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. an-Nuur: 11)

Cara Kerja Setan Penyebar Dusta

Untuk menyebarkan berita bohong, setan memiliki cara yang halus dan licik. Dia tidak membisikkan ke hati manusia yang menjadi perpanjangan lidahnya untuk menyebarkan berita yang seluruhnya dusta. Tetapi dia menyelipkan berita yang benar di tengah tumpukan segudang kedustaan. Sehingga ada alasan untuk membela diri bahwa yang dikatakannya tidak semuanya salah, tapi ada juga yang benar.

Alasan lain, pihak yang digosip tidak marah, bahkan merasa senang. Seperti terjadi hari ini, banyak artis malah bangga menjadi obyek gosip, meski isinya miring. Kadang-kadang justru membuat sensasi agar digosipkan demi mendongkrak kete-narannya. Seperti pepatah Arab yang artinya “Kencingilah zam-zam niscaya engkau akan terkenal.” Alasan ini tidak merubah status larangan menggosip orang, menceritakan semua kabar yang didengar. Nabi SAW memvonis orang yang gemar menceritakan setiap kabar yang didengarnya dengan predikat ˜pendusta.” Beliau SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan dusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Mengapa orang yang menceritakan semua yang didengarnya divonis sebagai pendusta? Karena tidak setiap kabar yang sampai kepadanya itu fakta yang benar-benar terjadi. Besar kemungkinan bahkan pasti ada diantaranya yang ternyata dusta. Jika dia menceritakan semua yang didengarnya, berarti ada juga berita dusta yang dia ceritakan kepada orang lain, maka jadilah dia pendusta.

Di sisi lain, ada informasi yang meski benar namun tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Seperti berita tentang aib maupun rahasia orang lain. Inilah yang disebut dengan ghibah. Nabi SAW bersabda: “Tahukah kalian, apakah ghibah itu? Ghibah adalah ketika engkau menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai?” Para sahabat bertanya: “Bagaimana menurut Anda jika apa yang kami katakan memang ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan benar, maka berarti engkau telah menghibahnya, dan jika yang kamu katakan tidak ada padanya maka berarti engkau telah berdusta tentangnya.” (HR. Muslim)

Kegiatan “memakan bangkai” saudaranya dan mengumbar gosip, menyebarkan kabar burung dan rumor dianggap sebagai menu yang renyah oleh kebanyakan orang. Ada yang bertujuan untuk menjatuhkan kehormatan, sekedar mengisi waktu atau untuk menghibur diri:

‘Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar.” (QS an-Nuur: 15)

politik yang sebenarnya

Apakah yang dimaksudkan dengan selamat? Yakni politik yang selamat. Iaitu ilmu dan usaha merancang, melaksana, mengurus, menjaga dan menyuburkan segala bentuk pembangunan tamadun insan dan tamadun material seperti yang diperintah dan dibenarkan oleh Tuhan.

Oleh kerana Islam itu ertinya menyelamatkan dan sistem hidup Islam adalah syumul (complete), maka ilmu pentadbiran sebenar yang menyelamatkan itu pun mencakupi seluruh aspek kehidupan insaniah dan material manusia. Di antara aspek-aspek itu ialah kepimpinan, pendidikan, ekonomi, sosial, pertanian, penternakan, motivasi, kesihatan, perhubungan, penerangan, kebajikan, ketenteraan, kehakiman dan lain-lain lagi. Bilamana seluruh bidang kehidupan telah dirancang, dilaksana, diurus, ditadbir, dijaga dan disuburkan menepati kehendak ajaran Tuhan sama ada tentang insan atau materialnya, maka itulah yang dikatakan sistem politik yang sebenar dan yang selamat lagi menyelamatkan.

Orang-orang yang terlibat di dalamnya sama ada dari kalangan pemerintah yakni perancang polisi pembangunan atau dari kalangan pegawai-pegawai pelaksana polisi hingga ke peringkat bawahan, semuanya dipanggil ahli (orang) politik Islam yang sebenar.

Tegasnya, orang politik terbahagi dua iaitu:

1. Pembuat polisi

2. Pelaksana polisi

Bezanya sistem politik sebenar dari lain-lain sistem politik sekular sama ada dalam rumah tangga, jemaah, negeri, negara atau sejagat ialah politik sebenar mesti dijalankan dengan menempuh lima syarat. Dengan kata lain, ilmu teori politik bila hendak dilaksanakan dalam bentuk amaliah, hendaklah ditathbiqkan atau diselaraskan dengan hukum Tuhan. Supaya ilmiah dan amaliah itu benar-benar selaras dan menjadi ibadah. Ia juga mestilah untuk orang Islam dan untuk semua kaum, agama dan bangsa mengikut sistem yang sesuai dengan fitrah semula jadi manusia. Tanpa menepati atau memenuhi lima syarat ini, walau sehebat mana pun pembangunan yang dicetuskan, namun ia tidak jadi ibadah bagi orang Islam, bahkan tertolak di sisi Tuhan. Jika tidak jadi ibadah, tidak dapat pahala. Ia dianggap habuk-habuk yang berterbangan sahaja. Maknanya, ia bukan lagi politik yang sebenar. Mengusahakannya tidak lagi dianggap jalan Tuhan dan ia bercanggah dengan fitrah manusia. Kalau bercanggah dengan fitrah manusia maka manusia menolaknya.

Lima syarat itu ialah:

1. Niat kerana Tuhan.

2. Perlaksanaan sah mengikut jalan Tuhan.

3. Subjek atau perkara itu dibenarkan oleh sistem Tuhan.

4. Natijahnya digunakan menepati kehendak Tuhan.

5. Tanpa meninggalkan perkara-perkara asas dalam Islam.

Sebagai contoh, mari kita lihat bagaimana politik sebenar yang berlaku dalam rumah tangga boleh menjadi ibadah bagi orang Islam. Untuk membangunkan sistem rumah tangga Islam, supaya semua ahli keluarga mendapat pahala dan memperolehi darjat soleh dan solehah, maka:

1. Semua ahli mestilah berniat untuk membina rumah tangga Islam yang menyelamatkan kerana Tuhan. Tuhan yang menghalalkan pernikahan, menggalakkan perkahwinan dan menyukai anak-anak yang ramai. Kalau begitu, buatlah semua ini kerana Tuhan.

2. Segala perkara yang hendak dibuat dalam rumah oleh setiap ahli keluarga mestilah perkara-perkara yang halal, yang sah dan baik yang dibolehkan oleh Tuhan. Bukan perkara haram, makruh dan mungkar. Barang-barang dan peralatan dalam rumah mestilah bukan barang curi, hasil tipu atau rasuah. Dengan kata lain, buatlah hal-hal yang Tuhan suka dan tinggalkan perkara yang Tuhan tidak suka. Dari sekecil-kecil perkara hinggalah ke sebesar-besar perkara. Contohnya, menjaga kasih sayang, menjalankan pendidikan yang harmoni, menjalankan ekonomi yang tidak ada penipuan, monopoli dan riba. Tidak ada unsur rasuah dan penindasan di dalam pentadbiran kerana perkara-perkara negatif di atas boleh menghilangkan kasih sayang.

3. Perkara-perkara itu pula, hendaklah dilaksanakan dengan mengikut peraturan dan disiplin yang disukai Tuhan, yakni menurut disiplin Tuhan. Disiplin Tuhan termasuklah bertolak ansur, berlebih kurang, jangan singgung-menyinggung satu sarna lain, maaf-bermaafan, bekerjasama, berbaik sangka dan lain-lain lagi.

4. Bilamana sudah dikerjakan perkara-perkara yang baik dengan cara yang baik, maka natijah atau hasilnya juga mesti baik. Contohnya, rumah itu dapat dijadikan tempat menerima tetamu, bukan tempat bermegah-megah dan dalam menegakkan rumah itu tidak menyusahkan jiran. Sebab itu kalau kita hendak menegakkan rumah, kena berunding dahulu dengan jiran. Takut-takut dia tidak senang hati. Takut-takut rumah kita itu akan mengganggunya dalam beberapa hal. Itukan menyusahkan kita juga. Ia akan menggugat keselamatan kita. Ahli-ahli keluarga pula sesudah dapat melakukan segala perkara-perkara baik dalam rumah tangga, mereka hendaklah perjuangkan pula supaya orang lain pun dapat membangunkan kebaikan seperti mereka. Tidak bolehlah menghina-hina orang lain atau bakhil dengan manusia.

5. Dalam sibuk mengusahakan perkara-perkara yang menyelamatkan dalam rumah tangga, jangan sampai terlupa sembahyang dan mendalami segala Rukun Iman dan Rukun Islam yang fardhu dan asas bagi orang Islam. Kalau ini diabaikan, semua kebaikan lain tertolak jua. Berdasarkan contoh ini, kiaskanlah ianya kepada bidang- bidang lain dalam kehidupan seperti hal-hal pemerintahan, pendidikan, ekonomi, kesihatan dan sebagainya. Apabila setiap sesuatu bidang hidup itu dirancang, dilaksana, diurus dan disuburkan dengan menepati dan mengikut disiplin Tuhan, ia sesuai dengan fitrah semula jadi semua manusia. Oleh yang demikian, perasaan manusia semua akan senang. Maka berlakulah sudah politik sebenar dalam hidup manusia sama ada di rumah, jemaah, negeri atau negara. Itu namanya ibadah dalam lingkungan ibadah umum. Bagi orang Islam, keadaan politik sebenar itu penuh kasih sayang dan harmoni. Kasih sayang dan harmoni ini sesuai dengan kehendak semua kaum, bangsa dan agama.

Dalam muqaddimah buku ini sudah dinyatakan bahawa politik itu boleh berlaku dalam banyak peringkat. Bukan dalam parti politik dan tidak dalam soal negara sahaja.

Peringkat-peringkat itu ialah:

1. Politik rumah tangga

2. Politik jemaah

3. Politik negeri

4. Politik negara

5. Politik ummah (sejagat)

Berbezanya politik atau pentadbiran dalam peringkat-peringkat ini adalah berpunca dari berbezanya kesyumulan Islam dalam tiap-tiap peringkat itu. Maka bidang yang hendak ditadbir pun tidak sama. Oleh kerana perkara-perkara yang ditegakkan dalam rumah jauh berbeza dengan apa yang ada di peringkat jemaah, maka terjadilah ruang lingkup politik yang berbeza antara keduanya. Begitu juga ruang lingkup politik bagi peringkat jemaah berbeza dengan ruang lingkup politik bagi peringkat negara. Misalnya, disebabkan sesebuah jemaah itu tidak dibenarkan mengadakan sistem ketenteraan dan kehakiman, maka politik di bidang itu tidak berlaku dalam jemaah tetapi ia terdapat dalam politik negara.

Untuk tujuan itu, beliau boleh melantik satu team kepimpinan yang layak dan bertanggungjawab. Islam juga memberi kuasa kepada khalifah untuk menetapkan kedudukan atau jawatan pemimpin-pemimpin bawahannya, mengekalkan dan boleh pula menarik balik jawatan itu bilamana si polan itu sudah melanggar syarat-syarat disiplin Tuhan atau kepimpinannya lemah ataupun atas dasar strategi. Di dalam politik sebenar atau politik Islam, rakyat serta pemimpin bawahan wajib taat kepada khalifah serta pemimpin yang dilantik selama mana mereka itu benar-benar menjalankan kerja-kerja menegakkan hukum Tuhan. Perintah taat ini cukup jelas dalam firman Tuhan:

Maksudnya: “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul serta pemimpin di kalangan kami. ” (An Nisa: 59)

Yakni selagi mereka itu menjalankan tugas yang sesuai dengan kehendak-kehendak Allah dan Rasul. Tetapi di kala mereka melanggar perintah Allah dan Rasul, mereka tidak wajib lagi ditaati.

Rasulullah SAW bersabda:

Maksudnya: “Tiada ketaatan kepada makhluk dalam kederhakaan pada Allah.” (Riwayat Ahmad dan Hakim)

Demikianlah garis-garis disiplin Tuhan dalam soal politik sebenar yang menyelamatkan ini. Semuanya bermaksud untuk memberi faedah kepada manusia tidak kira Islam atau bukan Islam. Yakni supaya dunia menjadi syurga sementara (jannatul ‘ajilah) sebelum manusia berangkat ke kediaman Syurga Akhirat yang kekal abadi. Hasil perlaksanaan politik sebenar yang menyelamatkan tadi, lahirlah negara yang Tuhan mahukan:

Maksudnya: “Negara yang aman makmur dan mendapat keampunan Tuhan.” (Saba: 15)

Model negara yang indah ini pernah wujud beberapa kali dalam sejarah. Dan ia akan berulang sekali lagi di akhir zaman ini, insya-Allah.

Negara-negara yang ada di dunia hari ini dikendalikan oleh politik yang tidak benar atau yang tidak menyelamatkan. Oleh itu ia tidak layak mendapat keampunan Tuhan, bahkan keamanan pun tidak wujud. Kemakmuran jauh sekali. Kalau ada kemakmuran pun, hanya untuk dirasai oleh beberapa orang tertentu sahaja.

Demikian juga halnya dalam jemaah orang Islam yang mengaku melaksanakan politik Islam, bahkan juga dalam kebanyakan rumah tangga orang Islam, tidak wujud perkara-perkara yang melayakkan mereka mendapat keampunan Allah.

Umat Islam tidak melaksanakan politik Islam atau politik sebenar sebagaimana sepatutnya. Mereka tidak membangunkan sistem Islam sebagai cara hidup. Kalau pun ada projek-projek kehidupan yang dibangunkan namun ia tidak mengikut syarat-syarat Islam. Oleh itu ia tidak menjadi ibadah dan tidak mendatangkan pahala di sisi Tuhan. Bagi umat Islam tolong ambil perhatian bahawa Islam itu mesti sesuai dengan ilmunya dan perlaksanaannya mesti ditunjang oleh iman.

Selama ini Islam terasa indah pada teorinya sahaja tetapi tidak dalam praktiknya. Sekian lama umat Islam melaungkan “Islam is the way of life”, tetapi syiar Islam tidak muncul-muncul juga di tengah kehidupan masyarakat. Politik Islam yang diperjuangkan cuma dalam bentuk kempen, slogan, propaganda dan dakyah. Ia hanya digunakan dalam kempen pilihan raya dan dalam pertandingan mere but jawatan pemerintahan. Selepas itu perjuangan seolah-olah sudah selesai. Tidak ada pengisian dan pentadbiran “ke dalam”. Sebab itu sistem sekular terus berjalan walaupun ianya sudah cukup tua dan cukup menyeksa serta menyakitkan kita. Hakikatnya bukan politik Islam atau politik sebenar yang diperjuangkan, sebaliknya politik yang bercanggah dengan Islam tetapi diberi nama Islam. Itu satu penipuan sama ada kita sedar atau tidak sedar. Sebab itu politik orang Islam hari ini menyakitkan banyak pihak, sama ada orang Islam mahupun orang bukan Islam.

Saya berlindung dengan Tuhan dari sikap mengata tidak mengota yang sangat dimurkai Tuhan. Dan saya minta berlindung dari sikap suka mengkritik tetapi tidak mempraktik. Sesungguhnya, apa yang diusahakan di dalam syarikat Rufaqa’ ialah harapan untuk merealisasikan politik Islam. Alhamdulillah, dengan izin Tuhan jua, nampaknya ia kini menjadi kenyataan walaupun baru di peringkat asas. Pada semua kakitangannya, ia menjadi gelanggang untuk berpolitik secara Islam. Sementara bagi para peminat yang beragama Islam dan yang bukan Islam ia dianggap alternatif pada kegagalan politik sekular. Namun ada juga yang tidak senang nampaknya. Moga-moga jadilah syarikat Rufaqa’ satu-satunya badan korporat yang mirip sebagai jemaah Islam yang melaksanakan politik Islam yang selamat dan menyelamatkan kerana ia membawa kasih sayang.

Pendidik

MUKADIMAH Para Nabi a.s adalah seafdal-afdal makhluk di sisi Allah s.w.t dan diikuti oleh Ulama’ (ahli ilmu) kerana Ulama’ itu ialah pewaris para Nabi. Para Nabi a.s tidak mewariskan mereka dengan dinar atau dirham akan tetapi dengan ilmu. Rasulullah s.a.w adalah pendidik yang teragung. Baginda mendidik umatnya melalui Al-Quran dan As-Sunnah. Allah s.w.t berfirman: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat engkau dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Quran) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesunguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Surah Al-Baqarah : 129) Oleh itu adalah menjadi kewajipan kepada para ulama’ (ahli ilmu) untuk meneruskan tugas mendidik ummah. Allah s.w.t berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati”. (Surah Al-Baqarah: 159) Pada umumnya orang memahami bahawa seorang pendidik itu ialah seorang yang terlibat dengan kerja-kerja pendidikan atau pengajaran. Dengan ertikata lain seseorang yang terlibat dengan kerja-kerja pengajaran ilmu pengetahuan sama ada di sekolah, maktab, universiti, surau, masjid, pondok atau madrasah. Pengertian seperti ini lebih khususiah. Walau bagaimanapun proses pendidikan itu juga berlaku di mana-mana seperti di rumah, tempat permainan dan sebagainya. Oleh yang demikian tugas mendidik itu bukan hanya menjadi taggungjawab guru di sekolah malah mereka yang terlibat sama ada secara formal atau tidak formal, terutama sekali ibu bapa atau penjaga murid itu sendiri. 1

Slide 2: DEFINISI PENDIDIK Menurut Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan, pendidik ialah guru, pengasuh, wali, pemimpin pengelola, pelatih, penyelenggara, pengajar dan pemelihara. Mengikut istilah yang digunakan oleh sarjana-sarjana Islam guru atau pendidik ialah murabbi, muallim, muaddib, ustaz, mudarris, mursyid atau ulama. Semua istilah-istilah yang digunakan bersal dari Bahasa Arab dan pada dasarnya istilah-istilah tersebut mempunyai maksud yang sama iaitu memberi pengajaran atau pendidikan. Namun terdapat beberapa pandangan yang bebeda mengenai penggunaan istilah tersebut. Ini tergantung kepada bidang ilmu yang dipelajari. Seperti istilah Ustaz dan Mudarris, dalam masyarakat Melayu, Ustaz dan Mudarris dikhususkan kepada mereka yang mengajar pelajaran agama Islam di sekolah, madrasah, masjid, pondok dan sebagainya. Istilah Muallim juga bermaksud pengajar, lebih menjurus kepada seorang pengajar (tidak terhad kepada guru sekolah) yang mencurahkan ilmu pengetahuan untuk anak didiknya, dan kadang kala digunakan dalam ertikata pemimpin. Berbeza dengan Murabbi, seorang Muallim lebih menumpukan kepada ilmu akal. Sementara Murabbi membawa maksud yang luas, melebihi tahap Muallim. Konsep Murabbi merujuk kepada pendidik yang bukan sahaja mengajarkan sesuatu ilmu tetapi dalam masa yang sama cuba mendidik rohani, jasmani dan mental anak didiknya untuk menghayati dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Justeru, Murabbi lebih menumpukan penghayatan sesuatu ilmu, sekaligus membentuk keperibadian, sikap dan tabiat anak didiknya. Istilah mursyid bermaksud memberi tunjuk ajar. Mursyid secara istilahnya (menurut kaum sufi), merupakan mereka yang bertanggungjawab memimpin murid dan membimbing perjalanan 2

Slide 3: rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah. Para Mursyid dianggap golongan pewaris Nabi s.a.w. dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka (tazkiyah an-nafs), yang mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka, yang mana mereka juga mendapat izin irsyad dari mursyid sebelum mereka dan seterusnya, sehinggalah silsilah izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah s.a.w. (tanpa terputus turutannya). Oleh itu pada kebiasaannya, ia daripada keturunan Ulama’. Guru-guru pada zaman Abbasiyah digolongkan kepada tiga kategori: i) Mualim - Golongan guru sekolah rendah yang diberi tugas mendidik ilmu-ilmu asas Islam seperti Al-Quran, Ibadah, Akidah dan Ilmu Akhlak. ii) Mu’adib - Guru khas yang bertanggungjawab mengajar sekolah khas. (Istana Khalifah) iii) Ustaz - Pensyarah di sekolah tinggi (maktab). (Ghazali Darussalam, 2001) Guru ialah segolongan orang yang menjalankan tugas ikhtisas sebagai pendidik dan pemimpin. Mereka boleh mencorakkan masa depan masyarakat dan dapat menentukan untung nasib sesebuah bangsa. (Ahmad Mohd.Salleh.2003). Guru adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam pendidikan dan pengajaran, kerana gurulah yang akan bertanggungjawab dalam membentuk peribadi seorang murid (H Syamsul Bahri Tanrere, 1993) Oleh itu para guru atau pendidik mestilah sedar akan tanggungjawab mereka dan sentiasa menjaga nama baik mereka sebagai pendidik dan pemimpin masyarakat dengan menjalankan segala tugas dan tanggungjawab secara ikhlas dan jujur. 3

Slide 4: PENDIDIK DALAM ISLAM Pendidik di dalam islam adalah meliputi hal keduniaan dan akhirat sama ada pendidik itu menyampaikan Ilmu Fardhu Ain atau Ilmu Fardhu Kifayah. Sebagaimana menurut Imam Ghazali bahawa ilmu itu dibahagikan kepada Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Sistem pendidikan Islam memperimbangkan tawazun antara kepentingan individu dengan kepentingan ummah melalui konsep Ilmu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Demikian juga dalam kaedah fiqih terdapat konsep maslahah ummah (kepentingan ummah) dan maslahah ammah (kepentingan awam) di samping pengakuan Islam terhadap maslahah fardi atau khassah (kepentinan individu). (Ghazali Basri, Jurnal Pendidikan Islam, Desimber 1987). Hal ini juga dapat dilihat di dalam kitab Adab Al Mu’allimin di mana Ibnu Sahnun telah membahagikan kurikulum pendidikan di Al Kuttab kepada kurikulum wajib (ijbari) dan kurikulum pilihan (ikhtiyari). Bagi kurikulum wajib para pendidik akan mengajarkan al-Quran, Hadis Nabi dan Fiqih sementara bagi kurikulum pilihan pelajaran yang diajarkan ialah; Ilmu Hitung, Syair, al-Gharib (kata-kata sulit), Bahasa Arab dasar dan Kaligrafi serta Ilmu Nahu. Menurut Imam Ghazali illmu Fardhu Kifayah itu terbahagi kepada ilmu Syari’ah dan bukan Syari`ah. Ilmu Syari`ah ialah ilmu-ilmu yang diperolehi dari Nabi s.a.w. Sementara ilmu bukan Syari`ah pula ialah ilmu-ilmu yang terpuji, iaitu ilmu-ilmu yang ada hubungan dengan kepentingan duniawi dan untuk kemaslahatan ummah, seperti ilmu kedoktoran dan sebagainya yang mana ilmu berkenaan menjadi keperluan bagi sesebuah negara. Seorang pendidik haruslah memahami bahawa Islam adalah ad-Din bukan sekadar aqidah dan peribadatan seperti sembahyang puasa menunaikan zakat dan naik haji tetapi suatu sistem hidup 4

