Kamis, 28 Februari 2008

Anti Stress Terapi Islami

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang

melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak

akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

(QS. Ath-Thalaaq [65]: 7)

Kali ini saya ingin menceritakan kisah jenaka untuk Anda. Siapa tak kenal Nasrudin Hoja? Tokoh sufi khayalan yang satu ini sangat masyhur karena tingkahnya yang jenaka. Pernah suatu hari, ia terlihat duduk termenung. Pandangannya sesekali kosong. Dan jangankan lagi santai, sedang bekerja pun ia bisa terhanyut dalam kehampaan sesaat. Seseorang lalu menghampirinya. Ia heran, kenapa Nasrudin kelihatan tak bergairah. Ada apa gerangan? “Aku lagi stres. Pusing, tak jelas harus berbuat apa. Padahal, aku sudah serius bekerja,” katanya sembari menarik nafas panjang. Tarikan nafas itu cermin ketertekanan.

Ternyata, Nasrudin stres karena di mata majikannya, tak ada pekerjaannya yang dianggap beres. Ini salah, itu juga salah. Begitu pula di rumah. Istrinya selalu menyalahkannya. Hingga pernah suatu saat ia mengeluh pada istrinya: “Dulu, waktu baru nikah, setiap kali aku pulang ke rumah, kau membawakan sandalku, dan anjing kita menyambut dengan gonggongan. Kini terbalik, anjing kita malah yang membawakan sandal, dan kau yang menggonggong.”

Mendengar kegusaran Nasrudin, istrinya tak kalah tangkas menangkis. Perang mulut pun tak terelakkan. Masalah bertambah runyam karena anaknya ikut-ikutan mengatur. Tak disangka, rumah pun bisa jadi sumber “malapetaka” baginya. Tiada hari tanpa masalah. Nasrudin pun jadi uring-uringan. Karena itu, ia lebih senang menyendiri. Mungkin saja Nasrudin memahami sebuah ungkapan, “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan dalam diam.”

Tidak mau terus-menerus dibebani masalah, Nasrudin pun putar akal. Ketemu obatnya. Ia lalu membeli sepatu nomor 40, kendati kakinya berukuran 42. Anda bisa bayangkan, Nasrudin yang disiksa stres lalu menciptakan stres tandingan dengan memakai sepatu kekecilan. Hasilnya, ia merasa plong kala melepas sepatunya, setelah seharian dirongrong stres. “Uh, leganya,” ujar Nasrudin cerah.

Ada-ada saja kelakuan Nasrudin. Namun, dari cerita ini bisa ditarik garis apa saja. Misalnya, bahwa sebenarnya kehidupan itu intinya ada di hati. Jika “hati itu gelap”, sulit menemukan kebenaran. Jadi, butuh “cahaya” Ilahi. Cahaya inilah yang akan menuntun kita menemukan kebenaran. Akan tetapi, cahaya itu tak selalu menyala terang. Saat angin bertiup sangat kencang, cahaya itu bisa padam dan keadaan menjadi gulita. Saat seperti itu, kita takkan mampu memahami masalah sendiri dengan dalam. Maka yang muncul kemudian adalah stres.

Hidup Tanpa Stres

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap keunikan. Sejak ia dilahirkan, manusia sudah mulai belajar mengenal sifat-sifat lingkungannya. Pun bagaimana cara menghadapinya. Proses ini berlangsung terus menerus dalam kehidupannya. Dalam proses itu, ada tuntutan terhadap masalah yang mewarnai kehidupan emosional seseorang. Entah itu emosi positif, seperti cinta, bahagia, dan senang; atau emosi negatif, seperti rasa takut, cemas, marah, tertekan, dan rasa bersalah. Situasi yang menekan tersebut merupakan pemicu timbulnya stres.

Stres merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan, stres sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Stres menyerang tidak pandang bulu. Ia datang akibat adanya situasi eksternal atau internal yang menimbulkan tekanan dan gangguan pada keseimbangan hidup seseorang. Stres biasanya menampilkan diri melalui berbagai gejala, seperti meningkatnya kegelisahan, ketegangan, dan kecemasan. Juga dapat tampil dalam perubahan pada perilaku: jadi tidak sabar, lebih cepat marah, atau menarik diri dari lingkungan sosial. Namun begitu, meski cukup sering mengganggu, stres tidak perlu selalu dilihat sebagai hal negatif. Dalam hal-hal tertentu, stres memiliki implikasi positif. Istilah psikologisnya, eustress atau stres dalam artian positif, yakni keadaan yang dapat memotivasi dan berdampak menguntungkan. Misalnya, karena merasa tertinggal, seseorang memotivasi diri sendiri sehingga dapat berprestasi gemilang.

Dalam kajian psikologi populer, stres terjadi jika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang dirasakan sebagai ancaman terhadap kesehatan fisik maupun psikologisnya. Karena itu, sebagian orang mendefinisikan stres sebagai tekanan, desakan, atau respon emosional. Dengan kata lain, stres merupakan keadaan tertekan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan kemampuannya untuk mengatasi beban tersebut. Makanya, jika tidak ingin dirongrong stres terus menerus, kita perlu melakukan usaha-usaha untuk menguasai, mengurangi, menoleransi, dan meminimalkan tekanan-tekanan tersebut.

Lima belas abad silam, Allah ‘azza wa jalla telah memberi pencerahan. Dia yang Maha Pengasih menganjurkan manusia untuk bersabar ketika menghadapi berbagai kenyataan hidup. Kesabaran dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menghayati realitas yang terjadi, menyadari bahwa realitas itu diciptakan oleh Allah, dan kesediaan untuk menerima kenyataan yang boleh jadi tidak menyenangkan secara fisik pun psikis. Istilah ini juga dikenal sebagai kelapangdadaan (al-basith). Ketahuilah, tidak ada anjuran dari Sang Khaliq kecuali secara potensial manusia mampu melakukannya. Tidak ada anjuran untuk bersabar atau berlapangdada tanpa ada potensi untuk memiliki kelapangdadaan atau kesabaran. Karena itu, tidak ada alasan untuk stres. Mahabenar Allah dalam firman-Nya:

“Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu namamu (derajatmu)? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 1-5)

Tahajud sebagai Terapi

Telaah psikoneurologi menyebutkan bahwa masyarakat modern menjalankan aktivitas yang didominasi oleh keterlibatan otak kiri. Konsekuensinya adalah terbentuknya individu-individu yang mengedepankan rasionalitas seraya cenderung menihilkan keterlibatan emosionalitas dalam pelbagai aktivitas mereka. Daya analisisnya canggih, namun empatinya rendah. Retorikanya gegap-gempita, tapi penghayatannya akan masalah sunyi senyap. Sebuah fenomena yang umum sebagai hasil dari digunakannya satu sisi otak saja.

Untuk merekonstruksi masyarakat yang bertindak-tanduk demikian, dibutuhkan wahana yang mampu mengaktifkan kembali kebutuhan setiap individu untuk dapat menjadi lebih cerdas secara emosional dan spiritual. Tanda-tanda munculnya kembali rasa rindu khalayak luas akan kejernihan emosi dan kebeningan spiritual menunjukkan peningkatan belakangan ini. Hal tersebut tampak dari menjamurnya berpuluh-puluh pelatihan serta seminar tentang emosi dan spiritualitas. Juga ramai sekali diselenggarakan majelis dzikir dan doa secara massal.

Sebuah penelitian bertajuk “Religion and Spirituality in Coping with Stress” yang dipublikasikan oleh Journal of Counseling and Values (2001) menunjukkan bahwa semakin penting spiritualitas bagi seseorang, maka semakin besar kemampuannya mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini menyarankan bahwa spiritualitas bisa memiliki peran yang penting dalam mengatasi stres. Spiritualitas bisa melibatkan sesuatu di luar sumber-sumber yang nyata atau mencari terapi untuk mengatasi situasi-situasi yang penuh tekanan di dalam hidup. Kesehatan spiritual mencakup penemuan makna dan tujuan dalam hidup seseorang, mengandalkan Tuhan atau suatu kekuatan yang lebih tinggi (The Higher Power), merasakan kedamaian, atau merasakan hubungan dengan alam semesta.

Satu anjuran yang kerap digemakan sebagai sarana pendekatan diri kepada Tuhan adalah shalat tahajud. Hal yang menggembirakan, shalat malam ternyata bermanfaat untuk kesehatan. Khasiat ini dibuktikan melalui sebuah riset. Adalah Dr. Mohammad Soleh dalam bukunya Terapi Shalat Tahajud mengungkapkan bahwa tahajud bisa mencegah stres dan meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Tentu bila itu semua dikerjakan secara teratur dan ikhlas. Saking utamanya shalat di sepertiga malam terakhir ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Setan mengikat pada tengkuk tiap orang di antara kamu, ketika ia tidur, dengan tiga ikatan (simpul). Setiap simpulnya ditiupkan ucapannya, ‘Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.’ Maka apabila ia bangun dan menyebut nama Allah, terurailah satu simpul. Bila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan ketika ia shalat, maka terurailah simpul terakhir; lalu di pagi hari, dirinya menjadi segar, bersemangat dan hatinya pun terang. Jika tidak, maka di pagi hari jiwanya dililit kekalutan dan malas untuk beraktivitas.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Agaknya, benar kata orang bijak, “Take time to pray. It is the greatest power on earth.” Jadi, shalatlah tahajud dengan ikhlas jika ingin hidup tenang dan sehat. Ibnu Mubarrak berkata dalam bait syairnya, “Saat malam tiba berselimut gulita// Kala manusia lain lelap dalam tidurnya// Mereka lawan beratnya malam dengan ibadah// untuk merebak cahaya Yang Kuasa// Rasa takut kepada-Nya menerbangkan kantuk mereka// Sedang orang yang merasa aman dari murka-Nya// terbuai dalam mimpi-mimpinya.

Menjemput Rizqi Bisakah?

Dan tidak satu pun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

(QS. Huud [11]: 6).

Setiap manusia sudah ditetapkan rezekinya masing-masing. Jangan takut tidak kebagian rezeki dari Allah. Karena sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk yang bernyawa. Orang yang beriman kepada Allah tentu tidak akan pernah mengeluh tentang apa yang ia peroleh. Sekalipun yang didapatkannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Karena ia yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya.

Sekalipun rezeki itu telah ditetapkan bagi setiap makhluk yang bernyawa, manusia tidak boleh tinggal duduk diam dengan mengharap rezeki datang begitu saja. Manusia juga harus berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah tersebut. Karena rezeki itu bukan seperti hujan yang turun dari langit begitu saja tanpa disertai ikhtiar. Apa yang kita tabur, tentu kelak kitapun akan menuainya. Allah Maha Pengasih. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Apa yang diusahakan manusia tentu ia pun akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Begitu pula dengan rezeki. Orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh tentu akan mendapatkan rezeki yang lebih baik daripada orang yang hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun yang dapat mendatangkan rezeki. Perusahaan-perusahaan yang berdiri megah diawali dengan peluh. Manusia biasanya hanya melihat segala sesuatu dari luar saja. Ia tidak melihat bagaimana seorang pengusaha yang sukses mengalami jatuh-bangun sehingga mendapatkan apa yang telah ia usahakan.

Ada cerita menarik dari salah seorang penjual bubur ayam yang pernah saya temui. Pada kaca gerobaknya tertera tulisan ‘MENJEMPUT REZEKI’. Penjual bubur ayam ini tampaknya menyadari bahwa yang dilakukannya bukanlah dalam rangka mencari rezeki. Tetapi yang dilakukannya adalah menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT baginya. Manusia tidak perlu memaksakan diri dalam mengejar rezeki-Nya. Tetapi juga bukan berarti ia tidak berusaha uintuk berikhtiar menjemput rezeki-Nya. Ikhlaskan diri dalam setiap ikhtiar yang dilakukan.

Setiap manusia memiliki cara yang berbeda-beda dalam menjemput rezeki. Tinggal bagaimana cara manusia itu sendiri untuk mengetahui potensinya dan menjemput rezeki yang telah ditetapkan untuknya. Seorang yang ahli dalam meracik makanan tentu sangat baik jika ia menjemput rezekinya dengan cara mendirikan usaha rumah makan. Seorang yang mahir dalam membuat suatu kerajinan tangan, membuat souvenir misalnya, bukan tidak mungkin ia akan menuai sukses dengan usahanya tersebut.

Orang yang merasa bahwa dirinya jauh dari rezeki adalah orang-orang yang pesimis. Keimanan mereka masih perlu dipertanyakan. Allah telah menetapkan rezeki bagi masing-masing hambanya sebelum ia keluar dari rahim ibunya. Bahkan pada saat empat bulan didalam kandungan rezeki seorang hamba sudah ditetapkan Allah SWT. Manusia tidak perlu takut akan rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT untuknya. Sesunguhnya Allah SWT Maha Pengasih. Ia tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berikhtiar menjemput rezekinya dengan mengaharap ridha-Nya.

Selain itu banyak cara yang bisa mengundang rezeki yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan cara silaturrahmi. Silaturrahmi merupakan salah satu cara yang sangat mudah dilakukan tapi sangat baik manfaatnya. Semakin banyak relasi yang dimiliki maka peluang untuk memperoleh rezeki semakin terbuka lebar. Hal ini bukan berarti kita berharap menengadahkan tangan kepada orang lain untuk mau memberikan sebagian rezeki mereka kepada kita. Tapi mempermudah jalan kita untuk memperoleh masukan dari mereka yang memiliki pengalaman yang berbeda dalam usahanya masing-masing. Misal seseorang yang sedang mencari pekerjaan mendapatkan kemudahan tentang informasi lowongan pekerjaan karena memiliki banyak kenalan yang bisa membantunya.

Setiap manusia pasti mempunyai keinginan yang terbaik bagi dirinya. Namun keinginan tersebut harus disertai dengan ikhtiar. Dengan adanya ikhtiar, maka Allah SWT akan memudahkan untuk mencapainya. Sebaliknya, kemalasan akan membawa manusia kepada keterbelakangan. Malas bukan merupakan alasan untuk menghindar dari suatu kewajiban. Setiap orang diberikan pilihan, tinggal bagaimana ia memilih yang terbaik bagi kehidupannya. Jika yang dipilih bisa membawa dirinya pada kemelaratan, itu merupakan pilihannya. Tapi manusia yang memiliki akal pikiran tentu akan memilih sesuatu yang dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Milikilah rasa optimis, karena optimisme akan mempermudah pencapaian cita-cita dan keinginan. Orang yang optimis tidak pernah mengenal kata putus asa. Karena Allah SWT melarang hambaNya sikap berputus asa (Q.S. Yusuf [12]: 87). Setiap kali ia ditimpa cobaan ia selalu mengevaluasi diri (muhasabah) agar bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Orang yang optimis tidak pernah takut akan bagian rezeki yang diperolehnya. Ia percaya bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya. Ia pun yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berikhtiar untuk menjemput rezeki dari-Nya.

Ikhtiar juga perlu diiringi dengan doa. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjemput rezeki dari-Nya. Namun, sebagian manusia enggan berdoa. Ironisnya mereka berharap memperoleh rezeki yang banyak dari-Nya, padahal Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” (Q.S. Al Baqarah [2]: 186).

Selain itu, seorang hamba sudah seharusnya untuk menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya agar doa yang kita panjatkan mendapat perhatian dari-Nya. Gunakan waktu-waktu mustajabnya doa dalam berdoa kepada Allah SWT. Seperti pada waktu sepertiga malam terakhir, diantara iqamat dan adzan, dan pada saat sujud dalam sholat. Adukan apa yang menjadi permasalahan hanya kepada Allah SWT. Agungkan Dia dalam setiap doa yang dipanjatkan. Bermohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa harap dan cemas (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21] : 90)

Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan Allah SWT kepada kita. Jika Dia telah memberikan rezeki kepada hamba-Nya, tunaikanlah kewajiban untuk mengeluarkan sebagiannya bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kufur terhadap nikmat-Nya yang telah dikaruniakan. Bersihkanlah harta yang dititipkan itu dengan cara mengeluarkan zakat. Bersedekah kepada orang lain tidak akan mengurangi bagian dari rezeki yang diperoleh. Tetapi justru bisa menjadi tabungan kelak, baik di dunia maupun di akhirat. (Q.S. Al-An’aam [6] : 160).

Rezeki yang telah dititipkan sebaiknya disikapi dengan bijak dalam pengelolaannya. Harta yang hanya disimpan tidak akan pernah beranak pinak menjadi banyak. Untuk itu perlu keahlian dalam mengaturnya. Mempergunakannya dengan memprioritaskan kebutuhan yang paling utama. Orang yang tidak punya pengaturan yang baik terhadap harta yang dimiliki, maka ia akan selalu merasa kurang dengan apa yang telah diperolehnya walaupun ia memiliki harta yang banyak. Tetapi bagi yang mengerti bagaimana mengelola rezeki dengan baik maka ia akan selau merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya. Bahkan mungkin ia merasa lebih.

Yakinlah bahwa bagian rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT kepada hambanya tidak akan berkurang sedikitpun. Jemputlah rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT dengan hati yang ikhlas. Jangan pernah mengeluh dari apa yang telah diberikan Allah SWT. Berusaha untuk senantiasa merasa cukup dan tetap terus berikhtiar untuk meraih ridhanya.

Mengaktifkan Indera ke enam

an barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya.

(QS. Al-Israa’ [17]: 72)

Mendengar kata ‘indera keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna, bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak rasakan. Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang kita tahu selama ini hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca indera’. Fungsi dan mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat berbeda.

Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat sesuatu apabila ada cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda tersebut memantulkan cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya, meskipun di depan kita ada suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita lihat. Misalnya dalam kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan kita sendiri. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau cahaya.

Indera penglihatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat jika ada pantulan cahaya pada frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa melihat benda yang terlalu jauh. Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil seperti sel-sel ataupun bakteri. Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok. Bahkan mata kita sering ‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang hari yang terik, dari kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan beraspal. Namun apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar adanya. Ini yang kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda lurus dalam air, sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita lihat di langit sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar dari bumi yang kita tempati.

Penglihatan oleh mata kita sangat kondisional, seringkali tidak ‘menceritakan’ keadaan yang sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas memberikan gambaran bahwa indera mata kita mengalami distorsi alias penyimpangan yang sangat besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk melihat dan memahami dunia nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa melihat apa yang ada dalam diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa yang orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.

Namun keterbatasan ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja apabila mata kita bisa melihat benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri ataupun jamur. Maka kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab semua makanan yang kita makan mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya sangat menyeramkan. Satu menit saja kita menyimpan makanan dalam keadaan terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada pada makanan tersebut. Atau seandainya mata kita tidak terbatas, maka kita akan bisa melihat setan-setan dan jin-jin yang berkeliaran di sekitar kita, dapat melihat orang di balik tembok, dapat melihat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh kita sendiri sehingga menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan sangat menyeramkan.

Indera selanjutnya adalah telinga. Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara. Telinga hanya bisa mendengar suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz. Suara yang memiliki frekuensi tersebut akan menggetarkan gendang telinga kita, untuk kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf pendengar. Hasil dari interpretasi otak, suara dapat ditandai dan dikerahui. Apabila suara getarannya dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz maka suarapun tidak akan mampu didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah alias rusak.

Pada intinya telinga kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi, maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup kitapun tidak akan tenang.

Indera yang ketiga adalah hidung. Indera ini digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat saraf-saraf yang akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf menghantarkannya ke otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga, hidung juga memiliki keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita menerima aroma makanan yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila hidung sering merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan hilang. Misalnya kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk. Awalnya kita amat terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama kelamaan kita tidak akan merasakan bau busuk tersebut.

Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap dan peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk mengecap rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan lain-lain. Kedua indera inipun memiliki keterbatasan dalam memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau kulit kita dibiasakan dengan benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama, maka kepekaan kulit kita untuk memahami benda yang halus juga akan berkurang. Begitu juga dengan kemampuan lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita terbiasa dengan makanan pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan yang tidak terasa pedas.

Dengan berbagai penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima indera yang kita miliki semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali tertipu oleh hal-hal yang sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak jelas. Sebenarnya manusia memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan panca indera. Itulah indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam yang bisa berfungsi melihat, mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera tersebut yakni hati kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di atas tidak pernah mampu kita maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak pernah melatihnya.

Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Karena itu seorang bayi dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa balitanya bisa melihat dunia jin misalnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya waktu, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya adalah orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila kita tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.

Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’ dengan Allah SWT hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa melihat Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa merasakan adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam Alqur’an surat Al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan:

“dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rsio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.

Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah SWT dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita.

Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia – sehingga hatinya tertutup – maka mereka akan dibangkitkan oleh Allah SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam surat Thahaa [20] ayat 124 disebutkan:

“Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa ‘melihat’ Allah SWT? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah SWT, bekerja karena Allah SWT, sholat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah SWT, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah SWT di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

Rahasia Solat

Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)

Ayat di atas begitu eksplisit menjelaskan adanya keterkaitan antara shalat dan perilaku yang ditunjukkan oleh seorang muslim. Pengaruh shalat memang tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk menggeneralisasi dan menghukumi kepribadian semua orang. Tetapi, paling tidak dalam ayat ini Allah menjelaskan sikap seorang manusia dari sudut pandang karakter dan watak/ tabiat yang dibawanya. Shalat itu membersihkan jiwa, menyucikannya, mengkondisikan seorang hamba untuk munajat kepada Allah Swt di dunia dan taqarrub dengan-Nya di akhirat. (Jabir Al-Jazairi, 2004: 298).

Shalat sebagai salah satu bagian penting ibadah dalam Islam sebagaimana bangunan ibadah yang lain juga memiliki banyak keistimewaan. Ia tidak hanya memiliki hikmah spesifik dalam setiap gerakan dan rukunnya, namun secara umum shalat juga memiliki pengaruh drastis terhadap perkembangan kepribadian seorang muslim. Tentu saja hal itu tidak serta merta dan langsung kita dapatkan dengan instan dalam pelaksanaan shalat. Manfaatnya tanpa terasa dan secara gradual akan masuk dalam diri muslim yang taat melaksanakannya.

Shalat merupakan media komunikasi antara sang Khlalik dan seorang hamba. Media komunikasi ini sekaligus sebagai media untuk senantiasa mengungkapkan rasa syukur atas segala nikmat. Selain itu, shalat bisa menjadi media untuk mengungkapkan apapun yang dirasakan seorang hamba. Dalam psikologi dikenal istilah katarsis, secara sederhana berarti mencurahkan segala apa yang terpendam dalam diri, positif maupun negatif. Maka, shalat bisa menjadi media katarsis yang akan membuat seseorang menjadi tentram hatinya.

Keterkaitan Shalat dan Akhlak

Shalat sebagai tiang agama, penyangga bangunan megah lagi perkasa. Ia sebagai cahaya terang keyakinan, obat pelipur ragam penyakit di dalam dada dan pengendali segala problem yang membelenggu langkah-langkah kehidupan manusia. Oleh karenanya, shalat dapat mencegah perilaku keji dan munkar, menjauhkan hawa nafsu yang condong pada kejelekan untuk mencampakkannya sejauh mungkin (Asykuri, tt:137)

Ibadah Shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam adalah bangunan megah indah yang memiliki sejuta ruang yang menampung semua inspirasi dan aspirasi serta ekspresi positif seseorang untuk berperilaku baik, karena perbuatan dan perkataan yang terkandung dalam shalat banyak mengandung hikmah, yang diantaranya menuntut kepada mushalli untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.

Sayangnya shalat sering dipandang hanya dalam bentuk formal ritual, mulai dari takbir, ruku’, sujud, dan salam. Sebuah kombinasi gerakan fisik yang terkait dengan tatanan fikih, tanpa ada kemuan yang mendalam atau keinginan untuk memahami hakikat yang terkandung di dalam simbol-simbol shalat. Berikut ini adalah nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam proses menjalankan ibadah shalat.

Pertama, latihan kedisiplinan. Waktu pelaksanaan shalat sudah ditentukan sehingga kita tidak boleh seenaknya mengganti, memajukan ataupun mengundurkan waktu pelaksanaannya, yang akan mengakibatkan batalnya shalat kita. Hal ini melatih kita untuk berdisiplin dan sekaligus menghargai waktu. Dengan senantiasa menjaga keteraturan ibadah dengan sunguh-sungguh, manusia akan terlatih untuk berdisiplin terhadap waktu (Toto Tasmara, 2001: 81). Dari segi banyaknya aturan dalam shalat seperti syarat sahnya, tata cara pelaksanaannya maupun hal-hal yang dilarang ketika shalat, batasan-batasan ini juga melatih kedisiplinan manusia untuk taat pada peraturan, tidak “semau gue” ataupun menuruti keinginan pribadi semata.

Kedua, latihan kebersihan, sebelum shalat, seseorang disyaratkan untuk mensycikan dirinya terlebih dahulu, yaitu dengan berwudlu atau bertayammum. Hal ini mengandung pengertian bahwa shalat hanya boleh dikerjakan oleh orang yang suci dari segala bentuk najis dan kotoran sehingga kita diharapkan selalu berlaku bersih dan suci. Di sini, kebersihan yang dituntut bukanlah secara fisik semata, akan tetapi meliputi aspek non-fisik sehingga diharapkan orang yang terbiasa melakukan shalat akan bersih secara lahir maupun batin.

Ketiga, latihan konsentrasi. Shalat melibatkan aktivitas lisan, badan, dan pikiran secara bersamaan dalam rangka menghadap ilahi. Ketika lisan mengucapkan Allahu Akbar, secara serentak tangan diangkat ke atas sebagai lambang memuliakan dan membesarkan, dan bersamaan dengan itu pula di dalam pikiran diniatkan akan shalat. Pada saat itu, semua hubungan diputuskan dengan dunia luar sendiri. Semua hal dipandang tidak ada kecuali hanya dirinya dan Allah, yang sedang disembah. Pemusatan seperti ini, yang dikerjakan secara rutin sehari lima sekali, melatih kemampuan konsentrasi pada manusia. Konsentrasi, dalam bahasa Arab disebut dengan khusyu’, dituntut untuk dapat dilakukan oleh pelaku shalat. Kekhusyukan ini sering disamakan dengan proses meditasi. Meditasi yang sering dilakukan oleh manusia dipercaya dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi dan mengurangi kecemasan.

Keempat, latihan sugesti kebaikan. Bacaan-bacaan di dalam shalat adalah kata-kata baik yang banyak mengandung pujian sekaligus doa kepada Allah. Memuji Allah artinya mengakui kelemahan kita sebagai manusia, sehingga melatih kita untuk senantiasa menjadi orang yang rendah hati, dan tidak sombong. Berdoa, selain bermakna nilai kerendahan hati, sekaligus juga dapat menumbuhkan sikap optimis dalam kehidupan. Ditinjau dari teori hypnosis yang menjadi landasan dari salah satu teknik terapi kejiwaan, pengucapan kata-kata (bacaan shalat) merupakan suatu proses auto sugesti, yang membuat si pelaku selalu berusaha mewujudkan apa yang telah diucapkannya tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, latihan kebersamaan. Dalam mengerjakan shalat sangat disarankan untuk melakukannya secara berjamaah (bersama orang lain). Dari sisi pahala, berdasarkan hadits nabi SAW jauh lebih besar bila dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri. Dari sisi psikologis, shalat berjamaah bisa memberikan aspek terapi yang sangat hebat manfaatnya, baik bersifat preventif maupun kuratif. Dengan shalat berjamaah, seseorang dapat menghindarkan diri dari gangguan kejiwaan seperti gejala keterasingan diri. Dengan shalat berjamaah, seseorang merasa adanya kebersamaan dalam hal nasib, kedudukan, rasa derita dan senang. Tidak ada lagi perbedaan antar individu berdasarkan pangkat, kedudukan, jabatan, dan lain-lain di dalam pelaksanaan shalat berjamaah.

Gambaran Kehidupan

Dalam gerakan shalat, kita bisa menemukan isyarat dari simbol-simbol yang terkandung dalam shalat, yaitu filsafat gerak. Seorang pribadi muslim harus bergerak, harus dinamis, karena tidak selamanya hidup ini akan qiyam (berdiri diam), perlambang kejayaan (dewasa). Suatu saat kita kita harus ruku’ (umur setengah baya), kemudian bersujud (umur pun mulai uzur). Sebaliknya, ada shalat tanpa gerak, dia berdiri kemudian salam. Itulah shalat mayit. Ini seakan memberikan isyarat bahwa pribadi yang statis, tidak ada kreativitas gerak, sesungguhnya sedang berada dalam kematian. (al-Muthawi’, 2001: 87). “Static condition means death,” kata Muhammad Iqbal.

Membudayakan Shalat Aktual

Sesungguhnya, shalat yang kita dirikan itu pada hakikatnya merupakan samudera mutiara yang mencerdaskan ruhani. Shalat menunjukkan sikap batiniyah untuk mendapatkan kekuatan, kepercayaan diri, serta keberanian untuk tegak berdiri menapaki kehidupan dunia nyata melalui perilaku yang jelas, terarah, dan memberikan pengaruh pada lingkungan. Bagi orang yang memahami makna sholat, sesungguhnya dia akan mengejar waktu amanat tersebut, karena dengan shalat, dia mempunyai kekuatan untuk hidup melaksanakan amanat Allah.

Sholat bukan hanya sekedar ritual formal, melainkan ada muatan aktual, yaitu bukti nyata yang dirasakan. Alangkah naifnya seseorang yang shalat, tetapi bibirnya penuh ucapan kebohongan. Alangkah tak berharganya makna shalat apabila tidak memberikan imbas untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan menjauhi yang mungkar. Bila kita memberikan santunan kepada orang miskin, memperhatikan masa depan anak yatim dan derajat kaum lemah, sesungguhnya kita telah melengkapi sholat kita dari bentuk yang formal menjadi aktual, dari sikap perihatin menjadi perilaku. Inilah yang dimaksudkan dengan sholat kaffah, . Muatan moral yang dipresentasikan oleh shalat membekas di kalbu dan membentuk kecerdasan rohani yang sangat tajam yang kemudian melahirkan amal saleh, mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.


Sudah Dekatkah Kiamat?

Pertanyaan di atas patut kita renungkan bersama mengingat banyak terjadi fenomena alam maupun fenomena sosial tentang tanda-tanda kiamat yang terdapat dalam hadits Rasulullah saw. Fenomena alam dengan berbagai bencana yang ada, baik itu murni kehendak Allah ataupun yang disebabkan oleh tangan manusia, menunjukan bahwa alam ini sudah berusia semakin tua. Adapun fenomena sosial, saat ini sudah banyak tanda-tanda sebagaimana diprediksi oleh baginda Rasulullah saw dalam haditsnya. Tulisan berikut ini akan memaparkan beberapa hadits Nabi saw tentang tanda-tanda kiamat, dan sedikit mengupas tentang dugaan seseorang bernama Sai Baba sebagai Dajjal akhir zaman sebagaimana ditulis oleh Abu Fatiah dalam bukunya “Dajjal sudah muncul dari Khurasan.

Berikut ini beberapa dalil tentang tanda-tanda akhir zaman. Hadits Rasulullah yang berbunyi :”Sesungguhnya diantara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat itu ada tiga, salah satunya ialah akan dituntutnya ilmu dari al-Ashogir (orang-orang kecil)”. Orang kecil maksudnya adalah orang yang berkata menurut pendapatnya sendiri saja (tanpa mengacu pada Kitabullah dan sunnah Rasulullah).

Hadits Rasulullah yang berbunyi:”Pada angkatan belakangan umatku, akan ada para lelaki yang naik pelana kuda yang menyerupai pelana kuda, lantas turun di pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian tapi telanjang, rambut kepala mereka bagaikan kelasa unta yang tinggi. Laknatlah mereka, karena mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Kalau di belakang (sesudahmu) mu nanti masih ada umat-umat lain, niscaya wanita-wanita kamu akan melayani wanita-wanita mereka, sebagimana dahulu kamu dilayani oleh wanita-wanita sebelum kamu.

Hadist di atas bukan sekedar kabar biasa, ia merupakan peringatan Rasulullah agar para suami tidak mudah memberikan izin kepada istri mereka untuk keluar rumah untuk sebuah kepentingan yang sepele. Juga merupakan peringatan agar mereka menjauhi tradisi jahiliah yang membebaskan wanita untuk berbaur dengan laki-laki

Hadits Rasulullah yang berbunyi:”Ada tiga perkara yang apabila terjadi, maka tidak bermanfaat iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau belum mengusahakan kebaikan dalam imannya, yaitu terbitnya matahari dari arah barat, (munculnya) Dajjal, dan keluarnya binatang (binatang melata yang bisa bicara) dari dalam bumi”. Terbitnya matahari dari arah barat, ada yang mentakwilkan dengan ungkapan, bahwa di akhir zaman nanti seluruh manusia akan berkiblat ke Barat (Eropa dan Amerika), dan itu merupakan pujian terhadap kemajuan budaya dan tingkat kehidupan bangsa Barat. Tapi menurut Abu Fatiah, pendapat ini lemah. Ada lagi yang memaknai Terbitnya matahari dari arah Barat dengan menghubungkannya dengan ilmu alam dimana suatu saat nanti bumi ini tidak lagi berputar sebagaimana biasanya namun ia akan berbalik arah, hingga matahari akan tampak terbit dari Barat. Pendapat ini juga kurang berdasar karena logikanya ketika bumi tidak berputar seperti biasa maka kehidupan ini akan hancur karena semua yang ada diatas bumi berantakan, bagaimana mungkin akan diketahui arah terbit matahari. Pada saat terjadinya peristiwa terbitnya matahari dari arah barat, manusia masih tetap seperti sedia kala. Kaum muslimin masih melaksanakan ibadah dan mereka masih hidup untuk beberapa waktu lamanya.

Nabi saw dalam kesempatan lain menceritakan bahwa salah satu tanda dekatnya kiamat adalah banyaknya fitnah besar yang menyebabkan tercampurnya antara hak dan batil. Di saat itu iman manusia mudah tergoncang. Bahkan karena beratnya fitnah yang dihadapi manusia, ada di antara mereka yang di waktu pagi dalam keadaan beriman, di sore hari telah menjadi kufur. Di waktu sore mereka dalam keadaan beriman, dan ketika masuk pagi hari mereka telah menjadi kufur.

Salah satu tanda akhir zaman yang akhir-akhir ini cukup menyedot perhatian adalah kehadiran seorang bernama Sai Baba, dia lahir dan tinggal di Desa Nilayam Puthaparti, wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan. Benarkah dia Dajjal sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya? Ada dua hadits yang menyebutkan hal ini; pertama, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar as-Shiddiq, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi). Kedua, sabda Rasulullah saw, Ketahuilah, bahwa dia berada di laut Syam atau laut Yaman. Oh tidak, bahkan ia akan datang dari arah timur. Apa itu dari arah timur… dan Beliau berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah timur (Shahih Muslim).

Hal yang cukup mengejutkan, sudah ribuan muslimin yang terjebak pada fitnah lelaki yang tertuduh sebagai Dajjal ini. Dan sudah lebih dari puluhan juta manusia dari berbagai suku bangsa dan agama yang masuk dalam tipu dayanya. Laki-laki ini bagai medan magnet raksasa yang mampu menyedot perhatian seluruh manusia dari berbagai negara. Mereka datang untuk memohon berkah dan karamah darinya. Dan lebih parah lagi, mereka yang datang menemuinya semakin yakin bahwa tokoh tersebut adalah Tuhan yang dijanjikan muncul di akhir zaman. Dialah Begawan Shri Satya Sai Baba Sang Avatar, seorang lelaki kribo yang tinggal di wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan. Desa Nilayam Putthaparti. Laki-laki itu memiliki kemampuan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang lumpuh dan buta, bahkan mampu menurunkan hujan dan mengeluarkan tepung dari tangannya. Ia juga mampu berjalan melintasi belahan bumi dalam sekejap, menciptakan patung emas, merubah besi menjadi emas, dan banyak lagi berbagai fitnah yang ditunjukkan oleh Sai Baba kepada ribuan orang - bahkan - jutaan yang datang dari berbagai suku bangsa dan agama. Maka sudah saatnya bagi setiap muslim untuk mengetahui masalah ini, agar dirinya tidak menjadi korban berikutnya dari fitnah Sai Baba ini.