Slide 5: nizam al-hayat yang serba mencakup sama ada dari segi hubungan manusia sesama manusia atau di antara manusia dengan tuhannya dan hubungan manusia dengan alam sekelilingnya sama ada yang berbentuk spiritual atau material. Pendidik bukan sahaja berperanan untuk memberi kesedaran kepada diri sendiri, malahan juga untuk masyarakat tentang hubungan, komitmen dan hubungannya dengan hukum Allah s.w.t. Islam memberi penghormatan yang tinggi kepada ahli- ahli ilmu. Allah berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah antara hambanya ialah ulama’”. (surah Faathir: 28). Dan Rasulullah s.a.w bersabda: “Ulama’ ialah pewaris para nabi”. Kedua-dua nas di atas jelas membuktikan bahawa Islam memberi penghormatan kepada ahli ilmu. Mereka mempunyai sifat ketakwaan kepada Allah s.w.t hasil daripada ilmu yang diwarisi daripada para nabi a.s. Tugas menyampaikan amalan keilmuan ini terletak pada pendidik. Melalui ilmu sahajalah kita dapat menimbulkan kesedaran manusia terhadap Allah dan dapat membezakan sesuatu yang hak dan batil. Mendidik adalah amanah Allah s.w.t Nabi Muhammad s.a.w selalu menganjurkan para sahabatnya untuk menyampaikan apa yang pernah mereka dengar, supaya dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya di mana sahaja. (Dr.Yusuf Qardhawi, 1996). Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: “Sampaikanlah olehmu yang datang dariku meskipun hanya satu ayat”. Dinulhayah Islam adalah sebagai cara hidup yang lengkap dan sempurna dan Islam adalah agama untuk pendidikan hidup. Oleh itu orang yang pertama sekali bertanggungjawab dalam mendidik ialah ibu bapa atau penjaga anak-anak. Kedudukan dan peranan ibu bapa adalah soal 5

Slide 6: yang paling utama dalam Islam. Rasulullah s.a.w bersabda:“semua kanak-kanak dilahirkan suci, tetapi ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Hadis ini menjelaskan bahawa ibu bapa berkewajipan dan berperanan mengasuh, membentuk mendidik dan memimpin anak-anak menjadi orang yang mulia di sisi Allah S.W.T, bangsa dan Negara. Pendidikan adalah proses yang berterusan seumur hidup. Pendidikan tidak akan terjejas atau tergugat oleh batas-batas masa, tempat dan nilai-nilai kemasyarakatan. Sejak dari kelahiran kita ke dunia, hinggalah kita kembali menemui Tuhan, proses pendidikan tetap berterusan dan diperlukan. (Tajul Ariffin Noordin. 1990). Setelah ibu bapa, orang kedua yang bertanggungjawab dalam mendidik adalah guru. Walau bagaimanapun ibu bapa tidak boleh meletakkan tugas mendidik anak-anak kepada guru semata- mata. Islam sendiri meletakan setatus ibu bapa itu lebih tinggi daripada guru-guru dalam urusan mendidik anak. Para pendidik harus sedar bahawa tugas menyampaikan ilmu adalah amanah Allah dan bukan suatu tugas yang ringan. Ia merupakan satu tanggungjawab besar dalam membina perkembangan manusia. Oleh itu, mereka perlu berhati-hati dalam menjalankan tugas. Rasulullah s.a.w bersabda:“Sesiapa yang mengasaskan jalan yang baik dalam Islam, maka diamalkan orang, dicatat baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, dengan tidak dikurangkan sedikitpun pahalanya. Dan sesiapa yang mengasaskan jalan tidak baik dalam Islam, maka diamalkan orang, dicatatkan baginya dosa sebagaimana dosa orang yang melakukannya dengan tidak dikurangkan sedikit pun dosanya”. 6

Slide 7: Hadis ini menjelaskan mengenai tanggungjawab dan kedudukan pendidik atau guru dalam konteks keagamaan. Mereka bertanggungjawab di hadapan Allah s.w.t terhadap ilmu yang disampaikan dan kesan daripada penyampaian itu terhadap orang lain pada hari kiamat. Jika kesedaran keagamaan seumpama ini wujud dalam setiap diri pendidik, maka sudah tentu pendidik itu akan berhati-hati dalam merancang kurikulum dan bidang keilmuan. Ini kerana usaha itu bukan berakhir di situ sahaja, tetapi dipertanggungjawabkan di hadapan Allah s.w.t pada hari kemudiannya. Pendidik haruslah berkemampuan membina keunggulan sahsiah pelajar-pelajarnya dan keunggulan suasana pengajaran dan pembelajaran serta mempunyai keseimbangan antara pengahayatan agama dan moral, dengan kemahiran dalam pengurusan hidupnya. Bidang perguruan pada pandagan Islam Untuk mengetahui sejauhmana pentingnya profesion tersebut dalam Islam, Al-Quran dan hadis ada menjelaskan antaranya, Allah s.w.t berfirman: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik”. (Surah an-Nahl: 125). Dan Rasulullah s.a.w bersabda: “Bahwasanya jika kamu mengajar seseorang, lalu dia mendapat kebajikan yang lebih berharga daripada dunia dan segala isinya”. Jika diteliti maksud ayat al-Quran dan Hadis Rasulullah s.a.w yang diutarakan di atas, menunjukkan dengan jelas akan keutamaan-keutamaan mengajar khususnya dalam profesion perguruan. 7

Slide 8: Seorang pendidik mestilah menyedari hakikat bahawa pengajaran itu merupakan tanggungjawab yang mesti dilaksanakan. Ia hendaklahlah meletakkan tanggungjawab ini di atas dasar pahala dan dosa. Kerja pengajaran adalah sebahagian amal soleh manakala enggan menyampaikannya dosa yakni siksaan api neraka. (Ghazali Basri, Jurnal Pendidikan Islam, Desimber 1987). Jika dilihat dari sudut sejarah dan budaya, guru atau pendidik adalah dianggap sebagai profesion yang mulia. Sejarah menunjukkan hubungan di antara istana dengan tuan guru. Ulama’ dan guru adalah rapat dan dimuliakan berbanding dengan jawatan-jawatan lain. Dari segi budaya, konsep berguru amat diutamakan. Belajar bukan setakat untuk mendapatkan ilmu, apa yang lebih penting ialah berguru untuk membina akhlak dan adab berilmu.(Dr.Tajul Ariffin Noordin & Dr.Nor’ Aini in Noordin & Dr.Nor’ Aini Dan, 2002) Sifat-sifat pendidik menurut Islam Pendidik dalam pendidikan Islam adalah sebagai mediator bagi anak-anak untuk mengikuti gaya Islami yang tercermin pada diri Nabi Muhammad s.a.w (Dr. Gamal Zakaria, 2002) Para pendidik wajiblah membentuk keperibadiannya yang luhur. Pendidik adalah qudwah (kepemimpinan) dan juga uswah (model) yang baik yang sering ditonton oleh anak-anak didiknya maka seorang pendidik tidak akan menganjurkan sesuatu jika ia sendiri tidak melaksanakannya kerana ia menyedari tentang kemurkaan Allah (dosa) jika ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia ucapkan. Oleh itu para pendidik perlulah menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji sesuai dengan sifatnya yang paling mulia di dalam Islam. Dr. Abdul Halim al Muhammady menyenaraikan lapan sifat yang wajib dimiliki oleh pendidik, iaitu: 8

Slide 9: 1. Sifat Zuhud (mendidik kerana mencari keredaan Allah). Sifat Zuhud bermakna menyampaikan pelajaran bukan kerana belasan kebendaan atau penghormatan masyarakat, tetapi kerana mencari keredhaan Allah. Namun Ini bukan bermakna kita tidak boleh menerima ganjaran dari usaha itu. Kemuncak matlamat kerja yang dilakukan seharusnya tidak diukur dengan pencapaian kebendaan kerana itu akan membahayakan peningkatan diri dan pencapaian orang yang berada di bawah didikannya. 2. Kebersihan diri. Sebagai pendidik hendaklah menjauhkan diri dari kekotoran sifat-sifat mazmumah seperti bersifat angkuh, riak, hasad, pemarah dan dari kekotoran syara’ yakni melakukan perkara-perkara dosa besar dan yang diharamkan oleh Islam. 3. Keikhlasan dalam bekerja, termasuklah juga sifat dedikasi. 4. Mempunyai sifat halim, iaitu sifat lemah lembut, sopan santun, tidak lekas berang. 5. Menjaga kehebatan dan kehormatan diri, yakni tidak melibatkan diri dengan suasana yang boleh menjatuhkan peribadi dan maruahnya sama ada dari segi pakaian , perbuatan dan percakapan. 6. Perlu merasa dirinya sebagai bapa dalam menghadapi muridnya. 7. Hendaklah memahami tabiat murid-muridnya dan. 8. Mempunyai ilmu pengetahuan yang luas (Dr.Abdul Halim Al-Muhammady, Jurnal Pendidikan, Disember 1986). 9

Slide 10: Pendidik yang efektif Imam Ghazali telah menyatakan tujuh ciri pendidik yang efektif, merangkumi aspek kualiti dan tugas pendidik yang cemerlang: 1) Mempunyai rasa belas kasihan kepada murid-murid dan memperlakukan mereka sebagai anak sendiri. Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya aku ini bagimu adalah seumpama seorang ayah bagi anaknya”. Rasa belas kasihan seperti ini hanya akan wujud jika pendidik melaksanakan tugas dengan tujuan akhirat. 2) Mengikut tingkahlaku dan sunnah Nabi Muhammad s.a.w dan tidak minta imbuhan atas perkhidmatan yang diberinya. 3) Tidak menasihati atau membenarkan muridnya melaksanakan sesuatu tugas atau mempelajari suatu tingkat sebelum berhak pada tingkat itu. 4) Menasihati murid-muridnya supaya meninggalkan kelakuan buruk secara lembut atau kasih sayang, bukan memarahi mereka atau mengejek. 5) Tidak sesekali merendahkan mata pelajaran atau ilmu yang lain di hadapan muridnya. 6) Hendaklah pembelajaran bersesuaian dengan tahap pemahaman murid dan tidak sesekali memaksa mereka mencapai sesuatu di luar kemampuan. 7) Menyediakan bahan pembelajaran yang mudah difahami, jelas dan bersesuaian dengan tahap perkembangan akal murid khususnya murid yang kurang pintar. 10

Slide 11: Ciri-ciri di atas jelas menunjuk bahawa pendidik yang efektif itu perlulah mempunyai disiplin yang tinggi dalam pendidikan sama ada dari segi sahsiahnya, ilmu pengetahuannya dan pedagogi pendidikannya. Salah satu ciri yang dinyatakannya ialah seorang pendidik itu perlu mengajar sesuatu secerca berperingkat. Hal ini adalah berkaitan dengan metod atau kaedah pengajaran. Sehubungan itu Ibnu Khaldun ada mengungkapkan tiga langkah metod pengajaran: 1. Hendaklah diajarkan kepada murid pengetahuan yang bersifat umum dan sederhana, khusus berkenaan dengan pokok bahasan yang dipelajari. Pengetahuan ini hendaklah disesuaikan dengan taraf kemampuan intelektual murid, sehingga tidak berada di luar kemampuannya untuk memahami. Hendaklah murid belajar pada tingkatan pertama atau paling sederhana. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun “Ketika itu tercapailah suatu malakah baginya di dalam ilmu itu, meskipun bersifat lemah”. Ibnu Khaldun memandang langkah ini sebagai langkah pendahuluan bagi langkah kedua. 2. Pendidik kembali mengajarkan pengetahuan tersebut kepada anak didiknya dalam taraf yang lebih tinggi dengan memetik intisari pelajaran, keterangan dan penjelasan yang lebih khusus. Dengan demikian pendidik dapat mengantarkan anak didiknya kepada taraf pemahaman yang lebih tinggi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun “maka menjadi baiklah malakahnya”. 3. Pendidik mengajarkan pokok bahasan tersebut secara lebih terperinci dalam konteks yang menyeluruh, sambil memperdalam aspek-aspeknya dan menajamkan pembahasannya. Tidak ada lagi yang sulit dan penting yang tidak diterangkan. Begitu suatu ilmu selesai dipelajari, maka ilmu itu telah menjadi malakahnya. Walau bagaimanapun Ibnu Khaldun mengatakan 11

Slide 12: sebahagian anak didik yang cerdas kadangkala hanya memerlukan dua langkah sahaja di dalam mengajar mereka, terutama jika pendidik berkemampuan tinggi. Di sini jelas bahawa pendidikan Islam itu hendaklah diajarkan secara berperingkat. Oleh itu sukatan pelajaran yang disediakan haruslah mengambil kira tahap dan kemampuan murid agar setiap pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh murid dengan baik. KESIMPULAN Kedudukan pendidik menurut Islam adalah mulia kerana mereka adalah penerus tugas Nabi s.a.w dalam menyampaikan ilmu dengan berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnahnya. Oleh yang demikian para pendidik wajiblah membentuk keperibadian yang luhur dan memiliki sifat-sifat yang terpuji sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam kerana pendidik adalah qudwah dan juga uswah yang baik bagi anak-anak didik. Islam menjelaskan bahawa ibu bapa atau penjaga berperanan penting dalam mendidik anak-anak mereka, kerana merekalah yang mencorakkan kehidupan anak-anak mereka. Ibu bapa berkewajipan dan berperanan mengasuh, membentuk mendidik dan memimpin anak-anak menjadi orang yang mulia di sisi Allah S.W.T, bangsa dan Negara. Peranan guru sebagai pendidik juga tidak kurang pentingnya, mereka diamanahkan oleh ibu bapa untuk mendidik, mengajar, membimbing dan mengembangkan fitrah (malakah) anak didik mereka. Oleh yang demikian pada umumnya tugas mendidik itu adalah menjadi tanggungjawab bersama, sama ada secara formal atau tidak formal khusnya bagi ahli-ahli ilmu, kerana tugas ini juga merupakan amanah Allah s.w.t. 12

Slide 13: BIBLIOGRAFI 1) Al-Quran dan Terjemahannya (Indonesia) . Madinah Al-Munawwarah. Kerajaan Arab Saudi. 2) Ahmad Mohd. Salleh (2003), Pendidikan Islam, Falsafah dan Kaedah Pengajaran Pembelajaran. Oxford Fajar. Selangor Darul Ehsan, Malaysia. 3) Dr Abdul Halim Muhammady (Tahun 1 Bil. 4. Disember,1986)., Peranan Guru Dalam Pendidikan Islam, Jurnal Pendidikan Islam, Biro Pendidikan , Angkatan Belia Islam Malaysia. Selangor Darul Ehsan, Malaysia. 4) Dr. Gamal Zakaria (2002). Ibnu Sahnun, Mutiara Pendidik Muslim. Pusat Penyelidikan dan Pembangunan Akademik, Kolej Islam Darul Ehsan. Selangor Darul Ehsan, Malaysia. 5) Dr. Yussuf Qardhawi (1996). Keutamaan Ilmu dan Kemuliaan Para Ulama’. Terjemahan M. Junaidi Al-Hashim. Perniagaan Jahabersa. Johor Baharu, Malaysia. 6) Ghazali Basri, (Tahun 2 Bil 6 Disember 1987). Peranan Pendidik, Peranan Pendidik Dalam Pembentukan Ummah, Jurnal Pendidikan Islam, Biro Pendidikan , Angkatan Belia Islam Malaysia. Selangor Darul Ehsan, Malaysia. 7) Ghazali Darusalam (2001). Pedagogi Pedidikan Islam. Utusan Publication & Distributors. Kuala Lumpur, Malaysia. 8) Imam Al-Ghazali (1990). Ihya’Ulumiddin Juz 1. Darul Khair. 9) Imam Al-Ghazali (1980). Ihya ‘Ulumiddin Jelid 1. Terjemahan TK. H.Ismail Yakub. Perc. Menara Kudus. Indonesia. 10) Prof. Fathiyyah Hasan Sulaiman (1987). Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan. Universiti ‘Ain Syams Mesir. Maktabah Nahdlah Mesir, 11) Prof. Madya. Dr. Tajul Ariffin Noordin (1990). Pendidikan Suatu Pemikira Semula. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. 13

Slide 14: 12) Prof. Madya. Dr. Tajul Ariffin Noordin dan Prof. Madya. Dr Nor’ Aini Dan (2002). Pendidikan dan Pembangunan Manusia, Pendekatan Bersepadu, As-Syabab Media, Selangor Bangi Darul Ehsan, Malaysia. 13) Syamsul Bahri Tanrere (1993). Bimbingan Mengajar Bagi Calon Guru Ugama. Universiti Brunei Darussalam. 14) Haji Zainal Abidin Safarwan (1995). Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan, Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd. Perpstakaan Negara Malaysia. 14

Senin, 24 Maret 2008

Disiplin

eseorang sedang berteman dengan Setan. Ketika Fajar datang, dia tidak shalat. Dia berkata, “Aku akan mengerjakan shalat nanti.” Saat tengah hari (Zuhur) tiba, dia menunda shalatnya, sore hari (‘Ashar), dan malam hari pun tiba, dia berkata, Mungkin Aku akan shalat sebelum Aku tidur.” Akhirnya, dia tidak shalat sama sekali. Tidurnya seseorang yang tidak shalat adalah seperti tidurnya mayat dan baunya amat tidak sedap. Malaikat Rahmat pun tidak mau mendekatinya. Ruhnya tidak bisa naik (saat tidur itu), tetapi tetap terpenjara dalam kegelapan dunia. Sekelompok orang yang lain tidur setelah tengah malam dan bangun saat hari telah siang. Tidur seperti ini pun menyebabkan sakit. Tak seorang pun mesti tidur lebih dari 8 jam. Bila seseorang tidur lebih dari 8 jam, tubuhnya akan mulai menghabiskan energinya sendiri, dan hal ini akan membuat orang itu tak mampu bangun sama sekali. Sementara itu, segolongan orang lainnya tidak dapat tidur sama sekali, kecuali hanya jika mereka menggunakan pil. Dan pil valium (untuk obat tidur-red) adalah racun murni--yang juga menghabiskan energi tubuh dan merusak sistem saraf.

Masalah-masalah yang ada pada orang-orang ini adalah karena mereka hidup tanpa disiplin. Dan tidak akan ada disiplin tanpa Islam. Bagi semua orang seperti ini, dunia adalah bala’, mereka dalam keadaan terkutuk. Tidak peduli siapa mereka dan bagaimana “pentingnya” mereka, hidup mereka telah teracuni. Siapa pun yang lari dari disiplin, akan jatuh dari barakah menuju pada jurang yang penuh kutukan. Dan disiplin hanya ada dalam Islam, bukan pada sistem atau agama lain, karena Islam-lah yang memerangi nafs, ego, atau kedirian. Agama atau sistem lain mungkin menunjukkan suatu disiplin dari luar, tetapi itu pun berasal dari ego, karena ego ingin membuat disiplin menurut kemauannya sendiri. Itu adalah bala’ yang tengah memusnahkan setiap orang, baik secara individu maupun bersama. Tanpa disiplin, segala sesuatu hanya datang dari ego. Manusia menolak ukuran-ukuran yang Allah turunkan, hukum-hukum-Nya, dan mereka ingin membuat hukum-hukum mereka sendiri menurut keinginan dan kehendak mereka sendiri. Dan semua hukum-hukum ini (buatan manusia) bertentangan dengan kemanusiaan, karena mereka semua adalah imitasi, tidak sejati, dan tidak benar.

Manusia meminta kebebasan, segala sesuatu harus seperti yang mereka inginkan. Siapakah dari orang-orang itu yang hidup tanpa disiplin, yang dapat mengatakan bahwa dia dapat melakukan segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya? Jika ada yang dapat mengatakan seperti itu, maka mereka adalah pembohong. Mereka hidup seperti binatang-binatang buas dan liar di hutan belantara. Dan kedengkian tengah memakan mereka--wanita cenderung lebih mudah dengki kepada sesama wanita. Ahlu-Dunya tidak akan pernah menemukan kedamaian dan ketenangan dalam hidup mereka. Selalu sesuatu datang pada mereka dan mengganggu mereka, selalu akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Berhati-hatilah! Ingatlah akhir hayat Abu Jahal. Dia mempunyai segala sesuatu, tetapi dia tidak pernah tenang sepanjang hidupnya. Dia begitu sombong. Dan pada akhirnya dia dilempar ke dalam suatu sumur kering bersama 70 orang lainnya. Saat Rasulullah e datang ke sumur tersebut, beliau melihat ke bawah dan bertanya, “Apakah telah kamu jumpai akhir yang dijanjikan Allah kepadamu?” Para sahabat terheran dan bertanya, “Tetapi dapatkah mereka mendengarmu, Ya Rasulullah saw?” “Ya”, jawab beliau, “Mereka dapat mendengarku seperti kalian mendengarku sekarang. Dan mereka mengatakan bahwa benar, mereka telah mendapati akhir yang Allah telah janjikan kepada mereka.”

Lihatlah pada orang-orang yang telah menerima disiplin- mereka semua adalah Sulthan-Akhirat, dan mereka terhormat dan dihormati oleh orang-orang hingga sekarang. Ada heybet pada makam-makam mereka. Mereka telah mendapatkan bahkan lebih dari apa yang mereka harapkan (sebagaimana Allah telah berjanji pada mereka suatu balasan yang belum pernah didengar manusia dan belum pernah dilihat oleh seorang pun). Ada makam seorang suci di Siprus yang selalu terhormat dan dihormati, bahkan sebelum masa Dinasti Utsmaniyyah (Kekaisaran Ottoman). Dan setelah masa Ottoman pun, orang-orang Inggris tetap menghormatinya. Mereka biasa pula menembakkan Salut untuk Hala Sultan. Siapakah yang mengajar mereka untuk melakukan semua ini? Inilah kehormatan bagi para Sulthan-Akhirat itu. Semua bala’ di dunia saat ini adalah karena tidak ada lagi disiplin--orang-orang menjadi terkutuk… Yaa Muhauli hauli wa-l akhwal, hauli haalina ilaa ahsani haal… Kita memohon, “Wahai Allah, Engkau mengubah keadaan kami, Engkau dapat mengubahnya hanya dalam sekejap, turunkanlah rahmat, kasih sayang, dan hujankan pula rahmat itu ke dalam hati orang-orang, agar kutukan hilang dari mereka, dan mereka menjadi berdisiplin lagi. Jika tidak, mereka tidak akan lagi menemukan kebaikan…” Manusia telah habis, orang-orang sudah seperti sampah, teracuni. Semoga Allah mengirimkan rahmat-Nya bagi kita, Dia-lah Qadir, Muqtadir, Yang Mahakuasa, Yang Mahakuat… Wahai Allah I, kirimkan pada kami sang Sulthan, sang Padischah. Kami tak punya kekuatan untuk melakukannya. Engkau-lah yang harus mengirimkannya.

Dan kita mengucap “A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, Bismillaahir rahmaanir rahiim”, agar dikaruniai barakah dari basmalah. Dengan basmalah seonggok batu diubah menjadi burung yang hidup… Sohbet ini amatlah penting… Setan tidak akan membiarkan orang-orang menerima disiplin.

Disiplin dalam Islam

Jika kebenaran dan kejujuran sudah menjadi perilaku seseorang, ke mana, di saat dan di mana pun dia berada, dia tidak akan takut kendati mungkin banyak lawan maupun orang yang iri hati, hasad, dan dengki. Sebagaimana pernah terjadi pada diri baginda Umar bin Khaththab, khalifah kedua yang tegas, bijak dan jujur serta memiliki disiplin yang tinggi. Pada suatu malam beliau keluar rumah sendirian untuk mengadakan penelitian sampai di mana kemantapan dan kedisiplinan warganya dalam melaksanakan tugasnya, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial dan lainnya. Tiba-tiba di tengah jalan yang gelap gulita itu beliau bertemu seorang sahabat. Sahabat itu memperingatkan agar baginda jangan keluar sendirian di malam yang gelap-gulita seperti ini, karena dikhawatirkan akan ada orang-orang yang tidak suka, lalu berbuat jahat kepadanya. Namun apa kata baginda Umar ketika itu, dengan singkat jawabnya: "Mengapa aku harus takut, selama di dalam kebenaran."
Di dalam Al-Quran surat At-Taubah : 13 ada firman Allah yang senada dengan ucapan baginda Umar tersebut, yang artinya: "Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman."

Menghadapi Gangguan
Di dalam mengarungi lautan hidup ini, tidak lepas dari menghadapi gangguan, tantangan dan rintangan. Sesungguhnya tak ada hidup tanpa tantangan dan rintangan. Lebih-lebih menghadapi mereka yang memang tidak senang melihat ketinggian dan kemajuan Islam.
Ada golongan yang bersusah hati jika kaum muslimin memperoleh kebaikan dan kemajuan. Tetapi mereka sangat gembira dan bersenang hati jika kaum muslimin tertimpa malapetaka, kesusahan dan bahaya. Sebagaimana firman Allah SWT: "Jika kamu beroleh kebaikan, niscaya mereka susah, tetapi jika kesusahan menimpa kamu, maka bergiranglah mereka. Dan jika kamu sabar dan berbakti tidaklah menyusahkan kamu tipu daya mereka sedikit jua pun. Sesungguhnya Allah mengepung apa yang mereka kerjakan." (Q.S.Ali Imran:a.120).
Tidur mereka tidak tenang lagi, makan mereka tidak enak lagi. Mereka sendiri yang meracuni jiwa mereka dengan rasa benci dan dendam itu. Mereka susah melihat orang beruntung. Kalau kaum muslimin ditimpa oleh kesusahan, mereka gembira, tertawa-tawa dan merasa puas hati. Padahal di dalam perjuangan hidup, senang dan susah tidaklah pernah terpisah satu sama lain.
Kesusahan yang menimpa kaum muslimin sekali-kali bukan berarti gagal dalam perjuangan.
Orang-orang yang dengki melihat kemajuan orang lain, adalah termasuk orang yang Fii Quluubihim Maradhun yang dalam hati mereka ada penyakit. Hati busuk yang demikian tidaklah dapat mereka tutupi. Muka orang seperti itu keruh selalu, bahkan kadang-kadang bibir mereka berubah bentuknya, karena mulut mereka selalu digunakan untuk mencemooh.
Orang mukmin yang berjuang menegakkan kebenaran Ilahi, dipesan oleh Allah supaya memegang teguh kesabaran dan taqwa, tetap berdisiplin. Sabar, tabah jangan tergoncang daya upaya si busuk hati, si dengki iri hati. Supaya kebenaran itu bisa teguh, hendaklah selalu diberi dasar dengan taqwa. Karena taqwa adalah hubungan pribadi dengan Allah. Pribadi yang bertaqwa itulah yang akan sanggup menahan hati, tabah, dan tetap sabar selalu menjaga disiplin sehingga jalan terus menuju kepada yang dimaksud.
Adapun si kufur, si dengki dendam dan busuk hati, semua rencana mereka akan gagal karena di segala penjuru mereka telah dikepung oleh Allah dengan akibat-akibat yang tertentu. Sebagaimana kata pepatah: "Kecurangan tidak pernah menang menghadapi kejujuran."

Penyakit yang Tidak Boleh Dibiarkan
Di dalam merenungkan firman Allah di atas tadi, teringat kita kepada orang-orang munafik pada jaman kemajuan. Dengan lidah yang fasih mereka menyebut nama Allah, membuka dengan ucapan "Bismillahirrahman nirrahiim," dan menyebut : Muhammad shalallahu 'alaihi wassallama' dsb, padahal hatinya selalu bergemuruh dengan api kedengkian dan kebencian bagaikan direndang dengan kacang miang kalau kaum muslimin mendapat kemajuan.
Kaum muslimin diserukan oleh mereka supaya bangun dan bangkit berjuang demi tegaknya Islam, namun hati mereka berkata lain mengatakan biarlah mati karena benci. Ditipunya kaum muslimin berpuluh bahkan beratus kali. Kaum muslimin yang malang tetapi jujur kalau mendengar nama seseorang yang berjabatan tinggi selalu bertanya: "Sholat tidak bapak anu itu?" Demikian karena harapannya semoga hukum Allah berlaku, senang benar hatinya kalau ada seorang penting diangkat sambil berdoa dalam hatinya mudah-mudahan orang itu golongan awak juga (golongan orang-orang muslim yang taat). Padahal alangkah sedih hatinya, pengharapan mereka jadi hampa. Orang yang mereka sangka hendak menegakkan Islam ternyata berusaha berusaha meruntuhkannya. Kadang-kadang dia tertipu mendengar namanya. Semuanya ini adalah perbuatan apa yang dinamakan sebagai orang-orang munafik. Mulut-mulut manis penuh seribu janji demi mengelabui rakyat jelata, mengatasnamakan agama Allah demi keuntungan pribadi atau golongan, berdakwah seakan-akan demi tegaknya Islam padahal semata-mata niat utamanya hanyalah sekedar propaganda demi memperoleh dukungan agar menang dalam pemilihan suara. Kalau sudah terpilih menjadi seorang wakil rakyat atau pemimpin, mereka tak ubahnya seperti orang yang bisu tuli, tidak lagi mau mendengar suara hati dan jeritan kaum muslimin yang teraniaya, yang hidup dalam kefakiran, yang menjadi bulan-bulanan fitnah. Mereka hanyalah segerombolan orang munafik yang mementingkan kepentingan pribadi, tidak pernah peduli dengan nasib orang lain, atau bahkan lebih keji lagi mungkin menjual agama dan keyakinannya hanya demi segepok uang atau tender bisnis bernilai trilyunan dollar. Naudzubillah min dzalit. Gejala kemunafikan yang seperti ini tampaknya akhir-akhir ini demikian nyata semakin terlihat. Rakyat dan kaum muslimin hanya bisa mengelus dada menyaksikan semua kekejian ini. Semoga Allah segera memberikan petunjuk dan cahaya terangNya untuk menyinari dan membersihkan batin-batin yang telah terlanjur kotor itu, mengembalikan mereka kembali ke jalan yang benar, jalan yang ditunjuki Allah, kembali kepada penegakan kembali keadilan tanpa pandang bulu, kembali bisa melihat mana yang benar dan haq dan mana yang batil. Semoga mata hati mereka kembali bisa melihat dan tidak lagi buta, telinga mereka semoga bisa kembali mendengar dan tidak lagi tuli. Semoga..
Perbuatan orang-orang munafik yang curang sedemikian itu, adalah penyakit yang berbahaya bagi kaum muslimin dan juga bagi bangsa dan negara.
Tuhan terangkan semuanya itu supaya kaum muslimin mengetahui bahwa di dalam masyarakat itu ada orang-orang yang sifatnya seperti kuaman penyakit. Penyakit yang tidak boleh dibiarkan saja, tetapi harus dienyahkan dan dikeluarkan dari tubuh masyarakat kaum muslimin.
Tanda-tanda penyakit itu sudah diterangkan oleh Allah SWT dalam ayat Al-Quran tadi. Tetapi adakah juga Tuhan terangkan obat penyembuhnya? Jawabnya tentu saja ada obatnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Likulli daa-in dawaa-un faidzaa ushiiba dawaa-ud daa-i baaria bi idznillahi ta'ala." Artinya: "Bagi tiap-tiap penyakit ada obatnya, maka apabila obat itu dikenakan pada penyakit itu niscaya sembuhlah dengan izin Allah Ta'ala." (H.R. Ahmad dan Muslim).

Bantuan dan Pembelaan Allah
Obat yang Allah tunjukkan dalam Al-Quran buat membunuh racun yang bekerja dalam tubuh kaum muslimin, adalah obat yang mujarab sekali, dibenarkan oleh pendapat ahli-ahli hikmah dan oleh orang-orang bijaksana.
Adapun penyakit yang ditimbulkan oleh orang-orang munafik dan curang itu ialah penyakit hasad, dengki. Maka obatnya yang telah Tuhan terangkan ialah sabar dan taqwa (berbakti kepada Allah).
Sabar artinya tetap bertahan atau berteguh hati kuat menghadapi gangguan dan permusuhan mereka dan segala penyakit bahaya dan fitnah yang ditimbulkan oleh mereka. Sabar menerima segala macam kesusahan dan ujian yang menimpa, jangan gelisah jangan berubah dari cita-cita yang benar dan jangan terpengaruh dengan gangguan mereka. Dan sabar pula dalam menghadapi kesenangan dan nikmat yang datang berlimpah-limpah, jangan lupa daratan, jangan berbelok dari jalan yang hak, jangan terpengaruh dengan sanjungan dan pujian.
Pendeknya tetaplah dalam pendirian sekalipun ditimpa bahaya kesusahan atau dihujani kesenangan, dan kemewahan. Di waktu mendapat bahaya harus bersabar dan di waktu mendapat kesenangan harus bersyukur kepada Allah SWT.
Sabda Rasulullah SAW: "Man u'thia fasyajara, wa-abtulia fasabara wa zhalama fastaghfara tsumma sakata faqaaluu ya Rasulullah ma lahu? Qaala ulaaika lahumul amnu wahum muhtaduun." Artinya: "Barang siapa diberi lalu ia bersyukur, mendapat cobaan dia sabar, bila melakukan tindakan aniaya dia mohon ampun, dan bila dia dianiaya dia maafkan, kemudian Rasulullah diam, lalu para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, dapat apa ia? Jawabnya: Mereka itulah memperoleh ketentraman dan mereka itu mendapat petunjuk." (HR.Thabrari).
Adapun bakti arti disipilin menjalankan perintah Tuhan. Kerjakan yang diperintah dan jauhkan yang dilarang, kemudian berserah diri bulat-bulat kepada Allah SWT.
Gangguan musuh dalam selimut itu janganlah sampai mempengaruhi keadaan, jangan melanggar larangan Tuhan, jangan menyia-nyiakan perintahNya. Anggaplah gangguan musuh dalam selimut itu, sebagai nyamuk atau kutu busuk yang menggigit menyadarkan kita jangan sampai terus-menerus tidur. Inilah satu didikan dan pengajaran dari Allah SWt. Buat kita menghadapi orang-orang hasad dengki, yang selalu bekerja buat menimbulkan kerusakan dan kerusuhan dalam masyarakat kaum muslimin dari sebelah dalam yaitu kita hadapi dengan sabar dan bakti kepada Allah SWT.
Kalau semua resep ini dijalankan oleh kaum muslimin dalam menghadapi gangguan musuh dalam selimut atau lawan yang berbaju kawan, niscaya segala tipu daya musuh, segala macam cara jahat sebagai perangkap, buat mengacaukan masyarakat kaum muslimin, tidaklah membahayakan kaum muslimin. Karena kaum muslimin sudah berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Tuhan, dalam bantuan dan pembelaanNya.

Penutup
Orang-orang bijaksana mengatakan, apabila engkau ingin membikin tidak berdaya usaha orang-orang yang dengki, musuh-musuh yang memakai pakaian kawan, yang mengaku beriman hanya di hadapan, imannya hanya di bibir padahal hatinya lebih banyak condong kepada kufur, yang lebih senang kalau kaum muslimin hancur lebur, jangan sekali-kali mereka itu dijadikan tempat menumpahkan kepercayaan buat kepentingan agama dan umat. Karena mereka tidak akan bekerja meninggikan agama dan tidak pula mereka bekerja memajukan kaum muslimin, bahkan mereka bekerja buat memadamkan Islam dan menghancurkan kaum muslimin. Maka waspadalah kepada tipe-tipe orang seperti itu! Mereka adalah musuh yang nyata!
Kalau segala gangguan dan fitnah yang mereka timbulkan dalam masyarakat Islam itu dihadapi dengan sabar dan bakti kepada Allah, niscaya tipu daya jahat mereka sedikitpun tidak akan membahayakan Islam dan kaum muslimin. Jangan dihiraukan tipu daya mereka, karena Allah mengetahui segala perbuatan mereka dan akan dibalas dengan balasan yang setimpal dengan kejahatannya dan tipu dayanya. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kaum muslimin sekalian. Amien.

Sabtu, 22 Maret 2008

Rahasia Solat 5 Waktu

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, "Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, 'Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.'

Lalu Rasullullah SAW bersabda, 'Silahkan bertanya.'

Berkata orang Yahudi, 'Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.'

Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.'

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah saw, lalu mereka berkata, 'Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.'

Rasullullah SAW bersabda, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.'

Sabda Rasullullah saw lagi, 'Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.'

Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, 'Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.'

Sabda Rasullullah saw, 'Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.'

Sabda Rasullullah saw seterusnya, 'Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah saw, maka mereka berkata, 'Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah S.W.T mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?'

Sabda Rasullullah saw, 'Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T kepada makhluk-Nya.'

Kata orang Yahudi lagi, 'Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.'

Sabda Rasullullah saw, 'Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T, dia akan diberikan oleh Allah S.W.T 7 perkara:


1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
7. Allah S.W.T akan memberinya kemudian di syurga.'

Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.'

Sabda Rasullullah saw, 'Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).'

Kata orang Yahudi, 'Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).'

Sedikit peringatan untuk kita semua: "Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

Memelihara Ikatan hati dan Iman

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Kesederhanaan Rosulullah

Ketika Islam telah memiliki pengaruh yang sedemikian kuat dan disegani, dan ketika para raja-raja di Romawi bergelimang harta, maka Rasulullah masih saja tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri, tidak menyuruh isterinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing, untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina 'Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat. Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan'). Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini." tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya. Ini sesuai dengan sabda beliau, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya." Prihatin, sabar dan tawadhu’nya baginda SAW sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat :
"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar"
"Ya Rasulullah... mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit..."
desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
"Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?"
Lalu baginda menjawab dengan lembut,
”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."

Baginda Rasulullah pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu. Kecintaannya yang tinggi terhadap Allah SWT dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih saja berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Hingga ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah,
"Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"
Jawab baginda dengan lunak,
"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

Ketika ajalnya dekat menjelang, Rasulullah SAW masih sempat-sempatnya memikirkan umatnya. Ketika Jibril berkata, "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, wahai Rasul Allah”. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?", tanya Rasulullah seolah tak tega meninggalkan kita semua (umatnya) tanpa kepastian dibebaskannya umatnya dari api neraka.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi, "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Demikian sayangnya Rasulullah SAW kepada kita sebagai umatnya, hingga di detik-detik terakhir ajal beliau masih berdoa bagi kebaikan umatnya.

Kematian yang Indah

Khalid bin Walid, panglima perang Islam semasa Rasulullah SAW, bercita-cita mati syahid di medan perang. Allah ternyata berkehendak lain. Pahlawan legendaris yang digelari Saifullah (pedang Allah) itu justru meninggal dalam kesendirian di kamarnya. Bagi kaum Muslimin, mati syahid dalam pertempuran melawan musuh-musuh Islam, memang, terasa gagah. Heroik dan dramatis. Mati syahid, mati saat berjihad membela kebenaran di jalan Allah dan demi memperoleh ridha Allah, bukan hanya kematian yang indah, tapi juga mulia; memenuhi janji Allah untuk hidup abadi di sisi-Nya.

Allah berfirman, ''Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka.'' (Ali 'Imran ayat 169-170). Itulah salah satu sebab mengapa banyak orang terpanggil untuk berjihad di jalan Allah dan bercita-cita mati syahid. Persoalannya, jihad itu bukan hanya berperang melawan musuh-musuh Islam seperti di zaman Khalid bin Walid dulu. Istilah jihad, tulis Dr M Quraish Shihab dalam Wawasan Alquran, sering disalahpahami atau dipersempit artinya.

Alquran mengisyaratkan jihad sebagai perjuangan melawan kebatilan. Sepanjang hayat manusia, bahkan sampai kiamat kelak, dituntut untuk berjuang melawan segala bentuk kebatilan. ''Al-jihad madhin ila yaum al-qiyamah.'' (jihad, perjuangan, terus berlanjut sampai hari kiamat). Jihad itu banyak bentuk dan macamnya. Begitu pula kebatilan. Jihad di jalan-Nya juga bukan hanya perang secara fisik melawan kebatilan yang berada di luar, tapi juga di dalam diri kita sendiri.

Dalam surat At-Taubah ayat 24, Allah berfirman, 'Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'.''
Ayat tersebut menunjukkan keutamaan berjihad di jalan Allah, seperti keutamaan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak ada kata pedang, senjata, atau bau darah di dalamnya. Setiap Muslim, apa pun profesi dan pekerjaannya, yang menegakkan kebenaran demi Allah, punya kesempatan yang sama untuk berjihad.

Para pemberani yang kukuh dan teguh melawan kebatilan, kezaliman, dan kebiadaban seperti Munir (almarhum), misalnya, insya Allah, termasuk orang-orang yang lulus menempuh ujian, dengan segala kemampuan, kesabaran, dan ketabahannya. Jihad adalah cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Orang yang tahan uji seperti itu, kalaupun gugur di jalan Allah, ia menempuh kematian yang indah. Seperti kata Allah, ia tidak mati, bahkan hidup di sisi Allah d
engan mendapat rezeki-Nya.

Jenis Siksaan Wanita di Neraka

nilah sepuluh jenis siksaan yang menimpa wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika melalui peristiwa Israk dan Mikraj, inilah peristiwa yang membuat Rasulullah menangis setiap kali mengenangkannya.

Dalam perjalanan itu, antaranya Rasulullah SAW diperlihatkan (1) perempuan yang digantung dengan rambutnya, sementara itu otak di kepalanya mendidih. Mereka adalah perempuan yang tidak mau melindungi rambutnya agar tidak dilihat lelaki lain.

Siksaan lain yang diperlihatkan Rasulullah SAW ialah (2) perempuan yang digantung dengan lidahnya dan (3) tangannya dikeluarkan dari punggungnya dan (4) minyak panas dituangkan ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang suka menyakiti hati suami dengan kata-katanya.

Rasulullah SAW juga melihat bagaimana (5) perempuan digantung buah dadanya dari arah punggung dan air pohon zakum dituang ke dalam kerongkongnya. Mereka adalah perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa keizinan suaminya.

Ada pula (6) perempuan diikat dua kakinya serta dua tangannya sampai ke ubun dan dibelit beberapa ular dan kala jengking. Mereka adalah perempuan yang mampu sholat dan berpuasa tetapi tidak mau mengerjakannya, tidak berwudhu dan tidak mau mandi junub. Mereka sering keluar rumah tanpa mendapat izin suaminya terlebih dulu dan tidak mandi yaitu tidak bersuci selepas habis haid dan nifas.

Selain itu, Rasulullah SAW melihat (7) perempuan yang makan daging tubuhnya sendiri sementara di bawahnya ada api yang menyala. Mereka adalah perempuan yang berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang lain.

Rasulullah SAW juga melihat (8) perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting neraka. Mereka adalah perempuan yang suka mencari perhatian orang lain agar melihat perhiasan dirinya.

Siksaan lain yang dilihat Rasulullah SAW ialah (9) perempuan yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya pula seperti keledai. Mereka adalah perempuan yang suka mengadu domba dan sangat suka berdusta.

Ada pula perempuan yang Rasulullah SAW lihat (10) bentuk rupanya seperti anjing dan beberapa ekor ular serta kala jengking masuk ke dalam mulutnya dan keluar melalui duburnya. Mereka adalah perempuan yang suka marah kepada suaminya dan memfitnah orang lain.

Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan wanita atau menempatkan wanita sebagai sumber dosa. Inilah keadaan seadanya yang sesuai riwayat yang ada.

Menumbuhkan Kasih sayang Suami Istri

Ketenteraman, ketenangan dan kasih sayang kepada pasangan merupakan target yang diupayakan untuk terwujud dalam rumah tangga, ia bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan pasangan suami istri, meskipun Allah menyatakan bahwa semua itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaanNya akan tatapi tidak berarti bahwa pasangan suami istri pasrah tanpa ada upaya dan usaha untuk mewujudkannya melalui langkah-langkah yang menjadi sebab ketenangan dan kebahagiaan suami istri, bagaimana pun Allah mengaitkan sesuatu dengan sebabnya.

Hadiah

Hadiah berpengaruh besar dalam menumbuhkan cinta kasih suami istri lebih-lebih jika pemilihan dan momennya tepat, sekecil apapun hadiah tersebut karena biasanya pasangan tidak melihat kepada apa yang dihadiahkan akan tetapi kepada penghadiahan itu sendiri yang merupakan wujud dan ungkapan kasih sayang. Bukankah lumrah kalau orang cenderung tidak memberi kecuali kepada orang yang dia cintai? Untuk itu tidak perlu berkhayal hadiah mahal yang menipiskan dompet, itu kalau Anda berduit, akan tetapi cukup sesuaikan dengan mizaniyah yang mampu Anda pikul. Suami misalnya sepulang kantor dia bisa mampir ke sebuah warung atau toko membeli sesuatu atau makanan yang terjangkau kesukaan keluarga, ketika istri membuka pintu menyambutnya pulang, sementara di tangan suami ada sesuatu untuknya dimakan bareng-bareng tentu hal ini membuat semua anggota keluarga tersenyum. Istri pun bisa melakukannya untuk suami, tetapi kalau istri tidak bekerja dari mana dia bisa memberi hadiah kepada suami? Jangan cemas, buatkan saja makanan atau minuman kesukaannya pada saat tertentu lebih-lebih jika hal itu tidak diberitahukan sebelumnya, ini bisa jadi kejutan bukan? Begitu besarnya pengaruh hadiah dalam menumbuhkan kasih sayang ini ditetapkan oleh sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Bukhari dari di al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah.

“ تَهَادَوْا تَحَابُوا.” (Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling menyayangi).

Salam

Salam adalah doa keselamatan, ia pengusir keterasingan, kemarahan dan kebencian, ia indikasi terjalinnya hubungan baik dan kasih sayang, tentunya yang paling layak mendapatkan semua itu adalah keluarga. Ketika suami hendak meninggalkan rumah atau ketika dia pulang ke rumah atau ketika istri meminta izin keluar kepada suami karena ada hajat yang harus ditunaikan dan pada semua itu diiringi dengan ucapan salam niscaya lenyaplah kemarahan yang mungkin tersisa di dalam hati, berganti dengan ketenteraman dan kelapangan, plong rasanya. Inilah pengarahan Rasulullah saw kepada para sahabat,

وعن إبي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال : قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلًّمَ : " لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ." رواه مسلم

Dari Abu Hurairah rhu berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling menyintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya niscaya kalian saling menyintai ? Tebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim).

Lihatlah Rasulullah saw menetapkan bahwa menebarkan salam di antara kaum muslimin membuat mereka saling menyintai. Bukankah suami istri juga termasuk kaum muslimin? Dan sebelum itu al-Qur`an telah berbicara,

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nur: 65).

Imam an-Nawawi di Riyadhus Shalihin menulis bab, ‘Anjuran salam jika masuk rumahnya’ lalu beliau menyebutkan ayat di atas dan hadits Anas, dia berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai anakku jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam karena ia adalah barakah atasmu dan keluargamu.” (HR. at-Tirmidzi dia berkata, “Hadits hasan shahih.”).

Membantu

Membantu pasangan dengan mengambil alih sebagian dari tugas-tugasnya menimbulkan perasaan dalam diri pasangan, ‘Oh ternyata suami saya atau istri saya tidak menginginkan saya dalam kesulitan, dia ingin meringankan beban saya dan itu sebagai realisasi cintanya kepada saya.’ Dalam kondisi ini, karena pasangan merasa diperhatikan dengan bantuan Anda kepadanya, tentunya dia akan membalasnya dengan cinta pula. Biasanya yang membuat pasangan emoh membantu adalah perasaan gengsi, dia menganggap tidak level mengerjakan pekerjaan tersebut, ini umumnya terjadi pada suami, yang ada di benak suami, ‘masak aku sebagai ini, sebagai itu harus turun keprabon atau harus nyuci piring kotor atau harus nyeboki anak dan sebagainya,’ pikiran seperti ini kurang tepat, memang tanpa Anda turun ke belakang mengerjakan sebagian tugas istri tidak akan membuat hubungan Anda dengannya menjadi buruk, akan tetapi jika Anda bersedia membantunya niscaya ada yang lain dalam arti positif antara Anda dengan dia, ya minimal jika istri anda sakit misalnya Anda tidak perlu kalang kabut dengan urusan belakang Anda karena sebagian darinya telah biasa Anda kerjakan dan belum tentu anda mampu membayar pembantu.
Buang sajalah rasa gengsi itu bukankah pemimpin adalah abdi rakyatnya? Orang-orang Arab berkata,

“ سَيِّدُ القَوْمِ خَادِمُهُمْ .” (Pemuka suatu kaum adalah pelayan mereka).

Simaklah keteladanan baginda Nabi saw. Dari al-Aswad bin Yazid berkata, Aisyah ditanya, “Apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah?” Aisyah menjawab, “Melayani keluarganya. Jika tiba waktu shalat beliau pergi shalat.” (HR. al-Bukhari).

Beliau juga bersabda,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ .

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.” (HR. at-Tirmidzi dia berkata, “Hadits hasan shahih.”).

Sentuhan

Sentuhan lembut adalah salah satu bahasa cinta, memang kasih sayang tidak harus dibahasakan dengan sentuhan, saya yakin pasangan Anda menyayangi anda ker Allah dengan tulus, akan tetapi bagaimanapun cinta dan kasih tanpa sentuhan adalah garing dan sesuatu yang garing lama-lama bisa mati lho.. inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw ketika beliau mencium dua cucu tercintanya Hasan dan Husain dan itu dilihat oleh seorang Arab badui yang garing, badui ini berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak, tidak seorang pun dari mereka yang aku cium.” Rasulullah saw menjawab, “Apa yang bisa aku perbuat kalau Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Lihatlah di sini, Nabi saw tidak menutup kemungkinan dicabutnya kasih sayang dari badui ini manakala tidak ada sentuhan apapun darinya kepada anaknya.

Sentuhan, ciuman, pelukan, berpegangan tangan dan yang sepertinya di samping mendekatkan dari sisi fisik ia juga mendekatkan dari sisi emosi, bisa dipastikan pasangan Anda akan merespon dan pada saat itu terjalinlah sesuatu yang hanya anda rasakan dengan pasangan. Pastinya, orang yang tidak menyayangi tidak disayangi.

Memberi pujian

Memberi pujian kepada pasangan dalam waktu-waktu tertentu. Pujian karena sesuatu yang diucapkan atau dilakukan oleh pasangan, atau pujian fisik seperti kata-kata ‘cantik’ atau ‘baik’ atau ‘kamu perhatian’ dan sejenisnya membuat pasangan merasa dihargai dan diperhatikan, dia merasa keberadaaannya berarti dan diperlukan dan tidak ragu ini memberikan saham positif dalam mempererat keharmonisan dan kemesraan suami istri.

Pujian adalah kata-kata yang baik, ia menenteramkan dan menenangkan hati. Pujian yang baik dan tepat memberi dorongan kepada pasangan yang dipuji untuk melakukan lebih baik daripada apa yang telah dilakukan atau paling tidak mempertahankannya. Pujian yang baik dan tepat mengobati ucapan dan sikap kepada pasangan yang mungkin keliru dan tidak patut untuk diucapkan dan dilakukan, ia menjembatani keduanya untuk lebih mendekat.

وَعَنْ أُمِّ كُلْثُوْمٍ بِنْتِ عُقْبَةَ بن أَبِي مُعَيط رضي الله عنها قالت : سَمِعْتُ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلًّمَ يقول : " لَيْسَ الكَذَّابُ الّذِي يُصْلحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا ، أَوْ يَقُوْلُ خَيْرًا وفي رواية مسلم زيادة ، قالت : وَلَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُوْلُهُ النَّاسُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ تَعْنِي : الحَرْبَ ، وَلإِصْلاَحَ بَيْنَ النَّاسِ ، وَحَدِيثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَحَدِيثَ المَرْأَةِ زَوْجَهَا .

Dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Muaith berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bukan pendusta orang yang memperbaiki di antara manusia lalu dia menyampaikan berita kebaikan atau berkata kebaikan.” (Muttafaq alaihi).
Tambahan riwayat Muslim dia berkata, “Aku tidak mendengar Rasulullah saw memberi keringanan pada sesuatu dari apa-apa yang diucapkan oleh manusia kecuali pada tiga perkara yakni perang, islah (perbaikan) di antara manusia dan pembicaraan suami kepada istri, pembicaraan istri kepada suami.”

Kebersihan diri

Maklum bagi kita kalau jiwa manusia menyukai yang bersih dan menjauhi yang kotor. Bagaimana hubungan Anda dengan pasangan bisa mesra dan harmonis jika Anda atau pasangan Anda dalam keadaan tidak bersih? Dan biasanya yang tidak bersih itu menimbulkan bau yang tidak sedap, lumrah kalau bau tidak sedap dijauhi karena ia mengganggu bahkan malaikat pun merasa terganggu oleh bau tidak sedap. Kalau pasangan menjauh karena ketika dia mau dekat atau duduk berdampingan atau hendak merengkuh Anda, yang dia endus adalah sesuatu yang menusuk hidung, lalu di mana mesranya? Pasangan ‘ogah’ nempel.

Bagi seorang muslim kebersihan bukan barang aneh atau benda asing, karena dalam Islam terdapat syariat thaharah yang meliputi thaharah dari hadats: wudhu dan mandi, thaharah najas termasuk badan dan pakaian. Semua itu adalah kebersihan. Dalam Islam terdapat anjuran berminyak wangi bagi suami dan kondisi tertentu, terdapat anjuran kepada istri untuk berhias demi suami, terdapat anjuran bersiwak yang merupakan kebersihan mulut dan mulut adalah pemupuk keharmonisan. Kata orang, ciuman orang tua kepada anak di kening dan ciuman suami kepada istri atau istri kepada suami di bibir.

Jagalah kebersihan diri karena orang yang paling berhak merasa nyaman dan tenteram berada disamping Anda adalah pasangan Anda.

Bercanda

Bercanda adalah rehat hati, pikiran, obat kejenuhan, penawar kebosanan dan penghasil senyuman, Anda bisa bayangkan dinginnya hubungan suami istri jika tidak diselingi gurau, suami yang sibuk dengan pekerjaan demi menjaga periuk dapur agar tidak terbalik, lalu istri, kalau ia tidak bekerja di luar rumah, kalau dia bekerja maka lebih-lebih, dengan rutinitas rumah yang tidak bisa dikatakan lebih ringan daripada suami, dalam kondisi seperti ini bagaimana rasanya hubungan keduanya jika tanpa canda dan gurau? Tidak ada salahnya kalau Anda mencoba agar Anda merasakan dan mengetahui pengaruh positif gurauan bagi hubungan Anda dan pasangan.

كُلُّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيْهِ ذِكْرُ اللهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ : مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ...

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia belaka, kecuali empat perkara: percandaan laki-laki terhadap istrinya…” (HR. An-Nasa`i).

Melakukan berdua

Melakukan berdua merajut kebersamaan dan kedekatan fisik. Tahukah Anda bahwa kedekatan jiwa bisa berawal dari kedekatan fisik? Dari sini kita memahami larangan tasyabuh dengan orang-orang kafir karena kebersamaan perbuatan menggiring kepada kebersamaan keyakinan. Di tengah kesibukan Anda berdua memikul kewajiban rumah tangga jangan haramkan diri Anda dari berdua-duaan dengan pasangan walaupun hanya sekedar duduk-duduk membicarakan hal-hal ringan, atau melakukan kegiatan rumah berdua, bersih-bersih rumah atau membuat makanan kesukaan berdua lalu di makan berdua atau mengunjungi kerabat atau rekan karib hanya berdua tanpa anak-anak, sesekali dilakukan Anda akan merasakan kedekatan dengan pasangan atau mandi berdua, kenapa tidak? Nabi saw sendiri melakukannya dengan Aisyah.
Aisyah berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلًّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ وَاحِدٌ فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُوْلَ دَعْ لِي دَعْ لِي ، قَالَتْ : وَهُمَا جُنُبَانِ .

“Aku dan Rasulullah pernah mandi bersama dari satu gayung untuk berdua (secara bergantian), lalu beliau mendahuluiku sehingga kau katakan, ‘biarkan untukku, biarkan untukku,’ ia berkata, ‘sedang keduanya dalam keadaan junub’.” (HR. Muslim).

Terapi Ghibah

DAMPAK-DAMPAK GHIBBAH

1. Dampaknya Bagi sebuah Kelompok Dakwah

a. Kerasnya Hati, kaum beriman adalah orang-orang yang senantiasa lembut hatinya baik terhadap RABB-nya maupun terhadap sesama saudaranya, alangkah bahagianya kelompok dakwah yang para aktifisnya memiliki hati-hati yang bening bagai kaca, mereka tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan lisan-lisan mereka senantiasa dipenuhi zikir dan doa bagi saudaranya sesama muslim, firman ALLAH:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : Wahai RABB kami, beri ampunlah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah ENGKAU membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai RABB kami sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayag.” (QS 59/10)

b. Mendapat azab, berupa perpecahan dan silang sengketa yang tidak putus-putusnya dikalangan para aktifisnya dan timbulnya kedengkian dan permusuhan, kata-kata yang kasar dan caci-maki, yang kesemuanya bukan akhlaq yang Islami. ALLAH SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar memperkuat persaudaraan diantara mereka dan menyatakan bahwa persaudaraan itu sebagai salah satu tanda keimanan dalam firman-NYA:

“Hanyalah yang disebut orang-orang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan diantara saudaramu, dan bertaqwalah kepada ALLAH semoga kalian mendapat rahmat.” (QS 49/10)

2. Dampaknya Bagi para Aktifis

a. Diazab masing-masing, dan azab tersebut disegerakan ketika ia baru masuk ke dalam kubur, kata Ibnu Abbas ra:

Nabi SAW pernah melewati 2 kuburan lalu beliau SAW bersabda : “Kedua orang ini diazab, dan tidaklah mereka diazab karena sesuatu yang besar menurut mereka, padahal ia adalah dosa besar, adapun yang seorang ia sering mengadu domba diantara manusia, adapun yang satunya tidak bersih bersuci setelah buang air kecil.” (HR Bukhari 1/273 dan 276, Muslim 292, abu Daud 20, Tirmidzi 70, Nasai 1/28 dan 30)

b. Malas Melakukan Kewajiban, orang-orang yang berhati busuk maka ia akan kehilangan sifat khusyu’ dalam hatinya dan tidak bisa merasakan kelezatan ibadah dan munajat dalam dirinya, sehingga ibadahnya menjadi kering dari manisnya iman, firman ALLAH SWT:

“Minta tolonglah kalian semua melalui sabar dan shalat, dan sungguh hal itu teramat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang menduga bahwa mereka akan menemui RABB-nya dan mereka akan dikembalikan kepada-NYA.” (QS 2/45-46)

c. Munafik, orang-orang yang berhati busuk pada orang lain maka oleh ALLAH SWT akan dihilangkan sifat kejujuran dalam dirinya dan ditumbuhkan sifat kemunafikan, karena kebiasaannya merusak kehormatan orang mu’min, sabda nabi SAW:

“Ada 4 sifat yang jika lengkap ada pada diri seseorang maka ia akan menjadi munafik sejati, dan jika ada salah satunya maka ia memiliki sifat kemunafikan sampai ditinggalkannya : Jika dipercaya ia khianat, jika bicara ia dusta, jika janji ia ingkar dan jika berdebat maka ia melampaui batas.” (HR Muttafaq ‘alaih)

TERAPI GHIBBAH

1. Senantiasa mengikhlaskan niat kepada ALLAH dalam semua aspek kehidupan dan memperkuat ketaqwaan kepada-NYA, firman-NYA:

“Wahai sekalian manusia sungguh KAMI menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, lalu KAMI menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling taqwa diantara kalian adalah yang paling taqwa diantara kalian, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS 49/13)

2. Merasakan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita dicatat dan akan dipertanggung-jawabkan di hadapan ALLAH SWT, firman-NYA:

“Dan tidaklah satu katapun yang mereka ucapkan kecuali ada malaikat yang senantiasa dekat lagi mencatat.” (QS 50/18)

3. Senantiasa melakukan pengecekan secara teliti terhadap kebenaran berita yang berkenaan dengan diri seseorang atau kelompok, firman-NYA:

“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka ceklah kebenaran berita itu dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa tahu persis keadaan sebenarnya yang menyebabkan kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49/6)

4. Menahan marah dan mengendalikan hawa-nafsu:

“Dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan manusia, maka sesungguhnya ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS 3/134)

5. Mencari lingkungan yang bersih dan jauh dari mencaci dan meng-ghibbah orang lain dan menyibukkan diri untuk melihat dan memperbaiki kekurangan diri:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain, karena boleh jadi yang diejek itu lebih baik dari kamu (disisi ALLAH)… Dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri (saudara sesama muslim), dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah kalian beriman, dan barangsiapa yang tidak segera bertaubat maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS 49/11)

6. Selalu berprasangka baik kepada sesama muslim dan mencarikan alasan baik jika melihat kekurangannya serta menasihatinya secara sembunyi:

“Mengapakah di waktu kalian mendengar berita itu orang-orang mu’min tidak bersangka baik kepada diri mereka sendiri (saudara sesama muslim) dan (lalu) berkata : Ini adalah suatu kedustaan yang nyata.” (QS 24/12)

7. Menutupi aib sesama muslim dan tidak berusaha menyebar-nyebarkan keburukan orang lain:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita tentang perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan ALLAH lebih Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS 24/19)

8. Mendakwahi para ulama dan panutan masyarakat yang memiliki sifat senang mencari-cari kesalahan orang lain dan meng-ghibbah.

9. Mencari kejelasan dari kata-kata dan pembicaraan sehingga tidak menduga-duga maksudnya.

10. Mendakwahi ummat agar sensitif dan mencegah terhadap para pelaku ghibbah.

11. Senantiasa men

Makna Tawadu`

Ta’rif Tawadhu’:
Yaitu sikap merendahkan dan menghinakan diri kepada yang berhak yaitu ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, juga kepada orang-orang yang ALLAH SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu’ pada mereka seperti kepada para Nabi SAW, para Imam dan qiyadah, para hakim, para ulama, dan orangtua.

Adapun bersikap tawadhu’ pada semua makhluq maka hukum asalnya bahwa perbuatan tersebut terpuji jika diniatkan untuk mencari ridha ALLAH SWT. Sabda Nabi SAW: “Tidak akan pernah berkurang harta karena bersedekah, dan tidaklah seorang hamba bersikap pemaaf kecuali akan ditambah kemuliannya oleh ALLAH SWT, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu’ kecuali akan diangkat derajatnya oleh ALLAH SWT.” [2] Sedangkan bersikap tawadhu’ pada ahli dunia dan orang zhalim maka hal tersebut bertentangan dengan sikap ‘izzah.

Tawadhu’ lebih umum dari khusyu’, karena ia mencakup pada sesama hamba dan pada Sang Pemilik hamba, sedangkan khusyu’ tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada Pemilik hamba saja.

Berkata al-Fudhail rahimahullah: “Tawadhu’ adalah sikap menerima kebenaran dan melaksanakannya dan menerima kebenaran tersebut dari siapapun datangnya.”

Berkata ‘Atha: “Yaitu sikap menerima kebenaran dari manapun datangnya, sikap ‘izzah adalah bagian dari tawadhu’ juga, tetapi sikap sombong bukan bagian dari tawadhu’, barangsiapa mencari-cari kemungkinan bersikap sombong dari tawadhu’ sama seperti seorang yang mencoba mencari air di dalam api.”

Berkata seorang ‘alim saat menasihati putranya: “Wahai ananda, hiasilah ketinggianmu dengan sikap tawadhu’, sikap kemuliaan dengan agama dan ambillah sifat pemaaf dari ALLAH SWT dengan bersikap pemaaf juga pada semua manusia.”

Seorang yang mutawadhi’ yaitu seorang yang tumbuh dalam dirinya kerendahan dan ketinggian semata-mata karena keimanannya pada ALLAH SWT, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan, harga diri, harta dan potensi yang dimilikinya atau orang lain. Sebab kemuliaan dan kehinaannya semata-mata karena pengetahuannya yang luas tentang hubungan dirinya dan seluruh makhluq kepada ALLAH yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, ..dan DIA adalah Maha Berkuasa di atas semua hamba-NYA.. [3] Sehingga ia merasa tidak akan mampu keluar dari hukuman dan kekuasaan ALLAH SWT dan kerajaan-NYA .. Wahai semua Jin dan manusia seandainya kalian mampu menembus penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, tetapi ketahuilah bahwa kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan ALLAH .. [4]

Sehingga ia sangat menyadari kebutuhannya dan kefakirannya terhadap ALLAH SWT dan pengampunan-NYA saat ia membaca ..Sesungguhnya ALLAH-lah yang Maha Kaya dan kalian semua adalah para fuqara.. [5] Dan iapun menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari ALLAH SWT ..Dan tidaklah semua nikmat yang sampai kepadamu kecuali dari ALLAH .. Sehingga karena semua pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya sikap sombong dan merasa lebih, karena telah meresapnya keyakinan yang menghunjam ke dalam hatinya, sehingga Pemiliknya memujinya ..Dan hamba-hamba ar-Rahman itu ialah yang berjalan dimuka bumi ini dengan merendahkan diri, dan jika ia ditegur oleh orang-orang jahil maka ia mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.. [6] Berkata al-Hasan: Seorang ulama adalah lemah lembut, berkata Muhammad bin al-Hanafiyyah: Para sahabat nabi SAW itu adalah orang yang jika dicaci diri mereka maka mereka menjawab dengan lemah lembut, sehingga berfirman ALLAH SWT memuji sikap mereka ..mereka itu bersikap lemah lembut pada sesama mu’min dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir.. [7] Sehingga berkata ‘Atha: Mereka kepada orang-orang mu’min adalah seperti seorang ayah pada anak-anak mereka, tetapi kepada orang-orang kafir seperti seperti harimau pada mangsanya.