Beberapa korelasi dan keserupaan antara Sai Baba sang Avatar dan sifat-sifat Dajjal yang disebutkan oleh Rasulullah saw; Dajjal memiliki kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dan kecepatannya seperti badai atau secepat awan yang ditiup angin kencang, Sai Baba memiliki kemampuan berjalan menjelajahi bumi dalam perhitungan kejapan mata. Dajjal memiliki banyak pengikut bahkan di akhir zaman nanti banyak manusia yang berangan-angan untuk berjumpa dengan Dajjal, Sai Baba memiliki pengikut yang jumlahnya puluhan juta manusia. Dajjal mampu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, Sai Baba memiliki kemampuan menghidupkan orang mati dan menyembuhkan para penderita kanker. Dajjal bisa menurunkan hujan, Sai Baba juga mampu menurunkan hujan dan mendatangkan air untuk penduduk Prasanti Nilayam. Dajjal bisa berpindah raga dan tempat, dari satu bentuk ke bentuk lainnya, Sai Baba bisa berpindah dari satu jasad ke jasad yang lain yang merupakan bentuk reinkarnasi dirinya. Dajjal akan mengaku sebagai Tuhan, Sai Baba mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan penguasa alam semesta. Dajjal datang dan bersama ada gunung roti dan sungai air, Sai Baba memiliki kemampuan mengeluarkan vibhuti (tepung suci) di udara dari tangannya. Dajjal akan muncul dan mengaku sebagai Nabi, Sai Baba mengaku akan menjelma sebagai al-Masih Isa setelah tahun 2020. Dajjal akan muncul lalu mengaku sebagai orang bijak, sehingga banyak sekali orang yang tertarik untuk mengikutinya, Sai Baba mengaku sebagai orang bijak yang membawa misi kebajikan untuk jagat raya. Dajjal pimpinan orang Yahudi, Sai Baba memiliki misi menyebarkan teologi zionis.

Pada akhirnya, kita telah mengetahui betapa besarnya fitnah dan subhat yang ditimbulkan oleh Sai Baba ini. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi fitnahnya? Bagaimana jika tuduhan bahwa Sai Baba ini kelak terbukti sebagai Dajjal yang dijanjikan, dan bagaimana jika ia hanya salah satu dari 30 Dajjal pendusta penebar subhat?

Jika benar bahwa Begawan Sai Baba adalah Dajjal yang dimaksud, maka antisipasi yang paling dini adalah hendaknya setiap muslim tidak pernah melupakan doa perlindungan dari fitnah Dajjal, juga membaca sepuluh awal dan sepuluh akhir surat al Kahfi, setidaknya pada setiap malam Jum’at. Selebihnya, jangan sekali-kali berfikir untuk mendatanginya, meski sebatas penasaran dan sekedar ingin tahu, apalagi untuk mencari solusi darinya, na’udzubillah. Sudah banyak kyai dan ulama India yang melakukan hal itu. Mereka datang untuk sekedar ingin tahu atau klarifikasi atas semua isu tersebut. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, tiba-tiba saja mereka takluk dan mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh Sai Baba. Umat Islam di Nilayam Putthaparti yang dibangunkan masjid oleh Sai Baba-pun tak kuasa untuk tidak mengakui kebenaran dan kebesarannya, bahkan mereka berani memberikan pujian bahwa Sai Baba lah yang membuat keimanan mereka bertambah dan pengetahuan mereka tentang Islam dan Alquran menjadi lebih baik.

Sholat Buah Isro` Mi`raj

Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambanya pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha, yang telah Kami berkahi sekitarnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat Kami (QS. Al Isra’ [17] : 1)

Setiap memasuki bulan Rajab, umat Islam antusias memperingati perjalanan monumental Rasulullah dari Mekkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina (isra`) dan naiknya beliau ke langit (mi’raj) dalam rangka menerima risalah shalat lima waktu yang dilaksanakan umat Islam saat ini.

Kesemarakan dalam memperingati Isra’ dan Mi’raj terserbut sepertinya melupakan kontroversi perihal bagaimana Nabi Muhammad melakukannya; apakah dengan jasad atau hanya ruhnya saja? Memang persoalan ini tidak banyak diungkap secara lugas dan jelas. Biasanya para penceramah hanya menyinggung persoalan apakah perjalanan dengan jasad atau ruh itu sambil lalu. Itupun biasanya hanya merupakan penegasan bahwa perjalanan itu dengan jasad. Dalam arti, Nabi Muhammad-ketika melakukan isra’ dan mi’raj-benar-benar melakukannya dengan jasad (badan), karena hanya dengan itu, kedua peristiwa tersebut mempunyai makna yang luar biasa bagi orang yang beriman. Berbeda dengan jika hanya dipahami dengan ruh saja di mana nilainya tidak lebih dari sebuah mimpi.

Di kalangan ulama tafsir sendiri terjadi silang pendapat perihal itu yang disebabkan perbedaan cara pandangan terhadap kata, bi `abdihi dalam surah al-Isra` ayat 1. Ulama yang mendukung perjalanan dengan jasad (badan) berpendapat bahwa kata `abd (hamba) tidak bisa ditafsirkan dengan lain selain dengan sesuatu yang terdiri dari badan dan ruh. Oleh sebab itu, bagi penganut faham ini, penafsiran kata ‘abd dengan menambah ruh secara tersirat di depannya, bertentangan dengan sifat i`jaz (sifat keluarbiasaan) yang ingin ditunjukkan Allah melalui momentun itu. Dan, menurutnya, jika perjalanan hanya dengan ruh saja, tentunya kafir Quraisy tidak melakukan penentangan yang luar biasa, karena bagi mereka hal itu merupakan suatu yang mustahil.

Sedangkan bagi golongan yang mengatakan dengan ruh saja (bi ruh ‘abdihi) tidak mungkin perjalanan itu dilakukan dengan jasad, karena ketidakmungkinan tadi. Dan mengenai anggapan pihak pertama yang mengatakan jika itu dilakukan dengan ruh akan mengurangi sifat i`jaz bukan suatu yang sangat mendasar, karena persoalan utamanya adalah iman kepada ajaran yang dibawa Nabi. Jadi persoalan utamanya adalah iman kepada apa yang dibawa Nabi bukan masalah bagaimana kedua momentum itu terlaksana. Sebab al-Quran tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai hal itu. Prof. Ahmad Baiquni, MSc., PhD (alm) sependapat dengan aliran kedua itu dan dalam hal ini sepertinya ia terinspirasi oleh buku Near-Dath Eexperience (Hidup Sesudah Mati) yang menceritakan perihal pengalaman orang-orang yang pernah mengalami mati suri.

Terlepas dari persoalan kontroversi perihal bagaimana Nabi ber-Isra’ dan ber-Mi`raj, yang jelas hal itu bukan merupakan persoalan yang sangat esensial, karena persoalan sesungguhnya dalam kedua momen besar itu adalah perintah untuk menjalankan shalat. Semestinya, setiap kali umat Islam merayakan kedua peristiwa besar itu, mengevaluasi apakah shalat-shalat sebelumnya telah memenuhi tuntutan Nabi Muhammad.

Pada masa sekarang, fenomena keagamaan memang semarak yang ditandai dengan antusiasmenya masyarakat dalam mengikuti acara-acara yang berkaitan dengan agama, mulai dari tahajud bersama, zikir bersama, dan lainnya. Hanya saja, pada saat fenomena keagamaan itu meningkat, ada fenomena lain yang tidak kalah semaraknya, seperti semaraknya perjudian dan bentuk-bentuk kemasiatan lainnya. Semestinya, ketika fenomena keagamaan tersebut menggeliat menurunkan fenomena kemaksiatan tersebut. Dan, sesuai dengan fakta bahwa Indonesia dihuni oleh umat Islam sebagai penduduk mayoritas, pelaku-pelaku kemaksiatan tersebut mayoritasnya sudah pasti orang Islam juga. Adakah fenomena itu sejalan dengan keyakinan masyarakat saat ini bahwa manusia berkualitas saleh maka setan penggodanyapun akan setara dengannya, sehingga manakala fenomena keagamaan meningkat tandingannyapun akan semakin meningkat juga.

Memperhatikan hal itu, apakah karena pengaruh sekularisme atau karena kedangkalan pemahaman agama, saat ini sepertinya sudah berkembang opini bahwa agama hanya berkaitan dengan ibadah (shalat, haji, zakat, puasa, dan lainnya) sedangkan di luar itu merupakan persoalan duniawi yang tidak ada kaitannya dengan agama. Opini tersebut jika tidak mendapatkan perhatian serius akan semakin memarjinalkan peran agama dalam lingkup rumah ibadah saja. Padahal, selaku umat Islam semestinya menghayati, firman Allah, “Sesungguhnya shalat (bisa) mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS, Al Ankabut [29]: 45). Akan tetapi, jika sesorang sudah rajin shalat, namun tidak bisa menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, perlu dipertanyakan bagaimana ia melakukannya.

Dalam rangka memberikan pemahaman yang benar mengenai bagaimana shalat semestinya dilakukan oleh setiap muslim, ulama memberikan distingsi antara pengertian ada’ atau ta’diyah dan pengetian iqamah yang dalam bahasa Indonesia masing-masing berarti menunaikan dan mendirikan. Kenapa persoalan pemilihan kosa kata Arab tersebut menjadi perhatian ulama dalam rangka memberikan pemahaman yang benar, karena secara filosofis kedua kata tersebut mempunyai implikasi berbeda. Kata ada’ dan ta`diyah lebih banyak berorientasi kepada aspek formal saja, sedangkan iqamah selain menekankan pelaksanaan aspek formal yang benar, aspek isoteris dalam shalat mesti mendapatkan perhatian yang serius dari seorang mushalli agar shalat yang dilakukannya benar-benar memberikan pencerahan kepada pelakunya sehingga tujuan dari shalat sebagaimana disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut benar-benar bisa terwujud. Oleh sebab itu, berkaitan dengan pemenuhan kewajiban shalat-di samping nas mereferensi penggunaan kata iqamah ulama juga menggunakan kosa kata serupa dalam penjelasan mereka agar umat Islam dalam melakukan rukun Islam ke dua itu tidak semata-mata memenuhi kewajiban, tapi sebagai kebutuhan untuk pencerahan jiwa. Bukankah Allah telah berfirman, Hanya dengan berzikir hati menjadi tenang? Dan, shalat sebagai bentuk zikir tertinggi semestinya berdampak kepada hal itu. Dalam rangka menuju kepada maksud tersebut. Mahmud Muhammad Thaha, setelah mengutip hadis Nabi yang maksudnya bahwa shalat bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan membuka mata hati pelakunya, mengatakan, Maknailah shalatmu!

Menurut Mahmud Muhammad Thaha, dalam kitabnya Risalah al-Shalah (Terjemahan LKIS: Shalat Perdamaian), shalat merupakan sebuah metode jika dilakukan secara berulang-berulang, akan dapat melihat ke dalam diri, bertemu dengan jiwa kita sendiri, hidup berdampingan dengannya, mengenali, dan mewujudkan perdamaian dengannya. Hal itu, karena kita hidup berdampingan dengan alam lahir tenggelam dalam angan-angan indera kita, terlena dengan itu semua sehingga melupakan hakekat yang terpusat di balik yang ditutupinya. Allah menjadikan alam lahir sebagai petunjuk bagi hakekat tersebut, bukan sebagai penggantinya. Oleh sebab itu, umat Islam wajib memperhatikan sarana itu, agar tetap terjaga guna mengingat Allah. Bukankah Nabi pernah bersabda, Manusia itu tidur, apabila mati, barulah mereka terjaga? Untuk menjaga manusia agar senantiasa terjaga dari lupa dan kesalahan adalah dengan mengingat Allah, dan shalat merupakan salah satu metode sekaligus yang utama untuk itu. Berkaitan dengan itu, menurutnya sangat penting bagi umat Islam untuk mencapai tingkatan shalat seorang muslim, bukan hanya sampai tingkatan shalat seorang mukmin. Apa perbedaan di antara shalat kedua golongan itu? Memperhatikan penjelasannya dalan bukunya, terlepas dari maksud khususnya yang diinginkannya dari pemberian istilah mukmin dan muslim, apa yang dimaksud dengan shalat seorang mukmin adalah orang-orang yang melakukan shalat sekedar memenuhi kewajiban semata, sedangkan yang dimaksud seorang muslim adalah orang-orang ketika mendirikan shalat memenuhi kriteria ihsan, yaitu mereka ketika beribadah seakan melihat Allah, meskipun ia tidak melihat-Nya, tapi yakin bahwa Allah melihat mereka. Dengan kata lain, dalam pandangan Mahmud Muhammad Thaha, shalat mukmin baru sampai taraf ada’ atau ta’diyah sedangkan shalat muslim adalah sudah sampai kepada taraf iqamah. Jenis shalat yang terakhir itulah-menurutnya-yang akan memberikan pencerahan kepada pelakunya seperti yang disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut.

Oleh sebab itu, kesemarakan peringatan Isra’-Mi’raj pada bulan Rajab ini, semestinya dijadikan evaluasi bagi setiap muslim dalam melaksanakan perintah shalat. Apakah shalat yang dilakukan berdampak kepada ketenangan jiwa dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jika hal itu tidak dilakukan, kesemarakan peringatan Isra’-Mi’raj hanya akan melahirkan budaya konsumtif dan menguntungkan sedikit peceramah saja. Sedangkan shalat sebagai media pencerahan jiwa diabaikan.

Puisi Pasca reformasi

Bertahap kerusakan dipulas
Banyak pengorbanan tragedi
Langit cerah belum mau datang
Ketika kita belum mandi bersih
Tutup dulu pintu yang bocor
Bau pengap seluruh ruang
Bisul-bisul pada bernanah

Jangan menempeleng orang tak bersalah
Tragedi itu salah kita semua
Bara-bara itu belum dingin
Satu persatu bilik menjadi gulita
Masalah terkuak
Banyak yang terbelalak
Barang bekas dikumpulkan

Pengalaman pahit yang lalu dikenang
Kuman di balik bukit dilupakan
Emas di pelupuk mata jadi incaran
Mimpi berkalang emas dibawa tidur
Takdir berubah

Tak baik menyapa masa lampau
Lebih-lebih lagi kalau sedih sekali
Langit cerah kembali menyapa
Saat kita berguling-guling di pantai derita

Sarat derita, sarat hikmah
Banyak bantal basah air mata
Baju kering tak ada gantinya
Lemah lunglai sekujur tubuh
Saling menyapa saling mengadu
Banyak kodrat buruk, banyak hikmah berharga

Zaman berubah
Yang lama dibiarkan berlalu
Yang kini dibenahi
Yang akan datang disiapkan

Tak berpeluh maka tak berkarya
Tak menangis maka tak menghargai bahagia
Selaput air mata masih basah
Mencari secercah langit cerah

Mungkinkah menggapai keadilan
Tapi membiarkan korupsi dan kolusi?
Mungkinkah mencapai kesejahteraan
Tanpa persatuan?

Tak berbekal keberanian
Tak berbekal ketabahan
Hati bangsa Indonesia
Tercabik-cabik menyesuaikan diri
Badai penderitaan membuat kita lusuh dan compang-camping
Bau korupsi dan kolusi kian menyengat hidung

Tak mau sejarah berulang kembali
Letih menderita membuat kita jera
Menggapai langit cerah, tak baik saling menyalahkan
Rupa-rupa kendaraan diperbaiki
Ban kempes ditambalkan
Ditiup beramai-ramai

Gagal pembangunan dipugar kembali
Dengan baju kumal kita bersatu
Semua jarak direkatkan
Semua perselisihan didamaikan
Bapak-bapak berlinangan air mata memeluk penerusnya
Sangat tepat menjadikan ini kebangkitan nasional ke dua
Tubuh segar kembali oleh air mata persatuan

Taubat nasional menyegerakan rahmatan lil 'alamin
Agenda kebangkitan mencatat sejarah
Kita disaring dan dibersihkan
Tak berupah karena tak bekerja
Tak pandai karena tak belajar
Tak sukses karena tak berusaha
Semua keberhasilan harus diupayakan

Bangsa Indonesia kini sadar
Harus bekerja keras kalau ingin jaya
Masalah krisis ekonomi diatasi dengan persatuan dan kesadaran
Ingin bangkit kembali
Banyak jalan yang tergenang air
Banyak lubang di tengahnya
Ramai-ramai menambal lubang
Ramai-ramai menggali tanggul
Ramai-ramai membangun bangsa
Sembari menanam kita menimbun
Menanam kegersangan, menimbun kebocoran

Ke mana membangun tanggul, di situ air mengalir
Ke mana menimbun kebocoran, di situ ada penghematan
Kata pengabdi bangsa, "Kesulitan bangsaku, pengabdianku"

Banyak pengaruh asing menjadi swasta
Tak bebas menyapa rakyat sendiri
Harta dikuras, waktu terkuras
Tak banyak bagian untuk kita sendiri
Sibuk bayar hutang, sulit mandiri
Keuntungan diambil swasta asing

Bagaimana menentukan sikap
Semua urusan menjadi urusan orang lain
Bagaimana menentukan nasib sendiri
Banyak kesepakatan membatasi kemandirian

Jauh melayang lamunan kita
Kapan kita selesai membayar hutang
Agar dapat mengusir penjajah yang berkedok bantuan
Kita membayangkan betapa enak hidup mandiri
Tak ada uang di saku, tapi dapat tidur lelap
Kini uang tak ada, tidur pun tak pulas
Jaminan kemandirian masih impian
Kita masih terus membayar hutang
Sementara perjuangan persatuan semakin kental

Diam-diam kita sepakat mengusir penguras harta
Tak pelak lagi kita bagaikan di zaman pergerakan kebangkitan nasional
Punahkan kekuatan asing
Kita tak berlayar di lautan orang
Kita mendayung kapal di laut sendiri

Ikan dikumpulkan
Ladang ditanami
Kita menggali emas di tanah sendiri
Allah memberkati jala penuh ikan
Padi menguning
Emas tergali

Mau apa kalau di tanah sendiri penuh berlian
Mau apa kalau ternyata kita kaya
Hutang terbayar mata mereka terbelalak

Kita tak mau lagi dijajah
Kita sudah lebih pandai dan tangguh
Pelajaran hidup telah dilalui
Jarang ada yang bodoh lagi
Kita pintar dan bersih

Semangat kebangsaan, semangat persatuan
Kendali kebangkitan nasional
Dulu palu arit menyadarkan kita
Kini keserakahan bangsa asing membukakan mata kita

Tak terbayang bantuan Allah
Dikira miskin ternyata kaya
Dikira rapuh ternyata bersatu
Mereka balik bertanya
Apa yang bisa dibantu
Emas dilirik, kekuatan dicemaskan
Gaung kemerdekaan membebaskan kita dari keterkungkungan

Masa merdeka masa bahagia
Siapa bilang bangsa Indonesia bangsa yang guram
Kita bangkit karena bantuan Allah
Pancasila yang menolong kita
Lagi-lagi ke-Tuhanan Yang Maha Esa terbukti menyelamatkan kita

Jangan lagi membatasi diri meyakini ke-Tuhanan Yang Maha Esa
Jangan lagi meragukan semangat persatuan
Jangan lagi keadilan sosial dibatasi
Jangan lagi memangkas demokrasi
Jangan lagi tak memperdulikan kerakyatan
Dan tak mengindahkan musyawarah dan kebijaksanaan

Banyak batasan telah mengganjal Pancasila
Jangan ada penyesalan lagi
Butir-butir Pancasila padat dengan hikmah
Tak terperi kepedihan itu
Tak kuasa mengenangnya kembali

Sadarlah wahai bangsaku
Jangan mengulangi kesalahan itu lagi
Biarkan Pancasila utuh kembali
Biarkan dia mengembangkan sayapnya
Membusungkan dadanya
Terbang melintasi dunia
Membuat sejarah bangsa Indonesia
Kita yang terlibat ini

Banyak pelajaran dijadikan hikmah
Hikmah bernegara yang demokratis
Landasan Bhinneka Tunggal Ika
Tinggal diperkuat dan dipelihara
Ketika dilapisi emas

Bhinneka Tunggal Ika berdandan cantik
Gemulai indah di tengah panorama dunia yang berisik
Pancasila melayang indah di tengah badai keserakahan sedang membelah dunia
Dan keserakahan itu telah telah tercium oleh kita
Tak mungkin lagi kita mau mengulangi kesalahan yang sama

Penderitaan itu telah menjadi tontonan dunia
Tak banyak lagi bangsa yang mau dikibuli
Kita tampil mengoyak keserakahan
Simpati dunia mengiringi kita

Kita menjadi bayang-bayang penderitaan yang menguak takdir
Yang menyobek keserakahan
Yang pernah terbenam oleh iming-iming bantuan
Yang menjadi tangguh oleh kekesalan
Bayang-bayang itu terbaca oleh semua orang

Bangkitlah, bangkitlah wahai bangsaku
Pancasila itu tetap perkasa
Mari bernyanyi Indonesia Raya Merdeka
Mari melantunkan puisi Pancasila Perkasa
Di tangan burung Garuda
Ada janji kami
Ada harapan kami
Ada kekuatan kami
Pancasila burung Garuda kini terbang tinggi
Melayang menjauhi keserakahan dan tirani

Para pendekar Pancasila
Coba amati dada burung Garuda
Sekali lagi amati sila pertama
Allah Yang Maha Sakti
Menyematkan kesaktian-Nya di dada Pancasila
Sungguh Pancasila itu sakti
Karena Allah bersamanya

Tatkala kita menderita, dia mengibas-ngibaskan sayapnya
Pergilah ke gunung katanya
Jangan biarkan gunung bertapa
Tak inginkah menjadi bangsa yang sejahtera?

Masa depan berkilau oleh sinar yang dipancarkan kekayaan alam kita
Setitik harapan menjadi berbongkah-bongkah senyuman
Tirai cahaya dibentang
Berdatangan kereta kencana
Menjemput kepingan kebahagiaan
Dentangan sangkur seakan musik yang indah
Akankah dentangan ini untuk selamanya?

Tiupan angin memberikan kesegaran
Angin kencang tak lagi dapat menggoyangkan kita
Tepian pantai ramai dengan kibaran bendera warna-warni
Tetangga melambai meminta kita membagikan telur emas kepadanya

Kita menjadi raja di tanah sendiri
Kesengsaraan tinggal menjadi masa lalu
Ketika air ketuban pecah, kita mengharapkan bayi mungil
Bayi itu menggenggam mukjizat

Kemenangan melalui penderitaan
Seperti mendaki gunung melalui titian
Perca-perca kebahagiaan ditata menjadi selimut bangsa

Temui seorang kaya, tanyakan kepadanya
Mengapa dia tak ingin menangis
Orang kaya berkata, "Kekayaanku, kebahagiaanku"

Selimut bangsa dijalin dengan selimut tetangga
Senyuman kita mengundang teman seberang
Menyulamkan selimutnya
Kami ini disulam cahaya

Ke mana senyuman ditebarkan
Di sana datang kebahagiaan
Ke mana genderang kebahagiaan ditabuh
Di sana banyak teman

Seperti menyiram padi, setiap siraman membuahkan padi unggul
Pedang yang diasah tak akan pernah dipakai menebang kayu
Bianglala selalu dapat menembus awan

Menengok seludang kemajuan negeri seberang
Kita seolah dipacu menjadi penabuh barisan dwi kebangkitan nasional
Berjingkat-jingkat mereka menapak di kemasan timbangan
Berkilo-kilo dijadikan sekati
Sengsara dijajah, lebih sengsara ditipu

Pupuk disemai, pupuk ditebar
Siapa yang tak memupuk kebun sendiri
Tetangga mengais keuntungan, menjual tahi dikemas
Sesungguhnya kita ini terbenam dalam timbunan padi
Padi yang diminta, emas yang didapat
Tentunya kita ini patut bersyukur
Sudah gaharu, cendana pula

Pasar disulang, pasar mengundang
Kesengsaraan tak lagi sempat singgah di hati
Bangsa ditata, bangsa bersolek
Kemakmuran berkata, "Umurku, dilemaku"
Siapa bersedia miskin setelah pernah kaya
Kemiskinan seakan pintu gua yang menakutkan

Berdiri di atas gunung
Pemandangan seakan tak ada batasnya
Semakin tinggi gunung, semakin dingin udaranya
Kemarikan selimut itu
Kita menebalkan kehangatan persatuan

Sudahkan kita menemukan makna Pancasila?
Makna tak selalu dikaji dengan penderitaan
Kebahagiaan menatahkan keindahan
Pada kehidupan yang diberi makna
Pentingkah kehidupan bertatahkan makna?
Setiap perputaran hidup, tentu di sana ada makna yang melekat

Ke mana roda kehidupan berputar
Di sana ada penderitaan dan kebahagiaan
Ke mana makna ditemukan
Di sana kehidupan bertaburan hikmah
Orang menang berkata, "Kemenanganku, makna kehidupanku"

Berikan makna dalam kehidupanmu
Maka kebahagiaan menjadi temanmu
Fajar menghangatkan selimut persatuan
Persatuan Indonesia menjadi seludang pohon keadilan sosial
Gemercik hujan membasahi timbunan buah
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan
Pancasila menemukan kebahagiaannya di zaman ini

Tatahkan kata-kata mutiara
Pada pijakkan burung Garuda
Tuliskan, "Kami menitipkan Pancasila secara murni"

Ke mana Pancasila digaungkan
Di situ ada teman
Ke mana kesejahteraan dibagikan
Di situ kita mendapat sahabat

Kumandang Pancasila menjadikan kita sahabat dunia
Temanku berkata: "Sahabatku, penuntunku"

Memperingati mulud Nabi

Hari Maulud (kelahiran) Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW berasaskan firman Allah dalam Al-Quran (terjemahannya ) :-

"maka orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw) memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah yang beruntung."
Al-Araf: 157


Hari Maulud pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Salahudin al Ayyubi ketika menghadapi pasukan salib bagi membakar semangat berjuang dan berkorban, untuk menyelamatkan umat Islam dan sebagai memperingati kejayaan Sultan Salahuddin al Ayyubi berhasil memimpin tentera Islam memasuki Jurusalem.

Maulud Nabi disambut setiap 12 Rabiul Awal dimana zikir khusus akan diadakan di masjid-masjid. Perarakan secara besar-besaran yang disertai oleh lelaki, perempuan, dan kanak-kanak akan diadakan di bandar dan kampung sambil menyanyikan lagu-lagu memuji Nabi Muhammad S.A.W. juga akan diadakan untuk meriahkan hari Maulud mulia ini. Jamuan makan juga dianjurkan diadakan oleh orang perseorangan atau pertubuhan untuk fakir miskin.

Terdapat 2 pendapat mengenai Maulud Nabi, iaitu pendapat pertama melakukannya adalah satu perbuatan yang dianjurkan bagi umat Islam. Pendapat kedua pula menyatakan menyambut hari Maulud adalah satu bidaah disebabkan ia tidak pernah dilakukan semasa zaman Rasullullah dan para sahabat.

Menurut pendapat pertama, hujah mengapa Maulud Nabi boleh diraikan adalah :-

Bahawasanya Nabi Muhammad S.A.W. datang ke Madinah maka beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi S.A.W. bertanya kepada orang yahudi itu: "Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura?"

Jawab mereka: Ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Firaun dan pada hari serupa itu Musa dibebaskan, kami berpuasa kerana bersyukur kepada Tuhan.

Maka Nabi S.A.W. berkata:

"Kami lebih patut menghormati Musa berbanding kamu."
Riwayat Bukhari dan Muslim.


Ibnu Hajar Al-Asqalani pengarang Syarah Bukhari yang bernama Fathul Bari berkata bahawa dari hadis ini dapat dipetik hukum:

  • Umat Islam dibolehkan bahkan dianjurkan memperingati hari-hari bersejarah, hari-hari yang dianggap besar umpamanya hari-hari maulud, miraj dan lain-lain.
  • Nabi pun turut memperingati hari tenggelamnya Firaun dan bebasnya Musa, dengan melakukan puasa Asyura sebagai bersyukur atas hapusnya yang batil dan tegaknya yang hak.

Milad Nabi

Milad-un Nabi or Maulid (Mawlid) is the birthday celebration of our beloved Prophet Muhammad (s.a.s.) and is celebrated by Muslims as Eid-e Milad. Prophet Muhammad was born Arabia in the city of Mecca on the 12th day of Rabi-ul-Awwal, which was Monday the 20th day of April, 571 A.C. This falls on Saturday May 25, 2002 and fell on June 4th last year (2001). This is also his death anniversary. The occasion is celebrated by remembering the favors bestowed on the ummah (community), the first is the revelation of the Holy Quran with its instructions, the second, the institution of an Everliving Guide who would advise the mu'mins (believers) according to the needs of the time. This is why Ismailis are called Ibn'ul Waqt (children of the time) as they are guided by the Imam of the time, Noor Mowlana Shah Karim Al Hussayni Hazar Imam (salwaat), His Highness the Aga Khan. He is the 49th Imam descended from the Holy Prophet's daughter, Fatima and Hazrat Ali (a.s.). For Shia Muslims, this occasion is of even more import and full of symbolism as this was also his death anniversary and, therefore, it endorses the Hablillah (Rope of Imamat) wherein Prophet Muhammad had chosen Hazrat Ali as his successor at Gadhir-e Khumm. What I am trying to say is that, this more than a coincidence. Prophet Muhammad's birthday coincided with his physical passing as was ordained by God. Hazrat Ali took over the spiritual reins from him and this chain has continued to the present. In every jomma (period of Imamat) the previous Imam appoints the following Imam and even though the previous Imam passes away physically, which could be a day of mourning, the ummah rejoices at the installation of the new Imam as the Covenant (promise of the Light of Allah) continues.

Regarding this, Mowlana Sultan Mahomed Shah (a.s.) said in one of his sermons:

We (the Imams) change the physical bodies in the world but our Noor (Divine Light) is eternal and comes from the very beginning. You should therefore take it as one Noor. The Noor (Light of Allah) is ever present, only the names are different. The Throne of the Imamat of Mowlana Murtaza Ali (a.s.) continues on and will remain till the Day of Judgment." (source: Ilm, Vol. 3, No. 2 - November 1977 pg 22)

The Eid-e Milad and Eid-e Gadhir are two very important celebrations for Shia Muslims. On this day every year, believers gather to recite special prayers for thanksgiving to Allah for sending Prophet Muhammad as a mercy to all nations, and speeches and lectures are made about the seerat (life) and instructions of the Holy Prophet. Poetry in the form of naats are recited and after the prayers, sweets are distributed and perfume is sprinkled or applied on everyone. The ladies and children gather for the mehndi (henna) application and everyone wears beautiful clothes for the occasion. Children get money or gifts and in East Africa we used to go to a fete, Eid Mela (fun fair) organized on this occasion by community members and we could ride on the swing merry-go round on which as children we had great fun.

In countries with Muslim concentration, the celebrations go on for the first twelve days of the month called Barah Wafah (twelve days before passing) and there are conferences and mehfils (gatherings) everyday.

Our beloved Prophet offers humanity a perfect example in all facets of life. The Holy Quran declares: "Verily, you have in the messenger of Allah, a most beautiful model (Uswa al-Hassanah)." Laqad kana lakum fee rasooli Allahi oswatun hasanatun Quran 33:21

And the unbelievers Would almost devour thee With their eyes when they Hear the Message; and they Say: Surely he is possessed But it is nothing less Than a Message To all the worlds. 61:51-52Prophet Muhammad lived among his people and taught them about the belief in one God, ethics in everyday life and the importance of education in leading an exemplary life. In this regard, some of his famous sayings are "Seek knowledge even unto China", "acquire knowledge, for he who acquires it performs an act of piety; he who speaks of knowledge, praises God: he who seeks it, adores God." He also declared: "The ink of the scholar is more precious than the blood of the martyr."

Mowlana Sultan Mahomed Shah stressed this message of Prophet Muhammad and maintained that Islam by its very nature was dynamic and not rigid and spiritual faith should advance with along with material progress. In his Message to the World of Islam, he said:

"Formalism and verbal interpretation of the teachings of the Prophet are in absolute contradiction with his whole life history. We must accept his Divine Message as the channel of our union with the 'Absolute' and the 'Infinite' and once our spiritual faith is firmly established, fearlessly go forward by self sacrifice, by courage and by application to raise the scientific, the economic, the political and the social position of Muslims to a place of equality with Christian Europe and America.
"Our social customs, our daily work, our constant efforts, must be tuned up, must be brought into line with the highest form of possible civilization. At its greatest period Islam was at the head of science, was at the head of knowledge, was in the advance line of political, philosophical and literary thought."

Addressing the Seerat Conference, our beloved Mowlana Hazar Imam advised the Muslim World to make the Prophet's life the beacon light for achieving a truly modern and dynamic Islamic society. He said:

"The Holy Prophet's life gives us every fundamental guideline that we require to resolve the problem as successfully as our human minds and intellects can visualize. His example of integrity, loyalty, honesty, generosity, both of means and of time his solicitude for the poor, the weak and the sick, his steadfastness in friendship, his humility in success, his magnanimity in victory, his simplicity, his wisdom in conceiving new solutions for problems which could not be solved by traditional methods, without affecting the fundamental concepts of Islam, surely, all these are foundations which correctly understood and sincerely interpreted, must enable us to conceive what should be a truly modern and dynamic Islamic society in the years ahead."

His life and achievements are so wonderful and expansive that I cannot cover them in this short article and for this reason, I urge you to peruse the links at the bottom of this page for more material.

The following excerpts have been provided by my good friend, Courtney Kirshner, who encouraged me to get this article up even though I missed the birthday deadline this year. They are taken from Annemarie Schimmel's Mystical Dimensions of Islam:

"As early as the late eleventh century, and generally from the twelfth century on, the veneration of the Prophet assumed a visible form in the celebration of the maulid, his birthday, on 12 Rabi' ul-awwal, the third month of the Muslim lunar year. This day is still celebrated in the Muslim world. The number of poems written for this festive occasion in all Islamic languages is beyond reckoning. From the easter end of the Muslim world to the west the maulid is a wonderful occasion for the pious to show their warm love of the Prophet in songs, poems, and prayers." Page 216

The next material is from Schimmel's book "And Muhammad is His Messenger" it has a whole chapter devoted to this topic!

"It seems that the tendency to celebrate the memory of Muhammad's birthday on a larger and more festive scale emerged first in Egypt during the Fatimid Era (969-1171). This is logical, for the Fatimids claim to be the Prophet's decendants through his daughter Fatima. The Egyptian historian Maqrizi (d.1442) basing his account on Fatimid sources. It was apparently an occasion in which mainly scholars and the religious establishment participated. They listened to sermons, and sweets, particularly honey, the Prophet's favorite, were distributed; the poor received alms." page 145

The earliest Arabic sources, basing their claims on Koranic epithets like sirajun munir, a 'shining lamp,' tell that a light radiated from Amina's womb with the arrival of the newborn Proghet. Hassan ibn Thabit [poet, contemporary of Muhammad who joined him in Medina and eulogized important events in the Muslim community] sings in his dirge for Muhammad that his mother Amina of blessed memory had born him in a happy hour in which there went forth "a light which illuminated the world"

It is not surprising that this spiritual light was soon given material reality in the accounts of the Prophet's birth, as can be seen first in Ibn Sa'd's historical work in the ninth century. Yunus Emre [turkish sunni poet d.1321] sings like numerous poets in his succession in Turkey, Iran, and India:

"The world was all submersed in light
In the night of Muhammad's birth." page 149-150

"The first comprehensive work about the Prophet's birth, as far as one knows, was composed by the Andalusian author Ibn Dihya, who had participated in the festive maulid in Arbela in 1207. Written in prose with a concluding poetical economium , his work has the characteristic title Kitab at-tanwir fi maulid as-siraj al-munir (The Book of Illumination about the Birth of the Luminous Lamp), in which the light-mysticism associated with Muhammad is evident. Two Hanabilites, Ibn al-Jauzi and, a century and half later, Ibn Kathir, devoted treatises to the maulid. Poetical works about this important event were also composed relatively early." page 152

"Ibn al-Jauzi, without doubt a serious, critical theologian of Hanbalite persuasion and not a mystical poet - wrote in his maulid book, which is the first of this kind:

When Muhammad was born, angels proclaimed with high and low voices. Gabriel came with the good tidings, and the Throne trembled. The houris came out of their castles, and fragrance spread. Ridwan [the keeper of the gates of Paradise] was addressed: "Adorn the highest Paradise, remove the curtain from the Palace, send a flock of birds from the birds of Eden to Amina's dwelling place that they may drip a pearl each form their beaks," And when Muhammad was born, Amina saw a light, which illuminated the palaces of Bostra. The angels surrounded her and spread out their wings. The rows of angels, singing praise, descended and filled hill and dale." page 150

"It is also important to remember that Muhammad was born free from all bodily impurities." page 152

"The conviction that a maulud [song of the Prophet's birth] has a blessing power is not peculiar to Turkish Muslims. Its baraka is acknowledged everywhere in the Muslim world...From the Middle Ages onward it was believed that the recitation of the maulud would grant the listeners not only worldly but also heavenly reward." page 255-25

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.

Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bidah. Gagasan kaum Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan maupun PSII di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim Asy'ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan walk out.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.

Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik. Paham Keagamaan

NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti satu mazhab:Syafi'i Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Basis Pendukung

Jumlah warga NU yang merupakan basis pendukungnya diperkirakan mencapai lebih dari 80 juta orang , yang mayoritas di pulau jawa, kalimantan, sulawesi dan sumatra dengan beragam profesi, yang sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran ahlususunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basisi intelektual dalam Nu juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini.

Tujuan dan Usaha Organisasi

Tujuan Organisasi

Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usaha Organisasi

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.
  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Struktur Organisasi

  1. Pengurus Besar (tingkat Pusat)
  2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)
  3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri
  4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan)
  5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan)

Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:

  1. Mustayar (Penasihat)
  2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)

Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:

  1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
  2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)

Jaringan Organisasi

Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi NU meliputi:

  • 31 Wilayah
  • 339 Cabang
  • 12 Cabang Istimewa
  • 2.630 Majelis Wakil Cabang / MWC
  • 37.125 Ranting

NU dan Politik

Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan merahil 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.

NU kemudian menggabungkan diri dengan Partai Persatuan Pembangunan pada tanggal 5 Januari 1973 atas desakan penguasa orde baru. Mengikuti pemilu 1977 dan 1982 bersama PPP. Pada muktamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk 'Kembali ke Khittah 1926' yaitu untuk tidak berpolitik praktis lagi.

Namun setelah reformasi 1998, muncul partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang dideklarasikan oleh Abdurrahman Wahid. Pada pemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh 52 kursi DPR.

Minggu, 24 Februari 2008

Hadis Aisyah r.a isteri Nabi s.a.w:
Nabi s.a.w sering berdoa ketika sembahyangnya dengan berkata:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ Yang bermaksud: Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu daripada seksa kubur dan aku memohon perlindungan kepada-Mu daripada fitnah Dajal. Aku juga memohon perlindungan kepada-Mu daripada fitnah semasa hidup dan selepas mati. Ya Allah! Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari segala dosa dan hutang. Aisyah berkata lagi: Seseorang telah berkata kepada Rasulullah s.a.w: Alangkah banyaknya kamu memohon perlindungan dari beban hutang wahai Rasulullah! Lalu Rasulullah bersabda: Sesungguhnya seseorang yang sudah terkena beban hutang, apabila dia berkata-kata dia akan berdusta dan apabila berjanji dia akan mengingkari

Nombor Hadis Dalam Sahih Muslim : 925

Inggris Fatihah &baqoroh

Al Fatihah

1] In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

[2] Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds;

[3] Most Gracious, Most Merciful;

[4] Master of the Day of Judgment.

[5] Thee do we worship, and Thine aid we seek,

[6] Show us the straight way,

[7] The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.

Al Baqoroh

In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

[1] Alif Lam Mim.

[2] This is the book; in it is guidance, sure, without doubt, to those who fear Allah;

[3] Who believe in the Unseen, are steadfast in prayer, and spend out of what We have provided for them;

[4] And who believe in the Revelation sent to thee, and sent before thy time, and (in their hearts) have the assurance of the Hereafter.

[5] They are on (true guidance), from their Lord, and it is these who will prosper.

[6] As to those who reject Faith, it is the same to them whether thou warn them or do not warn them; they will not believe.

[7] Allah hath set a seal on their hearts and on their hearing, and on their eyes is a veil; great is the penalty they (incur).

[8] Of the people there are some who say: "We believe in Allah and the Last Day;" but they do not (really) believe.

[9] Fain would they deceive Allah and those who believe, but they only deceive themselves, and realise (it) not!

[10] In their hearts is a disease; and Allah has increased their disease: and grievous is the penalty they (incur), because they are false (to themselves).

[11] When it is said to them: "Make not mischief on the earth," they say: "Why, we only want to make peace!"

[12] Of a surety, they are the ones who make mischief, but they realise (it) not.

[13] When it is said to them: "Believe as the others believe," they say: "Shall we believe as the fools believe?" Nay, of a surety they are the fools, but they do not know.

[14] When they meet those who believe, they say: "We believe;" but when they are alone with their evil ones, they say: "We are really with you we (were) only jesting."

[15] Allah will throw back their mockery on them, and give them rope in their trespasses; so they will wander like blind ones (to and fro).

[16] These are they who have bartered guidance for error: but their traffic is profitless, and they have lost true direction.

[17] Their similitude is that of a man who kindled a fire; when it lighted all around him, Allah took away their light and left them in utter darkness. So they could not see.

Jumat, 22 Februari 2008

Dahsyatnya cinta

Cinta", layaknya makanan pokok, istilah yang satu ini tidak pernah pudar sepanjang jaman. Selalu hadir dimanapun dan kemanapun kita berpaling. Betapa Dasyatnya Fitnah Cinta.... sehingga orang yang sedang dilanda cinta lazimnya akan terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi lalai dari mencintai Alloh serta Rasul-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: "Patutkah kamu mengambil dia (iblis) dan turunan-turunannya sebagai wali selain daripada-Ku , sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Alloh) bagi orang-orang yang zalim." (QS: Al-Kahfi: 50).

Sesunguhnya seseorang yang bercita-cita tinggi tidak akan terpengaruh oleh cinta yang bisa menghalangi ketenangan, membuat tidur tidak bisa nyenyak, membuat bingung akal pikiran, dan bahkan bisa membuat gila. Betapa sering terjadi seseorang yang sedang dimabuk cinta menghabiskan harta dan mengorbankan jiwa serta kehornatannya demi yang dicintainya. Bahkan ia rela mengorbankan agama dan dunianya.

Cinta sanggup membuat tuan menjadi pelayan, dan penguasa menjadi budak. Anda lihat, banyak orang yang sudah terlanjur masuk dalam jerat cinta ingin keluar darinya. Akan tetapi, hal itu mustahil. Betapa banyak fitnah cinta yang menjebloskan orang-orang yang bersangkutan ke dalam Neraka Jahim, menjerumuskan mereka pada siksa yang sangat pedih, dan membuat nereka meneguk air nereka yang panas mendidih.
eorang pemuda yang terlalu lama membujang, kadangkala merasa kesulitan untuk mencari calon istri, keberanian untuk bertandang dan meminang seorang gadis menjadi gamang karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya ... pernikahan menjadi sekedar angan-angan karena calon istri belum juga didapatkan. Sulitnya mencari calon istri. "PACARAN" tetap tidak diperbolehkan dan hukumnya haram. Cinta yang dibungkus dengan pacaran, pada hakikatnya hanyalah nafsu syahwat belaka, bukan kasih sayang yang sesungguhnya, bukan rasa cinta yang sebenarnya, dan dia tidak akan mengalami ketenangan karena dia berada dalam perbuatan dosa dan kungkungan nafsu, adapun manisnya perbuatan dan indahnya perkataan dalam pacaran, pada dasarnya hanyalah rayuan-rayuan belaka yang kosong dan hampa, yang mengandalkan permainkan kata-kata, untuk itu..hati- hatilah...

Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya 'berpacaran' terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.

Dengan adanya anggapan seperti ini, maka akan melahirkan konsensus di masyarakat bahwa masa pacaran adalah hal yang lumrah dan wajar, bahkan merupakan kebutuhan bagi orang-orang yang hendak memasuki jenjang pernikahan. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berdua-duaan antara dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya HARAM hukumnya menurut syari'at Islam.

Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, melainkan si wanita itu bersama mahramnya" (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari 1862 dan Muslim 4/104 atau 1341 dan lafadz ini dari riwayat Muslim dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma)

Adab ketika sakit

“…(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”
(QS. Asy Syu’araa’, 6 : 78-82)

اللهم عافني في بدني اللهم عافني سمعي اللهم عافني بصري
اللهم إني أعوذبك من الكفر والفقر. اللهم إني أعوذبك من عذاب القبر لا إله إلا أنت

Allahumma ‘afnii fii badanii, Allahumma ‘afnii sama’ii, Allahumma ‘afnii basharii, Allahumma inni A’udzubika minal kufuri wal faqri. Allahumma inni a’udzubika min ‘adzaabil qabri. Laa ilaaha illa anta.

“Ya Allah sembuhkan badanku, Ya Allah sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah sembuhkan penglihatanku. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Kubur. Tiada tuhan selain Engkau.”(H.R. Abu Daud )

أسألك العفو و العافية وحسن اليقين والمعافاة فى الدنيا والأخرة

“Aku bermohon kepada-Mu ampunan, kesehatan, baiknya keyakinan. Dan sembuhkanlah aku (dari sakit) di dunia dan akhirat.” (H.R. An-Nasai)

Adab ketika Sakit
1. Penyakit itu cobaan dari Allah, maka harus diterima dengan ikhlas
2. Bersabar akan membantu kesembuhan
3. Tetap salat dengan sekemampuannya
4. Selalu berdzikir kepada Allah
5. Berusaha mengobati penyakitnya
6. Tidak berobat kepada dukun atau paranormal
7. Memohon kesembuhan dengan banyak berdoa

Doa dan Artinya

1.Doa Menolak Bencana

Laa ilaaha illalaahul kariimul 'azhiimu. Subhaanahu tabaarakalaahu rabbul 'arsyil 'azhiimi. Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiina. Allaahumma rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban naari.

Artinya : Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maha Suci Dia, Maha Berkat Allah Tuhannya 'arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (HR. Nasa'i)

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.Doa Kesembuhan/Kesehatan Diri

Allahumma 'aafinii fii badanii. Allaahuma 'aafinii fi sam'ii. Allaahumma 'aafinii fii basharii. Allaahumma innii a'uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil qabri laa illaaha illaa anta.

Artinya : Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain-Mu. (HR. Abu Daud)

3.Doa Dilindungi Dari Rupa-rupa Penyakit

Allahumma innii a'uudzubka minal barashi wal junuuni wal judzaani wa sayyi'il aswqaami

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari penyakit celup, penyakit gila, penyakit kusta dan penyakit-penyakit buruk lainnya.

4.Doa Menjenguk Orang Sakit/Kecelakaan

Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa asyfi antasy syaafii laa syifaa'a illaa syifaa'uka syifaa'an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba'sa rabban naasi biyadikasy syifaa'u, laa aasyifa lahu illaa anta, as'alullaahal 'azhiima, rabbal ' arsyil 'azhiimi an-yasfiyaka.

Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya 'arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

5.Doa Mengobati Orang Sakit

Bismillahirrahmaanirrahiimi. A'uudzu bi'izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhadziru

Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kuperoleh dan yang kutakuti. (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmi-dzi dan Nasai).

6.Doa Menghadapi Musibah

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uuna. Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.

Artinya : Sesungguhnya kami memiliki Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah kami pahala dalam misibahku in dan berilah pengganti yang lebih baik. (HR. Muslim)

7.Doa Membimbing Orang Sekarat

Astaghfirullaahal 'azhiimaa ...... Laa Ilaaha Illallaahu muhammadun rasuulullaahi ....

Artinya : Aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. (dibaca terus-menerus istighfar dan syahadat tersebut pada telinga orang yang hampir wafat itu). (Tertunjuk dalam HR. Muslim, Abu Daud dan Hakim).

8.Doa di Sisi Orang Yang Telah Wafat

Allaahummaghfirlii wa lahu wa'aqibnii minhu 'uqbaa hasanatan.

Artinya : Ya Allah, ampunilah aku dan orang ini dan berilah aku ganti yang baik daripadanya. (HR. Muslim)

9.Doa Masuk Pekuburan Muslim

Assalamu 'alaykum ahlad diyaari minal my'miniina wa innaa insyaa'allaahu bikum laahiquuna. As'alullaaha lanaa wa lakumul 'aafiyata.

Artinya : Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung orang-orang mu'min. Kami in insya Allah akan bertemu dengan anda sekalian. Kumohonkan pada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi anda sekalian. (HR. Muslim)

10. Doa Terhindar dari Kesulitan dan Penderitaan

Biismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa'ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta'jiila maa akhkharta wa ta'khiira maa 'ajjalta

Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)

11. Doa Menghadapi Kesedihan, Kelemahan, Kemalasan, Takut, Kikir, Banyak Hutang Dan Penindasan

Allaahumma innii a'uudzu bika minal hammi wal hazani wa a'uudzu bika minal 'ajzi wal kasali wa a'uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a'uudzu bika min ghalabatid dayni wa qahrir rijaali.

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain.

12. Doa Ketenangan Jiwa

Rabhanaa afrigh 'alaynaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wahshurnaa 'alal qawmil kaafirina. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaytana wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu. Allaahumma tsabbitnii an azilla wahdinii an adhilla. Allahumma kamaa hulta baynii wa bayna qalbii, fahul baynii wa baynasy syaythaani wa 'amalihi. Allaahumma innii as-aluka nafsan muthma 'innatan tu'minu biliqaa'ika wa tardhaa biqadhaa'ika wa taqna'u bi'athaa'ika

Artinya : Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap golongan yang kafir.

Ya Tuhan kami, janganlah kau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki dan berilah kami dari hadhirat-Mu rahmat karena Engkau adalah Yang Maha Pemberi.

Ya Allah kokohkanlah aku dari kemungkinan terpelesetnya iman, dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan sesat.

Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku, maka berilah penghalang antaraku dan antara syaitan serta perbuatannya.

Ya Allah aku mohonkan pada-Mu jiwa yang tenang tenteram, yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas keputusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu.

13. Doa Mohon Ketenangan Dalam Menghadapi Musibah

Allahummarzuqnii nafsan muthma'innatan tu'minu biliqaa'ika wa tardhaa biqadhaa'ika

Artinya ; Ya Allah, berilah kami hati yang tenang, yang beriman akan saat perjumpaan dengan-Mu dan ridiha menerima segala ketetapan-Mu

14. Doa Ketika Menghadapi Kesulitan

Allahumma Laa shla illaa maa ja'altahu sahlan wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahlan

Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)

15. Doa Dimudahkan Segala Urusan

Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni'mati fil asy-yaa'I kullihaa wasy syukra laka 'alayhaa hattaa tardhaa wa ba'dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii'I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii'I masyuuril umuuri kullihaa laa bima'suurihaa yaa kariimu.

Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni'mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.

16. Doa Mohon Husnul Khatimah

Allaahummaj'al khayra 'umrii aakhirahu wa khayra 'amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa'ika

Artinya : Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya dan sebaik-baiknya amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baiknya hariku adalah pada saat aku menemui-Mu. (Disebutkan oleh an-Nawawi)

17. Doa Waktu Bersin dan Jawaban yang Mendengarnya

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiina. (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam),

kemudian dijawab oleh orang yang mendengarnya :

Yarhamukallahu (Semoga Allah merahmati anda), lalu orang yang yang bersin itu menjawabnya pula dengan : Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalaku (Semoga Allah memberi hidayat bagi anda dan membaguskan keadaan anda). (HR. Bukhari)

18. Doa Diberi Kesenangan Hidup

Allahumma ashlih lii fii diiniil ladzii huwa 'ishmatu amrii wa ashlih lii dun-yaayal latii fiihaa ma'aasyi wa shlih lii aakhiratil latii fiihaa ma'aadii waj'alil hayaata ziyaadata lii fii kulli khayrin wajalil mawta raahatan lii min kulli syarrin.

Artinya : Ya Allah, baguskanlah untukku agamaku yang jadi pangkal urusanku, baguskan pula duniaku yang jadi tempat penghidupanku, dan baguskanlah akhiratku yang padanya tempat kembaliku nanti, jadikanlah hidup tu menjadi bekal/tambahan bagiku dalam segala kebaikan, serta jadikanlah mati itu pelepas segala keburukan bagiku. (HR. Muslimin)

19. Doa Berlindung Dari Mahluk Jahat

A'uudzu bikalimaatillaahit taammati min syarri maa khalaqa

Artinya : Aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah Yang Maha sempurna dari segala kejahatan apa yang telah diciptakan-Nya.

20. Doa Dapat Bersyukur, Bersabar dan Tidak Menonjolkan Jasa

Allahummaj'alnii syakuuran waj'alnii fii 'aynii shaghiiran wa fii a'yunin naasi kabiiran.

Artinya : Ya allah, jadikanlah aku orang yang berterimaksih pada-Mu, jadikanlah aku orang yang shabar, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku tapi orang yang besar dalam pandangan orang lain.

21. Doa Mengunjungi Pengantin Baru

Baarakallahu likulli waahidin minkumaa fii shaahibihii wa jama'a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Semoga allah memberkati masing-masing kamu berdua (mempelai) terhadap temannya, dan semoga Allah mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majalah)

Baarakallahu laka wa baaraka 'alayka wa jama'a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah, dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

22. Doa Ketika Melihat Bayi Baru Lahir

Innii u'iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli 'aynin laammatin.

Artinya : Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

23. Doa Mohon Putera yang Shalih

Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinna qurrata a'yunin waj'alnaa limuttaqiina imaaman.

Artinya : Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak-cucu kami yang menyenangkan kami dan jadikanlah kami sebagai ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqan, 74)

24. Doa Mohon Dianugerahi Rizki yang Berkah

Allahummarzuqnii rizqan halaalan thayyiban wasta'milnii thayyiban. Allahummaj'al awsa'a rizqika 'alayya 'inda kibari sinnii wanqithaa'i umrii.Allaahummakfinii bihalaalika 'an haraamika wa aghninii bifadhlika 'am-man siwaaka.Allaahumma in nii as-aluka rizqan waasi'an naafi'an. Allaahumma innii as-alukan na'iimal muqiinal ladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.

Artinya : Ya Allah, berilah padaku rezki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik.

Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku.

Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lainnya.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezki yang luas dan berguna.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu ni'mat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang.

25. Doa Bagi Kedua Orangtua

Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.

Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Agar doa didengar Allah

1. Memahami dan mengerti akan maksud serta makna doa yang diminta. Kita boleh menggunakan bahasa apa saja sewaktu berdoa asalkan kita memahami dan mengerti akan maksud yang diminta itu. Namun sebaik-baik bahasa yang harus digunakan adalah Bahasa Arab kerana ia adalah Bahasa Al-Quran yang diturunkan oleh Malaikat melalui wahyu yang datang terus dari Allah s.w.t. Selain itu semua doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah juga adalah dalam Bahasa Arab.

2. Berdoa dengan penuh keikhlasan hati serta merendahkan diri semata-mata hanya kerana Allah.

3. Berdoa dan meminta kepada Allah dengan sebenar-benar permintaan dan dilakukan dengan bersungguh-sungguh.

4. Tidak berdoa dan meminta kepada sesuatu perkara yang mustahil, sesuatu perkara yang buruk atau pada perkara-perkara yang boleh mendatangkan dosa.

5. Berdoa dengan penuh khusyuk dan keyakinan diri bahwa doa yang dimohonnya itu akan diperkenankan oleh Allah.

6. Berdoa, bertaqwa dan bertawakal kepada Allah yaitu dengan memelihara dan menjaga setiap suruhan dan larangan-Nya.

7. Tidak pernah berputus asa didalam doanya sekalipun permintaannya itu lambat dimakbulkan oleh Allah malah sentiasa beristiqomah, sabar dan menyerah diri kepada Allah.

Tempat terbaik doa

1. Di rumah sendiri.
2. Di Multazam, Masjidil Haram.
3. Di telaga zam-zam, Masjidil Haram.
4. Di makam Nabi Ibrahim a.s.
5. Dalam Hijr Nabi Ismail a.s.
6. Di Bukit Safa dan Bukit Marwah.
7. Di raudhah Masjid Nabi iaitu Masjid Nabawi.
8. Di tempat-tempat mulia yang lain seperti masjid, surau dan rumah ibadah.
9. Dalam Masjidil Haram di kala melihat Ka'bah atau disisinya.
10. Di tempat-tempat wajib haji seperti di Min

Hari terbaik doa

1. Malam Jum`at dan waktu siangnya.
2. Malam Hari Raya dan waktu siangnya.
3. Malam Lailatul Qadar.
4. Malam Isra` dan Mikraj
5. Malam Nisfu Sya`ban.
6. Malam pertama bulan Rajab.
7. Hari Arafah.

Waktu terbaik untuk Doa

1. Waktu sahur.
2. Waktu selepas azan.
3. Waktu 1/3 malam.
4. Waktu hujan lebat.
5. Waktu melihat Kaabah.
6. Waktu tawaf dan sa'ei.
7. Waktu setiap kali lepas sembahyang.
8. Waktu setiap kali lepas membaca al-Quran.
9. Waktu hampir untuk berbuka puasa.
10. Waktu berpuasa wajib atau puasa sunat.
11. Waktu di antara dua khutbah Jumaat.
12. Waktu di antara iqomah dan sembahyang.
13. Waktu berkumpul dalam majlis ilmu atau majlis zikir.
14. Waktu dalam kesedihan, kesusahan dan penderitaan.
15. Waktu semasa meminum air zam-zam.

Adab Berdoa

1. Berdoa dalam keadaan diri masih berwuduk serta bersih dari sebarang kotoran, hadas dan najis.

2. Memulakan doa dengan membaca 'Bismillah' dan ucapan memuji-muji Allah serta berselawat ke atas Nabi Muhammad.

3. Mengadap ke Kiblat.

4. Memohon ampun dengan merendahkan diri serta mengakui akan kesalahan diri di atas dosa dan kesilapan yang telah dilakukan sebelum berdoa.

5. Berdoa dan memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh serta memahami segala isi kandungan dan maksud doa.

6. Berdoa dengan penuh khusyuk, tawaduk dan ikhlas serta merendahkan diri.

7. Mendahulukan doa dan permintaan untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum berdoa untuk mereka-mereka yang lain.

8. Berdoa dan mengulangi bacaan doanya sebanyak 3 kali bagi sesuatu hajat yang lebih berat atau yang lebih diutamakan.

9. Menghindari diri dari sesuatu yang ditegah dan dilarang oleh agama sama ada pada makanan, minuman, pakaian ataupun pekerjaan.

10. Berdoa untuk kaum muslimin dan muslimat secara seluruhnya untuk kesejahteraan mereka tidak kira yang masih hidup ataupun yang telah meninggal dunia.

11 orang yand doanya cepat dijawab Allah

1. Doa dari para Malaikat.
2. Doa dari para nabi dan rasul.
3. Doa dari raja, pemerintah atau pemimpin yang adil.
4. Doa dari orang yang soleh dan bertaqwa.
5. Doa kedua ibu bapa ke atas anak-anaknya.
6. Doa dari anak yang soleh kepada kedua ibu bapanya.
7. Doa dari orang yang dizalimi atau dianiaya.
8. Doa dari orang yang berpuasa.
9. Doa dari orang tua dan kanak-kanak.
10. Doa dari orang yang sakit dan berada dalam kesusahan.
11. Doa dari orang yang keluar bermusafir pada perkara yang diharuskan oleh syara'.

Sebab doa tak dikabulkan ada 10

1. Kita mengaku mengenali Allah tetapi tidak pernah menunaikan akan hak-hakNya dengan melaksanakan segala surahan-Nya serta meninggalkan segala larangan-Nya.

2. Kita mengakui menyintai Rasulullah tetapi tidak pernah sekali pun mengikuti sunnahnya.

3. Kita mengakui bahawasyaitan itu adalah musuh yang paling ketat tetapi masih patuh dan mengikuti segala hasutannya.

4. Kita sering membaca kitab suci Al-Quran tetapi tidak pernah mengamalkan segala isi kandungnya.

5. Kita sentiasa berdoa supaya dijauhkan dari seksaan api neraka tetapi dalam masa yang sama kita masih melakukan maksiat dan dosa.

6. Kita sering mengumpat dan mendedahkan keaiban saudara seagama kita tetapi tidak pernah melihat kepada keaiban sendiri.

7. Setiap hari kita mendapat nikmat dan rezeki yang Allah beri tetapi tidak pernah sekalipun mahu bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

8. Kita mengiringi dan mengebumikan jeazah di perkuburan tetapi tidak pernah mahu mengambil iktibar dari kematian itu.

9. Kita tahu dan yakin bahawa kematian itu pasti berlaku tetapi tidak membuat persiapan untuk menuju ke sana.

10. Kita sentiasa berdoa supaya dimasukkan ke dalam syurga dan ditempatkan bersama orang-rorang soleh tetapi tidak pernah berusaha mendapatkannya.

Doa dan faidahnya

Di dalam surah Al-Mukmin ayat 60, Allah menjelaskan:


Berdoalah kepada Ku, nescaya akan Ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina!

Doa Harian ini adalah himpunan doa-doa yang mudah tetapi penting di dalam pekerjaan seharian kita, sebagaimana yang pernah dilazimkan oleh Nabi Muhammad s.a.w semasa hayat baginda.


Oleh kerana semua bacaan doa dan zikir tersebut dalam Bahasa Arab, maka disarankan kepada pembaca agar mempelajari bacaan teks doa atau zikir
daripada orang yang boleh atau memahami bahasa arab agar setiap kalimat yang dibaca betul dari segi bacaan dan maknanya kerana apabila bacaan berubah, maka ertinya juga akan berubah. Kalimat bahasa arab juga adakalanya tidak dapat diterjemahkan ertinya dengan sepenuhnya kerana Nabi Muhammad s.a.w telah diberi kelebihan oleh Allah dengan "Jawami Al-Kalim" iaitu ucapan yang panjang dan mendalam. Adapun terjemahan setiap doa dan zikir hanyalah sebagai bantuan untuk memahami erti setiap bacaan agar menambahkan rasa khusyuk sewaktu membacanya.

Doa dalam bahasa arab, berasal dari kata ( دَعَا - يَدْعُو - دَعْوَة ) yang bererti, memanggil, memohon atau meminta. Orang yang berdoa ertinya orang yang mengajukan permohonan kepada Allah tentang kebaikan diri, keluarga dan harta benda,urusan dunia, agama dan akhirat. Meminta turunnya rahmat dan terhindar dari bencana.

Di dalam Al-Quran kata-kata doa banyak kita temukan dalam beberapa ayat dan surah, mempunyai beberapa erti yang berbeza kandungan dan makna dari ayat-ayatnya dengan perbezaan susunan kalimat-kalimatnya pula.

Umpamanya:


a. Doa yang bererti ibadah atau menyembah. Sebagaimana firman Allah:


Dan jangan kamu berdoa (menyembah) selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadamu...
(Surah Yunus ayat 106)

b. Doa yang bererti Istighathah (meminta tolong). Seperti Firman Allah:

...dan minta tolonglah kepada saksi-saksimu (sekutu-sekutumu) selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.
(Surah Al-Baqarah ayat 23)

c. Doa yang bererti As-Sual (memohon), Seperti Firman Allah:

...mintalah kepadaKu, akan Ku perkenankan pintamu...
(Surah Al-Mukmin ayat 60)

d. Doa yang bererti An-Nidaa' (panggilan). Seperti Firman Allah:

Iaitu pada hari DIa memanggil kamu...
(Surah Al-Isra' ayat 52)

e. Doa yang bererti Ath-Thana' (pujian). Seperti Firman Allah:

Katakanlah Pujilah Allah atau Pujilah Ar-Rahman...
(Surah Al-Isra' ayat 110)

f. Doa yang bererti Al-Qaul (ucapan). Seperti Firman Allah:

Ucapan mereka di dalamnya ialah: Maha Suci Ya Allah...
(Surah Yunus ayat 10)

Doa Pengasih


Doa Penerang Hati dan Memulakan Bacaan


Ya Allah, bukakanlah ke atas kami hikmatMu
dan limpahilah ke atas kami khazanah rahmatMu,
wahai Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku dan luaskanlah kefahamanku.
Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku

Senin, 18 Februari 2008

Cara Merobah Kemungkaran

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh ulama-ulama hadis, antaranya Muslim, dan diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri r.a., sabda Rasululah s.a.w. yang bermaksud; "Sesiapa di kalangan kamu melihat perkara mungkar maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu lagi maka dengan hatinya dan dengan yang demikian itu (dengan hati itu) adalah sedaif-daif iman."

Seseorang itu jika melihat kemungkaran berlaku di hadapan matanya, sekiranya boleh diubah dengan tangan, makan gunakanlah ia, jika berkuasa berbuat demikian.

Sebagai contoh sekiranya benda itu layak dibakar api atau dihancurkan, maka benda itu perlulah dilakukan demikian selepas ditegur dengan lidah, kemungkaran itu tetap tidak berubah dengan syarat jangan membawa fitnah yang lebih besar.

Yakni sekiranya cegahan dibuat dengan tangan, berlaku tindakan yang lebih besar fitnahnya maka ia adalah dilarang kerana kita hendaklah mengelak fitnah yang lebih besar.

Ertinya jika menggunakan tangan, kemungkaran itu berhenti, maka adalah wajar cegahan dengan tangan digunakan.

Sesetengah ulama mengatakan bahawa yang mempunyai kemampuan itu adalah kerajaan. Dia berupaya menyuruh kepada perkara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan tindakan undang-undang.

Jangan pula berlaku kerajaaan sendiri memberi lesen untuk membenarkan orang ramai melakukan maksiat atau kemungkaran dengan meluluskan lesen judi, arak dan seumpamanya.

Kerajaan memberi alasan kononnya tindakan tersebut bertujuan mengawal kegiatan maksiat di kalangan rakyat. Jika demikian kenapa lesen mencuri tidak diberikan kepada pencuri dan perompak untuk mengawal berlakunya kecurian dan rompakan?

Bukan bererti mengawal sesuatu kegiatan itu dengan memberi lesen kepada sesuatu organisasi atau indivisu tetapi mengawal juga boleh berlaku dengan menyediakan tempat atau sebaliknya.

Jika diambil contoh untuk mengawal supaya orang ramai tidak buang air merata justeru disediakan tandas, bukan bererti untuk mengawal kecurian dan rompakan disediakan pula tempat untuk aktiviti jenayah berkenaan.

Ini kaedah yang tidak boleh dipakai dari segi undang-undang dan akal fikiran yang waras. Bukan semua kaedah boleh dipakai dalam semua perkara kerana kaedah penyelesaiannya berlainan antara satu perkara dengan satu perkara lain.

Misalnya, untuk menimbang emas dan getah mestilah memakai dacing berbeza bukan hanya dengan menggunakan satu dacing sahaja.

Ertinya pemerintah mesti mencegah kemungkaran, iaitu mengenakan tindakan undang-undang mengikut hukum Islam terhadap segala kesalahan jenayah dan maksiat kerana inilah maknanya mengubah dengan tangan.

Dan antara orang yang mampu mengubah dengan tangan juga adalah ibu bapa terhadap anak-anak mereka. Jika anak-anak mereka melakukan kemungkaran termasuk tidak mengerjakan solat maka menjadi tanggungjawab ibu bapa menggunakan kuasa yang ada pada mereka termasuk menggunakan tangan bagi mengubah perbuatan mungkar yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud; "Suruhlah anak kamu mengerjakan sembahyang ketika umurnya tujuh tahun. Pukullah mereka bila umurnya 10 tahun (jika tidak mengerjakan sembahyang)."

Begitulah juga dalam perkara yang lain. Apabila seseorang anak itu mencapai umur 10 tahun, maka diizinkan mengenakan tindakan memukul ketika melakukan kesalahan yang bercanggah dengan hukum agama.

Pukulan yang dibuat ialah pukulan mendidik, bukan pukulan marah dan geram yang mencederakan tubuh badan anak berkenaan.

Makna Laila Haillallah

Islam bertunjangkan aqidah yang sejahtera . Aqidah yang selamat dari sebarang virus yang menggugat dan menghakis nilai keyakinan kepada Allah Azza Wajalla . Khasnya virus syirik yang bahayanya mampu menghalang kelayakkan seseorang untuk menduduki syurga Allah swt.

Tentunya لا إله إلا الله adalah anti biotic yang efektif untuk membasmi penguasaan virus syirik yang amat merbahaya . Namun begitu , لا إله إلا الله mesti direalisasikan seluruh prinsip dan tuntutannya dalam kehidupan setiap individu . Selamatnya individu tersebut bergantung kepada sejauh mana ia berupaya memiliki prinsip dan melaksanakan tuntutan لا إله إلا الله .

PENGERTIAN لا إله إلا الله .

لا إله إلا الله : TIADA yang diikuti , dituruti , dipatuhi dan disembah selain daripada Allah swt.

Firman Allah swt :


"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.

( Taha 14 )

Firman Allah swt :

Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan.

( Al Fatihah 5 )

لا إله إلا الله : PETUNJUK dan DOA hanya kepada Allah swt .

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka [1], bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

( Al Fatihah 6 – 7 )

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi (supaya ia menerima Islam), tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya); dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang (ada persediaan untuk) mendapat hidayah petunjuk (kepada memeluk Islam).

( Al Qasas 56 )

لا إله إلا الله : Menyeru supaya TAAT dan TAKUT hanya kepada Allah swt. serta dalam masa yang sama mestilah mendurhakai hawa nafsu yang menyeleweng. Pengertian ini melahirkan sifat dan watak TAQWA kepada Allah swt. apabila ianya dicerna dalam dua keadaan serentak :

1. Tunduk kepada Allah swt.
2. Lawan hawa Nafsu yang menyeleweng .

Firman Allah swt :

Adapun orang yang takutkan keadaan semasa ia berdiri di mahkamah Tuhannya, (untuk dihitung amalnya), serta ia menahan dirinya dari menurut hawa nafsu, Maka sesungguhnya Syurgalah tempat kediamannya

( An Naaziaat 40 – 41 ).

Mereka yang berhak menduduki syurga Allah swt. Ialah mereka yang:

1. Takut pada kebesaran Tuhannya
2. Cegah diri dari pengaruh hawa nafsu

Pengertian Taqwa :

1. Takut dalam erti kata TAAT ( melaksanakan semua bentuk perintah Allah samaada ringan atau berat dan meninggalkan semua larangan Allah swt. )

Cinta yang mendalam kepada Allah swt. dan tidak sampai bermain kayu tiga dengan Allah swt.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“ Hati tidak berasa gembira dan mencapai kelazatan yang sempurna melainkan hati itu sentiasa berada dalam keadaan cinta kepada Allah swt. dan senantiasa menghampirinya dengan apa yang dikasihinya . Tidak mungkin hati itu rasa cinta dan kasih kepadaNya melainkan dengan meninggalkan semua perkara yang dikasihi selainNya. Inilah hakikat لا إله إلا الله “

لا إله إلا الله : Juga memberi erti Mengikut dan mematuhi apa sahaja perintah yang datang daripada Allah swt.

(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".

( Al A’raaf 3 )

Sebagai seorang mukmin kita tidak selayaknya banyak soal dan dalih dalam menerima arahan Allah swt.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَ مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنْمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَ اخْتِلاَفِهِمْ عَلى أَنْبِيَائِهِمْ .

Maksudnya : “ Dari Abi Hurairah Rha. Berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : Apa yang telah aku larang kamu daripada melakukannya , maka hendaklah kamu menjauhinya dan apa yang aku perintahkan kamu maka laksanakanlah semampu mungkin , maka sesungguhnya telah rugilah orang – orang sebelum daripada kamu kerana banyaknya persoalan mereka dan wujudnya percanggahan pendapat terhadap nabi - nabi mereka .

( Riwayat Bukhari dan Muslim )

Sebagai seorang mukmin , jua tidak seharusnya kita menggunakan logikal manusia semata – mata dalam membuat penilaian ( untuk menerima atau menolak ) sesuatu hukum atau perundangan .

Berkata Imam Syafie Rhm. :

“ Kiranya Islam itu dinilai secara logik , nescaya segalanya rosak dan binasa . Contohnya : kenapa tatkala kita buang air besar , kita hanya diwajibkan basuh sedangkan ianya jelas najis . apabila keluar air mani , kita diwajibkan mandi sedang ianya tidak najis.”

Ini menunjukkan kepada kita , bahawa Islam diamalkan bukan kerana logik atau tidak sesuatu amalan tersebut, tetapi berdasarkan ketaatan menjunjung tinggi titah perintah Allah saw.