Berkata Ibnu Mas’ud ra: Bersabda Nabi SAW: Tidak akan masuk jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan. [8] Juga telah berkata SAW: Maukah kalian aku kabarkan tentang ahli neraka? Yaitu orang-orang yang pencela, keras hati dan sombong. [9] Dan telah bersabda Nabi SAW: Maukah aku kabarkan pada kalian orang-orang yang neraka diharamkan atas mereka? Yaitu mereka yang lembut perkataannya, halus budinya dan mudah dalam segala hal. [10]

Jenis-Jenis Tawadhu’

Hendaknya seorang da’i bersikap tawadhu’ terhadap kebenaran, merendahkan diri padanya dan tunduk padanya dan tidak berusaha mendebat pada kebenaran tersebut walaupun tidak ia sukai, karena SAW telah menafsirkan kesombongan dalam sabdanya sbb: Sombong itu ialah menutupi kebenaran dan menipu manusia [11]. Oleh karenanya jika ada sebuah ketentuan syariat yang shahih tapi terasa berat atau tidak masuk akal olehmu, maka ketahuilah bahwa semua itu karena kelemahan dan kebodohanmu semata-mata, karena ilmu ALLAH SWT itu teramat luas dan tiada berbatas, sementara kemampuan dan kapasitas manusia demikian kecil dan sempit takkan mampu menyelami semua hikmah-NYA, maka jangan sekali-kali kamu bersikap takabbur dan menolaknya.

1. Bersikap tawadhu’ pada agama: Yaitu menerima semua apa yang bersumber dari ALLAH SWT dan Rasul-NYA, dengan tunduk dan pasrah sebulat-bulatnya.

a. Tidak menolak sedikitpun baik akalnya, perasaannya, maupun perbuatannya.

b. Tidak meragukan dalil agama tersebut dengan sangkaan bahwa dalil tersebut tidak masuk akal, kurang, atau tidak sempurna; melainkan sebaliknya ia langsung merasa mungkin kefahamannya, akalnya atau pemikirannya yang kurang atau belum memiliki ilmu tentang hal tersebut.

c. Tidak mencari-cari jalan lain yang berbeda dengan dalil tersebut baik dalam batinnya, lisannya atau perbuatannya, karena hal tersebut merupakan sifat orang munafiq.

2. Ridha terhadap apa yang diridhai oleh kebenaran, maka jadilah ia sebagai budak ALLAH SWT dan saudara bagi orang muslim dan tidaklah bermusuhan dengan kebenaran itu setitikpun.

3. Segera menjadikan kebenaran itu bagian dari dirinya, baik dalam pemikirannya maupun perbuatannya.

Seorang yang Tawadhu’ adalah Sangat Mengenal Rabb-nya

Sebagaimana perkataan Abubakar ra: Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan seorang muslim, karena semakin kecil seorang muslim di mata kalian maka ia semakin besar dimata ALLAH.

Seorang yang tawadhu’ sangat mengenal Rabb-nya maka saat ia berkumpul dengan orang-orang yang lemah, atau miskin atau hina maka ia pun ingat firman Tuhannya: Maka bersabarlah kalian bersama-sama orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari karena menginginkan keridhoan-NYA dan janganlah kalian palingkan mata kalian dari mereka karena menginginkan perhiasan dunia, dan janganlah kalian taati orang-orang yang hati mereka telah KAMI kunci dari mengingat KAMI dan mereka selalu mengikuti hawa nafsu dan adalah kehidupan mereka itu melampuai batas. [12]

Demikian banyak perintah Rabbnya untuk senantiasa bersikap tawadhu’ di antaranya: Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung [13]. Dalam ayat yang lain: Negeri akhirat itu KAMI jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan [14]. Dan derajat tawadhu’ tersebut yaitu:

1. Tidak mendahului sesama muslim, dalam berjalan, berbicara, berpendapat dsb melainkan selalu berada di belakangnya kecuali jika berada di depan tersebut memang dibutuhkan oleh Islam dan kaum muslimin.

2. Agar ia menyampaikan ilmunya dalam majlis jika tidak ada yang lebih mengetahui, tetapi jika ada yang lebih mengetahui maka hendaklah ia mempersilakan orang tersebut dan ia diam mendengarkan kecuali jika ada kesalahan.

3. Hendaklah ia menemui orang lain dengan gembira dan lemah lembut dan menanyakan keperluannya jika membutuhkan tanpa merasa lebih dari orang tersebut.

4. Hendaklah sering duduk-duduk diantara orang faqir, miskin, sakit dan mendoakan mereka.

5. Hendaklah makan dan minum tanpa berlebihan, demikian pula dalam berpakaian.

Di Antara Contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW

Adalah Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. [15]

Dari abi Rifa’ah Tamim bin Usaid ra berkata: Aku datang pada Nabi SAW saat beliau SAW sedang berkhutbah, maka aku berteriak: Wahai Rasul ALLAH! Seorang asing datang ingin bertanya tentang agama karena ia tidak mengerti agama! Maka beliau SAW bersegera menghampiriku dan meninggalkan khutbahnya lalu didudukkannya aku di kursi agar aku beristirahat lalu diajarkannya dari ayat-ayat ALLAH, lalu setelah aku puas barulah ia kembali ketempatnya dan meneruskan khutbahnya. [16]

Dari Anas ra bahwa adalah Nabi SAW jika makan makanan maka ia menggunakan 3 jarinya, dan ia SAW bersabda: Jika jatuh suapan kalian maka ambil dan bersihkanlah, dan jangan kalian tinggalkan untuk syaithan. Dan beliau SAW juga memerintahkan kami untuk menjilat jemari tangan, beliau bersabda: Karena kalian tidak mengetahui di mana ALLAH SWT meletakkan barakah-NYA dalam makanan kalian. [17]

Dari abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: Tidaklah ALLAH SWT mengutus seorang nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing. Lalu sahabat ra bertanya: Lalu bagaimana dengan anda wahai Rasulullah? Jawab Nabi SAW: Ya, aku pun dulu menggembala kambing untuk dengan upah beberapa qirath bagi penduduk Makkah. [18] Dan dari abu Hurairah ra juga berkata: Bersabda Nabi SAW: Seandainya aku diundang makan walau hanya sesuap maka pasti aku mau, dan seandainya ada yang memberiku hadiah walau segenggam maka pasti aku terima. [19]

Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq ALLAH jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-NYA. [20]

Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.

Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. [21]

Teladan Yang Tinggi dari Sifat Tawadhu’

Umar bin Abdul Aziz saat menjabat khalifah pernah suatu malam kedatangan tamu, saat itu ia sedang menulis, sementara pelita hampir habis minyaknya maka ia permisi untuk mengambil minyak, maka tamunya berkata: Apakah khalifah mengambilkan minyak karena aku? Jawab khalifah: Bukan seorang yang mulia jika tidak memuliakan tamunya. Maka kata tamunya: Tidakkah Anda membangunkan pelayan anda? Jawab khalifah: Ia lelah karena bekerja seharian. Maka berangkatlah ia ke gudang untuk mencari minyak, lalu dituangnya sendiri dari gentong minyak ke tempatnya lalu dibawanya dengan tangan dan bajunya bernoda bekas minyak. Maka kata tamunya: Anda lakukan sendiri hal ini wahai amirul mu’minin? Maka ia menjawab: Diamlah, aku ini hanyalah seorang Umar tidak berkurang sedikitpun, dan sebaik-baik manusia adalah yang disisi ALLAH SWT tercatat sebagai seorang yang tawadhu’.

Juga pernah salah seorang putra Umar bin Abdul Aziz membeli cincin seharga 1000 dirham, maka saat terdengar oleh Umar mk ia menulis surat: Telah sampai kabar kepadaku bahwa kamu telah membeli cincin dengan harga sekian, maka apabila sampai suratku ini juallah cincin tersebut dan kenyangkan 1000 orang dengan uangmu itu, lalu belilah cincin seharga 2 dirham saja. Ketika putranya telah melakukan apa yang dimintanya maka ia menulis surat: Segala puji bagi ALLAH yang telah mengingatkan putra Ibnu Abdul Aziz akan kadar dirinya.

Al-Hasan ra pernah berjalan dan bertemu dengan beberapa hamba sahaya yang sedang memakan roti kering tanpa lauk, maka ia turun untuk ikut makan bersama orang-orang miskin tersebut, lalu setelah itu ia membantu mengangkatkan barang-barang yang dibawanya, lalu diajaknya ke rumahnya untuk makan bersama. Lalu ketika orang-orang merasa kagum atas hal tersebut ia berkata: Mereka lebih mulia dariku, karena mereka menjamuku dengan semua yang mereka miliki, sedangkan aku hanya menjamu mereka dari sebagian kecil yang aku miliki.

Kebutuhan Da’i akan Tawadhu’

Seorang da’i lebih membutuhkan sifat ini daripada yang lain. Kenapa? Karena ia ingin memperbaiki manusia, maka sebelum ia memperbaiki orang lain ia harus menjadi contoh bagi masyarakat tentang berbagai akhlaq Islam yang mulia. Dan karena sifat manusia tidak akan menerima perkataan siapapun jika disampaikan dengan disertai perasaan lebih tinggi atau lebih baik dari si penyampai walaupun kata-katanya itu benar. Maka hendaklah seorang da’i saat berbicara menghindari banyak menyebut kata “saya” dan “saya”, hendaklah disadarinya bahwa apa yang dimiliki dan ada pada dirinya semua adalah dari dan milik ALLAH SWT. Maka hendaklah ia berkata dan bercerita banyak tentang keutamaan dan ketinggian ALLAH dan menjauh dari menceritakan tentang kelebihan dan ketinggian dirinya sendiri. Hal ini juga terlebih-lebih kepada orang yang lebih ‘alim atau pemimpinnya dalam jama’ah, janganlah sekali-kali ia merasa lebih baik dan lebih layak dari pemimpinnya, hendaklah diingatnya bahwa Nabi SAW pernah mengangkat Usamah ra yang masih sangat muda, sementara pasukannya adalah para sahabat senior dari Muhajirin dan Anshar, dan saat sebagian dari pasukan tersebut meragukan kepemimpinan Usamah, maka beliau SAW marah dan bersabda: Jika kalian mencela kepemimpinannya maka berarti kalian juga mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya! Demi ALLAH, ia adalah orang yang paling layak untuk memimpin pasukan dan ia adalah orang yang paling aku cintai, dan ia juga tetap adalah yang paling aku cintai sepeninggalku nanti. [22]

Oleh sebab itu, maka seorang da’i yang faqih setiap ia mendapatkan kesuksesan, keberhasilan dan pertolongan dalam dakwahnya maka akan semakin tawadhu’ dan makin meyakini kebesaran dan kekuasaan Penciptanya. Demikianlah Nabi kita SAW telah berhasil menaklukkan Makkah dengan gilang gemilang, tapi pada saat penaklukan tersebut beliau SAW menundukkan kepalanya sampai hampir-hampir menyentuh punggung untanya sambil mengulang-ulang ayat: Inna fatahna laka fathan mubina.. Beliau SAW meyakini bahwa semua kemenangan dan keberhasilan yang diperolehnya adalah semata-mata karunia ALLAH SWT.

Muhammad dalam pandangan barat

Sebagaimana diketahui ada dua cara untuk mengenal tokoh-tokoh besar. Pertama ialah dengan mempelajari pemikiran, karya dan peninggalan-peninggalan tokoh ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jalan terpenting mengenal Rasul Allah saaw ialah melalui Al-Quran. Sebuah kitab pemberi petunjuk, yang menurut Zeoul Labum, peneliti dari Perancis, “Al-Quran adalah lautan ilmu yang melahirkan banyak cabang di sana-sininya.” Muslimin mengambil ilmu-ilmu dari Al-Quran lalu mengalirkannya ke seluruh belahan dunia.”

Cara lain mengenal tokoh besar ialah dengan melihat pendapat para cendekiawan dan peneliti yang berbicara tentang tokoh tersebut, tentunya pendapat yang obyektif. Rasul Allah Muhammad saaw, sebagaimana menjadi sasaran kebencian dan kemarahan oleh sejumlah pembenci di Barat, juga mendapat pujian dan penghormatan yang sangat tinggi dari sejumlah kalangan cendekiawan Barat. Seorang cendekiawan semisal “La Martin” yang setelah meneliti kehidupan Nabi, dari relung hatinya yang paling dalam ia menyatakan, “Muhammad adalah manusia di atas manusia dan di bawah Tuhan. Tak dapat diragukan bahwa ia adalah utusan Tuhan.”

Thomas Carlyle, cendekiawan Inggris, berkata, “Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa seorang cendekiawan menerima begitu saja ucapan seseorang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.
“Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya.
Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selain-Nya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak-sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas.”

Setelah itu, dengan emosi yang muncul dari pengetahuannya yang teliti tentang Rasul Allah saaw, Carlyle menambahkan, “Hati manusia mulia putra padang pasir ini penuh dengan kebaikan dan kasih sayang. Ajaran-ajarannya terjauh dari semangat egoisme, dan pandangan-pandangannya bersih dari ketamakan kepada pangkat keduudkan duniawi. Saya mencintai Muhammad dengan segenap wujud, karena seluruh wataknya sangat jauh dari tipu muslihat dan basa-basi.”

Gustav Lebon, cendekiawan Perancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”, menulis, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

Will Durant, sejawaran AS, dalam dua buku sejarahnya, juga memuji Muhammad Rasul Allah saaw. Ia menulis, “Kita harus katakan bahwa Muhammad adalah tokoh sejarah terbesar.
Ketika memulai dakwahnya, negeri Arab adalah sebentang padang pasir kering dan kosong, yang di beberapa kawasannya dihuni oleh sejumlah kaum Arab penyembah berhala. Jumlah mereka kecil tapi perselisihan diantara mereka sangat banyak. Akan tetapi ketika beliau wafat, penduduk Arab ini pula telah muncul sebagai umat yang bersatu dan kompak. Beliau menghapus segala macam khurafat dan fanatisme dan menyuguhkan sebuah agama dyang sederhana tapi kokoh dan terang benderang yang dibangun di atas dasar keberanian dan kemuliaan. Kitab beliau adalah Al-Quran dan tak ada kitab lain yang mampu menandinginya dari segi kekuatan pengaruh dan daya tariknya.”

An Apology for Mohammad and the Koran

John Diven Port, cendekiawan Inggris, menyatakan penyesalannya terhadap sikap tendensius terhadap Nabi Islam. Dalam bukunya yang ia tulis berkenaan dengan Nabi Muhammad saaw, dengan segala kejujuran dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi, ia berusaha membersihkan segala macam kedustaan dan tuduhan negatif dari kehidupan Nabi Muhammad, dan mengajak orang-orang sesat ini untuk merenung dan berpikir dengan benar.

Diven Port menulis,“Dari segi keindahan dan kebaikan watak dan perilaku, Muhammad memiliki keistimewaan yang sangat tinggi. Mereka yang tidak memiliki watak-watak seperti inilah yang memandang beliau sebagai sesuatu yang tak bernilai.

Sebelum memulai ucapannya, beliau telah menarik para pendengar beliau, baik satu orang atau banyak, dengan akhlak dan peringainya yang sangat mulia. Wajah beliau memancarkan kewibawaan sekaligus daya tarik yang amat kuat. Senyumnya yang indah takpernah lepas dari bibir beliau. Pada akhirnya, hal-hal lembut dan menarik selalu beliau masukkan dalam tutur kata beliau, memaksa setiap orang memujinya. Oleh sebab itulah beliau dikenal sebagai tokoh agama yang paling langka di dunia.”

Dosun, penulis Perancis, dalam bukunya “Muhammad dan Islam” menulis, ”Pada umumnya, warga Perancis tidak menaruh minat kepada pembahasan masalah-masalah keagamaan. Akan tetapi, mereka yang taat beragama dan pemikir Perancis, memiliki pandangan lain kepada Islam. Hakekatnya ialah bahwa kemunculan Islam dan penyebarannya termasuk diantara hasil karya besar dan amat penting sejarah manusia. Di akhir abad ketujuh Islam mampu merambah ke Suriah, Iran, Mesir dan dunia Arab, dan menyebar di seluruh Afrika Utara, serta menguasai seluruh pulau-pulau di laut Mediterania, kemudian masuk pula ke India dan Cina. Saat ini Islam telah memberikan pengaruhnya yang luas dalam peradaban dunia serta dalam politik kontemporer. Keberhasilan perjuangan Muhammad saaw, dalam menggeser UU yang berlaku di negara-negara Asia, padahal mereka termasuk diantara negara terkuno di dunia, serta ketahanan UU Islam ini selama berabad-abad, merupakan bukti terbaik yang menunjukkan kebenaran tokoh ini dan keistimewaannya yang langka.”

Poligami

Untuk sementara kalangan, poligami begitu menjadi cita-cita yang menyenangkan dan yang lainnya justru kurang setuju terhadap poligami terutama bagi kaum wanita. Sebenarnya bagaimana kita memandang dan mendudukkan ayat-ayat mengenai poligami teresebut.

Mari kita kaji QS. An Nisa' ayat 3

"dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya) ,maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua ,tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , maka (kawinilah) seorang saja. Atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya"

Pada ayat diatas dinyatakan, boleh menikahi wanita dua, tiga ,atau empat .. Jika kamu tidak mampu berbuat adil ..maka kawinilah seorang saja ..Kata "adil" disini belum dijelaskan secara rinci .apakah adil dalam pembagian materi atau adil dari sisi kasih sayang dan cinta.. Untuk mengetahui arti "adil " yang sah menurut Alqur'an adalah dijelaskan pada QS.An Nisa' ayat 129 .

"dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) , walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari)kecurangan, maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang"

Pada ayat tsb., Allah mematahkan semangat orang yang ingin berpoligami dengan kalimat yang tidak mungkin kita lakukan, walan tastatii'uu an ta'diluu bainan nisa'i walau harastum ..kalau saya terjemahkan bebas ..dan kalian tidak akan pernah mampu untuk berlaku adil terhadap wanita walaupun kamu sangat menginginkannya ..dalam ayat ini terdapat kalimat taukid (penguat) seperti
pada kalimat wa lan tastati'u an ta'diluu.

Di dalam ilmu nahwu dijelaskan, bahwa kalimat mudhori' jika didahului oleh kalimat taukid bermakna " tidak mungkin /tidak akan mungkin " seperti pada kalimat tastati'u didahului oleh kata LAN dan sebelum ta'dilu ada kata An . dan dikuatkan oleh kalimat harastum ada kata walau ...semuanya itu menunjukkan taukid , artinya Allah sangat melarang untuk melakukan poligami akan tetapi tidak diharamkan masih bersifat anjuran / penjelasan tentang sifat manusia yang tidak akan mungkin berlaku demikian, walaupun sangat ingin berlaku adil ..sebab jika akan terus dilaksanakan maka Tuhan sekali-kali tidak akan mau disalahkan .oleh sebab konflik yang akan timbul didalam berpoligami, terutama konflik bathin yang merupakan sifat dasar wanita, yang tidak ingin terbagi kasih sayangnya. Sifat ayat diatas hampir sama dengan sindiran orang yang bercerai. perbuatan halal yang dibenci oleh Allah adalah bercerai. Namun demikian, saya tidak mengatakan bahwa poligami itu dilarang agama, tetapi merupakan suatu peringatan yang sangat tegas .dan peringatan itu mengandung penjelasan watak manusia ..yang menyebabkan kemungkinan akan timbul konflik itu sangat besar. Untuk itu ,Allah mencegah dengan kata " kalian tidak akan pernah mampu berlaku adil"

Akan tetapi dikarenakan manusia itu selalu mencari alasan kebolehan didalam pemenuhan nafsu syahwatnya, .maka tidak jarang orang mengatakan inilah sunnah nabi padalah kalau kita berbicara keimanan atas kalimat dan anjuran Tuhan Raja kita, saya kira lebih baik kita menuruti saja apa pendapat Allah yang Maha Agung dari pada beralasan, yang menipu diri sendiri dengan berdalil syariat.. Persoalan ini bukan haram atau tidak nya berpoligami, akan tetapi lebih kepada tuntutan terhadap keimanan dan kedalaman moral ketuhanan atau Ihsan. dimana kita sudah tidak menggubris nasihat baik dari-Nya,..... kecuali kalau sudah dianggap darurat ..misalnya , istri mengizinkan untuk menikah lagi karena sebab tertentu .atau karena alasan perjuangan, sakit, suami memiliki libido yang tinggi dll. Hal inilah yang membedakan dengan ajaran katholik, yang melarang berpoligami !!

Saya akan ambil perbandingan dengan QS. Al Baqarah : 282-283

" Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermua'malah tidak secara tunai untuk waktu ditentukan , hendaklah kamu menuliskannya .dan hendaklah seorang penulis diantara kamu mmnuliskannya dengan benar . dan janganlah penulis enggan menuliskanya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimla'kan (apa yang akan ditulis) ..."

Pada ayat ini terdapat kalimat perintah (amar) fak tub ..maka tulislah !! pertanyaannya adalah , apakah orang yang tidak menuliskan transaksi atau hutang piutang didalam berbisnis itu haram , karena mengabaikan kalimat perintah Allah ??? jawabannya , adalah tidak haram ..akan tetapi jika kita mengabaikan perintah itu , sangat dimungkinkan untuk berlaku curang, lupa, dan menimbulkan kekacauan manajemen perusahaan.yang pada akhirnya mengakibatkan keharaman juga. Sama hal dengan poligami ..jika kita nekat untuk melakukan poligami ..maka tunggulah saatnya konflik-konflik akan terjadi dan mengakibatkan keharaman .sehingga buruk akibatnya secara psikologis ..baik hubungan suami istri maupun kepada anak-anaknya.. Dan mari kita lihat contoh atsar empat sahabat nabi yang menanggapi ayat di atas (poligami) dengan rasa malu yang tinggi karena sudah dinyatakan "kalian tidak akan pernah mampu" , rupanya mereka tidak ada yang beralasan macam-macam untuk memenuhi nafsunya . .

Berikutnya , mengenai mengawini wanita dua saudara sekaligus .dalam islam diharamkan , karena itu terjadi pada jaman jahiliah ,dan tidak pandang dia perawan atau pernah kawin.karena disitu tidak disebutkan ..pendapat ini saya ambil dalam kitab tafsir sofwatut tafaasir , oleh Ali Ash shabuni , Beirut. Didalam hadist riwayat Abu Hurairah. Diharamkan menikahi dua wanita bersaudara (kakak beradik)

Menikahi anak haram ??

Secara syariat Islam di bolehkan namun orang tua laki-laki digantikan oleh wali hakim,

Dari Aisyah telah berkata , Rasulullah Saw.telah bersabda : wanita manapun yang menikah tanpa izin walinya , maka nikahnya batal, maka jika sudah terlanjur (sudah bersenggama) maka ia berhak atas mahar sebagai penghalal. dan jika berselisih dalam keturunan maka hakimlah sebagai wali bagi orang yang tidak mempunyai wali .. ( Al hakim ).

4 Unsur Watak Manusia

Empat ilmu pengendalian tadi sebenarnya diambil dari 4 unsur pembentuk watak manusia.

Api
Api bersifat selalu tegak dan membakar.
Watak manusia yang dipengaruhi oleh sifat api adalah ambisi, keserakahan, passion.

Air
Air bersifat selalu turun dan memadamkan.
Watak manusia yang dipengaruhi oleh sifat air adalah sabar, mengalah, rendah hati.

Udara
Udara atau angin bersifat merobohkan.
Watak manusia yang dipengaruhi oleh sifat udara adalah dominasi, kekuasaan.

Tanah
Tanah bersifat diam atau tenang.
Watak manusia yang dipengaruhi oleh tanah adalah ketenangan.

Sang Avatar harus memiliki keempat sifat tadi dan harus berimbang. Dalam film tersebut diceritakan dengan gaya peperangan. Tetapi sejatinya adalah bagaimana membuat keempat unsur kehidupan tadi bisa berimbang. Biasanya orang banyak mengenal ajaran tentang 4 unsur kehidupan tadi pada ajaran Hindu. Sesuai nama Avatar yang diambil dari bahasa Sanskerta.Yang berarti titisan dewa.

Dalam Islam, terutama yang pernah belajar tarekat tentu tahu kalau unsur-unsur kehidupan tadi disimbolkan pada sholat lima waktu. Yaitu berdiri sebagai simbol api, ruku sebagai simbol udara atau angin (yang berarti merobohkan), sujud sebagai simbol air yaitu turun dan duduk sebagai simbol tanah yang berarti diam atau tenang.

Bagaimana jika seandainya keempat unsur ini tidak dimiliki secara seimbang ? Misalnya unsur api yang terlalu dominan tentunya akan menjadi orang yang mudah marah. Tapi positifnya adalah ambisi, passion yang besar.Bagaimana jika unsur air yang dominan kemungkinan cenderung mengalah tapi positifnya adalah sabar. Idealnya semua harus seimbang, dominasi api lawannya air, dominasi udara lawannya tanah. Semua ada pasangannya, semua ada lawannya seperti prinsip Yin Yang.

Apa jadinya jika unsur-unsur tadi ada pada diri kita secara seimbang ? Coba kita rasakan unsur-unsur mana yang dominan pada diri kita.

Tergesa gesa adalah dilarang

Salah satu di antara sifat atau tabiat semulajadi manusia ialah bersifat gopoh. Ini jelas telah dinyatakan oleh Allah Taala melalui Al Quran yang bermaksud:
" Dijadikan manusia itu bersifat terburu-buru atau gopoh-gapah." (Al Anbiya`:37 )
Ini juga salah satu di antara ujian kepada manusia. Apakah boleh berjaya atau tidak manusia itu mendidik dan mendisiplinkan diri agar menjadi manusia yang tenang. Sentiasa gelisah dan resah lebih-lebih lagi jika ia ditimpa ujian.

Ujian golongan bawahan seperti miskin, orang tak peduli atau orang benci. Ujian golongan biasa seperti ada saingan di dalam merebut jawatan, dilucutkan jawatan, rugi di dalam perniagaan atau tidak lagi dilantik menjadi menteri dan sebagainya.

Manusia itu jika tidak berusaha mendidik dan bermujahadah dengan nafsu yang gopoh-gapah dan gelojoh, maka benih gopoh semulajadi yang Allah cipta dalam diri manusia itu ibarat benih pokok. Ia akan bertunas, berdaun, berbatang yang akhirnya membesar subur lalu berbuah. Di waktu itu sifat gopohnya benar-benar berakar umbi dan mendarah mendaging di dalam diri manusia hingga menjadi tabiat, sikap dan seterusnya menjadi budaya hidupnya.

Apabila sifat gopoh telah mendarah mendaging, maka di waktu itu amat sulit sekali untuk membuangnya dan dengan sifat gopoh yang telah begitu subur di dalam diri itu, dia sedar bahawa tabiat gopohnya itu sangat menyusahkan dan menyesaknya. Namun untuk membuangnya amat sulit sekali. Kecuali dengan berusaha dan bersungguh-sungguh berjuang berhempas-pulas memerangi sifat gopoh itu serta memohon kepada Allah SWT selalu agar membantunya membuang sifat gopoh itu mungkinlah boleh.

Firman Allah yang bermaksud:
"Bertenang-tenang itu dari Allah dan bergopoh-gapah itu dari syaitan."
Justeru itulah manusia sejak kecil lagi memerlukan didikan yang berdasarkan Islam terutama dari ibu bapanya. Kemudian guru-guru, selepas itu masyarakatnya mendidik bagaimana mengenal sifat-sifat mazmumah. Gopoh tadi salah satu di antaranya. Kemudian bagaimana hendak membentuknya agar sifat gopoh itu jangan subur. Kerana membuangnya 100% dari diri manusia adalah mustahil.

Memanglah setiap yang negatif itu mudah dikawal sewaktu ia masih kecil lagi. Apabila menjulur sahaja, pangkas, potong, akhirnya ia akan bantut tapi kalau ia dibiarkan menjadi sebatang pokok yang besar maka waktu itu sudah amat sulit dan susah sekali untuk memusnahkannya.
Merbahayanya Sifat Gopoh
Sifat gopoh itu jika ia telah dibiarkan tidak dididik dan tidak diasuh daripada seorang yang kecil hingga terbiar sampai dewasa bahkan sampai ke tua, sifat gopoh itu sangat merosakkan pada empunya diri dan juga orang lain.

Di antara kejahatan dan keburukannya yang timbul dari sifat gopoh itu ialah:
1. Mudah mengeluarkan kata-kata atau percakapan tanpa berfikir lebih dahulu baik buruknya. Akhirnya banyak tersalah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang percaya dengan Allah dan Hari Kemudian maka hendaklah bercakap yang baik atau diam."(Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Dalam perbualan dan perbincangan, sifat gopoh itu mudah sahaja memotong cakap orang. Ramai orang tersinggung, banyak orang benci, akhirnya berlaku perpecahan hati yang akan membawa perpecahan yang lebih besar lagi.
3. Gopoh membuat sesuatu keputusan tanpa memikirkan lebih dahulu atau tanpa berunding dengan orang-orang yang boleh dipercayai. Akhirnya keputusan itu tersalah atau tidak jitu. Akibatnya penyesalan yang tidak berkesudahan.
4. Mudah menuduh atau menghukum, akibatnya selalu sahaja tersalah. Banyak orang yang terfitnah dengan sebab kegopohan kita. Sedangkan fitnah itu mengikut Islam lebih dahsyat daripada pembunuhan. Teraniayanya orang itu. Kalau mereka tidak sabar atau gopoh pula, dia akan menyerang kita. Seterusnya memusuhi kita atau terheret ke mahkamah.
5. Daripada sifat gopoh itu mudah memukul orang, menyerang orang dan membunuh orang. Timbullah kerosakan dari kejahatan di dalam bermasyarakat. Selepas itu akan berlaku dendam-berdendam. Mungkin nanti masing-masing membawa klik atau mengumpul kawan-kawan masing-masing. Maka kerosakannya lebih besar lagi.
6. Daripada sifat gopoh, kita selalu sahaja mendapat malu. Padahal malu itu menghilangkan maruah kita. Hilang wibawa kita dan seterusnya hilang keyakinan orang.
7. Sifat gopoh mudah membawa orang cepat merajuk, mudah jemu membuat kerja yang baik, kalau lebih berat lagi mudah putus asa iaitu sifat yang sangat dilarang oleh Allah SWT seperti dalam firman-Nya:
"Tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaumnya yang kafir."(Yusuf: 87)
"Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT."(Az Zumar: 53)
8. Orang yang gopoh makin tidak tenang hidupnya kerana selalu sahaja tersalah, tersilap, terlajak, tersasul yang merugikan dan menyusahkan hati.
9. Dengan sifat gopoh yang ada pada seseorang itu, orang lain tidak suka berkawan. Orang takut berkawan kerana adakalanya kalau dia marah mendadak sahaja tanpa munasabah, sekalipun pada kawannya, isteri atau anak-anaknya lebih-lebih lagi yang bukan kawannya.
10. Sifat gopoh itu bukan sahaja mendorong membuat sesuatu kerja itu tanpa mengkaji lebih dahulu. Bahkan mudah sahaja meninggalkan sesuatu kerja itu lebih-lebih lagi bila terasa kerja itu susah dan berat, iaitu kerja akan terbengkalai dalam kehidupan.
11. Sifat gopoh seseorang itu boleh membawa seseorang itu melulu bertindak, mudah menjadikan musuh kawan, dan juga mudah menjadikan kawan itu musuh. Segala tindakan dan usaha-usahanya semberono tidak berdisiplin, tidak tersusun dan teratur.
12. Sifat gopoh mudah menukar fikiran, mudah mengubah sikap, mudah menukar prinsip, mudah dicucuk, dan mudah dihasut dan melatah hingga susah kita hendak berpegang dengan pendiriannya. Kalau di dalam satu perjuangan mudah menyebelah musuh atau mudah memukul kawan seperjuangan, lebih-lebih lagi setelah kena uji. Ia sangat merbahaya di dalam perjuangan.
13. Sifat gopoh itu selalu sahaja membuatkan seseorang menyesal tidak sudah, sesal berpanjangan.
14. Gopoh itu termasuk akhlak yang buruk, perangai yang hodoh, budi pekerti yang jelik, dibenci oleh Allah Taala, Rasul dan seluruh makhluk.
15. Sifat gopoh itu pada seseorang mudah atau cepat menolak kebenaran yang dibawa oleh orang lain, tanpa fikir panjang, tanpa kaji dan selidik.
16. Sifat gopoh yang tidak dapat dikekang dan kontrol menjadikan seseorang itu hilang sifat sabar atau menjadi orang yang tidak sabar terutama bila diuji sama ada dengan nikmat mahupun dengan bala.

Islam membawa Kasih sayang

Islam Membawa Kasih Sayang. Islam adalah hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia. Hubungan dengan Allah banyak berlaku di masjid dan di surau-surau secara fizikal dan rohani. Yang bersifat rohaniah ini berlaku di mana-mana kerana ia adalah kerja hati.

Hubungan sesama manusia tidak kira kafir atau Islam berlaku di mana-mana sahaja. Berlaku di jalan raya, di rumah, di kedai makan, di dalam kenderaan, di sekitar jiran tetangga. Disiplin waktu berhubung, bertemu, waktu bermesyuarat, bermuzakarah, berceramah .Di dalam keluarga, waktu bekerja, bermusafir, berjuang dan ziarah.

Di sini dibawa beberapa contoh, yang tidak disebutkan kiaskan sahaja. Di jalan raya utamakan orang lain dahulu, sekalipun jalan kita. Bertanya-tanyalah hal jiran sama ada Islam atau kafir, kesusahannya dibantu, sakitnya diziarah, ketiadaannya jaga rumahnya.

Waktu makan di kedai, bayarkan yang di kiri kanan kita. Ketika ke pasar, bayarkan untuk orang yang di sebelah kita setakat termampu. Apabila naik bas, utamakan orang lain duduk, lebih-lebih lagi orang tua atau kaum ibu .Kalau kita berjalan berkenderaan sendiri, terjumpa orang menunggu bas, pelawa dia naik kenderaan kita.

Berjumpa orang di mana-mana sama ada dikenali atau tidak berilah salam kepada mereka.Di dalam majlis, ada peluang bermesralah, ada orang bercakap dengarlah, jagalah tata-susila .Ada orang yang susah meminta, berilah jangan dikecewa, kita berhutang kerananya pun tidak mengapa. Hutang orang kepada kita jangan dipinta. Kalau boleh bayarkan hutang orang setakat termampu, jadikan budaya.

Kalau mereka bayar, Alhamdulillah, jika tidak, halalkan sahaja. Jika kita bersalah dengan siapa sahaja minta maaflah, orang bersalah maafkan sahaja sekalipun tidak meminta. Berkawan hendaklah setia, berjemaah sama-sama berkorban dan menjaga keutuhannya .Pengutip-pengutip sampah kenalah beri hadiah atau apa-apa sahaja yang makanan yang munasabah.

Berani jangan melulu, biarlah berstrategi, takut juga jangan terlalu, Tuhan benci. Bekerja biarlah berdasarkan ilmu, bersungguh-sungguh, bekerja secara jemaah hendaklah bekerjasama. Kalau makan jangan seorang dibedal, biarlah ada orang lain sama. Orang yang menentang kita, janganlah dilayan, kalau boleh buat baik dengan mereka.

Kalau mereka fitnah, tidak salah kita menghilangkan fitnah, tapi biarlah bijaksana. Itulah dia sebahagian daripada ajaran Islam yang global .Yang tidak diceritakan kiaskan sahaja. Itulah dia Islam cara hidup, bukan berpusat di masjid sahaja. Islam macam itulah yang kita sedang memperjuangkannya. Apa yang kita lihat tadi nyatalah Islam itu membawa kasih sayang sesama manusia .

Buta mata hati

Sesungguhnya setiap hari Allah Taala memperlihatkan kuasa-Nya kepada kita hamba-Nya. Bahkan setiap waktu Allah memperlihatkan kebijaksanaan-Nya, Qahhar-Nya dan Jabbar-Nya berlaku setiap waktu di depan mata kita.Demikian juga kasih sayang-Nya sentiasa berlaku kepada makhluk-Nya.

Malah ia berlaku setiap waktu. Apatah lagi sifat pemurah-Nya, sungguh nyata sekali. Tuhan memberikan nikmat-Nya kepada siapa sahaja sekalipun kafir durjana yang derhaka kepada-Nya. Adakalanya kepada mereka itu Tuhan berikan lebih daripada yang Dia berikan kepada hamba-Nya yang taat setia.

Tapi malang sekali seribu kali malang...
Ada mata... tapi kita pandang bersahaja..
Ada akal fikiran... tapi tidak boleh menilai dan memikirkan...
Ada hati... tapi sudah tidak merasa apa-apa...
Oh Tuhan... Rupa-rupanya manusia semuanya telah buta. Segala mata-mata yang penting di dalam diri manusia telah buta.

Buta matanya...
Buta akalnya...
Buta hatinya...
Apa lagi yang boleh diharapkan kepada mereka yang buta ini?! Setiap hari mereka membuat onar. Setiap waktu mereka berbuat derhaka dan durjana. Dan setiap hari mereka merosakkan dunia dan manusia lain.
Aduh, dahsyatnya manusia!
Tuhan, datangkanlah pembela dengan segera, agar manusia dapat dikembalikan kemanusiaannya!

Pelajaran dan pendidikan

Pelajaran dan pendidikan, atau dalam bahasa Arabnya, Taalim dan Tarbiah ialah dua perkara yang penting di dalam usaha membina anak-anak. Pelajaran dan pendidikan adalah dua perkara yang berlainan. Ia tidak serupa di antara satu sama lain. Namun begitu ramai di kalangan ibu bapa malahan di kalangan para guru sendiri yang tidak faham tentang kedua-dua perkara ini.

Pelajaran khusus ditujukan kepada akal.Sebab itu ia mudah dan "straightforward" . Pendidikan pula ialah pembinaan insan yang bukan sahaja melibatkan perkara fizikal dan mental tetapi juga hati dan nafsu.Malahan apa yang sebenarnya dididik ialah hati dan nafsu itu sendiri.Justeru itu pendidikan adalah lebih rumit dan lebih sukar.

Kedua-dua perkara ini harus kita fahami betul-betul di dalam membina anak-anak kita.Kedua-dua pelajaran dan pendidikan perlu di dalam membina peribadi yang pandai berbakti kepada Tuhan dan pada masa yang sama pandai berbakti kepada sesama manusia.

Pelajaran ialah proses belajar atau proses mengumpul ilmu.Ada guru, ustaz atau ustazah yang mengajar dan ada murid yang belajar. Hasilnya, murid menjadi pandai, alim dan berilmu pengetahuan.
Pendidikan pula ialah proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan dan pengamalan. Ilmu yang telah diperolehi terutamanya ilmu agama, cuba difahami dan dihayati hingga ia mendarah mendaging dan dapat diamalkan di dalam kehidupan seharian.

Di dalam erti kata yang lain, pelajaran menyentuh tentang soal ilmu dan pendidikan menyentuh tentang soal akhlak.Pendidikan di antara lain ialah memperkenalkan Tuhan kepada manusia.Membersihkan hati manusia dari segala sifat-sifat yang keji atau mazmumah dan mengisinya dengan segala sifat-sifat yang terpuji atau mahmudah. Pendidikan juga ialah mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah asal semula jadinya yang suci dan bersih. Nafsu perlu dikekang supaya ia tidak cenderung kepada kejahatan dan maksiat tetapi cenderung kepada kebaikan dan ibadah.

Sepertimana yang telah dinyatakan, kita tidak boleh mendidik sahaja tanpa memberi ilmu, dan kita wajib memberikan aklakh

Agama yang Kholis

uhan berfirman dalam satu ayat yang pendek:
Maksudnya: "Kepunyaan Tuhanlah agama yang murni itu." (Az Zumar: 3)
Semoga huraian kepada ayat ini menjadi ilmu yang kita boleh fahami, hayati dan applykan dalam kehidupan kita. Ayat ini boleh dihuraikan dalam tiga bahagian:
1. Kepunyaan Tuhan
2. Ad Din
3. Agama yang murni (khalis)

KEPUNYAAN TUHAN
Tuhan memiliki satu khazanah kepunyaan-Nya yang paling berharga. Satu khazanah yang terlalu indah, cantik, selamat dan menyelamatkan. Sewaktu di alam roh, Tuhan telah menawarkan khazanah-Nya yang paling berharga ini kepada bumi, langit dan gunung-ganang. Tuhan telah mempromosi betapa cantik, indah, selamat dan menyelamatkan khazanah ini lalu ia mesti dijaga betul-betul dan dipelihara dengan penuh bertanggungjawab. Dari itu datanglah takut pada bumi, langit dan gunung-ganang. Mereka menolak tawaran Tuhan kerana takut tidak dapat menjaga amanah dan tidak dapat bertanggungjawab.
Maka akhirnya Tuhan menghadapkan khazanah ini kepada roh-roh manusia. Mendengarkan keindahan khazanah itu tanpa rasa cemas terhadap tanggungjawabnya, mereka berkata, "Kami sanggup, wahai Tuhan." Waktu di alam roh, kita mengaku tetapi bila roh masuk ke jasad, kita lupa. Lantas untuk mengingatkan kembali kepada manusia akan amanah yang diberi oleh Tuhan, inilah hikmahnya Tuhan datangkan rasul, nabi, mujaddid dan para ulama ul amilin. Khazanah Tuhan yang berharga itu adalah Ad Din. Ad Din atau agama sebenarnya adalah khazanah kepunyaan Tuhan yang paling berharga.
Rupa-rupanya kita telah berjanji dengan Tuhan di alam arwah (roh) untuk menjaga amanah ini. Satu amanah yang langit, bumi dan gunung-ganang tidak sanggup menerimanya tetapi kita sanggup. Amanah ini adalah Ad Din iaitu agama yang murni.