Firman Allah swt :

(Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad): "Turutlah apa yang telah diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu dan janganlah kamu menurut pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah; (tetapi sayang) amatlah sedikit kamu mengambil peringatan".

( al a'raaf : 3 )

Negara kita tidak ketinggalan menerima ancaman dari golongan Aqlaniyyah yang cuba menafsirkan semula Al Quran menggunakan aqal dan logik .

Sabda Rasulullah : [2]

عن سعيد بن جُبَيْرٍ عن ابْنِ عباسٍ رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ قَالَ فِي اْلقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ .

رواه الترمذي وقال أبو عيس هذا حديث حسن صحيح

“ Barangsiapa yang bercakap mengenai ( menafsirkan ) AlQuran tanpa ilmu ( berdasarkan pandangan aqalnya semata – mata ) , maka silalah sediakan tempat tinggalnya di dalam Api neraka.”

( Riwayat at Tarmizi )

Menafsirkan Al – Quran mestilah berasaskan qaedah yang ditetapkan, bukan secara ' semborono ' atau ' hentam kromo ' juga bukan mengikut ' faham sendiri ' yang jauh dari ketetapan qaedah muktabar.

Ijma’ ulama’ menggariskan qaedah tafsir dalam 5 usul dan qawai’d [3] :

1. Tafsir Quran dengan Quran
2. Tafsir Quran dengan Sunnah
3. Tafsir Quran dengan kata–kata Sahabat Rhm.
4. Tafsir Quran dengan Lughah Arabiah
5. Tafsir Quran dengan apa yang difahami daripada ayat .
( seperti berasaskan Asbabun Nuzul dan Dhohir ayat . )

Imam As – Sayuthi berkata :

“ Tidak adalah yang lebih jahat dan bodoh daripada daripada ulama’ yang menggunakan ayat – ayat quran untuk membenarkan pemikirannya ( yang berdasarkan hawa nafsu ) ”

Sebagai seorang mukmin kita tidak harus degil dan takabbur terhadap ketetapan Allah swt.

لا إله إلا الله memaksa kita tunduk dan patuh kepada kebenaran Ilahi . Keengganan kita hanyalah membawa kita ke Neraka Allah dan kekal di dalamnya .

Firman Allah swt :

" Dan orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat keterangan kami, mereka itu ialah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya.”

( Al Baqarah 39 )

Sifat enggan dan takabbur inilah menjadi 2 sifat aktif yang mendorong seseorang menjadi kufur kepada Allah swt. sebagaimana ianya pernah menimpa Iblis A’laihi Laknatullah .

Firman Allah swt :

“ Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir.”

( Al Baqarah 34 )

Namun , amat malang sekali apabila budaya degil dan sombong ini berkembang pesat dikalangan segelintir ummat Islam semata – mata kerana sikap tidak mahu mengalah . Sedang kita telah diajar oleh Allah swt :

“(Setelah jelas kesesatan syirik itu) maka hadapkanlah dirimu (engkau dan pengikut-pengikutmu, wahai Muhammad) ke arah ugama yang jauh dari kesesatan; (turutlah terus) ugama Allah, iaitu ugama yang Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya) untuk menerimanya; tidaklah patut ada sebarang perubahan pada ciptaan Allah itu; itulah ugama yang betul lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

( Ar Ruum 30 )

لا إله إلا الله : Bererti menolak dan menjauhkan diri secara menyeluruh akan semua bentuk undang – undang dan cara hidup Jahiliyyah .

“Sesudah itu, patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? Padahal - kepada orang-orang yang penuh keyakinan - tidak ada sesiapa yang boleh membuat hukum yang lebih pada daripada Allah. . Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang berlaku zalim.”

( Al Maaidah 50 – 51 )

[1] Ayat 69 dari Surah An Nisa’ ( di bawah ) adalah menafsirkan golongan yang mendapat nikmat .

[2] Sunan at Tarmizi . Jilid 5 . Muka surat 199 .
كتاب تفسير القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

[3] Keterangan lanjut Ruju’ Kitab أصول التفسير و قواعده Karangan Syeikh Khalid Abdur Rahman

adab adab usroh

1. Mengikhlaskan niat hanya kepada Allah
Maksudnya:
"Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya semua menyembah Allah, dengan tulus ikhlas menjalankan agama untukNya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan solat serta menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang benar."
(Al-Bayyinah : 5)
Sabda Rasulullah s.a.w
Maksudnya:
"Hanya segala amal itu dengan niat dan hanya bagi tiap-tiap seseorang itu apa yang dia niatkan."
(Muttafaq ‘alaih)

2. Meminta izin untuk masuk serta memberi salam sebelum memasuki rumah anggota atau tempat diadakan majlis usrah. Firman Allah Taala:
Maksudnya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah engkau semua memasuki rumah yang bukan rumah-rumah mu sendiri, sehingga engkau semua meminta izin terlebih dahulu serta mengucapkan kepada ahlinya (orang yang ada di dalam)."(An-Nur : 27)

3. Datang ke majlis tepat pada waktu yang dijanjikan atau ditetapkan.
Sabda Rasulullah s.a.w.
Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tanda orang munafiq itu tiga, iaitu jikalau berkata dia berdusta, jikalau berjanji dia memungkiri dan jikalau di amanahkan dia khianat."
Ia menambah di dalam riwayat Muslim:
"Sekalipun dia berpuasa dan bersembahyang dan mengaku dirinya orang Islam."
(Muttafaq ‘alaih)

4. Datang ke majlis dalam keadaan berwuduk dan memakai pakaian yang sopan, bersih, suci serta sempurna.
Maksudnya :
Dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Bersuci itu separuh dari keimanan."
(Muslim)
Sabda Rasulullah s.a.w. lagi :
Maksudnya :
"Dari Usman bin Affan r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Barangsiapa yang berwuduk lalu memperbaguskan wuduknya (menyempurnakan sesempurna mungkin) maka keluarlah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarganya itu sampai dari bawah kuku-kukunya : "
(Muslim)

Perkara ini diperlukan supaya :
o Senang untuk mendirikan solat.
o Memudahkan apabila memegang Al-Quran dan ayat-ayatnya dalam teks usrah.
o Jauh dari gangguan syaitan…
5. Jika ada yang tidak dapat hadir kerana uzur syar’ie, hendaklah segera memberitahu kepada naqib atau naqibah sekurang-kurangnya kepada sahabat yang menjadi tuan rumah. Hal ini bertujuan untuk:
o Melatih dari bertanggungjawab dalam setiap kerja.
o Supaya naqib dan sahabat tidak tertunggu-tunggu.
o Supaya dapat mengelakkan prasangka yang tidak baik.
o Supaya makanan yang disediakan oleh tuan rumah tidak berlebihan.

6. Datang ke majlis dengan persiapan yang telah diamanahkan setelah kita sanggup untuk menunaikannya. Firman Allah s.w.t:
Maksudnya:
"Dan penuhilah perjanjian kerana sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya."
(Al-Isra’ : 34)
* * * * Dan hadith di dalam adab yang ke 3 * * * *
Perkara ini diperlukan adalah:
o Supaya majlis usrah itu berjalan sebagaimana yang dirancang.
o Berlatih menunaikan amanah yang kecil sebelum diberi amanah yang lebih besar.
o Supaya menjadi pendorong dan contoh kepada sahabat yang kemudian.


7. Membawa dan menyediakan keperluan-keperluan yang diperlukan di dalam majlis usrah seperti Al-Quran, teks usrah, buku-buku catitan, Al-Mathurat (jika perlu) dan lain-lain yang diperlukan. Ini kerana;
o Supaya majlis usrah berjalan dengan lancar.
o Kegagalan berbuat demikian akan mengganggu sahabat yang dikongsi teksnya.

8. Datang ke majlis dengan hasrat untuk mengukuhkan ukhuwwah dan berkasih sayang kepada Allah.
Maksudnya:
"Dari Abu Hurairah r.a. katanya : "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah Taala berfirman pada hari Qiamat "Manakah orang-orang yang saling cinta mencintai kerana keagunganKu? Pada hari ini mereka itu akan Aku beri naungan pada hari tiada naungan melainkan naunganKu sendiri."
(Muslim)

9. Berazam untuk mendapatkan ilmu dan kefahaman bagi diamalkan dan disampaikan kepada orang lain… kecuali perkara yang rahsia.
Maksudnya:
"Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga."
(Muslim)

10. Duduk dengan bersopan santun
Kerana majlis itu adalah majlis zikrullah dan dihadiri sama oleh para Malaikat.

Maksudnya:
"Dan tunduklah sayapmu bersikap sopan santunlah terhadap orang mukminin."
(Al-Hijr : 88)
Sabda Rasulullah s.a.w.:
Maksudnya:
"… dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Said r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada suatu kaum pun duduk-duduk sambil berzikir kepada Allah melainkan di kelilingi oleh para Malaikat dan ditutupi oleh kerahmatan serta turunlah kepada mereka itu ketenangan di dalam hati mereka dan Allah mengingatkan mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisinya yakni di sebut-sebutkan hal ehwal mereka itu di kalangan para Malaikat."

11. Mendahului majlis dengan membaca Al-Fatihah dan berselawat kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Maksudnya :
"Dan daripada (Abu Hurairah) dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Tiada sesuatu kaum pun yang duduk di suatu majlis yang mereka itu tidak berzikir kepada Allah Taala dalam majlis tadi, juga tidak mengucapkan bacaan selawat kepada Nabi mereka di dalamnya, melainkan atas mereka itu ada kekurangannya. Jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksa mereka dan jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan mengampunkan mereka."
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia mengatakan bahawa hadith ini adalah hadith hasan.


12. Mendengar segala penjelasan, bacaan-bacaan, arahan-arahan dan pengajaran dengan teliti dan tenang sambil cuba memahami, mencatit dan mengingati dengan tepat sebelum disampaikan kepada orang lain.
Maksudnya:
"Dari Abu Bakrah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir kerana sesungguhnya mudah-mudahan (diharapkan) orang yang disampaikan itu kepadanya lebih hafaz dan lebih faham dari yang menyampaikan."
(Bukhari dan Muslim)

13. Memohon penjelasan atau mengemukakan pertanyaan selepas diberi peluang atau setelah meminta izin naqib atau naqibah.
o Supaya tidak mengganggu perjalanan majlis.
o Supaya ada sikap menghormati naqib atau naqibah.

14. Jangan mencelah ketika naqib atau sahabat sedang memberi penerangan kecuali dalam perkara yang memerlukan teguran yang segera (seperti membetulkan bacaan yang silap). Ini adalah kerana :
o Supaya tidak mengganggu perjalanan majlis.
o Supaya tidak menghilangkan penumpuan anggota usrah yang lain.
o Kadang-kadang naqib atau sahabat yang sedang bercakap akan kehilangan apa yang hendak disampaikan apabila dicelah ketika dia sedang bercakap.


15. Jangan mengangkat suara tinggi lebih dari keperluan pendengar. Ini adalah perkara yang dilarang oleh Allah Taala sebagaimana firmanNya :
Maksudnya :
"Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara kaldai. "
(Luqman : 19)

16. Jangan banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu bersifat tenang dan serius.
Maksudnya:
"Dari Anas r.a. katanya: "Nabi s.a.w. mengucapkan sebuah khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah pun seperti itu kerana amat menakutkan. Beliau s.a.w. bersabda: "Andaikata engkau semua dapat mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya engkau semua dapat mengetahui apa yang aku ketahui, nescaya engkau semua akan sedikit ketawa dan banyak menangis."
Para sahabat Rasulullah s.a.w. lalu menutupi wajah masing-masing sambil terdengar suara esakkannya.
(Mutaffaq ‘alaih)

17. Jangan banyak bergurau, kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam semua perkara:
Ini adalah kerana:
o Supaya hendaklah bergurau di dalam perkara yang benar sahaja.
o Banyak bergurau akan menjadikan majlis usrah bertukar menjadi majlis jenaka, gurau senda atau gelak ketawa.
o Banyak bergurau akan menjadikan majlis usrah kurang bermanfaat.


18. Jangan menghisap rokok di dalam tempat diadakan majlis usrah dan kalau ditinggalkan terus adalah terlebih baik.
o Supaya tidak mengganggu sahabat-sahabat yang tidak merokok.
o Supaya tidak mengganggu tuan rumah jika sekirnya ahli keluarga rumah itu sensitif dengan bau asap rokok.

19. Jangan mempersoalkan atau mempertikaikan arahan-arahan yang telah diberikan dengan jelas dan menepati syara’:
Maksudnya:
"Sesungguhnya binasa umat sebelum kamu kerana mereka banyak menyoal (yang tidak berfaedah) dan mereka suka menyalahi Nabi-nabi mereka."
(Mutaffaq ‘alaih)

20. Minta izin dari naqib sebelum keluar dari majlis kerana sesuatu keperluan. Ini adalah kerana.
o Keluar dari majlis tanpa izin adalah perangai orang munafiq.
Maksudnya:
"Sesungguhnya yang benar-benar orang mu’min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu kerana sesuatu keperluan, berilah izin kepada sesiapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah keampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(An-Nur : 62)

21. Jangan sekali-kali bertengkar kerana ia akan merenggangkan ukhuwwah : Sebabnya :
o Sedangkan di antara matlamat usrah ialah untuk memupuk ukhuwwah.
Maksudnya:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu.."
(Al-Hujuraat : 10)
Firman Allah Taala lagi:
Maksudnya:
"Dan taatilah kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berbantah-bantah yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar."
(Al-Anfaal : 46)

22. Sentiasa berusaha di dalam dan di luar majlis usrah untuk mengenali sahabat-sahabat satu usrah.

23. Akhiri majlis dengan membaca Tasbih Kaffarah dan surah Al-‘Ashr secara sedar dan memahami serta menghayati maknanya.
Maksudnya:
"Dari Abu Barzah r.a. katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda pada penghabisannya jikalau beliau s.a.w. hendak berdiri dari majlis yang ertinya: "Maha Suci Engkau ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian pada Mu. Saya menyaksikan bahawasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu."
Kemudian ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah! Sesungguhnya Tuhan mengucapkan sesuatu ucapan yang tidak pernah Tuan ucapkan sebelum ini. "Beliau s.a.w. bersabda: "Yang demikian itu adalah sebagai kaffarah (penebus) dari apa saja yakni kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan – yang ada di dalam majlis itu."
Di riwayatkan oleh imam Abu Daud juga diriwayatkan oleh imam Hakim iaitu Abu Abdillah dalam kitab Al-Mustadrak dari riwayat Aisyah r.a. dan ia mengatakan bahawa hadith ini adalah shahih isnadnya.

24. Bersalam dan saling bermaaf-maafan selepas selesai majlis.
Maksudnya:
"… dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan (kesalahan) orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat demikian.
(Ali Imran : 134)
Firman Allah s.w.t. lagi:
Maksudnya:
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpaling dari orang-orang yang bodoh."
(Al-A’raaf : 199)

25. Terus pulang apabila selesai majlis kecuali ada keperluan yang penting. Ini adalah kerana:
o Memberi peluang kepada tuan rumah untuk berkemas.
o Mungkin tuan rumah letih dan hendak segera berehat atau dia ada urusan lain.

26. Merahsiakan setiap perbincangan, maklumat atau arahan yang telah diputuskan tentang sesuatu perkara itu sebagai rahsia atau setiap perkara yang dikirakan tidak patut untuk disebarkan.

Itulah di antaraadab-adab usrah yang patut menjadi amalan setiap naqib atau naqibah dan setiap anggota usrah supaya matlamat usrah akan tercapai

Basmalah ayat fatihah atau bukan

Apakah Basmalah itu ayat atau bukan ? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini diantaranya:

1. Imam Malik berpendapat Basmalah bukan termasuk ayat dalam Al Qur’an, baik dalam surat al fatihah maupun dalam surat lainnya.

2. Abdullah bin Mubarok berpendapat “Basmalah merupakan ayat dalam setiap surat kecuali surat At Taubah. Pendapat ini sama dengan paham Ahlul Bait dan Ahmadiyah.

3. Imam Syafi’i berpendapat bahwa “basmalah” merupakan ayat dalam surat Al Fatihah saja dan bukan pada surat-surat selainnya.

4. Imam Hanafi berpendapat bahwa “basmalah” adalah ayat dalam surat Al Fatihah dan ayat mustaqillah pada surat-surat lainnya kecuali dalam surat At-Taubah. Maksudnya basmalah dianggap sebagai ayat dalam setiap surat Al-Qur’an selain surat At-Taubah namun tidak dihitung jumlah ayat.

Dalil Imam Syafi’i, hadits yang diriwayatkan oleh Darruqutni dari Abu Bakar al Hanafi, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Nuh bin Bilal dari Sa’id bin Abi Said Al Maqburi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“إذا قرأتم الحمد لله رب العالمين فاقرؤوا بسم الله الرحمن الريم أنها أم القران وأم الكتاب والسبع المثانى”

Artinya : jika kamu sekalian membaca Al hamdulillah Robbil Aa’lamiin, maka bacalah Bismillahirrohmaanirrohiim, sesungguhnya Al Fatihah itu adalah Ummul Al Qur’an (induknya Alqur’an), Ummul Kitab (induknya Kitab) dan Al Sab’ul Matsâni (Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang).

Imam Abdullah Bin Mubarak dalilnya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim hadits dari Anas berkata: Ketika itu Rasulullah SAW duduk bersama kami kemudian beliau menengadahkan kepalanya keatas sambil tersenyum; Anas bertanya : Apa yang membuat engkau tersenyum? Beliau bersabda: telah turun kepadaku surat, kemudian Ia membacakannya “بسم الله الرحمن الرحيم : إنا اعطينك الكوثر …. الخ

Imam Malik berkata: Al Qur’an tidak kuat/benar kalau berdasar pada khabar ahad (hadits) melainkan dengan hadits yang mutawatir yang tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. (Jami’ Ahkaam: Al Qurtubi juz 1).

Tafsir Basmalah

1. dari Ali bin Hasan bin Ali bin fadhdhal dari bapaknya : Kepada Imam Ridha as aku bertanya tentang basmalah. Imam berkata bahwa makna kalimat basmalah adalah memunculkan sisi ilahiyah pada perbuatan yang sedang diperbuat” Aku bertanya “apa makna sisi ilahiyah ?” Imam berkata “tanda-tanda”

2. Dari Abdullah bin Sinan : aku pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash Shadiq as tentang bismillahirrahmanirrahim, beliau berkata: ba adalah kewibawaan Allah, sin adalah kemuliaan Allah. mim adalah kedermawanan Allah. Sebagian meriwayatkan bahwa mim adalah kerajaan Allah. Dan Allah adalah Tuhan segala sesuatu, Ar Rahman adalah kasih sayang Allah buat segala sesuatu dan Ar Rahim khusus bagi orang mukmin.

3. Imam Ja’far Ash Shadiq as ditanya tentang bismillahirrahmanirrahim, lalu Imam berkata : Ba adalah kewibawaan Allah, sin adalah kemuliaan Allah dan mim adalah kerajaan Allah, alif adalah kasih sayang dan kenikmatan dari Allah dengan berwilayah kepada kami, lam adalah ketentuan Allah pada makhluknya untuk berwilayah kepada kami, ha adalah akibat bagi orang yang menentang Muhammad dan keluarganya –salam sejahtera atas mereka. Aku berkata : “apa makna ar Rahman”

“rahmatnya bagi seluruh Alam”.

“Lalu apa ar Rahim?”

“Kasih-Nya yang diberikan khusus kepada kaum mukminin”

4. Dari Hasan bin Rasyid dari Imam Musa berkata : Aku bertanya tentang makna Allah” beliau menjawab “berwali kepada yang mengalahkan segala sesuatu”

5. Dari Hasan bin Ali bin Muhammad as tentang bismillahirrahmanirrahim, dia berkata : Allah adalah yang dipertuhankan oleh setiap makhluk dalam tiap keadaan, ketika butuh, kesusahan, dari segala keterputusan pada selain-Nya, serta keterputusan sebab dari segala sesuatu. Jika dikatakan : Bismillah artinya, aku meminta pertolongan atas segala urusanku ini kepada Allah swt, yaitu tuhan yang berhak disembah daripada selain-Nya. Tuhan yang mendengarkan keluh kesah orang, dan yang menjawab doa ketika diminta. Itulah yang ditanyakan kepada Iman Ja’far Ash Shadiq “Apakah essensi Allah itu, sungguh telah banyak orang yang berdebat denganku dan membuatku bingung dan serba salah. Imam berkata kepadanya “Wahai fulan, apakah engkau pernah naik kapal laut, lalu kapal itu rusak berat dihantam badai, lalu engkau merasakan bahwa tidak ada kapal yang bisa menolongmu apalagi berenag ?” “Ya, aku pernah” “ketika itu apakah engkau merasakan ada sesuatu yang Maha Kuasa yang bisa menyelamatkanmu dari bahaya itu ?” “Ya aku merasakannya” Imam Ja’far Shadiq lalu berkata : Yang kamu rasakan itu adalah Allah swt yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan siapa saja ketika tidak ada satupun yang mampu menolong, dan Dia Maha mampu menyelamatkanmu ketika tidak ada lagi penyelamat” Imam lalu berkata “Mungkin saja ada di antar pengikut kami yang lupa mengawali pekerjaannya dengan bismillahirrahmanirrahim, maka Allah akan mencobanya sebagai peringatan baginya agar bersyukur kepada Allah swt, sehingga cobaan itu menutupi aib dan kelalaian dia dari menyebut bismillahirrahmanirrahim di awal perbuatannya.

Perawi berkata : lalu berdirilah seseorang menuju Ali bin Husein as. “Beritahu aku tentang makna bismillahirrahmanirrahim” beliau berkata “Bapakku telah meriwayatkan hadits dari saudaranya Hasan, dari Bapaknya, Amirul Mukminin as. Bahwa seseorang telah datang kepadanya dan bertanya “Wahai Amirul Mukminin, beritahu aku tentang makna bismillahirrahmanirrahim” beliau lalu menjawab “Adapun perkataanmu Allah nama teragung dari nama-nama Allah yang maha tinggi, nama itulah yang tidak boleh dipergunakan oleh selain-Nya, dan tidak ada yang bernama seperti itu” “lalu apa tafsir dari kata Allah itu?” Imam menjawab “Dialah yang dipertuhan oleh setiap makluk dalam keadaan butuh, kesusahan, ketika para makhluk telah putus asa dari selain-Nya, dan terputus segala sebab dari selain-Nya. Karena bagaimanapun tingginya pemimpin di dunia ini atau pembesar bagimanapun banyaknya harta yang mereka miliki, dan para pembesar ini sendiri butuh pada kebutuhan yang dia sendiri tidak bisa mengusahakannya, lalu mereka kembali kepada Allah dalam keadaan darurat tersebut, sehingga ketika semua kebutuhannya telah terpenuhi maka mereka kembali kepada kemusyrikannya. Apakah engkau tidak pernah membaca firman Allah swt : “katakanlah, terangkan kepada-ku jika datang siksaan Allah kepadamu atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu akan menyeru Tuhan selain Allah; jika kamu adalah orang-orang yang benar. (tidak) tetapi hanya Dialah yang kamu seru maka dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya. Jika Dia menghendaki dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)”[1] Allah juga berfirman buat hamba-Nya “Wahai orang-orang fakir, aku telah menjadikan kalian butuh kepada-Ku dalam tiap keadaan, dan telah kujadikan penghambaan pada tiap-tiap waktumu, hendaklah kalian takut kepada-Ku pada tiap perbuatan yang kalian, dan kalian mengharapkan kesempurnaan dan pencapaian tujuan, karena sesungguhnya, jika Aku menghendaki memberikan padamu maka tidak akan ada yang bisa menahan-Ku seorangpun, jika Aku hendak menahan sesuatu dari kalian, maka tiada seorangpun yang bisa memberi kalian. Akulah yang paling berhak diminta, dan aku lebih berhak untuk kalian takuti, maka ucapkanlah bismillahirrahmanirrahim pada tiap perbuatanmu, besar atau kecil, yang artinya aku memohon pertolongan kepada Allah pada urusan ini karena tidak ada yang berhak dipertuhankan kecuali Allah, yang memberi dan yang menjawab ketika dipinta. Yang maha kasih dengan menghamparkan seluruh rizki-Nya kepada kita, Yang maha penyayang kepada kita pada urusan din (agama) dan dunia serta akhirat kita. Dialah yang menjadikan agama ini mudah dan menjadikannya ringan. Dialah yang mengasihi kita serta membedakannya dari semua musuh-musuh-Nya. Kemudaian Beliau berkata: Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang dibuat sedih oleh sebuah urusan kemudian dia berkata bismillahirrahmanirrahim dengan penuh keikhlasan, betul-betul mengharapkan pertolongan Allah, maka dia tidak akan terlepas dari satu diantara dua hal yaitu tercapai seluruh hajat dan kebutuhannya di dunia atau hal itu akan dihitung oleh Allah dan dijadikan tabungannya (untuk hari akhir), dan apapun yang di sisi Allah sangat baik dan kekal abadi bagi kaum mukminin.

Pakain Untuk Solat

Sebagian muslimin meremehkan pakaian ketika melaksanakan shalat, apakah dengan bahan yang diharamkan seperti sutra bagi laki-laki, adanya gambar makhluk bernyawa atau hal lainnya. Berikut pembahasan ringkas mengenai hal tersebut dan hal-hal lain yang berkaian dengannya

Beberapa Perkara yang Perlu Diperhatikan Saat Hendak Shalat

Shalat dengan pakaian yang diharamkan
Sebuah pakaian bisa diharamkan bagi seseorang, mungkin dari sisi diperolehnya pakaian tersebut dengan cara yang haram, atau zat pakaian itu sendiri yang haram atau sifatnya yang haram.
  • Diperoleh dengan cara yang haram, mungkin dengan mencuri ataupun merampasnya dari orang lain atau yang semisalnya.

  • Zat pakaian itu haram, seperti pakaian sutera dan emas yang diharamkan bagi laki-laki untuk memakainya atau pakaian yang bergambar makhluk hidup (manusia dan hewan).

  • Sifat pakaian itu haram, seperti seorang laki-laki memakai pakaian wanita atau sebaliknya.
Shalat mengenakan pakaian yang diharamkan tersebut hukumnya haram. Lantas, apakah shalat yang dikerjakan sah ataukah batal ? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Namun pendapat mayoritas ahlul ilmi adalah shalatnya sah, tidak batal. Pelakunya dianggap telah berbuat maksiat karena melakukan perkara yang diharamkan, yakni memakai pakaian yang diharamkan. Ketika syariat melarang mengenakan sebuah pakaian secara mutlak pada saat menunaikan shalat ataupun di luar shalat, maka ini tidaklah mengandung konsekuensi batalnya shalat yang dikerjakan dengan memakai pakaian tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/ 448).

Shalat dengan memakai pakaian bercorak/ bergambar
Ummul mukminin Aisyah mengabarkan:

“Nabi shalat mengenakan khamishah yang memiliki corak/gambar-gambar. Beliau memandang sekali ke arah gambar-gambarnya. Maka selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Bawalah khamishahku ini kepada Abu Jahm dan datangkan untukku anbijaniyyahnya Abu Jahm , karena khamisah ini hampir menyibukkanku dari shalatku tadi .” Hisyam bin Urwah berkata dari bapaknya dari Aisyah, “Nabi bersabda, “Ketika sedang shalat tadi aku sempat melihat ke gambarnya, maka aku khawatir gambar ini akan melalikan/menggodaku .” (HR. Al-Bukhari no. 373 dan Muslim no. 1239)

Al-Imam An-Nawawi dalam syarah(penjelasan)nya terhadap Shahih Muslim memberi judul bagi hadits di atas dengan “Karahiyatush Shalah fi Tsaubin Lahu A’lam” artinya makruhnya shalat dengan mengenakan pakaian bergambar.

Rasulullah mengatakan bahwa gambar-gambar yang ada pada khamishah tersebut sempat menyibukkan beliau. Maksudnya, hati beliau tersibukkan sesaat dari perhatian secara sempurna terhadap shalat yang sedang dikerjakan, dari mentadaburi dzikir-dzikir dan bacaannya karena memandang gambar yang ada pada khamishah yang sedang dikenakannya. Karena khawatir hati beliau akan tersibukkan dengannya, belaiau pun enggan mengenakan khamishah itu dan memerintahkan agar mengembalikannya kepada Abu Jahm. Dari sini kita pahami, tidak disenanginya mengenakan pakaian yang bercorak/bergambar ketika shalat karena dikhawatirkan akan mengganggu ibadah shalat tersebut, walaupun shalat yang dikerjakan tetap sah. Diambil istimbath hukum dari hadits ini bahwa dimakruhkan segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat seperti hiasan, warna-warni, dan ukiran pada dinding masjid, atau hal-hal lain yang dapat menyibukkan serta memalingkan hati orang yang sedang shalat. (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz Dzikr ‘Aqibash Shalah, Al-Minhaj 5/46, Fathul Bari 1/627, Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa’ Al-Imam Malik, 1/290)

Ibnu Daqiqil ‘Ied berkata, “Hadits ini menunjukkan bersegeranya Rasulullah untuk memperbaiki shalat (melakukan hal-hal yang memberi kemashalahatan bagi ibadah shalat) serta menyingkirkan apa yang mungkin menodai pelaksanaannya. Di mana beliau melepas khamishah yang dikenakannya, menyuruh sahabatnya untuk mengembalikannya dan meminta penggantinya berupa pakaian lain yang tidak menyibukkan.” (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz-Dzikr ‘Aqibash Shalah)

Zainuddin Abul Fadhl Al-Iraqi menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keharusan meyingkirkan apa saja yang dapat menyibukkan orang yang shalat dari ibadah shalatnya dan melalaikannya. Hadits ini juga mengandung hasungan untuk menghadap sepenuhnya pada amalan shalat dan khusyuk di dalamnya. Sebagaimana pula hadits ini menunjukan bahwa pikiran sedikit/sejenak tersibukkan dengan perkara selain shalat tidaklah mencacati keabsahan shalat.” (Tharhu At-Tatsrib, 2/585)

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tidak disenangi untuk shalat di tempat yang padanya ada hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Sehingga, sekiranya hal yang mengganggu itu dapat disingkirkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.

Anas bin Malik berkata, Aisyah memiliki qiram yang dipakainya untuk menutupi sisi rumahnya, maka Nabi bersabda:

“Singkirkan dari kami qirammu ini karena gambar-gambarnya terus menerus terbayang-bayang dalam shalatku.” (HR.Al-Bukhari no. 374)

Shalat Membawa Gambar
Bila seseorang shalat sementara di sakunya ada dompet yang di dalamnya terdapat uang kertas bergambar makhluk hidup, KTP, SIM yang tentunya ada pas fotonya, apakah shalatnya sah ?

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjawab, “Shalatnya sah. Adapun gambar-gambar yang dibawanya dalam shalat tidaklah mencacati shalatnya karena ia dalam keadaan terpaksa atau ada kebutuhan untuk selalu membawanya. Adapun gambar/ foto kenang-kenangan, untuk mengingat seseorang dan semisalnya, tidak boleh dibawa. Bahkan tidak boleh dibiarkan tetap ada di dalam rumah, namun wajib dimusnahkan. Dengan dalil sabda Nabi kepada Ali bin Abi Thalib:

“Jangan engkau membiarkan satu gambar (makhluk hidup) kecuali engkau haus dan jangan pula membiarkan ada satu kuburan yang ditinggalkan kecuali engkau ratakan.” (HR. Al-Imam Muslim dalam Shahihnya)

Kemudian Asy-Syaikh menyebutkan beerapa hadits yang lainnya. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/417)

Shalat di Tempat yang Ada Gambar
Shalat di tempat yang di situ ada gambar-gambar bernyawa seprti gmbar-gambar pada surat kabar, majalah, dan buku-buku, atau gambar yang digantung di dinding hukumnya sah apabila si muslim yang shalat tersebut menunaikan shalatnya dengan tata cara yang diajarkan dalam syariat. Akan tetapi bila ia mencari tempat lain yang tidak ada gambarnya maka itu lebih utama dan lebih afdhal. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/418)

Shalat Beralaskan Tikar
Dibolehkan shalat dengan memakai alas, baik berupa tikar, sajadah, kain, atau yang lainnaya selama alas tersebut tidak akan mengganggu orang yang shalat. Misalnya sajadahnya bergambar dan berwarna-warni, yang tentunya dapat menarik perhatian orang yang shalat. Di saat shalat, mungkin ia akan menoleh ke gambar-gambarnya lalu mengamatinya, terus memperhatikannya hingga ia lupa dari shalatnya, apa yang sedang dibacanya dan berapa rakaat ang telah dikerjakannya. Oleh karena itu tidak sepantasnya memakai sajadah yang padanya ada gambar masjid, karena bia jadi akan mengganggu orang yang shalat dan membuatnya menoleh ke gambar tersebut sehingga bisa mencacati shalatnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/ 362)

Dalil tentang bolehnya shalat dengan memakai alas adalah sebagai berikut:

Anas bin malik mengabrkan bahwa neneknya yang bernama Mulaikah mengundang Rasulullah untuk menyantap hidangan yang dibuatnya. Beliau pun datang memenuhinya serta memakan hidangan yang disajikan. Selesainya, beliau bersabda , “Bangkitlah, aku akan shalat mengimami kalian.” Anas berkata,”Aku pun bangkit untuk mengambil tikar kami yang telah menghitam karena lamanya dipakai. Aku percikkan air untuk membersihkannya. Rasulullah lalu berdiri. Aku dan seorang anak yatim membuat shaf di belakang beliau, sementara nenekku berdiri di belakang kami. Rasulullah shalat dua rakaat mengimami kami, kemudian beliau pergi.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 1497)

Abu Sa’id Al-Khudri menyatakan:

“Ia pernah masuk menemui Rasulullah, ternyata ia dapatkan beliau sedang shalat di atas tikar, beliau sujud di atas tikar tersebut.” (HR. Muslim no. 1503)

Aisyah berkata:

“Adalah Rasulullah shalat beraaskan khumrah .” (HR. Al-Bukhari no. 379 dan diriwayatkan pula oleh Muslim no. 1502 dari hadits Maimunah)

Ibnu Baththal berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha di berbagai negeri tentang bolehnya shalat di atas/beralas khumrah. Keculai perbuatan yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz bahwa ia pernah meminta tanah lalu diletakkannya di atas khumrahnya untuk kemudian sujud di atas tanah tersebut. Mungkin apa yang dilakukan oleh ‘Umar bin Abdil ‘Aziz ini karena berlebih-lebihannya beliau dalam sikap tawadhu’ dan khusyuk. Dengan begitu, dalam perbuatan beliau ini tidak ada penyelisihan dengan pendapat jamaah (yang menyatakan bolehnya sujud di atas khumrah).

Ibnu Abi Syaibah meriwaytkan dari ‘Urwah ibnuz Zubair bahwa ia membenci (memakruhkan) shalat di atas sesuatu selain bumi /tanah (membenci shalat dengan memakai alas). Demikian pula riwayat dari selain ‘Urwah. Namun dimungkinkan makruhnya di sini adalah karahah tanzih (bukan haram).” (Fathul Bari, 1/633)

Namun perbuatan Rasulullah ini cukuplah menujukkan kebolehan shalat di atas alas. Wallahu a’lam.

Al-Imam An-Nawawi menyatakan ,”Orang-orang dalam mazhab kami berkata, ‘Tidak dibenci shalat di atas wol, bulu, hamparan, permadani, dan benda-benda seluruhnya. Inilah pendapat dalam mazhab kami’.” (Al-Majmu’, 3/169)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata, “Tidak apa-apa shalat di atas hamparan/tikar dan permadani dari wol, kulit, dan bulu. Sebagaimana dibolehkan shalat di ats kain dari katun, linen, dan seluruh bahan yang suci.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, fashl Tashihhu Ash-Shalah ‘alal Hashir wal Bisath minash Shuf)

Shalat dengan Pakaian yang Dikenankan Saat Buang Hajat/di WC
Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya tentang hal ini, karena memungkinkan ketika keluar dari WC pakaian mereka terkena najis dan tidak diragukan WC tidak lepas dari najis. Bila demikian, apakah sah shalat mereka dengan mengenakan pakaian tersebut ? beliau menjawab, “Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku hendak mengatakan bahwa syariat Islam ini, alhamdulillah, telah sempurna dari seluruh sisi. Cocok dengan fitrah manusia yang Allah ciptakan makhluk di atas fitrah tersebut. Di mana pula, agama ini datang dengan kemudahan dan keringanan, bahkan datang untuk menjauhkan manusia dari kebingungan dalam was-was dan bayangan-bayangan yang tidak ada asalny. Berdasarkan hal ini, seseorang dengan pakaian yang dikenakannya berada di atas kesucian, karena hukum asalnya demikian, selama ia tidak yakin tubuh dan pakaiannya terkena najis. Inilah hukum asal yang dipersaksikan oleh sabda Rasulullah tatkala ada seseorang mengadu kepada beliau bahwa ia merasa berhadats ketika sedang mengerjakan shalatnya. Beliau bersabda:

“Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendegar suara (angin) atau ia mendapati baunya.”

Maka hukum asalnya adalah tetapnya sesuatu di atas keadaanya semula (dalam hal ini: suci). Dengan begitu, basahnya pakaian yang dikenankan mereka saat masuk WC, bisakah dipastikan bahwa cairan tersebut adalah cairan yan najis dari air kencing, tahi, atau semisalnya ? Bila kita tidak bisa memastikan (tidak yakin) dengan perkara ini, maka dikembalikan kepada hukum asal, yaitu suci. Memang benar, menurut persangkan yang kuat pakaian itu bisa jadi terkena sedikit najis. Akan tetapi selama kita tidak yakin (sekedar menduga-duga) maka tetap hukum asal sesuatu itu suci, sehingga tidak wajib bagi mereka membasuh pakaian mereka. Dan mereka boleh shalat mengenakan pakaian tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/369)

Shalat Memakai Sandal
Rasulullah terkadang shalat tanpa alas kaki dan terkadang memakai sandal. Beliau membolehkan hal itu kepada umat beliau dengan sabdanya:

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan di antara kedua kakinya, dan jangan ia mengganggu orang ain dengan kedua sandalnya.” (HR. Al-Hakim 1/259, ia berkata, “Shahih di atas syarat Muslim.” Disepakati oleh Adz Dzahabi. Kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi 1/108, “Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan leh keduanya.”)

Didapatkan pula adanya penekanan beliauagar mengenakan sandal ketika shalat sebagaimana dalam hadits:

“Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.” (HR. Abu Dawud no.652, dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa Fish Shahihain, hadits no. 471, 1/399)

Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini memberi faedah disenanginya shalat dengan memakai sandal karena Rasulullah memerintahkannay dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi. Minimal hukumnya adalah mustahab, walaupun secara dzahir hukumnya wajib. Karena hukum asal dari perintah adalah wajib, kecuali ada nash yang memalingkannya dari hukum wajib tersebut. Namun di sini tidaklah wajib hukumnya dengan dalil sabda beliau yang telah disebutkan sebelumnya:

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan keduanya…”

Dari ucapan beliau ini menunjukkan seseorang yang shalat diberi pilihan (antara memakai sandal atau melepaskannya) akan tetapi hal ini tidaklah meniadakan hukum mustahabnya…” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi, 1/109, 110)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata, ”Mustahabnya dari sisi tujuan menyelisihi Yahudi.”

Sunnah ini tentunya akan dianggap asing oleh masyarakat kita karena ketidaktahuan mereka terhadap hukum-hukum yang rinci dalam agama ini. Juga karena pandangan mereka, apabila seseorang masuk masjid dalam keadaan memakai sandal berarti dia menghinakan masjid dan mengotorinya. Sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan sunnah harus pandai-pandai melihat keadaan dan super hati-hati. Jangan sampai krena ingin menghidupkan sunnah namun hasilya malahan mendatangkan mudarat dan membuat fitnah di tengah masyarakatnya yang awam tersebut, yang menyebabkan sunnah ini justru dibenci dn agama ini semakin dijauhi. Wallahul musta’an.

Oleh karena itu, ajarilah dulu manusia agama yang mudah ini dengan penuh hikmah, sehingga mereka mengerti dan paham, dan pada akhirnya mereka cinta terhadap agama ini dan mengamalkan semua yang datang dari agama yang mulia ini, tanpa ada paksaan dari siapa pun

Mu`tazilah dan ......

Muktazilah (mu‘tazilah) secara harfiah berarti kelompok yang terisolir (i‘tizâl).1 Secara terminologis, pendapat yang paling masyhur dan kuat menyatakan bahwa istilah mu‘tazilah (muktazilah) digunakan untuk menyebut Washil bin ‘Atha’ dan para pengikutnya yang diisolir oleh gurunya, Hasan al-Bashri, akibat isu al-manzilah bayn al-manzilatayn.2 Muktazilah kadangkala disebut dengan Qadariah, karena isu al-qadr yang dikemukakan oleh mazhab ini.3
Dalam dua versi laporan Ibn al-Nadim dikatakan: Pertama, Muktazilah adalah sebutan yang diberikan oleh pengikut Hasan al-Bashri kepada Washil.4 Laporan ini populer di kalangan Ahlus Sunnah, seperti yang ditulis al-Baghdadi.5 Kedua, Muktazilah adalah sebutan yang digunakan setelah zaman Hasan al-Bashri, tepatnya oleh Qatadah (w. 117 H/738 M) untuk menyebut Amr bin Ubaid dan para pengikutnya. Amr menyatakan kepada para pengikutnya, bahwa kata i‘tizâl telah digunakan dalam al-Quran sebagai sifat yang dipuji oleh Allah sehingga nama ini mereka terima. Laporan yang terakhir inilah yang diterima oleh sumber Muktazilah, seperti yang tampak dalam statemen Abd al-Jabbar, dalam An-Nasysyâr, “Setiap kata al-i‘tizâl yang dinyatakan dalam al-Quran maksudnya adalah melepaskan diri dari kebatilan sehingga secara pasti dapat diketahui, bahwa kata al-i‘tizâl ini adalah terpuji (baik).6
Al-Baghdadi kemudian membagi Muktazilah menjadi dua puluh dua aliran: (1) Washiliyah; (2) Amrawiyah; (3) Hudhayliyah; (4) Nazzamiyyah; (5) Aswariyah; (6) Ma‘mariyah; (7) Iskafiyah; (8) Ja‘fariyah; (9) Bisyriyyah; (10) Murdariyyah; (11) Hisyamiyyah; (12) Thumamiyah; (13) Jahiziyah; (14) Khabitiyah; (15) Himariyah; (16) Khayatiyah; (17) Murisiyah; (18) Syahammiyah; (19) Ka‘biyah; (20) Jubba’iyah; (21) Basyamiyah; (22) Shalihiyah. Dua dari aliran tersebut, menurut al-Baghdadi, merupakan kelompok ekstrem. Mereka adalah Khabitiyah dan Himariyah. Adapun dua puluh yang lain adalah Qadariyah murni.7
Secara umum, menurut al-Khayyath (w. 298 H), kelompok tersebut belum layak disebut Muktazilah jika tidak memenuhi lima prinsip pokok. Lima prinsip pokok tersebut, yang dikenal dengan ushul al-khamsah, adalah: tawhîd; al-‘adl (keadilan); al-wa‘d wa al-wa‘îd (janji dan ancaman); al-manzilah bayn al-manzilatayn (kedudukan di antara dua kedudukan); dan al-amr bi al-ma‘rûf wa al-nahy ‘an al-munkar (amar makruf dan nahi mungkar).8
Secara detail, pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tauhid: Allah Swt. adalah Zat Yang Mahaesa, Qadîm (Mahadulu), sementara selain Dia adalah baru (muhdats). Dari sini maka zat dan sifat Allah harus sama-sama Qadîm, yakni hanya satu; tidak terpisah satu sama lain. Sebab, kalau tidak, pasti akan ada dua yang Qadîm, yaitu zat dan sifat. Padahal, yang Qadîm harus satu, dan itulah Allah.9
2. Keadilan: seluruh perbuatan Allah adalah baik dan adil. Allah tidak akan melakukan perbuatan buruk dan zalim.10 Karena itulah, mereka menafikan qadar. Mereka menyatakan bahwa manusia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya (hurriyah al-iradah) dan dia akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak.11
3. Janji dan ancaman: Allah Maha Menepati janji dan ancaman-Nya. Janji berkaitan dengan kebaikan, seperti pahala dan surga, sedangkan ancaman berkaitan dengan keburukan, seperti dosa dan neraka.12
4. Manzilah bayn manzilatayn (status di antara dua kedudukan): Orang yang melakukan dosa besar tidak boleh disebut Mukmin atau kafir, tetapi fasik. Karena itu, status fasik merupakan kedudukan ketiga, di luar konteks iman dan kufur.13
5. Amar makruf nahi mungkar: Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban; masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya; bisa dengan senjata dan non-fisik. Jika dengan senjata maka di situlah hukum jihad berlaku.14
Inilah beberapa pandangan (maqâlât) yang mereka sepakati. Selain itu, pandangan mereka berbeda-beda. Mengenai para tokohnya, antara lain, adalah Ghaylan ad-Dimasyqi dan Washil bin Atha’. Ghaylan terkenal dengan pandangannya tentang al-qadr, sedangkan Washil terkenal dengan pandangannya tentang al-manzilah bayn al-manzilatayn. Abu Hudhail al-‘Allaf dengan muridnya dan Basyar bin al-Mu‘tamir terkenal dengan konsepnya mengenai tawallud.15 Tokoh lain adalah Abu Ali al-Jubba’i dan al-Khayyath penulis buku al-Intishâr. Tokoh Muktazilah yang terakhir adalah ‘Abd al-Jabbar, murid Abu Hasyim al-Jubba’i, anak Ali al-Jubba’i.16
Selain beberapa pandangan di atas, hal lain yang paling menonjol adalah penggunaan akal sehingga muncul kesan seolah-olah Muktazilah adalah kelompok yang mendewakan akal. Padahal, dalam kasus ini, bisa dikatakan semua ahli kalam menggunakan akal. Bahkan, dalam kasus ini tidak bisa dipilah lagi, mana Muktazilah, Jabariah dan Ahlus Sunnah. Inilah secara umum tentang potret Muktazilah sebagai mazhab akidah.
Dari sini, jelas bahwa Hizbut Tahrir berbeda dengan Muktazilah. Pertama: dalam konteks tauhid, khususnya yang terkait dengan sifat dan zat Allah. Hizbut Tahrir berpandangan, bahwa persoalan sifat dan zat Allah tidak bisa dikatakan satu, yakni sifat dan zat-Nya adalah sama; atau dikatakan berbeda, yakni sifat dan zat (mawshûf)-Nya jelas tidak sama, sebagaimana pendapat mazhab Ahlus Sunnah. Yang benar menurut Hizb, persoalan ini tidak perlu dibahas, karena masing-masing sama-sama berangkat dari asumsi yang dibangun berdasarkan logika mantik, bukan fakta yang sesungguhnya, sementara ‘fakta’ tentang Allah jelas tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, pembahasan tentang zat dan sifat Allah harus dihentikan, dengan kata lain, tidak perlu dibahas.
Kedua: dalam konteks keadilan Allah, yang berujung pada hurriyah al-irâdah, tawallud, dan sebagainya, Hizbut Tahrir justru telah mampu mendudukkan persoalan tersebut dengan tepat dan akurat. Pertama-tama, yang harus dijadikan sebagai obyek pembahasan adalah perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah. Setelah itu, diketahui bahwa perbuatan manusia itu ternyata ada dua: mujbar (dipaksa) dan mukhayyar (tanpa paksaan). Dalam konteks yang pertama, di situlah wilayah Qadha’ Allah, sedangkan yang kedua tidak. Pada wilayah yang kedua itulah, manusia bebas menentukan pilihannya, dan karenanya kemudian dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Meski demikian, dalam konteks yang pertama dan kedua, perbuatan manusia selalu terikat dengan sesuatu berikut khashiyah-nya, di situlah wilayah Qadar, dalam konteks Qadha’ dan Qadar, dimana baik dan buruknya bersumber dari Allah.
Ketiga: masalah manzilah bayna manzilatayn yang sesungguhnya merupakan kongklusi logika mantik, dalam logika Hizb, tidak akan pernah ada dan dibahas, karena memang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibahas oleh akal manusia.
Keempat: tentang pengagungan akal, justru Hizbut Tahrirlah yang mampu merumuskan batasan akal dengan tepat. Persoalan ini notabene belum mampu dilakukan oleh Muktazilah, Jabariah maupun Ahlus Sunnah. Akibatnya, mazhab-mazhab tersebut terjebak dalam perdebatan yang tak berujung, termasuk tentang sifat Allah, serta Qadha’ dan Qadar.
Dengan demikian, dari mana logikanya Hizbut Tahrir dikatakan Muktazilah? Jelas tidak ketemu, sebagaimana tuduhan sejenis yang lain, seperti Hizbut Tahrir adalah Wahabi, dan sebagainya. Tuduhan seperti ini mencerminkan dua hal sekaligus: kebodohan dan kejahatan penuduhnya. Dikatakan bodoh, karena jelas dia tidak memahami fakta Muktazilah dan Hizbut Tahrir. Dikatakan jahat, karena kalau dia memahami fakta masing-masing kelompok tersebut, maka tujuannya jelas adalah untuk mengaburkan fakta Hizbut Tahrir, dan menciptakan stigma terhadap Hizbut Tahrir. Tujuannya supaya Hizbut Tahrir dijauhi dan ditinggalkan oleh simpatisan dan masyarakat awam, yang kini tengah berjibaku dengannya untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam di tengah-tengah mereka. Artinya, mereka ingin mengeluarkan Hizbut Tahrir dari pergaulan masyarakat, dikucilkan dan bahkan dimusuhi oleh umat. Itulah niat jahat mereka

Nasehat untuk Penguasa

Nasehat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa. Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasehati, dan sebaliknya menjadi kewajiban bagi setiap orang Mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezaliman yang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilah yang dinyatakan dalam hadits Nabi:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasehat, untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, dan orang-orang awam.” (H.r. al-Bukhari dan Muslim)
Karena itu, nasehat sebagai upaya mengubah perilaku munkar atau zalim orang lain —baik penguasa maupun rakyat jelata— sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari konteks dakwah bi al-lisan (melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabi:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya.” (H.r. Muslim)
Inilah yang dilakukan oleh para ulama Salaf as-Shalih terdahulu, seperti Abdullah bin Yahya an-Nawawi kepada Sultan Badruddin. Dalam Tahdzib al-Asma’, karya Abu Yahya Muhyiddin bin Hazzam disebutkan, tatkala Abdullah bin Yahya an-Nawawi mengirim surat kepada Sultan Badruddin, dan baginda menjawab suratnya dengan marah dan nada ancaman, ulama’ ini pun menulis surat kembali kepada baginda, “Bagiku, ancaman itu tidak akan mengancam diriku sedikitpun. Akupun tidak akan mempedulikan-nya, dan upaya tersebut tidak akan menghalangiku untuk mena-sehati Sultan. Karena saya berkeyakinan, bahwa ini adalah ke-wajibanku dan orang lain, selain aku. Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari kewajiban ini merupakan kebaikan dan tambahan kebajikan.”1
Adapun jenis kemunkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunya melakukan kemunkaran tersebut dapat diklasifi-kasikan menjadi dua:
Pertama, kemunkaran yang dilakukan secara diam-diam, rahasia dan pelakunya berusaha merahasiakannya;
Kedua, kemunkaran yang dilakukan secara terbuka, demonstratif dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasiakannya, justru sebaliknya.
Jenis kemunkaran yang pertama, dan bagaimana cara mengubah kemunkaran tersebut dari pelakunya, tentu berbeda dengan kemunkaran yang kedua. Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasehatinya secara diam-diam, dan kemunkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum. Sebaliknya, justru wajib ditutupi oleh orang yang mengetahuinya. Nabi bersabda:
مَنْ سَتَرَ عَوْرَةً فَكَأَنَّمَا اِسْتَحْيَا مَوْءُوْدَةً مِنْ قَبْرِهَا
“Siapa saja yang menutupi satu aib, maka (pahalanya) seolah-olah sama dengan menghidupkan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.” (H.r. Ibn Hibban)
Berbeda dengan jenis kemunkaran yang kedua, yaitu kemunkaran yang dilakukan secara terbuka, dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelaku kemunkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengan kemunkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemunkaran yang kedua ini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua:
1- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individu pelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agar kemunkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untuk menjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia. Kecuali, jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut. Maka, pengungkapan seperti ini boleh.
2- Jika kemaksiatan atau kemunkaran tersebut pengaruhnya tidak terbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnya seperti kemunkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi, kelompok atau komunitas tertentu, maka kemaksiatan atau kemunkaran seperti ini justru wajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanya untuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilah yang biasanya disebut kasyf al-khuthath wa al-mu’amarah (membongkar rancangan dan konspirasi jahat) atau kasyf al-munkarat (membongkar kemunka-ran).
Ini didasarkan pada sebuah hadits Zaid bin al-Arqam yang menga-takan, “Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah bin ‘Ubay bin Salul berkata: ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kalian) kepada orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggal-kannya. Kalau kita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita akan mengusir yang lebih hina. Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau ‘Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilku, dan aku pun menceritakannya kepada beliau.” 2
Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay, dan diketahui oleh Zaid bin al-Arqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw. adalah kemunkaran (kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukan hanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelak tindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan oleh pelakunya, tetapi tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal dan rahasia Abdullah bin Ubay tersebut ternyata dibenarkan oleh Nabi. Padahal, seharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukum asalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadi indikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib, karena dampak bahayanya bersifat umum.3
Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau munkar yang dilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapan-nya maupun tidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau masirah, bukan saja boleh secara syar’i tetapi wajib.4 Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebanding dengan pahala penghulu syuhada’, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, seperti dalam hadits Nabi:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
“Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)
Apa yang dilakukan oleh para sahabat terhadap ‘Umar dalam kasus pembatasan mahar, pembagian tanah Kharaj, hingga kain secara terbuka di depan publik adalah bukti kebolehan tindakan ini. Adapun pernyataan ‘Irbadh bin Ghanam yang menyatakan, “Siapa saja yang hendak menasehati seorang penguasa, maka dia tidak boleh mengemuka-kannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya, maka itu kebaikan baginya, dan jika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.” 5 pada dasarnya tidak menunjukkan adanya larangan mengkritik atau menasehati penguasa di depan publik, tetapi hanya menjelaskan salah satu cara (uslub) saja.
Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasehati penguasa atau mengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemunkaran atau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya saja cara (uslub)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu face to face, atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau masirah. Melakukan upaya dengan lisan, termasuk melalui tulisan, seperti surat terbuka, buletin, majalah, atau yang lain, baik langsung maupun tidak jelas lebih baik, ketimbang upaya bi al-qalb (dengan memendam ketidaksukaan), apalagi jika tidak melakukan apa-apa, sementara terus mengkritik orang lain yang telah melakukannya. Faliyadzu billah.

Nabi Musa berguru Nabi Khidir

WALAQOD SHORROFANA FII HADAL QUR'AANI LINNAASI MINKULLI MASYALIN WA KAANAL INSAANU AKTSARO SYAI WIJADALAN" QS: Al Kahfi 54. Artinya : "Dan sesungguhnya Kami telah mengulan-ulang bagi manusia di dalam Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan adalah manusia itu makhluk yang banyak membantah". NabiMusa AS bertanya kepada Tuhannya,"Ya Robbii, kaifa lii bihii?" Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya aku menemui hambaMu yang lebih pandai dari aku itu…?. Tuhanpun menjawab," Apabila kamu ingin bertemu hambaKu yang lebih pandai dari kamu maka dia tempatnya ada di Majma'al Bahroin itu adapun caranya yaitu kamu harus pergi kesana, tetapi bawahlah ikan yang telah mati(ikan laut) dan ikan itu kamu tempatkan dalam kepis(tempat ikan) dan jika sampai pada suatu tempat ikan tersebut menghilangdari tempatnya karena hidup kembali, maka disitulah tempatnya hambaKu yang lebih pandai dari kamu." Kemudian Nabi Musa melakukan persiapan untuk pergi kesuatu tempat yang belum pernah ia ketahui yang namanya adalah Majma'al Baroin. Nabi Musa pun pergi ke pasar untuk membeli ikan laut yang akan dijadikan bekal dan petunjuk dimana tempatnya hamba Alloh yang lebih pandai darinya. Setelah mendapatkan ikan dan bekal yang cukup maka Nabi Musa AS berangkat bersama seorang muridnya yang bernama Yusya. Yusya ditugasi membawa bekal-bekal untuk perjalanan termasuk ikan yang ada dalam kepis. Siapakah Yusya itu dan apa hubungan nya dengan Nabi Musa AS. Yusya murid Nabi Musa As adalah putra dari Nun putra dari Ifrosun putra dari Nabi Yusuf As. Nabi Yusuf adalah putra Nabi Yaqub As putra dari Nabi Ishaq As.putra Nabi Ibrahim As. Jadi pemuda yang bernama Yusya itu silsilahnya bertemu di Nabi Yaqub AS. Untuk Mencapai Bertemu Yang Diberi Anugrah Khusus Perlu Bertahun Tahun: Alloh berfirman dalam Qur'an," WAIDZ QOOLA MUSA LIFATAAHU LA ABROKHU HATTA ABLUGHO MAJMA'AL BAHROIN AU AMDLIYAA HUKUBAAN" Artinya : "Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya,' aku tidak akan berhenti (berjalan), sebelum sampai ke Majma'al Bahroin (pertemuan dua lautan) atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun'. Q.S Al Kahfi/60. Dari ayat itu Nabi Musa AS dan Yusya bertekad untuk berjalan meskipun bertahun-tahun menyusuri pantai. Kata Hukubaan adalah jamak dari Hakibah adalah bertahun-tahun (lebih dari 80 tahun). Inilah pelajaran bagi kita jika kita mempunyai maksud yang mulia (yang diridloi Alloh ) maka mesti punya tekad kuat dan pantang menyerah meskipun berpuluh-puluh tahun. Dalam perjalan Nabi Muhammad SAW pun untuk mencapai hidup yang mendapat petunjuk Tuhan dilakukan kholwat bertahun-tahun sebelum wahyu itu diturunkan pada Nya. Bagaimanakah kita ini yang bercita-cita jadi manusia yang sholih, muttaqin? Apakah cukup santai-santai saja tiada kesungguhan mencapai keridloan Alloh. Kembali pada perjalanan Nabi Musa As dan muridnya yang telah menyusuri pantai untuk mencari tempat pertemuan dua lautan. Didekat pertemuan dua lautan itu ada batu besar "Shokhro" (kalau batu kecil Hasho, batu sedang Hajarun). Didekat batu besar Shokhro ada sumberan air "MAUL HAYAT". Air yang bila mengenai sesuatu yang telah mati bisa hidup kembali. Inilah patokan yang mesti dipegang oleh Nabi Musa As. Pesan Alloh jika sampai ditempat air yang bila mengenai ikan yang akan dijadikan lauk dan bisa hidup lalu berenang ke laut itulah tandanya Majma'al Bahroin sudah dekat. Sejak pagi kedua anak manusia itu berjalan tiada hentinya, dibawah terik matahari pun terus dijalaninya demi suatu ketinggian disisi Alloh. Di atas pasir pantai yang panas diterpa angina laut yang semilir ditemani ombak yang berkejaran terus berjalan hingga tak terasa Nabi Musa As sangat kelelahan sekali, lalu Nabi Musa As pun beristirahat dibalik bayangan batu besar Shokhro, dan terlelap tidur. Sedang pemuda Yusya tidak tertidur, ia menjaga Nabi Musa As yang terlelap keletihan keduanya lupa makan bekal yang telah disiapkan. Pada saat Nabi Musa tertidur inilah Yusya simurid Nabi Musa As mengalami kejadian ajaib. Ikan yang akan dijadikan lauk itu melompat ke air dan hidup lalu berenang ke tengah lautan. Yusha tertegun-tegun akan keajadian ini. Tidak lain ikan yang mati itu terkena percikan sumber air maul hayat didekat batu itu . Dan Yusha pun terlupakan untuk menceritakan kejadian aneh ini kepada Nabi Musa As., sehingga keduanya terus berjalan kembali sampai jauh. Sampai suatu ketika Nabi Musa AS teringat akan bekan makanannya untuk dimakan maka dimintanya bekal yang dibawa oleh Yusya. Dan Yusya pun baru menceritakan tentang ikan yang secara aneh melompat ke laut dan berenang, sebagai mana dikabarkan Alloh dalam Qur'an surat Kahfi : "Maka tatkala mereka sampai ke suatu pertemuan dua lautan itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka tatkala mereka telah berjalan lebih jauh, berkatalah Musa," Bawalah ke mari makanan kita sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". Lalu Muridnya menjawab,"Tahukah Wahai Nabi Musa, tatkala kita mencari tempat berlindung dibalik batu tadi, maka sesungguhnya akau lupa menceritakan tentang ikan itu dan tiadalah yang melupakan aku untuk menceritkan kecuali syaithon dan ikan itu mengambil jalan ke laut dengan cara yang aneh sekali". Maka Musa berkata,"Itulah tempat yang kita cari". Lalu keduanya kembali mengikuti jejak kakinya semula. Apakah hikmah dibalik kata" Majma'al Bahroin?" Apakah hanyalah sekedar tempat pertemuan dua lautan, dimana kedua air laut itu tidak saling bercampur. Yang satunya laut itu berasa tawar dan yang satu lagi berasa asin. Diantara dua laut itu seolah-olah ada pembatas yang tranparan, keduanya tidak saling melampaui. Pelajaran yang dapat kita petik adalah apabila kita ingin mencapai kehidupan yang benar-benar beruntung disisi Alloh, sesuai tujuan manusia hidup maka mesti mempertemukan dua lautan ILMU. Yang kedua ilmu itu sangat jelas batas-batasnya. Yaitu Ilmu tata lahir yang disebut Ilmu Syariat dan yang kedua Ilmu tata bathin, yaitu dikenal dengan nama Ilmu hakikat. Dengan menggabungkan kedua Ilmu itu dalam hidup kita maka kita akan menjadi benar-benar hidup. Hidup yang hakiki. Hidup sejati. Untuk mendapatkan Ilmu Syariat mesti belajar kepada para Ulama ahli syariat dan untuk belajar Ilmu Hakikat, maka mestilah belajar pada Ulama Ahli Hakikat. Inilah sesungguhnya symbol Nabi Musa AS sebagai Ahli Ilmu Tata Lahir, dan Nabi Khidir AS adalah symbol Ahli Ilmu Bathin, Ilmu hakikat, Ilmu yang tersembunyi.

Istri Istri Nabi Muhammad

Berikut ini kita tampilkan nama-nama Istri Nabi Muhammad SAW beserta sekilas penjelasannya:
1. SITI KHADIJAH: Nabi mengawini Khadijah ketika Nabi masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah adalah Aby Haleh Al Tamimy dan suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada tahun 621 A.D, dimana tahun itu bertepatan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi SAW sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi SAW baru mau menikahi wanita lain.
2. SAWDA BINT ZAM’A: Suami pertamanya adalah Al Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya.
3. AISHA SIDDIQA: Seorang perempuan bernama Kholeah Bint Hakeem menyarankan agar Nabi SAW mengawini Aisha, putri dari Aby Bakrs, dengan tujuan agar mendekatkan hubungan dengan keluarga Aby Bakr. Waktu itu Aishah sudah bertunangan dengan Jober Ibn Al Moteam Ibn Oday, yang pada saat itu adalah seorang Non-Muslim. Orang-orang di Makkah tidaklah keberatan dengan perkawinan Aishah, karena walaupun masih muda, tapi sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang tanggung jawab didalam sebuah perkawinan. Nabi Muhammad SAW bertunangan dulu selama 2 tahun dengan Aishah sebelum kemudian mengawininya. Dan bapaknya Aishah, Abu Bakr pun kemudian menjadi khalifah pertama setelah Nabi SAW meninggal.
4. HAFSAH BINT UMAR: Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah ke dua. Pada mulanya, Umar meminta Usman mengawini anaknya, Hafsah. Tapi Usman menolak karena istrinya baru saja meninggal dan dia belum mau kawin lagi. Umar pun pergi menemui Abu Bakar yang juga menolak untuk mengawini Hafsah. Akhirnya Umar pun mengadu kepada nabi bahwa Usman dan Abu Bakar tidak mau menikahi anaknya. Nabi SAW pun berkata pada Umar bahwa anaknya akan menikah demikian juga Usman akan kawin lagi. Akhirnya, Usman mengawini putri Nabi SAW yiatu Umi Kaltsum, dan Hafsah sendiri kawin dengan Nabi SAW. Hal ini membuat Usman dan Umar gembira.
5. ZAINAB BINT KHUZAYMA: Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi SAW mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 A.D.
6. SALAMA BINT UMAYYA: Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.
7. ZAYNAB BINT JAHSH: Dia adalah putri Bibinya Nabi Muhammad SAW, Umamah binti Abdul Muthalib. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW sudah mengatur agar Zaynab mengawini Zayed Ibn Hereathah Al Kalby. Tapi perkawinan ini kandas ndak lama, dan Nabi menerima wahyu bahwa jika mereka bercerai nabi mesti mengawini Zaynab (surat 33:37).
8. JUAYRIYA BINT AL-HARITH: Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juayreah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juayreah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juayreyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juayreyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juayreayah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juayreyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.
9. SAFIYYA BINT HUYAYY: Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi SAW. Cerita nya cukup menarik, mungkin Insya Allah disampaikan terpisah.
10. UMMU HABIBA BINT SUFYAN: Suami pertamanya adalah Aubed Allah Jahish. Dia adalah anak dari Bibi Rasulullah SAW. Aubed Allah meninggak di Ethiopia. Raja Ethiopia pun mengatur perkawinan dengan Nabi SAW. Dia sebenarnya menikah dengan nabi SAW pada 1 AH, tapi baru pada 7 A.H pindah dan tinggal bersama Nabi SAW di Madina, ketika nabi 60 tahun dan dia 35 tahun.
11. MAYMUNA BINT AL-HARITH: Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibn Abed Alzey. Ketika Nabi SAW membuka Makkah di tahun 630 A.D, dia datang menemui Nabi SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW.
12. MARIA AL-QABTIYYA: Dia awalnya adalah orang yang membantu menangani permasalahan dirumah Rasullullah yang dikirim oleh Raja Mesir. Dia sempat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Ibrahim akhirnya meninggal pada umur 18 bulan. Tiga tahun setelah menikah, Nabi SAW meninggal dunia, dan Maria (thx buat Joan) akhirnya meninggal 5 tahun kemudian, tahun 16 A.H. Waktu itu, Umar bin Khatab yang menjadi Iman sholat Jenazahnya, dan kemudian dimakamkan di Al-Baqi.
Kalau sudah tahu begini dan kalau memang dikatakan mau mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW, kira-kira masih minat dan berani nggak ya kaum Adam untuk ber-istri lebih dari 1?

Air Mata Hati

teringat saat bersama
terlintas bayang semu
saat kurenungi
hari hari yang tak lelah

saat pelukmu temani langkahku
tak pernah lalu dari anganku
yang tak pernah henti mengingatmu

pedih kurasakan
tak terlihat memang
air mata yang kaluar
air mata hati akan kerinduan
masa masa itu

Dia

dia
bukanlah diriku
bukanlah dirimu
hanyalah dirinya

dia
bukanlah milikku
bukanlah milikmu
hanyalah miliknya

namun
akulah milikmu
akulah miliknya
miliki semua

entah siapa kumemilih
dirimu disisi
dirinya slamanya
temani hidupku
ikuti langkahku

Puisi Cinta

Cinta seharusnya tanpa noda
ketika cinta ternoda
cinta berubah menjadi murka
murka yang membawa bencana

Cinta adalah suci
yang tertanam dalam hati
tak ada kata benci
yang mampu merasuki

ketika cinta ternodai
walau dengan sehelai duri
nama cinta berubah benci
yang akan setia mengelabuhi

Sombong Puisi

serasa tak ada dosa
serasa tak ada siksa
serasa dialah yang berkuasa

sombong
padahal...
kesombonganmu tak lain adalah dosamu
kesombonganmu adalah siksaanmu

kini....
tuhan tak mau lagi melihat kesombonganmu
Dia murka!!!!
Dia marah!!!

laut,udara,bumi
hujan,panas,air,api
semua menjadi bencana karna kesombongan
yang tak kau hiraukan itu

Bulan Suci Puisi

benarkah ini bulan suci??
bulan yang selalu dinanti??
bulan penuh barokah???
bulan penuh hikmah???

susah payah mereka lakukan
banting tulang bermandikan keringat
tuk dapat mendatangi BAITULLAH

apakah benar tujuanmu itu??
apakah benar niatmu itu???

ada yang datang benar benar niat
ada yang datang untuk mencari rizki
ada yang datang untuk mencari nama
ada yang datang untuk mencari gelar

lalu mana niatmu???
apakah untuk mencari kebahagiaan hidupmu???
apakah untuk mencari ketenaran???
apakah untuk mencari gelar pak haji???
apakah untuk mencari rizki???

Wiridan

sedikit mengenai apa wirid atau aurod…
wirid adalah bacaan Rasullah,sahabat,amalan para aulia allah…pekerjaan yang sangat mudah dan sangat banyak mengandung faedah dan manfaatnya,rasakan aja sendiri…hehehe…
seperti rukun islam ada lima :
pertama syahadah
kedua sholat
ketiga puasa
keempat zakat
kelima haji bagi yang mampu
kelima rukun islam ini punya sunnah atau nafilah masing2…
seperti sholat nafilah atau sunnahnya adalah sholat sunnah nafilah seperti sholat sebelum zuhur atau sesudahnya…atau sholat yang lain seperti dhuha,tahajud….
puasa juga ada nafilahnya seperti puasa senin kamis,puasa muharam dan lain sebagainya
zakat juga ada nafilahnya yaitu sodakoh
hajijuga ada nafilahnya yaitu umroh
sekarang diantara rukun islam itu syadah sebagai rukun islam yang pertama dan yang paling sangat mudah dikerjakan apakah ada nafilahnya???
jawabannya ada…
apa nafilah syahadah???nafilah syahadah adalah zikir
zikir adalah kerjaan yang sangat mudah dikerjakan dan pasti diterima oleh allah….

zikir akan membawa seseorang merasa dalam ketenangan karena dalam tubuh manusia itu terdapat tiga hal :
yaitu jasad,akal,ruh
ketiga hal tersebut membutuhkan makanan atau pun ketenangan…
jasad misalnya membutuhkan makan dan minuman untuk bisa bertahan hidup
adapun akal memerlukan refresing atau ketenangan setelah abis beraktiftas…
begitu juga ruh ini juga membutuhkan ketenangan dan makanan..apakah makanan ruh tersebut???
makanan ruh itu adalah zikir

segitu aja dulu….
takut kejauhan dan keterbasatan waktu….hehehhe
mohon maaf kalau ada kekurangan…….

Minggu, 17 Februari 2008

Sedekah Murah Meriah

Barangkali kita pernah membaca artikel bahwa uang Rp 50 ribu terasa ‘ringan’ di mall tapi ‘berat’ jika berada di masjid. Ungkapan di atas tidak salah, bahkan terasa sangat menohok bagi kaum muslim. Mengapa aku katakan menohok? Karena, semestinya seorang muslim tidaklah perlu ragu dan takut untuk mengeluarkan BERAPAPUN uang untuk bersedekah dan berinfaq.

Aku sendiri, terus terang, terkadang masih ragu dan berat untuk mengeluarkan Rp 100 ribu untuk dimasukkan ke dalam kotak amal. Hanya pada event/acara khusus aku memasukkan lembaran merah itu, misalnya seperti saat Idul Adha, Idul Fitri, atau ada pengajian khusus. *termenung sedih*

Jika aku berani jujur, nampaknya aku masih belum bisa ikhlas untuk sepenuhnya mendedikasikan hartaku untuk agama. Masih terlalau banyak pertimbangan yg aku lakukan sebelum mengeluarkan uang. Meski seringkali aku berusaha usir kekhawatiran ini, namun seringkali pula aku ‘kalah’ melawan hal ini.

Aku hanya berharap, jangan sampai aku terkena penyakit cinta dunia. Hal ini dikarenakan jika sudah terkena penyakit cinta dunia, bisa dipastikan cinta harta dan takut mati akan hinggap di dalam diriku. Dan ini jelas merupakan ancaman dan sinyal yang sudah berada di tahap yg ‘mengerikan’, karena ini berarti aku sudah terperangkap dalam jebakan setan sebagaimana yg sudah diingatkan Rasululloh SAW lebih dari 14 abad yg lalu.