AD DIN
Ad Din adalah khazanah Tuhan yang cantik, indah, selamat dan menyelamatkan. Ad Din bermaksud agama. Dalam bahasa Sanskrit 'a-' maknanya tidak, 'gama' maknanya berpisah-pisah atau bercaing-caing. 'Agama' ertinya tidak berpisah-pisah, tidak bercaing-caing.
Dalam bahasa Arab, Din itu agama yang bermaksud cara hidup. Maka agama adalah satu cara hidup yang tidak boleh dipisah-pisahkan antara satu sama lain. Ertinya ia berangkai. Kita tidur, itu cara hidup, mesti jadi agama. Bangun dari tidur juga cara hidup, mesti jadi agama. Selepas itu sembahyang Subuh, itu cara hidup yang mesti jadi agama. Sarapan pagi juga cara hidup, mesti dijadikan agama. Kita pergi kerja, itu cara hidup yang mesti jadi agama. Jadi tidur, bangun, aktif bergerak, semuanya adalah aktiviti manusia yang pelbagai bentuk, tetapi ia berangkai, tidak terpisah. Masa juga tidak memisahkannya kerana masa itu bersambung. Rupa-rupanya agama adalah cara hidup yang tidak boleh dipisah-pisahkan.
Janganlah hanya sembahyang, puasa, naik haji jadi agama tetapi di dalam pekerjaan, berekonomi, bermasyarakat, berpendidikan tidak jadi agama. Sedangkan semuanya mesti berangkai. Pergi mengembara jangan terkeluar dari agama. Kita bangunkan ekonomi, itu dunia, itulah juga agama. Di dalam mentadbir, berkebudayaan, kesihatan, perhubungan, jangan ia dipisahkan dari agama.
Apa pun aktiviti hidup mesti kita agamakan. Mesti ada hubung kait dengan Tuhan. Tuhan mahu apa sahaja cara hidup kita sama ada yang lahir atau batin, jangan terkeluar dari agama. Apa pun dibuat mesti jadi agama. Kerana kita telah berjanji kepada Tuhan di alam arwah untuk menerima amanah dan tanggungjawab menjaga agama-Nya. Mampukah nanti di Akhirat kita bertanggungjawab di hadapan Tuhan kalau agama-Nya kita khianati?
Perumpamaan Din itu adalah sebagai jaring. Jaring yang elok boleh mendapatkan sesuatu, contohnya ikan. Tetapi kalau jaring itu sudah bolong merata-rata, tentu tidak dapat ikan. Apa maksud jaring bolong? Iaitu hidup kita dari mula bangun, bekerja, ada yang dijadikan agama, ada yang dijadikan dunia. Ibarat jaring bolong, tidak dapat ikan. Ertinya Islam kita tidak lengkap. Bila tidak lengkap, tidak boleh dapat taqwa. Bila tidak dapat taqwa, inilah rahsianya mengapa umat Islam tidak maju, tidak mendapat bantuan Allah SWT. Sedangkan Allah berfirman dalam Al Quran:
Maksudnya: "Allah jadi pembela bagi orang bertaqwa." (Al Jasiyah: 19)

AGAMA YANG KHALIS (MURNI)
Setidak-tidaknya ada dua maksud agama yang murni:
1. Agama yang khalis bermaksud agama yang murni, 'pure' atau tulen. Ertinya tidak boleh sebahagian hidup jadi agama, sebahagian lagi jadi dunia. Bila sudah bercampur hal-hal dunia maka tidak 'pure' lagi agama kita.
Bila sembahyang di masjid, itu banyak hablumminallah. Sedangkan di pasar ada hablumminallah dan ada hablumminannas. Hablumminannas adalah hubungan dengan manusia seperti tidak terlalu berkira, mesra, jujur dan berkasih sayang semasa berniaga. Hablumminallah bermaksud hatinya bersama Allah secara batin sewaktu berniaga. Perniagaan itu diniatkan sebagai suatu ibadah kepada Tuhan dan suatu khidmat kepada manusia. Kiranya ada keuntungan akan disedekahkan kepada jalan Allah. Itu yang dimaksudkan di pasar itu kita beragama.
Apa yang berlaku sekarang sembahyang jadi agama, tapi apabila di pasar sudah bukan agama. Boleh tipu-menipu, tindas-menindas, mengamal riba dan sebagainya. Bahkan sekarang di masjid pun sudah tidak ada agama yang tulen. Di masjid pun hal agama telah dicampur dengan hal dunia. Kadang-kadang hal agama diduniakan. Di pejabat lagilah susah. Khalis itu maksudnya jangan agama dengan dunia dicampur. Manusia telah merosakkan agama Tuhan apabila urusan kehidupan diduniakan.

2. Agama murni yang batin itu bagaimana? Di dalam agama, niat adalah penting. Niat adalah roh ibadah. Kalau niat sudah rosak, rosaklah semuanya.
Peranan niat ini sangat penting. Apa pun yang kita lakukan walaupun sekecil-kecil perkara, jangan diniatkan selain kerana Tuhan. Contoh, "Aku hendak sembahyang jemaah di masjid, Tuhan suka." Kemudian ada pula terselit niat, "Aku suka sembahyang di masjid sebab orang selalu kenduri." Itu sudah tidak khalis. Ada niat kerana Allah, ada kerana hendak makan.

IKHLAS YANG BERCAMBAH
Tuhan hanya menerima apabila agama yang kita sembahkan itu agama yang murni. Jangan ada termasuk kerana selain Allah. Bagi orang yang benar-benar menghayati agamanya, bukan saja dapat khalis yang asas bahkan bercambah lagi. Contohnya, "Saya hendak sembahyang jemaah di masjid kerana itu kesukaan Tuhan. Nanti bolehlah berkasih sayang dan bersilaturrahim. Di masjid itu ramai orang, boleh berbincang tentang Islam, tentang perjuangan. Di sebelah masjid ada restoran, senanglah hendak belanja kawan."
Maka ikhlasnya disuburkan, dicambahkan lagi. Sedangkan kalau kita dapat murnikan niat yang asas pun sudah cukup. Namun ada orang yang kerana ikhlasnya, niat asalnya bercambah-cambah lagi kerana terlalu menghayati Tuhan.
Jadi yang dimaksudkan agama yang khalis itu adalah agama yang benar-benar tulen, sama ada yang lahir mahupun niat yang batin. Hari ini bukan sahaja yang batin, yang lahir pun sudah rosak. Hingga yang bukan agama pun dianggap agama.
Kesimpulannya, yang dikatakan Din atau agama, ialah sesuatu kepunyaan Tuhan, khazanah milik Tuhan yang maknanya adalah cara hidup. Cara hidup itu pula berangkai-rangkai dan tidak boleh dipisah-pisahkan. Dengan maksud seorang itu hendaklah beragama dengan cara hidup yang Tuhan aturkan dan dalam beragama hendaklah ikhlas. Agama tidak boleh dicampurkan dengan ideologi lain atau dengan niat-niat lain. Agama Islam yang khalis itu adalah agama yang murni, pure dan tulen. Ia cara hidup yang tidak berpisah-pisah atau bercaing-caing. Agama Islam yang khalis itulah agama yang selamat dan menyelamatkan.


Sajak

Ilmu untuk Mencari Kebenaran

Marilah kita menjadi orang yang berilmu
supaya kenal Tuhan
cinta kepada-Nya
takut terhadap-Nya
tunduk kepada-Nya
Pandai pula kita bersyukur
pandai bergaul mengikut syariat
agar selamat
Jangan menjadi orang yang berilmu dan pandai
sombong dan takabur
Sombong dan takabur perangai syaitan
Mengapa kita jadikan ilmu dan kepandaian
perangkap syaitan
Jangan pula dengan ilmu dan kepandaian
dengan tujuan cari makan
Mengapa pula ilmu
dijadikan barang murahan
Ilmu sangat mahal buat insan
Hidup cari makan perangai haiwan
Mengapa kita yang berilmu dan pandai
jatuhkan diri ke taraf haiwan
yang tidak ada ilmu dan kepandaian
Ilmu fungsinya mencari kebenaran
Kebenaran adalah mahal
hanya ilmu sahaja yang dapat mengenalkan
Ilmu adalah cahaya
menyuluh jalan kehidupan
menuju ke Akhirat untuk keselamatan
Kalau ilmu hanya untuk berbangga
dan untuk cari makan
Haiwan yang tidak masuk sekolah
pandai cari makan
Perkataan mencari makan
sangat menjatuhkan maruah insan
Apatah lagi insan yang berilmu
dan berkepandaian
lebih-lebih lagilah maruahnya tercemar

Peran wanita dalam Islam

Bagi memperkatakan peranan wanita dalam Islam, kita akan memperkatakan lebih dahulu tentang Islam itu sendiri. Islam itu bukan rekaan. Islam itu bukan buatan manusia. Ia adalah satu kebenaran dari Tuhan. Kalau kita katakan ia kebenaran dari Tuhan, ia ada bentuknya yang tersendiri. Ia juga mempunyai dasar yang tersendiri.
Kalau hendak kita contohkan, ia seperti benda-benda lain juga, cuma yang ini berbentuk maknawi dan rohani. Sebagai contoh kita lihat buah pisang. Pisang itu, jika ditukar namanya kepada nama-nama lain, hakikatnya tetap tidak berubah iaitu ia adalah pisang. Namanya boleh berubah tetapi hakikatnya tidak akan berubah. Perubahan nama tidak akan mengubah hakikat. Jadi kalau orang hendakkan pisang, kita pula berikan epal, maka itu sudah tidak benar. Pisang tidak akan berubah menjadi epal walaupun namanya boleh diubah. Kalau seseorang itu tidak suka menyebut pisang, boleh sahaja dia memanggilnya dengan nama lain tetapi hakikatnya tidak boleh berubah. Pisang tetap pisang.
Begitu juga Islam sebagai agama dari Tuhan. Sama seperti pisang tadi cuma ia bersifat maknawi dan rohani. Namanya juga boleh diubah. Kalau seseorang itu tidak mahu sebut Islam, maka disebutlah dengan nama-nama yang lain, tetapi hakikatnya tetap Islam.
Islam itu pada namanya pun sudah cantik. Islam itu ertinya selamat dan menyelamatkan. Indah dan cantik ertinya. Cuma pada hari ini kita lihat Islam itu tidak begitu. Lebih-lebih lagi apabila Islam itu diperjuangkan secara militan. Apabila Islam jadi militan ertinya ia telah berubah bentuk dan dasarnya. Ertinya itu bukan Islam walaupun slogannya Islam. Ia sama seperti kalau ada orang meminta pisang lalu diberi epal, sudah tentu ia tidak betul. Begitulah Islam itu selamat dan menyelamatkan, sedangkan militan itu merosakkan.
Jadi peranan wanita dalam Islam bererti peranan wanita kepada satu agama yang selamat dan menyelamatkan. Peranan wanita dalam satu agama yang namanya Islam, iaitu selamat dan menyelamatkan. Inilah yang akan diperbahaskan dalam bab ini.
Islam itu juga dikatakan agama fitrah. Ia sesuai dengan instinct atau naluri manusia. Maka instinct atau naluri atau fitrah itu adalah satu pakej yang ada dalam diri manusia yang terdiri dari akal, roh, nafsu dan jasadnya. Keempat-empat perkara itu tadi ia sandar-menyandar, kuat-menguatkan dan perlu-memerlukan di antara satu sama lain. Ia tidak boleh bertindak sendiri.
Daripada empat perkara yang ada dalam pakej ini, yang boleh dilihat dengan mata kasar hanya jasad lahir. Akal, roh dan nafsu tidak dapat dilihat dengan mata kasar. Tetapi yang tiga inilah yang paling penting dan besar peranannya. Fizikal hanya mengikut sahaja. Suruh buat, ia buat. Suruh pergi, ia pergi. Tidak ada pilihan. Kecuali kalau dia lumpuh atau kakinya patah. Jika tidak, ia akan bertindak atas arahan tiga unsur tadi.
- Roh itu peranannya ialah berperasaan seperti rasa suka, benci, senang dan lain-lain.
- Nafsu pula peranannya merangsang atau mendorong.
- Akal pula memikirkan apa yang dirasai tadi serta apabila didorong oleh nafsu, bagaimana untuk berbuat. Setelah berfikir, ia mendapat satu kaedah lalu ia mengarahkan fizikal untuk bertindak.
Berdasarkan ini, iaitu bilamana ada perasaan, dorongan dan fikiran, maka hasilnya kita dapati tabiat semula jadi manusia itu berkemajuan. Dengan adanya pakej tadi, manusia berkemajuan. Tidak seperti haiwan. Haiwan itu kalau dahulu telanjang, sampai sekarang pun masih bertelanjang. Ia tidak berubah kerana tidak ada pakej kemajuan dalam dirinya. Kalau pokok-pokok kayu itu lebih-lebih lagilah tidak berkemajuan. Ia langsung tidak ada perasaan, akal atau nafsu. Kalau ia maju pun kerana dimajukan oleh manusia. Dari hutan dibina rumah hingga kelihatan cantik. Namun bukan kerana ia majukan dirinya sendiri tetapi manusia yang memajukannya. Kalau manusia boleh hidup 1000 tahun lagi, entah apa bentuk kemajuan lagi yang manusia akan bangunkan. Kenderaan seperti kereta dan kapal terbang mungkin tidak lagi seperti yang ada pada hari ini.
Jadi jelaslah kepada kita bahawa watak manusia itu ialah bertamadun. Tabiat bertamadun itu pula, bukan hanya berlaku kepada orang lelaki sahaja. Di sinilah isi perbahasan kita. Kejadian lelaki dan wanita itu adalah sama. Kejadian asal adalah dari tanah. Kejadian yang kedua dari air mani. Sebab itu tabiatnya sama. Tidak ada perbezaan. Kalau lelaki ada persiapannya untuk maju, wanita juga begitu.
Kalau begitulah Tuhan jadikan watak perempuan yang sama dengan lelaki dalam hal tabiatnya yang berkemajuan, maka adalah salah kalau watak itu dikorbankan. Adalah salah jika sifat madaninya iaitu sifat berkemajuan atau sifat hadharinya iaitu sifat mahu bertamadun dihalang. Sifatnya sama dengan lelaki dan tidak boleh berubah.
Jadi kalau Tuhan jadikan dalam diri seorang perempuan sama dengan lelaki iaitu ada watak hendak maju, andainya disekat, itu adalah satu kesalahan dan satu penzaliman. Jika tidak, maka untuk apa Tuhan jadikan watak hendak maju di dalam diri seorang perempuan itu. Apabila Tuhan menjadikannya berwatak madani, ertinya Tuhan membenarkannya bertindak untuk maju. Kemajuan itu pula dalam semua sudut seperti makan minum, rumah, kenderaan dan lain-lainnya. Tidak boleh dihalang atau disekat. Sebab unsur-unsur itu ada dalam dirinya sama seperti lelaki juga.
Cuma Tuhan dengan kasih sayang-Nya tidak mahu kemajuan itu semata-mata untuk kemajuan kerana dalam kemajuan itu ada bahayanya. Oleh itu Tuhan buatkan peraturan. Dorongan rasa hendak maju itu sudah cantik tetapi Tuhan itu penyelamat. Dia sangat berbelas kasihan kepada hamba-hamba-Nya lalu ditetapkan supaya maju tetapi jangan ada huru-hara. Maju tetapi jangan ada negatifnya. Jangan ada jenayah dan penzaliman. Sebab itu Tuhan buat peraturan. Hendak maju boleh tetapi ada syaratnya.
Contohnya, hendak maju boleh tetapi jangan ada rasuah. Orang benci rasuah. Jangan bergaduh dan jatuh-menjatuhkan. Apa ertinya maju kalau bergaduh. Boleh maju tetapi jangan bergaul bebas lelaki perempuan. Sebab, kalau sudah bebas dan berlaku berbagai salah laku dan maksiat antara lelaki dan perempuan, maka tiada ertinya maju. Nanti dalam maju ada penzinaan, ada pelacuran, ada perogolan dan ada penculikan. Hasilnya tidak ada erti apa-apa kemajuan itu.
Sebab itu Tuhan buat peraturan supaya semua selamat. Kaum ibu turut boleh berkemajuan. Boleh menjadi doktor, jurutera dan lain-lainnya. Kemajuan yang dibangunkan itu faedahnya untuk umum, bukan untuk dirinya sahaja. Faedahnya merata tetapi disiplin kena jaga. Peraturan itu penting supaya bila berkemajuan jangan ada yang negatif. Apa ertinya maju kalau balik ke rumah bergaduh dengan suami kerana tidak ada disiplin? Apa erti maju jika suami tinggal di rumah, isterinya pulang ke rumah jam dua pagi?
Tuhan benarkan maju sebab ada watak maju tetapi Tuhan buat peraturan supaya dalam maju jangan ada negatif. Tentu tidak boleh diterima jika di atas nama ingin maju, seorang isteri pulang ke rumah jam dua pagi. Fitrah setiap suami adalah sama. Kalau isteri pandai memandu kapal terbang tentu suami turut berbangga. Tetapi kalau balik ke rumah pukul dua pagi, mana ada suami yang boleh terima.
Mengapa kalau hendak maju kena korbankan rumah tangga? Mengapa tidak boleh diprogramkan? Kita semua hendak maju tetapi kalau sampai balik pukul dua pagi, ia tidak betul dan boleh membawa kepada hilangnya kebahagiaan rumah tangga. Fitrah semua manusia adalah sama.
Mengapa pemimpin-pemimpin Islam di dunia dan ulama-ulama Islam tidak boleh susun jadual. Wanita boleh maju tetapi hendaklah diprogramkan atau dijadualkan. Yang penting ada peraturan. Ini peranan pemimpin. Hendakkan kemajuan itu tidak boleh dihalang tetapi kalau dibiarkan akan membawa perkara negatif. Apa ertinya isteri-isteri yang maju boleh membuat kereta tetapi pulang ke rumah dihantar pula oleh lelaki yang suami pun tidak kenali.
Jadi wanita juga seperti lelaki, ada kecenderungan untuk berkemajuan. Ia boleh dimanfaatkan untuk agama, bangsa dan negara. Yang salahnya pemimpin tidak programkan. Akhirnya sama-sama naik. Maju pun naik, jenayah pun naik. Maju pun naik, krisis pun naik. Maju pun naik, dedah aurat pun naik. Apa ertinya wanita kita maju tetapi berbagai perkara negatif berlaku. Masalahnya bukan tidak boleh maju tetapi pemimpin tidak disiplinkan. Biarlah maju dalam disiplin, barulah selamat dan menyelamatkan.


Sajak

Keindahan dan Kecantikan
Seorang Wanita

Malu pada seorang wanita itu
sebenarnya di situlah letaknya
keindahan dan kecantikannya
Bersopan santun, berakhlak mulia
maruahnya dijaga
kerana ia adalah harga dirinya
Pandai bergaul tapi tidak bebas dan terbabas
Pakaiannya kemas tapi tidak menampakkan
terlalu mewah atau menunjuk-nunjuk
dan tidak pula terlalu rendah mutunya
kecuali tidak ada
Berbudi bahasa, peramah dan mesra
tapi tidak mengada-ngada
Auratnya dijaga tidak didedahkan
kepada yang bukan muhramnya
Matanya selalu ditundukkan
terutama kepada laki-laki ajnabi
kecuali perlu sahaja
Bahasa bersahaja
mengikut fitrah semula jadinya
tidak dibuat-buat
atau mengada-ngada
Percakapannya dijaga
tidak menyindir-nyindir
atau mengata-ngata orang
atau memuji-muji diri dan keturunannya
Suaminya dihormati dan ditaatinya
keluarga suaminya dimuliakannya
Berkasih sayang dan berlemah lembut
dengan anak-anaknya
tetapi tidak terlalu dimanja
dan dimewah-mewahkan
Rajin bekerja dan mengemaskan rumah tangga
budaya hidupnya
Beribadah dengan Tuhan tidak diabaikan
bahkan istiqamah ibadahnya
Jiran dan kehormatan jiran sangat dijaga
macam menjaga keluarganya
Ketika berjalan jauh bersama muhramnya
atau bersama 3 orang wanita
yang boleh dipercaya
Tidak tamak, tidak bakhil
sentiasa baik sangka
dengan suaminya
Apatah lagi cemburu
dan prejudis dengan suaminya
tidak ada di benak kepalanya
Jika suaminya susah
sanggup bersama-sama susah
dengan suaminya
Tidak suka meminta-minta dengan suaminya
kecuali terlalu perlu sahaja
Tidak suka bertanya-tanya suaminya ketika balik
"Abang ke mana? Dari mana?
Buat apa di sana?
Mengapa lambat balik?"
Suaminya balik disambut
dan dilayan dengan baik
Di waktu itu dia tahu dan faham
apa keperluan suaminya.
Hingga sikapnya itu suaminya senang
tenang, terhibur dan lapang fikirannya
Tidak meninggikan suara dengan suaminya
kalau dia bersalah cepat meminta maaf
dengan suaminya
Kesalahan dan kesilapan suaminya
dilupa-lupakan sahaja
Tidak mengungkit-ungkit suaminya
sekalipun di waktu dia tidak senang
dengan suaminya
Itulah kecantikan dan keindahan
seorang wanita.
Manalah hendak kita cari
wanita semacam ini sekarang?

Hak Milik dalam Islam

Semua yang ada di muka bumi adalah milik Allah SWT

Menurut ajaran Islam, Allah SWT adalah pemilik yang sesungguhnya dan mutlak atas alam semesta. Allah lah yang memberikan manusia karunia dan rezeki yang tak terhitung jumlahnya.

: Manusia dengan kepemilikannya adalah pemegang amanah dan khalifah

Semua kekayaan dan harta benda merupakan milik Allah, manusia memilikinya hanya sementara, semata-mata sebagai suatu amanah atau pemberian dari Allah. Manusia menggunakan harta berdasarkan kedudukannya sebagai pemegang amanah dan bukan sebagai pemilik yang kekal. Karena manusia mengemban amanah mengelola hasil kekayaan di dunia, maka manusia harus bisa menjamin kesejahteraan bersama dan dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT.

: Ikhtiyar dalam bentuk bekerja, bisnis dan usaha lain yang halal adalah merupakan sarana untuk mencapai kepemilikan pribadi

Dalam Islam, kewajiban datang lebih dahulu, baru setelah itu adalah Hak. Setiap Individu, masyarakat dan negara memiliki kewajiban tertentu. Dan sebagai hasil dari pelaksanaan kewajiban tersebut, setiap orang akan memperoleh hak-hak tertentu. Islam sangat peduli dalam masalah hak dan kewajiban ini. Kita diharuskan untuk mencari harta kekayaan dengan cara ikhtiyar tetapi dengan jalan yang halal dan tidak menzalimi orang lain. Selain itu, Kita juga tidak dibiarkan bekerja keras membanting tulang untuk memberikan manfaat kepada masyarakat tanpa balasan yang setimpal.

: Dalam kepemilkan Pribadi ada hak-hak umum yang harus dipenuhi

Islam mengakui hak milik pribadi dan menghargai pemiliknya, selama harta itu diperoleh dengan jalan yang halal. Islam melarang setiap orang menzalimi dan merongrong hak milik orang lain dengan azab yang pedih, terlebih lagi kalau pemilik harta itu adalah kaum yang lemah, seperti anak yatim dan wanita. (Qs : Adzariyaat : 19, dan Qs. Al-Israa : 26).