Untuk menghilangkan cinta dunia dan takut mati, tentu ada caranya. Perbanyak ibadah, pelajari agama dengan baik, dekatkan diri (dan banyak bergaul) dengan orang2 berilmu (agama), berikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain, dan yang terlebih penting..PERBANYAK DAN BIASAKAN SEDEKAH DAN INFAQ! Yakinlah bahwa sedekah itu bermanfaat!

Karenanya, aku begitu iri dengan keberanian para sahabat di jaman Rasululloh SAW dan orang2 yang berani mengeluarkan hartanya di jalan ALLOH SWT. Mereka tanpa ragu mengeluarkan jutaan, puluhan juta, ratusan juta, bahkan semua hartanya demi agama Islam. Mereka begitu yakin dengan tindakan mereka. Keyakinan ini tentu saja tidak mungkin muncul begitu saja, namun gemblengan dan bimbingan agama yg terus menerus-lah yang bisa menumbuhkan keyakinan ini.

Nah, melalui artikel ini, aku mengajak anda semua untuk kembali banyak belajar agama, mendekatkan diri pada ALLOH SWT, bermanfaat bagi orang banyak, dan akhirnya memperbanyak sedekah dan infaq. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat kebajikan.

Hampir lupa, sedekah dan infaq itu murah sebenarnya. Tidak perlu uang Rp 100 ribu untuk bersedekah dan berinfaq, uang Rp 500 atau Rp 1000 juga bisa digunakan untuk bersedekah. Banyak senyum yg tulus kepada sesama, bisa menjadi sedekah.

Yang aku tekankan di sini adalah sedekah dg nominal yg ‘relatif besar’ (lebih dari Rp 20 ribu) akan terasa berat (dan mahal) jika kita tidak biasakan diri dengan sedekah yg nominal kecil terlebih dahulu.

Betapa mudah kita menghabiskan uang lebih dari Rp 20 ribu untuk makan di restoran cepat saji, namun kita begitu sulit memasukkan Rp 20 ribu ke kotak amal, karena kita senantiasa beranggapan uang Rp 20 ribut itu lebih ‘layak’ digunakan untuk makan di dunia daripada mempersiapkan diri di akhirat kelak.

Untuk menjadikan sedekah dan infaq itu murah, anggap saja kita nabung untuk keperluan kita di akhirat kelak.

Sementara, sedekah dan infaq akan terasa ringan jika kita sudah terbiasa. Karena itu, aku tulis di atas, biasakan diri kita untuk mulai sedekah dg nominal yg ‘murah’/kecil. Insya ALLOH lama kelamaan kita akan semakin terbiasa dan tidak merasa berat lagi untuk bersedekah dg nominal yg lebih besar.

Jadi, apakah sedekah itu masih mahal dan berat?

Suka dg penderitaan lain

Selesai sudah sebuah riwayat seorang anak Adam. Usai dirawat sekian lama dan menyedot perhatian yang begitu luar biasa, akhirnya malaikat Izrail datang mencabut nyawanya, pertanda Sang Khalik sudah memanggilnya.

Beragam reaksi yang muncul. Ada yg bersedih, ada yg bergembira, ada yg bersorak-sorak, ada juga yg menanggapi dengan biasa.

Soeharto, bagi banyak kalangan, dianggap mempunyai dosa yang begitu menggunung. Banyak korban aturan/kebijakannya yg merasa diperlakukan begitu tidak adil. Bahkan banyak yg mati tidak ketahuan rimbanya.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Terlepas dari kesalahan2 yg pernah dilakukan, seorang muslim tidak etis dan tidak pantas merayakan kematian seseorang (sekalipun dianggap musuh), terlebih orang tersebut masih saudara kita (sesama muslim). Mari kita tengok contoh dari suri tauladan kita, Rasululloh SAW, ketika salah satu musuh terbesar beliau, Abu Jahal, tewas di kancang perang Badr. Apakah beliau lantas bersuka cita dan ‘mensyukuri’ matinya, apalagi bersorak sorai.

Sepanjang sejarah yg aku baca, aku tidak temukan perasaan suka cita yang dilakukan Rasululloh SAW setiap ada musuh2nya mati. Beliau tetap tenang, karena beliau tahu jauh ke depan.

Setiap yg wafat/berpulang ke Rahmatullah, akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan amalannya di dunia. Jika di dunia sering berbuat onar/ricuh serta melakukan banyak kejahatan, insya ALLOH siksaan dari malaikat sudah menunggu. Demikian juga halnya jika banyak berbuat kebajikan selama di dunia, insya ALLOH kemudahan akan didapat.

Daripada kita meributkan keadaan Soeharto, lebih baik kita tengok dan muhasabah diri kita sendiri. Seberapa banyak amal yg sudah kita siapkan untuk menyongsong ajal yg akan datang (tanpa kita ketahui)? Siapkah kita jika malaikat Izrail datang mencabut nyawa kita? Apa yang kita lakukan saat kita wafat nanti? Sedang beribadah dan berbuat kebajikan? Atau malah sedang asyik berbuat maksiat?

Jangankan meributkan, untuk mengomeli saja rasanya sudah tidak pantas.

Langkah ‘netral’ untuk menyikapi wafatnya Soeharto adalah bersikap sesuai dengan hak dan kewajiban kita selaku muslim. Sebagai seorang muslim yg wafat, maka sudah haknya untuk disholatkan (sholat jenazah) dan didoakan serta dikuburkan dengan layak.

Sementara kasus pengadilan yang dialamatkan kepadanya, ‘lupakan’lah. Pengadilan dunia sudah saatnya diarahkan kepada kroni2nya yang masih hidup dan menikmati hasil korupsi. Soeharto akan mendapat jatah pengadilannya (sesuai amalannya) sejak masuk liang lahat kelak, insya ALLOH.

Pandai Bersyukur

Orang yang pandai bersyukur menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bijak. Sedangkan orang yang bijak menunjukkan bahwa dia orang yang memiliki pemahaman yang mendalam. Dan, orang yang memiliki pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa ia telah makan asam garam kehidupan.

Dalam konteks agama, ia bukan hanya orang yang bisa berteori di dalam beragama, melainkan telah menjalani agama ini dengan sepenuh hatinya. la telah ‘bertemu’ ALLOH dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Bagaimana seseorang bisa bersyukur, kalau ia tidak pernah ‘bertemu ALLOH’. Kepada siapakah ia bersyukur jika ia tidak paham bahwa ALLOH-lah Tuhan semesta alam. Bahwa ALLOH-lah yang telah memberinya kenikmatan itu. Baik berupa kesehatan, harta, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam kenikmatan lainnya.

Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang telah melewati masa-masa kritis dalam keimanannya, dalam ketakwaannya. la telah ditempa kehidupan yang memberikan kesimpulan bahwa hidup ini temyata milik ALLOH. Bukan miliknya. Karena itu, ia mensyukuri segala nikmat yang diperolehnya, sebab ia tahu persis bahwa semua itu semata-mata pemberianNya … Maka, orang yang demikian ini sangat pantas tinggal di Surga.

Manfaat sedekah

Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.

SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”

“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Saudara-saudaraku, pembaca “Kajian WisataHati” dimanapun Anda berada, kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.

Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.

Saudara-saudaraku sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.

Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita masih membahas “sedikit tentang menunda umur, tapi kaitannya dengan kesulitan-kesulitan hidup yang kita hadapi “.

Salam, Yusuf Mansur.
Salam Wisata Hati.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78)

Putra Nabi


Abdullah bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah, meninggal ketika masih kecil.

Ibrahim bin Muhammad (wafat 10 H)
Putra Nabi dari Mariah Qibtiah. Dia hanya hidup selama 18 bulan. Nabi menyaksikan ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil meneteskan air mata, beliau berkata “mata boleh meneteskan air, hati boleh bersedih, tapi kita tidak boleh mengucapkan kalimat yang tidak diridai Allah”.

Qasim bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah yang meninggal ketika masih kecil.

Putri Nabi

Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H)
Putri bungsu Rasulullah SAW dari Khadijah yang paling disayangi oleh Rasulullah SAW. Dia tergolong wanita Quraisy yang genius dan pintar bicara. Dia menikah dengan Ali bin Abu Thalib. Dari perkawinan ini lahirlah Hasan, Husain, Ummi Kultsum dan Zainab. Dia meninggal 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Dan dari Fatimah Az-Zahro¡¦ini lahirlah dzuriyah Rasul sampai sekarang, yang di masyarakat lazim dijuluki Sayid, Habib ataupun Syarief.

Ruqaiah binti Muhammad (wafat 2 H)
Putri Rasulullah SAW. dari Khadijah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu Lahab sewaktu Jahiliah. Setelah munculnya Islam dan turunnya ayat yang berarti “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan dia juga akan celaka” (S. Al-Masad ayat 1)dia langsung dicerai oleh suaminya atas perintah Abu Lahab. Dia memeluk Islam bersama ibunya. Kemudian dia dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut bersama suaminya hijrah ke Abessina (habasyah ), kemudian mereka kembali dan menetap di Madinah seterusnya meninggal di kota itu pula.

Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M)
Putri Rasulullah dari Khadijah yang dipersunting oleh Utaibah bin Abu Lahab pada masa Jahiliah. Setelah turunnya ayat yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia juga akan binasa.” (S. Al-Masad ayat 1) ia dicerai oleh Utaibah atas perintah Abu Lahab. Sepeninggal kakaknya, Ruqaiyah, istri pertama Usman dia dinikahi oleh Usman bin Affan. Dia ikut berhijrah ke Madinah.

Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.)
Putri sulung Rasulullah yang dipersunting oleh Abul Ash bin Rabi’. Dia memeluk agama Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya bertahan dalam agamanya di Mekah sampai dia tertawan dalam perang Badar. Di saat itu, Rasulullah meminta kepadanya untuk menceraikan Zainab, lalu diceraikannya. Setelah dia masuk Islam, Rasulullah SAW. mengawinkan mereka kembali.

Jadwal Puasa Sunah

Aku telah susun jadwal shaum sunnah (sesuai contoh Rasululloh SAW) dengan patokan kalender Hijriah, yang disesuaikan dengan kalender Masehi. Semoga bermanfaat…(mudah2an aku juga bisa melakukannya…)

1. Puasa pada hari Senin dan Kamis

2. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan (Tanggal 13,14,15 di kalender Islam)
- 22, 23, 24 Januari 2008/Muharram 1429 H
- 20, 21, 22 Februari 2008/Shafar 1429 H
- 21, 22, 23 Maret 2008/Rabi’ul Awwal 1429 H
- 19, 20, 21 April 2008/Rabi’ul Akhir 1429 H
- 18, 19, 20 Mei 2008/Jumadil Awwal 1429 H
- 17, 18, 19 Juni 2008/Jumadil Akhir 1429 H
- 16, 17, 18 Juli 2008/Rajab 1429 H
- 14, 15, 16 Agustus 2008/Sya’ban 1429 H
- 2008
Puasa (wajib) Ramadhan 1429 H - 1 September - 30 September 2008 ***jadi, tidak ada puasa sunnah 3 hari di bulan Ramadhan..***
- 13, 14, 15 Oktober 2008/Syawwal 1429 H
- 11, 12, 13 November 2008/Dzulqa’idah 1429 H
- 11, 12, 13 Desember 2008/Dzulhijjah 1429 H. ***tgl 11 Desember = hari Tasyriq, tidak boleh berpuasa***

3. Puasa Sepertiga Bulan - Yakni di bulan Dzulhijjah.
Antara 29 November - 28 Desember 2008.
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Tanggal 7 Desember 2008.

Tidak boleh berpuasa :
Hari Idul Adha -10 Dzulhijjah/ 8 Desember 2008.
Hari tasyriq 11,12,13 Dzulhijjah/9, 10, 11 Desember 2008.

4. Puasa Bulan Muharram - ‘Asyura’ selama 3 hari - 9,10,11 Muharram
Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura) 18,19,20 Januari 2008.

5. Puasa pada sebagian bulan syakban
Antara 2 Agustus - 31 Agustus 2008.

6. Puasa pada bulan Syawwal - 6 hari
Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawwal (1 Oktober 2008)
Antara 2 Oktober - 29 Oktober 2008.

7. Puasa Daud - berpuasa selang seling
Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari. *kecuali hari2 yang dilarang berpuasa*

Pintu pintu Kesombongan

sifat sombong merupakan salah satu sifat yang mesti dihindari oleh manusia. Banyak alasan mengapa sifat sombong mesti kita hindari, namun PENYEBAB UTAMA adalah karena hanya ALLOH SWT YANG BERHAK SOMBONG, sebagaimana yang telah tersebut pada salah satu Asmaul Husna, Al Mutakabbir. Tidak heran DIA SANGAT MEMBENCI makhluk-Nya yang mempunyai sifat sombong, karena itu berarti sang makhluk berniat menyamai-Nya.

Kita sudah mendengar cerita penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as, hanya karena Iblis menganggap dirinya, yang terbuat dari api, lebih mulia dari Nabi Adam as, yang terbuat dari tanah. ALLOH SWT serta merta murka dan langsung mengusir Iblis dari surga. Padahal sebelumnya, Iblis merupakan salah satu makhluk-Nya yang setia dan taat pada-Nya.

Cerita ini bisa kita baca di:
Al Baqarah(2):34,“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Al A’raaf(7):11-13,“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. — Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.”

Al Hijr(15):30-35,“Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, — kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. — Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” — Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. — Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, — dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.”

Al Israa(17):61,“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

Al Kahfi(18):50,“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang lalim.”

Thahaa(20):116,“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.”

Shaad(38):73-78,“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. — kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. — Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. — Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. — Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, — sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”.”

Kisah lain bisa dibaca sebagai berikut:

Suatu hari, ALLOH SWT berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.” Nabi Musa as lalu pergi ke jalan, pasar, dan tempat-tempat ibadah. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik dari dia.”

Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.” Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan ALLOH SWT, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?” Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya.” Tuhan lalu berfirman, “Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.”

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita Nabi Musa as? Ternyata, Nabi dan Rasul sekalipun DILARANG SOMBONG! Bahkan terbetik pikiran bahwa dirinya lebih baik dari makhluk/manusia lain juga dilarang. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa seorang Nabi akan berpikir,”Sayalah lebih hebat dari pemilik blog ini, karena saya adalah Nabi sedangkan pemilik blog ini tidak jelas ibadahnya..”

Namun, dasar Iblis laknatullah, dia akan berusaha mencari cara untuk membuat manusia menemani dirinya di neraka kelak. Sombong, sebagai sifat dasar Iblis, merupakan salah satu godaan yang terus menerus ditembakkan kepada kita. Hebatnya Iblis, kita seringkali tidak merasakan tembakan sifat sombong yang dilakukan Iblis.

Beberapa metode Iblis menembakkan sifat sombong kepada kita adalah dengan cara (penomoran tidak ada kaitannya dengan prioritas):
1. Ilmu pengetahuan (kepintaran)
Sudah banyak contoh orang2 yg lebih pintar dan lebih banyak ilmunya merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Tidak perlu jauh-jauh, tanyakan pada diri anda. Ketika anda mengetahui bahwa diri anda bisa menyelesaikan suatu masalah sementara rekan kerja anda tidak bisa, coba rasakan dan ingat-ingat kembali, apakah muncul pernyataan,”Eh, saya lebih hebat dari si Fulan, karena saya bisa menyelesaikan masalah ini. Masa kaya gini saja tidak bisa? Ini kan gampang?” atau sejenisnya?

Jika (pernah) terbersit, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.

2. Harta benda
Kelebihan harta adalah salah satu metode Iblis untuk membangkitkan rasa sombong pada diri manusia. Orang kaya akan memandang rendah pada orang2 yg miskin (tidak seberuntung dia). Contoh paling mudahnya adalah Qarun. Bagaimana dia menumpuk2 harta dan bisa memerintah orang lain sesuka dia dengan hartanya yg berlimpah ruah.

Contoh lainnya bisa dilihat pada diri kita. Jika kita menggunakan mobil, apakah kita pernah menganggap rendah orang2 yg hanya mempunyai sepeda motor? Jika kita memiliki sepeda motor, apakah kita mengabaikan para pejalan kaki?

Jika (pernah) melakukannya, itu artinya Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda.

3. Anak dan Istri
(Bagi seorang suami) Anak dan istri bisa menjadi cara seseorang untuk sombong. Padahal kedua hal ini merupakan amanah yang semestinya diterima dan dijaga dengan baik agar tidak melenceng dari tujuan ALLOH SWT memberi, yakni sebagai ladang amal untuk mendapat ridho-Nya.

Contoh dari poin ini, seringkali seorang bapak/ibu membanggakan anaknya (dengan berlebihan). “Eh, anak saya rangking 1 terus lho. Saya heran, kok dia pinter banget…padahal saya dan istri biasa saja memberi makannya.” atau “Anak saya semuanya kuliah di luar negeri, soalnya kualitas pendidikan di dalam negeri tidak memadai untuk otak anak2 saya.”

Bahkan dengan berpikir atau memamerkan anaknya kepada pasangan suami istri yang belum mempunyai anak, bisa menjadi cara Iblis untuk membangkitkan rasa sombong.

Dengan memanfaatkan amanah yg diberikan ALLOH SWT, Iblis telah sukses menembakkan bibit2 sombong pada anda. Walhasil, anak dan istri anda malah akan menyeret anda ke neraka.

4. Pangkat dan kedudukan
Poin 4 ini merupakan salah satu pintu yg diincar Iblis untuk menyeret manusia ke dalam jurang neraka. Pangkat boss atau kepala cabang atau kepala departemen biasanya membuat orang bisa meremehkan dan menganggap rendah orang lain. Gelar kebangsawanan ataupun lokasi tempat tinggal sekalipun bisa menjadi pemantik timbulnya rasa sombong.

Padahal gelar bangsawan, pangkat boss ataupun lokasi rumah bukanlah jaminan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Semuanya adalah amanah dari ALLOH SWT yang semestinya digunakan untuk kebaikan.

Untuk itu, kita mesti waspada terhadap pintu2 kesombongan ini.
1. Sebelum tidur, lakukan Muhasabah. Cek tiap tindakan kita hari ini, apakah ada sikap dan perbuatan kita yg menyerempet (atau malah sudah melakukan) sifat sombong ini?
2. Jika ada, maka banyaklah beristighfar kepada ALLOH SWT. Minta ampun pada-Nya serta banyaklah berdoa agar kita bisa terhindar dari sifat sombong ini.
3. Apabila tindakan sombong ini kita lakukan pada rekan kerja ataupun pada bawahan kita, maka minta maaflah esok harinya. takutnya anda keburu mati.

Nikah Beda Agama

di Islam ada 2 jenis menikah beda agama:
1. Laki-laki beragama Islam menikah dg perempuan non-Islam
2. Perempuan beragama Islam menikah dg laki-laki non-Islam

Masih dari pemahaman yg pernah aku dapat, untuk poin 1, hukumnya adalah MAKRUH. Sedangkan untuk poin 2, hukumnya jelas-jelas DILARANG (HARAM). Baik…untuk lebih mantapnya, aku buka referensi2, diantaranya Fikh Sunnah karya Sayid Sabiq dan Tanya Jawab Agama dari tim PP Muhammadiyah.

Dari kedua buku referensi ini, aku dapati bahwa pemahamanku tidak salah.

Aku mulai dari poin 2.
Dalil yg digunakan untuk larangan menikahnya muslimah dg laki2 non Islam adalah Al Baqarah(2):221,“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Jadi, bisa dikatakan, jika seorang muslimah memaksakan dirinya menikah dg laki2 non Islam, maka akan dianggap berzina.

Pada kesempatan ini, aku hanya akan membahas lebih detil poin 1.

Pernikahan seorang lelaki Muslim dengan perempuan non muslim terbagi atas 2 macam:
1. Lelaki Muslim dg perempuan Ahli Kitab. Yang dimaksud dg Ahli Kitab di sini adalah agama Nasrani dan Yahudi (agama samawi). Hukumnya BOLEH, dengan dasar Al Maidah(5):5,“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”

2. Lelaki Muslim dg perempuan non Ahli Kitab. Untuk kasus ini, banyak ulama yg MELARANG, dengan dasar Al Baqarah(2):222,“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”

Banyak ulama yg menafsirkan bahwa Al Kitab di sini adalah Injil dan Taurat. Dikarenakan agama Islam, Nasrani dan Yahudi berasal dari sumber yg sama, agama samawi, maka para ulama memperbolehkan pernikahan jenis ini. Untuk kasus ini, yg dimaksud dg musyrik adalah penyembah berhala, api, dan sejenisnya. Untuk poin 2, menikah dg perempuan NON AHLI KITAB, para ulama sepakat MELARANG.

Dari sebuah literatur, aku dapatkan keterangan bahwa Hindu, Budha atau Konghuchu tidak termasuk agama samawi (langit) tapi termasuk agama ardhiy (bumi). Karena benda yang mereka katakan sebagai kitab suci itu bukanlah kitab yang turun dari Allah SWT. Benda itu adalah hasil pemikiran para tokoh mereka dan filosof mereka. Sehingga kita bisa bedakan bahwa kebanyakan isinya lebih merupakan petuah, hikmah, sejarah dan filsafat para tokohnya.

Kita tidak akan menemukan hukum dan syariat di dalamnya yang mengatur masalah kehidupan. Tidak ada hukum jual beli, zakat, zina, minuman keras, judi dan pencurian. Sebagaimana yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim, Injil atau Taurat. Yang ada hanya etika, moral dan nasehat.

Benda itu tidak bisa dikatakan sebagai kalam suci dari Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril dan berisi hukum syariat. Sedangkan Taurat, Zabur dan Injil, jelas-jelas kitab samawi yang secara kompak diakui sebagai kitabullah.

Sementara itu, Imam Syafi’i dalam kitab klasiknya, Al-Umm, mendefinisikan Kitabiyah dan non Kitabiyah sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari keturunan bangsa Israel asli. Adapun umat-umat lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, rnaka mereka tidak twermasuk dalam kata ahlul kitab. Sebab, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tidak diutus kecuali untuk Israil dan dakwah mereka juga bukan ditujukan bagi umat-umat setelah Bani israil.”

Secara ringkas bisa kita bagi menjadi demikian :
1. Suami Islam, istri ahli kitab = boleh
2. Suami Islam, istri kafir bukan ahli kitab = haram
3. Suami ahli kitab, istri Islam = haram
4. Suami kafir bukan ahli kitab, istri Islam = haram

Sementara itu, para jumhur shahabat membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita kitabiyah, diantaranya adalah Umar bin Al-Khattab, Ustman bin Affan, Jabir, Thalhah, Huzaifah. Bersama dengan para shahabat Nabi juga ada para tabi`Insya Allah seperti Atho`, Ibnul Musayib, al-Hasan, Thawus, Ibnu Jabir Az-Zuhri. Pada generasi berikutnya ada Imam Asy-Syafi`i, juga ahli Madinah dan Kufah.

Yang sedikit berbeda pendapatnya hanyalah Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal, dimana mereka berdua tidak melarang hanya memkaruhkan menikahi wanita kitabiyah selama ada wanita muslimah.

Pendapat yang mengatakan bahwa nasrani itu musyrik adalah pendapat Ibnu Umar. Beliau mengatakan bahwa nasrani itu musyrik. Selain itu ada Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa. Sehingga menurut mereka menikahi wanita ahli kitab itu haram hukumnya karena mereka adalah musyrik.

Namun jumhur Ulama tetap mengatakan bahwa wanita kitabiyah itu boleh dinikahi, meski ada perbedaan dalam tingkat kebolehannya.

Dari sebuah referensi, aku dapatkan keterangan bahwa Ulama Yusuf Al-Qardlawi berpendapat tentang BOLEHNYA seorang lelaki Muslim menikah dengan perempuan Kitabiyah, sifatnya tidak mutlak, tetapi dengan beberapa SYARAT yang WAJIB untuk diperhatikan, yaitu:
(1) Kitabiyah itu benar-benar berpegang pada ajaran SAMAWI. Tidak ateis, tidak murtad dan tidak beragama yang bukan agama SAMAWI;
(2) Wanita Kitabiyah yang muhshanah (memelihara kehormatan diri dari perbuatan zina);
(3) Ia bukan Kitabiyah yang kaumnya berada pada status permusuhan atau peperangan dengan kaum Muslimin.

Untuk itulah perlu dibedakan antara kitabiyah dzimmiyah dan harbiyah. Dzimmiyah boleh, harbiyah dilarang dikawini;
(4) Di balik perkawinan dengan Kitabiyah itu tidak akan terjadi fitnah, yaitu mafsadat atau kemurtadan (keluar dari agama Islam). Makin besar kemungkinan terjadinya kemurtadan makin besar tingkat larangan dan keharamannya. Nabi Muhammad saw. pernah menyatakan, “La dharara wa la dhirara (tidak bahaya dan tidak membahayakan).

Namun mesti diperhatikan, bahwa ada beberapa keburukan yang akan terjadi manakala seorang lelaki Muslim menikah dengan wanita non-Muslim:
(1) Akan berpengaruh kepada perimbangan antara wanita Islam dengan laki-laki Muslim. Akan lebih banyak wanita Islam yang tidak kawin dengan laki-laki Muslim yang belum kawin. Sementara itu poligami diperketat dan malah laki-laki yang kawin dengan wanita Nasrani sesuai dengan ajaran agamanya serta tidak mungkin menyetujui suaminya berpoligami;
(2) Suami mungkin terpengaruh oleh agama istrinya. Demikian pula anak-anaknya. Bila hal ini terjadi maka fitnah benar-benar menjadi kenyataan, dan
(3) Perkawinan dengan non-Muslimah akan menimbulkan kesulitan hubungan suami istri dan kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Lebih-lebih jika laki-laki Muslim dan perempuan Kitabiyah berbeda tanah air, bahasa dan budaya. Misalnya, seorang lelaki Muslim Timur kawin dengan perempuan Kitabiyah Eropa atau Amerika.

Sedangkan dalam Al Quran dan tafsirnya, tim penerjemah dan penafsir Departemen Agama Republik Indonesia menyatakan bahwa, “Dihalalkan bagi laki-laki mukmin mengawini perempuan Ahlulkitab dan tidak dihalalkan mengawini perempuan kafir lainnya. Dan tidak dihalalkan bagi perempuan-perempuan mukmin kawin dengan laki-laki Ahlulkitab dan laki-laki lainnya”.

Aku pribadi berpendapat, apabila seorang lelaki Muslim hendak menikahi perempuan Kitabiyah, SEBAIKNYA dia sudah mempunyai dasar dan pemahaman agama Islam yg baik. Karena tugas dia, menurutku, akan cukup berat…dia mesti ‘menghandle’ istri dan anaknya dalam ilmu agama. Jika tidak cukup ‘kuat’, bahkan lemah, ini akan berbahaya bagi kelangsungan hidup rumah tangganya

Godaan Dunia

Salah satu hal yang mesti diperhatikan oleh kaum muslim adalah godaan dunia. Rasululloh SAW sudah memperingatkan hal ini dalam haditsnya,“Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas).”(HR. Al Hakim)

Dalam hadits lain, beliau menyatakan,“Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan.” (HR. Ahmad)

Beberapa hadits lain yang terkait dengan godaan dunia adalah:
“Aku dan dunia ibarat orang dalam perjalanan menunggang kendaraan, lalu berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan setelah itu meninggalkannya.” (HR. Ibnu Majah)

“Dunia ini cantik dan hijau. Sesungguhnya Allah menjadikan kamu kholifah dan Allah mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah godaan kaum wanita.” (HR. Ahmad)

Pada suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya: “Kamu kini jelas atas petunjuk dari Robbmu, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan berjihad di jalan Allah. Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih kesitu dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf, nahi mungkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan Al Qur’an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam. (HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

Lebih kurang 14 abad yg lalu, Rasululloh SAW sudah memperingatkan kita akan bahayanya dunia, dan salah seorang kenalanku (A) baru merasakan ‘manfaat’ dari peringatan beliau ini.

Selama lebih kurang 2 bulan terakhir A bisa dikatakan agak terlena dengan dunia. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena begitu banyaknya pekerjaan yang mesti dia selesaikan. Seakan tidak pernah berhenti, pekerjaan datang menghampirinya. Menyebabkan A agak lalai dengan ibadah, sesuatu yg Rasululloh SAW tegaskan dalam hadits2nya di atas.

Dalam kurun waktu 2 bulan itu, si A hampir tidak menyentuh lagi buku2 keagamaan atau belajar agama. Kesibukan yg begitu hebat, membuat dirinya kesulitan mendapatkan waktu yg khusus untuk belajar agama, seperti saat sebelum kesibukan itu datang.

Bahkan, sholatpun terkadang dilakukan di ujung waktu.

Padahal, jika dipikir-pikir dan menurut ceritanya, harta yg dia dapatkan masihlah tidak jelas. Proyek-proyek masih belum mendapat bayaran, sementara dia mesti membayar orang2 yang telah membantu dia mengerjakan tugas2nya.

Dengan kata lain, sebenarnya si A itu dalam posisi rugi.

Lantas, bagaimana mengatasi godaan dunia seperti itu?

Aku hanya bisa menyarankan, jika kita mengalami posisi seperti itu, hendaknya kita berusaha lebih dekat dengan ALLOH SWT. Minta pertolongan dan perlindungan pada-Nya, karena ALLOH SWT yg bisa menolong kita semua dari hal2 yg ‘menyulitkan’ tersebut.

Namun jangan salah, semakin kita berusaha untuk dekat, setan tentu saja akan kian berusaha menggoda kita. Rasa malas, godaan untuk menunda-nunda ibadah, merupakan cara setan untuk menggoda kita untuk dekat dg ALLOH SWT.

Jika sudah seperti itu yg terjadi, TANAMKAN NIAT YG KUAT, CARI TEMAN/REKAN YG MENDUKUNG NIAT ANDA! Insya ALLOH kita akan dimudahkan untuk mendekat pada-Nya. Jika kita sudah dekat, insya ALLOH, godaan dunia semenarik apapun tidak akan menggoyahkan kita.

Adab Bertamu

Bahkan, sebenarnya dalam Islam, bertamu tidak mesti menginap, bahkan menjadi/mendapat undangan (pernikahan/walimahan, sunatan, ataupun yang lain), sudah dapat dikategorikan sebagai bertamu. Dengan demikian, hal yang serupa juga berlaku untuk tuan rumah. Dia tidak mesti harus ‘diinapi’, namun mengundang saja sudah dapat digolongkan sebagai tuan rumah.

Al Qur’an yang mempunyai posisi hukum tertinggi di Islam, menjelaskan secara sekilas mengenai etika bertamu ini, sebagaimana bisa kita lihat di An-Nur(24): 27-29,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.== Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah”, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. == Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Dari referensi-referensi hadits dan etika bertamu dari Rasululloh SAW yg aku dapatkan, aku tuliskan beberapa diantaranya:

UNTUK TAMU:

- Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur/halangan, karena hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengatakan:“Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya”. (HR. Muslim)

- Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) terhadap perasaannya. Ini berarti Islam secara NYATA mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan manusia, kecuali dalam hal takwa.

- Apabila kita sedang berpuasa sekalipun, diharapkan hadir. Ada hadits yang bersumber dari Jabir Radhiallaahu anhu menyebutkan bahwasanya Rasululloh SAW bersabda:”Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

- Jangan terlalu lama menunggu di saat bertamu karena ini memberatkan yang punya rumah juga jangan tergesa-gesa datang karena membuat yang punya rumah kaget sebelum semuanya siap. Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal lebih dari itu.

- Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada tuan rumah.

- Hendaknya mendo`akan untuk orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Dan di antara do`a yang ma’tsur adalah :
“Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. dan orang-orang yang baik telah memakan makananmu dan para malaikan telah bershalawat untukmu”. (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

“Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karunia-kan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum”.

- Tidak Mengintai Ke Dalam Bilik. Jika kita hendak bertamu dan telah sampai di halaman rumah, tidak diizinkan mengintip melalui jendela atau bilik, walaupun tujuannya ingin mengetahui penghuninya ada atau tidak. Tindakan ini sangat dilarang dan mempunyai ancaman yang sangat keras. Hadits di bawah ini menjelaskan hal tersebut:

Dari Abu Hurairoh ia berkata, Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam (nama lain Rasululloh SAW) bersabda,”Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.”

Dari Anas bin Malik,“Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengintip sebagian kamar Nabi, lalu Nabi berdiri menuju kepadanya dengan membawa anak panah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat beliau menanti peluang untuk menusuk orang itu.”

Hadits ini menunjukkan ancaman yang keras untuk orang yang mengintip dan melihat orang yang berada di rumahnya tanpa memperoleh izin sebelumnya.

- Tidak Masuk Rumah Walaupun Terbuka Pintunya. Dari ayat 27 An Nuur, sebagaimana telah ditulis di atas, kita baru boleh masuk rumah orang lain harus mendapatkan izin dari pemilik rumah.

- Minta Izin Maksimal Tiga Kali. Tamu yang hendak masuk di (halaman) rumah orang lain jika telah meminta izin tiga kali, tidak ada yang menjawab atau tidak diizinkan, hendaknya pergi. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata,“Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawab, lalu dia pergi, maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya,”Mengapa kamu kembali?” Dia menjawab,”Saya mendengar Rasululloh bersabda,”Barangsiapa meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah kembali.”

- Tidak Menghadap Ke Arah Pintu Masuk. Ketika tamu tiba di depan rumah, hendaknya tidak menghadap ke arah pintu. Tetapi hendaknya dia berdiri di sebelah pintu, baik di kanan maupun di sebelah kiri. Hal ini dicontohkan Rasululloh SAW.Dari Abdulloh bin Bisyer ia berkata,“Adalah Rasululloh SAW apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan”Assalamu ‘alaikum … assalamu ‘alaikum …”

- Hendaknya Menyebut Nama Yang Jelas. Ketika tuan rumah menanyakan nama, tamu tidak boleh menjawab dengan jawaban “Saya (sebutkan nama)” atau jawaban yang tidak jelas. Karena tujuan tuan rumah bertanya adalah ingin tahu siapa tamu yang mengunjunginya dan untuk menentukan sikap apakah tamu tersebut boleh masuk atau tidak.

TUAN RUMAH:

- Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan/melupakan orang-orang fakir. Rasululloh SAW bersabda:“Seburuk-buruk makanan adalah makanan pengantinan (walimah), karena yang diundang hanya orang-orang kaya tanpa orang-orang faqir.” (Muttafaq’ alaih).

- Undangan jamuan hendaknya tidak diniatkan berbangga-bangga dan berfoya-foya, akan tetapi niat untuk mengikuti sunnah Rasululloh SAW dan membahagiakan teman-teman sahabat, ataupun syukuran dalam rangka bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLOH SWT.

- Tidak memaksa-maksakan diri untuk mengundang tamu. Di dalam hadits Anas Radhiallaahu anhu ia menuturkan:“Pada suatu ketika kami ada di sisi Umar, maka ia berkata: “Kami dilarang memaksa diri” (membuat diri sendiri repot).” (HR. Al-Bukhari)

- Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan kewibawaan.

- Jangan menampakkan kejemuan/kebosanan terhadap tamu, tetapi tunjukkanlah kegembiraan dengan kahadiran tamu tersebut, diantaranya dengan cara bermuka manis dan berbicara ramah.

- Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti menghormatinya. ***jadi ingat pengalamanku, bertamu ke rumah seorang teman. Kami (ber-5) bertamu hingga 5jam untuk menjenguknya, namun tuan rumah tega membiarkan kami kelaparan, xixixi…sebenarnya bukan masalah makanannya, namun jika melihat adab ini, sudah ’sewajarnya’ jika tuan rumah memberi suguhan.***

- Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan (hidangan) sebelum tamu selesai menikmati jamuan. ***ini juga terkait dg poin di atas. Jika buru-buru membereskan hidangan, kesannya mengusir tamu…hehehe…***

- Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

Dhuha dulu baru Kerja

Salah satu sholat sunnah yg dicontohkan Rasululloh SAW adalah sholat sunnah Dhuha. Bahkan beliau menjadikan sholat dhuha ini sebagai salah satu wasiat beliau, sebagaimana hadits berikut:
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: ” Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal :
a) agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan,
b) melakukan sholat dhuha dua raka’at dan
c) melakukan sholat witir sebelum tidur.”
( H.R. Bukhari & Muslim ).

Aku sendiri melakukan sholat dhuha, salah satunya untuk meluruskan niatku kuliah&bekerja, yakni menjadikan kuliah&kerja sebagai ibadah. Karena seringkali orang bekerja dg tujuan hanya mencari uang (duniawi) semata, sehingga melupakan aspek ibadah (akhirat).

Sementara itu, manfaat sholat dhuha sendiri, dari beberapa ustad, antara lain:
1. Agar dilapangkan dada dalam segala hal, terutama rejeki.
2. Ungkapan terimakasih kita kepada ALLOH SWT, atas nikmat sehat tubuh kita.
3. Pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan (Kiamat) nanti.
4. Mendapat ganjaran surga, sesuai dengan hadits Rasululloh SAW,“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil,” Dimana orang yang senantiasa mengerjakan sholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” ( H.R. at-Tabrani).

Waktu sholat dhuha sendiri, berdasarkan contoh Rasululloh SAW, berkisar sekitar pukul 7 pagi - 10 pagi. Dengan demikian, bisa dikatakan, sholat dhuha = sholat untuk ‘memulai’ aktivitas (sebelum berangkat bekerja).

Sementara jumlah raka’atnya, minimal 2 raka’at dan maksimal 12 raka’at. Sholat dhuha bisa dilakukan sebelum berangkat ke kantor, atau segera setelah tiba di kantor. Anda bisa pilih, mana kondisi yang cocok untuk anda.

Sedangkan untuk surat yg dibaca, aku senantiasa membaca Adh Dhuha(93) di raka’at pertama dan Al Ikhlas(112) di raka’at kedua, dengan alasan sebagai berikut:
1. Adh Dhuha = sesuai dengan sholat sunnah yg aku lakukan. Di samping itu, isi dari surat 93 ini ALLOH SWT akan memberi kecukupan kepada hamba2-Nya. Selain itu, surat ini juga mengingatakan kita agar tidak sewenang-wenang terhadap anak yatim, juga tidak menghardik orang yang meminta-minta (pengemis) kepada kita.

Justru pada surat ini, ALLOH SWT menyuruh kita agar berbagi rejeki yg telah diberikan-Nya, kepada orang lain yang membutuhkan.

2. Al Ikhlas = untuk memperkuat iman (tauhid), bahwa hanya ALLOH SWT yg berhak disembah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan membaca Al Ikhlas, aku berharap agar jika maut menjemputku, maka iman tidak lepas dari qalbuku.

Ayat Berbuat Baik

QS 31:22

s31a22.gif

22. Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

QS 55:60-61

s55a60.gif

s55a61.gif

60. Tidak ada balasan (yang pantas) bagi kebaikan kecuali kebaikan (pula).

61. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

QS 28:84

s28a84.gif

84. Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.

QS 39:10

s39a10.gif

10. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

QS 7:56

s7a56.gif

56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

QS 24:55

s24a55.gif

55. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Berarti, kita berbuat baik bukan hanya karena mengharap pahala atau balasan di akhirat, tetapi kebaikan pun akan dibalas juga di dunia.

Mencari Hidayah Bisakah?

Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk (QS. Thaha [20]: 50).

Hidup manusia ibarat sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang belum pernah sekalipun dikunjungi. Dalam perjalanan menuju tempat paripurna itu, banyak sekali jalan yang bisa ditempuh oleh manusia. Ada banyak jalan yang bisa mengantarkan manusia ke tempat tujuan dengan selamat. Namun, jauh lebih banyak lagi jalan yang justru menjauhkan dan menyesatkan manusia dari tempat yang dituju. Tidak semua jalan yang benar itu tampak baik dan mulus, ia seringkali penuh dengan lubang dan halangan. Manusia seringkali tergoda untuk melewati jalan yang tampaknya mulus, halus dan menyenangkan, padahal sebenarnya jalan itu sesat. Maka dari itu, semua manusia pada dasarnya membutuhkan hudaa (petunjuk), agar mampu membedakan mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Yang dimaksud dengan kata “hadaa” pada ayat di atas adalah memberi petunjuk dengan memberikan akal, instinct (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan hidupnya masing-masing makhluk. Dalam hal ini, Allah memberikan petunjuk pada semua makhluk-Nya, kecuali yang tidak Dia kehendaki.

Allah swt menganugerahkan petunjuk-Nya bermacam-macam sesuai dengan peranan yang diharapkanNya dari makhluk. Hidayah Allah swt diberikan kepada setiap ciptaan-Nya (QS. Thaha [20]: 50). Allah menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya, misalnya anak burung yang ada di sarang, ia dapat hidup dari usaha induknya dalam mencari makan, atau lebah ketika membuat sarangnya dalam bentuk segi enam karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya atau manusia yang menyusui anaknya, semua ini terjadi karena petunjuk Allah swt. Itu semua adalah bentuk petunjuk yang paling primitif, untuk bertahan hidup. Setelah itu, tingkat hidayah di atasnya bukan hanya untuk bertahan hidup, akan tetapi petunjuk menuju jalan yang benar.

Memang tidak jarang kita sebagai salah satu makhluk-Nya telah mengetahui petunjuk dan pesan agama, tetapi ada saja hambatan sehingga petunjuk atau pesan itu tidak dapat kita laksanakan. Boleh jadi karena godaan nafsu atau setan atau boleh jadi karena kurangnya kemampuan. Nah disinilah petunjuk Allah swt yang dibutuhkan. Ketika orang buta bisa berjalan dengan sebatang tongkat tanpa kesulitan sebagaimana orang yang tidak buta atau yang tak kalah anehnya orang buta yang dapat dan mampu menghafal Al-Qur’an sebanyak 30 juz tanpa cacat disinilah petunjuk Allah membuktikan. Tidak itu saja, orang yang dulunya penjahat kelas kakap (pembunuh) sekarang sudah berbalik arah menjadi seorang kyai dengan ribuan santri tidak lain ini adalah petunjuk Allah untuk hamba-Nya yang dikehendaki.

Petunjuk tingkat pertama (naluri) terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Naluri tidak mampu mencapai apapun yang berada di luar tubuh pemilik naluri itu, pada saat tertentu datang kebutuhan untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya, sekali lagi manusia membutuhkan petunjuk, dan kali ini Allah menganugerahkan petunjuk-Nya berupa panca indra.

Namun, betapapun tajam dan pekanya kemampuan indra manusia, seringkali hasil yang diperoleh tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya. Betapapun tajamnya mata manusia, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air. Bahkan penciuman anjing yang tajam, yang biasanya digunakan untuk melacak benda-benda di luar jangkauan manusia, suatu saat akan salah dalam peciumannya.

Yang meluruskan setiap kesalahan (panca indra ) adalah petunjuk Allah swt yang ketiga, yakni akal. Akal mengkoordinir semua informasi yang diperoleh indra kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang sedikit atau banyak dapat berbeda dengan hasil informasi indra. Tetapi walau petunjuk akal sangat penting dan berharga namun ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar dari jangkauan alam metafisik. Akal dapat diibaratkan sebuah pelampung, ia dapat menyelamatkan sesorang yang tidak bisa berenang di kolam renang atau bahkan di tengah lautan yang tenang. Tetapi jika ombak dan gelombang laut pasang datang bertubi-tubi setinggi gunung, maka ketika itu yang pandai berenang dan yang tidak bisa berenang keadaannya akan sama. Ketika itu manusia tidak hanya membutuhkan pelampung, tetapi sesuatu yang melebihi pelampung. Karena itu manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruan-kekeliruannya dalam bidang tertentu. Petunjuk atau hidayah yang dimaksud adalah hidayah agama.

Macam-macam Hidayah

Ulama membagi hidayah atau petunjuk kepada dua katagori: pertama, petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat Alquran yang menggunakan akar kata hidayah dalam pengertian ini, misalnya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. asy-Syura [42]: 52) atau “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.” (QS. Fushshilat [41]: 17). Kata hidayah yang pelakunya manusia adalah hidayah dalam bentuk pertama ini.

Kedua, petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Ini dapat dilakukan Allah semata karena itu di tegaskanNya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerimapetunjuk.”(QS. Al-Qashash [28]: 56)

Ditegaskan lagi dalam tafsir Al Mishbah karya M. Quraish Shihab, Thahir Ibn ‘Asyur membagi hidayah kepada empat tingkatan:

Pertama, apa yang dinamainya al quwa al muharrikah wa al mudrikah yaitu potensi penggerak dan tahu. Potensi ini mengantarkan seseorang untuk dapat memelihara wujudnya. Banyak hal yang dicakupnya, bermula dari naluri bayi yang menyusu atau menangis ketika sakit, sampai pada perasaan yang mengantarnya menyingkirkan bahaya dan ancaman atau mendatangkan kemaslahatan dirinya, berupa meminta makan dan minuman, menggaruk kulit katika gatal, memejamkan mata bila terganggu, bahkan sampai pada puncaknya yaitu mengambil kesimpulan yang bersifat aksioma sebagai hasil pengamatan akal.

Kedua, adalah petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang haq dan bathil, yang benar dan salah, sunnah dan bid’ah. Ini adalah hidayah pengatahuan teoritis.

Ketiga, yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan bermacam-macam argumentasi yang bersifat aqliyah, atau apabila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Biasanya hidayah ini dianugerahkan Allah dengan mengutus para rasulNya serta menurunkan kitab-kitabNya dan inilah yang diisyaratkan dalam firmanNya: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”(QS. Al Anbiya’ [21]: 73).

Hal ini jelas bahwa hidayah yang dimaksud ini adalah hidayah yang diperuntukkan untuk orang-orang khusus yang dikehendaki Allah dalam rangka meyampaikan perintah-Nya.

Keempat, yang merupakan puncak hidayah Allah adalah yang mengantarkan tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi, serta aneka rahasia yang membingungkan para pakar dan cendekiawan. Hidayah ini di peroleh melalui wahyu atau ilham yang shahih atau limpahan kecerahan yang tercurah dari Allah. Apa yang diperoleh para nabi pun dinamai oleh Alquran hidayah. Firman Allah: “Mereka itulah (para nabi-nabi yang disebut sebelum ini nama-namanya) adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”(QS. Al An’am [6]: 90).

Dalam pengertian lain, hidayah memiliki dua kategori, pertama, hidayah ilal Islam, artinya bahwa yang diberi petunjuk belum berada pada jalan yang benar atau hanya mengandung maksud pemberitahuan terhadap suatu hal yang benar. Hidayah seperti ini terjadi pada semua makhluk Allah, baik itu manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya.

Kedua, hidayah fil Islam, artinya bahwa yang diberi petunjuk berada dalam jalan yang benar, akan tetapi belum sampai pada tujuan yang hakiki. Oleh karena itu ia masih diberi petunjuk yang lebih jelas agar sampai pada tujuan yang sebenarnya. Misalnya ketika panggilan adzan dikumandangkan, hanya beberapa orang yang mau menghadiri panggilan tersebut dan yang lainya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, hal ini merupakan hidayah bagi orang-orang yang menghadiri panggilan itu.

Maka, tidak usah heran jika yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia, yang mayoritas agamanya Islam, bukannya kebaikan atau kemaslahatan ummat tapi sebaliknya kehancuran dan kemunduran yang terjadi, jika kita tidak mau meningkatkan kualitas diri dalam kehidupan dan tahu maksud tujuan Islam, yakni rahmatan lil’alamin.

Penutup

Sebagai penutup tulisan ini, yang perlu kita ketahui dan sadari adalah bahwa hidayah Allah swt bertebaran di alam semesta ini untuk semua makhluk-Nya. Di manapun kita berada, di situlah hidayah Allah terhampar luas. Kita sebagai salah satu makhluk-Nya yang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya (QS. At-Tien : 4) dan sebagai penyempurna, kita diberi akal untuk berfikir agar dapat mencapai hidayah Ilahi. Seyogyanya kita memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.

Mengajak Dengan Perbuatan

Lisan al-hal afsah min lisan al-maqal

(Pepatah Arab)

Ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk menarik orang lain agar mengikuti keinginan, jejak, pikiran, ideologi atau agamanya. Cara yang paling banyak dilakukan adalah dengan berpidato di muka umum atau dengan cara memasang iklan di media massa. Sebagian lagi dengan cara berbicara dengan logika dan dalil-dalil argumentasi yang rasional.

Adalah Abu Hamid al-Ghazali, seorang ulama-filosof yang pernah menyinggung hal ini. Beliau berkata: “banyak orang yang berpendirian bahwa keyakinan atau iman berasal dari ilmu kalam dan dalil-dalil teoritik yang spekulatif. Ini adalah suatu bentuk kebodohan. Iman adalah cahaya yang dipancarkan Allah dalam jiwa hamba-Nya sebagai karunia dan hidayah. Ia bisa datang dari kesadaran batin yang kokoh dari sebuah mimpi dan bisa juga dari tingkah laku agung para agamawan.”

Al-Ghazali tampaknya lebih memuji cara yang terakhir. Nabi Muhammad SAW pun lebih menggunakan cara ini. “Suatu hari, seorang Arab Badui datang kepada Nabi sambil menyampaikan kata-kata kasar dan menantang. Ketika orang itu bertemu dengan sosok Nabi yang santun, penuh senyum, tenang, dan memancarkan cahaya kenabian, ia tertegun dan terpesona. Lalu ia bergumam: “Demi Tuhan ini bukan wajah seorang pembohong.” Tidak lama kemudian ia meminta Nabi untuk mengajarkan tentang Islam dan kemudian memeluknya.”

‘Aisyah istri Nabi pernah membuat kesaksian ketika ditanya tentang pribadi suaminya itu. Katanya: “Kana khuluquhu al-Qur’an,” (perilakunya adalah Alquran). Dan Alquran pun menyatakan: “Wa Innaka la ‘ala khuluqin adzim” kamu memang orang yang berbudi luhur dan agung). Dalam sebuah ayat lainnya Allah SWT berfirman: “Sungguh ada bagimu semua di dalam diri Rasulullah contoh yang baik bagi yang mengharap Allah dan hari kemudian.” (QS. al-Ahzab [33]: 21). Ayat ini merupakan sebuah penegasan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh yang harus kita ikuti, sebab dengan mengikuti dan mencontoh jejak dan perilaku beliau, kita akan memperoleh keridlaan Allah dan Allah akan menjamin kebahagian hidup kita di hari kemudian.

Nabi Muhammad SAW suka mempererat antara sahabat-sahabatnya, menghormati orang yang mulia dari tiap golongan dan mengangkatnya sebagai pemimpin golongannya. Nabi pun suka mencari sahabatnya kalau tidak kelihatan dan suka memberikan hak kepada setiap orang yang hadir, hingga masing-masing yang hadir tidak merasa bahwa seseorang lebih mulia, karena lebih dekat kepada Rasulullah. Siapa saja yang duduk bersamanya atau mendekati beliau karena ada sesuatu keperluan, beliau melayani dengan penuh kesabaran, mengabulkan permohonan atau menolaknya dengan ucapan yang menyenangkan, sehingga orang-orang merasa lega. Semua orang terkesan dengan budi baik dan akhlaq Nabi Muhammad SAW yang menjadi bapak mereka, dan mereka mempunyai hak sama di mata Rasulullah.

Kita hidup dalam lingkungan masyarakat yang memerlukan adanya hubungan, baik secara pribadi maupun antara masyarakat keseluruhannya. Dalam tugas pekerjaan, perdagangan atau kegiatan sosial lainnya, hendaknya senantiasa menunjukan sikap yang terpuji. Kalau kita perhatikan riwayat-riwayat atau cerita-cerita di atas, rasanya kita akan menemukan Islam yang benar-benar damai, yang memang sedari awalnya diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menebar kedamaian di seluruh alam. Islam yang bermuka ramah dan santun, tetapi tetap tegas berwibawa dan memancarkan sinar kemuliaan, sebagaimana si pembawa Islam ini, Muhammad SAW.

Dalam konteks Indonesia yang dilanda berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, hingga krisis moral yang berawal dari krisis ketidakpercayaan, perilaku-perilaku Nabi yang santun semakin relevan untuk diikuti. Bukankah mengikuti sunnahNya adalah sebagian dari bukti cinta umat terhadapnya. Adalah wajar jika kita mengambil pelajaran dari junjungan umat Islam ini untuk meneladaniNya lantaran moralitas yang kini sedang dilanda krisis di Tanah Air kita tercinta.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau memberikan teladan yang baik bagi rakyatnya. Dia melakukan itu karena sadar bahwa kepemimpinannya itu akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan pengadilan Allah kelak. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya sekedar memberikan nasehat, petunjuk-petunjuk, atau seruan-seruan untuk berbuat adil, tetapi pemimpin yang adil juga adalah pemimpin yang benar-benar mau berbuat adil untuk rakyatnya. Berbuat adil berarti tidak berlaku dzalim atas rakyatnya. Seorang sahabat Nabi, Umar bin al-Khatab pernah memikul sekarung gandum hanya gara-gara merasa bersalah karena telah berbuat dzalim terhadap rakyatnya yang lemah dan miskin.

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya menyerukan kepada rakyatanya dan para pejabatanya untuk tidak menumpuk kekayaan, karena sejatinya dalam harta itu terdapat hak-hak rakyat miskin, tetapi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga tanpa ragu untuk tidak menumpuk kekayaan demi kesejahteraan rakyatanya. Karena rakyat adalah segalanya bagi pemipin. Dia sadar bahwa dia tidak akan menjadi pemimpin jika tidak ada rakyat di bawahnya. Pemimpin yang sadar diri adalah pemimpin yang tidak hanya mendengarkan keluh kesah dan penderitaan rakyatnya tanpa berbuat sesuatu untuk kesejahteraan rakyatnya, tetapi pemimpin yang sadar diri adalah pemimpin yang setelah mendengarkan penderitaan rakyatnya, lalu melakukan perbuatan. Nabi telah mencontohkan semua ini.

Amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berhasil tanpa suri tauladan yang baik dan santun. Nabi tidak hanya mengajarkan untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, tetapi mencontohkan amar ma’ruf dan nahi munkar yang baik dan santun, yang sesuai dengan wajah Islam sebenarnya. Nahi munkar bukan berarti melarang dengan kekerasan (Sarkasme) dengan garang tetapi dengan kesantunan dan kedamaian. Nahi munkar bukan berarti merusak, tetapi meluruskan dengan cara yang baik pula. Terlebih amar ma’ruf, suatu perintah untuk berbuat baik tetapi dilakukan dengan cara yang tidak santun, maka tujuan kebaikan itu tidak akan sampai. Kalaupun sampai maka tidak sempurna. Amar ma’ruf tidak hanya sekadar dalam ucapan, tetapi amar ma’ruf yang baik adalah amar ma’ruf yang diteladani dan dicontohkan dengan cara yang santun.

Dakwah atau mengajak orang lain yang paling efektif ternyata dengan bahasa yang lembut dan tingkah laku yang manis. Ia lebih kuat ketimbang bahasa mulut. Ada pepatah Arab yang mengungkapkan: “lisan al-hal afsah min lisan al-maqal”, yang artinya bahasa tubuh lebih efektif daripada bahasa mulut. Dan dakwah dengan budi pekerti atau perilaku yang santun adalah cermin kedewasaan dan kebijaksanaan orang yang beriman. Iman yang baik adalah iman yang dibuktikan dengan amal perbuatan yang baik pula.

Budaya Arab

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 170).

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya Islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Kondisi Budaya Dunia sebelum dan setelah Islam

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata disegala lini kehidupan. Kehidupan mereka kala itu jauh dari ilmu, karena memang agama terakhir saat itu yaitu Nasrani, tidak dijamin oleh Allah SWT kekekalan dan keasliannya sebagaimana Allah telah menjamin kekekalan dan keaslian Islam. Oleh sebab itu kehidupan di seluruh negeri saat itu tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan membawa wahyu Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan akhlaq manusia agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia.” (H.R. Bukhari dan Ahmad. Lihat Silsilah ash-Shahihah 15).

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab. Ketika itu bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya adalah bangsa yang tenggelam dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah. Mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang hakiki.

Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Di mulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, dan segala kemaksiatan, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurafat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi tersebut masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masyarakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru kemudian menjadi bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam. Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Konsep Dialog dalam Islam

Islam sesungguhnya memiliki konsep bagaimana berinteraksi dengan budaya-budaya di luar Islam. Islam mempersilahkan siapapun untuk mengemukakan pandangan-pandangan ataupun melakukan tindakan-tindakan budaya seperti apapun, asalkan tidak melanggar ketentuan halal-haram, pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan), serta prinsip al Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah dan apa saja yang dicintai Allah) dan al Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah), dimana ketiga prinsip inilah yang menjadi jati diri dan prinsip umat Islam yang tidak boleh diutak-atik dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain diluar Islam. Sehingga dari ketiga prinsip ini akan lahir sebuah Kebudayaan Islam, dimana kebudayaan Islam ini selalu memiliki satu ciri khusus yang tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa manapun diluar Islam, yakni budaya yang berasaskan Tauhidul `Ibadah Lillahi Wahdah (mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah). Sehingga selama prinsip-prinsip dan asas tersebut tidak dilanggar, maka kita dipersilahkan seluas-luasnya untuk berhubungan ataupun mengambil manfaat dari bangsa-bangsa dan budaya manapun di luar Islam. Sebab segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, baik itu sifatnya ilmu pengetahuan maupun materi (yang selain perkara agama tentunya), itu semua memang diciptakan oleh Allah untuk kita umat manusia, khususnya kaum muslimin, walaupun berasal dari orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dialah (Allah), yang telah menciptakan segala yang ada dibumi ini untuk kalian…(Q.S. Al Baqarah [2]: 29)

Maka sesungguhnya kedudukan budaya Arab itu sama dengan budaya Persia, Romawi, Melayu, Jawa dan sebagainya di mana budaya-budaya tersebut adalah pihak yang harus siap dikritik oleh Islam ketika Islam telah masuk ke negeri-negeri tersebut. Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Sebab justru budaya Arab adalah budaya yang paling pertama dikritik dan dikoreksi oleh Islam sebelum budaya-budaya yang lainnya. Maka apa saja yang telah diterangkan oleh Allah dan RasulNya sebagai agama, maka itulah Islam. Sementara segala sesuatu yang tidak diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam perkara agama, maka itu bukanlah Islam, meskipun perkara tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer pada masyarakat Arab atau masyarakat Islam yang lainnya. Sebab, Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam.

Makna Berpakain Dalam Islam

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.

(Q.S Al-A’raaf [7]: 22)

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Lepizig, Jerman di bawah pimpinan Dr. Mark Stoneking - yang dikutip oleh Koran Tempo, edisi 3 Oktober 2003 dari jurnal ilmiah ‘Current Biology’ - menemukan bahwa ternyata kutu kepala merupakan cikal bakal dari kutu badan, sedangkan kutu badan yang senang bersembunyi di tempat-tempat yang gelap hanya muncul setelah manusia mengenakan pakaian.

Di sini para peneliti mencoba menghitung jumlah mutasi DNA pada kutu badan dan kutu rambut sehingga dengan penelitian tersebut mereka berpendapat bahwa manusia baru mengenal pakaian pertama kali sekitar 72.000 tahun yang lalu. Menurut mereka, nenek moyang kita – homo sapiens - yang berasal dari Afrika merasa gerah dan kemudian sebagian ada yang berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, dan ada yang bermukim di daerah dingin. Di sanalah konon awal mula mereka mengenal pakaian yang terbuat dari kulit hewan guna menghangatkan badan. Barulah sekitar 25.000 tahun yang lalu ditemukan cara menjahit kulit.

Anda boleh setuju atau tidak \dengan pandangan di atas. Terlepas dari benar tidaknya, Alqur’an telah menceritakan kisah Adam dan Hawa, bahwa keduanya tidak hanya sekedar menutupi auratnya dengan selembar daun, akan tetapi daun di atas daun agar auratnya benar-benar tertutup. Ini menunjukkan bahwa menutup aurat merupakan fitrah manusia yang diaktualkan kembali dalam kisah Adam a.s. dan istrinya. Apa yang dilakukan oleh pasangan nenek moyang kita itu dinilai sebagai awal usaha manusia untuk menutupi kekurangan-kekurangannya, menghindar dari apa yang tidak disenanginya serta memperbaiki penampilan dan keadaan yang mendorong terciptanya sebuah peradaban.

Upaya mereka berpakaian rapi, dengan menutup aurat juga mengisyaratkan bahwa berpakaian rapi - sebagaimana dikehendaki agama - dapat memberikan rasa tenang dalam jiwa pemakainya. Ketenangan batin ini merupakan salah satu dampak yang dikehendaki oleh agama. Betapapun agama atau kepercayaan, bahkan masyarakat memperkenalkan pakaian-pakaian khusus yang sesuai selera, kebutuhan atau bahkan simbol suatu kepercayaan tertentu. Masyarakat Tuareg di gurun Sahara, Afrika Utara misalnya, menutupi seluruh tubuh mereka dengan pakaian, agar terlindungi dari panas matahari dan debu pasir.

Masyarakat di kutub, lebih memilih pakaian tebal yang terbuat dari kulit domba untuk menghangatkan tubuh mereka. Kini tersebar pakaian jas buat pria. Walau, pakaian ini pada mulanya dipakai oleh buruh pabrik untuk menunjukkan rasa tidak senang kepada para bangsawan yang berpakaian mewah tetapi kini yang terjadi adalah sebaliknya, justru orang-orang kaya dan berkedudukan sosial tinggi yang memakainya. Di Mesir ada sekelompok biarawan Kristen Ortodoks yang memakai pakaian beserta alas kaki yang berwarna hitam. Bahkan mereka membiarkan jenggot dan rambut mereka yang hitam terurai tanpa dicukur. Mereka merasa bahwa dalam pakaian serba hitam itu mereka menemukan kedamaian. Warna hitam itupun mereka pertahankan hingga masuk liang lahat. Sementara negara menetapkan pakaian-pakaian dengan model dan warna tertentu bagi angkatan perangnya, untuk membedakan dengan angkatan perang negara lain. Hal ini disebabkan karena pakaian dianggap sebagai pembeda antara seseorang atau masyarakat dengan orang atau masyarakat lain. Bahkan, ada lambang-lambang dan tanda-tanda khusus dalam angkatan bersenjata untuk membedakan status dan pangkat seseorang. Begitulah fungsi pakaian sebagai pembeda atau pengenal.

Di sisi lain, pakaian juga berkaitan erat dengan rasa estetika atau keindahan. Seseorang yang berada di pedalaman papua ketika mengenakan pakaian koteka ratusan tahun yang lalu, pastilah ada unsur keindahan yang ditampilkanya sebagaimana dengan para diplomat di negara maju yang mengenakan jas dan black tie pada acara khusus. Demikian, pandangan terhadap keindahan berbeda antara satu dengan yang lain.

Islam tidak menekankan suatu pakaian tertentu, bahwa yang ditekankan hanyalah batas minimal yang harus ditutup serta fungsi pakaian. Alqur’an mengisyaratkan lima fungsi pakaian antara lain: 1) melindungi dari sengatan panas dan angin, 2) menjadi perisai dalam peperangan. Allah SWT berfirman: ”Dan Dia jadikan bagi kamu pakaian yang memelihara kamu dari panas dan pakaian dari (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan” (Q.S. An-Nahl [16]: 81), 3) sebagai perhiasan, 4) sebagai penutup apa yang dianggap buruk oleh agama dan atau oleh pemakainya, dan 5) sebagai identitas/ pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Allah SWT berfirman:”Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu’. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Ahzaab [33]: 59).

Warna pun sebenarnya tidak ditetapkan, walau warna putih merupakan warna yang sangat disenangi dan yang paling sering menjadi pilihan Nabi Muhammad saw. Namun tentunya, warna ini menjadi pilihan beliau SAW bukan saja karena warna putih tidak menyerap panas matahari, yang merupakan iklim umum di jazirah Arab dan sekitarnya, tetapi juga mencerminkan kesenangan pemakainya terhadap kebersihan karena sedikit saja noda pada pakaian putih akan segera tampak. Di sisi lain, ini menunjukkan kesederhanaan, karena dengan memilih satu warna tertentu, orang tidak akan mengetahui berapa jumlah pakaian Anda.

Adanya pakaian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi jiwa, karakter, tingkah laku, serta emosi pemakainya. Bahkan identitas seseorang dan garis besar cara berfikirnya-pun dapat diketahui dari pakaiannya. Orang tua yang memakai pakaian anak muda dapat mengalir di dalam dirinya jiwa anak muda. Begitu pula dengan seseorang yang memakai pakaian kyai, dia akan berusaha berlaku sopan, demikian seterusnya. Namun, walau demikian, Alqur’an menyatakan bahwa pakaian ruhani (takwa) itu jauh lebih baik. “Dan pakaian takwa itulah yang paling baik” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 26).

Jika pakaian takwa ini dikenakan seseorang, maka akan terpelihara identitasnya dan lagi anggun penampilannya. Anda akan menemukan dia selalu bersih walau miskin, hidup sederhana walau kaya, terbuka tangan dan hatinya. Tidak membawa fitnah, tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Bila beruntung dia bersyukur, bila diuji dia bersabar, bila berdosa ia istighfar, bila bersalah ia menyesal, dan bila dimaki ia tersenyum.

Keterbukaan aurat jasmani dapat ditoleransi oleh Allah bila ada kebutuhan mendesak, misalnya dalam rangka pengobatan. Sebab keharaman membukanya bertujuan menghindarkan manusia agar tidak terjerumus dalam sesuatu yang haram. Sebaliknya, tertutupnya aurat ruhani mengantar manusia untuk menutup jasmaninya.

Adalah suatu kekeliruan jika mengingkari pentingnya pakaian, tetapi lebih keliru lagi jika tidak selektif dalam memilih pakaian yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Demikian juga, sangat keliru jika mereka mengabaikan petunjuk-petunjuk agama dalam hal berpakaian. Maka, salahlah apabila seseorang dipuji karena memilih pakaian yang dianggapnya baik. Tetapi lebih salah lagi jika melarangnya suatu pakaian yang dinilai oleh agamanya baik.

”… yang demikian itu adalah sebahagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 26).

Memberi Kesempatan

etan berhasil menggelincirkan Adam dan Hawa, lalu mengeluarkan mereka dari surga itu. Kami perintahkan, “Turunlah kamu, kamu semua akan saling bermusuhan, dan di bumi kamu akan mendapatkan tempat tinggal sementara, juga kesenangan terbatas.”

(Q.S. Al Baqarah [2]: 36).

Salah satu anugerah terbesar Allah SWT kepada nabi Adam dan Hawa adalah diberikannya kesempatan untuk bertaubat setelah menikmati buah terlarang di surga. Kesempatan tersebut sangatlah berharga bagi mereka berdua untuk menebus dosa di bumi sehingga derajat ketaqwaannya bisa terangkat kembali. Demikian pula kesempatan yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW kepada Umar bin Khaththab yang hendak berniat jahat kepadanya. Di kemudian hari sahabat Nabi SAW ini dikenal pembela Islam yang sangat pemberani. Pun demikian ketika Raden Mas Said bekas berandal diberi kepercayaan bertaubat oleh Sunan Bonang, dan sejarah mencatat Sunan Kalijaga menjadi wali sebenar-benarnya bagi “wong Jowo” yang membuat wali sanga yang lain segan dan menaruh hormat padanya.

Memberi kesempatan, menggelar peluang atau membuka kemungkinan bagi orang lain untuk berubah adalah perbuatan mulia. Memang sikap dan perilaku ini berat dan butuh latihan. Biasanya kita sudah mencap orang lain dari luarnya dulu atau dari torehan sejarah mereka. Jarang di antara kita yang mampu melihat potensi atau masa depan seseorang, sehingga kita tidak memberi kesempatan, peluang atau kemungkinan baginya. Latihan akan kita mulai dari introspeksi diri, bagaimana kita bersikap pada orang lain.

Sudahkah kita memberi kesempatan pada orang yang lebih muda untuk maju melebihi kita? Sudahkah kita sebagai orang tua menggelar kesempatan pada anak kita untuk mengungkapkan pengalamannya di sekolah? Sudahkah kita sebagai guru atau dosen membuka kesempatan murid atau mahasiswa untuk dialog, diskusi bahkan membantah pernyataan kita? Sudahkah kita bertanya pada bawahan kita, bagaimana kita harus bersikap pada mereka?

Bilakah kita memberi kesempatan orang lain berbicara mengungkapkan isi hatinya? atau kita sibuk merecoki mereka dengan “doktrin” yang kita anggap “pencerahan.” Atau bisakah kita memberi peluang pada lawan bicara untuk menyelesaikan kalimatnya dulu, kemudian baru kita gantian bercakap? Bilakah parkir kendaraan kita memberi kesempatan kendaraan orang lain untuk parkir juga? Atau apakah jalannya kendaraan kita di jalan memberi peluang orang lain untuk mendahului? Atau bilakah tandatangan kita dikolom paraf memberi kesempatan orang lain untuk menorehkan tandatangannya juga?

Judul diatas seharusnya adalah “Memberikan Kesempatan adalah Sebagian dari Iman”, tetapi saya belum menemukan landasan dalilnya, sehingga judul tersebut yang saya gunakan, dengan tidak mengurangi maksud dan tujuan dalam tulisan ini.

Definisi iman sendiri adalah seperti jawaban Rasulullah SAW ketika Jibril bertanya padanya tentang iman: “Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para rasulNya, kepada hari akhir Akhir dan engkau ber-iman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” (H.R. Al-Bukhari, I/19,20 dan Muslim, I/37).

Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan perkara cabang. Cabang-cabang iman bermacam-macam, jumlahnya banyak, lebih dari 72 cabang. Dalam hadits lain disebutkan bahwa cabang-cabangnya lebih dari 70 buah. Dalil cabang-cabang iman adalah hadits Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan “la ilaaha illallaahu” dan (iman) yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, I/63).

Al-Hafizh Ibnu Hajar telah meringkas perihal iman tersebut dalam kitab Fathul Baari. Sesuai keterangan Ibnu Hibban, beliau berkata, “Cabang-cabang ini terbagi dalam amalan hati (24 cabang), lisan (7 cabang) dan badan (38 cabang).” Salah dua cabang iman adalah berakhlak yang baik atau berbudi perangai yang baik dan bermurah hati. Saya yakin bahwa memberi kesempatan adalah termasuk di dalamnya. Sehingga memberi kesempatan, kalaupun bukan merupakan “cabang utama” dari keimanan, bolehlah dianggap sebagai ‘ranting keimanan.”

Kalimat “…menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan…” pada hakikatnya adalah memberi kesempatan orang lain untuk melewati jalan tersebut, bahkan menjamin keselamatannya selama berada di jalan tadi. Cabang iman “terendah” ini bukan sekedar mendoakan keselamatan orang berjalan atau mengingatkan secara lisan akan bahaya atau rintangan, tetapi hadits ini menganjurkan untuk memberi kesempatan dan menjamin keselamatan orang berjalan di atasnya.

Belajar mendengar, berusaha diam dan berlatih memahami orang lain merupakan rangkaian “workshop memberi kesempatan.” Memberi kesempatan, sekali lagi, merupakan “ranting keimanan.” Niscaya bila ranting keimanan banyak dan mantap, maka kokohlah cabang keimanan dan diharapkan subur pula pohon “keberagamaannya.” Sehingga buah yang dihasilkannya pun bukan “buah terlarang” tetapi “buah tersilahkan”. Tersilahkan untuk dipersembahkan kepada Allah SWT dan dinikmati oleh umat dan alam (perwujudan rahmatan lil’aalamiin).

Buah keimanan tersebut dapat disaksikan, dinikmati dan dipelajari juga oleh kita. Bagaimana kita mendorong orang maju melebihi kita? Bagaimana kita menggelar kesempatan pada anak kita untuk mengungkapkan pengalamannya? Bagaimana kita membuka kesempatan mahasiswa untuk dialog? Bagaimana kita membiarkan bawahan bicara? Atau bagaimana kita memberi kesempatan orang berbicara? Atau bagaimana kita memberi peluang orang untuk menyelesaikan kalimatnya? Atau bagaimana kita memberi kesempatan kendaraan orang lain untuk parkir? Atau bagaimana kendaraan kita memberi peluang untuk didahului? Atau bagaimana tandatangan kita memberi kesempatan tandatangan orang lain ditorehkan?

Atau saat ini, bagaimana kita memberi kesempatan pada khatib untuk menyampaikan khutbahnya?, tidak hanya dengan berdiam tetapi menyimak apa yang diutarakannya. Atau bagaimana cara duduk kita, apakah sudah memberi kesempatan jamaah lain untuk beribadah di samping kita atau sekedar lewat mengisi shaf didepan? Mari kita mulai menyuburkan pohon agama kita dengan merawat “ranting-ranting keimanan” kita, saat ini, dimulai dari hal yang kecil.

Mengapai Rezeki Allah

Dan tidak satu pun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

(QS. Huud [11]: 6).