II. DEFINISI HAK MILIK

þ Konsep Dasar kepemilikan dalam islam adalah firman Allah SWT

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki….”(Qs. Al-Baqarah : 284).

þ Para Fuqaha mendefinisikan kepemilikan sebagai ” kewenangan atas sesuatu dan kewenangan untuk menggunakannya/memanfaatkannya sesuai dengan keinginannya, dan membuat orang lain tidak berhak atas benda tersebut kecuali dengan alasan syariah”.

þ Ibn Taimiyah mendefinisikan sebagai “ sebuah kekuatan yang didasari atas syariat untuk menggunakan sebuah obyek, tetapi kekuatan itu sangat bervariasi bentuk dan tingkatannya. Misalnya, sesekali kekuatan itu sangat lengkap, sehingga pemilik benda itu berhak menjual atau memberikan, meminjam atau menghibahkan, mewariskan atau menggunakannya untuk tujuan yang produktif. Tetapi, sekali tempo, kekuatan itu tak lengkap karena hak dari sipemilik itu terbatas.

III. JENIS-JENIS HAK MILIK dalam ISLAM

Hak Milik Pribadi

1. Proses kepemilikan harus didapatkan melalui cara yang sah menurut agama Islam.

Islam mengakui adanya hak milik pribadi, dan menghargai pemiliknya, selama harta itu diperoleh dengan jalur yang sah menurut agama islam. Dan Islam tidak melindungi kepemilikan harta benda yang diperoleh dengan jalan haram. Sehingga Imam Al-Ghazali membagi menjadi 6 jenis harta yang dilindungi oleh Islam (sah menurut agama islam) :

a. Diambil dari suatu sumber tanpa ada pemiliknya, misal : barang tambang, menggarap lahan yang mati, berburu, mencari kayu bakar, mengambil air sungai, dll.

b. Diambil dari pemiliknya secara paksa karena adanya unsur halal, misal : harta rampasan.

c. Diambil secara paksa dari pemiliknya karena ia tidak melaksanakan kewajiban, misal : zakat.

d. Diambil secara sah dari pemiliknya dan diganti, misal : jual beli dan ikatan perjanjian dengan menjauhi syarat-syarat yang tidak sesuai syariat.

e. Diambil tanpa diminta, misal : harta warisan setelah dilunasi hutang-hutangnya.

2. Penggunaan benda-benda milik pribadi tidak boleh berdampak negatif/ mudharat pada orang lain, tapi memperhatikan masalah umat

Islam membenarkan hak milik pribadi, karena islam memelihara keseimbangan antara pemuasan beragam watak manusia dan kebaikan umum dimasyarakat. Dalam hubungan ini, ada syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kekuasaan individu dalam mengakui keberadaan hak milik pribadi yaitu memperhatikan masalah umat. Islam mendorong pemilik harta untuk menyerahkan kelebihan kekayaannya kepada masyarakat/umat setelah mememnuhi kepuasan untuk diri sendiri dan keluarga (zakat). Tetapi, membatasi hak untuk menggunakan harta itu menurut kesukaannya sendiri. Hal ini dilakukan untuk perlindungan kebaikan umum dan agar hak milik pribadi tidak memberikan dampak negatif pada orang lain. Inilah paham islam yang moderat dalam mengakui hak pribadi. Ia mengambil sikap moderat antara mereka yang mendewakan hak miik dan mereka yang secara mutlak menafikan hak milik.

3. Dalam penggunaan hak milik pribadi untuk kepentingan pribadi dibatasi oleh

ketentuan syariat

Setiap individu memiiki kebebasan untuk menikmati hak miliknya, menggunakannya secara produktif, memindahkannya, melindunginya dari penyia-nyiaan harta. Tetapi, haknya itu dibatasi oleh sejumlah limitasi tertentu yang sesuai syariat, tentunya. Ia tidak boleh menggunakannya semena-mena, juga tak boleh menggunakannya untuk tujuan bermewah-mewahan. Dalam bertransaksi pun tidak boleh melakukan cara-cara yang terlarang. Karena manusia hanya sebagai pemegang amanah, maka sudah selayaknya ia harus sanggup menerima batasan-batasan yang dibebankan oleh masyarakat terhadap penggunaan harta benda tersebut. Batasan tersebut semata-mata untuk mencegah kecenderungan sebagian pemilik harta benda yang bertindak sewenang-wenang (ekspolitasi) dalam masyarakat. Pemilik harta yang baik adalah yang bertenggang rasa dalam menikmati hak mereka denganbebas tanpa dibatasi dan dipengaruhi oleh kecenderungan diatas sehingga dapat mencapai keadilan sosial di dalam masyarakat.

Hak Milik Umum (Kolektif)

Tipe kedua dari hak milik adalah pemilikan secara umum (kolektif). Konsep hak milik umum pada mulanya digunakan dalam islam dan tidak terdapat pada masa sebelumnya. Hak milik dalam islam tentu saja memiliki makna yang sangat berbeda dan tidak memiliki persamaan langsung dengan apa yang dimasud oleh sistem kapitalis, sosialis dan komunis. Maksudnya, tipe ini memiliki bentuk yang berbeda beda. Misalnya : semua harta milik masyarakat yang memberikan pemilikan atau pemanfaatan atas berbagai macam benda yang berbeda-beda kepada warganya. Sebagian dari benda yang memberikan manfaat besar pada masyarakat berada di bawah pengawasan umum, sementara sebagian yang lain diserahkan kepada individu. Pembagian mengenai harta yang menjadi milik masyarakat dengan milik individu secara keseluruhan berdasarkan kepentingan umum. Contoh lain, tentang pemilikan harta kekayaan secara kolektif adalah wakaf.

Hak Milik Negara

Tipe ketiga dari kepemilikan adalah hak milik oleh negara. Negara membutuhkan hak milik untuk memperoleh pendapatan, sumber penghasilan dan kekuasaan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Misal, untuk menyelenggarakan pendidikan, memelihara keadilan, regenerasi moral dan tatanan masyarakat yang terjamin kesejahteraannya. Menurut Ibn taimiyah, sumber utama kekayaan negara adalah zakat, barang rampasan perang (ghanimah). Selain itu, negara juga meningkatkan sumber pengahsilan dengan mengenakan pajak kepada warga negaranya, ketika dibutuhkan atau kebutuhannya meningkat. Demikian pula, berlaku bagi kekayaan yang tak diketahui pemiliknya, wakaf, hibah dan pungutan denda termasuk sumber kekayaan negara.

Kekayaan negara secara aktual merupakan kekayaan umum. Kepala negara hanya bertindak sebagai pemegang amanah. Dan merupakan kewajiban negara untuk mengeluarkan nya guna kepentingan umum. Oleh karena itu, sangat dilarang penggunaan kekayaan negara yang berlebih-lebihan. Adalah merupakan kewajiban negara melindungi hak fakirmiskin, bekerja keras bagi kemajuan ekonomi masyarakat, mengembangkan sistem keamanan sosial dan mengurangi jurang pemisah dalam hal distribusi pendapatan.

IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Islam mengakui adanya hak milik pribadi (individu) dan memperbolehkan usaha-usaha serta inisiatif individu di dalam menggunakan dan mengelola harta pribadinya. Islam juga telah memberikan batasan-batasan tertentu yang sesuai syariat sehingga seseorang dapat menggunakan harta pribadinya tanpa merugikan kepentingan umum.

Sebenarnya kerangka sistem islam secara keseluruhan ini dibentuk berdasarkan kebebasan individu di dalam mencari dan memiliki harta benda dan campur tangan pemerintah (intervensi) yang sangat terbatas hanya terhadap harta yang sangat diperlukan oleh masyarakat, selain itu tidak.

Namun, ada beberapa kepentingan umum yang tidak bisa di kelola dan dimiliki secara perorangan (KA, pos, listrik, air, dsb), tapi semua itu menjadi milik dan dikelola oleh negara untuk kepentingan umum.

Kemudian terdapat perbedaan sifat hak milik, baik itu pribadi maupun umum, yang terdapat dalam Islam dengan kapitalis dan komunis. Di dalam kapitalis, hak milik individu adalah mutlak tak terbatas. Dalam komunis, hak milik diabaikan sama sekali. Sedangkan di dalam islam, hak individu itu berada dalam keadaan norma, bukan tak terbatas seperti yang terdapat dalam kapitalis, ataupun ditekan sama sekali seperti yang terdapat dalam komunis. Inilah sisi kemoderatan islam dalam memandang hak milik.

V. DAFTAR PUSTAKA

1. Afzalur Rahman, “Doktrin Ekonomi Islam I”, Dana Bakti Wakat, 1997, Yogyakarta.

2. Dr. A.A. Islahi, “Konsepsi Ekonomi Ibn Taimiyah”, PT. Bina Ilmu, 1997.

3. DR. Yusuf Qardhawi, “Norma dan Etika Ekonomi Islam”, GIP, 1997, JKT.

4. DR. Yusuf Qardhawi,”Peran, Nilai dan moral dalam Perekonomian Islam”, JKT.

5. Kitab suci Alquran.

Rabu, 19 Maret 2008

Jahilliyah modern

Inilah wajah kampung halaman kita. Telah menjadi kebanggaan syetan-syetan di depan Iblis. Mungkinkah kita lupa! Syetan dan Iblis itu adalah musuh bebuyutan bani adam yaitu seluruh yang berbangsa manusia, lalu kenapa malah sebagian manusia menyembah-nyembah dengan aneka cara dan dengan mengikuti petunjuknya yang menuju ke neraka.

Sekarang ini televisi sudah berani sekali merusak moral bangsa dengan aneka tayangan. Adegan yang berlabel Islam, namun penuh dengan pengrusakan aqidah Islam bahkan berupa kepalsuan dan penghinaan terhadap syariat Islam. Adegan ciuman dan bahkan lebih dari itu sudah merupakan menu setiap saat. Belum lagi VCD porno (yang menurut mereka karya seni) yang beredar di mana-mana. Masih ditambah lagi dengan aneka majalah, tabloid dan bacaan yang porno lagi menjijikkan plus menyesatkan aqidah.

Semua itu dijajakan secara terang-terangan dan besar-besaran, bahkan kadang dipampang di dekat Masjid, rumah Alloh Subahanahu wa Ta’ala. Kalau dulu zaman jahiliyah orang-orang musyrikin memajang berhala-berhala di sekitar Ka’bah (berhala-berhala ini umumnya patung-patung orang sholeh), maka sekarang manusia-manusia jahiliyah modern memajang gambar-gambar porno dan tak sopan di dekat-dekat masjid, di pinggir-pinggir jalan, di tempat-tempat strategis, dan di kamar-kamar, bahkan ruang tamu. Sebagian remaja Islam merasa malu apabila di dalam kamarnya tidak dipajang poster-poster artis, pemain bola dan sebagainya. Para aktifis Islam pun, tidak sedikit yang memajang poster-poster penyanyi-penyanyi ”Islam”, ustadz/ustadzah idola (sungguh hal yang memilukan hati). Bahkan poster yang tidak sedikit memperlihatkan aurat tersebut, secara sengaja atau tidak sengaja pada hakikatnya secara tidak langsung ataupun langsung telah dijadikan sebuah berhala era modern. Mereka sangat mengelu-elukannya dan memimpikannya.

Sungguh fenomena luar biasa. Benar-benar jahiliyah modern. Televisi dan VCD yang berisi gambar-gambar porno pun dipajang di kamar-kamar, bahkan kamar tidur. Ini seperti orang-orang musyrikin menyimpan benda-benda yang dikeramatkan yang dianggap sebagai memberikan keamanan kepada mereka.

Keadaan ini pantas dibanggakan di depan Sang Iblis yang setiap saat menyeleksi syetan-syetan yang melapor padanya atas dahsyatnya tipu daya yang dilakukan syetan terhadap manusia.

Yang lebih luar biasa lagi adalah sebagian penjahat, artis dan masyarakat bahkan para pejabat berbondong-bondong tunduk di kaki para dukun atau istilah modern-nya paranormal. Sedang para dukun/paranormal makin cengengesan (tertawa tanpa aturan) dengan aneka paket tipuan. Ada yang membuat istilah pengobatan alternatif, kontak jarak jauh, supranatural, susuk asmara, paranormal ampuh dan aneka macam tetek bengek istilah yang mereka tipukan pada masyarakat. Padahal hakekatnya adalah sama saja, mereka itu adalah biang para perusak bangsa ini.

Sulit diatasi kecuali mengembalikan umat ke jalan Islam yang shohih secara kaffah. Bagaimana tidak sulit, pihak keamanan yang harusnya menjadi pengayom penegakkan kebenaran dan keadilan (Adil dan Benar itukan menurut Alloh bukah menurut manusia atau thoghut) justru ikut-ikutan antri ke dukun, sedang para punggawa sampai pejabat tinggi sudah banyak yang tunduk pada dukun, maka pada dasarnya negeri ini adalah mainan syetan. Karena dukun adalah wali (kekasih, teman komplot) syetan.

Kenapa syetan-syetan yang sebenarnya adalah musuh manusia itu malah di mintai tolong untuk menyantet, untuk menghidup suburkan kemaksiatan, untuk menegakkan hukum thoghut, dan untuk membantu dalam menolak ditegakkannya syari’at Islam?

Bukankah kita masih mengaku sebagai Muslim? Bahkan marah kalau ada yang menyindir seperti; “Saya memakai jilbab karena saya Muslim, saya menutup aurat karena saya Muslim” Lalu lawan bicaranya sedikit sebal dengan berkata “Saya Juga Muslim Bu!!!”

Sadarkah kita!, Selama ini mungkin mulutmu sering jadi corong syetan. Tangan sering menjadi senjata syetan dalam menggencet muslimin. Otak sering jadi penebar ideologi syetan dalam menghalangi syari’at Islam. Sedang darah dan daging mungkin memang dijadikan dari makanan yang dihasilkan bersama-sama syetan atau dengan cara yang dicanangkan syetan. Ini bukan tuduhan, tetapi sekadar mengingatkan, kepada diri saya sendiri dan kepada jama’ah sekalian. Kita ini perlu muhasabah, mengoreksi diri. Kenapa kita sudah terlalu jauh rusaknya seperti ini.

Kita meminta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar memberi hidayah kepada kita semua dan memberi taufik kepada kaum muslimin seluruhnya, para pemerintah dan rakyatnya untuk kembali ke jalan yang Haq, memerangi syetan dan berhati-hati dari padanya, serta merasa cukup dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pada segala perkara di muka bumi ini yang sesuai dengan syariat karena Dia-lah yang berkuasa atasnya

Sifat 2 Istiqomah

Istiqomah adalah anonim dari thugyan (penyimpangan atau melampau batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata Istoqomah dari kata “qamma” yang berarti berdiri. Maka secara bahasa, Istoqomah berarti tegak lurus. Sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. “Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS 11 : 112).

Istiqomah menimbulkan keberanian. Pemberani bukan nekat tanpa perhitungan. Keberanian yang timbul dalam istiqomah didasari pertimbangan matang dan penuh perhitungan untuk meraih ridha Allah.

Sifat-sifat orang-orang Istiqomah :
1.Memiliki daya tahan besar. Seseorang yang istiqomah memiliki daya tahan yang besar dalam menghadapi kesulitan, penderitaan dan berbagai resiko lain di jalan Allah.
2.Berterus terang dalam kebenaran. “Qulil haq walau kaana murron”(katakan yang benar meskipun itu pahit). Hanya orang yang beristiqomah memiliki keteguhan dan keberanian menanggung resiko berterus-terang dalam kebenaran.
3.Kemampuan menyimpan rahasia. Orang yang istiqomah bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan terutama dalam perjuangan Islam. Merencanakan, mengatur dan menyimpan rahasia dengan baik.
4.Mengakui kesalahan. Seorang yang istiqomah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung-jawab.
5.Bersikap obyektif terhadap diri sendiri. Orang yang benar istiqomahnya tidak menganggap dirinya baik, sempurna dan tidak memiliki kelemahan. Begitu juga tidak merasa rendah diri, tidak mampu dan tidak berbuat apapun di jalan Allah.
6.Menahan nafsu di saat marah. Orang yang istiqomah dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya walaupun punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarah.
7.Orang yang istiqomah dalam kebenaran memiliki keberanian dan kemampuan menanggung resiko terbesar dalam hidup yaitu MATI di jalan Allah.

Semoga Allah menggolongkan kita sebagai orang-orang yang selalu beristiqomah di jalan-Nya. Amin.

Hari jum`at

Semua hari adalah baik. Jum’at adalah hari yang paling mulia serta mempunyai beberapa fadhilat untuk direnungi. Diantara peristiwa itu adalah perkawinan Nabi Adam dan Hawa; Nabi Yusuf dan Zulaiha; Nabi Musa dengan Shafura binti Syuaib; Rosulullah dengan Khadijah; Rasulullah dengan Aisyah binti Abu Bakar, serta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, maksudnya : “Sebaik-baik hari yang terbit matahari ialah Jum’at, pada hari itulah, Adam dicipatakan dan pada hari itulah juga ia dikeluarkan dari syurga”.

“Pada Jum’at juga kiamat akan berlaku. Pada hari itu tidaklah seorang yang beriman meminta sesuatu dari Allah melainkan akan dikabulkan permintaannya.” (Hadits riwayat Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda yang bermaksud : “Hari yang dijanjikan ialah hari kiamat, hari yang disaksikan ialah hari Arafah, dan hari yang menyaksikan ialah hari Jum’at. Matahari tidak terbit dan tidak terbenam pada mana-mana hari yang lebih mulia dan afdhal daripada hari Jum’at.

“Pada hari itu terdapat suatu masa dimana seorang hamba mukmin apabila meminta (berdo’a) kepada Allah sesuatu kebaikan melainkan Allah memakbulkan do’anya atau ia meminta Allah melindunginya daripada suatu kejahatan melainkan Allah melindunginya daripada kejahatan.” (Hadits riwayat Tirmidzi).

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan Abu Hurairah yang bermaksud : “Jum’at dinamakan sebagai Sayyidul ayyam, yaitu penghulu segala hari (hari yang terbaik).

Apa Yang kita Pelajari

"Keutamaan Ilmu:
Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak sekali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Buah Ilmu menyampaikan kepada kita sampai 129 sisi keutamaan ilmu, beberapa keutamaan ilmu diantaranya:

“Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar(39):9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(Al-Mujadilah(58):11)

“Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. “(Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)

“Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.”(HR.Tirmidzi, hasan)

“Barangsiap menempuh jalam untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR.Muslim)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia adalam (masalah) dien (agama).”(HR.Bukhari)

Ilmu yang dipelajari
Apakah yang dimaksud dengan ilmu pada hadits-hadits di atas? Apakah seluruh ilmu? Yang dimaksud ilmu di situ adalah ilmu nafi’ yaitu ilmu yang bermanfaat, yang akan mewariskan kebaikan dan barakah kepada penuntutnya baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya ilmu yang patut dituntut dan diusahakan untuk meraih adalah ilmu syar’i yang dengannya amal akan menjadi baik dan benar. Ilmu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ijma sahabat.

Apakah kita harus mempelajari semua ilmu yang ada? Tentunya tidak. Semua orang dilahirkan dengan kemudahan yang berbeda-beda. Kalau semuanya akan dituntut, sampai akhir hayatpun tidak semuanya dapat dipelajari, karena ilmu adalah samudera yang maha luas.

Apa yang mesti kita pelajari terlebih dahulu?
Pertama, Kitabullah. Ilmu yang pertama serta utama yang sekaligus sebagai dasar, sumber dan pedoman yang agung bagi ilmu-ilmu yang lainadalah Al-Qur’an. Marilah Al-Qur’an kita baca, kita pelajari isinya dan kita amalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Kedua, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Yaitu setiap apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apakah itu ucapan, perbuatan, atau persetujuan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita pelajari dan kita laksanakan perintah-perintahnya dan kita tinggalkan larangan-larangannya. Kita juga berkewajiban untuk mencontoh Nabi, karena beliau adalah suri teladan yang baik bagi kita. Terkadang ayat-ayat al-Qur’an belum dapat dipahami secara langsung, dan hanya bisa dipahamai dan diamalakan dengan petunjuk dari sunnah nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Misalnya perintah sholat, di Al-Qur’an tidak ada penjelasan bagaimana tata cara sholat, dengan mempelajari sunnahnya kita dapat mengetahui tata cara sholat yang diperintahkan.

Ketiga, Aqidah atau Ilmu tauhid
Ilmu ini memiliki kedudukan yang tinggi. Kebutuhan kita yang paling mendesak saat ini adalah mempelajari aqidah islamiyah. Jadikanlah mempelajari aqidah sebagai prioritas utama. Karena sekarang ini syirik merajalela, di mana-mana, hampir tidak pernah sunyi dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Pelajarilah dengan sebenar-benarnya, agar diri kita tidak terkena noda syirik. Bukankah syarat pertama diterimanya amal adalah bertauhid kepada Allah, tidak melakukan kesyirikan?

Keempat, ilmu tafsir
Dengan ilmu tafsir, kita dapat memahami ayat-ayat yang sulit, yang belum dapat kita pahami langsung dari Al-Qur’an. Dalam kitab tafsir dijelaskan tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits. Namun perlu diperhatikan, pelajarilah kitab tafsir yang penulisnya memiliki aqidah yang shahihah dan komitmen terhadap hadits-jadits yang shahih.

Kelima, ilmu fiqh
Ilmu ini berhubungan erat dengan pelaksanaan ibadah, syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Sungguh-sungguhlah menuntut ilmu ini, karena apabila tidak dipelajari secara benar, maka ibadah yang kita lakukan bisa sia-sia. Dengan ilmu ini kita bisa mengetahui tata cara peribadatan. Tentunya tidak harus semunya kita tahu, bagi kita, minimal mengetahui apa-apa yang selalu kita kerjakan sehari-hari, seperti thaharah, shalat, puasa, dan yang lainnya.

Pelajarilah ilmu-lmu tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Prioritaskanlah yang harus diprioritaskan. Dahulukanlah mana yang harus didahulukan. Pelajarilah hal-hal yang merupakan wajib a’in (fardhu ‘ain) bagi kita."