Setiap manusia sudah ditetapkan rezekinya masing-masing. Jangan takut tidak kebagian rezeki dari Allah. Karena sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk yang bernyawa. Orang yang beriman kepada Allah tentu tidak akan pernah mengeluh tentang apa yang ia peroleh. Sekalipun yang didapatkannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Karena ia yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya.

Sekalipun rezeki itu telah ditetapkan bagi setiap makhluk yang bernyawa, manusia tidak boleh tinggal duduk diam dengan mengharap rezeki datang begitu saja. Manusia juga harus berikhtiar untuk menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah tersebut. Karena rezeki itu bukan seperti hujan yang turun dari langit begitu saja tanpa disertai ikhtiar. Apa yang kita tabur, tentu kelak kitapun akan menuainya. Allah Maha Pengasih. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Apa yang diusahakan manusia tentu ia pun akan mendapatkan imbalan yang setimpal.

Begitu pula dengan rezeki. Orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh tentu akan mendapatkan rezeki yang lebih baik daripada orang yang hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun yang dapat mendatangkan rezeki. Perusahaan-perusahaan yang berdiri megah diawali dengan peluh. Manusia biasanya hanya melihat segala sesuatu dari luar saja. Ia tidak melihat bagaimana seorang pengusaha yang sukses mengalami jatuh-bangun sehingga mendapatkan apa yang telah ia usahakan.

Ada cerita menarik dari salah seorang penjual bubur ayam yang pernah saya temui. Pada kaca gerobaknya tertera tulisan ‘MENJEMPUT REZEKI’. Penjual bubur ayam ini tampaknya menyadari bahwa yang dilakukannya bukanlah dalam rangka mencari rezeki. Tetapi yang dilakukannya adalah menjemput rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT baginya. Manusia tidak perlu memaksakan diri dalam mengejar rezeki-Nya. Tetapi juga bukan berarti ia tidak berusaha uintuk berikhtiar menjemput rezeki-Nya. Ikhlaskan diri dalam setiap ikhtiar yang dilakukan.

Setiap manusia memiliki cara yang berbeda-beda dalam menjemput rezeki. Tinggal bagaimana cara manusia itu sendiri untuk mengetahui potensinya dan menjemput rezeki yang telah ditetapkan untuknya. Seorang yang ahli dalam meracik makanan tentu sangat baik jika ia menjemput rezekinya dengan cara mendirikan usaha rumah makan. Seorang yang mahir dalam membuat suatu kerajinan tangan, membuat souvenir misalnya, bukan tidak mungkin ia akan menuai sukses dengan usahanya tersebut.

Orang yang merasa bahwa dirinya jauh dari rezeki adalah orang-orang yang pesimis. Keimanan mereka masih perlu dipertanyakan. Allah telah menetapkan rezeki bagi masing-masing hambanya sebelum ia keluar dari rahim ibunya. Bahkan pada saat empat bulan didalam kandungan rezeki seorang hamba sudah ditetapkan Allah SWT. Manusia tidak perlu takut akan rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT untuknya. Sesunguhnya Allah SWT Maha Pengasih. Ia tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berikhtiar menjemput rezekinya dengan mengaharap ridha-Nya.

Selain itu banyak cara yang bisa mengundang rezeki yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan cara silaturrahmi. Silaturrahmi merupakan salah satu cara yang sangat mudah dilakukan tapi sangat baik manfaatnya. Semakin banyak relasi yang dimiliki maka peluang untuk memperoleh rezeki semakin terbuka lebar. Hal ini bukan berarti kita berharap menengadahkan tangan kepada orang lain untuk mau memberikan sebagian rezeki mereka kepada kita. Tapi mempermudah jalan kita untuk memperoleh masukan dari mereka yang memiliki pengalaman yang berbeda dalam usahanya masing-masing. Misal seseorang yang sedang mencari pekerjaan mendapatkan kemudahan tentang informasi lowongan pekerjaan karena memiliki banyak kenalan yang bisa membantunya.

Setiap manusia pasti mempunyai keinginan yang terbaik bagi dirinya. Namun keinginan tersebut harus disertai dengan ikhtiar. Dengan adanya ikhtiar, maka Allah SWT akan memudahkan untuk mencapainya. Sebaliknya, kemalasan akan membawa manusia kepada keterbelakangan. Malas bukan merupakan alasan untuk menghindar dari suatu kewajiban. Setiap orang diberikan pilihan, tinggal bagaimana ia memilih yang terbaik bagi kehidupannya. Jika yang dipilih bisa membawa dirinya pada kemelaratan, itu merupakan pilihannya. Tapi manusia yang memiliki akal pikiran tentu akan memilih sesuatu yang dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Milikilah rasa optimis, karena optimisme akan mempermudah pencapaian cita-cita dan keinginan. Orang yang optimis tidak pernah mengenal kata putus asa. Karena Allah SWT melarang hambaNya sikap berputus asa (Q.S. Yusuf [12]: 87). Setiap kali ia ditimpa cobaan ia selalu mengevaluasi diri (muhasabah) agar bisa lebih baik lagi di masa mendatang. Orang yang optimis tidak pernah takut akan bagian rezeki yang diperolehnya. Ia percaya bahwa Allah telah menetapkan rezeki baginya. Ia pun yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berikhtiar untuk menjemput rezeki dari-Nya.

Ikhtiar juga perlu diiringi dengan doa. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjemput rezeki dari-Nya. Namun, sebagian manusia enggan berdoa. Ironisnya mereka berharap memperoleh rezeki yang banyak dari-Nya, padahal Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” (Q.S. Al Baqarah [2]: 186).

Selain itu, seorang hamba sudah seharusnya untuk menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya agar doa yang kita panjatkan mendapat perhatian dari-Nya. Gunakan waktu-waktu mustajabnya doa dalam berdoa kepada Allah SWT. Seperti pada waktu sepertiga malam terakhir, diantara iqamat dan adzan, dan pada saat sujud dalam sholat. Adukan apa yang menjadi permasalahan hanya kepada Allah SWT. Agungkan Dia dalam setiap doa yang dipanjatkan. Bermohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa harap dan cemas (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21] : 90)

Manfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan Allah SWT kepada kita. Jika Dia telah memberikan rezeki kepada hamba-Nya, tunaikanlah kewajiban untuk mengeluarkan sebagiannya bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kufur terhadap nikmat-Nya yang telah dikaruniakan. Bersihkanlah harta yang dititipkan itu dengan cara mengeluarkan zakat. Bersedekah kepada orang lain tidak akan mengurangi bagian dari rezeki yang diperoleh. Tetapi justru bisa menjadi tabungan kelak, baik di dunia maupun di akhirat. (Q.S. Al-An’aam [6] : 160).

Rezeki yang telah dititipkan sebaiknya disikapi dengan bijak dalam pengelolaannya. Harta yang hanya disimpan tidak akan pernah beranak pinak menjadi banyak. Untuk itu perlu keahlian dalam mengaturnya. Mempergunakannya dengan memprioritaskan kebutuhan yang paling utama. Orang yang tidak punya pengaturan yang baik terhadap harta yang dimiliki, maka ia akan selalu merasa kurang dengan apa yang telah diperolehnya walaupun ia memiliki harta yang banyak. Tetapi bagi yang mengerti bagaimana mengelola rezeki dengan baik maka ia akan selau merasa cukup dengan apa yang telah diperolehnya. Bahkan mungkin ia merasa lebih.

Yakinlah bahwa bagian rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT kepada hambanya tidak akan berkurang sedikitpun. Jemputlah rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT dengan hati yang ikhlas. Jangan pernah mengeluh dari apa yang telah diberikan Allah SWT. Berusaha untuk senantiasa merasa cukup dan tetap terus berikhtiar untuk meraih ridhanya.

Menhadapi Informasi

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujuraat [49]: 6).

Kaki gunung Uhud yang berada di utara Madinah, barangkali merupakan saksi utama kedahsyatan perjuangan Nabi Saw dan para shahabat dalam mengawal ajaran Islam di tahap paling awal peradaban muslim. Tempat ini pada Sya’ban tahun ketiga Hijriyah, merupakan saksi kedahsyatan Perang Uhud yang mempertegas sejarah kepahlawanan Khalid bin Walid (saifun min suyufil Llah) di medan perang, baik di masa jahiliyah maupun nanti di masa awal Islam. Ia juga menjadi saksi bagaimana sedikit saja kesalahan dalam mengorganisasi tenaga dan pikiran, dapat berbuah sangat pahit bagi keberlangsungan sebuah cita-cita mulia. Beberapa bagian pasukan Islam yang kala itu sudah hampir menang, tenggelam dalam keinginan jangka pendek memperoleh rampasan perang (ghanimah) yang merupakan simbol kepahlawanan di medan laga, sehingga lalai menjalankan tugas dan perang pun berakhir dengan kekalahan di pihak muslim. Nabi Saw sendiri bahkan terluka cukup serius sampai-sampai diberitakan telah meninggal.

Hal menarik dapat kita cermati dari kisah mengenai berita meninggalnya Nabi Saw ini. Di satu sisi Umar ra yang sebenarnya belum mengetahui kondisi persis Nabi Saw, memilih meneriakkan kecaman bagi mereka (pasukan lawan) yang dengan gembira meneriakkan telah meninggalnya Nabi Saw. Sedangkan di sisi lain, Abu Bakar ra yang tahu persis bahwa Nabi Saw sedang terluka parah, justru menasehati Umar ra agar tidak terlalu membuka fakta bahwa Nabi Saw masih hidup. Nabi Saw pun dalam kondisi ini memilih untuk tidak banyak mengungkapkan kondisinya dengan terus bertarung menghadapi musuh.

Ada kesan bahwa berita meninggalnya Nabi Saw sengaja tidak diverifikasi dan disebarkan secara lebih luas, mengingat banyaknya konsekuensi yang mengikutinya. Bisa dibayangkan jika Nabi Saw tetap tampil berperang, dan kondisi pasukan muslim sudah sedemikian terdesak. Hal yang hampir pasti terjadi tentunya adalah kekalahan pasukan dan berakhirnya masa depan dakwah islamiyah dari muka bumi. Nabi Saw lebih memilih opsi diam terhadap berita kematian beliau demi menjaga rasa puas di hati pasukan kafir Quraisy, sehingga korban lebih banyak dari pihak Muslim dan konsekuensi lebih jauh dapat dihindari.

Refleksi atas kejadian pada Perang Uhud ini tentu saja sangat menarik jika dikaitkan dengan realitas informasi dan penyampaiannya di dunia modern ini. Perkembangan yang pesat di bidang ICT (information and communication technology) dan perubahan dalam paradigma bermasyarakat, telah menghilangkan hampir semua sekat yang memungkinkan seseorang menutup atau menyembunyikan diri dari kejaran pencari dan pewarta informasi dengan berbagai latar belakang kepentingan. Dengan dalih keterbukaan, semua informasi mengenai pribadi, komunitas, kelompok agama, organisasi, lembaga dan institusi telah dibuka sedemikian lebar untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas baik dengan penjelasan yang proporsional maupun tidak.

Benar bahwa terbukanya informasi akan memberi ruang bagi lebih banyak pihak untuk memperoleh pengetahuan, hiburan, pelajaran dan pilihan dalam hidup. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah fakta bahwa dari sekian banyak informasi, terdapat beberapa bagian, sisi dan komponen yang tidak harus, tidak semestinya atau tidak layak dibuka kepada masyarakat secara umum, tanpa panduan dan pemilahan secara cermat. Perihal sesuatu yang tidak semestinya ini, Nabi Saw pernah menyabdakan: ”Man satara mu’minan fid Dunya ’ala khizyatin, satarahu Llahu yaumal Qiyamah (barang siapa menutupi aib (sesuatu yang membuat malu) seorang mu’min di dunia, maka Allah akan menutupi dirinya (dari sesuatu kesalahan yang memalukan ataupun mencelakakan) pada hari kiamat)”.

Hadits ini merupakan salah satu hadits yang terkenal bagi pemerhati studi dirayah hadits, mengingat riwayat perjalanan Abu Ayyub Al-Anshari yang amat gigih dalam mempertahankan dan menguatkan ingatan hadits ini di masa shahabat-shahabat seangkatan yang mendengarnya langsung dari Nabi Saw telah tiada. Diriwayatkan oleh ’Atho` bahwa Abu Ayyub yang bermukim di Madinah menempuh perjalanan panjang ke Mesir untuk menemui ’Uqbah bin ’Amir guna menanyakan hadits ini. Setelah menempuh perjalanan begitu jauh Abu Ayyub sampai di Mesir, dan menemui gubernur Mesir kala itu, meminta penunjuk jalan ke rumah ’Uqbah. Sesampai di rumah ’Uqbah, Abu Ayyub benar-benar hanya menanyakan perihal hadits ini, yang kemudian dibenarkan oleh ’Uqbah, dan langsung kembali ke Madinah (Muhammah ’Ajaj Al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, 176-177).

Menutup aib serta malu orang lain jelas merupakan hal sulit, mengingat secara naluriah, meskipun tidak suka dibuka aibnya, kita senang membicarakan aib orang lain. Apalagi jika dengan membukanya, disertai bumbu-bumbu tertentu, kita akan mendapat sesuatu yang lebih dan menghasilkan efek imagi, yang bisa jadi melegitimasi posisi dan popularitas seseorang di mata publik ataupun di mata masyarakat. Sebagai contoh, perceraian bagi pasangan yang sudah tidak memiliki kesepahaman bisa jadi adalah pilihan terbaik. Namun ketika proses di dalamnya digambarkan dan diberitakan secara berlebihan, dampak psikologis baik pada masyarakat, keluarga, ataupun rekan sekitar pasangan tersebut bisa jadi akan negatif. Mereka yang belajar psikologi pasti sadar bahwa anak yang sedang tumbuh memerlukan suasana kondusif dalam keluarga yang dengannya perkembangan dirinya dapat terjadi dengan baik.

Mungkin saja kita berharap bahwa pemberitaan semacam ini akan mampu memberikan banyak pelajaran bagi masyarakat. Namun jangan lupa masyarakat kita saat ini adalah masyarakat yang menyerap setiap pesan, tetapi hanya mampu memamah biaknya (Baudrillard, 1983). Masyarakat kita adalah masyarakat yang menyukai kedataran dan kedangkalan dalam bentuk baru dan mencintai permukaan (Jameson, 1991). Akibatnya bisa ditebak bahwa informasi yang sampai pada masyarakat hanya akan bergerak pada dataran luar yang jika tidak dikawal akan membawa dampak tidak sedikit pada perubahan dan pergeseran opini secara frontal. Dengan demikian ada hal lain dari sebuah informasi yang juga harus menjadi perhatian kita. Tidak hanya kebenaran dari konten informasi tersebut yang wajib kita pegang, tetapi juga ketepatan konteks dari informasi tersebut yang harus kita hargai.

Bagi kita yang mendapat amanah untuk memperluas informasi, harus lahir kesadaran akan perlunya pemilihan dan pemilahan secara benar dan tepat dari sekumpulan informasi yang akan kita berikan kepada masyarakat. Sebaliknya bagi kita yang menjadi bagian dari masyarakat penyerap informasi pun, harus timbul kesadaran akan pentingnya memperoleh informasi yang benar dan tepat sebagai penghormatan akan hak untuk tidak malu dan menanggung aib dari sumber informasi. Bukankah Alquran yang berisi kebenaran tersebut diturunkan melalui berbagai tahap dan fase agar tepat dengan kebutuhan dan kemampuan manusia menerima pesan-pesan-Nya?

Dimanakah Surga ?

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya (QS. Al Kahfi [18]: 107 - 108).

Apa yang Anda bayangkan tentang surga? Saya yakin bayangan Anda tidak jauh berbeda dengan apa yang ada dalam benak saya. Dari kecil kita telah diberi sebuah gambaran yang luar biasa indah tentang surga. Tempat sempurna tanpa cacat yang dengan berbagai fasilitas kenikmatan tanpa batas. Ada bidadari yang menemani penghuninya, dalam taman yang mengalir sungai-sungai terindah. Setiap sudutnya sangat sempurna sampai-sampai khayalan kita tak mampu mencitrakannya dengan jelas.

Apakah Surga Benar-benar Ada?

Berbicara tentang surga, kita akan diajak memasuki alam yang jauh di luar jangkauan pikiran kita. Kita sebagai manusia sudah pasti penuh dengan keterbatasan. Pada saat detik ini kita berpijak, kita tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi di belahan bumi lain. Atau ketika kita melakukan aktifitas saat ini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, bahkan beberapa detik ke depan. Ini membuktikan bahwa ilmu yang kita miliki sangat sedikit, hanya seperti serpih yang tak terhitung dalam luasnya ilmu Allah. Butuh sikap rendah hati untuk mengakui bahwa akal kadang tidak mampu mencapai sesuatu yang melebihi batas logika kita.

Allah dengan taburan kasih sayang-Nya mengerti kelemahan kita sehingga Ia memberitakan tentang surga dalam firman-firmanNya dan menjelaskan tentang seluk beluknya. Bagi kita orang-orang beriman yang menerima Islam sebagai jalan hidup, kita meyakini bahwa eksistensi surga sama pastinya dengan eksistensi kematian. Begitu jelas sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi. Disinilah letak indahnya rahasia Allah dalam menguji sejauh mana tingkat keimanan hamba-Nya sehingga pantas untuk menerima kado istimewa dari Allah berupa surga seperti yang telah dijanjikannya kepada orang-orang pilihan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, kalimat dan ruh yang diberikan kepada Maryam adalah perintah dari-Nya, surga adalah benar dan neraka adalah benar, maka Allah akan memasukkan ia ke dalam surga atas apa yang ia amalkan” (HR Mutafaqqun ‘alaih).

Orang-orang Pilihan

Mereka yang disebutkan dalam hadits di atas adalah orang-orang yang bertaqwa, sehingga dengan ketaqwaannya itulah mereka menjadi orang-orang yang beruntung memperoleh tiket masuk kepada kebahagiaan abadi taman Firdaus. Muncul sebuah pertanyaan bagi kita yang mengaku seorang muslim, apakah kita termasuk dalam golongan mereka, sehingga kita pantas memperoleh surga. Seberapa besar komitmen kita untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya lalu sudahkah kita beristiqomah dalam jalan tersebut dengan mengikhlaskan diri hanya mengharap keridhoan-Nya. Allah SWT berfirman : “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan : “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaaf [43]:13-14)

Sungguh sangat sulit untuk kita bertahan dalam fatamorgana dunia yang serba dinamis ini. Jatuh bangun kita mencoba bertahan melangkahkan kaki di jalan lurus-Nya. Sebuah kenyataan adalah, bahwa surga memang tidak didapat dengan cuma-cuma, butuh perjuangan keras dan sepenuh hati untuk meraihnya. Allah SWT berfirman: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah [2]: 214).

Pada dasarnya kehidupan kita di dunia ini hanya sebentar, sangat singkat dibanding kekalnya negeri akhirat. Sangat merugi apabila kita menukar kebahagiaan akhirat dengan keindahan semu duniawi. Lagi pula Allah telah menjanjikan bahwa selalu akan ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi sehingga setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Pelan Namun Pasti

Di atas kita sudah berbicara tentang gambaran surga, eksistensinya dan orang-orang pilihan yang beruntung memasukinya. Mengapa saya mencoba mengajak kita semua kembali merenungkan surga? Terus terang semua bermula pada satu hal bahwa setiap hari selalu saja kita mendengar kabar seseorang telah meninggal dunia. Entah siapa pun mereka, yang pasti sepertinya kita semua sedang menunggu jatah antrian itu. Bagaimanapun juga, fase tersebut pasti akan kita lalui.

Dengan me-refresh kembali ingatan kita tentang surga, seharusnya kita mampu membangkitkan semangat baru dalam diri, paling tidak untuk mulai menghitung-hitung dan mengevaluasi amalan kita. Misalnya bagaimana dengan sholat kita, apakah sudah lima waktu dan berjamaah di awal waktu? Jika sudah, apakah bisa ditambah dengan sholat-sholat sunnah? Begitu pula dengan bacaan Alquran kita, sudahkah kita mampu melafadzkan bacaan Qur’an dengan benar? atau jika sudah, apakah bisa kita meningkatkannya dengan mengerti maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pelan namun Pasti. Tidak ada kata terlambat untuk merencanakan kebaikan dan bersegera menjemput Surga. Saat ini kita sudah harus berbenah diri, menyongsong kematian kita dengan penuh rasa percaya diri, dengan menyusun program yang mampu mendukung visi besar kita tersebut. Meskipun kita tidak tahu kapan kematian itu datang, besok pagi, lusa atau tahun-tahun mendatang, kita harus memiliki sebuah ‘master plan’ untuk mengejar keridhoan Allah. Kita harus yakin bahwa setiap usaha ikhlas kita akan dilihat oleh-Nya.

Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Az Zalzalah [99]: 7 - 8).

Maka selama kita masih diberi kesempatan untuk bernafas dan ruh ini masih berada dalam jasadnya, selama itu pula kita mesti mengisi ruang hati kita dengan keindahan surga. Menghidupkan taman surga dan mengalirkan sungai-sungainya yang damai di dalam kerinduan hati kita. Mudah-mudahan Allah ridho memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya yang shaleh dan memasukkan kita ke dalam surgaNya. Sungguh manusia penuh dengan kekhilafan, nampaknya kita mesti banyak-banyak bertaubat sehingga dengan rahmat dan ampunan Allah, kita mampu lebih optimis menyambut surga. Satu kurun waktu akan tertumpah habis dan fase baru yang kekal akan segera dimulai.

Allah SWT berfirman: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah se

Nuzulul Qur`an

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

(QS. Al-Fajr [97]: 1-5)

Bagi umat Islam, peristiwa nuzulul Qur’an adalah peristiwa spiritual yang agung, dimana Alquran di turunkan saat Lailatul Qadar, dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia, yang kelak dikenal sebagai “malam lebih seribu bulan”. Tetapi mengapa kita tidak menyongsongnya dengan kesiapan-kesiapan spiritual sehingga transformasi moral yang bisa berpengaruh terhadap proses kebangsaan belum terwujud semestinya?

Hanya ada dua jawaban terhadap pertanyaan seperti itu. Pertama, karena cara dan semangat menyongsong cahaya Alquran yang turun, tidak dengan spirit inklusif yang bisa membumikan Alquran dalam dataran kebangsaan, bahkan Alquran banyak dimanupulasi untuk kepentingan-kepentingan kelompok dan politik. Kedua, karena Alquran telah diacuhkan nilai-nilainya, sehingga banyak umat yang hanya memahaminya secara formal dan ritual saja, yang lalu dijadikan sebagai legitimasi pandangan-pandangan ideologisnya. Alquran terasa kering maknanya dalam kehidupan, hampir-hampir tidak muncul fenomena teosofianya dalam perilaku, khususnya pada kaum elit bangsa ini.

Dalam peristiwa nuzulul Qur’an, selain cahaya-cahaya Ilahiah yang turun ke muka bumi, sesungguhnya Allah juga menentukan “nasib” kita dalam nuansa takdir-Nya, untuk satu tahun ke depan. Karena itu jika Lailatul Qadar disebut “Malam Kepastian”, berarti ada bentangan sejarah yang bergulat antara Kehendak-kehendak Ilahi dengan kehendak-kehendak manusiawi, antara egoisme dan kesombongan-kesombongan dengan sikap-sikap kepasrahan hamba atas kelemahan dan keterpedayaan dirinya.

Inilah yang disebut dengan bisikan-bisikan moral, dimana menurut Sufi besar Ibnu Athaillah as-Sakandary, Allah swt memberikan petunjuk kepada umat manusia melalui dua simponi. Yang pertama, Allah memberi bisikan simponi lembut melalui anugerah nikmat dan karunia, agar hambaNya begitu mudah mengenalNya, mengingatNya, dan meyakini kebajikan-kebajikanNya. Jika cara ini ternyata masih harus berhadapan dengan pintu gerbang keangkuhan manusia, maka Allah melakukan dengan cara “membentak” dalam alunan nada simponiNya. Lalu bentakan Ilahiyah itu terwujud dalam bencana, tragedi dan cobaan-cobaan yang begitu keras.
Semua bisikan itu, begitu tampak aktual dalam keseharian bangsa kita. Simponi yang mengalun, terkadang terasa begitu merdu dan indah, terkadang begitu keras memilukan. Lebih memilukan ketika muncul vonis-vonis sejarah yang hanya didasarkan pada kepentingan penguasa, kalah dan menang, mayoritas dan minoritas, sehingga kebenaran dan kepastian-kepastian sejarah harus terhijab oleh gerakan-gerakan rekayasa elit yang membawa korban rakyat kecil.

Apa yang bisa kita bayangkan, ketika Alquran turun, bukan pada zaman Rasulullah Muhammad saw, tetapi turun pada saat ini, dan di negeri ini? Tentu saja, kita hanya bisa membuat metafora-metafora, tentang sebuah era yang disebut zaman kegelapan (jahiliyah), lalu muncul zaman pencerahan (an-Nuur), melalui siklus sejarah yang berulang, dengan simbol-simbol maknawi yang berinteraksi dengan sejarah kita hari ini. Sampai saat ini pun, kita tidak tahu persis, dimana sesungguhnya posisi bangsa ini dalam simbiosis Qurani; apakah kita dalam situasi dan kondisi yang digambarkan oleh surat-surat tertentu, atau ayat-ayat tertentu, ataukah kita sedang menuju suatu era pencerahan baru, setelah meninggalkan era jahiliah kita, dengan resiko-resiko perjuangan moral yang amat keras? Atau kah kita akan menjadi salah satu bangsa yang punah dan lalu digambarkan sebagai bangsa yang durhaka?

Inilah yang menjadi tantangan bagi para Mufassir negeri ini, yang selama era Orde Baru hingga era Reformasi, harus menghadapi kegagalan-kegagalan “pembumian Alquran”, hanya karena para Ulama Tafsir itu, sering terpaku oleh kepentingan yang berbeda-beda. Apalagi, Departemen Agama, tidak banyak berperan dalam membangkitkan penafsiran-penafsiran kontekstual (maudhu’iy) bagi landasan spiritualitas bangsa ini. Karena itu setiap peristiwa nuzulul Qur’an diperingati, yang muncul hanya aktivitas ritual yang tidak menyentuh esensi yang sesungguhnya dari semangat Qurani itu sendiri.


LAILATUL QADAR DAN KRISIS KEBANGSAAN

Kalau kita kembalikan pada siklus organik dari turunnya Alquran pada Surat Al-Qadr, ada beberapa hikmah bagi kebangsaan kita hari ini, yang bisa kita jadikan refleksi teosofis maupun sosial:

Pertama, Alquran secara global turun di malam hari, pada “malam kepastian”. Ini menunjukkan bahwa persoalan-persoalan bangsa sedang berada dalam eskalasi kegelapan global yang membutuhkan titik-titik cahaya pencerahan yang belipat ganda, lebih dari seribu bulan atau satu generasi. Bangsa ini membutuhkan sebuah pembaharuan yang benar-benar memberi lompatan sejarah yang bercahaya, dimana nilai-nilai ruhani harus membimbing organisme penyelenggaraan kebangsaan, dan bukan sebaliknya, rasionalisme dan teknokratisme “memaksa” elemen-elemen moral Ketuhanan untuk kepentingan sejarahnya, sebagaimana kita saksikan dewasa ini.

Kedua, turunnya para malaikat disertai spirit agung (ar-ruuh) ke muka bumi dengan membawa misi perdamaian, adalah isyarat bahwa konflik-konflik antar bangsa, dan konflik bangsa dengan masalahnya sendiri, hanyalah akibat sirnanya spirit keagungan dan keluhuran. Malaikat yang senantiasa menjadi simbol bagi “kebenaran langit”, sesungguhnya harus juga dimaknai sebagai “simbol keprihatinan” global, ketika sebuah bangsa tidak lagi berdaya untuk keluar dari lingkaran dilemanya. Ketidakberdayaan itu juga akibat dari keangkuhannya sendiri, yang terus menerus menjadi koloni bagi kehidupan sosial kemanusiaan. Sampai Malaikat harus “turun” ke bumi membawa solusi-solusi bagi persoalan-persoalan bumi.

Ketiga, bahwa Lailatul Qadar itu berakhir ketika fajar terbit, memberikan petunjuk lebih jauh, bahwa apa pun hebatnya pencerahan yang ingin kita lakukan bersama, hanya akan mengalami kegagalan, apabila kesiapan-kesiapan psikologis kita untuk menyongsong “rahmat Allah” dibalik cahaya yang bakal terbit itu tidak pernah terkondisikan baik secara kultural maupun struktural. Faktanya memang demikian, di tahun-tahun reformasi ini, yang muncul adalah kebijakan-kebijakan pemerintah secara instan dan rapuh dari berbagai sektor birokrasi, peradilan maupun HAM, bahkan begitu kuat dalam tarik menarik proyek-proyek yang begitu politis.


Sentuhan Qur’ani

Dari ketiga hikmah itu, kita bisa belajar bagaimana simponi kebangsaan kita bisa mengalunkan ayat-ayat Suci Alquran dalam kemerduan-kemerduan sejarah. Tentu saja, tanpa mengurangi hak-hak demokrasi suatu kelompok yang cenderung mengalunkan ayat-ayat suci Alquran dalam sebuah simponi yang kering dan verbal, kita terus menerus diingatkan agar semangat Alquran menyadarkan kita dalam sudut paling netral bahkan di titik nol sekali pun, untuk sebuah generasi baru yang mampu memainkan sebuah simponi yang lebih agung, indah dan damai. Jauh dari aroganis intelektual, pemenuhan hasrat-hasrat primordial, dan hegemoni maniak yang menjijikkan.

Sentuhan-sentuhan Qurani tidak akan pernah hidup dalam perilaku sehari-hari, manakala bangsa ini tidak pernah melakukan “penyucian jiwa”, sebagimana disebutkan dalam ayat, “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang menyucikan jiwanya” (Laa yamassuhuu illal muthahharuun). Pencucian psikologis, menjadi prasyarat, bagaimana kita bisa menyongsong abad pencerahan kebangsaan kita di masa depan (mathla’il fajr).

Apakah berarti perjalanan kebangsaan kita masih panjang? Bahkan butuh lahirnya suatu generasi baru yang benar-benar bersih dari lingkungan kegelapan masa lalu? Harapan futurologis, memang senantiasa memberikan jendela-jendela baru bagi keterbukaan masa depan. Namun, kita akan menjadi monumen-monumen cacimaki anak cucu kita di masa mendatang, manakala kita tidak pernah bersedia menjadi “ibu kandung” bagi lahirnya generasi baru itu, dengan sikap kita yang hanya memikirkan diri sendiri, kepentingan-kepentingan sendiri, nama besar kita sendiri, sementara generasi yang hendak meneruskan perjuangan merasa kehilangan cinta dan kasih sayang dari “orang tua”.

Alangkah mengerikannya, kalau mereka harus tumbuh dengan kepribadian konflik yang diwariskan oleh pendahulunya. Tetapi, janganlah kemudian kita trejebak oleh rasa naif, manakala perjuangan menghantar ke gerbang pencerahan ini, mengalami hambatan yang luar biasa, bahkan mendekati kegagalan bahkan juga kekalahan. Sebab simponi yang mendendangkan nada kekecewaan dibalik kesusahan yang menimpa kita, sesungguhnya merupakan suara-suara putus asa yang tidak sedikit pun memberikan keuntungan kita bersama. Dalam kitab Sufi Al-Hikam, disebutkan, “Hilangnya semangat energi kebangkitan dibalik kesusahan yang menimpa, adalah tanda-tanda kita terjebak oleh lingkaran nafsu.” Lalu kita akan kehilangan simponi yang lembut dan merdu, minimal untuk kita yang terus berjuang membersihkan debu-debu yang menjadi penghalang bagi pantulan cermin diri kita dalam mosaik kebangsaan ini.

Menomor Duakan Dunia

Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta kepada Allah, sementara ia masih cinta kepada dunia?” (Ali Bin Abi Tholib)

Dunia sebagai lahan kebencian bagi mereka yang merindukan perjumpaan dengan-Nya adalah keseluruhan dari hal-hal yang menghalangi manusia untuk mencurahkan ketaatan dan kecintaannya kepada Allah. Sementara akhirat sebagai lawan dari dunia adalah keseluruhan dari hal-hal yang mampu menjadi perantara bagi manusia untuk mencapai perjumpaan abadi dengan-Nya, sebagai puncak dari segala impian manusia. Maka, “dunia” sebagai “hijab” segala kecintaan kepada Allah bisa jadi tidak hanya identik dengan hal-hal yang bersifat materi ataupun amaliah keduniaan yang sehari-hari dijalani manusia. Namun, bisa jadi ia adalah hal-hal berbau ritual yang dilaksanakan di atas pondasi riya’. Bisa jadi ia adalah shodaqoh manusia yang di bangun atas dasar perasaan ujub. Bisa jadi pula, ia adalah tradisi intelektual positif yang menimbulkan arogansi dan kesombongan serta perasaan lebih tinggi di hadapan manusia lain.

Demikian pula, “akhirat” sebagai “washilah” bagi kecintaan terhadap Allah tidaklah ter-‘bingkai’ hanya dalam bentuk ritual yang identik dengan ajaran formal agama semata. Bisa jadi, ia adalah segala jenis perniagaan kita yang dilandasi semangat untuk menjamin kehidupan keluarga demi ketaatan kepada perintah Allah. Bisa jadi, ia adalah segala pekerjaan kita yang memiliki tujuan untuk mengangkat derajat kaum miskin dan mereka yang hatinya tengah hancur karena derita yang dirasakannya. Bisa jadi pula, “akhirat” adalah segala pengetahuan dan keterampilan yang kita kuasai dan kita gunakan untuk berkhidmat kepada hamba-hamba-Nya, semisal, sekedar menyelipkan sebersit senyum di tengah muramnya kesedihan di muka hamba-hamba Allah tersebut.

Sehingga, seseorang yang memiliki kejernihan hati akan mengatakan bahwa “dunia” dan “akhirat” adalah dua keadaan batin dari hati. Segala yang lebih dekat dan berkaitan dengan kehidupan sebelum mati adalah “dunia”. Dan segala hal yang berkaitan dengan upaya menggapai kedekatan dengan-Nya serta berkaitan dengan kehidupan setelah kematian adalah “akhirat”. Sehingga, sebagaimana definisi yang telah disampaikan di awal, segala hal yang mengantarkan manusia kepada kenikmatan lahiriyah, kebangkitan hawa nafsu dan kelalaian atas-Nya adalah “dunia”.

Dunia dan akhirat bukanlah alam yang berada jauh di luar diri manusia. Dunia dan akhirat adalah dua alam yang ada dalam diri setiap individu. Alam yang pertama merupakan alam yang terendah dalam diri manusia, yakni ketika ia terhempas bersama bala tentara kegelapan dalam dirinya ke dalam kubangan yang penuh kelalaian dan kedurjanaan atas setiap kehendak-Nya. Alam yang kedua adalah setiap upaya untuk mengangkat derajat manusia menuju hakikat tujuan dasar dari kehidupannya. Laksana seekor anai-anai yang mengelilingi cahaya, dan menjadikan “cahaya” itu sebagai tujuan akhirnya, walaupun ia harus terbakar di dalamnya. Alam akhirat merupakan satu kondisi batin yang membatalkan segala motif tindak tanduk kecuali harapan akan perjumpaan abadi dengan-Nya.

Ketika harapan ini terpenuhi melalui jalan “akhirat”, maka berbagai implikasi lain akan mengikutinya. Akan bersamanya, sejuk hawa telaga kautsar yang memancarkan mata air keabadian. Akan bersamanya, bidadari-bidadari yang telah dijanjikan sebagai sahabat dalam mereguk keindahan taman surga. Akan bersamanya, Rasul Agung, Sang kekasih, beserta keluarganya yang suci dan para pembelanya yang senantiasa hidup di bawah panji syahadah.

Maka, apa yang di dalam Alquran dan Hadits disebut sebagai “dunia yang tercela” dan sekedar permainan (yang menjebak), serta senda gurau belaka sesungguhnya tidak berlaku bagi dunia itu sendiri. Tetapi yang dimaksud dengan segala ketercelaan dan “senda gurau” tersebut tidak lain kecuali kondisi manusia yang tenggelam di dalamnya, diperbudak oleh kecintaan kepadanya, serta keterbelengguan manusia atasnya. Maka dalam hal ini, manusia akan senantiasa mem